Feeds:
Pos
Komentar

The Death of Expertise

Judul: The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters

Penulis: Tom Nichols

Penerbit: oxford University Press

Tahun: 2017


Dari beberapa channel Youtube, yang selalu menjadi pertanyaan Nichols hingga merasa perlu untul menulis buku ini adalah, “Why do people keep arguing with experts?”. Di AS mulai ada kecenderungan setiap orang untuk ‘mengkuliahi’ mereka yang sudah ahli dibidangnya. Ada skeptisisme terhadap pengetahuan dan kepakaran dan mulai agresif melakukan penolakan terhadapnya. Masalahnya adalah, dalam masyarakat AS yang republik dan demokratis, mengandaikan bahwa pimpinan pemerintahan semestinya adalah para ahli yang bisa dianut oleh bangsanya. Inilah yang menjadi kegalauan Nichols yang diungkap dalam bukunya, “The Death of Expertise“. Sistem pendidikan, narsisisme, media berita dan internet, turut andil terjadinya skeptisisme masyarakat terhadap kepakaran.

Dua cerita menarik di awal buku ini adalah, yang pertama, tahun 2015 muncul Public Policy Polling di AS yang ditujukan pada kaum Republikan dan Demokrat, “apakah mendukung kebijakan pemerintah utk membom negara Agrabah?”. Hampir sepertiga responden Republik semangat mendukung. Hanya 13% menentang dan sisanya tidak jelas. Sementara hanya 19% responden Demokrat mendukung pemboman, dan 36% menentang.  Agrabah adalah negara fiksi dalam film Disney, Aladdin 1992. Semangat sekali warga AS, tapi …

Cerita kedua tentang polling yang dilakukan Washington Post 2014, utk memilih apakah AS perlu intervensi militer terhadap Rusia yang dianggap invasi terhadap Ukraina. Peserta polling di AS ternyata dengan semangat menyetujui tindakan militer AS terhadap Rusia. Celakanya, hanya 1 orang dari 6 orang AS yang megetahui lokasi Ukraina dalam Peta Dunia. Aha … terlalu semangat. Patriotik, tapi …


Dua cerita diatas mewakili beberapa cerita sejenis lainnya yang dianggap Nichol bisa menunjukkan ketidak-pedulian bahkan resistensi masyarakat AS terhadap kepakaran yang bisa dijadikan rujukan dalam pengambilan keputusan atau setidaknya sebagai sumber pengetahuan yang valid.

Menurut Nichols, situasi anti-rasional sudah sangat memprihatinkan. Keadaan dimana akses pengetahuan semakin mudah diperoleh, namun keengganan untuk belajar justru semakin rendah. Menurutnya, situasi seperti ini sudah terjadi dimana-mana. Canada, Eropa juga mengalaminya. Bukan hanya semakin meningkatnya jumlah masyarakat kurang berpengetahuan, namun bahkan mengingkari bukti-bukti fundamental dan menolak argumentasi yang logis dari para pakar. Rasanya hal ini ridak banyak terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Disini masyarakat masih sangat menghormati para pakar, walaupun tak jarang terjadi kesalahan pengobatan atau kesalahan analisis sosial karena kepentingan para pakar yang berragam.

Ada sedikit rasa kurang nyaman membaca buku ini, sehingga perlu beberapa kali mengulang secara acak untuk memahami. Nichols cenderung konservatif, merasa jabatan dan pendidikan formal (termasuk dirinya) seolah menjadi pengakuan strata kepakaran tertinggi dan mendudukkan manusia berpengetahuan lainnya sebagai public intelectual, yang menjembatani antara masyarakat awam (laypeople) dengan para pakar. Nichols bersumsi bahwa Pakar seolah tak pernah dengan ‘sengaja’ melakukan kesalahan. Konsep dan praktek politik yang dilakukan para pakar politik, kalaupun tidak secara ‘gamblang’ melakukan kebohongan publik, mereka dengan kompetensinya mampu memanipulasi kebenaran.

Buku ini terbit 2017 dan lahir dari keprihatinan Nichols terhadap sikap masyarakat umum AS (laypeople), walaupun sebenarnya ini sudah jadi  fenomena mendunia, dalam menghargai hasil pemikiran para pakar, untuk merespon persoalan –  persoalan sosial yang terkait dengan dirinya. Ketidak-butuhan atau ketidak-pedulian publik terhadap pendapat para ahli yang bahkan sudah masuk dalam kategori arogansi karena merasa sudah mampu mendapatkan informasi “valid” sendiri melalui  internet/media sosial, akan membahayakan masyarakat itu  sendiri, mengingat validitas informasi yang masih perlu dipertanyakan. Dan semakin menarik keberadaan buku ini dengan momen kepemimpinan Donald Trump yang dianggap oleh sebagian masyarakat AS tidak mewakili kepentingan publik. Apakah keterpilihan Trump sebagai Presiden AS memang sudah didasari  informasi hasil analisa  sosial –  politik yang mumpuni oleh para ahli? Atau hanya berdasar permainan Bias Konfirmasi oleh para ahli komunikasi politik Trump? 

Tulisan tentang ketidakpedulian kepakaran (expertise), yang menjadi keprihatinan Nichols ini sebenarnya bukan yang pertama. Tahun 2015, terbit “The State of the American Mind”, sebuah buku kumpulan artikel tentang menurunnya daya kritis masyarakat AS, kemudian juga munculnya buku karya Ilya Somin, professor Hukum, “Democracy and Political Ignorance” yang menulis di dalamnya “the size and complexity of government have made it more difficult for voters with limited knowledge to monitor and evaluate the government’s many activities. The result is a polity in which the people often cannot exercise their sovereignty responsibly and effectively.”

Nichols memberikan penjelasan atas adanya beberapa kemungkinan penyebab “kematian kepakaran” yang berimbas pada kesulitan komunikasi bahkan perdebatan tidak substansial dalam masyarakat. Dalam penyajiannya, Nichols memaparkan beberapa aspek terkait “kematian kepakaran” ini dalam enam bab, selain  Pendahuluan di awal bukunya, dan Kesimpulan di akhir bukunya. Cukup padat materi yang disajikan, namun cukup informatif untuk dapat  memahami fenomena kerumitan komunikasi di era Informasi saat ini.

Bab I, Experts and Citizens

Pada bab ini Nichols menyajikan opini tentang keberadaan fenomena yang sudah mewabah di AS bahwa masyarakat ‘kebanyakan’ (laypeople) mempercayai dirinya sudah sangat berpengetahuan. Bahkan merasa dirinya lebih berpengetahuan daripada para professor sekalipun, hingga mampu menjelaskan bahkan berdebat tentang banyak hal, mulai dari sejarah imperialisme, seni, ideologi bahkan tentang vaksin sekalipun.

Di ranah media sosial akhir-akhir ini, konflik semakin gaduh dengan perdebatan, provokasi yang seringkali dipicu informasi yang diragukan kebenarannya. Diluar kompetensinya, seseorang bisa dengan percaya-diri menjelaskan tentang virus Covid-19 dan vaksinasi, hanya berdasar informasi dari internet. Banyak data dikumpulkannya untuk membenarkan pendapatnya, tanpa peduli informasi sudah kadaluarsa karena pendapat ahli memang tak berada di pihaknya. Bias Konfirmasi sudah terjadi untuk membenarkan pendapatnya. Sangat tidak berbasis sain namun lazim terjadi.

Namun demikian, rasanya jadi aneh ketika Nichols berpendapat bahwa : “… they are less likely to be wrong than nonexperts”, atau “It rarely occurs to the skeptics that for every terrible mistake, there are countless successes that prolong their lives”. Mungkin saja angka memang menunjukkan demikian, bahwa Pakar lebih jarang melakukan kesalahan, namun kualitas dampak dari kesalahan pakar bisa sangat berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal. Ini karena keputusan-keputusan yang berresiko fatality, biasanya dilakukan oleh para Pakar.

Pernah penulis alami, hingga harus diangkut ambulans dari Musium nasional Singapura ke RS karena tiba-tiba sesak napas, bahkan bicarapun sudah tidak mampu, akibat tidak kuat atas efek obat anti diabetik yang diberikan oleh dokter internis tanpa lebih dahulu menjelaskan kemungkinan efek tersebut. Internet menjelaskan bahwa salah satu dampak penggunaan obat tersebut adalah produksi gas dalam lambung. Efek tersebut tidak pernah lagi terjadi, sejak tidak dikonsumsinya obat tersebut. Dokter internis mengakui bahwa sesak napas tsb akibat obat yang diberikannya.


Nichols yang memasukkan dirinya sbg bagian dari kaum public intelectual, seolah berharap dimaklumi terhadap berbagai kasalahan yg pernah dilakukan kaum ‘pakar’. “Doctors routinely tussle with patients over drugs. Lawyers will describe clients losing money, and sometimes their freedom, because of unheeded advice. Teachers will relate stories of parents insisting that their children’s exam answers are right even when they’re demonstrably wrong. Realtors tell of clients who bought houses against their experienced advice and ended up trapped in a money pit”.

Bab 2. How Conversation Became Exhausting

Perbedaan pendapat antara para Pakar dengan masyarakat umum atau diantara masyarakat sendiri adalah wajar dan biasa sejak dulu kala. Namun perbedaan-perbedaan tersebut di era sekarang ini cenderung meruncing dan sering berujung perdebatan yang emosional. Melelahkan. 


Menurut Nichols tingkat pendidikan masyarakat yang semakin bagus, akses data yang lebih mudah, sosial media yang semakin marak penggunanya dan semakin mudahnya masuk ke ruang publik, semakin mempermudah keterlibatan masyarakat dalam perdebatan tentang banyak hal yang berkaitan dengan dirinya. Namun ternyata, alih-alih berbagai kemudahan tersebut memperbaiki komunikasi di ruang publik, justru sebaliknya memperburuk. Semangatnya tidak lagi mencari kebaikan bersama, namun memuaskan diri dengan mengalahkan lawan komunikasi.


Dalam perdebatan yang cenderung mencari “menang” dan tidak lagi peduli dengan “benar”, maka hanya bukti-bukti pendukung yang sesuai dengan pendapatnya sajalah yang dipilih, dan dikumpulkan untuk mendukung pemenangan. Confirmation Bias mulai dilakukan. Bisa dengan cerita Dongeng, Superstitious (mithos), atau yang paling rumit dan penuh intrik, serta membutuhkan keahlian tinggi, adalah dengan menyusun Teori Konspirasi. Konsep yang sangat digemari oleh mereka yang kesulitan memahami rumitnya persoalan dunia ini, sekaligus penggemar cerita dramatik, juga narsisis.

Nichols berpendapat bahwa kecenderungan natural ini bisa dilakukan siapa saja, baik masyarakat awam, maupun para pakar sekalipun. Tentang hal ini, penelitian psikologi David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University 1999, yang dikenal sebagai “the Dunning-Kruger Effect,” mengatakan bahwa “the dumber you are, the more confident you are that you’re not actually dumb“. 🙂 Selanjutnya Dunning mengatakan “… we all overestimate ourselves, but the less competent do it more than the rest of us”.

Sangat sering kita jumpai di era media sosial dan diskusi daring, yang berujung perdebatan antara para ahli dengan mereka yang merasa ahli atau tidak  kompeten. Penyebab mereka yang tidak  kompeten menilai dirinya terlalu tinggi adalah karena kurangnya kemampuan yang disebut Metakognisi. Ini adalah kemampuan yang didefinisikan oleh Benjamin Bloom sebagai lemahnya diri menguasai aspek kognisi, yaitu  mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi suatu masalah. Akibatnya, bisa saja terjadi mereka yang tidak kompeten ini akan bersikap ofensif/defensif berlebihan tanpa menyadari bahwa sudah jauh dari subyek pembicaraan ketika berhadapan dengan ahlinya.

Komunikasi diantara masyarakat umum, atau antara para pakar dengan masyarakat umum, semakin sulit bila sudah melibatkan emosi, khususnya bila tidak kondusif untuk salah satu pihak. Untuk itu karakter terpenting bagi para pakar adalah kemampuannya menahan diri untuk tetap netral, tidak berpihak, bahkan dalam kasus kontroversi sekalipun.

Bab 3. Higher Education – The Customer Is Always Right
Para tetua berasumsi bahwa jenjang tingkat pendidikan akan dengan sendirinya “menyelesaikan” perdebatan publik yang tidak substansial dan tidak setara. Dengan kata lain, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka akan semakin argumentatif dalam menyelesaikan persoalan dibidangnya. Dengan sistem pendidikan yang berorientasi bisnis komoditi (komodifikasi), pendapat tersebut diatas, tidak lagi dapat dibenarkan. Bahkan, ada kecenderungan, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin tinggi tuntutan untuk diperlakukan istimewa karena merasa sudah membayar mahal. Artinya, justru pendidikan tinggi turut andil dalam kekisruhan komunikasi publik karena kepakaran telah dipermainkan.

Nichols berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi di AS masih gagal dalam memberikan pendidikan ke mahasiswanya tentang pengetahuan dan keahlian dasar sebagai fondasi pembentuk kepakaran, yaitu berpikir kritis, “the ability to examine new information and competing ideas dispassionately, logically, and without emotional or personal preconceptions”.

Budaya baru dalam aspek pendidikan di AS adalah bahwa menempuh pendidikan tinggi adalah kewajiban. Dampak buruk dari cara pandang tersebut adalah program pendidikan hanya untuk memenuhi kewajiban, sehingga pendidikan menjadi komoditi. Dan peserta didik merasa sebagai raja yang sudah menunaikan kewajibannya, membayar biaya kuliah. Transaksi kelulusan terjadi dan matilah kepakaran.

4. Let Me Google That for You

Kesan yang diperoleh dari membaca buku ini, penulis menganggap internet dengan berbagai aplikasinya menyumbang banyak terjadinya ketimpangan komunikasi antara masyarakat awam dan para pakar. Meskipun diakuinya bahwa internet bukanlah penyebab utama. Seolah Wikipedia, Google dan media sosial tak layak dipergunakan sebagai alat untuk mencari informasi karena validitas kebenaran yang ia ragukan. Benar pendapat Nichols bahwa informasi dalam Wikipedia adalah sumbangan banyak pihak dengan minimum supervisi, namun juga diakuinya bahwa banyak informasi yang benar adanya. Lalu, apa sebenarnya maksud Nichols dengan cercaannya terhadap aplikasi informasi dalam Internet? Pengguna Internet pun ada berbagai kategori tingkatan pengetahuan. Dan rasanya, mostly paham bahwa info dari Internet bukanlah sumber yang terjamin validitasnya untuk dapat dipergunakan sebagai rujukan ilmiah. Perlu diuji lagi kebenarannya berbasis sains.

Nichols menulis buku yang isinya sudah banyak dipahami masyarakat awam sekalipun. Khusus tentang Internet di bab 4, Nichols seperti gagap menghadapinya. Di satu sisi mengecam, namun disisi lainnya juga mengakui ada kebenaran disana. Harapan yang terlaku tinggi bahwa masyarakat seharusnya ‘bergantung’ saja terhadap para pakar (bukan internet), jadi terasa naif. Dari sini justru terlihat kelemahan para pakar yang tidak mampu lagi berperang melawan derasnya arus informasi di era internet. “Experts trying to confront this kind of stubborn ignorance may think they’re helping, when in fact they’re basically trying to throw water on a grease fire. It doesn’t work and only spreads the damage around”. Mestinya para PAKAR justru mampu membuat strategi dengan pemilihan alat/aplikasi yang tepat untuk dapat membanjiri informasi di internet yang diyakini kebenarannya.

Nichols juga mengakui nahwa Internet bukanlah penyebab utama tantangan terhadap kepakaran. Namun, internet mempercepat runtuhnya bangunan komunikasi antara masyarakat awam dengan Pakar. Internet bagaikan gudang besar membanjiri berbagai informasi. Dari yang valid, berguna hingga informasi sampah, yang dapat diakses dengan mudah. 

Kecepatan pergerakan dan berragamnya informasi sudsh terbukti mampu meruntuhkan kekuasaan di beberapa negara. Bagaikan pisau bermata dua, internet sebagai media informasi bisa sangat membantu, namun juga sangat berbahaya bila kemampuan literasi pengguna sangat rendah. Semakin membahayakan karena informasi dalam internet tidak mudah untuk dihilangkan atau dihapus. Dan mudah sekali untuk disebar-luaskan.

5 The “New” New Journalism, and Lots of It

Di awal bab ini Nichols menyajikan beberapa contoh berita di media resmi yang terlihat valid informasinya, tapi ternyata salah. Contoh berita mengenai Coklat yang dapat membuat kurus dan adanya jembatan yang menghubungkan Gaza dengan Israel. Keduanya adalah berita tidak benar. Bagi konsumen yang tidak cukup kritis untuk menguji kebenarannya, berita tersebut bisa berakibat fatal.

Untuk mengkonsumsi berita dengan benar, perlu adanya kewajiban bagi konsumen untuk lebih kritis. Nichols menyarankan empat hal untuk dilakukan dalam mencerna berita, yaitu:

  • Rendah hati
    • Mulai dengan asumsi bahwa penulis lebih memahami persoalan daripada konsumen berita
  • Variatif
    • Tidak mengkonsumsi berita dari sumber yang sama terus-menerus
  • Tidak sisnis
    • Wartawan bisa salah karena tida teliti dalam menyajikan informasi. Namun tidak bermaksud berbohong
  • Kritis
    • Siapa penulisnya? Apakah ada editornya? Apakah ini media berit atau politik? Apakah informasi visa diverifikasi?Apakah ada media lain yang tidak sependapat dengan beritanya?

Menurutnya, membaca berita adalah keterampilan yang akan menjadi lebih baik bila lebih sering melakukannya.

6. When the Experts Are Wrong
Beberpa contoh:

Teen Debunks Professor’s Claim That Anti-Irish Signs Never Existed

Dari hasil berselancar di internet, pelajar kelas 8, Rebecca Fried, menemukan bahwa jargon “No Irish Need Apply” yang ditulis oleh seorang ahli sejarah, Richard Jensen, ternyata berita tidak benar.

Tahun 1970, ahli nutrisi AS yang didukung Pemerintah menyatakan bahwa telor ayam berbahaya untuk dikonsumsi karena akan meningkatkan kolesterol jahat (LDL), yang berakibat mematikan. Yang terjadi kemudian justru peningkatan jumlah kematian karena obesitas berhubung makan berlebihan untuk kompensasi diet telor ayam. Empat puluh lima tahun kemudian, 2015, pemerintah AS menyatakan sebaliknya, bahwa telor ayam tidak berbahaya bahkan menyehatkan.

Para pakar politik pun banyak melakukan kesalahan ketika memberikan analisis bahwa Uni Soviet masih kuat dan Gorbachev masih sangat pegang peranan. Kudeta terjadi dan Uni Soviet runtuh di tahun 1991. Gorbachev tak sekuat yang digambarkan para politikus.

Dokter, sebagai pakar medis yang dampak keahliannya dirasakan langsung oleh masyarakat, sering juga melakukan kesalahan. Kesalahan bisa terjadi pada langkah penasihatan, pemberian resep obat atau tindakan medis lainnya. Kesalahan tersebut bahkan bisa berakibat kematian.


“Even when the experts all agree, they may well be mistaken”, Bertrand Russell.


Banyak pakar melakukan kesalahan, mulai yang berdampak ringan hingga berat bahkan menyebabkan bencana mematikan. Semua ada alasannya, namun masyarakat tetap percaya pada keahlian para pakar tersebut. Sama halnya percaya pada pengendara kendaraan umum atau pilot, yang memang sudah teruji secara formal dengan pengalaman, pendidikan, sertifikat, lisensi dll. Namun tingkat kepercayaan masyarakat akan berbeda bila dihadapkan pada para pakar yang berpendidikan tinggi dengan pengalaman di bidangnya selama puluhan tahun. Apalagi mempunyai jabatan pemerintahan sebagai staf ahli presiden, menteri atau senat di AS.


Tentang kemungkinan bahwa seorang pakar bisa berbuat salah, Nichols bersikap mendua. Disatu sisi merasa perlu dihargai kepakarannya. Disisi lain, kesalahan Pakar perlu disikapi sebagai kelaziman belaka. Dengan pembelaan, jarang terjadi kesalahan pakar. Nichols lupa bahwa kesalahan Pakar justru seringkali berdampak besar dan berbahaya. Dan, imbalan penasihatan dari seorang Pakar di AS adalah sangat mahal. Konsekuensinya adalah tuntutan terhadap validitas pemikiran seorang Pakar akan sangat tinggi.

Conclusion Experts and Democracy
Ada kecenderungan bahwa buku ini adalah ungkapan puncak kekecewaan Nichols yang dipicu kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2016. Bukan karena dia mendukung kandidat Presiden yang kalah, namun lebih karena ketidak-pedulian para pemilih terhadap “kebenaran” informasi bahwa Trump abai terhadap pendapat publik. Nichols menyebutnya sebagai “Anti-intellectualism”. Disini kