Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Nyekar dan Bermain

Mainan baru yang kuperoleh sejak Feb. 2012 ini memang sering memaksa untuk dibawa jalan, Nikon D90. Kamera yang bagus untuk pemula, begitulah saran dari para pemain lama. Mata sering terpacu untuk lebih jeli melihat sekitar, yang selama ini sering terabaikan, dan melintas begitu saja. Mainan ini mengingatkanku pada alm. Bapak di tahun 70an dengan Kodaknya, yang kalau memotret harus diintip dari atas kamera, bahkan lengkap dengan ruang dan peralatan cuci-cetaknya. Kamera manual dan film hitam-putih. Kami sekeluarga turut sibuk memproses film hingga menjadi foto di atas kertas, dalam ruang gelap berlampu merah, redup. Cukup menarik untuk bisa menuliskan proses cuci-cetak film ini, sayang aku sudah banyak lupa, tapi nanti akan kutulis setelah ingatan kembali terjaga.

Juwana
Dalam rangka ziarah makam orangtua di Juwana, D90 dan lensa kit 18-105 mm turut menjadi bekal. Sirrr … sedikit nyeri di hati melewati rumah kosong yang dua tahun lalu Ibu masih di situ, Bapak lebih dulu menggalkannya, setahun sebelumnya.

Obyek pertama yang aku harapkan adalah suasana ‘tambak udang’ di pinggir kali. Ternyata udang sudah dipanen, kering, penuh alang-alang. Aktifitas menjaring ikan di pinggir kali juga tidak aku dapatkan. Hanya satu momen yang terjebak dalam kamera, tiga anak bersepeda pulang sekolah.

Warung kecil yang menjajakan masakan ikan laut menjadi tempat makan siang bersama kakak dan adik-adikku. Murah, lengkap dan pedas. Mangut ikan Pe, sop kepala Manyung, kepiting, udang, bothok telor kepiting, sambel pete adalah menu yang terhidang, dan es kopyor sebagai penutupnya.. … Nyusss ..

Kapal Nelayan

Obyek foto berikutnya adalah kapal di kali Juwana. Sayang warna langit kurang ramah, berawan gelap, mendung. Sudut pengambilan gambar tidak bagus dan kurang berwarna, hanya biru menguasai warna kapal.

Semarang
Sewaktu kecil, sering aku dibawa bapak/ibu beranjangsana ke saudara di Semarang tapi tak sekalipun terlintas untuk mampir ke Lawang Sewu, gedung perkantoran Kereta Api jaman Belanda, meskipun mondar-mandir keliling Tugu Muda, di depannya.

Kawasan Simpang Lima

Test kamera low-light aku lakukan dari jendela Shantika hotel dengan obyek neon sign ‘Kawasan Simpang Lima’, lalu keluar menuju Lawang Sewu, jalan kaki.

Lawang Sewu

Lawang Sewu (Luar)

Dengan membayar tiket Rp. 10 ribu dan pemandu wisata Rp. 35 ribu, tamu bisa keliling memotret sambil mendapatkan cerita sejarah Lawang Sewu dari pemandu. Malam itu cukup banyak pengunjung, yang seringkali berbisik-bisik tentang cerita mistis gedung ini dari banyak media. Tentang sejarahnya bisa googling dengan penunjuk “Lawang Sewu” atau “wisata semarang”. Dari sisi luar gedung, pencahayaan tertata bagus.

Lawang Sewu (Dalam)

Kombinasi cahaya lampu kuning yang menyorot dinding gedung, taman yang tertata rapi, lorong panjang yang bersih dan terang, dan jendela gothik di bagian atas, juga cahaya dari Tugu Muda di balik gedung, sungguh bagus jadi obyek fotografi. Gedung Percetakan tua yang terawat dengan lampu-lampu kuning terang di dalamnya, dan cahaya kuning lembut di luarnya, juga indah dilihat dari luar melalui jendela-jendela besar yang terbuka.

Lokomotif

Yang juga menarik, lokomotif buatan Jerman yang dipergunakan di jaman Belanda juga dipajang di depan gedung. Memang masih ada gedung yang gelap, pengap, belum tertata. Berbeda dengan suasana malam hari yang terlihat lembut, pada siang hari gedung Lawang Sewu terlihat kokoh, kaku dan kering.

Kota Lama

Gereja Blendhuk

Di daerah Kota Lama, aku hanya sempat memotret Gereja Blendhuk yang terawat baik, bersih dan masih aktif dipergunakan. Ingin rasanya melihat bagian dalam bangunan ini, namun situasi tidak memungkinkan berhubung sedang ada Kebaktian.

Gedung Marba

Gedung tua Marba, yang sepertinya masih aktif dipergunakan, sempat juga aku potret. Ada satu gedung tua di jalan Gereja Blendhuk ini yang sudah tidak dipergunakan, lusuh, tidak terawat.

Masih banyak obyek foto yang perlu dilihat di Kota Lama ini, seperti setasiun Tawang dan beberapa gedung disekitarnya, juga obyek lainnya di kota lunpia ini, Semarang. Sampai jumpa…

Judul: That Used To Be Us
Penulis: Thomas L. Friedman, Michael Mandelbaum
Tebal Buku: 380 halaman
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun: 2011

‘If you see something, say something’, adalah judul bab 1 pada Bagian 1 The Diagnosis, yang berisi maksud penulisan dan intisari buku ini. Kedua penulis beranggapan bahwa kondisi Amerika saat ini sedang mengalami penurunan secara perlahan. Berbagai komentar yang menunjukkan bukti kemajuan ekonomi dan ethos kerja Cina serta ketertinggalan AS banyak dikutip dalam bab ini. Ada empat gejala besar penurunan ini:
1. Menggunakan terminologi doktrin strategik ‘dogfight’, OODA (Observe, Orient, Decide, Act), Amerika saat ini sangat lambat menggunakan OODA sehingga mudah kalah dalam ‘dogfight’.
2. Dalam 20 tahun terakhir, AS telah gagal menyelesaikan banyak masalah besar yang semakin memburuk, seperti pendidikan, defisit/hutang, energi dan perubahan iklim.
3. AS kehilangan semangat nilai-nilai kebesaran pendiri bangsanya
4. AS belum bisa memperbaiki kekuatan dan semangatnya karena sistem politiknya yang lemah dan sistem nilainya telah tergerus.

Buku ini menjadi penting dan mendesak karena AS tidak lagi mempunyai cukup waktu dan sumber daya seperti duapuluh tahun yll, ketika budget defisit dan semua masalah besar sangat terkendali. Namun, investasi dalam bidang pendidikan, infrastruktur, RnD, juga keterbukaan pada imigran berpotensi dan perbaikan sistem ekonomi, sangat mendesak untuk ditindaklanjuti.

Berakhirnya Perang Dingin, memaksa AS untuk menghadapi empat tantangan besar yang akan menentukan masa depannya, yaitu:
1. Bagaimana beradaptasi dengan globalisasi
2. Bagaimana mengatur revolusi teknologi informasi
3. Bagaimana mensiasati defisit
4. Bagaimana mensiasati sekaligus antara kebutuhan energi yang terus meningkat dan ancaman perubahan iklim

Setiap tantangan harus dihadapi secara nasional, tidak cukup hanya oleh pemerintah saja, dan kesuksesan menghadapinya akan menentukan besaran dan bentuk pertumbuhan ekonomi.

Bagian 2 The Education Challenge
Bagian ini dibuka dengan bab ‘Up In The Air’, sebuah film tentang profesi pemecatan karyawan, yang dibintangi oleh George Clooney. Pesan dari film ini adalah ‘tidak seorangpun merasa aman’, bahkan sang ahlipun bisa tergantikan oleh teknologi. Konvergensi globalisasi dan teknologi bisa menggilas siapapun.

Merger antara Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi telah merubah banyak hal, dan mampu menciptakan pasar dan realitas politik baru hanya dalam sekejap. Hal ini telah membentuk politik semakin transparan, dunia semakin terhubung (‘The Wold is Flat’, T. Friedman), diktator semakin terancam dan individual atau kelompok semakin berdaya.

Ketidakamanan pekerja AS hanya bisa diatasi dengan kemampuan berinovasi yang didukung oleh pendidikan yang lebih baik. Ekonomi yang sehat tidak hanya disebabkan oleh efisiensi dan produktifitas yang semakin tinggi, namun juga oleh berbagai inovasi. Saat ini AS sangat membutuhkan sebanyak mungkin pencipta dan penyedia jasa yang kreatif. Sebagian menemukan produk-produk baru, lainnya bisa memperbanyak pekerjan-pekerjaan sejenis. Dalam sektor jasa, mampu memberikan layanan jasa rutin dengan sentuhan ekstra personal atau dengan cara yang tidak biasa-biasa saja.

Peran pendidikan dalam era Globalisasi dan Revolusi Teknologi Informasi, menjadi posisi sentral dalam pandangan penulis, khususnya peningkatan kemampuan matematika, sains, membaca dan kreatifitas, perlu mendapatkan perhatian utama karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebagai kunci ketahanan nasional. Presiden Obama, “negara kita yang kurang pendidikan saat ini, akan tidak mampu berkompetisi di masa datang”.

Menurut penulis, AS masih belum sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan adalah investasi untuk pertumbuhan nasional dan ketahanan nasional. Selama ini pendidikan masih dianggap sebagai isu lokal, bukan nasional, sementara saat ini sudah tidak penting lagi posisi tingkat kualitas pendidikan antar negara bagian AS, melainkan posisi tertinggi diantara negara-negara lain didunialah yang harus jadi target kualitas pendidikan.

Bagian 3, The War On Math and Physics

Dalam bagian ini, penulis banyak membahas tentang kondisi finansial AS dan pilihan-pilihan teknis ekonomi, antara pemotongan budget tahunan, penundaan/pembatalan berbagai program nasional, atau investasi cerdas untuk masa depan.

Menurutnya, penyebab defisit dan hutang yang tinggi adalah kombinasi antara resistensi Republikan untuk menaikkan pajak, dan resistensi Demokrat untuk memotong belanja negara, juga keterlibatan AS di perang Irak dan Afganistan, ditambah lagi dengan sistem finansialnya yang lemah hingga runtuhnya ekonomi AS pada 2008 yang lalu.

Opini David Stockman, di The New York Times, yang dikutip penulis, menyatakan bahwa Cina adalah ancaman terbesar, karena terus meningkatkan ekspor dan membanjiri AS dengan produk negerinya, juga karena terus memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan cara membeli Surat Berharga AS, yang berakibat menguatnya harga dollar terhadap Yuan, yang diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen AS untuk terus membeli produk Cina. Strategi Cina dalam peningkatan industri ekspor ini tidak hanya untuk kepentingan pemenuhan semakin tingginya pencari kerja di negerinya, namun juga dalam upaya membuat ketergantungan terhadap produk industri Cina.

Masalah serius akan muncul bila Cina menghentikan pinjaman secara tiba-tiba, sehingga AS terpaksa harus memilih untuk melakukan :
1. Meningkatkan bunga kredit untuk menarik modal, yang berakibat turunnya aktifitas ekonomi, atau
2. Mencetak uang untuk menutup defisit, yang bisa berakibat inflasi, atau
3. Melakukan kombinasi kenaikan pajak dan pengurangan belanja.

Pilihan ke-3 sepertinya adalah yang paling optimal, meskipun tetap bukan pilihan yang nyaman. Yang juga merepotkan adalah, disaat AS terus berharap bahwa Cina tidak menyerang Taiwan, karena AS sudah berkomitmen untuk tetap melindungi Taiwan dari serbuan Cina, AS masih meminjam uang yang sangat besar dari Cina. Tersandera.

Bab 4 Political Failure
Tentang politik, pada bab ‘Shock Therapy’, penulis menawarkan penguatan partai ke-3 yang mendukung calon independen. Diharapkan dengan semakin membesarnya konstituen partai independen, yang walaupun sulit untuk menang di AS, setidaknya bisa mendesakkan tambahan agenda perubahan terhadap kedua partai besar, yang cenderung berperilaku seperti ‘supermarket’ yaitu menjual semua kebutuhan konsumen. Lebih tepatnya, partai independen bisa mencoba berperilaku sebagai ‘minoritas berkuasa’ yang mempunyai posisi tawar untuk diperebutkan terhadap kedua partai besar.

Pertanyaan akhir penulis bagi bangsa AS yang menarik adalah, “Apakah ini semua akan happy ending?”. Jawabnya adalah, “Bergantung pada bangsa AS itu sendiri, untuk menentukan apakah ini cerita fiksi atau non-fiksi”.

Bangsa AS menyadari sepenuhnya bahwa sebagai bagian dari ‘happy-ending’ adalah kepedulian bahwa ada sesuatu yang salah urus, yang diperlukan adanya perubahan, dan bangsa AS adalah agen perubahan itu sendiri. AS perlu untuk terus belajar keras, menyimpan lebih banyak, mengurangi belanja, investasi lebih bijak dan kembali pada nilai-nilai yang bisa membangun kejayaan seperti masa lalu.

Judul: JUSTICE, What’s the right thing to do?
Penulis: Michael J. Sandel
Tebal Buku: 308 halaman
Penerbit: Farrar, Strauss and Giroux; New York
Tahun: 2009

Buku menarik ini berisi ‘rekaman’ kuliah umum filsafat politik oleh Professor Michael Sandel di Universitas Harvard yang sangat digemari hampir ribuan mahasiswanya. Ada duabelas file video ‘live’ kuliah ini, termasuk diskusi dengan mahasiswa, yang masing-masing berdurasi satu jam, juga bisa diunduh gratis dari youtube.com atau itunes.apple.com.

Hal yang menarik dari Justice adalah ‘mengganggu’ nurani sekaligus visi pembaca untuk selalu mempertanyakan secara kritis dari banyak sisi tentang Keadilan sebagai buah kebijakan manusia sehari-hari untuk memenuhi kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat modern. Judul-judul bab dalam buku ini sejak awal halaman memang merangsang untuk terus ingin mengetahui isinya, selain isi antar bab memang berkaitan dan menerus. Beberapa yang menarik misalnya: Doing The Right Thing, The Greatest Happiness, Do We Own Ourselves?, Who deserve what?

Beberapa hal yang dibahas dalam kuliah ini adalah tentang SARA (affirmative action), tindak kanibal, perkawinan sejenis, pasar bebas, pajak si kaya untuk si miskin, aborsi, euthanasia, hak individual vs kepentingan umum, dll. Contoh kasus-kasus di atas digunakan Sandel untuk menguji konsep Keadilan dan Moral dari para filsuf moral mulai dari Aristoteles hingga Immanuel Kant, John Rawls dan Aristoteles.

Sandel membedakan tiga pendekatan (Three Ways of Thingking) terhadap Keadilan, yaitu pertama, Utilitarian, yang menyatakan bahwa untuk mendefinisikan Keadilan dan untuk melakukan hal yang Benar adalah dengan memaksimalkan kesejahteraan atau kebahagiaan kolektif masyarakat. Kedua, adalah Kebebasan memilih (freedom), Libertarian memberikan contoh tentang Pasar Bebas (free market), tanpa keterlibatan pemerintah. Ketiga, adalah pendekatan Nilai Luhur yaitu memberikan pada yang berhak.

Beberapa contoh kasus Keadilan yang muncul di bagian awal buku ini yang didekati dengan tiga hal di atas. Pertama, tentang mahalnya barang-barang kebutuhan rumahtangga di New Orleans setelah badai Katrina meluluhlantakkan kota itu (price gouging). Apakah pedagang berhak menentukan harga semaunya, hanya berdasar Hukum Ekonomi semata (penawaran-permintaan)? Bagaimana peran pemerintah? Bagaimana tanggungjawab sosial? Kedua, tentang penghargaan Purple Heart bagi tentara AS yang mengalami cacat fisik di medan perang. Mengapa ‘cacat’ psikis, yang seringkali mengakibatkan trauma perang tidak mendapatkan penghargaan serupa? Apakah cacat psikis bukan pengorbanan atau tidak menunjukan sikap patriotik? Terakhir tentang kucuran dana pemerintah (bailed out) saat krisis finansial 2008. Mengapa para CEO lembaga keuangan AS justru mendapat ‘reward’ berlebihan justru saat mereka tidak mampu mengendalikan runtuhnya finansial AS? Mengapa masyarakat AS justru menanggung beban melalui penggunaan pajak akibat ulah para CEO?

Kasus pertama (price gouging), kelangkaan barang di New Orleans, setelah badai Katrina, membuat pedagang meningkatkan harga barang/jasa semaunya untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Pasar ideal yang Adil mensyaratkan adanya unsur maksimalisasi Kesejahteraan (welfare) bagi para pedagang melalui keuntungan dan Kebebasan (freedom) memilih dalam transaksi bagi konsumen berdasar informasi yang benar serta didasari Nilai luhur (Virtue) dalam bertransaksi. Persoalan Keadilan muncul ketika perdagangan hanya memenuhi unsur maksimalisasi Kesejahteraan pedagang namun tidak didasari Kebebasan konsumen untuk memilih, berhubung bencana alam menyebabkan situasi darurat dan kemiskinan, dan jelas perilaku keserakahan mencederai Nilai keluhuran masyarakat.

Kasus Kedua tentang Penghargaan Purple Heart ini muncul ketika semakin banyak korban perang di Afganistan dan Irak yang menderita mimpi buruk setiap hari, depresi akut, bahkan bunuh diri; sementara penghargaan hanya diberikan pada korban meninggal dan cacat fisik. Keadilan dipertanyakan berdasar Nilai Keluhuran pengorbanan yang dirasakan setara bagi penderita cacat psikis dan cacat fisik. Berbeda dengan medali militer, medali Purple Heart ini diberikan pemerintah AS sebagai penghargaan Pengorbanan, bukan Keberanian, sehingga alasan bahwa cacat psikis diakibatkan oleh ketakutan di medan perang sungguh tidak dapat diterima. Berdasar logika moral teori Keadilan Aristoteles, maka tidak bisa ditentukan siapa yang berhak menerima medali tanpa lebih dulu mempertanyakan Nilai-Nilai Luhur Pengorbanan seperti apa, yang bisa diberi penghargaan (teleologikal).

Kasus Keadilan ketiga adalah tentang Bailout, saat institusi keuangan AS mengalami kebangkrutan di tahun 2008-2009. Para CEO AS membela diri bahwa ini disebabkan oleh faktor eksternal dan mereka telah berbuat semaksimal mungkin dan gagal. Kemarahan masyarakat AS mencuat karena ketidak-adilan dirasakan akibat dana bailout banyak dipergunakan untuk Kesejahteraan para CEO yang dianggap tidak layak menerimanya karena tidak ada Nilai Keluhuran yang diperbuatnya. Masyarakat mempertanyakan, bila ‘faktor eksternal’, bukan kesalahan CEO, dianggap sebagai penyebab keruntuhan, mengapa ‘faktor eksternal’ sebagai penyebab kesuksesan finansial dianggap sebagai kesuksesan para CEO tersebut?

Kritik Utilitarianisme (Bentham)
Pendekatan Utilitarianisme, dengan sifatnya yang mengutamakan sisi kuantitatif daripada kualitatif, tanpa sadar sering kali menjadi praktek penyelesaian masalah sosial di jaman modern sekarang ini, yang berimplikasi terjadinya ketidakadilan moral. Metoda Cost-Benefit analysis untuk menyelesaikan kasus-kasus lingkungan/sosial adalah turunan dari teori pemikiran Utilitarian ini. Salah satu contoh kasus dilema moral dengan pendekatan Utilitarian yang diberikan Sandel adalah The Runway Trolley.

Kisah ini mengandaikan pembaca sebagai pengendara lori yang sedang berjalan turun dengan cepat dengan rem yang tidak bekerja. Di ujung depan rel lurus itu sedang ada lima pekerja yang sedang memperbaiki rel, yang bila tertabrak, pasti akan fatal akibatnya, tewas. Namun, ada kemungkinan membelokkan lori ke cabang rel sebelahnya dengan resiko menabrak satu orang penjaga rel, yang juga berakibat fatal, tewas. Apa yang akan anda lakukan? Hampir semua orang yang melihatnya akan berteriak “banting setir!!”, seolah setuju bahwa menewaskan satu orang lebih baik daripada lima orang.
Dengan mengubah sedikit cerita, rekomendasi akan berbeda. Seandainya pembaca berdiri berdua dengan penjaga rel yang berbadan besar, di rel sebelah dan kali ini lori, yang dikendarai orang lain, tidak dapat dibelokkan namun tetap melaju cepat ke arah lima pekerja. Mengetahui bahwa lori akan menewaskan lima pekerja, dan tubuh anda tidak cukup kuat menahan laju lori, maka anda mendorong penjaga rel yang berbadan besar itu hingga jatuh di atas rel dan menghalangi laju lori, dan menewaskannya. Lima pekerja selamat. Hampir semua pembaca pasti tidak membenarkan keputusan anda untuk mengorbankan penjaga rel.

Mengapa pilihan keputusan pada kasus kedua tidak dibenarkan, sedangkan dua kasus tersebut persis sama, mengorbankan satu orang untuk keselamatan lima orang?

Contoh kasus lainnya, yaitu pembunuhan bersama terhadap satu orang penumpang sekoci dan memakannya, untuk mempertahankan hidup di tengah laut; kasus melemparkan manusia ke tengah gelanggang untuk diadu dengan singa dijaman kekaisaran Roma sebagai hiburan masyarakat; kasus ‘the city of happines’ yaitu mengucilkan seorang anak gadis yang terganggu mentalnya dengan maksud supaya tidak mengganggu masyarakat; diajukan Sandel untuk menguji teori Keadilan Utilitarian, yang dicirikan dengan prinsip utamanya yaitu kebahagiaan tertinggi (to maximize happiness) sekaligus mengurangi penderitaan/ketidak nyamanan, meskipun harus mengorbankan minoritas. Dari sisi Keadilan Utilitarian, tiga kasus di atas (masih ada beberapa contoh lainnya) jelas memenuhi prinsip Utilitarian, yaitu demi memprioritaskan ‘kebahagiaan tertinggi’, namun apakah secara moral bisa diterima?

Komentar para mahasiswa tentang kasus dilema moral ini beragam dan menarik untuk direnungkan. Masih ada beberapa contoh kasus dilema moral diberikan Sandel dalam buku ini, yang juga dapat dilihat langsung selengkapnya di youtube.com.

Kritik Utilitarian menurut Sandel menyangkut dua hal, yaitu:
1. Hak-Hak Individual
2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang (cost and benefit ratio analysis)

1. Hak-Hak Individual
Pendekatan Utilitarian dianggap tidak menghargai Hak individual. Interogasi para tahanan terorisme dengan cara menyiksa untuk mendapatkan informasi rencana pemboman, demi melindungi keselamatan publik, adalah salah satu contoh yang diberikan Sandel tentang pelecehan Hak Individual.

2. Penyeragaman Nilai berdasar Mata Uang
Cost benefit Analysis adalah bentuk praktek Utilitarian yang yang secara teknis biasa dipergunakan oleh pemerintah atau perusahaan besar untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan persoalan sosial/lingkungan dengan cara memberikan bobot nilai numerik terhadap variabel kulitatif, sehingga memudahkan perhitungan. Contoh: Cost-Benefit analysis yang dilakukan Phillip Morris di Czech memberikan hasil bahwa pemerintah Czech banyak mendapat keuntungan finansial dengan banyaknya perokok muda di negaranya, karena akan banyak warga meninggal pada usia muda sehingga mengurangi biaya asuransi kesehatan, perumahan dan pensiun, selain pendapatan dari pajak rokok tentunya. Sikap Utilitarian ini jelas melecehkan Nilai Luhur kehidupan manusia seperti penderitaan karena penyakit, penderitaan keluarga dan kematian itu sendiri.

Libertarian
Dalam hubungannya dengan Pasar, Libertian sangat tidak mendukung keterlibatan pemerintah untuk turut campur mengaturvnya. Ciri utama Libertarian adalah mendewakan Kebebasan (freedom of choice) dan prinsip-prinsip dasarnya adalah:
1. No Paternalism, menolak campur tangan pemerintah untuk mengatur keselamatan individu dalam beraktifitas, selama tidak mengganggu pihak lain
2. No Morals Legislation, menolak campur tangan pemerintah untuk menilai moral individu dalam menentukan kebijakan
3. No Restribution Income or Wealth, menolak kebijakan pemerintah untuk mengatur ‘subsidi silang’ (mengambil dari yang berlebih untuk yang kekurangan).

Menurut Sandel, kaum Libertarian ini biasa dilekatkan terhadap kelompok konservatif di AS, yang umumnya berada di Partai Republik. Beberapa pendukungnya, adalah Milton Friedman (Capitalism and Freedom), Friederich Hayek (The Constitution of Liberty) dan Robert Nozik (Anarchy, State and Utopia).

Libertarian menolak pajak karena dianggap pemerasan tenaga-kerja atau pelanggaran hak individual untuk mendapatkan kebahagiaan tertinggi dari pendapatannya. Selanjutnya, upah adalah hak pekerja atas hasil jerih-payahnya, bukan hak pemerintah untuk mengambil sebagian melalui pajak, apalagi hak yang tak berpunya. Dengan demikian, bisa dimengerti sikap Partai Republik AS saat ini yang sangat resisten terhadap upaya Obama menaikkan pajak pendapatan. Contoh lain adalah apakah seseorang berhak membeli ginjal orang lain, melalui kekayaan dan kebebasannya, untuk maksud kesenangan belaka? Apakah seseorang bebas menentukan hidup-matinya sendiri (euthanasia)?

Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, moralitas bukanlah mencari kebahagiaan tertinggi (utilitarian), melainkan menghormati kemanusiaan sebagaimana adanya (to respect humanity as an end in itself); dan tindakan disebut bermoral bukanlah karena menghasilkan kebaikan, tetapi karena niat (motif) baik itu sendiri, tanpa ‘pamrih’ atau maksud lain. Penjaga toko membatalkan maksudnya untuk menaikkan harga mainan yang akan dibeli seorang anak, yang tidak mampu menawar, karena khawatir bila ketahuan oleh publik akan membuatnya ditinggalkan pelanggan. Menurut Kant, tindakan penjaga toko tersebut adalah baik namun kurang bermoral karena ada ‘pamrih’ di dalamnya, keuntungan bisnis.

Aristoteles
Menurut Aristoteles, Keadilan adalah memberikan pada yang berhak. Tentang politik ia berpendapat bahwa politik berguna untuk membentuk masyarakat yang baik, serta meninggikan kebenaran.

Kritik Sandel tentang moral untuk Aristoteles adalah pernyataannya bahwa sebagian orang memang dilahirkan sebagai ‘budak’, yang lebih baik dipimpin/dimiliki oleh ‘tuan’nya. Mungkinkah pemikiran Aristoteles belum bisa lepas dari jamannya?

Pada bab terakhir berjudul ‘Justice and The Common Good’, Sandel kembali menegaskan bahwa Maksimalisasi Kesejahteraan dan Kebebasan Memilih, tidak cukup untuk mencapai masyarakat yang ‘baik’ (secara moral, etika dan hukum dapat dibenarkan), melainkan hanya pendekatan Nilai Luhur (cultiviting virtue), maka keadaan tersebut bisa dicapai. Untuk itu perlu ada kesepakatan dan cita-cita bersama tentang masyarakat yang ‘baik’ dan membangun kultur masyarakat yang memberi ruang terhadap adanya perbedaan.

Membaca buku ini hingga selesai dan merefleksikannya terhadap kehidupan kita di negeri ini, akan memunculkan renungan keadilan moral seperti:
- Apakah adil bila pemerintah terus melakukan import beras, bawang merah, daging demi memenuhi kebutuhan Nasional, namun disaat yang sama menjatuhkan harga barang di petani?
- Apakah adil bila pemerintah terus memproduksi kendaraan bermotor demi meningkatkan pendapatan nasional, namun di saat yang sama jalan raya tidak ditambah/diperbaiki?
- Dan lain-lainnya..

Mengunjungi Beijing

Meranggas

Lampu kabin Garuda F890 tujuan Beijing dimatikan untuk takeoff dari bandara Soeta pada pukul 21:23. Pilot mengumumkan bahwa akan membutuhkan waktu selama 7 jam untuk sampai di bandara Beijing, China. Tepat 5:30 waktu Beijing, Garuda GA890 mendarat.

Hari ke-1
Bandara Beijing

Di restroom bandara, kami semua mulai mengenakan longjon (pakaian dalam panjang dari kaki hingga leher) dibawah kaos panjang dan jaket tebal, untuk menghadapi udara dingin akhir Desember -5C, sebelum keluar melewati imigrasi dan mengambil bagasi.

Sambil menunggu datangnya bus penjemput, kami sempat sarapan di Kentucky dengan menu burger ikan bersaus manis (rasa bebek goreng Duck King, jakarta). Pukul 7:30 tour bus mengangkut kami ber18 menuju Summer Palace. Jalan serasa masih subuh, matahari belum muncul, berkabut dan sedikit macet. Pohon berbatang kecil, 15-20 cm diameter, tumbuh rapi di sebelah kanan/kiri jalan tol, meranggas daunnya, kecuali pohon pinus yang daunnya mampu bertahan, terlihat hijau. Cerobong tinggi berasap putih beberapa terlihat jauh di sebelah kiri jalan, dilingkungan apartemen, untuk keperluan penghangat ruangan.

Terlihat Ocean Crown di sebelah kanan jalan, seberang Dingchun De Hotel, merupakan kawasan pertokoan mewah yg menjual barang2 branded luar negeri. Tak lama bus melewati Anhui Bridge flyover dan Olympic stadium terlihat di sebelah kanan.

Nissan, Hyndai, Peogeot, Toyota, VW, Jeep, Audi, Honda, Ford, KIA, Buick tampak mendominasi jalanan, lebih banyak daripada mobil produksi China, bahkan sekali-kali terlihat Porsche melintas cepat. Taksi banyak menggunakan produk Korea, Hyundai Elantra, namun sempat juga terlihat taksi bermerk VW.

Danau es Kunming

Summer Palace, tempat tinggal kaisar China terakhir, Puyi berada di seberang Danau Kunming yang membeku jadi hamparan putih salju. Suhu udara terasa sangat dingin, -5C. Sarung tangan kulit hitam terasa tertembus udara dingin dan badan terpaksa terus bergerak mencoba mempertahankan hangat, meskipun pekaian berangkap tiga, topi, tutup telinga sudah melindunginya. Beberapa perempuan berusia lanjut melakukan senam pagi diiringi musik dari tape yang dipasang di pinggir danau.

Topi bulu bertutup telinga, sarungtangan dan tutup telinga adalah barang-barang yang biasa dijajakan di tempat-empat obyek wisata China. Pemandu wisata kami berkali-kali mengingatkan untuk tidak memegang barang dagangan bila memang tidak bermaksud membelinya karena seringkali mereka minta dibayar dengan alasan tamu merusakkan dagangan mereka setelah mencoba memegang dan tidak membelinya. Pemerasan.

Freesky Pearls adalah industri perhiasan mutiara air tawar milik pemerintah China, biasa menjadi obyek wisata yang ditawarkan oleh agen travel. Disini, mereka menunjukkan bagaimana membuka kerang mutiara hasil peternakan sebesar lebih dari telapak tangan orang dewasa dan menunjukkan isinya, 25 butir mutiara kecil, berwarna merah muda. Bubuk mutiara dijualnya sebagai supelman pemutih kulit dan butir mutiara sebagai perhiasan wanita juga dijual dengan berbagai desain bercampur emas dan perak yang menarik.

Industri Sutra

China juga dikenal dengan produksi kain sutra, yang pada awalnya berada di sungai Kunming dan sungai Yangtze. Beijing Dizhen Silk Productions Co. Ltd. adalah industri kain sutra yang sempat kami kunjungi, yang memproduksi kain untuk bahan pakaian dan perlengkapan tempat tidur dengan merek dagang Royal Silk. Satu bedcover ukuran 180×200 cm seharga RMB 5000 dengan bonus satu sarung bedcover, empat sarung bantal dan selimut lipat yang semuanya berbahan sutra. Harga produk sutra didasarkan pada berat total kain sutra, bukan lebar. Satu hal yg menarik adalah satu kepompong bisa menghasilkan 1400 m benang sutra. Kain sutra untuk bedcover, selimut, pakaian ditawarkan dengan motif bermacam-macam.

Hari ke-2

Dalam perjalanan menuju Great Wall, kami sempat mampir ke industri perhiasan batu giok. Perhiasan dan produk seni patung dari yang bernilai puluhan hingga ribuan Yuan tersedia di sini. Perhiasan yang mahal, selain karena kualitas batu Gioknya yang bagus, juga bisa karena nilai emas/perak dan desainnya yang memang mahal. Batu Giok yang bagus, menurut sang penjual, adalah bila bersuara nyaring bila terkena benda padat lainnya. Ini dibuktikan dengan cara meminta kami memilih gelang Giok yang palsu dari empat buah yang tersedia. Semua terlihat mirip, berwarna hijau muda, namun berbeda bunyi saat dibenturkan dengan gelang lain. Dan yang palsu tidak berbunyi nyaring. Banyak sekali wisatawan Indonesia terlihat di tempat ini, selain dari Malaysia dan Rusia.

Great Wall

Pintu Great Wall tempat kami mendaki adalah Juyongguan (40 17′ 33,53″N 116 3′ 54,97″E), yang juga dikenal dengan nama Badaling, berada di sebelah utara Beijing. Great Wall di Juyong ini dulu dimaksudkan untuk melindungi ibu kota China Beijing (dulu disebut Peking) dari serangan kaum nomaden dari utara (wilayah Mongol).

Beberapa bagian Great Wall sudah dibangun pada abad ke-5 SM dan diperbaiki kembali hingga abad ke-6 SM, dan yang terkenal adalah buatan 220-206 SM oleh dinasti pertama China, Qin Shi Huang. Hanya sedikit bagian tersisa. Sebagian besar Great Wall yang tersisa sekarang ini adalah peninggalan dinasti Ming. Total panjang dinding pengaman adalah 8.850 km, terdiri dari 6.250 km dinding batu (Great Wall), 350 km paritan dan 2.250 km adalah pelindung natural seperti bukin dan sungai.

Bagian dinding utara ini, Juyongguan, dibuat dengan bahan batu dan batu bata, berdimensi 7,8 m tinggi dan 5 m lebar. Masih ada enam pintu lainnya dari Great Wall ini.

Hari ke-3

Tiananmen Square

Lapangan Tiananmen adalah obyek wisata yang paling menarik karena nilai sejarah yang sangat saya pahami, dimana memakan ratusan korban mahasiswa (ada yang mengatakan ribuan) akibat tembakan dan serbuan tank Tentara Merah, dan ‘jatuh’nya ex PM Jiang Zemin di jaman Deng Xioping 1989, dimulai dari lokasi ini. Jejak-jejak peristiwa Tiananmen ini masih banyak bisa dilihat di Youtube. Banyak tentara bermantel hijau, lengkap dengan sepatu boot, sarung tangan dan topi bersimbol bintang merah, berjaga-jaga di sekitar lapangan dan paling banyak terlihat di bawah foto Mao Zedong, di pintu gerbang Forbidden City. Musium Nasional dan Gedung DPR yang membatasi Tiananmen juga dijaga oleh Tentara Merah.

Forbidden City

Forbidden City, sebagai istana raja hanya sempat kami lewati hingga Pintu Gerbang ke-3, dilanjutkan dengan menumpang kereta kecil berpenumpang 8 orang mengelilinginya. Mao Zedong memproklamirkan RRC dari atas gerbang Forbidden City untuk menunjukkan kekuasaannya atas kaum feodal para dinasti.

Sore hari, kami mengunjungi Yashow market, yang dikenal sebagai pasar murah bagi para wisatawan yang pandai menawar. Kain sutra, barang-barang ‘branded’, elektronik, t-shirt dan berbagai pernak-pernik untuk oleh-oleh, semua tersedia di sini. Sementara ibu-ibu beredar dalam gedung besar berlantai 5 ini, para cowok beredar di mall besar sebelahnya yg banyak menjual produk fashion dan sport dari luar negeri, juga Apple computer, tak lupa nongkrong di Starbuck, nyeruput kopi latte sambil tetap tubuh terbungkus rapat karena dingin menggigit tulang. Jam 7 malam para ibu berkumpul di coffee cafe sebelah yashow market dengan koper memenuhi hampir setengah lantai dan siap cabut untuk makan malam dan kembali ke hotel.

Hari ke-4
Jam 6 pagi, kami checkout dari hotel menuju bandara untuk terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda GA-891 yang akan takeoff 09:00. Tidak banyak toko dan hanya satu coffee shop terlihat. Yang tidak biasa terlihat adalah, toko-toko barang merk luar negeri di bandara ini tidak menyediakan tas/kantong pembungkus dari produsennya, tetapi semua toko hanya menyediakan kantong yang sama/seragam berbahan kertas dengan label China.

Lain-lain
Selama tiga hari itu, kami kembali ke Holiday Inn hotel setelah jam 8 malam. Selama musim dingin, hanya heater tersedia di kamar, bukan AC. Hotel bagus, bersih dan tersedia wifi sampai di kamar, lumayan bisa internet dan chatting berblackberry.

Makanan yang disediakan di resto-resto tempat makan siang/malam, yang disediakan oleh pihak Garuda, umumnya mempunyai citarasa yang sama (rasa bebek Duck King). Teri kering yang kami bawa, jauh lebih menambah nafsu makan. :)

Tidak satupun buku sempat dibeli dalam jalan-jalan kali ini karena toko buku kecil di komplek pertokoan sekitar Yashow market dan di bandara Beijing, hanya sedikit sekali menjual buku berbahasa Inggris.

Tentara Merah

Polisi sangat jarang terlihat di manapun kami berada kecuali dalam mobil patroli lalu-lintas, sebaliknya tentara berseragam hijau sering terlihat berjaga di depan kantor-kantor pemerintah dan selalu menolak untuk difoto.

Namun secara keseluruhan, saya puas karena telah mengunjungi ibukota negara Tirai Besi, Beijing dan melihat Warisan Dunia Great Wall dan saksi bisu peristiwa Tiananmen.

Mindset bahwa negara Komunis akan menyengsarakan masyarakatnya perlu pelan-pelan dipertanyakan. Hanya satu pengemis tua terlihat selama beredar di Beijing 3 hari.

Seperti halnya buku “Too Big To Fail” dan film “Inside Jobs” tentang runtuhnya Wallstreet 2008, analogi menarik tentang krisis Euro di bawah ini makin menambah pemahaman atas tarian uang di jagad global. Diperoleh dari email berantai… Terimakasih pak GSA.

Euro Crisis 101 (How A Bailout Package Works)
It is a slow day in a damp little Irish town. The rain is beating down harshly, and all the streets are deserted. Times are tough, everybody is in debt and everybody lives on credit.

On this particular day a rich Indonesian tourist is driving through the town, stops at the local hotel and lays a €200 note on the desk, telling the hotel owner he wants to inspect the rooms upstairs in order to pick one to spend the night.

The owner gives him some room-keys and, as soon as the visitor has walked upstairs, the hotelier grabs the €200 note and runs next door to pay his debt to the butcher. The butcher takes the €200 note and rushes down the street to repay his debt to the pig farmer.

The pig farmer takes the €200 note and heads off to pay his bill at the supplier of animal feed and fuel. The guy at the Farmers’ Co-op takes the €200 note and runs to pay his drinks bill at the friendly neighbourhood pub.

The pub owner gives the money along to the local singer and his band at the bar….who, in spite of facing hard times, has always gladly offered him his services on credit.

The singer then rushes over to the hotel and pays off his room bill to the hotel owner with the €200 note. The hotel proprietor quietly replaces the €200 note back on the counter, so that the rich Indonesian traveller will not suspect anything.

At that moment the Indonesian traveller comes down the stairs, states that none of the rooms are satisfactory, picks up the €200 note, pockets it and leaves town.

No one has produced anything. No one has earned anything. However, the whole town is now out of debt and looking to the future with a lot more optimism.

And that, ladies and gentlemen, is how a basic financial bailout package works.

That’s exactly how it works… everyone uses cash they don’t own to bail themselves out of nothing.

The problem with Greece is that the rich Indonesian came back downstairs before the money was returned back to the hotelier from the singer…

Capitalism 4.0

George Soros: “This brilliant book will add greatly to our understanding of the future of the world economy”.

Judul: Capitalism 4.0
Penulis: Anatole Kaletsky
Tebal Buku: 365
Penerbit: PublicAffairs
Tahun: 2010

Buku ini ditulis oleh Kaletsky, kolumnis dari the Times of London, pada tahun 2009 ketika ekonomi AS mulai bangun dari krisis ekonomi 2008 ketika Lehman Brothers terjerembab. Saat itu, bukan hanya bank atau institusi pembiayaan saja yang runtuh, namun juga filosofi politik dan sistem ekonomi kapitalisme, yang selama ini diyakini kebenarannya di sebagian besar belahan dunia ini mulai dipertanyakan. Meskipun globalisasi tak terelakkan, trauma resesi 2008 tak akan mudah terlupakan karena efek domino biaya ekonomi masih berjalan khususnya dalam hal setoran pajak, budget pemerintah, pengangguran, frustasi kepemilikan rumah dan investasi di seluruh dunia.

Menurut Kaletsky, kapitalisme global tidak runtuh, ekonomi AS, Inggris, dan sebagian besar Eropa telah bangkit lagi. Bahkan Dunia Baru yang dipimpin China bisa dianggap tidak terkena resesi dan malah menikmati pertumbuhan ekonomi. Prediksi akan terjadinya Great Depression II, 2010, ternyata tidak terbukti, justru yang terjadi adalah kebangkitan ekonomi, Great Transition, bila dibandingkan dengan masa transisi 40 tahunan dari era Kynesian ke Reagan/Thatcher atau transisi dari era pasar bebas klasik ke era Keynesian, New Deal. Ini bukan hanya perubahan antara regulasi vs pasar, namun juga perubahan ide-ide fundamental politik dan ekonomi. Meskipun ekonomi global dan sistem finansial telah selamat dari krisis, namun disadari akan kebutuhan munculnya model baru kapitalisme, karena tanpa reformasi fundamental kapitalisme, bisa terjadi krisis finansial di masa depan yang lebih berat. Kapitalisme 4.0 adalah prediksi yang diharapkan akan muncul sebagai sintesis proses dialektika antara kapitalisme mazhab ekonomi regulasi/publik vs pasar.

Kapitalisme 1
Kapitalisme 1 ini dimulai dari 1776, sejak Declaration of Independence dan lahirnya ‘The Wealth of Nations’ oleh Adam Smith. Pada periode ini, yang berlangsung hingga 150 tahun, diyakini bahwa ekonomi dan politik adalah dua aktifitas manusia yang sangat berbeda. Intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi sangat intensif, khususnya dalam hal perdagangan dan pajak untuk perlindungan industrial demi kepentingan nasional, misalnya industri tekstil dan perkebunan. Kesuksesan Kapitalisme fase 1 ini dimulai sekitar 1870an ketika perang sipil AS berakhir dan perbudakan dihapuskan pada 1865. Revolusi Industri II dengan kemajuan teknologi kelistrikan, kimia dan perminyakan juga dimulai pada periode ini. Namun pada saat yang sama, ancaman terhadap kapitalisme klasik juga mulai muncul, ditandai dengan publikasi Das Kapital oleh Karl Marx (1867), dan mulai munculnya serikat pekerja. Prediksi Marx bahwa kapitalisme akan runtuh karena kontradiksi internal di dalam sistemnya terbukti benar, dimulai dengan keresahan oleh kelompok menengah, golongan intelektual. Bencana finansial hiperinflasi di Weimar, Jerman dan ‘Great Depression’ menandai munculnya spesies baru, Kapitalisme 2.

Kapitalisme 2
Kapitalisme baru ini menemukan bentuknya setelah Roosevelt terpilih sebagai Presiden AS pada 1932 dan munculnya konsep ekonomi Keynes, ‘General Theory’, 1936. Karakter dari kapitalisme periode ini adalah bahwa tanpa keterlibatan pemerintah akan menyebabkan ketidak-stabilan atau kehancuran ekonomi. Masa keemasan ekonomi Keynesian adalah 1946-1969, dalam hal standard hidup, kemajuan teknologi dan stabilitas finansial. Kemerosotan sistem kapitalisme ini ditandai dengan tingginya inflasi karena pembiayaan program Kesejahteraan Sosial dan Perang Vietnam dimasa Lydon Johnson, sementara di Inggris, Itali, Perancis dan Jerman juga mengalami inflasi dan terorisme, baik oleh ekstrim kiri maupun kanan. Puncak kesulitan muncul saat embargo Arab sehingga menaikkan harga minyak empat kali lipat, yang mengakibatkan terjadinya ‘stagflasi’, bencana ekonomi.

Kapitalisme 3
Spesies kapitalisme baru ini muncul dengan terpilihnya Margareth Thatcher, 1979 dikuti dengan kemenangan Ronald Reagen dari partai Republik, 1980. Motor ekonomi pada era ini adalah Milton Friedman dengan ‘moneterisme’nya, yang berasumsi bahwa kebebasan pasar yang kompetitif dan tidak ‘terganggu’ oleh negara, akan menyebabkan keseimbangan ekonomi kapitalis, efisiensi, stabilitas dan penyerapan tenaga kerja. Runtuhnya Kapitalisme 3 dengan kebebasan pasar ini ditandai dengan hancurnya institusi pembiayaan Lehman Brothers di tahun 2008.

Kaptalisme 4.0.
Alih-alih memisahkan Pasar dari Negara, pada tahap Kapitalisme 4 ini justru harus mempererat hubungan keduanya. Dengan acuan Demokrasi Barat, masalah keseimbangan antara kebutuhan publik vs personal/individual, perlu menjadi prioritas perhatian untuk menghadapi tantangan kapitalisme model China.
Pada tahap ini, Kaletsky berpendapat bahwa:
- Pasar perlu lebih mempertimbangkan situasi ekonomi dan politik, daripada hanya berdasar pada kondisi pasar itu sendiri
- Bisnis perlu mempertimbangkan visi/misi yang lebih luas daripada sekedar mencari keuntungan finansial belaka
- Manajemen/Investor perlu menemukan cara baru untuk menganalisis target-target finansial/politik sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana ekonomi

Dalam buku ini Kaletsky juga banyak menjelaskan sisi Politik, Keuangan dan Perbankan, yang perlu dilakukan untuk menjaga kesuksesan Kapitalisme 4.0. Kondisi ekonomi Eropa, yang tidak banyak berbeda dengan AS, juga mendapat perhatian penulis, termasuk analisis tentang Kapitalisme China dan kritik dari kelompok Kiri.

Dalam Bab Penutup, Kalitsky berpendapat bahwa langkah reformasi keseimbangan pasar-negara, sesuai dengan Kapitalisme 4.0 ini, berjalan dengan lambat, bahkan masa transisi ini bisa berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Membangun ‘trust’ secara terus-menerus dalam dunia yang tidak pasti, membutuhkan sebuah evolusi komunikasi dengan semua pemangku kebijakan secara berkesinambungan.

Apapun kategori kapitalisme yang dimaksud penulis, jelas terlihat bahwa telah terjadi pergeseran atau pengingkaran kapitalisme dari Kanan ke Tengah, dengan thesisnya yang bisa disimpulkan bahwa keterlibatan Negara dalam Pasar Bebas adalah PERLU.

Mengapa Freeport ribut?

Grasberg

Kenaikan 306% net-income Freeport apakah linear dengan kenaikan pendapatan NKRI/karyawan?

Sudah sebulan lebih pemogokan karyawan PT. Freeport Indonesia berlangsung, bahkan sampai terjadi dua korban tewas (di tempat dan di rumah sakit), yang kebetulan masyarakat Papua akibat penembakan, yang masih dalam penyelidikan, saat terjadi aksi protes di Timika yang menuntut pertemuan dengan manajemen PTFI. Kasus pemogokan belum selesai, muncul lagi kasus penembakan di dalam wilayah kontrak karya PTFI yang memakan korban tewas tiga orang karyawan PT. Puri sebagai kontraktor PTFI.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan PTFI?
Dari informasi tidak resmi yang diperoleh, pemogokan kali ini adalah kelanjutan dari pemogokan 9 hari yang terjadi di bulan Juni 2011 karena Ketua SPSI dan beberapa pengurusnya telah dipecat oleh perusahaan saat perundingan Kontrak Kerja Bersama akan dilaksanakan. Pemogokan dihentikan setelah pengurus SPSI kembali bisa bekerja sebagai karyawan PTFI. Pada saat pemogokan, seringkali pihak manajemen mengirimkan email keseluruh karyawannya yang berpesan supaya tidak mengikuti mogok kerja karena pemogokan tidak legal. Interpretasi sepihak tentang ‘tidak legal’ ini seringkali muncul dalam email ke karyawan ataupun ke media cetak hingga pemogokan kali ini. Intimidasi manajemen terhadap karyawan juga terjadi dengan cara sosialisasi yang berisi pesan untuk tidak menjadi anggota SPSI, bahkan formulir anti SPSIpun diedarkan untuk ditandatangani karyawan. Saat ini sudah puluhan (ratusan?) karyawan dirumahkan sampai waktu yang tidak ditentukan karena dianggap telah melakukan provokasi atau mogok kerja di Tembagapura. Konflik horizontal sangat mungkin terjadi karena karyawan staff punya tambahan kerja baru, melakukan ‘sweeping’ ke barak-barak karyawan untuk mencari mereka yang tidak bekerja supaya bisa segera dirumahkan.

Disaat pemogokan masih berlangsung, penembakan terhadap karyawan terjadi lagi Jumat yang lalu, 14 Oktober 2011, dengan tiga korban tewas dari kontraktor PTFI di lokasi tanggul timur wilayah kontrak karya PTFI. Ini adalah peristiwa penembakan yang kesekian kalinya, yang tidak pernah ditemukan dalangnya oleh aparat keamanan. Apakah kasus ini ada relasinya dengan pemogokan karyawan? Belum ada yang bisa jawab.

Laporan Tahunan Freeport McMoran 2010
Dalam kontrak karya PTFI, terdapat cadangan tembaga 27% (33,7 milyar lbs) dan emas 95% (32,7 juta troy oz, 1troy oz= 31.2 gram) dari total cadangan yang dimiliki Freeport McMorran di dunia (Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Indonesia). PTFI menyumbang 34% revenue total Freeport, dengan Net Income total US$ 4,3 milyar (Summary financial Highlight), atau setara dengan Rp. 38,7 trilyun (kurs US$ 1 = Rp. 9000). Tidak jelas dalam Laporan Tahunan ini mengenai perak, sebagai mineral ikutan dalam produksi emas/tembaga.

Tambang-tambang Freeport di Amerika dan Afrika dimiliki sejak 2006/2007, yang tentunya berasal dari kekayaan yang diperoleh di Indonesia. Angka-angka semacam di atas inilah yang mengganggu rasa keadilan karyawan PTFI dan seharusnya juga mengganggu pemerintah Indonesia. Berapa persen perolehan NKRI dari total net-income Freeport? Total setoran tahunan ke RI berdasar royalti dan pajak memang selalu diumumkan oleh PTFI, namun tidak pernah disertai dengan total pendapatan PTFI yang masuk kedalam kantong Freeport McMoran. Keuntungan itu semakin besar setelah diketahui bahwa sejak produksi tahun 1972, PTFI baru membayar royalti emas sebesar 1% setelah perpanjangan kontrak karya 1989. PTFI juga tidak bersedia untuk membayar royalti emas sebesar 3,75% sesuai ketentuan PP No. 45 Tahun 2003.

Tuntutan SPSI
Tuntutan pemogokan adalah kesetaraan pendapatan karyawan PTFI dengan pendapatan karyawan berdasar pekerjaan sejenis di tambang-tambang Freeport lainnya di luar negeri. Apakah tuntutan semacam ini masuk akal? Penulis tidak cukup kompeten tentang hal ini, namun banyak ahli sumber daya manusia mengatakan bahwa kenaikan gaji ditentukan oleh peningkatan produksi atau keuntungan perusahaan. Lalu bagaimana dengan kenaikan net-income Freport 306%, dari 2006 hingga 2010 (Laporan Tahunan Freeport 2010)? Apakah kenaikan pendapatan karyawan mencapai persentasi yang sama? Rasanya tidak.

The Audacity of Hope

obama1

Judul Buku : MENERJANG HARAPAN

Dari Jakarta menuju Gedung Putih

Judul Asli : The Audacity of Hope;

Thoughts On Reclaiming The American Dream

Penulis : Barack Obama

Tahun : 2007

Penerbit : UFUK PRESS

Tebal buku : 528 halaman

 

Buku ini mulai beredar tahun 2007 di Indonesia, ketika Barack Obama, yang berkulit hitam, mulai muncul sebagai calon presiden pada pemilu pendahuluan partai Demokrat, yan bersaing dengan mantan ibu negara, Hilary Clinton.

Obama menuliskan pengalaman hidupnya, keyakinan, pandangan politik dan sosialnya dalam 11 bab, termasuk Pendahuluan yang diterbitkan pertama kali di tahun 2006. Menurutnya, ini adalah buku ke-2 setelah bukunya yang pertama, ‘Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance’, yang diterbitkan 11 tahun sebelumnya.

Cerita tentang masa kecilnya selama tiga tahun di Indonesia ditulisnya secara panjang-lebar sebanyak 10 halaman, di bab awal buku ini. Pengalaman masa kecil dari bangsa Amerika yang berayah-tirikan orang Indonesia dan beribukan bangsa AS, Kansas, namun hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan tanpa tv dan mobil, adalah sungguh aneh bila dibandingkan kehidupan bangsa barat yang hidup di Indonesia saat ini. Hidupnya di Indonesia dimulai ketika berusia 6 tahun, pada tahun 1967, di tahun yang sama ketika Soeharto memangku jabatan Presiden RI ke-2. Pertama-tama dia bersekolah di lingkungan Katolik dan kemudian di sekolah yang dominan beragama Islam. Tulisan tentang kultur, sejarah dan politik di Indonesia saat itu tampak dikuasainya.

Pemahaman sejarah Amerika mulai dari kebijakan ekspansif AS di masa awal kemerdekaan, utk menjaga pasar dan kelancaran transportasi perdagangan, Great Depression, perang Vietnam hingga perang Irak serta biografi orang-orang besar AS sepertinya sangat dikuasai, hingga banyak sekali kutipan kata-kata Presiden AS berceceran di dalamnya mulai G. Washington, John. Adams, T. Jefferson, Roosevelt, Woodrow Wilson, Kennedy, Reagan, Carter, Clinton dan tak ketinggalan G.W. Bush.

Ada satu cita-cita terbersit di hatinya ketika mengutip Quincy Adams, “ Amerika sebaiknya mengabdi kepada kepentingan kemerdekaan dengan berkonsentrasi pada pengembangannya sendiri, menjadi sebuah mercusuar harapan bagi bangsa-bangsa lain dan penduduk di seluruh dunia”, (hal. 46).

Sikap politik luar negerinya yang ‘aktif’ didasari keyakinannya bahwa ‘jika kita ingin membuat Amerika lebih aman, maka harus membantu membuat dunia menjadi lebih aman’, (hal 78). Lalu, ‘kita memiliki hak untuk melakukan tindakan militer unilateral untuk menghapuskan sebuah ancaman yang akan terjadi terhadap keamanan kita’, (hal 83). Selain sikap aktif yang militeristik, Obama juga berpendapat, ‘… membantu mengurangi masalah-masalah ketidak-amanan, kemiskinan, dan kekejaman di seluruh dunia, serta turut andil dalam tatanan global …’, (hal 92). Keyakinan politiknya yang juga pluralis, memberikan konsekwensi untuk mempercayai bahwa politik, bergantung pada kemampuan untuk merangkul semua pihak berkaitan dengan tujuan bersama yang didasarkan atas realitas bersama. Namun berbeda dengan sains, politik melibatkan kompromi dan seni kemungkinan (the art of the possible),

Pengalamannya di Senat, memberinya pandangan bahwa Demokrat dan Republik memiliki lebih banyak persamaan daripada apa yeng terlihat dari sudut pandang publik. Politik mungkin saja berbeda; para pemilih menginginkan sesuatu yang berbeda; dan mereka sudah lelah dengan distorsi, saling mengejek, dan solusi-solusi sesaat untuk persoalan yang rumit.

Dalam hal perang Iraq, seperti halnya sikap partai Demokrat, Obama sangat berbeda dengan Bush, bahkan turut berdemo di tahun 2002 untuk mempertanyakan bukti pemerintah AS atas kepemilikan senjata pemusnah massal Iraq serta ketidak-setujuannya atas invasi AS ke Iraq.

Dalam hal ideologi ekonomi, sudah sewajarnya Obama, sebagai bangsa Amerika, baik Demokrat maupun Republik, akan berseberangan dengan Hugo Chavez, atau para pemimpin negara Amerika Latin lainnya yang berpandangan sosialis, bahkan menganggapnya sebagai tokoh-tokoh populis, “.. saya percaya para pengeritik itu salah kalau mengira bahwa negara-negara miskin akan meraih keuntungan dengan menolak cita-cita pasar bebas dan demokrasi liberal”, (hal 93).

Sistem pasar bebas dan demokrasi liberal diakuinya masih terus mengalami perubahan dan perbaikan, namun tetap bersikukuh bahwa sistem inilah yang bisa menjamin kehidupan orang menjadi lebih baik, sehinga tantangan bangsa AS adalah memastikan semua kebijakan AS akan menggerakkan sistem internasional ke arah persamaan, keadilan dan kemakmuran yang lebih besar.

Tentang Nilai-Nilai, dalam buku ini, disinggung sedikit tentang perkawinan sejenis, aborsi, dan hukuman mati. Obama tidak cukup tegas mendukung sikap partainya yang pro prochoice. “ … saya khawatir jika (ada) larangan terhadap aborsi, akan memaksa kaum perempuan untuk mencari cara-cara aborsi yang tidak aman …” (hal 149), dan secara politis mendukung upaya mengurangi jumlah perempuan yang merasa harus melakukan aborsi sebagai pilihan utama. Sedangkan Hukuman mati, dianggapnya hanya melakukan sedikit untuk mengurangi kejahatan, namun juga dipercaya bahwa untuk kasus-kasus kejahatan yang bengis, hukuman mati dapat dibenarkan. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh ada orang tak bersalah diakhiri hidupnya di kursi kematian dan tidak ada orang yang melakukan pelanggaran berat, terbebas dari hukuman.

Pendidikan anak, korupsi dalam pemerintahan dan bisnis, serta keserakahan dan materialisme adalah tiga tantangan moral besar bagi bangsa AS. Sedangkan sebagai Demokrat, nilai komunal, rasa tanggungjawab bersama dan solidaritas harus mewarnai pemerintahan AS.

Obama adalah pemeluk kristen yang ‘cair’, pluralis dan pada masa kecilnya banyak mendapatkan pendidikan etika dari ibunya, seperti nilai kejujuran, empati, disiplin, kebahagiaan yang tertunda dan kerja keras. Menurutnya, “Agama formal tidak memonopoli kebajikan, dan kita tidak harus menjadi religius untuk membuat klaim-klaim moral atau menyerukan kebajikan bersama”, (hal 172). Juga, “Yang sungguh-sungguh dituntut oleh demokrasi deliberatif dan pluralistik adalah bahwa orang-orang yang termotivasi secara religius seharusnya menerjemahkan semua keprihatinannya menjadi nilai-nilai universal, alih-alih nilai-nilai agama yang spesifik” (hal 178).

Tentang Ras, Obama mengingatkan, saat buku ini ditulis, bahwa dalam Senat AS, hanya ada tiga orang anggota Latin dan dua orang Asia (dari Hawaii) serta satu orang Afro-American (Obama). Dalam 40 tahun terakhir, rata-rata gaji orang kulit hitam adalah 75% dari rata-rata gaji orang kulit putih, sedangkan gaji rata-rata orang Latin adalah 71%nya. Nilai tengah pendapatan bersih orang kulit hitam kira-kira AS$ 6.000 dan orang Latin AS$ 8.000, dibandingkan dengan orang kulit putih, AS$ 88.000. Pengangguran kulit berwarna lebih banyak disebabkan oleh kurangnya ketrampilan dan pengalaman kerja. Kesenjangan ekonomi, sosial, pendidikan masih banyak terlihat karena menurutnya pelaksanaan undang-undang hak sipil oleh pemerintahan Republik belum sepenuhnya berjalan (hal. 215). Isu besar tentang imigran ilegal dari selatan juga belum terselesaikan.

Dalam hal ketenagakerjaan, Obama, sebagai anggota senat, mengusulkan UU yang mewajibkan agar setiap lapangan pekerjaan pertama-tama harus ditawarkan kepada pekerja AS, dan agar majikan tidak memotong gaji dengan membayar buruh tamu kurang dari apa yang mereka bayarkan kepada pekerja AS. Idenya adalah bahwa semua bisnis hanya diberikan kepada pekerja asing untuk sementara waktu, ketika terjadi kelanggkaan buruh.

Di akhir bukunya, Obama juga banyak menyoroti tentang pendidikan di AS. Kesenjangan pendidikan warga kulit hitam terlihat di daerah selatan Chicago, dimana pada tahun 2005, sekolah di sistrik ini tidak dapat memberi gaji untuk mempekerjakan guru harian (full day school), sehingga waktu sekolah hanya bisa berlangsung sampai pukul 13:30 saja. Saat ini, AS memiliki salah satu tingkat putus sekolah tertinggi di sekolah menengah atas. Hal ini memberi inspirasi Obama untuk memulai investasi yang dapat menjadikan AS lebih kompetitif dalam ekonomi global, yaitu: investasi dalam bidang pendidikan, sains dan teknologi, serta kemandirian energi.

Kesimpulan umum yang bisa diambil dari bukunya adalah, Obama memang bersahaja, cerdas, peduli keadilan dan kesetaraan, sangat diametrikal dengan McCain atau warga partai Republik pada umumnya. Tapi, betulkah? Tertulis juga di bukunya bahwa menyerang pihak lain untuk alasan keamanan adalah sah. Ideologi ekonominya, seperti warga USA pada umumnya, juga masih Ekonomi Pasar Bebas, tidak bergeser ketengah sedikitpun seperti Jerman atau Eropa yang menganut Ekonomi Pasar Sosial (Social Market Economy).

 

 

Dari Beirut Ke Jerusalem

dari-beirut-ke-jerusalemJudul asli              : From Beirut To Jerusalam

Penulis                  : Thomas Friedman

Tebal buku            : 460 halaman

Penerbit                 : Penerbit Erlangga

Tahun                    :  1989

 

Buku yang ditulis oleh wartawan New York Times berdasarkan penelitian dan kunjunganannya ke Libanon dan Jerusalem ini sangat bagus dan cukup lengkap untuk mengetahui sejarah umum dan politik Timur Tengah, khususnya Palestina, Libanon dan Israel. Membaca buku ini rasanya seperti membaca novel sejarah yang runtut alurnya dan pembaca serasa berada di tempat kejadian.

Beberapa peristiwa penting yang diceritakan dalam bukunya ini diantaranya adalah :

  • Perang saudara dan invasi Israel di Libanon
  • Pembantian pengingsi di Sabra dan Shatila
  • Evakuasi PLO dari Beirut
  • Kedatangan pasukan perdamaian AS di Beirut dan bom bunuh diri
  • Pembantaian di kota Hama, Syria oleh rezim Hafez al-Assad

 

Libanon

Isu utama penyebab perang saudara di Libanon 1982an adalah adanya ketidak-stabilan yaitu tidak adanya konsensus antara kaum Kristen dan kaum Muslim mengenai pembagian kekuasaan.  Menjelang tahun 1970an, golongan Kristen hanya 1/3 bagian dari total penduduk Libanon; sementara golongan Muslim dan Drus mencapai 2/3 bagian, dimana Golongan Shiah sebagai golongan terbesar.  Komposisi ini sudah sangat berbeda dengan tahun 1943, dimana Maronit menjadi golongan mayoritas.

Golongan Maronit tidak menghendaki pembaruan pembagian kekuasaan seperti yang diinginkan golongan Muslim. Golongan Maronit membentuk milisi Phalangis, dipimpin Pierre Gemayel dan milisi Tigers yang dipimpin mantan presiden Libanon, Camilli Chamoun; sedangkan kaum muslim Libanon dipimpin oleh Walid Jumblat (milisi Druz) dan Nabih Berri (milisi Amal Shiite).

Keterlibatan Israel di Libanon adalah kepentingannya untuk mengusir PLO di Libanon Selatan atas dukungan kelompok Kristen dan Islam Shiah, pada awalnya. Namun, ternyata Israel juga „mengganggu” kelompok Islam Shiah.

 

Suriah

Februari 1982, rezim Hafez al-Assad, dari partai Baath yang berkuasa yang memenangkan kursi presiden melalui kudeta saat dirinya menjabat sebagai Menteri Pertahanan, melakukan pembantaian terhadap muslim Sunni di kota Hama, yang menurut Amnesty International memakan korban 10.000 – 25.000 orang. Muslim Sunni Sitia berjumlah 70%, sedangkan kaum Alawit 10-12%.

 

Israel-Palestina

Mulai dasawarsa 1930-an, Ben-Gurion menerima gagasan membagi Palestina menjadi dua negara- untuk Israel dan Arab Palestina -, yang akhirnya diterima oleh PBB 1947.

Menachem Begin tidak pernah mau menerima realita ini. Dia menginginkan kedaulatan Yahudi atas seluruh tanah Israel kuno, yang membentang dari Mediterania sampai ke Sungai Yordan dan wilayah seberangnya, sejalan dengan program semula kaum Zionis.

PM Golda Meir pada 1967 menyatakan  pada The Sunday Times bahwa bangsa Palestina tidak ada. Partai Buruh Israel lebih suka memandang orang Palestina sebagai “pengungsi Arab” belaka yang harus dimukimkan kembali si negara-negara Arab disekelilingnya. Bahkan setelah Israel menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat 1967, menyebut orang Palestina sebagai “bangsa Arab di tanah Israel”. Masalah Palestina, bagi Israel adalah masalah gerombolan Arab perampok yang mebunuhi Yahudi.

Penilaian Thomas Friedman terhadap Menachem Begin, seseorang yg melihat dirinya sendiri sebagai korban, nyaris tak pernah membuat penilaian moral atas dirinya sendiri. Hal ini berhubungan dg sikap Menachem Begin yang lahir 1913 di Polandia, menganggap dirinya sbg korban anti Semitism dan menganggap mengepung Arafat bagaikan mengejar Hitler dalam persembunyiannya.

 

Sejarah perang Israel – Palestina

1882

Sbg akibat penganiayaan bgs Yahudi di Rusia dan Rumania pada tahun sebelumnya, imigrasi pemukiman Yahudi secara besar-besaran ke Palestina pertama kali berlangsung

 

1891

Para tokoh Arab di Jerusalem mengirimkan petisi kepada pemerintahan Ottoman diKonstantinopel menuntut dilarangnya imigrasi orang Yahudi ke Palestina dan pembelian tanah oleh orang Yahudi.

 

1896

Wartawan Austria Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, menerbitkan pamfletnya The Jewish State, yang menyatakan bahwa ‘masalah Yahudi’ hanya dapat dipecahkan dengan mendirikan negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lainnya, sehingga bangsa Yahudi dapat hidup bebas tanpa takut akan penganiayaan. Setahun kemudian, Herzl mengadakan Kongres Zionist pertama di Basel, Swiss, untuk mendorong imigrasi ke Palestina.

 

1908

Surat kabar Arab Palestina pertama muncul: Al-Quds, si Jerusalem dan Al-Asma’i di Jaffa.

 

1916

Persetujuan Sykes-Picot ditempa oleh Inggris, Perancis dan Rusia, memotong-motong kerajaan Ottoman setelah kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sebagai bagian dari persetujuan itu, Inggris memenangkan pengendalian efektif atas wilayah Palestina, dan Perancis atas wilayah yang kini adalah Libanondan Siria.

 

1917

Deklarasi Balfour dikeluarkan oleh menteri Luar Negeri Inggris Arthur J. Balfour untuk menyokong gagasan pendirian ‘negeri sendiri’ bagi bangsa Yahudi di Palestina.

 

1920

Perancis mendekritkan pembentukan negara Libanon Raya, yang mengikat kembali bersama Gunung Libanon dengan wilayah-wilayah Beirut, Tripoli, Sidon, Tirus, Akkar dan Lembah Bekka.

 

1936-39

Diilhami oleh gerakan nasional Arab lainnya, bangsa Arab Palestina memberontak dalam upayanya menghentikan didirikannya tanah air bangsa Yahudi di Palestina. Baik pemukiman Yahudi maupun satuan tentara Inggris, mendapat serangan.

 

1943

Para pemimpin Kristen dan Muslim Libanon mencapai persetujuan dengan ‘Pakta Nasional’ untuk membagi kekuasaan dan menyeimbangkan orientasi Barat dan Arab di Libanon; persetujuan ini memungkinkan negeri merekamenjadi sebuah negara bebas dari Perancis.

- Perbandingan Anggota Parlemen: 6 (Kristen) : 5 (Muslim)

- Presiden                             : Maronit

- Perdana Menteri                : Muslim Sunni

- Ketua Parlemen                : Muslim Shiah

 

1947

PBB memutuskan untuk membagi Palestina menjadi dua negara, satu untuk bangsa Yahudi (Gurun Negev, dataran pantai antara Tel Aviv dan Haifa dan beberapa bagian daera Galilea utara) dan lainnya untuk bangsa Arab Palestina (Tepi Barat Sungai Yordan, distrik Gaza, Jaffa dan sektor Arab dari Galilea) dimana Jerusalem menjadi daerah kantong international.

Kaum Zionis dipimpin oleh David Ben-Gurion

 

1948

Inggris menarik diri dari Palestina. Alih-alih melaksanakan rencana pembagian PBB, negara-negara Arab sekitarnya bergabung dengan bangsa Palestina lokal untuk mencoba mencegah munculnya negara Yahud. Israel bagaimanapun juga akhirnya didirikan: Yordania menduduki Tepi Barat dan Mesir menduduki Jalur Gaza.

 

1956

Israel bergabung dengan kekuatan Inggris dan Perancis menyerang Mesir dibawah Gamal Abdel Nasser dan berhasil menduduki sebagian besar Semenanjung Sinai. Atas tekanan baik dari AS maupun Uni Soviet, belakangan Israel menarik diri.

 

1958

Perang saudara Libanon meletus pertama kali dan sekitar 15,000 orang pasukan AS dikirimkan ke Beirut untuk membantu menstabilkan suasana.

 

1964

Para pemimpin negara Arab dipimpin oleh Abdel Nasser membentuk Palestine Liberation Organization (PLO) di Kairo.

 

1967

Israel melancarkan serangan mendahului atas Mesir, Siria dan Yordania ketika mereka sedang menyiapkan perang melawan negara Yahudi. Perang Enam-Hari berakhir dengan Israel menduduki Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

 

1969

Yaser Arafat pemimpin organisasi gerilya Al-Fatah, terpilih menjadi Ketua Komite Eksekutif PLO.

 

1970

Tentara Raja Hussein mengalahkan gerilyawan PLO Arafat dalam suatu perang saudara untuk menguasai Yordania.

 

1973

Mesir dan Siria melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan Israel yang menduduki Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan.

 

1974

Sebuah konperensi puncak Arab di Rabat, Marokko, menegaskan bahwa PLO adalah ‘wakil satu-satunya dan sah’ dari bangsa Palestina.

 

1975

Perang saudara kembali meletus di Libanon.

 

1977

Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Jerusalem, berpidato di depan parlemen Israel, dan menawarkan perdamaian penuh jika Israel bersedia mundur sepenuhnya dari Sinai.

 

1979

Mesir dan Israel menandatangani perjanjian perdamaian mereka.

 

1982 Feb

Pemerintah Siria membantai ribuan warganegaranya sendiri ketika memberangus pemberontakan yang dilancarkan dari kota Hama.

 

1982 Jun-Sep

Israel menginvasi Libanon. Pemimpin milisi Phalangis, Bashir Gemayel terbunuh setelah pemilihannya sebagai Presiden Libanon. Pasukan Milisi Phalangis membantai ratusan orang Palestina di perkemahan kaum pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut, sementara kemahnya dikepung oleh pasukan Israel. Satuan Marinir AS tiba di Beirut sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB.

 

1983

Kedutaan Besar AS dan markas besar Korps Marinir AS di Beirut diledakkan oleh bom mobil bunuh-diri.

 

1984 Feb

Pemerintah Libanon pimpinan Presiden Amin Gemayel terpecah setelah golongan Muslim Shiah dan Drus di Beirut Barat melancarkan pemberontakan melawan tentara Libanon. Presiden Reagen melepaskan harapan untuk membangun kembali Libanon dan memerintahkan padukan Marinir pulang.

 

1984 Sep

Partai Buruh dan Likud Israel bekerjasama dalam sebuah pemerintahan persatuan nasional setelah pemilihan bulan Juli menemui jalan buntu.

 

1985

Israel menarik tentaranya secara sepihak dari sebagian besar Libanon.

 

1987 Des

Perlawanan atau Intifada orang Palestina mulai di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

 

1988 Des

Arafat mengakui hak keberadaan negara Israel. Menteri Luar Negeri AS George Shultz membenarkan pembukaan dialog dengan PLO. Partai Likud dan Buruh bergabung untuk membentuk pemerintahan kesatuan nasional yang lain di Israel sesudah pemilihan mengalami jalan buntu.

MAX HAVELAAR

havelaar1Judul : MAX HAVELAAR

Penulis : Multatuli

Alih Bahasa : Andi Tendi W.

Tahun : 2008

Penerbit : Narasi

Dari sampul belakang: Buku ini ditulis Multatuli (Eduard Douwes Dekker) di sebuah losmen yang disewanya di Belgia, pada musim dingin 1859. Merupakan kritik tajam yang telah “membuka” sebagian besar mata publik dunia, tentang perihnya arti penindasan (kolonialisme). Judul buku dan nama penulisnya sungguh sangat familiar bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan SD di negeri ini, dan patut mendapatkan penghargaan bagi pengalih bahasa yg telah menerjemahkan karya klasik monumental ini.

Dari sisi gaya bahasa atau alur cerita, agak sulit ‘mencerna’nya, mungkin karena peng’alih-bahasa’an atau memang metoda penulisan yang kurang difahami pembaca. Ada dua latar belakang yang diceritakan dalam karya ini, yaitu tentang ‘makelar kopi’, yang disebutkannya berkali-kali dan pemerintahan kolonialis Belanda di Lebak, Jawa Barat sebagai inti cerita. Juga, satu bab cerita pendek ‘Saijah dan Adinda’ yang sangat terkenal di dunia teater, bahkan sebagai dongeng menjelang tidur.

Keprihatinan Multatuli atas tanah Jawa dan sinisme terhadap pemerintah kolonial sudah dituliskan pada awal cerita, “.. keriangan mengepakkan bendera di Batavia, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Pacitan, Cilacap, di atas kapal yang sarat dengan hasil panen yang membuat Holland kaya!”

Cerita buku ini dimulai dengan kedatangan Max Havelaar (35 tahun) dan keluarga di Rangkasbitung, sebagai Asisten Residen Lebak yang baru dan masih muda, namun sudah berpengalaman menjadi Asisten Residen di Ambon. Sifat-sifat personal Max Havelaar diceritakan sang penulis dengan panjang lebar sebagai manusia religius, lurus, rendah hati seperti tertulis dalam bahasa puitisnya “.. Tajam seperti silet, namun berhati lembut seperti seorang gadis, dia selalu menjadi yang pertama dalam merasakan kepedihan yang ditimbulkan dari kata-kata pahitnya, dan dia lebih menderita akibatnya dibandingkan dengan orang yang disakitinya”.

Konflik dimulai ketika Max memperoleh banyak keluhan rakyatnya atas kesewenang-wenangan Regen Lebak (Raden Adipati Karta Nata Negara) dan mulai menindak-lanjutinya. Kesewenang-wenangan dimaksud, diantaranya adalah, pengambil alihan ternak, pungutan dan penggunaan tenaga kerja tanpa ganti rugi/dibayar. Laporan Max tentang kasus ini ke Residen Lebak tidak mendapat tanggapan bahkan dianggap sebagai laporan tidak berdasar. Ketidak-puasan Max atas tanggapan resmi Residen Lebak (Slymering), membuatnya gusar dan melaporkannya lebih lanjut ke penguasa kolonial, Gubernur Jenderal.

Akhir cerita, Max Havelaar mengundurkan diri dan tidak menerima ‘mutasi’ yang dikenakan pada dirinya sebagai Asisten Residen Ngawi, Jawa Timur.

Introspeksi

Betulkah kesewenang-wenangan dalam bungkus kolonialisme sudah hilang di negeri tercinta ini? Bagaimana dengan penguasaan modal besar atas akses pendidikan, kesehatan dan usaha? Bagaimana dengan hegemoni globalisasi budaya dan ekonomi yang sudah mengkooptasi kita saat ini?

Rumah Kaca

rumah_kaca2Judul Buku : Rumah Kaca
Halaman      : 645
Pengarang   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit       : Lentera Dipantara
Tahun            : 2009

Rumah Kaca adalah buku terakhir dari tetralogi, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah.

Bila pada ketiga buku terdahulu menggunakan tokoh utama Mingke sebgagai si pencerita, maka di buku terakhir ini tokoh utama, sekaligus pencerita adalah Pangemanann, polisi yang menangkap Minke dalam buku Jejak Langkah. Ini gaya penulisan yang harus diambil penulis, untuk dapat terus mengikuti perkembangan sejarah perjuangan di masa kolonialisme Belanda, berhubung Minke sbgai tokoh utama di buku sebelumnya sedang berada di pengasingan, Ambon.

Pangemanann (dengan dua ‘n’), dimaksudkan penulis sebagai pribadi keturunan Manado Belanda, namun lebih menghargai dirinya sebagai bangsa asing, walaupun dalam setiap pikiran dan tindakannya selalu dibayangi rasa salah terhadap bangsanya.

Latar-belakang cerita diambil pada masa tumbuhnya nasionalisme di wilayah Asia, seperti munculnya Aquinaldo di Filipina dan Sun Yat Sen di Tiongkok. Di Hindia (Indonesia nantinya), pada saat itu di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, yang menggantikan Van Heutsz. Nasionalisme Hindia diawali dengan organisasi Budi Mulya dan Syarikat Dagang Islam, dilanjutkan dengan munculnya para aktivis Belanda Sneevlit. Sepak terjang Tiga Serangkai juga mewarnai isi buku ini, meskipun tidak cukup mendapat ‘arti’ yang penting di mata penulis.

Pada akhir cerita, Minke telah dibebaskan dari pengasingan,, namun tetap dalam pengawasan pemerintahan kolonial hingga dilarang melakukan aktivitas politik, dan akhirnya mati dalam kesepian.

Membaca tetralogi ini, pesan yang muncul sangat jelas terlihat sebagai sikap pribadi penulis yang anti penjajahan dalam segala bentuknya dan tetap tegar dan konsisten dengan segala akibatnya hingga wafat dalam kesepiannya.

Bila penulis adalah representasi si Minke, lalu siapakah Pangemanann? Jelas masih banyak tokoh dengan kepribadian dan perilaku semacam Pangemanann ini, biasanya mereka ini mengabdikan diri sebagai wakil pemilik modal besar dan karena kemampuannya mengenali budaya bangsanya, akan berusaha untuk terus menjajahnya. Persis seperti perilaku kolonialis yang berkedok ‘balas-budi’, namun di ujung semua usaha adalah tetap keuntungan pemilik modal harus jauh lebih besar. Kasihan kalian para Pangemanann negeri ini ..

SNOW

orhan_snow1

Judul                 : Snow

Tebal buku        : 731 halaman

Pengarang         : Orhan Pamuk

Penerbit            : Serambi

Tahun               : 2008

Kisah warga Kars ini dimulai dengan kedatangan Ka di kota sunyi itu ketika gerilyawan Kurdi sedang membangun kekuatannya, sbg penduduk asli dan mantan tahanan politik, yang sudah meninggalkan kota ini selama 12 tahun dan menikmati budaya liberal di Jerman. Profesi Ka adalah wartawan sekaligus sastrawan puisi. Keahlian sebagai seorang sastrawan puisi ini sudah sangat dikenal di kota kecil ini, Kars. Alasan utama Ka untuk pulang ke Kars adalah menghadiri pemakaman ibunya, yang kemudian berkembang untuk melakukan investigasi atas banyaknya korban bunuh diri warga perempuan Kars, dan mengejar kisah asmara lama sebagai latar-belakang konflik cerita utama tentang tiga kelompok besar yang sedang membangun kekuasaan, konservatisme, sekularisme dan militerisme. Kekecewaan para siswi muslim, sebgai wakil kaum konservatif, yang tidak diijinkan menggunakan kerudung di sekolah membuahkan frustrasi sosial, ditunjukkan dengan meningkatnya feomena bunuh diri. Di lain pihak, kaum sekular memprovokasi masyarakat dengan cara membakar kerudung sebagai isu sentral pada pementasan teater liberal.

Membaca buku ini sejak halaman pertama, serasa dikepung kegetiran akut, sepi, dingin, redup dan sewenang-wenang. Kejadian bisa berubah tanpa alur linear dan ketidak-laziman cerita bisa terjadi kapan saja. Misalnya, penulis bisa menceritakan kekhusukan seorang gadis yang mau sholat hingga menuju ke tali gantungan dengan kesadaran diri yang tinggi; atau cerita guru yang ditembak di restoran ketika para tamu sedang makan siang, diawali dengan komunikasi yang panjang-lebar antara si eksekutor dan si korban. Absurd.

Ka mewakili sikap individu peragu yang mencoba mencari tahu akan ideologi Islam radikal, komunis dan sekular. Keinginan utk mendapatkan hasil maksimal dgn cara berkolaborasi dgn tiga kelompok yang berbeda, berbuahkan kegagalan. Pesan tersirat dr buku ini adalah ‘Kegamangan Islam menghadapi perkembangan jaman yang cenderung liberalistik’. Isu ini masih merupakan isu sentral saat ini di Turki.

Dari sisi penulisan, Snow relatif lebih cair mengalir dibanding dengan karya Pamuk sebelumnya My Name Is Red, yang berat untuk dibaca. Buku ini diterbitkan partama kali di Turki pada tahun 2002, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris 2004.

The Hidden Connections

Judul                : The Hidden Connections

Penulis             : Fritjof Capra

Halaman           : 355

Penerbit            : Jalasutra

Tahun               : 2009

Seluruh kehidupan, mulai dari sel yang paling primitif, hingga masyarakat, korporasi, dan negara-bangsa, bahkan ekonomi global, ditata menurut pola dan prinsip dasar yang sama. Fritjof, penulis The Tao of Physics, menjelaskan berbagai sistem terpadu yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman hal ini akan sangat penting bagi keberlanjutan hidup manusia.

Berbeda dengan the Web of Life, (1996) yang berbicara tentang perkembangan teori sistem biologi, yaitu chaos, kompleksitas dan swa-kelola (self organization), The Hidden Connections berbicara lebih jauh pada tataran sosial dan bisa dianggap sbg buku tentang pembentukan kognisi, yang berawal dari sifat unik dan individual dari biologi dan fisika ‘otak’ manusia hingga pengaruh jaringan komunitas sosial.

Menurut Capra dalam The Turning Point (1986), paradigma fisika harus digantikan oleh suatu kerangka konseptual yang lebih luas, suatu visi atas realitas dimana ‘kehidupan’ ada di pusatnnya.Cara pandang ‘sistem’ atas kehidupan seperti yang ditulisnya, bukanlah suatu teori koheren tentang kehidupan, tetapi lebih merupakan cara baru untuk berpikir tentang kehidupan.

Tujuan penulisan buku ini seperti yang tertulis pada bagian Epilognya (hal. 292) adalah mengembangkan suatu kerangka konseptual yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif dan sosoal kehidupan. Suatu kerangka yang memungkinkan untuk memakai pendekatan sistemik terhadap beberapa permasalahan kritis jaman sekarang. Analisis sistem kehidupan dalam empat perspektif yang saling berhubungan, yaitu bentuk, materi, proses, dan makna memungkinkan diterapkannya suatu pemahaman yg utuh mengenai kehidupan terhadap fenomena di luar materi, dan juga fenomena pada dunia makna.

Buku The Hidden Connections ini dibagi menjadi dua bagian berurutan, yang pertama mengenai kerangka teoritis tentang Esensi Kehidupan, Esensi Pikiran dan Kesadaran, serta Esensi Realitas Sosial. Sedangkan bagian kedua mengenai penerapan praktis dari bagian pertama.

Tentang Esensi Kehidupan, Capra menyimpulkan bahwa kunci definisi sistemik kehidupan adalah jaringan2 kehidupan yang terus-menerus menciptakan atau membuat ulang diri mereka sendiri dengan mengubah atau mengganti komponen-komponen dirinya, disebut juga sbg sistem ‘autopietik’. Pandangan para ahli biologi molekular bahwa kehidupan, pada puncaknya, adalah molekul-molekul, tegas ditentangnya dan dianggapnya sangat reduksionis dan berbahaya, karena pandangan baru tentang Sistem Kehidupan adalah bersifat sistemik, tidak hanya didasarkan pada analisis struktur molekular semata namun juga analisis pola hubungan antar struktur dan proses-proses spesifik yang mendasari pembentukannya. Mengenai Pikiran dan Kesadaran, Capra memberi definisi bahwa Kesadaran adalah suatu jenis proses kognitif khusus yang muncul ketika kognisi mencapai tingkat kompleksitas tertentu, dan Kesadaran manusia bukan hanya sebagai suatu fenomena biologis semata, melainkan juga merupakan fenomena sosial. Tentang Realitas Sosial, Capra berpendapat bahwa pemahaman sistemik atas kehidupan dapat diperluas ke ranah sosial dengan menambahkan perspektif ‘makna’ terhadap tiga perspektif lainnya, yaitu bentuk, materi dan proses. Sampai di sini Capra telah mencoba memberikan penjelasan teoritis yang runut mulai dari kehidupan selular hingga pola sistemik realitas sosial.

Penerapan praktis dari konsep Realitas Sosial, yang berbasis Sistem Kehidupan, disajikan pada bab berikutnya, yang didahului kritik Capra terhadap sistem manajemen top-down dan mekanistik, karena bertentangan dengan sifat ‘autopietik’ jaring sosial, serta harus dilakukan pergeseran kekuasaan  dari ‘coercive power’ dan ‘compensatory power’ ke ‘conditioned power’ (hal.119); dilanjutkan dengan kritik Kapitalisme, yang menurutnya sudah semestinya dirubah, karena tidak dapat mengurangi kemiskinan bahkan menyebabkan peminggiran sosial. Ada perbedaan penting menurutnya, antara jaringan ekologis alam dan jaringan korporasi. Dalam suatu ekosistem, tak ada makhluk hidup yang terpinggirkan, sedangkan dalam dunia ‘kekayaan’  dan ‘kekuasaan’, bagian besar populasi dipinggirkan dari jaringan global dan dianggap tak relevan secara ekonomi. Hal terakhir mengenai Bioteknologi dan diakhiri dengan rekomendasi bagaimana menyiasatinya untuk kehidupan yang lebih baik.

Pemahaman sistemik pada kehidupan menjelaskan bahwa dalam tahun-tahun mendatang perubahan tidak hanya akan diperlukan bagi kesejahteraan organisasi manusia, tetapi juga untuk kelestarian dan keberlanjutan umat manusia secara keseluruhan dengan mengubah sistem nilai yang mendasari ekonomi global, untuk membuatnya cocok dengan kebutuhan martabat manusia dan keberlanjutan ekologis.

Tentang penulisnya, Fritjof Capra (lahir1 Feb 1939) adalah seorang ahli fisika dan teori sistem yang lahir di Austria dan berdomisili di AS, juga penulis buku ‘best seller’ The Tao of Physics (1975) dan The Turning Point (1982), yang keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

HOT, FLAT and CROWDED

Judul : Hot, Flat and Crowded

Penulis : Thomas L. Friedman

Tebal Buku : 582 halaman

Penerbit : PT. Gramedia

Tahun : 2008

Judul buku ini sudah memberikan gambaran umum yang jelas dari penulisnya, keprihatinan terhadap kondisi Lingkungan Global, seperti tertulis pada sampul belakang. Hot, karena kemajuan teknologi telah mempercepat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke angkasa; Flat, karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, yang memungkinkan siapapun, di manapun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah sehingga seolah-olah bumi berada di atas sebuah pinggan datar, dan Crowded, karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sedemikian cepat akibat keberhasilan upaya menekan angka kematian dan industrialisasi sehingga bertumpuk di kawasan perkotaan tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

Titik tolak pembahasan dalam buku ini sebetulnya adalah keprihatinan penulis terhadap kebijakan energi dan perubahan iklim negaranya (AS) yang menurutnya sangat kurang, bahkan cenderung mengabaikan visi lingkungan global. “Jika kita (AS) ingin mempertahankan kepemimpinan kita dalam teknologi, ekonomi dan moral serta agar planet ini tetap dapat dihuni, kaya dengan flora dan fauna, macan tutul dan singa, serta komunitas manusia yang bisa berkembang serta berkelanjutan, banyak hal yang harus diubah di sini, dan dengan segera”. Hal. 10

Dua hal penting yang mewarnai kebijakan negatif elit politik AS, adalah, sikap paranoid AS pasca 11 Sep dan sikap ‘semau gue’ terhadap problem nasional karena rasa percaya diri yang berlebih sehubungan hilangnya Perang Dingin; selain masih adanya kecenderungan positif bangsa AS yang ditunjukkan dengan karya inovatif dan idealis dalam hal ekonomi dan teknologi.

Konvergensi pemanasan global (hot) , perataan bumi (flat) dan penuh sesaknya bumi (crowded) mengantar kita pada lima masalah besar:

1. Tumbuhnya permintaan energi tak tergantikan

Menurut ASPOUSA, AS saat ini mengkonsumsi 810 juta gallon per hari, atau US$ 700 juta lebih. Royal Dutch Shell membuat prediksi, dalam laporan tahun 2008, bahwa konsumsi dunia untuk semua jenis energi akan setidaknya dua kali lipat antara sekarang dan tahun 2050.

Sesungguhnya AS sudah berusaha untuk melakukan efisiensi energi dengan munculnya Energy Policy and Conservation Act oleh kongres, 1975 sehingga jarak tempuh kendaraan ringan meningkat dari rata-rata 5,5 km/liter menjadi 11,5 km/liter pada tahun 1980. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan minyak yang signifikan hingga 1990an, yang juga turut andil sebagai penyebab runtuhnya Uni Soviet, yang saat itu sebagai produsen minyak ke-2 terbesar dunia. Sayangnya, justru Reagen menurunkan target standar penghematan menjadi 11 km/liter pada tahun 1986, bahkan memangkas anggaran sebagian besar program energi alternatif presiden Carter, juga membatalkan insentif pajak untuk perusahaan-perusahaan tenaga surya dan angin. Hal semacam inilah yang dimaksudkan penulis sebagai kebijakan ‘semau gue’ elit politik AS.

Detroit dan industri minyak memang secara konsisten melobi Kongres untuk menolak kenaikan pajak atas bahan bakar minyak. Hal ini ditunjukkan oleh Rick Wagoner, direktur dan CEO General Motors saat menjawab pertanyaan, mengapa perusahaannya tidak membuat mobil-mobil yang irit bahan bakar, “Kami membuat yang dikehendaki oleh pasar”, jawabnya. Dan ini didukung oleh elit politik AS dengan TIDAK menerapkan pajak tinggi untuk bahan bakar dan mesin seperti halnya di negara-negara Eropa. Denmark, setelah kelangkaan minyak dunia 1973, mengambil sikap efisiensi energi dan beralih ke energi terbarukan (surya dan angin) yang didukung dengan kebijakan energi pajak tinggi dan juga pajak CO2, sehingga masyarakat dengan sadar berusaha menggunakan energi di rumah secara efisien. Denmark yang pada tahun 1973 memperoleh 99% energi dari Timur Tengah, saat in, 2008, sudah tidak lagi melakukan import bahan bakar, 0% bahkan sepertiga dari semua turbin angin di dunia berasal dari Denmark.

Kenaikan harga bahan bakar fosil juga berakibat naiknya harga pangan dan industri tambang mineral dunia, juga semakin luasnya alokasi lahan yang dibutuhkan untuk keperluan lahan tanam Biofuel. BBC melaporkan bahwa Kenya (2008) hanya menanami sepertiga luas lahan dibanding tahun sebelumnya karena keperluan Biofuel.

Menurut Bank Dunia, 2007, Timur Tengah, Cina dan India menghabiskan US$ 50 milyar untuk subsidi minyak dalam negerinya. Bahkan Indonesia menghabiskan 30% Anggaran Belanja, dibanding 6% untik keperluan Pendidikan.

2. Transfer kekayaan yang masif kepada ‘petrodictator’

Tingginya permintaan energi fosil menyebabkan transfer kekayaan yang sangat tinggi karena juga harga yang tinggi. Statistik Fraser Institute menunjukkan bahwa kemakmuran negara penghasil minyak, akan diikuti dengan tingginya sikap represif pemerintah terhadap rakyatnya. Contoh yang paling baru adalah sikap Rusia untuk menutup jalur pipa gas ke negara2 Eropa Tengah dan Barat. Mengenai karakter Geopolitik negara pengekspor minyak, banyak terdapat di Bagian II dalam buku ini. Kalimat penutup yang bagus dari Bagian ini adalah: “ Anda tidak dapat menjadi idealis dalam kebijakan luar negeri yang efektif tanpa sekaligus menjadi pecinta lingkungan yang efektif dalam upaya menghemat energi.”

3. Perubahan iklim yang signifikan

Perubahan iklim di air teluk Mexico yang semakin hangat akibat pemanasan bumi menyebabkan Badai Katrina yang sangat dahsyat. Laporan IPCC 2007, (Intergovernmental Panel on Climate Change) berdasar pengamatan, menyimpulkan bahwa realitas pemanasan bumi sangat tidak diragukan bahwa kenaikan temperatur sejak 1950 ini terkait langsung dengan emisi-emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Tanpa upaya yang serius untuk menghentikan emisi CO2, pemanasan kumulatif pada 2100 akan berkisar 3°-5°C pada pada kondisi pra-industri. Ini akan memicu kenaikan muka air laut, bencana kekeringan dan banjir, yang akan mempengaruhi kelayakan sejumlah kawasan hunian manusia.

4. Kemiskinan energi

Bagi mereka yang telah menikmati listrik, kelangkaan energi dapat mengundang letupan politik, karena penggunaan energi dan Gross National Product memiliki korelasi sangat erat. International Energy Agency membuat proyeksi bahwa 1,4 milyar orang akan masih tidak dapat menikmati listrik dalam tahun 2030.

5. Percepatan hilangnya keaneka-ragaman hayati

Ketika dunia semakin panas, rata dan penuh sesak kita telah melampaui sebuah titik kritis keanekaragaman hayati. James Gustave Speth, penulis ‘The Bridge at the Edge of the World’ banyak menunjukkan bukti2 ini.

Kondisi bumi seperti inilah yang memacu kesepakatan negara-negara besar untuk membuat pakta-pakta lingkungan, mulai dari Komisi Bruntland, Protokol Montreal, Agenda 21 dan Protokol Kyoto. Ironisnya, justru AS tidak pernah bersedia menandatanganinya.

Lima puluh tahun lagi, bangsa AS akan menuntut orang tuanya: “Dad, saat bangsa kita kaya akan finasial, dan unggul akan teknologi dan sumber daya manusia, apa yang telah Anda lakukan dengan energi dunia?”

Penulis

Thomas L. Friedman adalah wartawan New York Times yang juga menulis ‘From Beirut To Jerusalem’, (resensinya juga ada di web ini juga) dan ‘The World is Flat’ yang keduanya sangat ‘inspiring’ bagi pemerhati Kedamaian dan Lingkungan.

Sampai Jumpa, Bu Sri

Bukan karena pemuja atau penghujat maka ikut berkomentar, tapi karena sudah banyak ruang publik tersita oleh kasus yang berhubungan dengan beliaulah yang membuat terpancing utk menulis.

Bail-Out bank Century telah melambungkan nama Sri Mulyani menjadi bulan-bulanan para politisi, baik yang mendukung maupun yang menghujatnya, juga telah menyeret para pengamat sosial dan pendukung tokoh politik untuk turut meramaikannya, bahkan para penikmat sinetron yang apolitispun menjadi sangat familiar dengan sosok sang ibu ekonom ini.

Nama beliau ini mulai muncul dalam benak ketika menduduki jabatan tinggi di IMF, saat negari ini justru sedang berusaha untuk memutus hubungan dg kreditor dunia ini. Menjadi pertanyaan diam dalam diri saat itu “Mengapa ada ekonom Indonesia yg bersedia tidak populer, dg mengambil jabatan tinggi di IMF, yang sedang dihindari para negara2 debitor di Amerika Selatan, Afrika dan negara2 sedang berkembang lainnya?” Misi personal seperti apakah yg ingin diraih? Menaikkan tingkat pencapaian profesionalitas? Visi nasionalisme berdasar mazhab ekonomi yg diyakininya? Atau?

Tepat di hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2010) beliau secara resmi sudah ‘dipaksa’ meletakkan jabatan sebagai menteri Keuangan, menuju jabatan yang prestisius yang baru sebagai salah satu Direktur World Bank di Washington DC.. Dipaksa oleh siapa? DPR? Presiden? World Bank? Atau?

Banyak pertanyaan dalam diam yang masih berseliweran, adakah kaitan antara karir beliau sejak sekolah di AS, IMF, MenKeu dan World Bank versus mazhab ekonomi yang dianutnya? Atau bagaimana sejatinya nasionalisme menurut keyakinan ideologisnya? Mobil, pusat perbelanjaan dan perumahan mewah memang semakin banyak, tapi petani, nelayan, buruh, guru masih tetap susah kondisi hidupnya.

Selamat jalan dan sampai jumpa Bu Sri, anda dianggap tepat oleh pemimpin negeri ini untuk menjalankan kebijakan ekonomi berdasar keyakinan ideologisnya, namun justru harus pergi setelah babak-belur mengemban sikap loyal terhadapnya. “Revolusi memang memakan anak sendiri”, menurut Soekarno.

Melihat berita tv akhir-akhir ini rasanya seperti nonton kejuaraan free fight yg isinya berdarah-darah, tegang dan melelahkan.. Penuh kekerasan. Masih belum hilang memori kekerasan kelompok ini ketika tindak kekerasan dilakukannya secara vulgar terhadap kelompok lain di lapangan Monas beberapa tahun yll. Juga perusakan berbagai tempat hiburan malam di wilayah Kota dan Kemang. Saat ini tindak kekerasan itu mulai dilakukannya lagi.

Banyuwangi
Kunjungan fraksi PDIP di Banyuwangi untuk dialog dgn bekas PKI, dibubarkan sekelompok massa yang beberapa terlihat berpakaian dan berpeci putih, secara paksa dengan wajah2 beringas dg alasan, yg muncul di tv, membuka luka lama. Absurd. Mereka sudah membayarnya dg menjalani hukuman fisik, psikis dan sosial oleh institusi hukum yg sah di negeri ini. Lalu apa lagi? Semestinya, mereka berhak hidup sebagai warga negara yang merdeka. Alasan lainnya. PDIP dianggap menyebarkan faham komunis. Betulkah? Atau hanya karena mendekati ex-PKI, yg mungkin merekapun belum tentu faham tentang komunis? Bgmn bisa menuduh partai besar yang legal di negeri ini berideologi komunis? Absurd.

Ahmadiyah, Jawa Barat
Wajah-wajah beringas membenturkan tubuhnya ke barisan tameng aparat keamanan untuk dapat menghancurkan pagar hidup ini dan menggilas pengikut Ahmadiyah. Masjid disegel, para ibu berteriak, darah tercecer, umpatan berhamburan.

Bantargebang, Bekasi
Umat kristiani beribadah dalam suasana represif, dalam kepungan teror kekerasan. Gereja mereka yang sudah mendapat persetujuan 190 penduduk sekitar dipaksa tutup oleh kelompok minoritas berkuasa.

Patung, Bekasi
Teror untuk menurunkan patung Tiga Perempuan di salah satu perumahan di Bekasi oleh kelompok massa berlabel agama, yang menganggapnya tidak sesuai dengan keyakinannya, mirip penghancuran patung-patung di Afganistan.

Ancaman ‘sweeping’ tempat hiburan malam di Jakartapun mulai dilontarkan, meskipun akhirnya dibatalkan setelah Foke, Gub DKI, menemui pimpinan FPI. Anehnya, justru sang Gub mengajaknya untuk turut mengawasi kegiatan Hiburan Malam di bulan Ramadhan. Bukankah keamanan adalah ranah aparat keamanan? Ataukah ormas ini memang alat politik dari kelompok tertentu? Absurd.

Teringat novel The Kite, yang sudah muncul di layar lebar, yang bercerita kekejaman kelompok Taliban di Afganistan dan penghancuran patung Budha di dinding pegunungan gersang Timur Tengah (lupa negaranya) yang pernah disiarkan oleh National Geographic channel. Semoga tidak muncul kelompok semacam ini di negeri kita. Amin

Hujan Asam

Setelah pilih-pilih channel tv untuk cari hiburan ringan yang menghibur tidak muncul juga, akhirnya terperangkap gambar di layar tv, hutan hijau segar dengan sungai kecil jernih membelah layar, dengan sosok pemuda yang sedang melakukan pengukuran pH air sungai dan peralatan kimia, monitor tv serta komputer di bawah tenda sebagai latar belakang. Dengan bantuan judul film terpampang di sebelah kanan-atas layar tv “Dark Skies”, dugaan langsung menyeruak benak, ini tentang isu lingkungan. 

Seorang Doktor muda jenius, Jack Weston, lulusan Standford University sedang melakukan penelitian tentang kemungkinan pencemaran alam yg dilakukan oleh pabrik Pegolahan Logam Ordox, tempat dia bekerja sebelum mengundurkan diri, di hutan pinggir kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa, Timberton, California.

Belum lama film berlangsung, kekacauan terjadi ketika hujan mulai turun. Asap menguap dari tetes air hujan di air sungai, tenda roboh katena tiang logam berasap dan meleleh akibat tetesan air hujan dan puncak kekacauan adalah ketika seorang peserta camping melepuh wajahnya akibat mengusap mukanya menggunakan air sungai yang tercemar. Hujan asam telah terjadi. Ini semua disebabkan oleh adanya ledakan dalam pabrik pengolahan logam yang mengakibatkan tingginya kadar SO2 di udara.

Terlepas dari alur cerita yg ‘melo dramatik’ dan kesahihan sains yang meragukan, seperti pH air hujan adalah 1 tanpa ‘historical data’ menunjukkan gejala sebelumnya, serta penggunaan kapur secara sembarangan utk melindungi korosi body mobil, dsb; isu lingkungan yang disampaikan cukup menggugah minat untuk tahu lebih banyak soal Hujan Asam (acid rain).

Informasi di situs internet Wikipedia, EPA dan situs lingkungan lainnya, menunjukkan bahwa tingginya SO2 atau NOx di udara bisa mengakibatkan pengendapan asam (acid deposition) dalam dua cara, Dry Deposition, yaitu pengendapan material halus langsung dari udara dan Wet Deposition, melalui air hujan. Penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan bahan bakar fosil kendaraan bermotor adalah penyebab utama peningkatan kandungan SO2 dan NOx di udara. Di AS, kira-kira 2/3 SO2 dan 1/4 NOx yang ada di atmosfer berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, seperti batubara. Air hujan normal mengandung pH 4-5 dan bila lebih kecil dari itu maka sudah masuk dalam kategori hujan asam.

Isu tentang Hujan Asam, yang berhubungan dengan pertumbuhan industri, ini sempat muncul beberapa tahun yang lalu, tapi pelan-pelan mulai menghilang digantikan dengan isu lingkungan lainnya seperti Perubahan Iklim, meskipun resiko terhadap kehidupan tetap tinggi. Semestinya, kita semua masih harus tetap perhatian tentang hal ini.

Menuju Lebaran

Keluar kamar di ketinggian 1900 m, 9 Sep jam 3:30 waktu setempat, dua jam lebih awal daripada waktu Surabaya, perjalanan menuju Lebaran ke Kediri dimulai.. Butuh lima jam perjalanan darat menuju bandara atau tiga jam lebih lama karena kondisi keamanan yang masih dianggap belum bagus. Jam 4:30 sore pesawat MD-82 berwarna putih mulai angkat jangkar, alias terbang menuju Surabaya mampir 20′ di Makassar, tepat saat buka puasa.

Muka cemberut karena capai, ngantuk n lapar, sedikit tersenyum ketika beli sandwich di warung donat ternama, di bandara Hasanuddin. Sambill tunggu pesanan selesai, basa-basi nanya waktu buka puasa “mbak, di sini Buka (puasa) jam berapa?”, dijawab “buka jam 6, tutup jam 10 pak”. Senyumku merekah … Salahku, terlalu berharap bahwa komunikasi berada dalam satu konteks yang sama, puasa.

Jam 18:30 wib pswt mendarat di Juanda, tiba-tiba seorang pria tinggi berwajah dari timur menarik tasku “biar saya yang bawakan tasnya pak”. “Hah, kok enak”, pikirku… Curiga muncul dalam benak.. “Dulu saya yg antar bapak sklg ke Yogya”, lanjutnya … Masya Allah, puasa baru saja selesai beberapa menit yang lalu, pikiran jahat sudah mulai mengganggu… Kelamaan berada di masyarakat penuh intrik dan tipu, membuatku curiga kepada orang asing..

Keluar dari Juanda, jalan cukup ramai dengan sepeda motor yg umumnya penuh dengan muatan, baik orang maupu barang, mudik sepertinya. Sampai di Jombang, jalanan ramai dengan sepeda motor saling silang berjalan pelan berrombongan, samibil membawa bendera dan memainkan suara motornya meraung-raung, mungkin bermaksud bergembira dalam takbir di malam lebaran. Kok bawa bendera ya ??? Sedikit berbeda dengan beberapa tahun yll, di Jombang gak lihat satupun rombongan dalam truk dengan pengeras suara sambil melantunkan takbir. Rindu suara itu .. Namun sayup2 masih terdengar takbir itu dari masjid2 yg terlewati..

Satu jam kemudian, sampailah aku di rumah yg sudah penuh dengan anak, istri, adik, kakak, keponakan dan tentu saja Ibu. Ramai dalam suasana lebaran yang memang sudah kita tunggu.. Juga karena semangat berlebaran inilah yang membuat perjalananku selama 20 jam dari lereng Carstensz menuju Kediri tidak tertidur sedikitpun… Allahu Akbar .. Takbir mengiringi tidur malamku …

Sang Pencerah

Sang Pencerah dibuka dengan dengan adegan ritual sesaji sebagai bagian kepercayaan Jawa saat itu (1912?). Kemudian kelahiran sang bayi Pencerah, dan cerita terus berlanjut seiring pengantar tahun yang terus muncul di layar sebagai penunjuk waktu sejarah terbentuknya Muhammadiyah.

Yogya, sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah, digunakan sebagai “setting’ cerita. Warna redup, coklat gelap bahkan kulit para pemeranpun tampil gelap menjadi bagian dominan cerita sebagai stereotip tradisional Jawa. Enak sekali melihat detil gambar yang mengalir wajar seperti: daun kering berserakan di jalan sekitar Tugu, tikar pandan, rumah gebyog dan genthong di atas sumur. Musik dan lagu Ilir-ilir, juga tembang yang dilantunkan Sujiwo Tejo terasa lirih sepi membawa arti.

Agama sebagai praksis sosial memang menjadi urgen untuk syiar agama bagi Muhammadiyah seperti ditunjukkan dalam Sang Pencerah, bagaimana Achmad Dahlan sering mengajarkan surah Al-Ma’un, tentang adanya ancaman neraka bagi mereka yang shalat tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan ekonomi masyarakat miskin dan menelantarkan anak yatim. Semangat menggebu-gebu Dachlan untuk melakukan purifikasi Islam, ditunjukkan dengan melakukan perubahan arah shalat sesuai kiblat di masjid Agung, yang menyebabkan marahnya para ulama. Tindakan lain Dachlan yang membuat ‘terganggunya’ para ulama, namun tidak muncul dalam film, yaitu ketika Dachlan mengundurkan hari Idhul Fitri sesuai dengan perhitungan astronomi.

Alwi Shihab dalam bukiunya “Membendung Arus” (lihat dlm Kategori Buku) , yang juga merupakan disertasinya tentang Muhammadiyah, di Universitas Temple, AS, menuliskan bahwa ada empat peran penting Muhammadiyah, yaitu: pembaruan agama, perubahan sosial, kekuatan poloitik dan pembendung Kristenisasi. Kehadiran misi Kristen dan penetrasi bangsa Belanda di negeri ini, serta pengaruh yang mereka desakkan, menjadi faktor pendorong utama yang memicu munculnya semangat keagamaan KH Achmad Dahlan, yang pada gilirannya menyebabkan munculnya Muhammadiyah. Faktor ini sepertinya sengaja tidak dimunculkan atau dihindari dalam film ini, mungkin karena sensitivitas sosial.

Pertanyaan buat mas Hanung, ketika aksi ‘demo’ kelompok konservatif, mereka berteriak ‘Allah Akbar..’ Apakah memang demikian kenyataan saat itu? Kok seperti demo kelompok radikal saat ini ya?

Dari sisi gambar, pencahayaan, musik, pelakon dan alur cerita, rasanya enak saja film ini dilihat. Perlu lebih banyak lagi film seperti ini sebagai alternatif film-film horor yang banyak beredar dan tanpa pesan pencerahan sama sekali.

Penulis: Jalmi Salmin Phd.
Tebal Buku: 263 halaman
Penerbit: Pilar Media
Tahun: 2005

Judul asli buku ini adalah “Violence and Democratic Society. New Approach to Human Rights”, yang diterbitkan pada tahun 1995. Meskipun sudah 15 tahun, buku ini masih tetap relevan untuk dapat digunakan sebagai acuan analisis terhadap fenomena Kekerasan yang terjadi di manapun, termasuk di negeri kita saat ini. Sumbangan terbesar dari Jalmi dalam penulisan buku ini adalah konseptualisasi pelanggaran HAM berdasarkan beberapa klasifikasi yang bisa diterapkan pada masyarakat manapun.

Jalmi menyatakan bahwa analisis Barat tentang Kekerasan selalu bersifat Superfisial, Tidak Proporsional, Individualisasi dan Sepihak, sehingga pemberitaan yang dihasilkanpun akan bias atau distortif.. Banyak contoh yang sangat jelas ditulisnya tentang masing-masing sifat cara pandang tersebut.

Cedera, kematian, kerusakan aset bukanlah satu-satunya bentuk akibat kekerasan, seperti yang seringkali dipahami masyarakat awam selama ini, namun gangguan psikologis dan kemiskinan struktural juga termasuk di dalamnya. Untuk itu diperlukan analisis yang Obyektif, Logis dan Empiris. Definisi Kekerasan di sini berdasarkan prinsip bahwa setiap hak asasi manusia, untuk mencukupi kebutuhan dasarnya, harus dilindungi oleh negara yang berkedaulatan. Hal ini berarti Kekerasan tersebut mencakup Kekerasan Aksidental dan Kekerasan Struktural. Definisi ini berkaitan dengan semua kategori kekerasan tanpa memperhitungkan jumlah korban, siapa korbannya, siapa yang bertanggungjawab, apakah individu, kelompok, institusi, negara atau masyarakat secara keseluruhan.

Ada empat jenis Kekerasan yang memenuhi dua kriteria di atas (aksidental dan struktural), yaitu: Kekerasan Langsung (direct violence), Kekerasan Tak Langsung (indirect violence), Kekerasan Represif (repressive violence) dan Kekerasan Alienatif (alienating violence).

Kekerasan Tidak Langsung (mediated violence dan violence by omission) oleh sistem ekonomi kapitalis, yang terkenal dengan sifat rakusnya, seringkali mengakibatkan korban yang lebih besar dan berlangsung lama serta meningkat secara perlahan. Kejahatan lingkungan yang mengakibatkan “greenhouse effect”, penimbunan produk tambang berbahaya ke dalam sungai/laut (kasus Newmont), pencemaran air tanah, “illegal lodging”, termasuk dalam kategori Kekerasan ini (mediated violence). Sedangkan Kemiskinan dan Ketidakadilan sosial adalah contoh yang paling jelas di negara-negara kapitalis, yang masuk dalam kategori Kekerasan karena Pembiaran (violence by ommision). Mahatma Gandhi pernah megatakan “Dunia ini mampu untuk memenuhi semua kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk kerakusannya”.

Dalam Kesimpulan, Jamil mengatakan bahwa “tanpa kekerasan, tidak ada nilai tambah (added value) yang dapat diakumulasi dan didapatkan oleh pemilik modal; dan tanpa kekerasan, pranata kapitalisme tidak dapat dilestarikan”. Betulkah demikian? Coba kita analisis perilaku lingkungan terdekat, perusahaan tempat kerja kita. Sepertinya …

Tentang Penulis
Jamil Salmi lahir di Maroko, 1952. Meraih PhD di University of Sussex dan menjadi profesor di Institute of Educational Planning di Rabat.

The Dark Side of Chocolate

Gambar toko coklat yang bersih, terang dan segar serta penataan cokelat yang rapi dan menarik, membuat remote berhenti untuk merubah channel televisi, penasaran ingin tahu tentang apa film ini. Seorang narator menjelaskan tentang asal mula pembuatan cokelat dan gambar berubah menjadi peta Afrika dengan anak panah yang bergerak dari Mali ke Pantai Gading, Afrika. Film ivestigasi tentang Perdagangan Anak (Children Trafficking) dan Perbudakan (Slavery) abad 21, dibuat oleh Roberto Romano dan Miki Mistrati, yang dalam beberapa kesempatan dilakukan dengan cara 'hidden camera'.

Beberapa anak laki-laki terlihat lari memasuki bus yang siap jalan di daerah yang gersang dan berlatar-belakang warna coklat gersang berdebu, menuju Pantai Gading, tempat perkebunan cocoa besar, sebagai pemasok hampir setengah total produksi cocoa dunia. Beberapa pabrik cokelat Eropa dan AS, seperti Cargill, Archer Daniels Midland Mars, Nestlé, dan yang lainnya berada di kota ini.

Beberapa anak dibawah 12 tahunan ditemukan sedang membawa parang di tengah perkebunan cocoa di Pantai Gading. "Apa yang akan ditanyakan bapakmu bila kamu sampai di rumah?", tanya Roberto Romano kepada buruh pemetik cocoa yang masih di bawah 12 tahun, "Dia akan marah, aku pulang tidak bawa uang", jawabnya. Seorang anak terlihat menangis. Beberapa anak berhasil melarikan diri. Diinformasikan bahwa pada ummnya mereka tidak dibayar. Perbudakan.

Aktifis kemanusiaan di Mali, dengan menangis dan marah merasa tak berdaya, mengatakan hanya sukses menggagalkan pengiriman buruh anak sebanyak 65 orang. Banyak penyedia jasa buruh anak berasal dari daerah mereka sendiri dan pengangkutan dilakukan melewati jalan tanah coklat berdebu, menggunakan bus atau sepeda motor.

Dalam film itu juga ditunjukkan bagaimana Roberto mewawancarai pejabat industri cokelat dan pejabat pemerintah Pantai Gading tentang buruh anak, pada tempat dan waktu yang berbeda. Meskipun pada awalnya mereka menyangkalnya, bahkan sang pejabat terkesan menutupinya dengan nengatakan "oh anak-anak itu berombongan ke Pantai Gading untuk berlibur", namun setelah film ditujukkan …. Ooohhh dengan lesu mereka menerimanya.

Pada tahun 2001, isu tentang perdagangan anak dan perbudakan di perkebunan cocoa Pantai Gading telah mengagetkan masyarakat dunia, meskipun di Indonesia sepi-sepi saja. Hal ini menjadi kampanye negatif bagi pabrik-pabrik cokelat, dan tuntutan para konsumen mulai mengemuka untuk segera mendapat tanggapan.

Untuk menghindari tuntutan label 'no child labor', yang sebetulnya masih terjadi di beberapa pabrik cokelat, industri cokelat sepakat membuat protokol untuk mengakhiri buruh anak di perkebunan cokelat pada tahun 2005.

Tahun 2005, protokol tersebut gagal dipenuhi oleh para industri cocoa, dan dibuat kesepakatan baru untuk memenuhinya pada tahun 2008.

Tahun 2007, Laporan HAM-AS menyatakan bahwa 5.000-10.000 anak diperdagangkan untuk keperluan perkebunan cocoa di Pantai Gading, akibat kemiskinan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang umumnya dari Mali dan Nicaragua.

Lagi, 2008, industri cocoa belum juga dapat memenuh target protokol yang dibuatnya, lalu kesepakatan baru dibuat untuk memenuhinya pada 2010. Lalu?

Setelah hampir 10 tahun, apakah industri cokelat dan pemerintahan yang terlibat sudah berhasil menghapuskan perdagangan buruh anak, pelecehan hak-hak azasi anak dan perbudakan? Hal inilah yang menjadi alasan dibuatnya film ivestigasi oleh Roberto dan Miki. Hasilnya? Seperti disajikan dalam filmnya, perdagangan anak dan perbudakan masih terjadi.

Membeli produk-produk Perdagangan Bebas tidak berarti merubah kondisi kemiskinan akut, yang 'memaksa' terjadinya buruh anak sebagai makhluk yang paling lemah.

Mungkin cokelat yang sedang anda nikmati saat ini masih belum bersih dari Children Trafficking dan Slavery….

Lompatan Waktu

Sambil beristirahat di Rimba papua hotel pagi ini, aku sempat ngobrol dengan seorang perempuan muda, yang aku tahu dia adalah seorang dokter dari rumah sakit internasional, yang ramah dan senang menceritakan pengalaman kerjanya dan sayangnya akan mengundurkan diri dari tempat kerjanya untuk kembali ke Bandung dan melanjutkan kuliahnya sebagai dokter spesialis.

Pembicaraan basa-basi dimulai dengan pertanyaan standard ‘berapa lama sudah bekerja di sini?’, ‘ bekerja di mana’, ‘ bagaimana cutinya’, dst dst … akhirnya sampai pada pernyataan, bukan pertanyaan loh, ‘saya paling suka praktek di Banti’ .. wah ini pernyataan yang menarik buatku, karena asumsiku dokter lebih suka kerja di kota bila memang pilihan itu tersedia..

Banti adalah kampung kecil di pinggir kota tambang tembaga di Papua. Kampung ini sudah dibangun oleh perusahaan asing tersebut dan disediakan sarana klinik, bank dan perumahan kecil, termasuk juga listrik. Pos polisi juga tersedia dan berada tepat di batas area proyek pertambangan dan Banti. Penduduk semakin banyak yang berdatangan dari berbagai suku, baik dari dataran rendah maupun dataran tinggi, bahkan dari luar Papua, termasuk pulau Jawa.

Pada awalnya, pendapatan penduduk yang datang ke Banti banyak diperoleh dari berkebun dan mendulang emas di sungai yang mengalirkan tailing sebagai sisa pengolahan konsentrat tembaga/emas. Penggorengan aluminium (wajan) banyak dipergunakan sebagai dulang, berbeda dengan masyarakat Kalimantan atau Tasikmalaya yang menggunakan dulang dari kayu, yang memang dibuat sesuai dengan peruntukannya.

Klinik yang tersedia di Banti ini adalah bagian dari Rumah Sakit besar di Tembagapura, yang menempatkan tiga dokter setiap harinya dan tiap hari bisa sampai seratus pasien harus ditanganinya, tidak hanya dari Banti tapi juga kampung2 di sekitarnya seperti Arowanop dan Tsinga yang berada di balik gunung dan mesti dijemput heli ptfi untuk bisa berobat. Heemm banyak juga ya …..

“Praktek di Banti lebih menarik, karena kami merasa bisa terlibat dalam ‘penyuluhan’ tentang konsep hidup sehat” jelasnya. “Seberapa jauh sih mereka tidak tahu tentang kesehatan?”, tanyaku. Sesaat dia terdiam, terlihat berpikir “jauh sekali pak.”, jawabnya. Lalu berbagai cerita ttg kejadian yg berhubungan dg kesehatan, hubungan sosial, kdrt mulai muncul untuk mendukung pendapatnya bahwa ‘jauh sekali’.

“Saya pernah menolong kelahiran bayi di kamar mandi, pak.” ceritanya. Ini bukan merupakan hal yang istemewa, atau sudah biasa masyarakat lakukan. “Banyak dari mereka juga masih percaya bahwa pembedahan atau operasi akan menyebabkan masuknya roh jahat dalam tubuh.”, lanjutnya. Aku cuma membayangkan, bagaimana dengan kurban perang suku yang seringkali mata anak panah menancap di tubuhnya. Cerita yang juga mengagetkan adalah “Saya pernah menemukan anak yang kehilangan jari kelingkingnya, ternyata menurut ibunya itu sengaja dipotong karena ada anggota keluarga yang meninggal”. Edan …

Korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) baik perempuan maupun laki-laki sering juga ditangani para dokter muda ini. Perempuan patah tangan di pagi hari karena dihajar lelaki yang mengaku suaminya. Lelaki patah tangan disore hari yang dihajar suami dari perempuan yang diganggunya… Aneh, sepertinya kekerasan fisik bukan suatu hal yang serius di masyarakat ini. Lembaga perkawinan nampaknya tidak dikenal dan anak sebagai buah perkawinan tidak cukup menjadi prioritas perhatian mereka. “Biasa terjadi, seorang ibu tidak mau menyusui anaknya karena si ibu sedang bertengkar dengan suaminya” ceritanya, “bahkan pernah seorang ibu menawarkan anaknya yg masih balita, “ibu bawa sudah anak saya ini” ketika saya minta untuk merawat anaknya baik-baik” lanjutnya. Cerita yang lebih tragis “pernah saya mendapat cerita ttg adanya seorang anak yang tewas dimakan babi karena ditinggal ibunya keluar rumah” cerita dokter dg semangat. Oohh gila … semoga ini terjadi berpuluh-puluh tahun yll… Ketersediaan klinik di lingkungan masyarakat ternyata masih belum cukup dan masih perlu sosialisasi yang berkesinambungan, tentang perlunya pola hidup sehat.

Ketertinggalan pendidikan membuat jurang pengetahuan yang sangat dalam antara masyarakat Banti dan kaum pendatang di proyek pertambangan berskala dunia di sebelahnya. Aku yakin tidak banyak yang tahu tentang cerita seperti ini dilingkungan para pekerja tambang tersebut.

Lompatan waktu telah terjadi pada batas pintu gerbang yang memisahkan Banti dan perusahaan tambang itu.. Ironis ..

Wisata Amerika Latin

Judul: Surat dari Bude Ocie
Penulis: Rossie Indira
Tebal Buku: 232 halaman
Penerbit: Kompas
Tahun: 2010

Buku yang dikategorikan oleh Kompas sebagai ‘Seri Perjalanan dan Wisata’ ini memang ringan dan jelas penyampaiannya sekaligus enak dibaca dan membangkitkan rasa ingin tahu lebih banyak tentang subyek cerita. Gaya cerita ‘mendongeng’, untuk kedua keponakannya, memberikan kesan santai dan dekat dengan pembaca serta tak terbelenggu oleh gaya bahasa baku, dalam bercerita. Memang piawai penulisnya, yang seorang arsitek ITB kelahiran 1962 ini, dia bisa memotret keadaan dengan jernih dengan menggunakan rangkaian kata yang dibantu dengan berbagai gambar meskipun hanya hitam-putih.

Perjalan wisata ke empat negara Amerika Latin yaitu Chile, Peru, Argentina dan Uruguay adalah cerita utama dalam buku ini, disajikan secara terpisah berdasar negara yang dikunjungi. Foto-foto dan keterangannya, sebagai bagian cerita turut melengkapi imajinasi pembaca, tanpa lupa menuliskan sumber gambarnya. Bila dilengkapi dengan peta lokasi Negara, Kota besar dan obyek-obyek wisata yang dimaksud oleh penulis, rasanya akan semakin menyenangkan dan menambah pengetahuan bagi pembaca.

Silahkan membacanya sendiri, ditanggung akan menambah ketertarikan anda akan negara-negara Amerika Latin, yang punya pengalaman yang sama dengan negeri ini dalam hal penjajahan, namun telah bangkit dan terlihat seperti negara maju lainnya.

Ini cerita buat mas Adi yg mungkin masih sulit membayangkan perjalanan bapaknya menuju ke tempat kerjanya.

Tepat 17:30 Bapak masuk taxi Bluebird GJ4079 di Kampung Cina Kotawisata, hujan mulai turun deras. Hari ini 17 Nov 2010 bertepatan degan hari libur Iedul Adha, Sampai dengan pintu toll Jagorawi, lalulintas cukup lancar, sedikit tersendat karena beberapa mobil mogok karena hujan deras atau antrian depan mall Junction. Jalan tol Jagoirawi yang licin kjarena hujan, dan lalulintas yang ramai ke arah Jakarta, membuat kecepatan mobil tidak lebih dari 50 km/jam. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di pintu tol TMII dan bayar Rp. 2500 dr pintu Cibubur. Gak sampai 10 menit dah harus bayar Rp. 6500. di pintu Ciliilitan, dan hujan dah reda atau tidak hujan sepertinya di sini.

Lancar lewat tol semanggi karena hari libur, kalau hari kerja gak akan berani lewat dalm kota, lebih baik lewat tol priok. Sampai Tol Cengkareng bayar Rp. 5000 tepat jam 18:37 dan gak lama kemudian sudah sampai di terminal 1C, tempat checkin Airfast. Ongkos taksi dari Kotawisata ke bandara, Rp. 193 ribu.

Checkin di counter Airfast dengan menunjukkan tiket (sekaligus boardingpass) dan ID Card PTFI, tidak lupa mengatakan tujuan ke TEMBAGAPURA sehingga bagasi mendapat label TPRA, yang berarti bagasi akan dibawa langsung oleh truk ke Tembagapura, tanpa harus kita ambil di Timika. Diperkirakan bagasi akan sampai Tembagapura sekitar jam 13:30 wit di kantor ERG (Emerency Response Group), dan bisa kita ambil kapanpun. Bapak minta kursi di deretan sebelah kiri berharap bisa tidur nyandar ke dinding dan hanya dua deret kursi sehingga mudah untuk ke toilet, dapat nomor 10A.

Route airfast MD82 malam ini adalah Jakarta-Denpasar-Makassar- Timika, biasanya route JKT-SBY-MKS-TMK. Gak masalah, itu biasa. Di Bali, airfast berhenti sebentar dan penumpang ke Timika tidak turun, untuk menaikkan/menurunkan penumpang. Di Makassar, hanya satu jam dari Bali, penumpang turun selama 25 menit. Makan malam diberikan dua kali yaitu JKT-DPS atau JKT-SBY, dan yang kedua penerbangan MKS-TMK. Agak menjengkelkan memang karena diberikan makan saat jam tidur, kira-kira jam 02:00 wit. Saran Bapak, kalau gak mau makan dan mau tidur saja, sebaiknya tunggu sampai pembagian makan dilakukan oleh pramugari lalu katakan ‘tidak makan’, karena kalau tidur sebelumnya maka makanan akan tetap ditempatkan di meja kita.

Akhirnya airfast landing di Timika sekitar jam 6:15wit. Bagasi berlabel Tembagapura tidak perlu kita tunggu, karena akan langsung dibawa oleh truk via darat ke Tembagapura.

Penumpang dengan tujuan Tembagapura yang sudah mempunyai tiket heli, langsung menuju ke ruang pemberangkatan dengan menunjukkan ID Card dan tiket heli. Boarding pass bernomor urutan pemberangkatan (M1, M2 dst) akan diberikan di counter checkin airfast setelah ID Card dan tiket heli dicatat dan timbang badan termasuk tas jinjing dilakukan. Akhirnya, masuk ruang tunggu untuk menunggu panggilan sesuai nomor boardingpass (M1, M2 dst) dari security (satpam).

Penerbangan heli ke Tembagapura kira-kira 15 menit. Nah, kalau mas Adi dan Ibu nanti sampai di Tembagapura, Bapak pasti sudah berada disitu untuk jemput. Bagaimana, berani berangkat berdua dengan Ibu?

The Outsider

Judul buku: The Outsider
Judul asli: L’Étranger atau The Stranger
Penulis: Albert Camus
Tebal buku: 164 halaman
Penerbit: Liris
Tahun: 2010

Novel berukuran buku saku dan tergolong tipis namun padat dengan pesan filosofis ini adalah karya seorang pemikir kritis dari mazhab Frankfurt, yang belajar filsafat di University of Algiers dan dikenal sebagai tokoh eksistensialis yang memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Sastra 1957. Bahasa asli novel ini adalah Perancis, diterbitkan pertama kali tahun 1942, merupakan tulisan terbaik dari Albert Camus (Wikipedia). Novel lainnya yang banyak beredar dan dibaca para mahasiswa di Indonesia tahun 80an adalah Sampar (La Peste).

Tokoh utama dalam novel ini adalah Mersault, seorang pemuda Perancis, yang dingin tanpa emosi dan cenderung anti-sosial.

Bagian pertama buku dimulai dengan cerita tentang Meursault yang mendapatkan berita bahwa ibunya, yang tinggal di panti wreda, telah meninggal. Dia turut menghadiri prosesi pemakamannya tapi tidak menunjukkan emosi kesedihan seperti lazimnya anak yang ditinggal mati ibunya. Bahkan, ia tidak menginginkan untuk melihat jenazah ibunya sebelum peti ditutup, justru sebaliknya menikmati rokok dan kopi panas di sebelahnya. Tetap tanpa ekspresi kesedihan, ia mengamati para rekan ibunya yang menampakkan kesedihan namun menggelikan menurutnya, “untuk sesaat kutangkap kesan menggelikan seolah mereka akan menghakimiku”.

Dua hari berikutnya, ia sudah menikmati kegembiraan bersama Marie, rekan kerjanya, berenang dan tidur bersama tanpa kesan bahwa baru saja kehilangan seorang ibu. Sikap yang menurut masyarakat umum sebagai ketidak-pedulian sosial inilah yan nantinya turut menjadi pertimbangan untuk menghukumnya lebih berat. Absurd….

Tentang perkawinan, Meursault bersikap dingin dan menganggapnya bukan hal yang serius. Hal ini muncul dalam pikirannya ketika ditanya oleh Marie “Lantas kenapa mau menikahiku?” “Jika menginginkan, kita bisa menikah” jawabnya.

Beberapa hari berikutnya, Meursault setuju untuk memberi bantuan pada temannya, Raymond, untuk membalas dendam terhadap perempuan pujaannya yang dianggapnya sudah berselingkuh meskipun kebutuhan finansial sudah banyak diberikannya. Bantuan yang dibutuhkan adalah membuatkan surat undangan untuk sang perempuan supaya dapat bertemu lagi, bercinta dan memukulnya sebagai ungkapan balasdendam.. Meursault tidak menunjukkan rasa khawatir atau empati bahwa pertolongannya bisa mengakibatkan cedera pada perempuan itu. Dan benar, akhirnya wanita itu datang, bercinta dan disiksa. Meursault mendukung Raymond dihadapan polisi dengan alasan bahwa perselingkuhan adalah pengkhianatan dan pantas dihukum. Raymond bebas dengan peringatan.

Saudara laki-laki perempuan itu, bersama-sama dengan beberapa temannya mulai menguntit Raymond untuk balas dendam. Ketika Raymond, Meursault dan Marie berakhir pekan di villa tepi pantai, mereka bertemu dan terpaksa berkelahi dengan para lelaki tersebut hingga tangan Reymond terluka oleh pisau mereka..

Meursault kembali seorang diri berbekal pistol milik Raymond ke pantai dan menemui seorang dari musuhnya. Karena cuaca yang sangat panas, Meursault merasa disorientasi hingga ketika sang lawan mengancam dengan pisaunya, ia menembaknya sekali dan mati, lalu menembaknya lagi empat kali. Tak ada satu alasanpun kenapa dia menembaknya, kecuali hanya karena cuaca panas menyengat dan sinar matahari yang sangat cerah.

Bagian Kedua mulai dengan cerita tentang sikap Meursault yang merasa tidak membutuhkan pengacara untuk dirinya, meskipun pada akhirnya pengadilan menyediakannya untuknya. Di persidangan Meursault selalu tampil diam dan pasif memberikan kesan tidak merasa bersalah sehingga jaksa penuntut lebih fokus pada ketidak kemampuan emosional Meursault yang tidak merasa sedih saat pemakaman ibunya, daripada soal pembunuhan. Jaksa berusaha memaksanya untuk mengatakan kebenaran perasaannya namun gagal, sebaliknya Meursault menerangkan pada pembaca bahwa selama hidupnya ia tidak pernah merasakan penyesalan atas semua tindakan yang dilakukannya. Jaksa penuntut akhirnya berkesimpulan bahwa Meursault adalah monster yang tidak berperasaan dan pantas mendapatkan hukuman mati. Walaupun pembela berharap hukuman akan lebih ringan namun hakim memutuskan bahwa Meursault akan dihukum penggal di depan publik.

Sementara menunggu eksekusi, di penjara Meursault bertemu dengan pendeta, namun menolak untuk berpaling kepada Tuhan, karena menurutnya itu hanya akan membuang waktu saja. Meursault marah karena paksaan sang pendeta untuk merubah sikap atheisnya, dan meledak karena rasa frustasi pada absurditas kondisi manusia dan penderitaannya atas ketidak-berartian keberadaannya. Pada akhirnya, ia menangkap ketidak-pedulian alam semesta terhadap manusia, “seolah-olah kemarahan itu telah membersihkanku, menghilangkan harapan, untuk pertama kalinya pada malam itu dalam cahaya bintang, aku membuka diri pada ketidak-pedulian semesta. Aku bahagia dan berharap akan banyak yang hadir untuk melihat eksekusi terhadapku dengan teriakan benci”.

Candide, ou l’Optimisme

Betulkah kita berada di “Best of all possible Worlds”?

Judul: Candide, Optimisme Dalam Hidup
Judul asli: Candide, ou l’Optimisme
Penulis: Voltaire
Tebal Buku: 256 halaman
Penerbit: Liris
Tahun: 2009

Buku ini ditemukan di rak buku khusus novel, paling belakang, Gramedia Grand Indonesia, yang ternyata masuk dalam daftar “100 Most Influential Books Ever Written” dan “1001 Books You Must Read Before You Die”.

Diterbitkan pertama kali di Paris, Perancis, 1759 dalam bahasa Perancis, karya Voltaire ini bercerita tentang tokoh muda protagonis, Candide yang tinggal dalam kenyamanan istana (castle) di Jerman dan mendapatkan indoktrinasi Leibnizian, Optimisme, oleh mentornya, Pangloss. Setelah mengalami berbagai pengalaman hidup yang getir, Voltaire berkesimpulan bahwa Candide harus menolak Optimisme dan menjalani hidup dengan berkarya.

Optimisme dalam filosofi Theodicy dari Gottfried W. Leibniz adalah “all is for the best because God is a benevolent deity”, semua adalah untuk yang terbaik karena Tuhan adalah dewa kebajikan. Konsep ini yang ditentang keras oleh Voltaire, terlebih setelah bencana alam besar, tsunami, yang terjadi di Lisbon, semakin meyakinkannya bahwa bila ini adalah ciptaan yang terbaik (bencana), maka seharusnya ada yang lebih baik lagi.

Meskipun kecil dan tipis, novel ini disajikan penulisnya dalam 30 bagian yang padat dengan setting yang banyak berhubungan dengan sejarah, seperti gempa bumi dan tsunami di Lisbon yang memakan korban hingga ratusan ribu orang, tahun 1755 dan plot yang bergerak cepat. Berdasar settingnya, novel ini bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu Bab 1-10 di Eropa, 11-20 di benua Amerika dan 21-30 di Eropa dan Ottoman.

Selain novel terjemahan, Wikipedia juga jadi acuan informasi untuk penulisan sinopsis ini.

Bab I–X
Cerita dimulai di istana Baron Thunder-ten-tronckh, Westphalia (bagian Jerman sekarang), tempat tinggal sang putri, Cunégonde; Candide sang sepupu; Pangloss, sang guru; Paquette, sang pembantu; dan sisanya adalah keluarga besar Baron. Tokoh utama adalah Candide, seorang pemuda yang halus dan lurus, dan sangat tertarik pada Cunégonde. Dr. Pangloss, adalah seorang professor metafisika-theologi-kosmolonigologi, yang selalu optimis, dan mengajarkan muridnya bahwa semua adalah untuk yang terbaik karena Tuhan adalah dewa  kebajikan. Ajaran inilah yang melekat pada pribadi Candide dan menjadi topik utama cerita.

Semuanya tampak harmoni hingga Cunégonde mendapati Pangloss sedang melakukan hubungan intim dengan Paquette di taman, yang ‘mengilhami’nya untuk mencoba melakukan hal yang sama dengan Candide. Usaha ini gagal dilakukan karena tertangkap oleh sang Baron, ketika Cunégonde dan Candide sedang berciuman. Marahlah sang Baron dan mengusir Candide keluar istana.
Candide ditangkap oleh tentara Bulgar (Prusia), direkrut dan ditugaskan untuk berperang melawan bangsa Abaria (representasi dari Prusia vs Perancis). Candide melarikan diri dari dinas ketentaraan menuju Belanda dan untuk selanjutnya ditolong oleh Jacques, pengikut anabaptist, yang kemudian memperkuat rasa optimisnya. Di Belanda, Candide menemukan Pangloss sebagai pengemis yang sedang terserang penyakit siphilis. Pangloss mengaku bahwa dirinya terkena penyakit tersebut karena berhubungan badan dengan Paquette. Dia juga mengagetkan Candide dengan ceritanya bahwa istana Thunder-ten-Tronckh telah dihancurkan oleh pasukan Bulgars, dan Cunégonde beserta seluruh keluarganya telah tewas, dibunuh. Pangloss sembuh dari penyakitnya dengan bantuan Jacques, namun kehilangan satu mata dan satu pendengarannya. Selanjutnya, ketiganya berlayar ke Lisbon.

Di pelabuhan Lisbon, kapal mereka terhempas oleh badai. Jacques terlempar ke laut saat menolong pelaut dan sebaliknya sang pelaut tak sedikitpun bergeming untuk menolongnya. Candide terhenyak menyaksikannya, namun Pangloss mencoba menenangkannya dengan ungkapan bahwa pelabuhan Lisbon memang tercipta untuk “kepergian” Jacques. Hanya Pangloss, Candide, dan sang pelaut kasar, yang membiarkan Jacques terlempar ke laut, yang hidup dan sampai ke Lisbon, yang baru saja terkena gempa bumi, tsunami, yang memakan korban puluhan ribu manusia. Sang pelaut pergi untuk menjarah puing-puing akibat gempa, sementara Candide terluka dan membutuhkan pertolongan. Ini adalah bagian dari situasi yang optimistik menurut cara pandang Pangloss. Absurd ..

Keesokan harinya, Pangloss dan Candide ditangkap karena telah mendiskusikan filosofinya tentang optimistik dengan pengikut Inkuisisi Portugis, dan akan disiksa dan dibunuh dalam upacara “auto-da-fé” untuk ‘menenangkan’ Tuhan dan mencegah terulangnya bencana alam. Candide mendapat hukuman cambuk, sementara Pangloss akan digantung. Namun gempa bumi mendadak terjadi, dan Candide bisa melolskan diri. Dia didatangi oleh seorang perempuan tua yang mengajak ke suatu rumah, tempat tinggal Cunégonde yang masih hidup. Candide terkejut, karena Pangloss pernah bercerita bahwa Cunegonde telah diperkosa dan dibunuh. Cunégonde mengakuinya bahwa dirinya memang telah diperkosa namun diselamatkan oleh seseorang, yang kemudian menjualnya ke pedagang Yahudi dan membagikan tubuhnya ke pejabat korup setempat. Ketika sang pejabat pulang ke rumah dan menemukan Cunegonde sedang bersama pria lain, Candide membunuhnya. Candide dengan kedua perempuan itu meninggalkan kota menuju benua Amerika. Sepanjang perjalanan, Cunégonde meratapi nasibnya yang selalu dirundung malang. Sang perempuan tua akhirnya bercerita untuk menenangkannya, bahwa dirinya lebih menderita daripada Cunégonde, karena telah dipotong pantatnya untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan.

Bab XI–XX
Ketiga manusia itu akhirnya tiba di Buenos Ayres, dan Cunégonde akan dikawini oleh Gubernur Don Fernando secara paksa. Seorang pejabat kehakiman Portugis datang dan menemukan Candide, lalu menuduhnya telah membunuh pejabat Portugis. Candide melarikan diri ke Paraguai dengan ditemani pengawalnya, Cacambo.

Di perbatasan menuju Paraguay, Cacambo dan Candide menemukan saudara laki-laki Cunégonde. Dia menceritakan bahwa setelah pembantaian keluarganya, pastor Yesuit menemukannya masih hidup, dan selanjutnya membawanya untuk turut serta dalam tarekat Yesuit. Ketika Candide menyatakan bahwa dirinya berniat untuk menikahi Cunégonde, kakaknya langsung menyerangnya, marah dan Candide menusuknya hingga tewas. Setelah prosesi kematian sang Yesuit, Candide dan Cacambo melarikan diri. Dalam pelariannya, dengan memakai pakaian Yesuit, mereka menjumpai dua perempuan telanjang berlarian dikejar oleh dua monyet. Dengan maksud menyelamatkan kedua perempuan itu, Candide dengan cepat menembak mati kedua monyet, yang ternyata menurut Cacambo kedua perempuan itu sedang bercanda dengan masing-masing pasangannya, monyet yang tewas itu. Tragis..

Cacambo and Candide ditangkap dan akan dihukum mati dengan cara memanggangnya hidup-hidup oleh suku Oreillons, karena memakai pakaian Yesuit, yang menjadi musuh mereka. Cacambo meyakinkan orang-orang Oreillons bahwa Candide telah membunuh seorang Yesuit dan menggunakan pakaiannya untuk menyelamatkan diri. Akhirnya mereka berdua dibebaskan dan pergi berjalan kaki dengan hanya makan buah diperjalanan selama berhari-hari.

Setelah perjalan yang panjang dan lama itu, mereka berdua sampai di kota terpencil dan nyaman, El Dorado, yang secara geographis terisolir namun jalanan dibangun dengan batu berharga, tidak ada pendeta, dan raja yang selalu ceria. Candide and Cacambo merasa senang tinggal selama satu bulan di El Dorado, namun Candide masih selalu teringat dengan Cunégonde, dan akhirnya menyatakan kepada sang raja untuk pergi lagi. Sang raja mengijinkannya dengan memberinya banyak bekal walaupun menurutnya itu bukanlah ide yang bagus. Pasangan ini melanjutkan perjalanan, dengan ditemani ratusan domba dan berbekal banyak uang, yang secara berangsur-angsur akan habis karena dicuri dalam petualangan berikutnya.

Candide dan Cacambo dalam petualangannya sampai di Suriname, lalu berpisah. Cacambo menuju Buenos Aires untuk menjemput Cunégonde, sementara Candide mempersiapkan diri untuk perjalanan ke Eropa dan menunggu keduanya di sana. Candide tertipu dan dan semua dombanya dibawa lari pelaut Belanda. Sebelum meninggalkan Suriname, Candide merasa perlu untuk mencari kandidat yang cocok untuk teman perjalannya dan Martin adalah orangnya.

Bab XXI–XXX
Martin adalah seorang sarjana miskin, teman perjalanan Candide, mengaku sebagai pengikut ajaran Manichea, yang percaya bahwa dunia ini diatur oleh dua kekuatan yang berseberangan dan seimbang, baik dan jahat.. Sepanjang perjalanan, Martin dan Candide berdebat tentang filsafat, Martin melihat keadaan semesta ini akan selalu penuh dengan permusuhan, sementara Candide, masih selalu optimis dalam hatinya. Ketika Candide berkata, ” Kau lihat bahwa kejahatan kadang-kadang mendapatkan hukumannya”, Martin menjawab “ya, tapi mengapa para penumpang lain juga ikut tewas? Tuhan boleh menghukum penjahat, tapi iblislah yang menenggelamkan sisanya”. (Hal. 145)

Sesampainya mereka di Inggris, seorang laksamana sedang ditembak mati karena tidak cukup banyak membunuh lawan. Martin menjelaskan bahwa di Inggris perlu untuk membunuh seorang laksamana untuk memberi semangat yang lainnya, “pour l’encouragement des autres”. Candide, merasa ngeri melihat budaya ini, dan bermaksud meninggalkan Inggris secepatnya.

Setelah ditunjukkan berbagai adegan satire di institusi Eropa lainnya, Candide dan Martin bertemu Paquette, pelayan yang menyebabkan Pangloss terinfeksi sifilis, di Venesia. Dia sekarang menjadi pelacur, dan menghabiskan waktu bersama seorang biarawan, Brother Giroflée. Meskipun keduanya tampak bahagia di permukaan, namun sebenarnya mereka merasa putus asa, bahwa Paquette telah menunjukkan keberadaan yang menyedihkan sebagai objek seksual, dan sang biarawan merasa benci karena sudah terindoktrinasi oleh agamanya.

Sementara Candide dan Martin sedang makan malam, Cacambo datang dan memberikan kabar bahwa Cunégonde berada di Konstantinopel, sebagai budak kotor yang bekerja mencucui piring untuk pangeran Transylvania. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan Cunégonde, Candide menemukan Pangloss dan saudara Cunégonde sebagai pendayung kapal yang mereka tumpangi. Candide membeli kebebasan mereka dengan harga yang mahal. Mereka menceritakan bagaimana bisa selamat, tapi meskipun kegelapan telah dilewati, optimisme Pangloss tetap tak tergoyahkan: “Aku tetap mempertahankan opini pertamaku. Lagipula aku adalah seorang filsuf, dan tidak bisa melawan diriku sendiri. Selain itu, Leibniz tidak mungkin salah, dan doktrin keseimbangan pra-penciptaan adalah hal terbaik di dunia ini, demikian pula ‘plenum’ dan ‘materia subtilis’”. (Hal. 224).

Mereka akhirnya sampai di pantai Ottoman, dan bergabung dengan Cunégonde, yang terlihat kotor, dan seorang perempuan tua. Candide membeli kebebasan mereka berdua dan menikahi Cunégonde karena penghinaan saudaranya terhadap dirinya. Paquette dan pendeta Giroflée juga bergabung dan tinggal di perkebunan yang dibeli Candide dengan harta terakhirnya.

Suatu hari, mereka menemui seorang darwis, yang dikenal sebagai flsuf terbaik di Turki, dan Pangloss bertanya tentang mengapa hewan seaneh manusia diciptakan dan mengapa ada kejahatan di bumi ini. Sang darwis menjawabnya denga oertanyaan: “Waktu Sultan mengirimkan kapal ke Mesir, apakah dia memusingkan tikus-tikus di gudang kapal akan terusik atau tidak?”, dan membating pintunya di depan mereka. Kembali dari rumah sang darwis, mereka melihat seorang Turki dan menayakan apakah dia mengetahui tentang berita tewasnya dua pejabat karena dicekik dan terbunuhnya beberapa lainnya karena ditusuk. “Aku tidak tahu apapun tentang peristiwa yang kau omongkan”, jawabnya “dan aku sudah cukup puas bepergian kesana-kemari untuk menjual buah-buahan kebunku”, tambahnya.. Dia tinggal bersama empat anaknya, “Pekerjaan yang kami lakukan ini mencegah tiga keburukan besar: kelesuan, kejahatan dan kemelaratan”. Lalu mereka pulang dan siap untuk mulai berkebun, dan Candide mulai tak menghiraukan Pangloss tentang “hal yang tercipta dengan baik”. “Ayo kita mencangkuli kebun kita”, ajak Candide.

Bu Gudheg Jogja

Melihat berita di televisi yang gegap gempita tentang gangguan ke’Istimewa’an Yogyakarta, jadi terbayang-bayang saat sekolah SMA akhir 70an di sana. Aku tinggal di Gendheng, GK-IV/181F (eh kok meluncur aja itu ingatan alamat kos ya, padahal sdh 28 tahun gak mampir) dan sekolahku di Jalan Solo depan IAIN Sunan Kalijaga. Sepeda (pit, kata orang Jogja) merek Fuji (kok ada ya??) jadi alat angkutan utamaku, kalau lagi bosen dan ada uang ya naik angkot Colt dari jalan Timoho, yang duduknya berhadapan kiri-kanan atau bergantungan di belakang; atau malah jalan kaki, lewat perumahan Kowilhan II yang bersih dan apik-apik. Jalanan rame dengan sepeda, motor untuk sekolah masih jarang apalagi mobil..

Seingatku, saat itu ongkos bayar kamar per tahun Rp. 72 ribu, makan 3x sehari Rp. 9000/bulan, tahun 1978. Kalau lapar di malam hari, beli gudeg dekat makam Pahlawan, Rp. 300/porsi pakai telor .. Wah .. berapa harga US$ saat itu ya, kok bisa semurah itu biaya hidup di Jogja? Seneng lihat ibu-ibu bakul gudheg ngelayani pembeli sambil guyon, ramah dan sopan, sajak gak capai meskipun dah jam 9 malam.. Kalau lagi cerita tentang sultan, beliau selalu menyebut “sinuhun kanjeng sultan” mak nyesss .. hormat yang tulus dan bangga pada junjungannya … Pernah suatu saat, setelah lama gak pernah mampir, ditanya bu Gudheg “kok lama ndhak mampir, pergi ke mana mas?”, “di kos aja kok Bu, lagi tanggal tua”, jawabku. Eh .. lah kok bu Gudheg mendadak diam, “lain kali gak boleh gitu mas, kalo pengin gudheg ke sini aja, jangan mikir tanggal tua, yang penting paseduluran (kekeluargaan)”, bisiknya. “Saya tahu anak kos mas, wong anak saya ya sekolah di luar kota”, sambungnya. Waduh, susah rasanya masuk dalam nalarku saat ini, Bu Gudheg kerja dari sore hingga malam dengan untung pas-pasan, tapi tidak hanya berpikir ‘kadonyan’ (duniawi) semata. Beda dgn para pebisnis, lulusan sekolah tinggi luar negeri lagi, di kota besar yang selalu sibuk mencari keuntungan, bahkan memasukkan dana sosial ke dalam komponen harga produk … duhh Gusti …

Tiba-tiba dhuarr, samber geledheg .. wehh lahh .. sekarang ada pak presiden (nyuwun sewu) yang pernah jadi pimpinan militer di Jogja, kok ganggu-ganggu jumenengan sinuhun kanjeng sultan tanpa risih dan menganggap sinuhun sebagai rakyat biasa, yang biasa digusur-gusur … ya mesti wae rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat meradang … bikin sejahtera rakyat aja belum mampu, lha kok yang sudah tentrem ayem malah diganggu … duhh Gusti, paringono (berilah) sabar ..

2010/2011 Batas Imajiner

Kebiasaan menulis tanggal di awal tahun ini harus betul-betul dirubah secara sadar, tidak seperti biasanya yang hanya perhatian pada tanggal dan bulan, sedangkan untuk tahun, seringkali digoreskan seperti tandatangan saja ’2010′, tanpa sadar. Hal ini yang senyatanya berubah dengan pergantian tahun, sementara kehidupan terus berlangsung sebagaimana adanya dan penanggalan hanya mengikutinya.

Penanggalan adalah kreasi manusia semata untuk memberi bobot kuantitatif keberlangsungan semesta, sementara kehidupan hanya perlu dijalani dengan segala pernak-perniknya, yang tak mengenal jeda, hanya ada awal dan akhir saja, karena batas-batas telah ditentukan olehNya.

Angka-angka dalam sistem penanggalan itupun sudah mulai kehilangan arti di bumi ini. Tak ada lagi yang mau memberikan kepastian nilai dalam angka-angka itu sebagai pembatas waktu berlangsungnya ketamakan, kesewenang-wenangan, keangkuhan dan berbagai tabiat rendah kemanusiaan lainnya. Bahkan, mereka yang seharusnya punya kuasa memainkan angka-angka itu untuk menghentikan kegelapan, malah berdiri dibelakangnya, takut tergilas. Absurd..

Angka tidak lagi simbol kuantifikasi yang bebas nilai, tapi berubah menjadi sifat relatif yang bergantung pada persepsi. Tingkat korupsi, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dst. ditentukan oleh angka-angka yang kesahihan nilainya sangat tergantung pada keluwesan bersilat lidah dan tindak saling dukung. Bila siapapun yang punya otoritas untuk terlibat dalam merubah kebijakan tidak lagi berani menggunakan angka sebagai nilai pasti pembatas waktu kegelapan, maka pergantian tahun menjadi tidak bermakna, melainkan hanya perubahan goresan saja, 2011.

Kudeta Arok-Dedes

Buku ini terasa sangat Pramoedya, mewakili suara kaum tertindas yang tidak mendapat perlindungan dan keadilan dari penguasa, namun justru teraniaya dan termiskinkan secara struktural.

Judul: Arok-Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Tebal Buku: 574 halaman
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun: 2009
Cetakan: 6

Judul, gambar sampul dan, tentu saja, penulisnya sudah jadi jaminan bakal larisnya buku ini. Cerita tentang Ken Arok ini pasti sangat familiar bagi kita semua. Ketika masih di Sekolah Dasar, buku sejarah dan guru sangat berperan besar dalam mencitrakan tokoh satu ini. Seorang perampok, pengacau, pembunuh kejam; itulah kesan yang didapat ketika tokoh ini disajikan dalam buku sejarah. Di tangan sang empunya, Pramoedya, kesan ini sungguh berbalik.
Para tokoh utama juga sudah dikenal luas oleh para pembaca, persis seperti yang tertulis dalam buku sejarah di sekolah, seperti Tunggul Ametung, Empu Gandring, Kebo Ijo, Loh Gawe, Ken Umang dan tentu saja Ken Arok dan Ken Dedes; namun peran dan citra masing-masing banyak berbeda, bahkan berlawanan.

Keyakinan agama punya andil besar dalam proses pemberontakan di Tumapel. Para pemberontak dan kaum teraniaya adalah pengikut Syiwa sementara aparat pemerintah adalah pemuja Wisnu dalam agama Hindu. Kaum Brahmana Syiwa sangat disegani dan segala titahnya akan diikuti oleh pengikutnya, sementara brahmana Wisnu dalam pemerintahan (Belakangka) dicitrakan haus kekuasaan.

Empu Gandring adalah pande besi, ahli pembuat senjata untuk keperluan pemerintah. Tak ada cerita tentang kutukan keris tujuh turunan sang empu seperti yang biasa diceritakan para guru sejarah. Bahkan dalam buku ini, Gandring adalah aktor intelektual perebutan kekuasaan di Tumapel, di belakang Kebo Ijo, bukan sosok teraniaya yang dilakukan oleh Arok seperti yang selama ini tertulis dalam buku sejarah di sekolah.

Dedes dalam buku ini punya peran utama yang sangat penting untuk jatuhnya akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Sebagai prameswari, penyembah Syiwa seperti umumnya masyarakat yang teraniaya dari kasta Sudra hingga Brahmana di Tumapel, Dedes punya kekuasaan besar dalam istana yang hanya bisa dikalahkan oleh sang suami. Dedes digambarkan sebagai perempuan brahmani yang cantik, berpengetahuan dan berjiwa soial tinggi serta disukai masyarakat, berbeda dengan Tunggul Ametung yang dicitrakan sebagai bodoh dan berperangai rendah seperti perampok, pemerkosa, pembunuh, rakus dan pengecut.

Arok, seperti halnya dalam pelajaran sejarah di sekolah, adalah anak angkat suatu keluarga yang tidak mengenal orang tua biologisnya. Digambarkan sebagai anak yang cerdas, setia kawan, punya jiwa kepemimpinan bagus serta patuh pada para guru/brahmana. Menurut Loh Gawe, dalam buku ini, Arok adalah satu-satunya sudra yang bisa menjadi satria dan brahmana dalam 100 tahun saat itu. Karena kecerdasannyalah, Arok bisa mengatur strategi perang yang ampuh untuk mengalahkan pasukan Tumapel dan kelompok Kebo Ijo. Bahkan pemberontakan dan penaklukan terhadap Tunggul Ametung bisa dibungkusnya sebagai perlindungan terhadap kekuasaan Tumapel dan prameswari untuk menghindari konflik terbuka dengan kerajaan Kediri, yang dipimpin ileh Krtajaya.

Dalam hubungannya dengan Arok-Dedes, Pramoedya menafsirkannya bahwa Dedeslah yang berminat untuk menjadikan Arok sebagai suaminya, bukan Arok yang berminat untuk memilikinya (cerita sejarah). Pada akhir cerita, Ken Arok disebutkan memiliki dua prameswari, yaitu Ken Dedes dan Ken Umang.

Novel sejarah yang sepertinya didukung dengan studi kepustakaan ini ditulis Pramoedya 1970 ketika beliau masih di Pulau Buru (setelah Tetralogi Bumi Manusia) dan termasuk karya tulis yang terlarang untuk diterbitkan saat Orde Baru masih bercokol. Banyak orang berpendapat bahwa cerita Arok-Dedes versi Pramoedya ini merupakan ‘sindiran’ atas revolusi 65, dengan Soeharto sebagai tokoh sentral. Dan ini tersamar dalam catatan Pramoedya di awal cerita, “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya…” Betulkah?

A Russian Diary

“They concentrate on the positive and pretend the negative isn’t there”, Anna Politkovskaya.

Judul: A Russian Diary
Penulis: Anna Politkovskaya
Tebal Buku: 370 halaman
Penerbit: Random House, New York
Tahun: 2007

Anna, pemegang paspor Amerika, lahir 1958 di New York, adalah putri seorang diplomat Soviet yang bertugas di UN, belajar Jurnalistik di Moscow State University dan mendapat ‘kemewahan’ untuk akses informasi melalui buku, majalah dan media cetak lainnya, yang dimasukkan ayahnya dari luar negeri. Disertasinya mengenai puisi-puisi Marina Tsvetaeva (tewas gantung diri), yang dilarang oleh Stalin.

Sebagai wartawan harian Novaya Gazeta, Anna, penerima berbagai penghargaan dunia untuk karya jurnalistik dalam penegakan HAM, tewas ditembak dengan tiga peluru di dada dan satu peluru di kepala, 7 Oktober 2006 pada usia 48 tahun di apartementnya, Moscow, karena tulisannya tentang Perang Chechnya dan kritik pedasnya terhadap pemerintahan Putin.

Buku dalam format Diary ini selesai sebelum Anna terbunuh di Moscow, bercerita dalam kurun waktu Pemilu Parlemen 2003 hingga peristiwa pembajakan sekolah Beslan akhir tahun 2005. Sumber data diperolehnya dari berbagai wawancara dengan banyak pihak yang tertindas karena kebijakan Putin, termasuk para ibu dari anak-anak yang tewas saat pembajakan sekolah Beslan, para tentara Russia yang berperang di Chechnya namun ‘ditinggalkan’ pemerintahnya, para militia Chechen dukungan Putin, juga dengan orang-orang yang pernah diculik oleh aparat keamanan. Di pihak lain, Anna juga mewawancarai para veteran dan pimpinan perang Chechen.

Membaca buku ini seperti membuka harta karun berisi informasi langka tentang Russia, di bawah Putin, yang ternyata masih sangat tertutup dan berwajah gelap. Kecurangan, pembunuhan sadis, penculikan yang semuanya bermotif politik, nasionalis sempit dari beberapa partai dan kelompok radikal dengan jargonnya “Russia for the Russians”, dan kebijakan publik yang sangat jauh dari niatan untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan rakyat. Anna menganggap pemerintahan Putin tidak berbeda dengan masa pemerintahan Stalin.

Karya jurnalistik yang sungguh sangat berani tentang nasib rakyat Russia dalam pemerintahan Putin yang represif, kejam dan korup.

Penyajian peristiwa dibagi menjadi tiga Bab dan Penutup, dalam format Diary, yang sesuai dengan urutan waktu. Banyak kutipan wawancara, siaran televisi dan tentu saja juga opini penulisnya.

Bab 1
The Death of Russian Parliamentary Democracy
Dec 2003 – Mar 2004
Bab ini berisi tentang peristiwa masa pemilu parlemen dan pemilu presiden. Segala usaha pemenangan United Russia Party, partai pemerintah Putin, yang dlanjutkan dengan pemilu Presiden diceritakan dengan jelas, bahkan cenderung sinis.

Kecurangan, penculikan, intimidasi, bahkan pembunuhan sadis terhadap pimpinan partai oposisi serta, bom bunuh diri, mewarnai pemenangan Pemilu Parlemen dan Presiden Russia. Posisi sebagai partai pemerintah (incumbent) membuat Putin semakin sewenang-wenang dalam membuat kebijakan tentang Pemilu. United Russia party memanfaatkan birokrat -Mantan pejabat Patai Komunis dan Young Commnist League telah direkrut sebagai pegawai pemerintah- dan politik uang untuk kemenangan Putin.

Menurut Anna, secara ideologis, Duma baru (setelah runtuhnya USSR), lebih berorientasi ke politik tradisional, daripada menuju ke arah demokrasi Barat. United Russia melakukan kooptasi bahwa masyarakat Russia telah dipermalukan oleh Barat, dengan propaganda anti Barat dan anti kapitalis.

Hampir tidak ada seorang demokratpun dalam Russian Parliament, yang mampu melakukan lobi2 demokratis secara konstuktif dan beroposisi dengan benar. Kaum demokrat tidak lagi tertarik untuk ‘menyentuh’ 40% rakyat Russia yg berada di bawah garuis kemiskinan. Kaum demokrat telah diam dan ‘menyerah’ untuk kemenangan Putin.

Partai-partai Pro-Putin menguasai Duma. United Russia menguasai 212 kursi, 65 kursi lainnya adalah “independent” juga pro Kremlin. Konfigurasi di Duma tidak memungkinkan adanya oposisi. “Duma bukan tempat berdebat, melainkan untuk pekerjaan legislasi”, ungkap Putin, setelah kemenangannya.

Meskipun pada 2003, partai United Russia tidak memenuhi cukup suara untuk merubah konstitusi (301 suara dibutuhkan), namun Kremlin selalu punya cara untuk merekayasa mayoritas konstitusional. Peraturan hukum selalu bisa dirubah dengan alasan “in order to avoid destabilizing the situation in the country”.

Pada 24 Desember 2003, Grigorii Yavlinsky (partai oposisi, Yabloko) menyatakan bhw Russia mempunyai pseudo-multyparty parliament, pseudo free and fair elections, pseudoimpartial judiciary dan pseudoindependent mass media.

Teror, intimidasi, penculikan membuat hanya Irina Khakamada yg pada akhirnya berani berhadapan langsung terhadap Putin sebagai pesaing utama dalam Pemilu Presiden, sedangkan lainnya lebih mendukung Putin, meskipun ada enam calon presiden peserta pilpres ini.

Bab 2
Russia’s Great Political Depression
Apr-Dec 2004
Pada bab kedua ini, Anna sedikit meneruskan peristiwa Pemilu, yang diakhiri dengan pelantikan Putin yang kedua kalinya, 7 Mei 2004. Cerita selanjutnya lebih banyak berhubungan dengan peristiwa di wilayah Caucasus, Chechnya dan sekitarnya.

Peristiwa meledaknya bom dalam mobil Presiden Repulic of Ingushetia, Murat Zyazikov, di Nazran, Ingushetia, yang negaranya berbatasan dengan Chechnya. Presiden selamat.

Dicurigai ini karena dugaan korupsi yg dilakukan oleh presiden dan keluarganya. Kecurigaan lainnya adalah beberapa penculikan oleh pemerintahannya, yang dihubungkan dengan isu Chehnya.

Anna mempertanyakan ketiadaan komitmen pres Zyazikov untuk menjalankan pemerintahan yang demokratis dan berperikemanusiaan. Mengapa saat kekuasaan di tangan justru digunakan untuk berbohong, memutar-balik fakta, mendukung tindak korupsi, menghindari bangsanya, menakutinya dan akhirnya, tidak mencintainya? “When there is no justice, there is rough justice. People lose patience” ungkapnya.

Seperti halnya Putin, Zyazikov melakukan hal yang sama dalam hal kebebasan pers. Alih-alih menyelesaikan persoalan bangsa, malah melakukan kontrol dan sensor pemberitaan televisi. Penculikan, teror, kekerasan juga terjadi dalam pemenangan Zyazikov sbg pres Ingushetia.

Peristiwa detil pembajakan sekolah Beslan dan usaha pembebasan sandera oleh aparat keamanan pemerintah yang justru memperbanyak jumlah korban, hingga tindakan sensor media oleh pemerintah beberapa hari sesudahnya juga diceritakannya dalam bab kedua ini.

Bab 3
Our Winter and Summer of Discontent
Jan-Aug 2005
Dalam bab ketiga ini, banyak diisi dengan peristiwa memuncaknya rasa frustrasi rakyat Russia terhadap pemerintahnya.

Russia’s Heroes (para Pahlawan dengan penghargaan resmi dari pemerintah) melakukan mogok makan. Ini dilakukan krn Duma, 13 Jun, melaksanakan pemotongan kesejahteraan mereka. Diikuti dengan munculnya partai baru, partai para ibu tentara Russia (Mother’s Sodiers Party) sebagai oposan pemerintah. Kemudian aksi penolakan kehadiran para ibu korban pembajakan sekolah Beslan, atas undangan Putin ke Moscow, karena menganggap pemerintah Putin tidak serius melindungi keamanan rakyatnya dalam pembajakan sekolah Beslan.

Tidak ada yang dinyatakan bersalah dalam kasus banyaknya korban tewas dalam usaha pembebasan sandera pembajakan sekolah Beslan. Lebih dari 300 tewas, termasuk 186 murid sekolah.

Bab Penutup
Am I Afraid?
Pada bab penutup bukunya, Anna memberikan kritik keras untuk perbaikan kesejahteraan bangsa Rusia dan tuntutannya untuk menghentikan perang di North Caucasus.
Namun sayangnya tidak terlihat adanya perubahan, bahkan pemerintah cenderung buta/tuli dengan keluhan rakyatnya, dan tetap dengan gaya hidupnya yang rakus akan kekayaan. Bahkan disinformasi bahwa masyarakat sipil dan oposisi dibiayai oleh CIA, Inggris, Israel, terus dilakukan sebagai bagian tindak represi.

Prisoner Of The State

Liberalisasi ekonomi China dg jargon ‘Capitalism with Chinese Characteristic’ bermuara terjungkalnya Zhao Ziyang di Tiananmen.

Judul: Prisoner Of The State, The Secret Journal Of ZHAO ZIYANG
Tebal buku: 331 halaman
Penerbit: Simon and Schuster
Tahun: 2009

Buku ini merupakan penulisan ulang journalistik suara (audio journal), yang dibuat sendiri oleh Zhao Ziyang pada tahun 2000, sebanyak 30 kaset dan masing-masing berdurasi 60 menit, saat di ‘tahanan rumah’ dan diselundupkan keluar melalui sahabat-sahabatnya. Menurutnya, audio journal ini dimaksudkan sebagai rekaman sejarah, khususnya saat kekacauan Peristiwa Tiananment. Beberapa saat setelah wafatnya, satu set kaset rekamannya (original copy) ditemukan di ruang main cucunya.

Zhao menghabiskan hidupnya selama 16 tahun dalam tahanan rumah sejak peristiwa Tianmen dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng Xioping hingga wafatnya, 2005.

Meskipun hanya bercerita dalam kurun waktu tiga tahun sebelum kejatuhannya, namun memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan di puncak kekuasaan Partai Komunis Cina yang selama ini sangat tertutup, bahkan untuk masyarakat China sendiri. Dengan jelas Zhao menceritakan tentang kekuasaan para pejabat partai, intrik politik, faksi dalam partai, praktek pemerintahan, implementasi dari ideologinya dan tentu saja resiko para anggota partai yang berkeinginan melakukan perubahan secara Liberal.

Menurut editor buku dalam Kata Pengantarnya, sistematika penyajian tidak sepenuhnya mengikuti urutan rekaman kaset, dimaksudkan untuk menghilangkan repetisi dan mempermudah pembacaan, namun tetap saja di beberapa bagian terjadi pengulangan dan lompatan waktu kejadian. Ada enam bab besar, dimulai dengan saat Peristiwa Pembantaian Tiananmen sebagai alasan utama runtuhnya kekuasaan Zhao Zhiyang, dilanjutkan dengan bab-bab tentang konflik politik di pucuk pimpinan PKC tentang reformasi ekonomi politik yang bermuara pada peristiwa Tiananmen hingga jatuhnya Zhao Zhiyang sebagai lokomotif reformasi. Masing-masing bab besar dibagi lagi dengan bab-bab kecil.

Dalam Kata Pengantar, sang editor bercerita sedikit tentang sejarah Zhao yang mulai ‘terlihat’ ketika sukses memimpin partai di Guangdong, 1965, dan sabagai salah satu korban Revolusi Kebudayaan, dia harus bekerja di pabrik mesin di provinsi Hunan bersama seorang anaknya (dari lima anak) dan tinggal di apartemen kecil dengan kopor di ruangan tengah sebagai meja makan. Mao telah merehabilitasinya dan menempatkannya sebagai pimpinan partai di Mongolia. Cerita sukses Zhao memimpin di berbagai daerah, termasuk provinsi Sichuan, 1975, membuatnya dikenal dengan ungkapan “yao chi liang, zhao Ziyang” (bila anda ingin makan, carilah Ziyang).

Aktor-aktor penting yang terlibat dalam intrik politik tentang Reformasi China adalah Chen Yun (arsitek ekonomi Cina dimasa Mao dengan program ‘Five-Year Plan System’nya, Li Xiannian (senior yang membantu Zhou Enlai dalam Cultural Revolution), Li Peng (Perdana Menteri, pengganti Zhao) di sisi oponen dan Zhao Ziyang, Hu Yaobang (Sekjen PKC yang dilengserkan Deng, digantikan Zhao) dan Deng Xioping di sisi Reformis.
Ada pertentangan pendapat tentang penyebab ekskalasi demonstrasi mahasiswa 1989, pertama, versi partai, adalah pidato Zhao (SekJen Partai) di forum Asian Development Bank, 26 April 1989, yang memberi ‘angin’ terhadap mahasiswa dengan pernyataannya bahwa mahasiswa tidak anti sistem, melainkan tidak puas terhadap pemerintah karena banyaknya kasus korupsi. Kedua, versi Zhao, pernyataan Deng yang didukung Li Peng (Premier) bahwa mahasiswa telah anti Partai dan anti sosialis.

Menurut Zhao, aksi mahasiswa yang dimulai April 1989 saat pemakaman Hu Yaobang, sebetulnya dipicu rasa hormat terhadap simbol Reformis, Hu Yaobang, yang juga dianggap bersih dari korupsi, kemudian rasa kecewa karena pelengserannya dari posisi Sekjen PKC dan penghentian program reformasi setelah jatuhnya Hu, 1988. Usaha Zhao untuk dialog dengan demonstran selalu mendapat halangan, bahkan sabotase dari kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk.

Situasi politik yang sangat genting (dengan gamblang diceritakan dalam Bab 1) di internal puncak partai tentang penanganan demonstrasi yang semakin membesar (ratusan ribu) antara Zhao Ziyang (cara dialog) yang tidak banyak pendukung dengan kelompok oponen reformasi, Li Peng dkk. (cara penangkapan), akhirnya membuat Deng Xioping, sebagai pimpinan Pusat Badan Penasihat (Central Advisory Commision) dan anggota Politbiro Standing Commitee, yang mempunyai kekuasaan sangat tinggi, meskipun tidak duduk dalam struktur pemerintahan, memutuskan bahwa motif demonstrasi adalah Anti Partai dan Anti Sosialisme seperti yang dilansir koran People’s Daily 26 April 1989, dan aparat keamanan perlu dikerahkan untuk memadamkan demonstrasi karena negara sudah dalam keadaan darurat. Li Peng (Perdana Menteri), Yang Shangkun (Presiden) dan Qiao Shi ditunjuk sebagai tim pelaksana. Seperti kita tahu, akhirnya banyak korban berjatuhan dalam peristiwa ini.

Dengan keputusan Deng tersebut maka ini berarti keruntuhan Zhao Zhiyang, yang sejak saat itu dirumahkan, tanpa proses peradilan yang sesuai dengan peraturan partai, dan tidak pernah lagi bertemu dengan Deng (wafat Feb 1997), hingga wafatnya 2005.

Tentang Reformasi Ekonomi, atas ide Deng dan dimulai oleh Hu Yaobang (Sekjen Partai), banyak sekali terobosan politik dan kebijakan yang telah dilakukan Zhao seperti Pertanian berbasis keunggulan daerah, Zona Ekonomi Khusus (Shenchen, Zhuhai dan Xiamen) dll., meskipun terus ditentang para oponen senior partai. Reformasi ini juga mengakibatkan jatuhnya Hu Yaobang, SekJen PKC (menurut Zhao karena terlalu progresif), karena dianggap melawan prinsip “The Four Cardinal Principles” (jalan sosialis, diktatorial demokrasi rakyat, pimpinan PKC dan ajaran Marxist, Leninist, Mao) dan menyebabkan masuknya pemikiran liberal pada para intelektual partai, sehingga Deng merasa perlu untuk mengadakan kampanye ‘Anti-Spiritual Pollution’. Perlindungan dan dorongan Deng lah yang menyebabkan Zhao tetap bisa bertahan dengan program Reformasi Ekonominya.

Di akhir bukunya, Zhao menyebutkan bahwa Deng ternyata tidak sungguh berharap adanya Reformasi Politik (modernisasi dan demokrasi), melainkan hanya reformasi ekonomi yang disebutnya sebagai ‘Capitalism with Chinese Characteristic’. Reformasi politik yang dimaksudkan Deng dan baru disadari Zhao dalam tahanan rumahnya ternyata hanyalah reformasi administrasi, yaitu pemisahan antara Partai dan Pemerintah, tapi tetap menolak pemisahan eksekutif, legislatif, yudikatif yang menurutnya adalah bagian dari demokrasi borjuis yang menjadi monopoli para pemilik kapital. Setiap kali Deng bicara reformasi politik, selalu diikuti dengan anti-liberalisasi dan penguatan diktatorial demokrasi rakyat (PKC) sebagai senjata pamungkas yang tak tergantikan untuk menjaga stabilitas politik.

Membaca buku ini sampai akhir serasa membaca novel politik yang kejam tersamar dengan bungkus ‘demi rakyat’ yang penuh dengan jargon-jargon ‘kiri’ yang menggairahkan dengan tokoh utama sebagai korbannya, Zhao Ziyang.

Mimpi Berujung Bui

Beberapa hari ini layar tv nasional diwarnai berita tentang dua perempuan cantik yang diduga melakukan kejahatan keuangan, SY., perempuan muda yang dicitrakan media televisi berparas cantik, berperilaku ramah dan mudah bergaul ini ternyata masuk dalam DPO polisi karena diduga banyak melakukan penipuan melalui dunia maya bermotif uang. Sementara MD, bagian dari jajaran puncak pimpinan bank asing yang juga berparas cantik, berkesan glamour, cenderung artifisial, dengan gambar-gambarnya yang banyak beredar di internet, berlatar belakang mobil mewah ini, diduga melakukan penggelapan uang miliaran rupiah. Jalan pintas, adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan respon yang sama kedua perempuan itu, dalam memenuhi mimpi hiperealitasnya secara cepat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa serbuan globalisasi sebagai tangan panjang kapitalisme telah jauh masuk kedalam gaya hidup, budaya bangsa kita. Apakah ini tanda awal ‘kematian sosial’ (YA Piliang)?
Globalisasi ekonomi, informasi dan budaya memang sudah menusuk dalam hingga ke tengah hutan dan puncak pegunungan negeri ini. Lihatlah, dvd film asing, saluran tv luar negeri dan handphone versi terbarupun sudah banyak beredar di berbagai lokasi terpencil sekalipun. Tentu ini menggembirakan karena bisa jadi ukuran kemajuan sadar-informasi masyarakat, namun semestinya linear dengan kemajuan kemampuan rasional dalam menentukan kebutuhannya, bukan hanya terkooptasi oleh iklan sebagai kepanjangan tangan kapitalisme semata. Mini-market ternama dari waralaba nasionalpun sudah merebak keberbagai sudut kota kecil bahkan kota terpencil dalam hutan Papua.

Di kota-kota besar, dengan motif ekonomi, pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba melakukan bujuk-rayu berwajah indah namun semu, menyajikan kenyamanan penuh ilusi sebagai tempat mencari nilai-nilai, membangun citra diri, unjuk eksistensi diri, mencari hiburan, dan untuk kepentingan pengusaha dalam menciptakan kebutuhan konsumen atas nama kemajuan, bukan lagi sekedar tempat transaksi barang dan jasa, namun telah mempunyai peran sentral sebagai citra cermin (mirror image) sebuah masyarakat.

Di era artifisial, komunitas sosial telah bergeser menjadi komunitas dunia-maya (cyber-society) tanpa teritori yang nyata, yang tentu saja mempengaruhi kehidupan sosial di luar ruang tersebut. Dalam ruang maya, anggota komunitas bisa memilih identitas dirinya dalam wujud yang berbeda dari kesehariannya, bergantung motif yang ingin ditampilkannya, yang berujung kekacauan identitas. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi dalam komunitas seperti ini, ilusi yang berpotensi kekecewaan setelah realitas mengemuka, penipuan.

Untuk mengejar kehidupan superstar penuh ilusi ini, dalam tataran fisik individual, tubuh manusia telah menjadi alat produksi, promosi dan konsumsi kapitalisme. Begitu pentingnya peran tubuh ini, sehingga individu yang telah teperangkap dalam ilusi tersebut merasa perlu untuk melakukan ‘penyempurnaan’ tubuh melalui operasi plastik, keindahan artifisial.

Lengkaplah sudah kekacauan budaya globalisasi ini, dan dalam kondisi budaya di tengah lorong ilusi menuju ‘kematian sosial’ seperti inilah kedua perempuan tersebut terperangkap, persepsi tehadap fakta sosial yang penuh dengan ilusi telah menutupi realitas sosial yang ada.

Mengingat resiko kematian sosial yang tanda-tandanya mulai tampak akibat globalisasi dalam berbagai bentuknya seperti tersebut di atas, perlu para pemangku kebijakan memikirkan strategi kebudayaan dan kebijakan ekonomi yang nyata untuk menyelamatkannya, berbasis pada kearifan budaya lokal tentunya.

Oei Hui Lan

Novel sejarah pemenang penulis ‘Penulis Online Terbaik 2009′.

Angkat topi utk Agnes Davonar (http://www.agnesdavonar.net) yg sukses menyajikan novel sejarah “Oei Hui Lan” ini hingga enak dibaca, mengalir, inspiratif dan menggugah kesadaran pembaca atas kehidupan jetset putri keluarga kaya raya, raja gula dunia dari negeri ini, sejak jaman penjajahan Belanda hingga masa Orba, yang berpindah-pindah domisili dari Semarang di masa kecil, Eropa, Cina dan Amerika di akhir hayatnya.

Buku ini sudah diterbitkan hingga enam kali dan tetap dipajang di rak buku bagian depan, Gramedia. Banyak sekali web yang menyajikan resensi tentang novel ini di internet, yang sekaligus menunjukkan popularitasnya. Tidak jelas benar, apakah popularitas buku ini karena kepiawaian penulisnya yang masih muda (23 tahun) dalam menyajikan novel sejarah yg terasa ‘hidup’ dan banyak pesan moral di dalamnya, ataukah kekayaan Oei Hui Lan (1889-1992) dan keluarga yang melegenda dengan liku-liku hidupnya dikalangan jetset dunia yang penuh gelimang harta? Saya sendiri menyukai buku ini karena alasan pertama.

Black Swan

Film karya Darren Aronofsky, pemenang Aktris Terbaik, Academy Award 2010.

Rasanya sudah lama sekali tidak menemukan film yang ‘mengganggu’ seperti ini, bahkan sambil jalan pun masih terusik tanya. ‘Black Swan’ karya Darren Aronofsky dan dibintangi oleh Natalie Portman, Vincent Cassel, and Mila Kunis telah memenangkan kategori aktris terbaik 2010, Natalie Portman, seorang sarjana psikologi yang fasih bertutur bahasa Ibrani, Inggris, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Nina (Natalie Portman) adalah tokoh utama dalam film ini sebagai penari ballet profesional yang tumbuh besar dalam asuhan ‘single mother’, yang juga seorang ballerina namun gagal di usia muda karena hamil. Obsesi sang ibu akan pencapaian maestro ballet memberikan andil besar dalam membentuk ‘kekacauan’ kejiwaan Nina (kawan2 psikolog mungkin bisa menjelaskannya), selain proses kreatif dalam totalitas peran yang harus dilakoninya.

Peran ganda yang harus dilakoni Nina dalam produksi ballet adalah White Swan, yang berkarakter kurang-lebih sama dengan dirinya dan Black Swan yang berkarakter jahat. Peran Black Swan inilah yang sulit baginya mengingat kehidupan sehari-harinya yang cenderung puritan dan tertutup. Obsesi keberhasilan sebagai tokoh utama dalam peran ganda tersebut menyebabkan terbelahnya pribadi Nina.

Portman sungguh bagus sekali dalam memerankan Nina, gadis ‘lurus’, diam bersuara pelan, yang kesehariannya hanya mengenal studio ballet dan rumah, merepresi diri dari kecenderungan pergaulan bebas namun mulai muncul tindak perilaku menyimpang dengan menyakiti diri tanpa disadarinya.

Darren Aronofsky sungguh cemerlang menampilkan Nina yang begitu obsesif untuk memenangkan peran ganda tersebut dari Lily yang akan menggantikannya untuk peran Black Swan, dengan adegan-adegan halunisasi yang nyata. Perubahan watak Nina dari White Swan menjadi Black Swan di atas pentas, dengan adegan mata yang berubah merah dan bulu-bulu yang muncul di tangan Black Swan sungguh mencekam.

Tinggikanlah Kejujuran

Akrobat norma sedang terjadi pada bangsa ini, kejujuran sebagai nilai luhur yang dijunjung tinggi ajaran spiritual manapun, kini telah longsor dikalahkan oleh kehendak kekinian masyarakat yang lebih mengutamakan kebutuhan wadag/material sesaat daripada keluhuran budi yang disadarinya sejak dulu kala.

Satu keluarga telah diusir dari kampungnya di Surabaya karena membuka kecurangan ujian nasional di sekolah anaknya. Tragis. A’am, anak kelas enam SD yang pintar di Surabaya, dipaksa oleh gurunya untuk mengedarkan ‘contekan’ ke teman-temannya supaya mendongkrak jumlah kelulusan di sekolahnya. Dengan alasan dilematis yang dipaksakan sang guru, ‘niat baik membantu teman-teman’ membuat sang A’am terpaksa melakukan kehendak jahat sang guru. Ajaran keluarga dan beberapa guru lainnya untuk selalu bersikap jujur telah membuatnya mengalami Rasa Bersalah dan berujung cerita pada sang Ibu. Sontak, marah dan kecewa menguras emosi sang Ibu, mendengar cerita buah hatinya, yang merasa sudah memberikan bekal moral luhur pada sang anak telah dihancurkan oleh pihak yang selama ini telah dipercaya untuk memberikan pendidikan yang lebih baik, sekolah.

Pengungkapan ironi ini oleh sang Ibu ke publik menyebabkan keluarga A’am diusir oleh lingkungannya karena rasa khawatir atas nasib kelulusan anak-anak mereka. Absurd …

Jujur, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lurus hati, bersih, tidak bohong, tidak curang, benar. Semua keterangan mengenai Jujur bernilai positif bahkan jadi ajaran dasar/basic yang ditanamkan orangtua sejak kita semua masih belia. Lalu mengapa nilai luhur ini bisa demikian mudah dikhianati?

Tekanan sosial dan perilaku para pemangku ‘kebijakan’ yang tidak bisa dijadikan panutan mungkin jadi penyebab luruhnya nilai luhur ini, selain alasan teknis sistem pendidikan yang menyebabkan ekses sistematis tindak ke’tidak-jujur’an terjadi dalam ujian nasional.

Rasa tidak percaya diri orangtua akan kemampuan sang anak (karena memang tak pernah mengujinya), rasa kekurangan akan frekuensi belajar di rumah dan kelengkapan ajar (buku dan akses belajar lainnya), serta tidak adanya pelajaran tambahan atau les menjelang ujian seperti yang dilakukan pada keluarga ‘berpunya’; juga ketakutan gagal ujian yang berarti perlu ekstra penanganan psikis terhadap anak dan keluarga menghadapi bayang-bayang tekanan sosial , serta kondisi ekonomi domestik yang pas-pasan hingga semakin menambah beban kelelahan psikis keluarga, menyebabkan para orangtua mengambil jalan pintas ‘penyelamatan’ anak dari kegagalan ujian dengan cara cepat, sepakat dan murah, nyontek massal.

Para pemangku kebijakan, yang di mata kaum ‘pinggiran’ masih dianggap sebagai kaum cerdik-pandai yang sering kali tampil di depan umum dengan berbagai solah-tingkahnya membawa ‘kabar’ kebajikan, ternyata .. banyak tersangkut masalah hukum, baik kejahatan keuangan maupun tindak asusila .. obrolan pinggir jalanpun mengatakan ‘loh kalau yang sudah kaya aja menganggap korupsi adalah hal kecil, kok nyontek yg ‘membantu’ murid dan guru dan gak korupsi kok gak boleh”. Jadi ya LANJUTKAN nyonteknya …

Peringkat kelulusan dari suatu sekolah ternyata linier dengan anggaran, artinya sekolah dengan peringkat tinggi, apalagi masuk kategori sistem SBI (sekolah berbasis internasional) karena jumlah kelulusan yang tinggi akan mendapat kocoran anggaran pendidikan dari depdikbud lebih banyak daripada sekolah yang biasa-biasa saja, ini berakibat upaya ‘apa saja’ perlu dilakukan untuk mempertahankan peringkat. Rektor Universitas ternama, dalam wawancara dengan tv swasta pernah mengatakan bahwa beberapa sekolah di suatu daerah telah melakukan kerjasama yang tidak benar dalam melakukan pengawasan ujian nasional demi kepentingan menjaga peringkat kelulusan sekolah masing-masing.

Dengan paparan di atas, saya berharap para pimpinan negeri ini supaya menghentikan segala polah tingkah ‘memoles wajah’ dan jadilah panutan yang sejujurnya dan pimpinlah rakyatmu ini untuk menjunjung nilai luhur bangsamu, JUJUR.

Karyawan lulus ?

Baru saja ‘farewell party’ dilakukan secara meriah untuk dua karyawan yang akan mengundurkan diri dan pindah kerja di tempat baru, yang tentunya lebih ‘baik’ menurutnya.

Ada hal yang ‘mengganggu’ menurutku karena dalam acara semacam ini, ‘pengunduran diri’ karyawan selalu dimaknai sebagai ‘kelulusan’ oleh sebagian pihak manajemen, entah ini dimaksudkan sebagai ‘guyonan’ atau hal serius, seolah perusahaan telah sukses mendidik karyawannya sehingga siap bekerja di perusahaan lain. Ironis.

Sejak Januari 2011, sudah 10 karyawan staff mengundurkan diri dan dari sisi persentase, jumlah tersebut termasuk paling besar dibanding dengan divisi lainnya dalam perusahaan. Bila ini adalah institusi pendidikan maka divisi ini masuk dalam kategori berprestasi, sayangnya ini adalah institusi industri yang tentunya jelas mengejar laba, maka tingginya angka keluar-masuk karyawan bukanlah hal yang patut dibanggakan alias perlu dipertanyakan karena jelas akan mengganggu rantai produksi. Banyak pelatihan perlu dilakukan pada karyawan baru yang berimplikasi pada biaya, waktu dan tenaga. Dan yang lebih berat adalah dampak psikis bagi karyawan lainnya, yang seolah penyebab tingginya ‘turn-over’ bukanlah hal yang perlu diperhatikan karena karyawan mudah tergantikan dan kinerja yang baik bukanlah hal yang patut dipertahankan, alih-alih ditingkatkan.

Coba kita bayangkan, seandainya pemilik perusahaan ini mengetahui bahwa biaya yang telah dikeluarkan untuk pelatihan ternyata justru lebih banyak me’lulus’kan karyawan dan bukan meningkatkan kinerja perusahaan atau keuntungan, apa kira-kira reaksinya?

Penyebab tingginya ‘keluar-masuk’ karyawan perlu dievaluasi lebih dalam, bahkan alasan tingginya harga penawaran di luar pun semestinya tidak menjadi alasan memudahkan ‘lulus’nya karyawan karena karyawan terlatih yang sudah menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan memang seharusnya perlu dipertahankan.

Ah ini cuma membayangkan apa yang perlu dilakukan seandainya perusahaanku nanti terjadi ‘brain drain’.

Sampai jumpa kawan. . .

GTS 30/7/2011

Kawan-kawan,

10 tahun berkesibukan di kaki Carstensz, tanpa terasa semakin berkembang isi otak dengan pengetahuan kebumian yang bersifat teknik maupun lingkungan hidup yang bersifat sosial.

10 tahun yang sama, semakin tumbuh kepekaan hati yang bergumul dengan rasa senang, susah, marah, empati silih berganti kala bergaul dan mengamati laku unik manusia pekerja yang bervariasi lengkap dengan berbagai karakter yang berbeda, rendah hati, permisif, setia-kawan, ambisius, hipokrit, jumawa, yang sejatinya semua sama, manusia pekerja penerima upah.

10 tahun yang sama, semakin banyak melintas contoh laku pengundang tanya, seperti seringnya melintas kata asing ‘big picture’ dan ‘outside the box’ oleh anak negeri, yang keluasannya dibatasi oleh ‘company interest’, bukan ‘national interest’, saat kebijakan dipertanyakan.

10 tahun yang sama, kritik budaya banyak mengisi ruang pikir dalam renung akrobat politik gaya lokal seperti gosip, bisik-bisik, janji, ancam, kkn dan yang sejenisnya; bagaikan negeri ‘democrazy’ saja. Ungkapan ‘maju tak gentar, membela yang bayar’ semakin lazim mucul di ranah nyata seperti halnya tindak ‘pergaulan’ yang sudah membudaya dan menjadi nilai ‘kebenaran’ tersendiri.

Semua itu adalah ilmu berharga yang perlu dikritisi sebagai bagian modal menjalani hidup ke depan.

Terimakasih kawan semua, lakumu telah mengajariku kerendahan-hati, kerukunan, kedamaian dan kesetia-kawanan. Sukses untuk kita semua dan maaf atas segala kata dan lakuku, Tuhan YME pasti membalas kebaikanmu. Amin

Sampai Jumpa.

Salam,
-anang-
0812-31431789
as_kusuwardono@yahoo.com

Hepi Lebaran 2011

Ada tiga yang Berbeda di lebaran tahun ini dibanding lebaran tahun lalu. Yang pertama, ada beda pendapat tentang kapan tepatnya hari lebaran. Pemerintah merubah hari Lebaran dari 30 Agustus seperti yang tercantum di kalender menjadi 1 september, meskipun kami tetap memilih 30 Agustus, apalagi opor ayam, telor petis dan lontong capgomeh sdh dipesan hahaha…

Kedatangan rombongan mudik dimulai dari klg Limus, menggunakan rute JKT-Malang-Kediri, 25 Agustus. Ini flight pertama kami ke Malang, menggunakan Garuda 707-500 7:45. Bandara Malang berada dalam kompleks AURI yang rapi bersih juga penuh bunga dan pohon. Malang yang berada diketinggian kira-kira 2000m, dan masih pagi, terasa adem.

Asik juga perjalanan Malang-Kediri selama 2,5 jam, jalan berkelok tajam serasa membelah gunung di kiri-kanan jalan, melewati rimbun pepohonan dan terkadang sungai-sungai berair dangkal jernih dan berbatu besar, sebagai bukti masih berada di dataran tinggi. Pohon-pohon bambu juga banyak terlihat diantara pohon-pohon pinus. Sesekali terlewati warung kecil menjajakan durian dengan pembelinya yg sibuk menikmati buahnya sambil jongkok. Jalan cukup bagus dan agak sepi, dibandingkan jalan raya Sby-Kediri yang pasti penuh bus dan motor, apalagi menjelang lebaran. So, rasanya akan menggunakan jalur ini lagi di lebaran 2012, Insha Allah. Putri tampak sehat dan ceria.. Terimakasih De Gen dan mas FarhanDre yg sudah menemaninya.

Hari yang sama, saat magrib, muncul De Wow sklg, menggunakan jalur JKT-SBY-KDR. Putri yang selama ini cuma duet dengan De Gen, semakin ceria … Tanggal 27, rombongan dari Pasuruan, De Tri sklg muncul, Om Putut dan Om Peter dari Munchen, De Nang dari Banjarmasin dan mas Bimo/mas Dito dari London (mampir jakarta) juga muncul. De Ren sekeluarga tentu sudah hadir, wong memang berdomisili di Kediri meskipun harus menyelinap dari padatnya kegiatan partai dan kantor …. Ruame tenan … Tawa lebar Putri terlihat jelas. Kita semua jadi ikut hepi …

Beda kedua adalah, berlebaran ke rumah De Tri dan rumah De Wow.. Tahun sebelumnya, kedua rumah ini masih sedang dibangun. Lebaran tahun depan mungkin sudah bisa menikmati lontong opor juga di kedua rumah ini hehe .. Ngarep.com …

Beda ketiga di lebaran kali ini adalah hadirnya om Peter, yang sabar dan murah senyum di tengah keluarga, membuat semangat anak-anak berlatih bahasa inggris. Router Belkin tertinggal om …

De Nung bertiga muncul sekitar jam 9 malam di hari ketiga lebaran, sayang ketinggalan foto gerombolan…

Foto di atas adalah hasil jepretan sukrelawan, mas Bimo, setelah sholat Ied dan sungkeman (suwun mas), 1 sep, semua wajah tampil ceria, apalagi pembagian ‘angpao’ untuk anak-anak (kategori belum bekerja :) ) habis dibagikan. Ibu tercinta, Putri, terlihat bahagia melihat laku semua anak-cucunya. Mas Dito (berdiri di belakang, paling ceria), wakil tunggal keluarga De Nung. Sesi pemotretan oleh De Wow dilanjutkan dengan obyek: masing-masing keluarga bersama Putri, bergantian. Kalau menggunakan kamera lama, mungkin sudah habis banyak film.. Sampe ‘theklo’ fotografernya … :)

Sampai jumpa di keriuhan lebaran 2012. Insha Allah, Putri dan semua anak-cucu diberiNya kesehatan dan kesejahteraan. Amin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.