Feeds:
Pos
Komentar

Kita Indonesia

Takkan terlupakan, kejadian-kejadian penting sepanjang bulan Agustus 2018, bulan pengunggah rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, yang terhenyak bangun dari lelap tidur lama.
10 Agustus 2018 Pendaftaran Capres/Cawapres
20180910_011254Matahari belum genap benar muncul di balik Patung Tani, tapi seputaran jalan disitu sudah macet. Banyak mobil merapat di depan Gedung Joang 45, jalan Cikini Raya, untuk menurunkan penumpang. Lagi, kostum merah-putih memenuhi halaman rumah itu. Suara rebana dan tembang shalawat Nabi menyemarakkan pagi, menunggu kehadiran Capres Jokowi dan Cawapres Ma’ruf Amin. Jam 8 lebih, capres/ cawapres turun dari mobil, dan tak lama kemudian mereka muncul di atas panggung. Meriah teriakan hadirin yang memadati halaman rumah, “Jokowi .. Jokowi …” berulang-ulang … 20180810_085425Deklarasi kesediaan beliau berdua sebagai capres/cawapres diucapkan Jokowi dan Ma’ruf Amin di depan para pejabat partai politik pendukung dan para relawan. Jam 10an Jokowi/Amin berangkat menuju KPU menggunakan mobil innova diiringi para pejabat partai dan relawan, mengawal dengan penuh harapan dan optimisme tinggi bahwa Kebaikan akan Menang. Jokowi 2 Periode.
5 Agustus 2018 Harmoni Indonesia
Penuh warna Kebangsaan pagi itu. Merah-putih pada acara Harmoni Indonesia 2018, hanya setengah jam saja pagi itu di Koridor Timur GBK, menyanyi lagu-lagu Nasional serentak se Indonesia dan beberapa negara sahabat, bersama Presiden tercinta Jokowi dan para menterinya, dengan konduktor mas Addie MS. Tak pernah terjadi sebelumnya. Bisa dibaca di Harmoni Indonesia 2018.
17 Agustus 2018, Istana Negara
20180817_103856Tak seperti pada upacara Proklamasi pada pemerintahan sebelumnya, pada era Jokowi ini, 17 Agustusan terasa menjadi moment penting yang ditunggu masyarakat Indonesia, baik yang berada di sekitar istana, maupun para pemirsa televisi di rumah, karena upacara dan perayaan yang menyertainya selalu semarak, indah, tak terduga dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Baik saat penaikan bendera, maupun penurunan bendera, yang keduanya selalu dihadiri Presiden. Menyenangkan, sekaligus melambungkan rasa cinta bangsa. Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang seharusnya hanya diperdengarkan, bercampur haru para hadirin pun pada akhirnya turut bersemangat menyanyikannya. Dan untuk pertama-kalinya juga, lagu Padamu Negeri, diminta oleh pengarah acara supaya dinyanyikan bersama-sama oleh semua hadirin. “Padamu Negeri … “, terdengar gelora semangat suara nyanyian membuncah rasa bangga di dada. Rasa kebangsaan itu sungguh terasa ..
Berseragam megah merah-putih bersih, pasukan pengawal presiden tegap gagah berbaris rapih, dengan menyandang senjata laras panjang bersangkur tajam mengkilat. Indah mengesankan. Belum lagi, para pengawal laki-laki/perempuan penunggang kuda berseragam sama, duduk tegap di pelana, berbaris mengawal bendera pusaka dari tempat penyimpanannya, Tugu Monas.
17 Agustus 2018 14.00, DiaLoGue cafe
2018_0817_14045300Cafe yg berada di Kemang Raya, depan Habibi Centre, itu terlihat penuh anak muda dan wartawan yang akan meliput acara pengumuman para pemenang Kompetisi Menyanyi Bersama Harmoni Indonesia 2018. Kompetisi ini dilakukan dengan cara mengunggah video sendiri saat menyanyikan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa, dengan juri dari White shoes and the Couples Company, yang  juga menjadi band penghibur pada acara itu. Pemenang bersuara merdu, dari kategori single dan group, mendapatkan hadiah handphone Samsung. Semarak ceria. Selamat untuk pemenang.
18 Agustus 2018 Asian Games
20180910_023752Ini adalah tanggal yang bakal tercatat dalam sejarah kesuksesan bangsa Indonesia, Asian Games 2018 Opening Ceremony. Event internasional ini menjadi berita utama di media cetak dan elektronik di dalam dan luar negeri. Film pendek yang menyajikan aksi perjalanan Presiden Indonesia dari istana Bogor menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan mengendarai motor besar paspampres. Adegan lucu, menegangkan, empati dalam film pendek itu menjadi hiburan tersendiri dalam acara Pembukaan tersebut.
Ed_YUDO1442Kegembiraan dan antusiasme masyarakat menyambut Asian Games ini sungguh luar biasa. Kostum merah-putih berlalu-lalang, tumpah-ruah setiap harinya di seputaran Stadion Utama Senayan. Tiket semua cabang olahraga selalu habis terjual dan pemirsa televisi di rumah pun selalu siap terjaga menikmati liputan langsung dari arena pertandingan. Rasa haru pun selalu menyertai semua penonton setiap kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan menyertai pengalungan medali emas untuk para atlet Indonesia yang menjadi juara pertama dalam pertandingan. Luar biasa, 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu telah diraih para pahlawan olahraga kita. Perhelatan yang melibatkan dana besar dan tenaga kerja puluhan ribu, telah sukses diselenggarakan, bahkan juga sukses melebihi target perolehan medali.
IMG_20180903_134951_239Dalam situasi memprihatinkan, masyarakat Lombok yang sedang terkena bencana gempa bumi, Presiden bersama warga Lombok di pengungsian, turut menikmati hiburan acara Penutupan Asian Games 2018 yang tersaji indah membanggakan karya anak bangsa pada 2 September 2018, melalui layar lebar di lapangan terbuka, Lombok.
Agustus 2018, satu bulan penuh terisi berbagai kesibukan merah-putih, -mulai dari Harmoni Indonesia, Pendaftaran Capres/Cawapres, Kompetisi Menyanyi Lagu Nasional, Upacara Hari Proklamasi, dan ditutup Asian Games 2018-, yang menyadarkan kita semua bahwa rasa cinta bangsa memang butuh perawatan melalui berbagai acara lintas golongan berskala nasional. Siapa kita??? Kita Indonesia.
Iklan

Harmoni Indonesia 2018

2018_0805_07581500Pada awalnya hanyalah keprihatinan sosial atas kondisi bangsa yang carut-marut dalam jagad maya, namun juga nyata menghangat dalam jagad nyata, terkait dengan pilpres 2014, yang menerus hingga pilgub DKI dan potensial memanas menjelang pilpres 2019; lalu berkembang memancing tindakan.

Asian Games ke-2 di Indonesia yang segera dimulai pada 18 Agustus 2018 dan bulan ‘Kemerdekaan RI’ menjadi moment bagus untuk diselenggarakan event penggerak bangsa untuk turut memeriahkan dan mensukseskan acara Asian Games 2018, serta menyemangati para atlet Indonesia supaya lebih berprestasi dan sekaligus meningkatkan rasa kebangsaan dan Persatuan Indonesia. Event seperti apakah yang cocok untuk hal di atas?

2018_0805_08032200Setelah ngobrol bersama opa Sidarto, uda Firdaus Ali dkk., muncullah gagasan menyanyi bersama lagu-lagu nasional dari seorang Addie MS, maestro orkestra, untuk menjawab pertanyaan di atas. Ide tersebut muncul dari pengalaman Addie MS yang sukses memimpin nyanyi spontan bersama di balaikota DKI beberapa tahun yll. Harmoni Indonesia 2018 (HI2018) menjadi judul event yang kita pilih setelah rapat kesekian-kalinya.

IMG-20180803-WA0008Kamis, 26 Juli 2018 siang, Presiden Jokowi memanggil Watimpres pak Sidarto dan uda Firdaus Ali ke istana Bogor, untuk mendapatkan persetujuan Beliau melaksanakan HI2018 pada 5 Agustus 2018, sesuai keinginannya di pertemuan sebelumnya pada bulan Juni, sebelum Lebaran. Langsung, jungkir-baliklah panitia penyelenggara mempersiapkan HI2018 supaya nyata adanya.

Rapat-rapat internal panitia dan rapat dengan para pihak eksternal segera dilakukan. Permohonan bantuan ke TNI/Polri tak lupa kami layangkan, juga prosedur resmi perizinan ke berbagai pihak demi terlaksananya acara ini, juga kami penuhi. Lokasi rapat yang berpindah-pindah karena kapasitas ruang, kelengkapan sarana atau kedekatan dengan GBK sering terjadi. Tidak ada tempat yang tetap sebagai sekrerariat. Internet of Things menjadi sarana komunikasi sejak persiapan hingga terlaksananya event ini. Akrobat panitia terpaksa dilakukan dengan saling mengisi kekurangan dan melengkapinya. Mengagumkan, nada tinggi sering terdengar, kuping merah sering terasa, namun karena semangat yang sama untuk mewujudkan HI2018, maka kesabaran, kekompakan dan kerja cerdaslah yang akhirnya bisa memenangkan.

2018_0805_08230000Kamis, 2 Agustus 2018, perlengkapan panggung dan tenda-tenda mulai menumpuk di lokasi GBK Koridor Timur, siap dipasang. Sabtu, panggung berdiri megah dan LCD besar sebagai latar belakang masih dalam uji coba hingga malam hari. Video streaming teruji lancar untuk komunikasi gambar maupun suara, dengan berbagai kota dan negara lain.

2018_0805_07565800Minggu, 5 Agustus 2018 6.15, jalan di depan hotel Century, Senayan, padat dengan kendaraan dan berjubel massa merah-putih peserta HI2018 berlalu-lalang. Macet. Bus kementerian berderet menurunkan penumpang di Pintu 10 Senayan (depan TVRI) dan Pintu 5 (depan hotel Century). Belasan mobil golf berlalu-lalang menjemput para atlet penyandang cacat dan veteran ke Pintu 5 dan Pintu 10. Luarbiasa animo masyarakat untuk turut terlibat menyanyi lagu-lagu nasional bersama Presiden.

Jam 7.30an Presiden Jokowi turun dari mobil, yang masuk lingkungan GBK melalui Pintu Utama komplek Senayan dan berhenti di belakang panggung HI2018. Polo shirt lengan panjang putih berlogo merah bundar Harmoni Indonesia 2018 di dada kiri, terlihat cocok di badan beliau. Gagah.

20180805_102432Ketua Umum Firdaus Ali, Ketua Dewan Pengarah Watimpres Sidarto, Setkab, MenRisetDikti, Menko PMK menjemputnya ketika Presiden turun dari mobil dan sempat menemaninya ngobrol sebentar di holding room, hingga televisi RCTI siap tayang mulai jam 8.00. Sayang sekali, karena padatnya acara, beliau tidak sempat menyapa peserta di daerah melalui video streaming di ruang yang telah disediakan oleh EO Nicky, yang telah dilengkapi dengan LCD monitor dan terkoneksi dengan 34 ibukota propinsi di Indonesia dan 8 kota besar di negara tetangga. Namun demikian, beliau faham betul bahwa 2 jutaan peserta Harmoni Indonesia 2018 di seluruh Indonesia dan beberapa negara sahabat turut meramaikannya. Pukul 7.55 Presiden Jokowi muncul tersenyum dan melambaikan tangan di atas panggung diiringi teriakan histeris massa menyapanya, “pak Jokowiiii, pak Jokowiii”. Sedikit sisa waktu sebelum on-air, digunakan Presiden untuk menyalami para peserta paduan suara di atas panggung, yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, juga para Menteri dan beberapa Kepala Lembaga Negara.

Tepat 8.00, Presiden berdiri di atas podium tengah panggung dan baton mulai terayun di tangan sang dirigen, Addie MS, tanda mulai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua terlihat semangat, berdiri tegap, tertib dan musik keras terdengar melalui puluhan pengeras suara terpasang menyebar, mengiringi serentak alunan suara massa di atas panggung, depan panggung dan lebih dari 50 kota. Menggema lantang mengharukan. Luar biasa.. Media sosial instagram dengan tagar #HarmoniIndonesia2018 dan youtube, banyak sekali menayangkan peristiwa ini. Apa yang membuat antusiasme untuk terlibat menyanyi bersama lagu nasional ini? Wajah-wajah ikhlas penuh semangat itu tak akan berbohong, Harmoni Indonesia 2018 menjadi sarana ungkapkan rasa CINTA Tanah Air, CINTA NKRI, CINTA Persatuan. Jayalah negeriku INDONESIA.

Catatan:

Gambar dan Video dapat dilihat di Youtube dan Instagram bertagar #HarmoniIndonesia2018

Rekaman liputan televisi TVONE dan SCTV:

 

Foto-foto di belakang layar:

IMG-20180714-WA0004 20180803_153550 20180812_125221 20180731_193427 IMG-20180804-WA0013 IMG-20180805-WA0049 2018_0805_065012002018_0805_08122400 2018_0805_08150700

IMG-20180812-WA0023

Ruang Video Streaming

 

IMG-20180805-WA0081

Universitas Gajah Mada

 

IMG-20180806-WA0042

Universitas Indonesia

IMG_20180806_101059_075 IMG-20180806-WA0017 IMG-20180805-WA0062 2018_0805_06571400 2018_0805_07172500 IMG-20180806-WA0011 2018_0805_07190400

BrainDalam artikelnya di Forbes 28 Desember 2015 yang berjudul “Trump explained by Neuroscience”, Roger Dooley berpendapat bahwa “what people say they believe doesn’t always reflect their non-conscious beliefs“. Implicit association test (IAT) telah membuktikannya melalui survey yang dilakukan Washington Post/ABC News tentang isu hangat yang dilontarkan oleh Trump, yaitu ‘larangan imigrasi Muslim’. Hasil survey menunjukkan 60% sampel berpendapat bahwa melarang imigrasi Muslim adalah tidak bijaksana, demikian juga dengan 82% pendukung Demokrat. Bahkan 54% berpendapat bahwa Islam adalah agama damai. Namun, IAT menunjukkan hal sebaliknya, bahwa 53% masyarakat AS, sebagai sampel pengujian, secara bawah-sadar lebih menyukai pelarangan imigrasi Muslim.
Artikel di harian Inggris, Independent 5 Juni 2016, yang berjudul “Donald Trump: Is this why the controversial Republican candidate keeps winning?”, Max Ehrenfreund menulis tentang rhetorika Trump yang membangkitkan rasa ketakutan bawah sadar masyarakat AS akan kematian, karena ancaman terorisme dan serbuan imigrasi, berhasil menaikkan dukungan sebesar 1,66 poin (skala 5).
Sehubungan dengan artikel-artikel sejenis diatas dan isu-isu Neurosciences atau Neuromarketing yang sedang hangat di AS, khususnya sejak Trump menggunakan Social Neurosciences untuk membantu pemenangan pilpres disana, buku The Brain That Changes Itself  karya Norman Doidge M.D., yang diterbitkan oleh Penguin 2007, menjadi pilihan acuan untuk memuaskan keingintahuan.
Dalam Kata Pengantar, Doidge menuturkan bahwa buku ini menjelaskan tentang penemuan revolusioner atas kemampuan Otak untuk mengubah dirinya sendiri, sehingga tidak tetap (fixed) seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Saat itu mainstream neurosains berpendapat bahwa kerusakan atau cacat otak sejak bayi, tak akan tersembuhkan selama hidupnya. Keyakinan tersebut didasarkan atas 3 hal, yaitu bahwa: jarang terjadi kesembuhan 100% dari kerusakan otak, ketidak-mampuan meneliti aktifitas mikroskopis kehidupan otak, dan kepercayaan bahwa otak ibarat mesin yang tak pernah tumbuh atau mampu memperbaiki dirinya sendiri. Seringkali otak juga dianggap sama dengan komputer, yang kapasitas hardwarenya tidak berkembang dengan sendirinya, sehingga muncul istilah hardwire dengan konstruksi koneksitas dan fungsi otak yang tak berubah.
Akhir 1960an, Doidge sebagai psikiatris dan psikoanalis mulai berhubungan dengan para ahli neurosains yang sedang hangat mendiskusikan tentang neuroplasticity.
association_cortexBuku yang sebetulnya membahas tentang hal yang sangat rumit, namun Doidge mampu menyajikannya dengan sangat nyaman, bahkan untuk pembaca yang sangat awam tentang Otak. Lembar-demi lembar membacanya, semakin menarik untuk tahu lebih banyak tentangnya. Berbagai kasus yang berhubungan dengan fungsi otak, Doidge menyajikannya dalam 11 bab dan 2 Lampiran, lengkap dengan Catatan dan References di bagian akhir bukunya.
Bab 1. A Woman Perpetually Falling…
Rescued by the Man Who Discovered the Plasticity of Our Senses
Kasus seorang perempuan yang tak mampu berdiri tenang karena terganggu otak keseimbangannya sehingga merasakan dunia yang seolah berputar, dan bagaimana mengatasinya, menjadi contoh pertama kasus neuroplastisitas yang disajikan Doidge.
Cheryl Schiltz, perempuan yang mengalami gangguan vestibular apparatus, sensor keseimbangn tubuh. Rasa akan jatuh selalu dirasakannya, bahkan ketika tubuh sudah terbaring di lantai. Posisi tubuhnya selalu dalam keadaan berjaga-jaga dengan kaki merenggang dan tangan terentang mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Menderita. Gangguan psikologis yang sering menyebabkan penderita ingin bunuh diri. Keseimbangan tubuh adalah kemampuan yang sangat penting dalam hidup kita, namun tak sepenuhnya kita sadari, bahkan tidak masuk dalam kelompok pancaindera, hingga kemampuan itu terganggu.
Menurut Cheryl, dirinya pernah mengkonsumsi obat antiabiotik Gentamicin melebihi dosis yang dibutuhkan. Efek samping samping Obat ini, dapat menyebabkan masalah ginjal dan kerusakan saraf serius, berakhir dengan tuli permanen dan masalah keseimbangan.
Paul Bach-y-Rita banyak disebut dalam bab ini karena keahliannya tentang neuroplastisitas, yang mampu mensiasati gangguan vestibular aparatus Cheryl Schiltz hingga mampu berdiri tegak kembali dengan mantab, tanpa merasa khawatir akan jatuh. Konsep neuroplastisitas yang dipergunakan Paul Bach-y-Rita adalah bahwa fungsi neuron yang rusak/terganggu, dapat diambil atau digantikan oleh neuron lainnya. “one function, NOT one location”.
Bab 2. Building Herself a Better Brain
A Woman Labeled “Retarded” Discovers How to Heal Herself
Barbara Arrowsmith Young, lahir di Toronto, Canada 1951, mempunyai kemampuan memori audio dan visualnya sangat bagus, frontal lobe berkembang bagus. Namun otaknya “asimetris”, yang berarti bahwa kemampuan yang luarbiasa tersebut berdampingan dengan area keterbelakangan. Barbara mengalami kesulitan logika sebab-akibat, merangkai kata, lamban berpikir real-time, kontrol spasial dan sulit berbicara (Broca area).
Broca areaHasil penelitian Mark Rosenzweig dari Universitas Californi, Berkeley terhadap perbedaan antara tikus yang dilatih dan yang tidak terlatih, menunjukkan bahwa tikus terlatih akan mempunyai neurotransmitters lebih banyak, lebih berat dan mempunyai pasokan darah ke otak lebih baik. Mark dianggap sebagai ilmuwan pertama yang menunjukkan kenyataan neuroplastisitas dengan bukti bahwa, dengan beraktifitas, dapat menghasilkan perubahan struktur otak.
Mengetahui hasil penelitian Rosenzweig tersebut, Barbara giat berlatih sendiri untuk memperbaiki otaknya. Dan memang Barbara berhasil memperbaiki logika, dan dapat berkomunikas real-time tanpa kesulitan. Sukses.
3. Redesigning the Brain
A Scientist Changes Brains to Sharpen Perception and Memory, Increase Speed of Thought, and Heal Learning Problems
Pada bab ini Penulis menjelaskan tentang adanya ilmuwan neurosains yang berhasil melakukan therapi syaraf untuk mempertajam ingatan dan persepsi, juga meningkatkan kecepatan berpikir dan mengatasi masalah kesulitan belajar.
Michael Merzenich, 61 tahun, peneliti neuroplatisitas ternama, mempunyai keahlian meningkatkan kesadaran dan kemampuan berpikir seseorang dengan cara melatih otak dibagian tertentu, atau brain maps. Melalui penelitiannya, dia meyakini bahwa otak manusia mampu mengubah sendiri stuktur dan fungsinya (neueoplastisitas). Berbasis konsep neuroplatisitas inilah Merzenich berhasil membantu anak-anak berkesulitan belajar, hingga mampu meningkatkan aspek kognitif dan perseptifnya. Menurutnya, dengan melatih keahlian baru secara disiplin dan sangat terkontrol, akan dapat mengubah ratusan juta, bahkan milyaran koneksi antar sel-sel syaraf dalam jaringan otak (brain maps). Beberapa kasus, seseorang yang menderita kesulitan kognitif selama hidupnya, mampu menjadi lebih baik setelah mendapat therapi selama 30 hingga 60 jam saja. Program therapi tersebut juga mampu membantu anak-anak autis. Namun demikian, perubahan itu akan semakin sulit bila pelatihan dilakukan dimasa tua, karena sudah melewati critical period.
Critical period adalah konsep tentang rentang waktu kemampuan otak untuk tetap mampu mengubah struktur dan fungsi dirinya, yaitu pada masa anak-anak, semakin tua maka semakin rendah plastisitas otak. Kemampuan berbahasa mempunyai critical period yang dimulai saat masih kanak-kanak dan akan berhenti antara usia 8 tahun hingga saat pubertas. Setelah lewat masa critical period, kemampuan seseorang untuk belajar bahasa kedua, yang tidak diolah di bagian otak yang sama seperti halnya bahasa ibu, semakin terbatas. Namun demikian, justru menjadi lebih baik bagi usia dewasa untuk mulai belajar bahasa kedua untuk meningkatkan kemampuan ingatan, karena dituntut lebih fokus sehingga melatih plastisitas otak yang sudah mulai menurun.
4. Acquiring Tastes and Loves
What Neuroplasticity Teaches Us
Pada bab ini Doidge banyak mengacu pada pendapat Sigmund Freud tentang perkembangan psikologi anak yang berhubungan dengan aspek seksual.
Menurut Freud, “The sexual instincts are noticeable to us for their plasticity, their capacity for altering their aims”. Ini merupakan salah satu kontribusi penting Freud dalam pemahaman ilmu syaraf otak, yaitu tentang adanya masa critical periods untuk plastisitas seksual.
Menurut Freud, pelecehan seksual terhadap anak-anak akan sangat membekas atau traumatik, mengingat berada pada masa critical period, yang akan mempengaruhi sikap, pandangan bahkan orientasi seksual anak di kemudian hari. Sebuah badan penelitian di AS mengkonfirmasi pendapat Freud bahwa bila relasi sosial masa kecil seseorang mengalami masalah, akan “mengendap” dalam otak anak-anak tersebut dan berdampak pada masa dewasanya. Banyak Embryologist berpendapat bahwa perkembangan sistem syaraf otak dimulai sejak masa embrio, sehingga bila terjadi gangguan pada masa tersebut, akan sangat berdampak pada sisa kehidupannya. Dapat disimpulkan bahwa pendapat Freud tentang perkembangan seksual pada masa pertumbuhan awal manusia, sesuai dengan konsep critical periods, dimana pada rentang waktu tertentu di masa kecil, perkembangan sistem dan peta otak baru banyak dipengaruhi stimulasi oleh orang-orang disekitarnya.
5. Midnight Resurrections
Stroke Victims Learn to Move and Speak Again
Bab ini bercerita tentang penelitian Edward Taub terhadap penderita stroke yang bisa disembuhkan, karena prinsip neuroplastisitas, “use it or lose it”. Therapi yang disiplin, sabar dan menerus ternyata mampu menyembuhkan. Edward Taub, mahasiswa Kedokteran di Universitas New York, berhasil memperoleh Ph.D nya melalui penelitian terhadap penyembuhan kera yang lumpuh salah satu lengannya melalui therapi neurosains. Proses penyembuhan dari penelitian Taub ini membuktikan bahwa neuroplastisitas mampu digunakan untuk therapi penyembuhan penderita stroke.
Stroke adalah serangan keras mendadak terhadap otak, dari dalam, akibat penyumbatan pembuluh darah arteri sehingga memutus pasokan oksigen ke otak. Stroke menjadi penyebab utama disability kaum dewasa saat ini. Dokter ahli di Ruang Tanggap Darurat mungkin saja masih mampu untuk mencegah akibat stroke lebih lanjut pada pasien stroke, dengan cara membuka penyumbatan pembuluh darah atau menghentikan pendarahan otak, namun bila kerusakan telah mulai terjadi, bahkan pengobatan pun akan sedikit membantu untuk dapat menyembuhkan seketika. Pada beberapa penderita stroke, mereka mampu sembuh dengan berlatih sendiri, namun begitu mereka berhenti, maka bahkan therapi tradisional pun akan susah membantunya.
Bab 6 Brain Lock Unlocked
Using Plasticity to Stop Worries, Obsessions, Compulsions, and Bad Habits.
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. OCD ini termasuk gangguan psikis yang paling sering dialami seseorang selain phobias, post-traumatic stress disorders, dan panic attacks. Kekhawatiran akut sering dirasakan penderita OCD, seperti khawatir akan sakit, anak akan celaka, pintu belum terkunci, membunuh anak tanpa sengaja, merasa tidak nyaman karena lukisan yang tergantung miring, dsb.  Semakin penderita OCD memikirkan kekhawatirannya, maka semakin terbenam dia terhadap ketakutannya, dan sulit melepaskannya.
Gangguan OCD sulit disembuhkan. Medikasi dan therapi perilaku (behaviour therapy) hanya mampu mengurangi penderitaan, tidak menyembuhkan. Jeffrey M. Schwartz telah mengembangkan penanganan yang efektif berbasis neuroplastisitas, yang mampu membantu tidak hanya untuk penderita OCD, namun juga untuk kita semua yang selalu merasa khawatir terhadap banyak hal yang tak nyata setiap harinya.
Pada bab ini Jeffrey M. Schwartz, dalam bahasa awam, sangat bagus menjelaskan tentang penyebab,  proses dan adanya tiga bagian otak yang hiperaktif (orbital frontal cortex, cingulate gyrus, caudate nucleus), sehingga menyebabkan terjadinya gangguan OCD, serta bagaimana mengatasinya.
Pada umumnya, ada tiga hal yang terjadi bila kita membuat kesalahan, yaitu perasaan bersalah, bingung dan bermaksud memperbaikinya, kemudian berhasil memperbaiki, perasaan lega, selesai dan lanjut dengan aktifitas berikutnya (move on). Pada penderita OCD, perasaan bersalah dan kebingungan terus berlanjut tanpa bisa move on, walaupun telah sukses memperbaiki kesalahan. Gejala ini yang disebut Schwartz sebagai OCD Brain Lock, karena ada bagian otak yang hiperaktif dan tetap on (locked). Contoh, kekhawatiran menerus karena perasaan bersalah belum mematikan kompor di rumah, walaupun kemudian sudah mematikannya. Penyebab OCD Brain Lock bisa banyak hal, salah satunya genetis. Namun bisa juga disebabkan karena infeksi pada caudate nucleus. Pelatihan atau therapi dapat menyembuhkannya.
Schwartz mendidik para pasiennya untuk dapat membedakan antara Bentuk umum OCD, yaitu Khawatir, yang terus mendesak masuk dalam pikiran sadarnya, dan Isi dari obsesinya (khawatir racun, penyakit, matikan kompor, dsb.). Semakin penderita fokus pada Isi, maka kondisi OCD akan semakin buruk. Perlu ada pendamping untuk selalu mengingatkan supaya fokus pada aktifitas positif yang menyenangkan dan tidak larut dalam Isi (content) OCD. Tidak mudah, namun terbukti memang bisa disembuhkan. Use it or lose it.
Bab 7 Pain
Rasa sakit, senang, nyeri bahkan orgasme semua ada di otak. Ini dibuktikan dengan banyaknya laporan medis yang mengatakan adanya keluhan rasa sakit di bagian badan yang sebetulnya sudah diamputasi karena suatu hal, “Phantom Limbs”. Ramachandran, Neurologist, menggunakan konsep ‘plastisitas otak’ untuk mengatur ulang pemikiran kita. Dia menunjukkan bahwa kita mampu mengatur ulang ‘isi’ otak kita melalui pelatihan yang benar, tanpa rasa sakit dengan menggunakan imajinasi dan persepsi.
Pada umumnya, setelah signal rasa sakit dikirim ke otak dari lokasi cedera/penyakit pada tubuh, maka kemudian terasalah sakit itu di tempat cedera. Namun, bisa terjadi, cedera merusak jaringan tubuh dan juga syaraf di sistem perasa otak yang menyebabkan “neuropathic pain”. Ketika peta perasa sakit di otak, rusak/terganggu atau terinvasi hingga signal rasa sakit terus “berbunyi”, menyebabkan kita merasa cedera itu masih terus ada, sedangkan sebetulnya masalah terjadi di otak. Inilah yang terjadi dengan “phantom limbs”, luka di ujung jari seolah masih terjadi walaupun lengan tangan sudah teramputasi. Phantom limbs akut hingga menjadi “phantom pain”, dirasakan oleh 95% dari total pasien amputasi, dan ini mengkonfirmasi adanya korelasi pengubahan jumlah plastisitas otak dengan pengalaman penderita “phantom pain”.
Ramachandran berpendapat bahwa terjadinya gangguan/invasi peta rasa sakit disebabkan adanya perkembangan koneksi jaringan baru. Bila terjadi hilangnya anggota badan, ia meyakini bahwa peta otak kekurangan pasokan stimulasi, yang selanjutnya melepaskan penyebab pertumbuhan syaraf, sehingga berdampak pada hadirnya neuron dari peta-peta terdekatnya, dan memancarkan signal ke dalamnya. Selain itu, peta rasa tidak hanya mengkerut, namun juga terjadi kekacauan fungsi atau bahkan bisa tidak berfungsi.
Bab 8 Imagination
Di Laboratorium stimulasi magnetik otak, Boston, pernah dilskuksn percobaan untuk membuktikan bahwa antomi otak bisa diubah, dengan melakuksn pelatihan imaginasi. Sepersngkat alat kecil diletakkan di sebelah kiri kepala Doidge. Alat tersebut memancarkan transcranial magnetic stimulation (TMS) dan akan mempengaruhi  perilaku. Di dalam alat tersebut terdapat kumparan kabel tembaga yang akan menghasilkan medan magnet, ketika arus listrik dialirkan, dan gelombang elektromagnet mengalir menembus jaringan otak melalui axon (sejenis kabel syaraf) hingga mencapai jaringan respon motor tangan di lapisan terluar cerebral cortex. Setiap kali medan magnet dipancarkan oleh alat tersebut, maka empat jari ntangan kanan akan bergerak, karena stimulasi dilakukan terhadap 0.5 cm kubik pada bagian otak yang berisi jutaan sel, jaringan respon motor tangan. Untuk kebutuhan permanen, elektrode kecil bisa ditempatkan dalam jaringan otak melalui pembedahan tengkorak untuk menstimulasi motor atau sensor cortex.
Catatan:
An axon or nerve fiber, is a long, slender projection of a nerve cell, or neuron, that typically conducts electrical impulses known as action potentials, away from the nerve cell body. The function of the axon is to transmit information to different neurons, muscles, and glands.
Pascual-Leone adalah yang pertama menggunakan TMS untuk memetakan bagian-bagian respon otak, bisa untuk menghidupkan area otak, atau bahkan menutupnya, bergantung besarnya intensitas atau frekuensi yang dipergunakan. Untuk memastikan fungsi spesifik sebagian area otak, TMS dipergunakan untuk mematikan sementara area otak tersebut dan pengamatan dilakukan untuk mengetahui fungsi mental yang tidak bekerja. Dia juga melakukan pengamatan terhadap difabel buta yang mempelajari huruf Braille. Hasil TMS dalam pemetaan otak menunjukkan bahwa peta area jari-jari yang dipergunakan untuk membaca huruf Braille, lebih luas daripada peta area jari-jari lainnya, bahkan peta area motor juga meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kecepatan membaca jumlah kata per satuan waktu. Peningkatan ini mengkonfirmasi bahwa pelatihan hal baru, akan meningkatkan plastisitas otak (neuroplasticity).
Pascual-Leone juga melakukan percobaan untuk mengamati pelatihan imajinasi hingga mampu mengubah struktur dan fungsi otak. Dua group pelatihan bermain organ terdiri dari satu group “mental practice”, hanya melakukan stimulasi gerak tanpa keyboard, dan group “physical practice” yang menggunakan keyboard sebenarnya. Masing-masing mendapatkan waktu pelatihan yang sama, 5 hari dan pemetaan otak dilakukan sebelum dan setelah pelatihan setiap harinya. Hasil setelah 5 hari menunjukkan keduanya mengalami perubahan yang sama pada peta otak dan signal motor ke otot-otot. Tingkat akurasi dua group tersebut juga sama, pada hari ketiga. Namun, perubahan setelah hari ke-5 menunjukkan bahwa kemajuan mental practice tidak sebagus physical practice. Ketika mental practice mendapatkan 2 jam tambahan waktu berlatih, menunjukkan hasil yang sama dengan physical practice saat berlatih 5 hari. Ini bisa disimpulkan bahwa mental practice merupakan cara efektif untuk nerlatih keahlian fisik.
Anatoly Sharansky, aktifis HAM Uni Soviet, dipenjara selama 9 tahun dengan tuduhan sebagai mata-mata AS. Untuk menjaga kemampuan berpikir, dia berlatih catur dalam bayangan (tanpa papan catur), “mental chess”. Setelah bebas, Sharansky menjadi menteri di kabinet Israel dan ketika Garry Kasparov bermain catur melawan Perdana Menteri dan menteri-enteri kabinetnya, hanya Sharansky yang tak terkalahkan.
Rüdiger Gamm, Pemuda Jerman yang dikenal sebagai manusia kalkulator karena kemampuan menghitung cepat. Sejak usia 24 tahun dia berlatih komputasi empat jam per hari hingga mampu menghitung cepat perkalian yang rumit. Dan menjadi kaya karenanya dengan seringnya tampil di televisi. Anders Ericsson, psikolog yang ahli dalam bidang pengembangan keahlian, berpendapat bahwa manusia sejenis Gamm, menggunakan memori jangka-panjang untuk menyelesaikan masalah matematik, sementara manusia pada umumnya menggunakan memori jangka pendek. Seorang genius tidak menyimpan jawaban dalam otaknya, namun menyimpan “kunci” atau strategi untuk membantu menjawabnya.
9. Turning Our Ghosts into Ancestors
Psychoanalysis as a Neuroplastic Therapy
psychoanalysisBab ini menarik untuk dipelajari karena contoh kasus yang berhubungan dengan peristiwa menyedihkan di masa kecil, yang tersimpan dalam ingatan “bawah sadar”, hingga berdampak pada perilaku masa tuanya. Tidak banyak psikiatris pada masa awal 1990an, yang berpendapat adanya plastisitas otak, bahkan umumnya beranggapan bahwa dalam usia menjelang 60 tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki gangguan psikis seseorang yang sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Psikoanalisa yang dilakukan Sigmund Freud membuktikan hal sebaliknya, justru sesuai dengan prinsip Plastisitas.
Tahun 1895 Freud menyelesaikan penelitian “Project for a Scientific Psychology”, yang hingga kini masih banyak dikagumi  oleh para ahli psikologi, yaitu salah satu model neurosains yang komprehensif untuk mengintegrasikan antara otak dan pikiran. Freud menjelaskan tentang synapse yang bisa berubah karena proses pembelajaran. Dia juga mulai memperkenalkan tentang ide-ide neuroplastisitas.
10. Rejuvenation
The Discovery of the Neuronal Stem Cell and Lessons for Preserving Our Brains
Bagian ini tentang usaha keras seorang Dr. Stanley Karansky, yang berusia 90 tahun dan pernah mangalami operasi jantung, dalam melatih plastisitas otak untuk menghindari penurunan kognitif/memory  menggunakan uji pendengaran melalui aplikasi komputer, juga berbagai aktifitas seperti diskusi atau travelling, dan menghindari hal-hal detail yang rumit. Aktifitas fisik, selain untuk membentuk neuron baru, juga untuk merawat kesehatan otak dengan memenuhi pasokan oksigen. Menurutnya, dia tidak sepenuhnya termasuk orang yang optimis, namun menyadari sepenuhnya bahwa banyak hal bisa terjadi dan diluar kontrol dirinya. Yang bisa dipelajari dan dilakukannya adalah merespon kondisi yang ada, untuk itu diperlukan banyak pelatihan. Setelah 7 minggu pelatihan, ia merasakan lebih responsif, aktif dan cekatan. Dengan berbagai bukti penelitian yang ditulis pada bab ini, pertumbuhan sel syaraf adalah nyata.
11. More than the Sum of Her Parts
A Woman Shows Us How Radically Plastic the Brain Can Be
Bab ini tentang perjuangan hidup seorang perempuan 29 tahun, Michelle, dengan otak kiri yang tidak berkembang sejak masih berada dalam rahim ibunya. Dia mampu berbicara normal dan bekerja paruh waktu karena peran normal otak kiri telah diambil alih oleh otak kanannya. Terbukti doktrin Localizationism, yang meyakini bahwa setiap titik dalam otak punya peran tetap dan tak tergantikan, adalah salah. Neuroplasticisity adalah benar adanya. Kekurangan yang dialami adalah mudah tersesat dan kesulitan memahami hal-hal abstrak, namun mempunyai kemampuan luar biasa dalam hal ingatan dan perhitungan matematis. Normal dalam merasakan cinta, doa, bicara, membaca juga mampu memahami berita. Mengingat aktifitas motorik tubuh bagian kanan, banyak dikontrol oleh otak kiri, dan Michelle bermasalah dengan otak kiri, maka sering kesulitan melihat obyek di sebelah kanannya. Hukum plastisitas, yang mampu mengatur/memperbaiki fungsi otak dengan sendirinya, berlaku dalam dirinya, hingga dia mempunyai pendengaran yang sensitif dan sangat tajam.
Appendix 1 The Culturally Modified Brain
Not Only Does the Brain Shape Culture, Culture Shapes the Brain
Penelitian neuroplastisitas menunjukkan bahwa setiap aktifitas yang telah dipetakan dalam otak, seperti aktifitas fisik, aktifitas sensorik, pembelajaran, berpikir dan berimajinasi, akan mengubah struktur dan fungsi otak. Termasuk juga di dalamnya adalah aktifitas kebudayaan, seperti membaca, berkesenian, berbahasa, dll. Maka muncul istilah The Culturally Modified Brain, dimana hubungan antara otak dan kultur adalah timbal-balik, yaitu sejauh terjadi tindak atau rangsangan kultural, maka akan terjadi juga respon atau perubahan struktural otak. Sebaliknya, akibat kerja otak, maka terjadilah perubahan kultur.
Cultural Activities Change Brain Structure
Foto otak musikus menunjukkan bahwa mereka mempunyai beberapa area pada otak (motor cortex dan cerebellum) yang berbeda dengan otak nonmusicians. Semakin sering seorang musikus berlatih, semakin besar peta otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan respon berkesenian.
Are Our Brains Stuck in the Pleistocene Age?
Dalam kaitan dengan kehidupan sosial, pertanyaan dalam bab ini menjadi menarik, mengingat masih adanya pemikiran dalam dunia pengobatan dan sains, bahwa anatomi otak adalah tetap, tidak berubah terhadap waktu (fixed). Teori bahwa otak tidak berubah ini berujung pada pendapat bahwa bila otak atau mental sudah bermasalah/terganggu pada saat masih bayi, maka akan tetap demikian selama hidupnya. Stigmatisasi sosial terhadap retardasi mental akan terjadi, bahkan sejak seseorang masih bayi.
Para pemburu-pengumpul sejak zaman Pleistocen mempunya struktur dan fungsi otak yang plastis, terus berubah fisik dan fungsinya. Dinamis menjawab rangsangan lingkungannya, tidak tetap atau diam (fixed). Setiap saat kita belajar hal baru atau mengembangkan kemampuan yang ada, termasuk berkembangnya kebudayaan modern yang semakin menuntut kemampuan spesialisasi, maka berubah pulalah struktur dan fungsi otak kita. Bila kultur tercipta karena kerja otak, maka demikian pula sebaliknya, kultur akan mengubah struktur dan fungsi jaringan otak.
Why Human Beings Became the Preeminent Bearers of Culture
Ahli neurosains, Robert Sapolsky berpendapat bahwa antara manusia dan simpanze hanya dibedakan sedikit varian genetis, atau mempunyai kesamaan DNA hingga 98%. Perbedaan ada pada kemampuan gen manusia yang mampu membentuk neuron jauh lebih banyak, 100 milyaran neuron, daripada simpanze. Hal ini yang menyebabkan ukuran otak simpanze hanya 1/3 volume otak manusia. Seperti halnya otak manusia, otak simpanzee pun juga bersifat plastis, namun jumlah neuron yang jauh lebih banyak pada otak manusia, menyebabkan jumlah jaringan koneksitas neuron otak manusia justru semakin jauh lebih banyak, berbeda secara exponensial dengan jumlah jaringan pada otak simpanze. Setiap neuron bisa berkoneksi dengan ribuan neuron lainnya.
Cortex manusia mempunyai 30 milyar neuron, dan ini bisa membentuk 1 juta milyar koneksi synaptic (lihat video Transmission across a synapse). Jaringan koneksi yang sedemikian luas itulah yang menyebabkan otak manusia mempunyai julukan sebagai benda hidup yang paling rumit di jagad raya ini. Dan oleh karenanya,  ia mampu melakukan perubahan mikrostruktur secara berkelanjutan, dan juga mampu melakukan begitu banyak fungsi dan perilaku yang berbeda, termasuk aktivitas budaya  yang berbeda.
Gerald Edelman, ahli biologi, pemenang hadiah Nobel untuk bidang Physiology 1972, berpendapat bahwa bagian-bagian kecil terpisah dari berbagai komponen heterogen yang independen, bila saling terkoneksi, akan terintegrasi dan menghasilkan fungsi baru. Bila kehilangan kemampuan salah satu indera, misal pendengaran, maka indera perasa lainnya akan semakin aktif untuk ambil alih fungsi indera pendengar. Bahkan, sensitifitasnya semakin tinggi kuantitas dan kualitas pengolahan pasokan signalnya, mampu mendengar dengan otak (bukan dengan telinga). Misalnya, mampu membaca gerak bibir lawan bicara sebagai alat komunikasi pengganti telinga, lebih mudah daripada orang biasa. Perubahan satu modul otak, pendengaran, akan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi modul lain (misal modul penglihatan), sehingga kehilangan kemampuan pendengaran bisa ditanggulangi dengan lebih berfungsinya penglihatan.
When the Brain Is Caught Between Two Cultures
Perubahan budaya atau kultur yang terjadi karena perpindahan domisili atau migrasi, merupakan hal tersulit yang butuh usaha keras dalam otak kita untuk menyesuaikannya. Tanpa disadari, segala tindakan atau respon kita sehari-hari, – misalnya cara berbicara, berkomunikasi, selera makan, musik dan semua tindakan lain yg selama ini dilakukan tanpa berpikir – sebenarnya terbentuk dalam otak dalam proses yang lama dan menerus sehingga mengubah struktur/fungsi jaringan otak (brain maps) dan menyebabkan respon tindakan keseharian seolah terjadi secara natural. Perubahan kultur menyebabkan kesadaran bahwa semua respon tindakan butuh ‘pelatihan otak’ supaya terbentuk brain maps baru. Culture shock is brain shock.
Neuroplasticity and Social Rigidity
Seiring bertambahnya usia, neuroplastisitas semakin rendah, atau semakin sulit merespon aktifitas semesta. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung mengabaikan atau melupakan, atau bahkan mendiskreditkan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan atau persepsi yang dipunyainya, karena membutuhkan usaha pemikiran kritis untuk meresponnya. Atau, lebih tepatnya, lebih nyaman dengan mempertahankan strukstur yang sudah ada dalam jaringan otaknya. Bila ada perbedaan antara struktur  internal neurocognitive dengan realitas dunia, maka seseorang cenderung berpikir untuk mengubah realitas. Disini Wexler berpendapat bahwa dalam era glibalisasi, yang seringkali terjadi konflik budaya, akan menyebabkan banyak frustrasi sosial karena sudah rendahnya neuroplastisitas.
Bruce Wexler, psychiatrist dan peneliti dari Yale University berpendapat bahwa di masa kecil, otak kita akan terbentuk dengan mudah untuk dapat berreaksi terhadap segala aksi semesta dengan berkembangnya struktur neuropsychologi, termasuk di dalamnya adalah kemampuan menangkap gambaran dan repersentasi dari jagad-raya ini. Struktur tersebut membentuk basis jaringan sel syaraf otak sehingga dapat berpersepsi, berperilaku dan berkeyakinan bahkan sampai hal yang rumit, seperti berideologi. Bila struktur tersebut dibentuk sejak kecil dalam proses yang lama, maka akan mengendap dengan sendirinya dan menjadi apa yang biasa disebut sebagai ‘bawah sadar’, yang seolah natural.
Wexler juga menegaskan bahwa meskipun daya plastisitas otak semakin berkurang seiring bertambahnya usia, namun identitas seseorang masih dapat diubah sesuai hukum neuroplastisitas, menggunakan cara yang biasa disebut brain washing. Dengan,demikian, seseorang dapat ‘dihancurkan’ (identitas dirinya), untuk kemudian dibangun kembali, atau setidaknya ditambahkan struktur neurocognitifnya, melalui pelatihan massal yang ketat terkontrol dalam kondisi reward/punishment.
A Vulnerable Brain—How the Media Reorganize It
Era Internet of Things perlu menjadi perhatian penting, khususnya dalam perkembangan otak anak. Otak manusia modern ini banyak dibentuk oleh pengaruh keterpaparan Internet, juga televisi, video game, gadget dan peralatan elektrononik modern lainnya. Penelitian terhadap lebih dari 2.600 anak menunjukkan bahwa semakin belia anak-anak menggemari atau terpapar televisi, antara usia satu atau tiga tahun, akan mengalami masalah dalam hal kemampuan memberi perhatian atau fokus pada masa belajarnya kemudian.
Edward Hallowell, psychiatrist dari Harvard yang ahli dibidang masalah genetis  Attention Deficit Disorder (ADD), telah melakukan penelitian adanya relasi antara media elektronik dengan meningkatnya penurunan kemampuan perhatian/fokus anak (bukan genetis). Media mengubah otak kita bukan karena pesan isinya (content), namun justru karena media itu sendiri. McLuhan berpendapat, setiap media akan mengatur otak dan cara berpikir kita, dengan cara unik, yang berdampak jauh lebih signifikan daripada dampak yang disebabkan oleh pesan contentnya. Seseorang yang sudah kecanduan bermain video game, akan menunjukkan gejala ketagihan untuk terus bermain, malas beraktifitas lain dan merasa ceria bila sedang bermain. Pola tindakan dalam video game seperti, cuts, edit, zoom, short cut dsb, akan mengubah otak, dan akan mempengaruhi tindakan nyata keseharian. Mengingat peristiwa dalam siaran televisi berlangsung cepat, hanya peristiwa penting saja, tidak seluruh proses kejadian (editing), maka penonton akan terpaku dan semakin sulit meninggalkan televisi, bahkan saat penonton berkomunikasi dengan sesamanyapun, mata tetap terpaku ke layar televisi. Akibat berbahayanya adalah, aktifitas berguna lainnya seperti membaca, berkomunikasi dengan sesama, perhatian saat belajar, menjadi semakin sulit. Ingat, budaya akan membentuk otak kita, karena hukum neuroplastisitas.
References:

Don Quixote

Screenshot_20180615-225446Nama Don Quixote rasanya sering sekali kita dengar sejak dulu, yang terbayang saat itu adalah cerita tentang pria parlente yang suka berbohong. Namun seperti apa persisnya cerita itu, tidak tahu. Nopember 2017, di pojok toko buku Gramedia Semarang, kutemukan buku tipis kecil terbitan Immortal, dan baru kubaca saat mudik Lebaran 2018 ini.
 …
Novel pendek Spanyol berjudul asli Don Quixote de la Mancha karya Miguel de Cervantes (Spanyol, 29 Sep. 1547 – 22 Apr 1616) yang terbit di tahun 1605 and 1615 ini sudah lama ingin kubaca. Di berbagai tautan di internet, selalu kutemukan rasa kekaguman terhadap novel ini, banyak yang menyebutkan sebagai “novel modern Barat pertama”.
 …
Bahkan sejak halaman pertama novel terjemahan dalam bahasa kita ini, tepatnya dalam Kata Pengantar, aku sudah merasa aneh membacanya. Pengakuan Cervantes dalam bab Pendahuluan di penerbitan buku asli keduanya yg berjudul Don Quixote de la Mancha, pada tahun 1615, adalah bukan karya asli Cervantes, adalah aneh dan mengejutkan. Betulkah pernyataan ini? Atau ini sudah menjadi bagian dari cerita tentang Kebohongan? Entahlah, aku telan saja permainan kata dalam novel ini. Absurd, kehidupan penuh kebohongan dan obsesi atas kemenangan, nyata memanusia rasanya.
 …
Novel ini dibagi dalam 16 cerita pendek bersambung tentang petualangan Don Quixote. Sepanjang cerita, berisi tentang kegilaan Don Quixote yang merasa dirinya sebagai ksatria tak terkalahkan, yang membasmi kejahatan dan selalu berpakaian perang, lengkap dengan tombak, tameng, helm dan kuda. Tak lupa Don Quixote juga selalu membanggakan putri petani, Dulcinea del Toboso, sebagai perempuan tercantik yang dicintainya.
 …
Cerita dimulai dengan perkenalan diri Don Quixote (50 tahunan) yang gemar membaca buku-buku tentang ksatria pembasmi kejahatan. Petualangan penuh mimpi kegilaan berbayar kehancuran fisik dan kenyataan, ditemani kuda, Rozinante, dan pengawal setia, Sancho Panza, yang kesadarannya terkalahkan oleh utopia. Bagaimana akhir cerita? Silahkan membacanya.
 …
Bila sulit ditemukan buku terjemahannya, bisa dibeli ebooknya di Kindle Amazone.

Guns, Germs and Steel

Screenshot_20180525-003742Guns, Germs, and Steel adalah buku karya Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi dari Universitas California (UCLA), yang diterbitkan pertama kali di tahun 1997, dan setahun kemudian memperoleh penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Non-fiction.
…..
Kalimat pembuka di Kata Pengantar buku ini bisa menjadi penunjuk maksud penulisnya, “Buku ini hendak menyajikan riwayat singkat umat manusia 13.000 tahun terakhir”. Dan, kalimat tanya yang ditulis Diamond untuk memotivasi pembacanya sehingga bersedia meluangkan waktunya untuk membaca buku ini adalah: “Mengapa sejarah berkembang secara berbeda di berbagai dunia?”. Provokatif..
…..
Di bab pertama, Diamond mengutip pertanyaan Yali, penduduk asli Papua yang menemaninya saat melakukan penelitian biologi disana, yang juga menjadi pemicu keingintahuan pembaca, menjadi awal isi buku kajian sejarah perkembangan budaya bangsa-bangsa di dunia ini: “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”. Keahlian Diamond tentang aspek-aspek lain evolusi manusia, sejarah, dan bahasa, menjadi modal untuk menjawab pertanyaan Yali tersebut.
…..
Bila Why Nations Failkarya Daron Acemoglu dan James Robinson, beranggapan bahwa faktor manusia adalah penyebab utama perbedaan nasib suatu bangsa, walaupun secara geografis dan sejarah bangsa2 yang diperbandingkan tersebut hampir sama namun bisa berbeda kesejahteraan, maka Jared Diamond dalam bukunya yg memenangkan Pulitzer 1998 ini, menjadi menarik untuk dipelajari karena kesimpulan yang berbeda, juga mengingat banyaknya dukungan data sejarah bangsa yang berasal dari ribuan tahun yll. Kedua buku di atas membahas hal yg kurang-lebih sama, yaitu mempertanyakan penyebab perbedaan kesejahteraan bangsa-bangsa dengan sudut pandang kajian yang  berbeda. Faktor manusia, menurut Diamond hanyalah bagian dari proximate factors (penyebab langsung), dan yang perlu digali lebih lanjut adalah ultimate explanations (penyebab dasar). Kondisi fisik, sosial, lingkungan seperti apakah yang bisa menyebabkan manusia bisa menjadi proximate factor penentu kemakmuran?
…..
Perjalanan Diamond di Papua  sebagai ahli Biologi Evolusi, menjadi titik-tolak bahasan dalam buku ini. Sejarah perkembangan kehidupan manusia Papua, Aborigin Australia, Maori banyak mendapat perhatian, selain juga bangsa Erasia “Bulan Sabit Subur” (the Fertile Crescent), Afrika, Indian, China dan Jepang, sebagai pusat perkembangan peradaban.
…..
Banyak pertanyaan dan penjelasannya disajikan dalam buku ini untuk memancing pikiran kritis pembaca, misalnya “Mengapa sebagian orang Eurasia dan bukan orang Aborigin, Australia, Afrika Sub-Sahara atau penduduk asli Amerika yg berekspansi ke seluruh dunia?” atau “Mengapa Eropa, bukan China?“.
…..
Penulisan buku ini juga dimotivasi oleh ketidakpuasan atas banyaknya artikel sejarah perkembangan bangsa-bangsa yang dianggap Diamond kurang komprehensif, karena pembahasan yang lebih dominan hanya pada masyarakat Erasia dan Afrika Utara saja, yang saat itu sudah mempunyai kemampuan baca-tulis, sehingga menurutnya memiliki tiga kekurangan, yaitu:
…..
Pertama, semakin banyak orang tertarik pada kondisi sosial masyarakat di luar masyarakat Erasia barat, yang meliputi sebagian besar penduduk bumi dan mayoritas kelompok etnis, budaya, dan linguistik dunia. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjadi kekuatan ekonomi dan politik dunia, dan beberapa lagi berpeluang untuk menyusul.
…..
Kedua, bagi orang yang secara spesifik berminat pada terbentuknya dunia modern, uraian sejarah yang terbatas hanya pada perkembangan sejak kemunculan tulisan, tidak dapat memberikan pemahaman yang mendalam, karena sebenarnya masa pra-tulisan sebelum 3.000 SM adalah akar dominasi Erasia barat di dunia modern.
…..
Ketiga, suatu uraian sejarah yang terfokus pada masyarakat-masyarakat Erasia barat, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan besar yang sudah seharusnya diajukan. Mengapa justru masyarakat-masyarakat itu yang menjadi berkuasa dan inovatif melebihi takaran sewajarnya? Atau, mengapa semua unsur pendukung penaklukan itu muncul di Erasia barat, dan hanya secara terbatas atau bahkan tidak muncul sama sekali di tempat-tempat lain? Perlu penjelasan dasar lebih lanjut (ultimate explanations).
…..
Memahami masyarakat-masyarakat Erasia barat pun mustahil dilakukan jika perhatian terfokus hanya kepada masyarakat-masyarakat tersebut. Untuk itu, perlu juga dipahami semua masyarakat lain, sehingga masyarakat-masyarakat Erasia barat bisa ditempatkan di dalam konteks yang lebih luas.
…..
Menurut Diamond, buku-buku lain mengenai sejarah dunia juga cenderung terfokus pada peradaban-peradaban maju dan melek huruf di Erasia selama 5000 tahun terakhir; semuanya membahas peradaban penduduk asli Amerika pra-Kolumbus hanya sepintas lalu, dan memberikan perhatian yang lebih sedikit lagi kepada sisa dunia selain interaksinya dengan peradaban Erasia baru-baru ini. Sintesis sebab-akibat historis yang bersifat global telah dijauhi oleh sebagian besar ahli sejarah, karena merupakan permasalahan yang tampaknya tak terpecahkan.
…..
Jadi, belum ada jawaban yang diterima secara umum terhadap pertanyaan Yali. Di satu sisi, berbagai penjelasan hampiran sudah jelas: suku bangsa tertentu mengembangkan senapan, kuman, baja dan faktor-faktor lain yang menghasilkan kekuatan politik dan ekonomi sebelum suku bangsa lain, sementara ada pula suku bangsa yang sama sekali tidak pernah mengembangkan faktor-faktor tersebut. Di sisi lain, penjelasan-penjelasan mendasar -misalnya, mengapa perkakas perunggu muncul lebih awal di beberapa bagian Erasia namun muncul baru belakangan dan di beberapa tempat saja di Dunia Baru, dan sama sekali tidak muncul di Australia pribumi- tetap tak jelas.
…..
Sistematika Pembahasan
Diamond menyajikan buah pikirannya dalam 4 Bagian besar, yang rasanya tidak harus dibaca secara berurutan mulai dari bagian depan buku. Bagian Pertama “From Eden to Cajamarca” berisikan 3 bab, dimulai dengan Bab 1 tentang kehidupan sosial manusia dan penyebarannya sejak dari Afrika 7 juta tahun yangblalu, hingga masa 13.000 tahun setelah Jaman Es. Bab 2 tentang berbagai perubahan lingkungan di berbagai benua, termasuk penyebaran Polinesia 3.200 tahun yang lalu ke berbagai kepulauan Pasifik. Bab 3 mengenai penguasaan benua Amerika oleh bangsa Eropa, dengan kasus penaklukan kepala suku Inka di Peru oleh Pizzaro dari Spanyol. Penguasaan atas senjata, teknologi dan penyebaran penyakit, juga kemampuan baca-tulis, menjadi isu penting dalam penaklukan, yang dibahas dalam bab ini.
…..
Screenshot_20180525-010759
….
Membaca sejarah manusia, dan penyebarannya, selalu menarik. Untuk itu perlu saya ringkaskan sedikit tulisan Diamond tentang hal ini sebagai pengingat. Dimulai di Afrika 7 juta tahun yang lalu, berbagai temuan fosil mengisyaratkan adanya evolusi menuju manusia yang berdiri agak tegak sekitar 4 juta tahun yll, dan bertambahnya ukuran volume otak pada 2,5 juta tahun yll. Makhluk-makhluk tersebut dikenal secara berurutan sebagsi Australopithecus, Africanus, Homo habilis dan Homo erectus. Meskipun Homo erectus berbadan mirip manusia jaman modern, namun ukuran otaknya masih setengah lebih kecil. Sudah melebihi fisik kera, namun masih jauh dari manusia modern. Manusia pertama yang menyebar keluar dari Africa adalah Homo erectus, yang fosilnya ditemukan di pulau Jawa dan dikenal sebagai Manusia Jawa, berumur 1 juta tahun silam (ada yang berpendapat 1,8 juta tahun yll). Di Eropa, kehadiran manusia diperkirakan baru 500 ribu tahun setelahnya. Tengkorak Africa dan Eropa 500 ribu tahun silam tersebut mirip tengkorak manusia modern, sehingga masuk dalam kategori spesies Homo sapiens, meskipun volume otak masih lebih kecil dan sangat berbeda dalam hal artefak dan perilaku. Saat itu, Australia dan Amerika masih belum ada manusia.
…..
Populasi Eropa dan Asia Barat antara 130.000 dan 40.000 tahun yang lalu diwakili oleh peninggalan kerangka, sebagai manusia Neanderthal, yang masuk dalam spesies Homo Neanderthalensis. Mereka berkemampuan mengubur sesamanya bila meninggal dan merawat sesamanya bila sakit. Seperti halnya dengan manusia Afrika di jaman yang sama, mereka belum mampu berburu binatang buas, bahkan memancingpun belum dilakukan. Belum sepenuhnya dapat digolongkan sebagai manusia.
…..
Sejarah manusia modern mulai dikenal ketika ditemukan situs-situs Africa Timur berupa perkakas batu dan perhiasan dari telur burung pada 50.000 tahun yang lalu, juga di Timur Tengah dan Eropa Tenggara. Dan 10.000 tahun kemudian, ditemukan artefak yang lebih modern di Eropa Barat Daya, yang disebut manusia Cro-Magnon. Manusia yang secara biologis dan perilaku bisa dianggap sebagai manusia modern. Peninggalan produk seni berupa lukisan gua, patung dan alat musik adalah karya manusia Cro-Magnon yang sudah banyak dikenal. Senjata pelontar tombak, panah dan busur juga peralatan berburu seperti tali jala, tali pancing dan jerat, menjadi penanda kemajuan manusia Cro-Magnon.
…..
Bagian Kedua, “The Rise and Spread of Food Production“, terdiri dari 7 bab yang intinya mengenai kemampuan bercocoktanam dan berternak melalui domestikasi dari daerah lain, dan berubah dari budaya pemburu menjadi produsen makanan sendiri. Namun, kemampuan tersebut tidak merata di semua wilayah, sehingga proses domestikasi tidak terjadi.  Beberapa sentral produksi makanan mengalami kesulitan untuk menyebar ke wilayah-wilayah lain. Penyebab utama perbedaan penyebaran tingkat kemampuan berproduksi adalah orientasi “sumbu kontinen”. Sumbu kontinen Eurasia adalah dominan barat-timur, sedangkan untuk Amerika dan Afrika adalah utara-selatan. Bagian ini coba menjelaskan alasannya secara rinci.
…..
Bagian Ketiga, “From Food to Guns, Germs, and Steel“, terdiri dari 4 Bab. Peran Kuman Penyakit dari Erasia lebih banyak membunuh penduduk asli Amerika dan non-Erasia, daripada peran Senapan atau senjata Baja. Ketidak-seimbangan penyebaran wabah mematikan ini menjadi bahasan utama dalam Bagian Ketiga. Selain itu, kemampuan memproduksi makanan dan baca-tulis ribuan tahun terakhir ini juga menjadi penyebab kelebihan keberdayaan suatu kelompok di suatu daerah dibanding kelompok di daerah lainnya.
…..
Bagian Keempat, “Around the World in Five Chapters“, terdiri dari 5 Bab yang membahas sejarah benua Australia, yang pada awalnya berada dalam satu kawasan dengan pulau besar Papua. Perkembangan Aborigin yang terlambat dan tetap menjadi pemburu pengumpul, dibanding orang Papua yang sudah mulai berkebun, menjadi pokok bahasan dalam Bagian 4 ini. Masih dalam Bagian ini, juga dibahas tentang penaklukan Eropa terhadap penduduk asli Amerika, yang disebabkan oleh faktor-faktor perbedaan kemampuan domestikasi perkebunan dan peternakan, wabah penyakit, lamanya pendudukan, orientasi sumbu kontinen, juga kesulitan-kesulitan ekologis. Kelebihan besar dalam hal produksi makanan bangsa Eurasia, dibanding penduduk asli Amerika, merupakan faktor dasar (ultimate factor), sedangkan tingginya Kuman Penyakit, teknologi, organisasi politik dan kemampuan baca-tulis bangsa Eurasia merupakan faktor penyebab langsung (proximate factors) dalam penaklukan penduduk asli Amerika oleh bangsa Eurasia.
…..
Menarik membaca bagian ini, mengingat saya sendiri pernah berada di Papua selama 10 tahun, dan beberapa kali sempat mengunjungi berbagai kota tambang di pedalaman Australia. Satu pertanyaan menggelitik dalam bagian ini adalah “Bagaimana bisa ciri-ciri Papua itu tidak sampai ke Australia?”. Selat Torres memisahkan daratan Papua dengan Australia  dan pulau Mabuiag berada di antaranya. Air sudah memisahkan keduanya 10.000 tahun yll. Babi, busur dan anak panah yang sangat melekat dengan panduduk Papua, justru tidak dikenal oleh bangsa Aborigin Australia, melainkan tombak dan pelontarnya lah yang menjadi senjata utamanya. Aborigin Semenanjung York tidak melakukan pertanian intensif spt Papua pegunungan, melainkan hidup dari konsumsi ikan. Tak ada budaya Papua yg menyebar ke pedalaman Australia, kecuali kail ikan dari cangkang kerang, juga perahu bercadik ala Papua. Genderang, topeng upacara, tiang pemakaman dan pipa Papua juga diadopsi di Semenanjung York. Mereka tidak memanfaatkan babi (sedikit atau bahkan tidak ada) mgk krn kesulitan utk menyediakan makanannya. Diamond berkesimpulan bahwa dahulu, Aborigin tidak pernah melihat Papua, atau komunikasi Australia – Papua berhenti di Pulau Mabuiag. Portugislah yang menemukan Papua 1526, lalu Belanda klaim bagian Barat 1828 dan selanjutnya Inggris/Jerman klaim bagian Timur Papua tahun 1884.
…..
The Future of Human History as a Science“, merupakan bagian Penutup dan ringkasan buku ini, dari hasil kajian sejarah manusia di berbagai benua berdasar perkembangan budaya, anthropologi, linguistik, arkeologi bahkan geologi. Disini dia dengan tegas menyatakan bahwa “the striking differences between the long-term histories of peoples of the different continents have been due not to innate differences in the peoples themselves but to differences in their environments“. Ada empat hal penyebab utama dalam perbedaan kondisi lingkungan dimaksud, yaitu:
  1. Spesies tanaman dan binatang liar sebagai sumber domestikasi
  2. Kondisi alam di dalam masing2 benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  3. Kondisi alam perbatasan antar benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  4. Luas area atau total populasi. Budaya kompetisi dalam wilayah yang padat dengan organisasi politik terpusat akan memicu tumbuhnya penemuan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan akumulasi kelebihan makanan.
…..
Meskipun pembahasan sudah dilakukan secara panjang-lebar dari berbagai sudut pandang keilmuan dalam buku yang tebal ini, namun Diamond masih merasa jauh dari cukup untuk dapat menjawab pertanyaan Yali di awal tulisan ini. “Compressing 13,000 years of history on all continents into a 400-page book works out to an average of about one page per continent per 150 years, making brevity and simplification inevitable“. Sangat rumit dan terlalu menyederhanakan masalah, untuk dapat menjawab pertanyaan Yali.
…..
Rekomendasi
Buku yang sangat lengkap dan rinci untuk memahami sejarah perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa sejak 13.000 tahun yang lalu berdasar aspek budaya, arkheologi, anthropologi, linguistik, biologi dan geografi. Sangat berharga untuk dibaca, meskipun sedikit melelahkan.

Dilan 1990

DilanFilm Dilan 1990, diambil dari novel karya Pidi Baiq (1972), yang terasa meriah promosinya ini membuat kami keluarga bertujuh dengan usia beragam, dari 20 tahun hingga 55 tahun, terpancing untuk menontonnya. Bayangkan, hanya dalam 10 hari, film ini telah mampu menarik lebih dari 3 juta penonton. Kalau per tiketnya Rp. 25 ribu saja, sudah Rp. 75 milyar pemasukan. Luar biasa.
Setting cerita anak2 SMA tahun 1990 dengan lokasi di Bandung. Cowoknya selengekan jagoan dengan motor Honda CB100 (agak ketuaan), sedangkan ceweknya lembut ayu setia. Keduanya berasal dari keluarga menengah-atas. Tak perlu kening berkerut utk menontonnya, karena sepertinya memang dimaksudkan sebagai film ringan menghibur dan mewakili anak muda jaman now. Bahasa sering tak terduga, licin, lebay memancing tawa. Misalnya, “Aku rindu”, kata Milea dalam telponnya. “Jangan, berat, kamu takkan kuat. Biar aku saja”, jawab Dilan. Hebat Pidi Baiq sebagai novelisnya.
Terbayang film akhir 70an, dari novelis roman Ashadi Siregar, Marga T. dengan film Ali Topan, Cintaku Di Kampus Biru, Badai Pasti Berlalu, Karmila, dll. yang menghasilkan bintang-bintang stereotype laki-laki selengekan dan jagoan bermotor trail dengan pasangan perempuan ayu setia, seperti Roy Marten, Widyawati, Yetty Octavia, Yeny Rachman dll. Demikian juga dengan era selanjutnya yang didominasi Rano Karno dan Yessy Gusman.
Setting 1990 ini menjadi penting karena saat itu belum beredar handphone sehingga komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan via surat atau telepon kabel. Pola komunikasi menjadi sentral kekuatan cerita ini. Tawa penonton sering muncul saat komunikasi telepon atau pesan surat pendek terjadi.
Bagi kaum milenial, film Dilan 1990 ini bisa mewakili mereka dijaman now, bahkan eBook Dilan 1991 sudah mulai laris terjual katanya, dan bagi kami di era Ali Topan bisa sedikit mengingatkan film jaman old. Selamat menonton, mumpung masih beredar.

Sisi Lain Diponegoro: Pongah?

Screenshot_20171218-124629Nama Diponegoro selalu bergaung di kepala sejak kecil. Bayang surban dan jubah putih berkibar terlihat gagah, pejuang bangsa yang tegap duduk di atas pelana kuda dengan keris menyelip dalam sabuk di atas perutnya. Film November 1928 karya Teguh Karya yang dibintangi oleh Slamet Rahardjo dan Yenny Rachman, cukup mengobati kerinduan visual terhadapnya. Atau, justru membatasi ruang imajinasi dan pemahaman sejarah ?

Tiga buku tentang Diponegoro terbit hampir dalam kurun waktu yang sama. Satu buku terjemahan bahasa Jawa “Pangeran Dipanegara” yang merupakan karya asli Pangeran Diponegoro yang ditulis di Manado, dan dua buku karya Peter Carey, “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” dan “Sisi lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa“, sangat membantu pemuasan diri terhadap keingin-tahuan tentang Pangeran Diponegoro, yang ditangkap Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830.

TakdirTakdir adalah karya Carey yang menjelaskan tentang Diponegoro berdasar Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri (1831-1832) saat berada di pengasingan Manado dan sepertinya menjadi dasar pengetahuan umum masyarakat kita selama ini, sedangkan Sisi Lain Diponegoro (SLD) adalah buku Carey setebal 270 halaman, yang ditulisnya berdasar studi terhadap Babad Kedung Kebo, karya Cokronegoro, bupati pertama Purworejo, dan Pangalasan, panglima perang Diponegoro untuk wilayah Bagelen (awal 1840an), yang kemudian justru menjadi lawan perangnya. Buku “Sisi Lain Diponegoro” lebih dulu dapat saya selesaikan membacanya, berhubung dalam format eBook yang bisa dibeli dari aplikasi android Scoop dan mudah dibaca dimanapun kita berada. Tulisan ini adalah komentar dan suntingan dari buku tersebut, sedangkan buku Takdir, dalam format hard copy setebal 512 halaman akan dibuatkan tulisannya dalam blog ini secepatnya.

Unik, itu yang bisa dirasakan ketika membaca buku Sisi Lain Diponegoro. Terbayang kesulitan Carey dalam melakukan studi tentang Diponegoro. Babad bukanlah sejarah kejadian faktual dimasa lalu, yang tersusun rapi dalam bentuk buku dengan kejelasan waktu, kejadian dan pelakunya; melainkan kumpulan cerita atau opini penulisnya dalam bentuk puisi atau tembang yang seringkali tanpa penunjuk waktu. Condro sengkolo atau simbol waktu dalam bahasa jawa, digunakan sebagai penunjuk waktu, yang membutuhkan keahlian penafsiran tersendiri. Kepekaan dan pengetahuan terhadap budaya Jawa, termasuk pengetahuan dalam hal pewayangan menjadi prasyarat utama untuk dapat menjelaskan isi Babad Diponegoro ini.

Kutipan dari buku Takdir menyatakan bahwa sejarawan militer Belanda, PJ.F. Louw (1856-1924), yang menjadi penulis mitra mahakarya tentang Perang Jawa, De Java-Oorlog van 1825-30 (1894-1909) menyatakan:
“Tanpa keraguan kita harus menghargai Babad Diponegoro begitu tinggi sehingga dengan gamblang kita bisa mengatakan bahwa suatu tulisan sejarah tentang Perang Jawa yang tidak menggunakan babad sebagai sumber utama harus dicap sangat kurang lengkap”.
Kutipan ini dijadikan rujukan oleh Carey untuk menggunakan Babad sebagai sumber utama studi tentang Diponegoro, meskipun ahli sejarah Profesor Sartono menganggap Babad itu bukanlah sejarah, melainkan sejenis dongeng, cerita turun-temurun atau hikayat. Bila anda berasal dari Jawa dan sering menikmati acara sandiwara ketoprak, maka cerita kerajaan Jawa semacam inilah mungkin yamg dimaksud oleh beliau sebagai dongeng tersebut.

Susunan penulisan buku Sisi Lain Diponegoro ini, Carey menyajikannya dalam tiga bagian, yaitu bagian 1 mengenai Ekologi Kebudayaan Jawa, yang menjelaskan tentang pentingnya peranan Wayang dalam kebudayaan Jawa. Cerita tentang wayang ini ternyata penting sekali dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu, bahkan Diponegoro mangasosiasikan dirinya dengan Arjuna yang halus dan tegas juga suka bertapa, sementara Cokronegoro menganggap Diponegoro lebih cocok dengan karakter Suyudono (Kurawa) yang tewas ditangan Bima. Bagian 2 tentang perbandingan rujukan Babad Kedung Kebo karya Cokronegoro dan Pangalasan, serta Bagian 3 adalah Epilog yang menjelaskan tentang sejarah kota Puworejo, dimana Cokronegoro menjadi Bupati pertama.

Menurut kajian Carey, secara singkat ada tiga kelompok Babad Diponegoro:
1. Babad Diponegoro
Babad Dipanegara

Merupakan otobiografi sang Pangeran sendiri, yaitu Babad Diponegoro. Babad ini ditulis di Manado dalam kurun waktu sembilan bulan (13 November 1831-3 Februari 1832). Diponegoro sempat menceritakan sejarah Jawa dan riwayatnya hingga di pengasingan. Sepertiga dari Babad ini menyangkut sejarah Jawa dari Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) (wafat 1478) hingga sebelum kelahiran Diponegoro pada 11 November 1785. Sisanya menggambarkan kehidupannya serta keadaan zamannya sampai awal masa pengasingannya di Manado (1830-1833). Diduga Diponegoro menceritakan riwayat hidupnya kepada seorang juru tulis yang menulis babad asli dalam bentuk tembang macapat.

 

Babad Diponegoro merupakan sumber sejarah Jawa yang paling terkenal dan sekarang sudah diakui sebagai Warisan Dunia (Memory of the World) oleh UNESCO (18 Juni 2013). Salah satu sebab, babad ini telah diterjemahkan serta diterbitkan menggunakan aksara Jawa oleh penerbit di Surakarta sebelum Perang Dunia I. Namun sampai sekarang belum ditemukan naskah aslinya, dan semua referensi yang digunakan di dalam buku pendek ini berasal dari salinan yang belakangan dibuat di Surakarta dan yang sekarang dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden.

 

2. Babad Kedung Kebo
Buku Sisi Lain Diponegoro ini lebih fokus menjelaskan tentang Babad Kedung Kebo, yang ditulis pada awal 1840-an hingga 1843, atas prakarsa bupati perdana Purworejo (pra-1831, Bupati Brengkelan), Raden Adipati Ario Cokronegoro I (menjabat 1831-1856), antara 1842 dan 1843. Kemungkinan besar bahwa seorang mantan komandan pasukan Diponegoro, Basah Pengalasan (sekitar 1795-pasca-1866) juga ikut menyusun kitab tersebut. Bagelen terletak di sisi timur Kali Bogowonto, yang berfungsi sebagai tangsi militer Belanda selama Perang Jawa. Setelah Perang Jawa, nama Kedung Kebo dipertahankan sebagai tangsi militer, tapi nama hoofdplaats (kota administratif) diubah dari Brengkelan menjadi Purworejo pada 26/27 Februari 1831.

 

Berbeda dari isi otobiografi Pangeran Diponegoro, babad ini bukanlah suatu pembenaran untuk berperang melawan Belanda, sebaliknya justru untuk membenarkan tindakan Cokronegoro yang bergabung di pihak Belanda melawan pasukan Diponegoro.
Di bagian awal Babad, gambaran sang Pangeran dapat dikatakan masih positif: ketaatan agamanya dikagumi, walaupun keterlibatan masyarakat agama dalam peristiwa politik dikritik keras. Memang ada dikotomi dalam sikap penulis Babad Kedung Kebo terhadap Diponegoro. Ini memperkuat teori bahwa Babad ini merupakan karya dua orang, sang bupati perdana Purworejo dan panglima Pangeran di Bagelen timur, Basah Pengalasan. Mungkin yang terakhir berkontribusi paling banyak mengenai riwayat Pangeran sebelum Perang Jawa.

 

Tradisi lisan Jawa menyebutkan bahwa Diponegoro maupun Cokronegoro, belajar tasawuf dan ajaran tarekat Shattariyah kepada guru agama yang sama sebelum meletusnya Perang Jawa, Kiai Taptojani dari Mlangi. Namun pada akhirnya justru bermusuhan ketika terjadi Perang Jawa. Cokronegoro beranggapan bahwa pencapaian spiritual Diponegoro memang besar. Namun kegagalan akhirnya harus diderita sang Pangeran. Keputusan Cokronegoro untuk berperang melawan Diponegoro digambarkan sebagai hasil pemahamannya atas kelemahan mendasar Diponegoro karena paduan karakter mental dan spiritualnya. Dalam babad, sikap ini diterangkan dalam konteks pandangan budaya Jawa yang tradisional dan pemahaman kosmis. Ada tiga buah tema utama yang ditemukan dalam Babad Cokronegoro:

  1. penggambaran sebelum meletusnya Perang Jawa, dan tanda serta keajaiban yang diterima oleh Diponegoro dan penasihat spiritualnya;
  2. setelah meletusnya perang, ada isu dari pembicaraan rakyat mengenai ramalan Joyoboyo dalam kaitannya dengan masalah kedatangan Ratu Adil; dan
  3. pada bagian akhir Babad ada gambaran wayang yang digunakan untuk mengukuhkan pandangan kritis tersebut terhadap pribadi pemimpin Perang Jawa.

Beberapa pertanda spiritual, yang telah diterima Diponegoro sebelum meletusnya Perang Jawa, menurut Cokronegoro banyak mengungkapkan sikap pribadinya yang menunjukkan sifat pamrih, dan kegagalan Diponegoro dapat dikaitkan dengan motif untuk melakukan pemberontakan yang tidak murni atau dipengaruhi oleh kepentingan serta ambisi pribadi. Pesan serupa juga disampaikan oleh Ki Ageng Selo, yang memperingatkan tentang bahaya yang akan ditimbulkan oleh sifat pongah (takabur).
Kemudian, ketika menjelaskan Diponegoro di markas pertama di Selarong (21Juli-5 Oktober 1825), secara eksplisit Cokronegoro mengemukakan bahwa Diponegoro terpengaruh oleh sifat kesombongan (kagepok takabur). Menurut Cokronegoro, Pangeran telah melupakan peringatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebelum pecahnya perang. Dengan demikian Dia mengeluarkan murkaNya sebagai akibat dari perbuatannya. Di samping itu ia juga disesatkan oleh Kiai Mojo. Penasihat agama utama itu mendesak Diponegoro untuk memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan pada saat yang tidak tepat.
Kelemahan fatal dari kepribadian spiritual Diponegoro ini dipertegas Cokronegoro dalam gambaran wayang yang ditulisnya di akhir Babad, bahwa Diponegoro disamakan dengan Prabu Suyudana, pemimpin kaum Kurawa, yang sombong dan tergoda pamrih, atau dengan kata lain ia menyatakan bahwa seorang yang memiliki kemampuan untuk menjadi penguasa yang besar, akhirnya mengalami kehancuran akibat kesombongannya. Dengan cara yang sama, sebagaimana ia menolak tuntutan Diponegoro atas kebangsawanannya, Cokronegoro juga menolak pendapat bahwa Pangeran tersebut memenuhi ramalan Joyoboyo tentang kedatangan sang Ratu Adil. Carey menulis rinci tafsir pewayangan terkait para aktor Perang Jawa, termasuk peran Diponegoro dalam Babad Kedong Kebo ini. Menarik.
Dengan memasukkan contoh wayang ini dalam kitabnya, Cokronegoro telah berhasil dengan baik memperlihatkan kekagumannya kepada Pangeran Diponegoro, sekaligus membenarkan tindakannya melawan Pangeran selama Perang Jawa.

3. Babad Surakarta
Babad Keraton Surakarta (selanjutnya: Babad Surakarta), menceritakan kejadian menjelang dan pasca Perang Jawa pada 20 Juli 1825, sudah diterbitkan sebagai edisi asli dengan huruf Romawi dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Melayu Indonesia oleh penulis sewaktu menyiapkan disertasi doktoral di Oxford pada 1975 (Carey 1981). Walaupun Babad ini hanyalah sebagian dari satu naskah keraton yang lebih panjang, ia tetap merupakan dokumen yang paling sesuai dengan masanya. Salinan Babad ini bisa ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2114) dan agaknya dibuat untuk sekolah bahasa Jawa yang didirikan oleh ahli bahasa Jawa dan misionaris Kristen berkebangsaan Jerman, J.F.C. Gericke (1798-1857), di Surakarta pada 1832.
Babad Diponegoro versi Keraton Surakarta, berbeda dengan kedua babad utama yang ditulis tokoh utama Perang Jawa, yaitu Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Ini karena Babad Surakarta merupakan fragmen dari sebuah Babad Keraton yang jauh lebih panjang. Babad yang lengkap itu boleh dikatakan sudah hilang.
Sikap terhadap Diponegoro yang diperlihatkan oleh penulis Babad ini sangat mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang pejabat keraton. Demikianlah misalnya, pandangannya tentang hubungan yang dijalin Diponegoro dengan santri. Hubungan ini mendapat celaan dalam Bharatayuda dan penulis naskah melontarkan keraguannya mengenai kesungguhan keyakinan keagamaan Pangeran. Ucapan yang dimasukkannya ke dalam mulut Residen Smissaert mungkin sekali mencerminkan sikap penulis babad dan kalangan bangsawan keraton Jawa terhadap sang pemimpin Perang Jawa. Biarpun banyak yang mengagumi sikap tegas yang diperlihatkan Diponegoro saat menghadapi Belanda, mereka tetap memandang dengan perasaan amat tidak rela hubungannya dengan para santri.
Teks keraton Kasunanan ini juga menggambarkan perbandingan yang paling dekat antara Diponegoro dan sosok Ratu Adil sendiri. Perbandingan ini juga ditemukan pada semua laporan yang ada dalam kesusastraan Jawa. Oleh karena itu, babad merupakan sumber paling sezaman yang tersedia. Tampaknya harapan akan munculnya seorang Ratu Adil memang tersebar secara luas menjelang perang dimulai di Jawa bagian tengah-selatan. Gambaran yang diberikan mengenai keruntuhan kehidupan masyarakat serta tata susila keraton sangat jelas. Meskipun dikemukakan dengan istilah yang sangat tradisional, gambaran dari masa yang menandai kedatangan seorang Ratu Adil dalam Bharatayuda mirip sekali dengan apa yang terdapat dalam Serat Cabolang yang ditulis di Keraton Kasunanan Surakarta sepuluh tahun sebelumnya (1815).
Babad mencerminkan bagaimana Diponegoro telah dipandang oleh anggota masyarakat keraton Jawa sebelum perang. Maka naskah versi Surakarta bisa dipakai sebagai salah satu pembanding yang bermanfaat bagi otobiografi Babad Diponegoro, yang memberikan pandangan Pangeran sendiri, serta Babad Kedung Kebo yang ditulis dari sudut kritis seorang lawannya.

 

Pewayangan
Berbeda dengan Babad Kedung Kebo, dimana Cokronegoro mengasosiasikan Diponegoro sebagai Prabu Suyudono dari kerajaan Kurawa, Carey berpendapat bahwa di dalam Babad Diponegoro, yang ditulis sendiri atau atas perintah Diponegoro di Manado (1831-1832), terdapat berbagai bagian dari tulisannya yang memberikan petunjuk bahwa sesungguhnya ia sendiri merasa lebih cocok dengan karakter Arjuna, saudara ketiga dari lima bersaudara keluarga Pandawa, yang berperilaku tenang namun tegas, juga gemar akan bertapa dan pusaka. Dari semua naskah yang dibaca oleh Diponegoro dan orang-orang sekelilingnya di Tegalrejo, sepertinya cerita Arjunawiwaha-lah yang memberikan pengaruh yang paling besar kepadanya. Personifikasi Arjuna dalam dirinya terlihat pada tindak laku spiritualnya dengan seringnya melakukan pengasingan diri (bertapa) dengan tujuan untuk menyucikan diri agar di kemudian hari dapat menjalankan suatu pemerintahan spiritual.
Gambaran wayang juga kembali memainkan peranan menarik dalam Babad Keraton ini. Mungkin sekali banyak adegan dalam naskah Babad Surakarta ini telah diinspirasi oleh pertunjukan wayang orang yang sempat dilihat oleh penulis babad di keraton Surakarta.

Peran Sultan Agung dan Wali Songo
Selain kisah pewayangan Arjuna yang banyak mempengaruhi karakter dan pengembaraan spiritual Diponegoro, kehidupan Sultan Agung dan Wali Songo punya peranan sangat penting dalam keislamannya.
Relevansi Sultan Agung untuk Diponegoro, pertama adalah sang Pangeran merasa ada kemiripan situasi yang sedang dihadapinya; dan kedua ia sangat mengagumi kedudukan sang raja Mataram sebagai pelindung spiritual Jawa. Demikian pulalah, di dalam pengembaraan yang dilakukannya pada masa yang lebih dini- yaitu ziarah ke Samudera Selatan pada musim kemarau 1805- Diponegoro menggambarkan bagaimana ia pada suatu waktu mendapatkan ‘wangsit’ dari Sunan Kalijogo yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang raja. Tetapi bukan sebagai raja biasa tapi lebih sebagai seorang pengawas spiritual bagi semua penguasa duniawi di Jawa.
Carey berpendapat bahwa Diponegoro memang telah mempersiapkan dirinya, secara spiritual, dan kini harus menerima kekuasaan sebagai pemimpin agama Islam di Jawa serta melaksanakan kekuasaan duniawi. Diponegoro memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin Islam di Jawa.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pertikaian Diponegoro dan Kyai Mojo. Berdasar Babad Diponegoro, Kiai Mojo pada 1827, menentang kekuasaan mutlak Diponegoro sebagai pandita-raja, Mojo menganjurkan Diponegoro untuk memilih satu kekuasaan pemerintahan dari empat posisi yang ditawarkannya:

  1. ratu (raja),
  2. wali (utusan keagamaan),
  3. pandita (ahli hukum),
  4. mukmin (orang-orang yang percaya dan yakin akan kebenaran agama Allah SWT).

Diponegoro menolak. Jika Diponegoro memilih kedudukan ratu, maka Mojo sendiri dapat mengambil gelar wali dan dengan demikian menikmati kekuasaan keagamaan yang mutlak.

Riwayat Hidup Cokronegoro (1779-1862)
COKRONEGORO lahir di Bagelen, sekarang wilayah Purwodadi, 17 Mei 1779, hampir semasa dengan Pangeran Diponegoro, yang lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785.
Cokronegoro pada awal jabatannya sebagai bupati perdana Purworejo (1831-1856) berinisiatif membangun saluran irigasi, yang mengambil air dari Sungai Bogowonto. Saluran ini, yang dikenal sebagai Kedung Putri, mulai dibangun 3 Mei 1832 dengan mengerahkan 5.000 tenaga kerja dan masih berfungsi sampai sekarang dengan kemampuan mengairi sawah seluas 3.800 hektar di sekitar Purworejo. Cokronegoro dan Diponegoro mempelajari ilmu tasawuf serta kebatinan (disiplin spiritual orang Jawa) dari guru yang sama di sebuah desa di luar Surakarta, Kiai Taptojani.
Carey berpendapat bahwa sepertinya tugas Cokronegoro adalah menunjukkan jalan atau jalur di wilayah Bagelen kepada para perwira Belanda serta sekutu-sekutu Jawanya. Ketika semakin kuat perang pada tahun kedua di areal Bagelen timur, ia mengorganisasikan perlawanan setempat dengan memanfaatkan ikatan-ikatan kekeluargaannya yang banyak terdapat di daerah itu. Selama perang, tampaknya Cokronegoro berhasil membuat dirinya disenangi oleh para perwira pasukan Belanda, dan terkesan dengan cara hidup bangsa Belanda, sehingga dengan bangga ia menyinggung dalam Babad bahwa ia telah digambarkan sebagai ‘seorang Belanda’ saat penyerahan tanda jasa.” Dalam hubungan ini, ia benar-benar bertolak belakang dengan rekan se-ilmu tasawufnya, Pangeran Diponegoro, yang memandang hina cara hidup orang-orang Belanda.
Sejarah Cokronegoro dijelaskan oleh Carey dengan sangat rinci, termasuk hubungannya dengan Diponegoro, dan kedekatannya dengan kekuasaan Belanda. Cokronegoro ikut berperang di daerah-daerah Bagelen yang ia kenal sejak masa kecil, dan kadang-kadang memimpin pasukan pribumi (hulptroepen) dari Manado, Ternate, dan Madura, juga di daerah-daerah sekitarnya seperti Kedu Selatan (Gowong, Ledok) dan Kulon Progo (Gunung Kelir).
Diceritakan juga bahwa perang 1829, menyebabkan gugurnya panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang paling disegani dan dihormati, Pangeran Ngabehi, dan kedua anak laki-lakinya-Pangeran Joyokusumo II dan Raden Atmokusumo-di daerah perbatasan antara Bagelen dan Kulon Progo. Kepala ketiga pangeran itu dipancung dan dikirim ke Jenderal De Kock di Magelang sebelum diserahkan ke Keraton Yogyakarta untuk dimakamkan di Pemakaman Pengkhianat di Banyusumurup. Diponegoro ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830.

Riwayat Hidup Basah Haji Ngabdullatip Kerto Pengalasan
(sekitar 1795-pasca-1866)
Selama tahun-tahun terakhir perang (1825-1829), Pengalasan hampir secara khusus beroperasi di Bagelen timur. Bahkan kolonel Cleerens menganggapnya sebagai salah seorang komandan terpenting pasukan ‘pemberontak’ (rebellen) di daerah mancanegara barat itu. Ia tetap dekat dengan Diponegoro dan disebutkan sebagai salah satu dari sejumlah kecil Basah, atau panglima pasukan, yang tetap setia dan berada bersama Pangeran Diponegoro setelah kekalahan yang menentukan di Siluk, di utara bukit-bukit Selarong pada 17 September 1829.
Setelah evakuasi ke barat Sungai Progo, karena kekalahan di Siluk pada 17 September 1829, situasi di medan perang tidak memungkinkan kekuatan Diponegoro bertahan lama, dan pada 25 September 1829 Pengalasan mengirimkan sepucuk surat kepada seorang kerabatnya, Tumenggung Cokrorejo, yang mengungkapkan kesediaannya untuk berpihak kepada Belanda. Inisiatif ini didorong pula oleh Cleerens yang rupanya ingin merangkul Pengalasan sebagai jalur negosiasi dengan Diponegoro. Akhirnya Pengalasan menyerahkan diri kepada Cokronegoro di Benteng Bubutan (Bagelen) tepat pada hari ulang tahun Diponegoro, 11 November 1829, dan tiga hari kemudian ia dibawa untuk menghadap Cleerens di markas sang kolonel di Kedung Kebo di sisi timur Kali Bogowonto. Kendati demikian terdapat kecurigaan bahwa penyerahan dirinya punya motif tersembunyi. Pun, di sisi Belanda, ada yang menduga bahwa sebenarnya Pengalasan diutus sendiri oleh Diponegoro untuk membuka perundingan perdamaian.
Cleerens mengemukakan, Basah yang berumur sekitar 34 tahun itu sering diundang untuk makan ke markas besarnya dan bahwa ia lebih banyak diperlakukan sebagai teman pribadi daripada seorang tawanan: kegemarannya akan anggur dan candu juga ikut disinggung, dan yang lebih penting lagi, perhatiannya pada situasi militer dan diplomatik Turki Osmani selama Perang Ketiga dengan Rusia (1829-1830). Ia tampak berusaha amat keras untuk mengambil hati Komando Tertinggi Tentara Belanda dengan mengorganisasikan perundingan-perundingan perdamaian dengan Diponegoro. Ia berharap, dengan usaha-usahanya itu ia akan mendapat sebuah jabatan dan penghasilan dari Belanda. Dalam hal ini, ia terutama merasa iri terhadap Sentot karena janji yang diberikan Belanda bahwa kelak bisa menjadi pemimpin barisan pribadi. Demikianlah, ia menulis dua surat kepada patih Diponegoro, Raden Adipati Abdullah Danurejo (menjabat 1828-1830), dengan permintaan untuk menghubungi Diponegoro. Dia juga menulis sepucuk surat berupa laporan panjang-lebar kepada Cleerens guna mengutarakan pandangan serta pendapatnya mengenai usul-usul perdamaian yang mungkin akan diajukan oleh Diponegoro jika negosiasi perdamaian dilakukan.
Perjalanan hidup Pengalasan memberikan kesan bahwa ia memang punya kedudukan yang memungkinkannya memberikan sumber langsung mengenai sejarah Yogyakarta dan masa sebelum Perang Jawa. Dia juga pernah terlihat dalam sejumlah pertempuran yang pecah di daerah Yogyakarta pada bulan Juli sampal Oktober 1825, peristiwa yang tidak mungkin diketahui oleh Cokronegoro. Hubungan Pengalasan yang begitu akrab dengan Diponegoro serta anggota keluarganya, yang dapat dipeliharanya sepanjang perang, juga mempunyai makna. Sang Basah seperti berada dalam kedudukan yang khas sehingga dapat menyajikan perincian pribadi Pangeran, sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh Cokronegoro.

 

Hal itu juga diungkapkan terkait sikap terhadap Diponegoro dan Islam. Namun, Pengalasan dapat terus memainkan peran sebagai seorang penasihat dalam penulisan serta penyusunan bagian belakang babad ini karena sang Basahlah yang punya kemampuan memberikan keterangan-keterangan rinci mengenai pasukan Diponegoro yang beroperasi di Bagelen serta daerah-daerah lain. Terutama, hubungannya yang akrab dengan Kiai Mojo mungkin sekali punya arti penting dalam perincian terkait bentrokan dan perpecahan antara Kiai Mojo dan Diponegoro antara September 1827 dan November 1828, yang kemudian berujung dengan penangkapan sang Kiai dan pengikutnya oleh Letkol Lebron de Vexela, di lereng Gunung Merapi, 12 November 1828.

 

Penutup
Dalam Penutupnya, Carey berpendapat bahwa, walaupun dalam Babad agak sulit menentukan seberapa besar peranan Cokronegoro dalam penulisan dan penyusunannya, sudah jelas bahwa banyak dari bagian terakhir Babad adalah tanggung jawab sang bupati perdana Purworejo itu. Ini menyangkut masalah pertempuran-pertempuran yang berlangsung di Bagelen selama perang (khususnya tahun-tahun terakhir), serta sejarah Purworejo setelah 1830. Namun demikian, Carey terlihat ragu dalam beberapa hal tentang Babad Kedung Kebo ini, misalnya mengenai sejarah Yogyakarta sebelum perang, mengingat sang bupati perdana Purworejo pra-1830 itu seorang pejabat Surakarta. Jadi, informasi mengenai kisah Pangeran Diponegoro sebelum perang didapatkan dari mana? Lagi pula, terdapat berbagai laporan rinci mengenai pertempuran-pertempuran di sekitar Yogyakarta dan Selarong pada bulan-bulan awal perang yang sama sekali tidak melibatkan Cokronegoro, juga pada bagian awal Babad ada laporan-laporan yang menyamai dengan tepat surat-surat resmi tentang kegiatan militer tentara Belanda dan laporan Pangeran Diponegoro mengenai pertempuran tersebut, seperti yang tertera di dalam babad otobiografisnya. Pada bulan-bulan awal berlangsungnya Perang Jawa, Cokronegoro berada di Surakarta, bersama-sama dengan Pangeran Kusumoyudo, maka ia tidak pernah mengalami pertempuran-pertempuran yang berlangsung diwilayah Yogyakarta pada akhir Juli sampai awal Oktober 1825. Waktu ia turun ke medan perang pada 23 Agustus 1825, ia dikirim langsung ke wilayah barat, ke Bagelen. Tampaknya jauh lebih mungkin dan masuk akal tulisan-tulisan awal yang terdapat di dalam Babad, adalah Sumbangan Basah Pengalasanlah dan bukan Cokronegoro. Untuk memastikan semua ini kita harus memperkenalkan perjalanan hidup Pengalasan sendiri.

 

Kebudayaan Jawa dalam ketiga Babad tersebut, seperti wayang, pusaka dan bertapa, sangatlah mewarnai cerita kehidupan Diponegoro. Pada semua babad itu contoh yang diambil dari wayang digunakan untuk melukiskan watak pelaku sejarah, seperti gambaran Diponegoro sebagai Arjuna (versi Babad Diponegoro) atau sebagai Prabu Suyudono (babad Kedung Kebo). Demikian pula banyak orang Jawa yang memahami makna ramalan Joyoboyo, bahkan Diponegoro di mata para petani Jawa saat itu diyakini sebagai Sang Juru Selamat atau Ratu Adil, yang datang untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kemakmuran. Fakta ini menambah pengetahuan kita tentang diri Pangeran.

 

 

Menurut penulis, Babad harus dipandang sebagai sumber Jawa yang paling terkemuka mengenai Perang Jawa serta sebagai naskah rujukan yang bisa mengimbangi otobiografi Diponegoro sendiri dan babad-babad keraton, bahwa Babad Kedung Kebo ditulis serta disusun di bawah pengarahan dua orang yang memainkan peran dan perjalanan hidup yang begitu berbeda, karya ini telah menambah arti penting sejarah itu.
Saran Carey, Babad Kedung Kebo lebih baik dapat dipandang sebagai sebuah dokumen sosial untuk menggambarkan perjalanan hidup orang yang telah membuahkan karya tersebut, Raden Adipati Ario Cokronegoro l dari Purworejo.

 

Judul buku “Sisi Lain Diponegoro” yang didasarkan pada Babad Kedung Kebo ini sungguh tepat, karena menjelaskan sosok Diponegoro dari sisi penulis yang bukan pendukungnya, bahkan sebagai musuhnya, sehingga tentu saja menulis tentang hal-hal buruk terhadap subyeknya. Namun demikian, betulkah kesan buruk yang digambarkan oleh Cokronegoro dan Pengalasan terhadap Diponegoro tersebut? Carey tidak memastikan kebenaran Babad Kedung Kebo, namun memberikan kisi-kisi yang patut pembaca kritisi hingga bisa menafsirkannya sendiri.
Sangat direkomendasikan bagi para pecinta sejarah bangsa untuk lebih memahami Perang Jawa, khususnya sejarah perang Diponegoro. Perlu juga dibaca buku Carey lainnya, Takdir.

%d blogger menyukai ini: