Feeds:
Pos
Komentar

Don Quixote

Screenshot_20180615-225446Nama Don Quixote rasanya sering sekali kita dengar sejak dulu, yang terbayang saat itu adalah cerita tentang pria parlente yang suka berbohong. Namun seperti apa persisnya cerita itu, tidak tahu. Nopember 2017, di pojok toko buku Gramedia Semarang, kutemukan buku tipis kecil terbitan Immortal, dan baru kubaca saat mudik Lebaran 2018 ini.
 …
Novel pendek Spanyol berjudul asli Don Quixote de la Mancha karya Miguel de Cervantes (Spanyol, 29 Sep. 1547 – 22 Apr 1616) yang terbit di tahun 1605 and 1615 ini sudah lama ingin kubaca. Di berbagai tautan di internet, selalu kutemukan rasa kekaguman terhadap novel ini, banyak yang menyebutkan sebagai “novel modern Barat pertama”.
 …
Bahkan sejak halaman pertama novel terjemahan dalam bahasa kita ini, tepatnya dalam Kata Pengantar, aku sudah merasa aneh membacanya. Pengakuan Cervantes dalam bab Pendahuluan di penerbitan buku asli keduanya yg berjudul Don Quixote de la Mancha, pada tahun 1615, adalah bukan karya asli Cervantes, adalah aneh dan mengejutkan. Betulkah pernyataan ini? Atau ini sudah menjadi bagian dari cerita tentang Kebohongan? Entahlah, aku telan saja permainan kata dalam novel ini. Absurd, kehidupan penuh kebohongan dan obsesi atas kemenangan, nyata memanusia rasanya.
 …
Novel ini dibagi dalam 16 cerita pendek bersambung tentang petualangan Don Quixote. Sepanjang cerita, berisi tentang kegilaan Don Quixote yang merasa dirinya sebagai ksatria tak terkalahkan, yang membasmi kejahatan dan selalu berpakaian perang, lengkap dengan tombak, tameng, helm dan kuda. Tak lupa Don Quixote juga selalu membanggakan putri petani, Dulcinea del Toboso, sebagai perempuan tercantik yang dicintainya.
 …
Cerita dimulai dengan perkenalan diri Don Quixote (50 tahunan) yang gemar membaca buku-buku tentang ksatria pembasmi kejahatan. Petualangan penuh mimpi kegilaan berbayar kehancuran fisik dan kenyataan, ditemani kuda, Rozinante, dan pengawal setia, Sancho Panza, yang kesadarannya terkalahkan oleh utopia. Bagaimana akhir cerita? Silahkan membacanya.
 …
Bila sulit ditemukan buku terjemahannya, bisa dibeli ebooknya di Kindle Amazone.
Iklan

Guns, Germs and Steel

Screenshot_20180525-003742Guns, Germs, and Steel adalah buku karya Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi dari Universitas California (UCLA), yang diterbitkan pertama kali di tahun 1997, dan setahun kemudian memperoleh penghargaan Pulitzer Prize untuk kategori Non-fiction.
…..
Kalimat pembuka di Kata Pengantar buku ini bisa menjadi penunjuk maksud penulisnya, “Buku ini hendak menyajikan riwayat singkat umat manusia 13.000 tahun terakhir”. Dan, kalimat tanya yang ditulis Diamond untuk memotivasi pembacanya sehingga bersedia meluangkan waktunya untuk membaca buku ini adalah: “Mengapa sejarah berkembang secara berbeda di berbagai dunia?”. Provokatif..
…..
Di bab pertama, Diamond mengutip pertanyaan Yali, penduduk asli Papua yang menemaninya saat melakukan penelitian biologi disana, yang juga menjadi pemicu keingintahuan pembaca, menjadi awal isi buku kajian sejarah perkembangan budaya bangsa-bangsa di dunia ini: “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”. Keahlian Diamond tentang aspek-aspek lain evolusi manusia, sejarah, dan bahasa, menjadi modal untuk menjawab pertanyaan Yali tersebut.
…..
Bila Why Nations Failkarya Daron Acemoglu dan James Robinson, beranggapan bahwa faktor manusia adalah penyebab utama perbedaan nasib suatu bangsa, walaupun secara geografis dan sejarah bangsa2 yang diperbandingkan tersebut hampir sama namun bisa berbeda kesejahteraan, maka Jared Diamond dalam bukunya yg memenangkan Pulitzer 1998 ini, menjadi menarik untuk dipelajari karena kesimpulan yang berbeda, juga mengingat banyaknya dukungan data sejarah bangsa yang berasal dari ribuan tahun yll. Kedua buku di atas membahas hal yg kurang-lebih sama, yaitu mempertanyakan penyebab perbedaan kesejahteraan bangsa-bangsa dengan sudut pandang kajian yang  berbeda. Faktor manusia, menurut Diamond hanyalah bagian dari proximate factors (penyebab langsung), dan yang perlu digali lebih lanjut adalah ultimate explanations (penyebab dasar). Kondisi fisik, sosial, lingkungan seperti apakah yang bisa menyebabkan manusia bisa menjadi proximate factor penentu kemakmuran?
…..
Perjalanan Diamond di Papua  sebagai ahli Biologi Evolusi, menjadi titik-tolak bahasan dalam buku ini. Sejarah perkembangan kehidupan manusia Papua, Aborigin Australia, Maori banyak mendapat perhatian, selain juga bangsa Erasia “Bulan Sabit Subur” (the Fertile Crescent), Afrika, Indian, China dan Jepang, sebagai pusat perkembangan peradaban.
…..
Banyak pertanyaan dan penjelasannya disajikan dalam buku ini untuk memancing pikiran kritis pembaca, misalnya “Mengapa sebagian orang Eurasia dan bukan orang Aborigin, Australia, Afrika Sub-Sahara atau penduduk asli Amerika yg berekspansi ke seluruh dunia?” atau “Mengapa Eropa, bukan China?“.
…..
Penulisan buku ini juga dimotivasi oleh ketidakpuasan atas banyaknya artikel sejarah perkembangan bangsa-bangsa yang dianggap Diamond kurang komprehensif, karena pembahasan yang lebih dominan hanya pada masyarakat Erasia dan Afrika Utara saja, yang saat itu sudah mempunyai kemampuan baca-tulis, sehingga menurutnya memiliki tiga kekurangan, yaitu:
…..
Pertama, semakin banyak orang tertarik pada kondisi sosial masyarakat di luar masyarakat Erasia barat, yang meliputi sebagian besar penduduk bumi dan mayoritas kelompok etnis, budaya, dan linguistik dunia. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjadi kekuatan ekonomi dan politik dunia, dan beberapa lagi berpeluang untuk menyusul.
…..
Kedua, bagi orang yang secara spesifik berminat pada terbentuknya dunia modern, uraian sejarah yang terbatas hanya pada perkembangan sejak kemunculan tulisan, tidak dapat memberikan pemahaman yang mendalam, karena sebenarnya masa pra-tulisan sebelum 3.000 SM adalah akar dominasi Erasia barat di dunia modern.
…..
Ketiga, suatu uraian sejarah yang terfokus pada masyarakat-masyarakat Erasia barat, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan besar yang sudah seharusnya diajukan. Mengapa justru masyarakat-masyarakat itu yang menjadi berkuasa dan inovatif melebihi takaran sewajarnya? Atau, mengapa semua unsur pendukung penaklukan itu muncul di Erasia barat, dan hanya secara terbatas atau bahkan tidak muncul sama sekali di tempat-tempat lain? Perlu penjelasan dasar lebih lanjut (ultimate explanations).
…..
Memahami masyarakat-masyarakat Erasia barat pun mustahil dilakukan jika perhatian terfokus hanya kepada masyarakat-masyarakat tersebut. Untuk itu, perlu juga dipahami semua masyarakat lain, sehingga masyarakat-masyarakat Erasia barat bisa ditempatkan di dalam konteks yang lebih luas.
…..
Menurut Diamond, buku-buku lain mengenai sejarah dunia juga cenderung terfokus pada peradaban-peradaban maju dan melek huruf di Erasia selama 5000 tahun terakhir; semuanya membahas peradaban penduduk asli Amerika pra-Kolumbus hanya sepintas lalu, dan memberikan perhatian yang lebih sedikit lagi kepada sisa dunia selain interaksinya dengan peradaban Erasia baru-baru ini. Sintesis sebab-akibat historis yang bersifat global telah dijauhi oleh sebagian besar ahli sejarah, karena merupakan permasalahan yang tampaknya tak terpecahkan.
…..
Jadi, belum ada jawaban yang diterima secara umum terhadap pertanyaan Yali. Di satu sisi, berbagai penjelasan hampiran sudah jelas: suku bangsa tertentu mengembangkan senapan, kuman, baja dan faktor-faktor lain yang menghasilkan kekuatan politik dan ekonomi sebelum suku bangsa lain, sementara ada pula suku bangsa yang sama sekali tidak pernah mengembangkan faktor-faktor tersebut. Di sisi lain, penjelasan-penjelasan mendasar -misalnya, mengapa perkakas perunggu muncul lebih awal di beberapa bagian Erasia namun muncul baru belakangan dan di beberapa tempat saja di Dunia Baru, dan sama sekali tidak muncul di Australia pribumi- tetap tak jelas.
…..
Sistematika Pembahasan
Diamond menyajikan buah pikirannya dalam 4 Bagian besar, yang rasanya tidak harus dibaca secara berurutan mulai dari bagian depan buku. Bagian Pertama “From Eden to Cajamarca” berisikan 3 bab, dimulai dengan Bab 1 tentang kehidupan sosial manusia dan penyebarannya sejak dari Afrika 7 juta tahun yangblalu, hingga masa 13.000 tahun setelah Jaman Es. Bab 2 tentang berbagai perubahan lingkungan di berbagai benua, termasuk penyebaran Polinesia 3.200 tahun yang lalu ke berbagai kepulauan Pasifik. Bab 3 mengenai penguasaan benua Amerika oleh bangsa Eropa, dengan kasus penaklukan kepala suku Inka di Peru oleh Pizzaro dari Spanyol. Penguasaan atas senjata, teknologi dan penyebaran penyakit, juga kemampuan baca-tulis, menjadi isu penting dalam penaklukan, yang dibahas dalam bab ini.
…..
Screenshot_20180525-010759
….
Membaca sejarah manusia, dan penyebarannya, selalu menarik. Untuk itu perlu saya ringkaskan sedikit tulisan Diamond tentang hal ini sebagai pengingat. Dimulai di Afrika 7 juta tahun yang lalu, berbagai temuan fosil mengisyaratkan adanya evolusi menuju manusia yang berdiri agak tegak sekitar 4 juta tahun yll, dan bertambahnya ukuran volume otak pada 2,5 juta tahun yll. Makhluk-makhluk tersebut dikenal secara berurutan sebagsi Australopithecus, Africanus, Homo habilis dan Homo erectus. Meskipun Homo erectus berbadan mirip manusia jaman modern, namun ukuran otaknya masih setengah lebih kecil. Sudah melebihi fisik kera, namun masih jauh dari manusia modern. Manusia pertama yang menyebar keluar dari Africa adalah Homo erectus, yang fosilnya ditemukan di pulau Jawa dan dikenal sebagai Manusia Jawa, berumur 1 juta tahun silam (ada yang berpendapat 1,8 juta tahun yll). Di Eropa, kehadiran manusia diperkirakan baru 500 ribu tahun setelahnya. Tengkorak Africa dan Eropa 500 ribu tahun silam tersebut mirip tengkorak manusia modern, sehingga masuk dalam kategori spesies Homo sapiens, meskipun volume otak masih lebih kecil dan sangat berbeda dalam hal artefak dan perilaku. Saat itu, Australia dan Amerika masih belum ada manusia.
…..
Populasi Eropa dan Asia Barat antara 130.000 dan 40.000 tahun yang lalu diwakili oleh peninggalan kerangka, sebagai manusia Neanderthal, yang masuk dalam spesies Homo Neanderthalensis. Mereka berkemampuan mengubur sesamanya bila meninggal dan merawat sesamanya bila sakit. Seperti halnya dengan manusia Afrika di jaman yang sama, mereka belum mampu berburu binatang buas, bahkan memancingpun belum dilakukan. Belum sepenuhnya dapat digolongkan sebagai manusia.
…..
Sejarah manusia modern mulai dikenal ketika ditemukan situs-situs Africa Timur berupa perkakas batu dan perhiasan dari telur burung pada 50.000 tahun yang lalu, juga di Timur Tengah dan Eropa Tenggara. Dan 10.000 tahun kemudian, ditemukan artefak yang lebih modern di Eropa Barat Daya, yang disebut manusia Cro-Magnon. Manusia yang secara biologis dan perilaku bisa dianggap sebagai manusia modern. Peninggalan produk seni berupa lukisan gua, patung dan alat musik adalah karya manusia Cro-Magnon yang sudah banyak dikenal. Senjata pelontar tombak, panah dan busur juga peralatan berburu seperti tali jala, tali pancing dan jerat, menjadi penanda kemajuan manusia Cro-Magnon.
…..
Bagian Kedua, “The Rise and Spread of Food Production“, terdiri dari 7 bab yang intinya mengenai kemampuan bercocoktanam dan berternak melalui domestikasi dari daerah lain, dan berubah dari budaya pemburu menjadi produsen makanan sendiri. Namun, kemampuan tersebut tidak merata di semua wilayah, sehingga proses domestikasi tidak terjadi.  Beberapa sentral produksi makanan mengalami kesulitan untuk menyebar ke wilayah-wilayah lain. Penyebab utama perbedaan penyebaran tingkat kemampuan berproduksi adalah orientasi “sumbu kontinen”. Sumbu kontinen Eurasia adalah dominan barat-timur, sedangkan untuk Amerika dan Afrika adalah utara-selatan. Bagian ini coba menjelaskan alasannya secara rinci.
…..
Bagian Ketiga, “From Food to Guns, Germs, and Steel“, terdiri dari 4 Bab. Peran Kuman Penyakit dari Erasia lebih banyak membunuh penduduk asli Amerika dan non-Erasia, daripada peran Senapan atau senjata Baja. Ketidak-seimbangan penyebaran wabah mematikan ini menjadi bahasan utama dalam Bagian Ketiga. Selain itu, kemampuan memproduksi makanan dan baca-tulis ribuan tahun terakhir ini juga menjadi penyebab kelebihan keberdayaan suatu kelompok di suatu daerah dibanding kelompok di daerah lainnya.
…..
Bagian Keempat, “Around the World in Five Chapters“, terdiri dari 5 Bab yang membahas sejarah benua Australia, yang pada awalnya berada dalam satu kawasan dengan pulau besar Papua. Perkembangan Aborigin yang terlambat dan tetap menjadi pemburu pengumpul, dibanding orang Papua yang sudah mulai berkebun, menjadi pokok bahasan dalam Bagian 4 ini. Masih dalam Bagian ini, juga dibahas tentang penaklukan Eropa terhadap penduduk asli Amerika, yang disebabkan oleh faktor-faktor perbedaan kemampuan domestikasi perkebunan dan peternakan, wabah penyakit, lamanya pendudukan, orientasi sumbu kontinen, juga kesulitan-kesulitan ekologis. Kelebihan besar dalam hal produksi makanan bangsa Eurasia, dibanding penduduk asli Amerika, merupakan faktor dasar (ultimate factor), sedangkan tingginya Kuman Penyakit, teknologi, organisasi politik dan kemampuan baca-tulis bangsa Eurasia merupakan faktor penyebab langsung (proximate factors) dalam penaklukan penduduk asli Amerika oleh bangsa Eurasia.
…..
Menarik membaca bagian ini, mengingat saya sendiri pernah berada di Papua selama 10 tahun, dan beberapa kali sempat mengunjungi berbagai kota tambang di pedalaman Australia. Satu pertanyaan menggelitik dalam bagian ini adalah “Bagaimana bisa ciri-ciri Papua itu tidak sampai ke Australia?”. Selat Torres memisahkan daratan Papua dengan Australia  dan pulau Mabuiag berada di antaranya. Air sudah memisahkan keduanya 10.000 tahun yll. Babi, busur dan anak panah yang sangat melekat dengan panduduk Papua, justru tidak dikenal oleh bangsa Aborigin Australia, melainkan tombak dan pelontarnya lah yang menjadi senjata utamanya. Aborigin Semenanjung York tidak melakukan pertanian intensif spt Papua pegunungan, melainkan hidup dari konsumsi ikan. Tak ada budaya Papua yg menyebar ke pedalaman Australia, kecuali kail ikan dari cangkang kerang, juga perahu bercadik ala Papua. Genderang, topeng upacara, tiang pemakaman dan pipa Papua juga diadopsi di Semenanjung York. Mereka tidak memanfaatkan babi (sedikit atau bahkan tidak ada) mgk krn kesulitan utk menyediakan makanannya. Diamond berkesimpulan bahwa dahulu, Aborigin tidak pernah melihat Papua, atau komunikasi Australia – Papua berhenti di Pulau Mabuiag. Portugislah yang menemukan Papua 1526, lalu Belanda klaim bagian Barat 1828 dan selanjutnya Inggris/Jerman klaim bagian Timur Papua tahun 1884.
…..
The Future of Human History as a Science“, merupakan bagian Penutup dan ringkasan buku ini, dari hasil kajian sejarah manusia di berbagai benua berdasar perkembangan budaya, anthropologi, linguistik, arkeologi bahkan geologi. Disini dia dengan tegas menyatakan bahwa “the striking differences between the long-term histories of peoples of the different continents have been due not to innate differences in the peoples themselves but to differences in their environments“. Ada empat hal penyebab utama dalam perbedaan kondisi lingkungan dimaksud, yaitu:
  1. Spesies tanaman dan binatang liar sebagai sumber domestikasi
  2. Kondisi alam di dalam masing2 benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  3. Kondisi alam perbatasan antar benua, yang mempengaruhi tingkat penyebaran dan migrasi
  4. Luas area atau total populasi. Budaya kompetisi dalam wilayah yang padat dengan organisasi politik terpusat akan memicu tumbuhnya penemuan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan akumulasi kelebihan makanan.
…..
Meskipun pembahasan sudah dilakukan secara panjang-lebar dari berbagai sudut pandang keilmuan dalam buku yang tebal ini, namun Diamond masih merasa jauh dari cukup untuk dapat menjawab pertanyaan Yali di awal tulisan ini. “Compressing 13,000 years of history on all continents into a 400-page book works out to an average of about one page per continent per 150 years, making brevity and simplification inevitable“. Sangat rumit dan terlalu menyederhanakan masalah, untuk dapat menjawab pertanyaan Yali.
…..
Rekomendasi
Buku yang sangat lengkap dan rinci untuk memahami sejarah perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa sejak 13.000 tahun yang lalu berdasar aspek budaya, arkheologi, anthropologi, linguistik, biologi dan geografi. Sangat berharga untuk dibaca, meskipun sedikit melelahkan.

Dilan 1990

DilanFilm Dilan 1990, diambil dari novel karya Pidi Baiq (1972), yang terasa meriah promosinya ini membuat kami keluarga bertujuh dengan usia beragam, dari 20 tahun hingga 55 tahun, terpancing untuk menontonnya. Bayangkan, hanya dalam 10 hari, film ini telah mampu menarik lebih dari 3 juta penonton. Kalau per tiketnya Rp. 25 ribu saja, sudah Rp. 75 milyar pemasukan. Luar biasa.
Setting cerita anak2 SMA tahun 1990 dengan lokasi di Bandung. Cowoknya selengekan jagoan dengan motor Honda CB100 (agak ketuaan), sedangkan ceweknya lembut ayu setia. Keduanya berasal dari keluarga menengah-atas. Tak perlu kening berkerut utk menontonnya, karena sepertinya memang dimaksudkan sebagai film ringan menghibur dan mewakili anak muda jaman now. Bahasa sering tak terduga, licin, lebay memancing tawa. Misalnya, “Aku rindu”, kata Milea dalam telponnya. “Jangan, berat, kamu takkan kuat. Biar aku saja”, jawab Dilan. Hebat Pidi Baiq sebagai novelisnya.
Terbayang film akhir 70an, dari novelis roman Ashadi Siregar, Marga T. dengan film Ali Topan, Cintaku Di Kampus Biru, Badai Pasti Berlalu, Karmila, dll. yang menghasilkan bintang-bintang stereotype laki-laki selengekan dan jagoan bermotor trail dengan pasangan perempuan ayu setia, seperti Roy Marten, Widyawati, Yetty Octavia, Yeny Rachman dll. Demikian juga dengan era selanjutnya yang didominasi Rano Karno dan Yessy Gusman.
Setting 1990 ini menjadi penting karena saat itu belum beredar handphone sehingga komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan via surat atau telepon kabel. Pola komunikasi menjadi sentral kekuatan cerita ini. Tawa penonton sering muncul saat komunikasi telepon atau pesan surat pendek terjadi.
Bagi kaum milenial, film Dilan 1990 ini bisa mewakili mereka dijaman now, bahkan eBook Dilan 1991 sudah mulai laris terjual katanya, dan bagi kami di era Ali Topan bisa sedikit mengingatkan film jaman old. Selamat menonton, mumpung masih beredar.

Sisi Lain Diponegoro: Pongah?

Screenshot_20171218-124629Nama Diponegoro selalu bergaung di kepala sejak kecil. Bayang surban dan jubah putih berkibar terlihat gagah, pejuang bangsa yang tegap duduk di atas pelana kuda dengan keris menyelip dalam sabuk di atas perutnya. Film November 1928 karya Teguh Karya yang dibintangi oleh Slamet Rahardjo dan Yenny Rachman, cukup mengobati kerinduan visual terhadapnya. Atau, justru membatasi ruang imajinasi dan pemahaman sejarah ?

Tiga buku tentang Diponegoro terbit hampir dalam kurun waktu yang sama. Satu buku terjemahan bahasa Jawa “Pangeran Dipanegara” yang merupakan karya asli Pangeran Diponegoro yang ditulis di Manado, dan dua buku karya Peter Carey, “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” dan “Sisi lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa“, sangat membantu pemuasan diri terhadap keingin-tahuan tentang Pangeran Diponegoro, yang ditangkap Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830.

TakdirTakdir adalah karya Carey yang menjelaskan tentang Diponegoro berdasar Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri (1831-1832) saat berada di pengasingan Manado dan sepertinya menjadi dasar pengetahuan umum masyarakat kita selama ini, sedangkan Sisi Lain Diponegoro (SLD) adalah buku Carey setebal 270 halaman, yang ditulisnya berdasar studi terhadap Babad Kedung Kebo, karya Cokronegoro, bupati pertama Purworejo, dan Pangalasan, panglima perang Diponegoro untuk wilayah Bagelen (awal 1840an), yang kemudian justru menjadi lawan perangnya. Buku “Sisi Lain Diponegoro” lebih dulu dapat saya selesaikan membacanya, berhubung dalam format eBook yang bisa dibeli dari aplikasi android Scoop dan mudah dibaca dimanapun kita berada. Tulisan ini adalah komentar dan suntingan dari buku tersebut, sedangkan buku Takdir, dalam format hard copy setebal 512 halaman akan dibuatkan tulisannya dalam blog ini secepatnya.

Unik, itu yang bisa dirasakan ketika membaca buku Sisi Lain Diponegoro. Terbayang kesulitan Carey dalam melakukan studi tentang Diponegoro. Babad bukanlah sejarah kejadian faktual dimasa lalu, yang tersusun rapi dalam bentuk buku dengan kejelasan waktu, kejadian dan pelakunya; melainkan kumpulan cerita atau opini penulisnya dalam bentuk puisi atau tembang yang seringkali tanpa penunjuk waktu. Condro sengkolo atau simbol waktu dalam bahasa jawa, digunakan sebagai penunjuk waktu, yang membutuhkan keahlian penafsiran tersendiri. Kepekaan dan pengetahuan terhadap budaya Jawa, termasuk pengetahuan dalam hal pewayangan menjadi prasyarat utama untuk dapat menjelaskan isi Babad Diponegoro ini.

Kutipan dari buku Takdir menyatakan bahwa sejarawan militer Belanda, PJ.F. Louw (1856-1924), yang menjadi penulis mitra mahakarya tentang Perang Jawa, De Java-Oorlog van 1825-30 (1894-1909) menyatakan:
“Tanpa keraguan kita harus menghargai Babad Diponegoro begitu tinggi sehingga dengan gamblang kita bisa mengatakan bahwa suatu tulisan sejarah tentang Perang Jawa yang tidak menggunakan babad sebagai sumber utama harus dicap sangat kurang lengkap”.
Kutipan ini dijadikan rujukan oleh Carey untuk menggunakan Babad sebagai sumber utama studi tentang Diponegoro, meskipun ahli sejarah Profesor Sartono menganggap Babad itu bukanlah sejarah, melainkan sejenis dongeng, cerita turun-temurun atau hikayat. Bila anda berasal dari Jawa dan sering menikmati acara sandiwara ketoprak, maka cerita kerajaan Jawa semacam inilah mungkin yamg dimaksud oleh beliau sebagai dongeng tersebut.

Susunan penulisan buku Sisi Lain Diponegoro ini, Carey menyajikannya dalam tiga bagian, yaitu bagian 1 mengenai Ekologi Kebudayaan Jawa, yang menjelaskan tentang pentingnya peranan Wayang dalam kebudayaan Jawa. Cerita tentang wayang ini ternyata penting sekali dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu, bahkan Diponegoro mangasosiasikan dirinya dengan Arjuna yang halus dan tegas juga suka bertapa, sementara Cokronegoro menganggap Diponegoro lebih cocok dengan karakter Suyudono (Kurawa) yang tewas ditangan Bima. Bagian 2 tentang perbandingan rujukan Babad Kedung Kebo karya Cokronegoro dan Pangalasan, serta Bagian 3 adalah Epilog yang menjelaskan tentang sejarah kota Puworejo, dimana Cokronegoro menjadi Bupati pertama.

Menurut kajian Carey, secara singkat ada tiga kelompok Babad Diponegoro:
1. Babad Diponegoro
Babad Dipanegara

Merupakan otobiografi sang Pangeran sendiri, yaitu Babad Diponegoro. Babad ini ditulis di Manado dalam kurun waktu sembilan bulan (13 November 1831-3 Februari 1832). Diponegoro sempat menceritakan sejarah Jawa dan riwayatnya hingga di pengasingan. Sepertiga dari Babad ini menyangkut sejarah Jawa dari Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) (wafat 1478) hingga sebelum kelahiran Diponegoro pada 11 November 1785. Sisanya menggambarkan kehidupannya serta keadaan zamannya sampai awal masa pengasingannya di Manado (1830-1833). Diduga Diponegoro menceritakan riwayat hidupnya kepada seorang juru tulis yang menulis babad asli dalam bentuk tembang macapat.

 

Babad Diponegoro merupakan sumber sejarah Jawa yang paling terkenal dan sekarang sudah diakui sebagai Warisan Dunia (Memory of the World) oleh UNESCO (18 Juni 2013). Salah satu sebab, babad ini telah diterjemahkan serta diterbitkan menggunakan aksara Jawa oleh penerbit di Surakarta sebelum Perang Dunia I. Namun sampai sekarang belum ditemukan naskah aslinya, dan semua referensi yang digunakan di dalam buku pendek ini berasal dari salinan yang belakangan dibuat di Surakarta dan yang sekarang dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden.

 

2. Babad Kedung Kebo
Buku Sisi Lain Diponegoro ini lebih fokus menjelaskan tentang Babad Kedung Kebo, yang ditulis pada awal 1840-an hingga 1843, atas prakarsa bupati perdana Purworejo (pra-1831, Bupati Brengkelan), Raden Adipati Ario Cokronegoro I (menjabat 1831-1856), antara 1842 dan 1843. Kemungkinan besar bahwa seorang mantan komandan pasukan Diponegoro, Basah Pengalasan (sekitar 1795-pasca-1866) juga ikut menyusun kitab tersebut. Bagelen terletak di sisi timur Kali Bogowonto, yang berfungsi sebagai tangsi militer Belanda selama Perang Jawa. Setelah Perang Jawa, nama Kedung Kebo dipertahankan sebagai tangsi militer, tapi nama hoofdplaats (kota administratif) diubah dari Brengkelan menjadi Purworejo pada 26/27 Februari 1831.

 

Berbeda dari isi otobiografi Pangeran Diponegoro, babad ini bukanlah suatu pembenaran untuk berperang melawan Belanda, sebaliknya justru untuk membenarkan tindakan Cokronegoro yang bergabung di pihak Belanda melawan pasukan Diponegoro.
Di bagian awal Babad, gambaran sang Pangeran dapat dikatakan masih positif: ketaatan agamanya dikagumi, walaupun keterlibatan masyarakat agama dalam peristiwa politik dikritik keras. Memang ada dikotomi dalam sikap penulis Babad Kedung Kebo terhadap Diponegoro. Ini memperkuat teori bahwa Babad ini merupakan karya dua orang, sang bupati perdana Purworejo dan panglima Pangeran di Bagelen timur, Basah Pengalasan. Mungkin yang terakhir berkontribusi paling banyak mengenai riwayat Pangeran sebelum Perang Jawa.

 

Tradisi lisan Jawa menyebutkan bahwa Diponegoro maupun Cokronegoro, belajar tasawuf dan ajaran tarekat Shattariyah kepada guru agama yang sama sebelum meletusnya Perang Jawa, Kiai Taptojani dari Mlangi. Namun pada akhirnya justru bermusuhan ketika terjadi Perang Jawa. Cokronegoro beranggapan bahwa pencapaian spiritual Diponegoro memang besar. Namun kegagalan akhirnya harus diderita sang Pangeran. Keputusan Cokronegoro untuk berperang melawan Diponegoro digambarkan sebagai hasil pemahamannya atas kelemahan mendasar Diponegoro karena paduan karakter mental dan spiritualnya. Dalam babad, sikap ini diterangkan dalam konteks pandangan budaya Jawa yang tradisional dan pemahaman kosmis. Ada tiga buah tema utama yang ditemukan dalam Babad Cokronegoro:

  1. penggambaran sebelum meletusnya Perang Jawa, dan tanda serta keajaiban yang diterima oleh Diponegoro dan penasihat spiritualnya;
  2. setelah meletusnya perang, ada isu dari pembicaraan rakyat mengenai ramalan Joyoboyo dalam kaitannya dengan masalah kedatangan Ratu Adil; dan
  3. pada bagian akhir Babad ada gambaran wayang yang digunakan untuk mengukuhkan pandangan kritis tersebut terhadap pribadi pemimpin Perang Jawa.

Beberapa pertanda spiritual, yang telah diterima Diponegoro sebelum meletusnya Perang Jawa, menurut Cokronegoro banyak mengungkapkan sikap pribadinya yang menunjukkan sifat pamrih, dan kegagalan Diponegoro dapat dikaitkan dengan motif untuk melakukan pemberontakan yang tidak murni atau dipengaruhi oleh kepentingan serta ambisi pribadi. Pesan serupa juga disampaikan oleh Ki Ageng Selo, yang memperingatkan tentang bahaya yang akan ditimbulkan oleh sifat pongah (takabur).
Kemudian, ketika menjelaskan Diponegoro di markas pertama di Selarong (21Juli-5 Oktober 1825), secara eksplisit Cokronegoro mengemukakan bahwa Diponegoro terpengaruh oleh sifat kesombongan (kagepok takabur). Menurut Cokronegoro, Pangeran telah melupakan peringatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebelum pecahnya perang. Dengan demikian Dia mengeluarkan murkaNya sebagai akibat dari perbuatannya. Di samping itu ia juga disesatkan oleh Kiai Mojo. Penasihat agama utama itu mendesak Diponegoro untuk memproklamasikan dirinya sendiri sebagai sultan pada saat yang tidak tepat.
Kelemahan fatal dari kepribadian spiritual Diponegoro ini dipertegas Cokronegoro dalam gambaran wayang yang ditulisnya di akhir Babad, bahwa Diponegoro disamakan dengan Prabu Suyudana, pemimpin kaum Kurawa, yang sombong dan tergoda pamrih, atau dengan kata lain ia menyatakan bahwa seorang yang memiliki kemampuan untuk menjadi penguasa yang besar, akhirnya mengalami kehancuran akibat kesombongannya. Dengan cara yang sama, sebagaimana ia menolak tuntutan Diponegoro atas kebangsawanannya, Cokronegoro juga menolak pendapat bahwa Pangeran tersebut memenuhi ramalan Joyoboyo tentang kedatangan sang Ratu Adil. Carey menulis rinci tafsir pewayangan terkait para aktor Perang Jawa, termasuk peran Diponegoro dalam Babad Kedong Kebo ini. Menarik.
Dengan memasukkan contoh wayang ini dalam kitabnya, Cokronegoro telah berhasil dengan baik memperlihatkan kekagumannya kepada Pangeran Diponegoro, sekaligus membenarkan tindakannya melawan Pangeran selama Perang Jawa.

3. Babad Surakarta
Babad Keraton Surakarta (selanjutnya: Babad Surakarta), menceritakan kejadian menjelang dan pasca Perang Jawa pada 20 Juli 1825, sudah diterbitkan sebagai edisi asli dengan huruf Romawi dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Melayu Indonesia oleh penulis sewaktu menyiapkan disertasi doktoral di Oxford pada 1975 (Carey 1981). Walaupun Babad ini hanyalah sebagian dari satu naskah keraton yang lebih panjang, ia tetap merupakan dokumen yang paling sesuai dengan masanya. Salinan Babad ini bisa ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2114) dan agaknya dibuat untuk sekolah bahasa Jawa yang didirikan oleh ahli bahasa Jawa dan misionaris Kristen berkebangsaan Jerman, J.F.C. Gericke (1798-1857), di Surakarta pada 1832.
Babad Diponegoro versi Keraton Surakarta, berbeda dengan kedua babad utama yang ditulis tokoh utama Perang Jawa, yaitu Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Ini karena Babad Surakarta merupakan fragmen dari sebuah Babad Keraton yang jauh lebih panjang. Babad yang lengkap itu boleh dikatakan sudah hilang.
Sikap terhadap Diponegoro yang diperlihatkan oleh penulis Babad ini sangat mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang pejabat keraton. Demikianlah misalnya, pandangannya tentang hubungan yang dijalin Diponegoro dengan santri. Hubungan ini mendapat celaan dalam Bharatayuda dan penulis naskah melontarkan keraguannya mengenai kesungguhan keyakinan keagamaan Pangeran. Ucapan yang dimasukkannya ke dalam mulut Residen Smissaert mungkin sekali mencerminkan sikap penulis babad dan kalangan bangsawan keraton Jawa terhadap sang pemimpin Perang Jawa. Biarpun banyak yang mengagumi sikap tegas yang diperlihatkan Diponegoro saat menghadapi Belanda, mereka tetap memandang dengan perasaan amat tidak rela hubungannya dengan para santri.
Teks keraton Kasunanan ini juga menggambarkan perbandingan yang paling dekat antara Diponegoro dan sosok Ratu Adil sendiri. Perbandingan ini juga ditemukan pada semua laporan yang ada dalam kesusastraan Jawa. Oleh karena itu, babad merupakan sumber paling sezaman yang tersedia. Tampaknya harapan akan munculnya seorang Ratu Adil memang tersebar secara luas menjelang perang dimulai di Jawa bagian tengah-selatan. Gambaran yang diberikan mengenai keruntuhan kehidupan masyarakat serta tata susila keraton sangat jelas. Meskipun dikemukakan dengan istilah yang sangat tradisional, gambaran dari masa yang menandai kedatangan seorang Ratu Adil dalam Bharatayuda mirip sekali dengan apa yang terdapat dalam Serat Cabolang yang ditulis di Keraton Kasunanan Surakarta sepuluh tahun sebelumnya (1815).
Babad mencerminkan bagaimana Diponegoro telah dipandang oleh anggota masyarakat keraton Jawa sebelum perang. Maka naskah versi Surakarta bisa dipakai sebagai salah satu pembanding yang bermanfaat bagi otobiografi Babad Diponegoro, yang memberikan pandangan Pangeran sendiri, serta Babad Kedung Kebo yang ditulis dari sudut kritis seorang lawannya.

 

Pewayangan
Berbeda dengan Babad Kedung Kebo, dimana Cokronegoro mengasosiasikan Diponegoro sebagai Prabu Suyudono dari kerajaan Kurawa, Carey berpendapat bahwa di dalam Babad Diponegoro, yang ditulis sendiri atau atas perintah Diponegoro di Manado (1831-1832), terdapat berbagai bagian dari tulisannya yang memberikan petunjuk bahwa sesungguhnya ia sendiri merasa lebih cocok dengan karakter Arjuna, saudara ketiga dari lima bersaudara keluarga Pandawa, yang berperilaku tenang namun tegas, juga gemar akan bertapa dan pusaka. Dari semua naskah yang dibaca oleh Diponegoro dan orang-orang sekelilingnya di Tegalrejo, sepertinya cerita Arjunawiwaha-lah yang memberikan pengaruh yang paling besar kepadanya. Personifikasi Arjuna dalam dirinya terlihat pada tindak laku spiritualnya dengan seringnya melakukan pengasingan diri (bertapa) dengan tujuan untuk menyucikan diri agar di kemudian hari dapat menjalankan suatu pemerintahan spiritual.
Gambaran wayang juga kembali memainkan peranan menarik dalam Babad Keraton ini. Mungkin sekali banyak adegan dalam naskah Babad Surakarta ini telah diinspirasi oleh pertunjukan wayang orang yang sempat dilihat oleh penulis babad di keraton Surakarta.

Peran Sultan Agung dan Wali Songo
Selain kisah pewayangan Arjuna yang banyak mempengaruhi karakter dan pengembaraan spiritual Diponegoro, kehidupan Sultan Agung dan Wali Songo punya peranan sangat penting dalam keislamannya.
Relevansi Sultan Agung untuk Diponegoro, pertama adalah sang Pangeran merasa ada kemiripan situasi yang sedang dihadapinya; dan kedua ia sangat mengagumi kedudukan sang raja Mataram sebagai pelindung spiritual Jawa. Demikian pulalah, di dalam pengembaraan yang dilakukannya pada masa yang lebih dini- yaitu ziarah ke Samudera Selatan pada musim kemarau 1805- Diponegoro menggambarkan bagaimana ia pada suatu waktu mendapatkan ‘wangsit’ dari Sunan Kalijogo yang meramalkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang raja. Tetapi bukan sebagai raja biasa tapi lebih sebagai seorang pengawas spiritual bagi semua penguasa duniawi di Jawa.
Carey berpendapat bahwa Diponegoro memang telah mempersiapkan dirinya, secara spiritual, dan kini harus menerima kekuasaan sebagai pemimpin agama Islam di Jawa serta melaksanakan kekuasaan duniawi. Diponegoro memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin Islam di Jawa.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pertikaian Diponegoro dan Kyai Mojo. Berdasar Babad Diponegoro, Kiai Mojo pada 1827, menentang kekuasaan mutlak Diponegoro sebagai pandita-raja, Mojo menganjurkan Diponegoro untuk memilih satu kekuasaan pemerintahan dari empat posisi yang ditawarkannya:

  1. ratu (raja),
  2. wali (utusan keagamaan),
  3. pandita (ahli hukum),
  4. mukmin (orang-orang yang percaya dan yakin akan kebenaran agama Allah SWT).

Diponegoro menolak. Jika Diponegoro memilih kedudukan ratu, maka Mojo sendiri dapat mengambil gelar wali dan dengan demikian menikmati kekuasaan keagamaan yang mutlak.

Riwayat Hidup Cokronegoro (1779-1862)
COKRONEGORO lahir di Bagelen, sekarang wilayah Purwodadi, 17 Mei 1779, hampir semasa dengan Pangeran Diponegoro, yang lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785.
Cokronegoro pada awal jabatannya sebagai bupati perdana Purworejo (1831-1856) berinisiatif membangun saluran irigasi, yang mengambil air dari Sungai Bogowonto. Saluran ini, yang dikenal sebagai Kedung Putri, mulai dibangun 3 Mei 1832 dengan mengerahkan 5.000 tenaga kerja dan masih berfungsi sampai sekarang dengan kemampuan mengairi sawah seluas 3.800 hektar di sekitar Purworejo. Cokronegoro dan Diponegoro mempelajari ilmu tasawuf serta kebatinan (disiplin spiritual orang Jawa) dari guru yang sama di sebuah desa di luar Surakarta, Kiai Taptojani.
Carey berpendapat bahwa sepertinya tugas Cokronegoro adalah menunjukkan jalan atau jalur di wilayah Bagelen kepada para perwira Belanda serta sekutu-sekutu Jawanya. Ketika semakin kuat perang pada tahun kedua di areal Bagelen timur, ia mengorganisasikan perlawanan setempat dengan memanfaatkan ikatan-ikatan kekeluargaannya yang banyak terdapat di daerah itu. Selama perang, tampaknya Cokronegoro berhasil membuat dirinya disenangi oleh para perwira pasukan Belanda, dan terkesan dengan cara hidup bangsa Belanda, sehingga dengan bangga ia menyinggung dalam Babad bahwa ia telah digambarkan sebagai ‘seorang Belanda’ saat penyerahan tanda jasa.” Dalam hubungan ini, ia benar-benar bertolak belakang dengan rekan se-ilmu tasawufnya, Pangeran Diponegoro, yang memandang hina cara hidup orang-orang Belanda.
Sejarah Cokronegoro dijelaskan oleh Carey dengan sangat rinci, termasuk hubungannya dengan Diponegoro, dan kedekatannya dengan kekuasaan Belanda. Cokronegoro ikut berperang di daerah-daerah Bagelen yang ia kenal sejak masa kecil, dan kadang-kadang memimpin pasukan pribumi (hulptroepen) dari Manado, Ternate, dan Madura, juga di daerah-daerah sekitarnya seperti Kedu Selatan (Gowong, Ledok) dan Kulon Progo (Gunung Kelir).
Diceritakan juga bahwa perang 1829, menyebabkan gugurnya panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang paling disegani dan dihormati, Pangeran Ngabehi, dan kedua anak laki-lakinya-Pangeran Joyokusumo II dan Raden Atmokusumo-di daerah perbatasan antara Bagelen dan Kulon Progo. Kepala ketiga pangeran itu dipancung dan dikirim ke Jenderal De Kock di Magelang sebelum diserahkan ke Keraton Yogyakarta untuk dimakamkan di Pemakaman Pengkhianat di Banyusumurup. Diponegoro ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830.

Riwayat Hidup Basah Haji Ngabdullatip Kerto Pengalasan
(sekitar 1795-pasca-1866)
Selama tahun-tahun terakhir perang (1825-1829), Pengalasan hampir secara khusus beroperasi di Bagelen timur. Bahkan kolonel Cleerens menganggapnya sebagai salah seorang komandan terpenting pasukan ‘pemberontak’ (rebellen) di daerah mancanegara barat itu. Ia tetap dekat dengan Diponegoro dan disebutkan sebagai salah satu dari sejumlah kecil Basah, atau panglima pasukan, yang tetap setia dan berada bersama Pangeran Diponegoro setelah kekalahan yang menentukan di Siluk, di utara bukit-bukit Selarong pada 17 September 1829.
Setelah evakuasi ke barat Sungai Progo, karena kekalahan di Siluk pada 17 September 1829, situasi di medan perang tidak memungkinkan kekuatan Diponegoro bertahan lama, dan pada 25 September 1829 Pengalasan mengirimkan sepucuk surat kepada seorang kerabatnya, Tumenggung Cokrorejo, yang mengungkapkan kesediaannya untuk berpihak kepada Belanda. Inisiatif ini didorong pula oleh Cleerens yang rupanya ingin merangkul Pengalasan sebagai jalur negosiasi dengan Diponegoro. Akhirnya Pengalasan menyerahkan diri kepada Cokronegoro di Benteng Bubutan (Bagelen) tepat pada hari ulang tahun Diponegoro, 11 November 1829, dan tiga hari kemudian ia dibawa untuk menghadap Cleerens di markas sang kolonel di Kedung Kebo di sisi timur Kali Bogowonto. Kendati demikian terdapat kecurigaan bahwa penyerahan dirinya punya motif tersembunyi. Pun, di sisi Belanda, ada yang menduga bahwa sebenarnya Pengalasan diutus sendiri oleh Diponegoro untuk membuka perundingan perdamaian.
Cleerens mengemukakan, Basah yang berumur sekitar 34 tahun itu sering diundang untuk makan ke markas besarnya dan bahwa ia lebih banyak diperlakukan sebagai teman pribadi daripada seorang tawanan: kegemarannya akan anggur dan candu juga ikut disinggung, dan yang lebih penting lagi, perhatiannya pada situasi militer dan diplomatik Turki Osmani selama Perang Ketiga dengan Rusia (1829-1830). Ia tampak berusaha amat keras untuk mengambil hati Komando Tertinggi Tentara Belanda dengan mengorganisasikan perundingan-perundingan perdamaian dengan Diponegoro. Ia berharap, dengan usaha-usahanya itu ia akan mendapat sebuah jabatan dan penghasilan dari Belanda. Dalam hal ini, ia terutama merasa iri terhadap Sentot karena janji yang diberikan Belanda bahwa kelak bisa menjadi pemimpin barisan pribadi. Demikianlah, ia menulis dua surat kepada patih Diponegoro, Raden Adipati Abdullah Danurejo (menjabat 1828-1830), dengan permintaan untuk menghubungi Diponegoro. Dia juga menulis sepucuk surat berupa laporan panjang-lebar kepada Cleerens guna mengutarakan pandangan serta pendapatnya mengenai usul-usul perdamaian yang mungkin akan diajukan oleh Diponegoro jika negosiasi perdamaian dilakukan.
Perjalanan hidup Pengalasan memberikan kesan bahwa ia memang punya kedudukan yang memungkinkannya memberikan sumber langsung mengenai sejarah Yogyakarta dan masa sebelum Perang Jawa. Dia juga pernah terlihat dalam sejumlah pertempuran yang pecah di daerah Yogyakarta pada bulan Juli sampal Oktober 1825, peristiwa yang tidak mungkin diketahui oleh Cokronegoro. Hubungan Pengalasan yang begitu akrab dengan Diponegoro serta anggota keluarganya, yang dapat dipeliharanya sepanjang perang, juga mempunyai makna. Sang Basah seperti berada dalam kedudukan yang khas sehingga dapat menyajikan perincian pribadi Pangeran, sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh Cokronegoro.

 

Hal itu juga diungkapkan terkait sikap terhadap Diponegoro dan Islam. Namun, Pengalasan dapat terus memainkan peran sebagai seorang penasihat dalam penulisan serta penyusunan bagian belakang babad ini karena sang Basahlah yang punya kemampuan memberikan keterangan-keterangan rinci mengenai pasukan Diponegoro yang beroperasi di Bagelen serta daerah-daerah lain. Terutama, hubungannya yang akrab dengan Kiai Mojo mungkin sekali punya arti penting dalam perincian terkait bentrokan dan perpecahan antara Kiai Mojo dan Diponegoro antara September 1827 dan November 1828, yang kemudian berujung dengan penangkapan sang Kiai dan pengikutnya oleh Letkol Lebron de Vexela, di lereng Gunung Merapi, 12 November 1828.

 

Penutup
Dalam Penutupnya, Carey berpendapat bahwa, walaupun dalam Babad agak sulit menentukan seberapa besar peranan Cokronegoro dalam penulisan dan penyusunannya, sudah jelas bahwa banyak dari bagian terakhir Babad adalah tanggung jawab sang bupati perdana Purworejo itu. Ini menyangkut masalah pertempuran-pertempuran yang berlangsung di Bagelen selama perang (khususnya tahun-tahun terakhir), serta sejarah Purworejo setelah 1830. Namun demikian, Carey terlihat ragu dalam beberapa hal tentang Babad Kedung Kebo ini, misalnya mengenai sejarah Yogyakarta sebelum perang, mengingat sang bupati perdana Purworejo pra-1830 itu seorang pejabat Surakarta. Jadi, informasi mengenai kisah Pangeran Diponegoro sebelum perang didapatkan dari mana? Lagi pula, terdapat berbagai laporan rinci mengenai pertempuran-pertempuran di sekitar Yogyakarta dan Selarong pada bulan-bulan awal perang yang sama sekali tidak melibatkan Cokronegoro, juga pada bagian awal Babad ada laporan-laporan yang menyamai dengan tepat surat-surat resmi tentang kegiatan militer tentara Belanda dan laporan Pangeran Diponegoro mengenai pertempuran tersebut, seperti yang tertera di dalam babad otobiografisnya. Pada bulan-bulan awal berlangsungnya Perang Jawa, Cokronegoro berada di Surakarta, bersama-sama dengan Pangeran Kusumoyudo, maka ia tidak pernah mengalami pertempuran-pertempuran yang berlangsung diwilayah Yogyakarta pada akhir Juli sampai awal Oktober 1825. Waktu ia turun ke medan perang pada 23 Agustus 1825, ia dikirim langsung ke wilayah barat, ke Bagelen. Tampaknya jauh lebih mungkin dan masuk akal tulisan-tulisan awal yang terdapat di dalam Babad, adalah Sumbangan Basah Pengalasanlah dan bukan Cokronegoro. Untuk memastikan semua ini kita harus memperkenalkan perjalanan hidup Pengalasan sendiri.

 

Kebudayaan Jawa dalam ketiga Babad tersebut, seperti wayang, pusaka dan bertapa, sangatlah mewarnai cerita kehidupan Diponegoro. Pada semua babad itu contoh yang diambil dari wayang digunakan untuk melukiskan watak pelaku sejarah, seperti gambaran Diponegoro sebagai Arjuna (versi Babad Diponegoro) atau sebagai Prabu Suyudono (babad Kedung Kebo). Demikian pula banyak orang Jawa yang memahami makna ramalan Joyoboyo, bahkan Diponegoro di mata para petani Jawa saat itu diyakini sebagai Sang Juru Selamat atau Ratu Adil, yang datang untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kemakmuran. Fakta ini menambah pengetahuan kita tentang diri Pangeran.

 

 

Menurut penulis, Babad harus dipandang sebagai sumber Jawa yang paling terkemuka mengenai Perang Jawa serta sebagai naskah rujukan yang bisa mengimbangi otobiografi Diponegoro sendiri dan babad-babad keraton, bahwa Babad Kedung Kebo ditulis serta disusun di bawah pengarahan dua orang yang memainkan peran dan perjalanan hidup yang begitu berbeda, karya ini telah menambah arti penting sejarah itu.
Saran Carey, Babad Kedung Kebo lebih baik dapat dipandang sebagai sebuah dokumen sosial untuk menggambarkan perjalanan hidup orang yang telah membuahkan karya tersebut, Raden Adipati Ario Cokronegoro l dari Purworejo.

 

Judul buku “Sisi Lain Diponegoro” yang didasarkan pada Babad Kedung Kebo ini sungguh tepat, karena menjelaskan sosok Diponegoro dari sisi penulis yang bukan pendukungnya, bahkan sebagai musuhnya, sehingga tentu saja menulis tentang hal-hal buruk terhadap subyeknya. Namun demikian, betulkah kesan buruk yang digambarkan oleh Cokronegoro dan Pengalasan terhadap Diponegoro tersebut? Carey tidak memastikan kebenaran Babad Kedung Kebo, namun memberikan kisi-kisi yang patut pembaca kritisi hingga bisa menafsirkannya sendiri.
Sangat direkomendasikan bagi para pecinta sejarah bangsa untuk lebih memahami Perang Jawa, khususnya sejarah perang Diponegoro. Perlu juga dibaca buku Carey lainnya, Takdir.

Film di akhir minggu

Screenshot_20171119-135318Baru tahu ada aplikasi HOOQ di First Media televisi berbayar dan kebetulan masih promo Rp. 20.000 per bulan, langsung tangkap.. Kebetulan juga, sudah lama pengin nonton film Indonesia, yang bukan horor pastinya. Kenapa ya serasa mereka ingin berlomba memenangkan festival film horor? Mungkin ada statistik perfilman kita, yang menyajikan persentase jumlah produksi film horor per tahun? Perlu dibandingkan dengan produksi film dengan kategori sejenis di negara-negara lain. Gak jelas juga misi apa yang mau disampaikan dengan film horor ini. Ah gak usahlah ngomongin berpanjang-panjang dengan film horor.. Ngeri..
Sabtu kemarin, empat film Indonesia aku tonton menggunakan aplikasi HOOQ, yaitu: Soekarno, Critical Eleven, Melbourne Rewind, Winter in Tokyo. Satu film politik Screenshot_20171119-135414dan tiga film drama. Aku bukan kritikus film, hanya penikmat film. Artinya parameter apa saja yang perlu digunakan sebagai alat penilai sebuah film, tidak aku pahami. Lebih tepatnya, belum berusaha untuk mempelajarinya. Yang ada selama ini hanya “suka” atau “tidak suka”, itu saja. Soekarno aku pilih karena ingin refreshing sejarah yang  sudah puluhan tahun yang lalu kupelajari. Masa SMA lah, sejarah perjuangan banyak terekam dalam otakku. Tiga film drama lainnya kupilih karena menurut sinopsisnya berlatarbelakang tinggal di luar negeri dan diadaptasi dari novel yang laris di negeri ini. Baru tahu juga bahwa dalam rumahku pun ada novel Winter in Tokyo, bacaan istriku.. 🙂 Novel bagus katanya, karya Ilana Tan. Aku selalu kagum dengan para penulis bagus.
 …
54423-winter-in-tokyo-cerita-cinta-yang-bikin-baperSelesai nonton Soekarno, aku merasa bahwa film ini perlu juga ditonton oleh para anak kita, yang sudah berjarak jauh dengan sejarah para pendiri bangsanya. Tidak mesti sepakat dengan tafsir sejarah dan visualisasinya, tapi setidaknya bisa memancing daya kritis berpikir dialektis untuk mencari tahu kebenaran sejarah. Dari sisi ini, aku merasa film G30S PKI menjadi layak tonton, untuk dijadikan pemicu berpikir kritis generasi milenial, dan tidak dipaksakan sebagai satu-satunya tafsir kebenaran sejarah. Kembali dengan film Soekarno, urutan peristiwa sejarah sejak Soekarno kecil hingga Proklamasi Kemerdekaan sangat membantu ingatan. Yang sebelumnya hanya keping-keping puzzle peristiwa yang berserakan, seolah bisa tersambung runtut dalam cerita yang utuh dalam film ini. Visualisasi kekejaman Belanda dalam kerjapaksa dijaman Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, kemudian Romusha Jepang, juga pelecehan perempuan untuk memenuhi syahwat para tentara Jepang, kemiskinan dan kelaparan, mampu melengkapi kebutuhan suasana emosi atau situasi psikologis masyarakat saat itu. Film ini juga mencoba menjawab atas keraguan berbagai pihak tentang status Kemerdekaan RI, apakah hasil perjuangan para pendiri bangsa ataunpemberian Jepang. Silahkan tonton filmnya sebagai karya seni, kebebasan anda menilainya.
 …
CsifPVMUsAESXUWTiga drama lainnya adalah adaptasi dari novel karya penulis negeri ini. Di toko-toko buku off-line maupun on-line sekarang ini banyak sekali berjajar novel karya penulis muda negeri ini. Cerita berlatar-belakang kehidupan luar negeripun juga banyak ditemui. Hebat. Kekagumanku terhadap para penulis novel ini, berujung pada pilihan nonton flim Critical Eleven dari novel terlaris karya Ika Natassa, Melbourne Rewind dari novel Winna Efendi dan Winter in Tokyo dari novel karya Ilana Tan. Menghibur, filosofis dan kreatif dalam hal tema dan jauh beda dengan dengan film-film drama adaptasi tahun 70-80an yang melihat problem kehidupan begitu sederhana. Film-film menarik yang mewakili jamannya. Sedikit kritik untuk Winter in Tokyo, dialog berbahasa Jepang terlihat jelas teknis dubbingnya, mengganggu. Silahkan menonton filmnya, nikmati sesuai jamannya. Santai … 🙂

Indonesia Berwarna

imagesKetika jaman Soekarno, 60an awal kira2, sering agak bingung melihat para orang tua bergerombol mendekatkan diri pada sebuah radio, dengan wajah serius memiringkan kepala untuk fokus mendengarkan pidato Presiden Soekarno. Wajah kagum menghias wajah-wajah mereka setelahnya .. lalu suara pujian lamat-lamat terdengar, saling berbisik …
 …
Tahun terus berganti, dijaman presiden Soeharto, mulai terbiasa menyaksikan upacara bendera 17 Agustus di TVRI, hitam-putih tentunya.. khidmat, sunyi, militeristik .. suara terompet, drum band dan suara lantang komandan upacara menjadi pengingat kuat dalam benak .. traumatik menegangkan, seiring suasana pensiun dipercepat bagi para pegawai negeri sipil di berbagai departemen. Demikian terus terjadi setiap tahunnya. Kadang sempat melihat selintas pidato presiden Soeharto di DPR/MPR, yang tentu tak sepenuhnya bisa aku pahami saat itu ” .. saudara-saudara .. meningkatken .. mangkin … “. Rutin, datar menjemukan. Lelah
 …
Kegiatan upacara 17an tersebut terus berlangsung setiap tahunnya, dalam suasana dan gaya yang sama, bahkan setelah presiden silih berganti. Ritual yang tak menarik lagi bagiku … membosankan.. seolah siaran ulang saja layaknya …
IMG-20170818-WA0001
Tahun 2017, menjadi tahun istimewa bagi bangsa Indinesia .. presiden Jokowi memberikan pidato APBN 16 Agustus 2017 dengan mengenakan pakaian daerah dan membungkuk hormat kepada Yang Terhormat anggota DPR berdasi. Luar biasa .. desakralisasi tata laku pidato resmi Presiden selama ini telah berubah menjadi lebih Indonesia. Cair, berwarna dan rendah hati terasa.
 …
Upacara pada HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan dengan semangat dan ceria, baik para elit pemerintah, maupun para undangan. Pejabat berpakaian penuh warna dan gaya, berlalu-lalang menuju tempat duduk dengan gembira saling berfoto ria. Tak lama, muncul Presiden berpakaian adat mengunjungi para undangan di bagian depan dan menyalaminya satu-persatu. Dengan ceria, mereka berebut mengambil gambar bersama. Selfie katanya. Tak pernah terjadi sebelumnya. Rendah hati.
 …
Berbagai suguhan hiburan dan karnaval budaya sangat indah untuk dinikmati, hingga kebhinekaan sangat terasa disana, sebagai pengingat bagi kita semua untuk merawatnya. Membanggakan.
 …
Baru kali ini tak bosan menikmati upacara  bendera HUT Kemerdekaan RI di istana melalui telivisi, sejak awal hingga akhir. Saat pengibaran bendera di siang hari, juga penurunan bendera di sore hari.
 …
Selamat pak Jokowi-JK, yang telah mengubah wajah upacara berkesan angker, menjadi ramah, indah, berwarna dan menghibur, namun tetap khidmad saat prosesi sang saka merah-putih, yang diawali arak-arakan menggunakan kereta kuda hingga pengibaran di depan istana negara.
IMG-20170817-WA0027
Momen penting yang belum pernah ada sebelumnya juga terjadi, ketika presiden Jokowi sukses menghadirkan semua mantan Presiden dan Wakil Presiden ke istana untuk saling bertegur-sapa, akrab. Semoga semua kesejukan para negarawan tersebut menjadi awal bagus untuk kebaikan bangsa dan negara. Amin

Ibu Kartini

Panggil aku Kartini sajaSukses. Melalui film Kartini, karya Hanung Bramantyo yang disajikan dalam waktu tak lebih dari 2 jam dengan acting para pemeran yang tak diragukan kagi kemampuannya, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Dian Sastro, sukses menghadirkan kondisi sosial yang mencekam saat itu. Penjajahan feodalistik yang begitu mengakar oleh Belanda dan bangsa sendiri, tak hanya terhadap rakyatnya yang digambarkan dengan masyarakat yang duduk menyembah ketika bangsawan melewatinya; bahkan Kartini dan semua saudaranya pun harus jalan jongkok (laku dhodhok) ketika menghadap ayahandanya. Jangankan akses pendidikan, bahkan organ seksual perempuan pun, termasuk Kartini dan adik-adiknya, tak berhak dipertahankan oleh pemiliknya, kawin paksa. Air mata penonton terkuras banyak dalam adegan-adegan kawin paksa hingga film berakhir.
Kartini filmSelain Hanung, pada 1982 Sjuman Djaya pernah membuat film Kartini dengan judul “R.A. Kartini” yang berdurasi hampir 3 jam, dibintangi oleh Yenny Rachman, Nani Wijaya.
Film Kartini karya Hanung di atas, memaksa untuk membuka lagi buku lama karya Pramoedya Ananta Toer, “Panggil aku Kartini saja“. Rasanya, Hanung banyak mengacu pada buku ini. Bahkan ada adegan khusus Kartini mengucapkan kalimat ini ke kedua adiknya  “Panggil aku Kartini saja” untuk menghilangkan sekat feodalisme diantara mereka bertiga.
Di tangan Pramoedya, cuplikan surat-surat Kartini bertebaran di dalam buku dengan selingan disana-sini opini Toer menafsirkan maksud penulisnya, hingga mampu bercerita utuh menggambarkan dirinya sebagai sosok lengkap gadis kecil hingga dewasa, melawan kesepian karena pingitan selama 4 tahun, sejak usia 12 tahun, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Wafat usia 25 tahun. Tentu, dengan banyak polesan tafsir ideologis yang membingkai karakter perjuangan perempuan Kartini. Emansipansi dan kesetaraan gender.
Tak sepenuhnya getir, dalam buku inipun terungkap kisah cinta yang hangat dan mesra, tempat ia menggantungkan diri dengan seluruh hatinya yang menghauskan cinta. Mereka itu adalah Ayah dan kakaknya yang ketiga, kakak termuda. Hanung sukses menampilkan kenyataan ini di filmnya. Ayahanda yang digambarkannya lembut tutur kata dan sabar tindak-tanduknya. Betapa besar cinta Kartini kepadanya, tertuang dalam suratnya untuk Estella Zeehandelaar, 25 Mei 1899,
“Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadian; tapi tiadalah aku bisa bertanggung jawab kepada nuraniku, pabila aku serahkan diriku kepada orang-orang lain itu, sementara itu Ayahku, yang paling dahulu berhak atas diriku, kubiarkan menderita dan sakit-sakitan, sedangkan ia membutuhkan aku.
Kewajibanku sebagai anak tidak boleh aku kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah bahwa untuk sementara ini aku membaktikan diri kepada ayahku…”
“Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepalaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya”.
Tentang kakaknya yang ke-3, Toer menulis
“Abang itu tidak mentertawakannya, kalau ia bicara tentang cita-citanya, ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak pernah ia membuatnya menggigil dengan jawaban dingin: “Masa bodo, aku hanya orang Jawa!” Dan sekalipun ia tidak menyatakan bersimpati dengan cita-citanya, namun ia tahu, bahwa dalam hati abangnya membenarkannya, Ia tahu, bahwa abangnya berdiam diri, untuk tidak makin menyebabkan huru-hara. Buku-buku yang disodorkan ke tangannya tak lain dari kata-katanya. Ni merasa demikian kayanya dengan cinta ke dua orang kekasihnya ini, dan dengan simpati dari batin abangnya”.
Kompilasi surat-surat tersebut juga mampu menjelaskan kecerdasan Kartini dalam hal seni mengarang dan berpuisi untuk mengekspresikan kepekaan juga keprihatinannya terhadap nasib bangsa yang terjajah dalam segala hal ini.
Kepiawaian menulis adalah satu-satunya kekuatan minimal yang dipunyai Kartini, yang menginsyafi bahwa kepengarangan adalah tugas sosial. Manifes itu tak lain daripada manifes kesadaran batinnya tentang kewajiban-kewajiban terhadap Rakyatnya, Bangsanya, dan Negerinya. Sayang sekali, peran perjuangan Kartini melalui tulisannya ini (dasar pemikiran munculnya ide-ide kerakyatan) kurang kuat terlihat di film Hanung, padahal dari sisi inilah sebetulnya nilai-nilai kepahlawanan Kartini, atau mungkin tertutupi oleh banyaknya adegan dramatik kawin paksa yang kejam menimpa para perempuan pada jamannya.
Pemahaman terhadap kondisi rakyatnya sebagian didapat dari Max Havelaar, karya Multatuli, dari koran majalah, serta dari diskusi-diskusinya dengan orang-orang terpelajar, terutama sekali dari Ayah dan Pamannya sendiri.  Hubungannya dengan Rakyat memang terbatas, tetapi mendalam, dan ia melihatnya dengan pandangan yang jernih, baik tentang kekurangannya maupun kelebihannya. Kartini juga sering membantu pengembangan usaha kerajinan batik dan ukiran.
Tentang sikapnya terhadap Belanda, Kartini, yang hidup dimasa Politik Balas-budi, juga banyak diskusi dengan Ayah dan Pamannya. Salah satu kalimat dalam suratnya,
“Sekali waktu Ayah mengatakan kepadaku: “Ni, jangan kau kira adalah banyak orang Eropa, yang benar suka padamu. Hanya beberapa orang saja.”
Tentang pemahaman atas rakyatnya, Kartini membuat catatan di Jepara 1903:
Sudah umum bahwa kebanyakan dukun yang mengetahui rahasia sesuatu obat terhadap penyakit-penyakit tertentu membawa serta rahasia tersebut ke kuburan bila dia mati, kepada anaknya pun tidak sudi ia mempercayakannya. Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidaklah mungkin.
Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak pribadi kaum aristokrat, bersumber pada paham sesat, bahwa kaum bangsawan adalah mutlak manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas daripada Rakyat, dan karenanya berhak mengangkangi segala yang terbaik!.
Pramoedya dengan sikap politik dan kepeduliannya yang kental terhadap rakyat kecil, mencoba menggali keberpihakan sosial Kartini melalui tafsir atas surat-suratnya. Dan dia menemukannya, Kartini memahami dan mampu sungguh merasakan kehidupan Rakyat jelata, orang-orang yang melarat dan miskin di sekitarnya. Sekaligus ia dapat melihat, bahwa kemelaratan kemiskinan itu tidak lain daripada penderitaan seluruh Rakyatnya. Ia telah sampai pada suatu sikap, suatu pemihakan, dan sikap ini bukanlah  emosional belaka, melainkan hasil pengetahuan dan pengamatan sosial yang rinci teliti. Bukan lagi pemberontakan fisik yang hanya didorong oleh kebencian terhadap bangsa asing semata. Ujung dari buah renungan Kartini cuma satu: Kerja! Kerja buat Rakyatnya!
Dengan buku karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, cetakan 3, 2007 ini, pembaca mampu mengerti betul sosok Kartini lebih dalam, sehingga bisa memahami kepahlawanannya.
%d blogger menyukai ini: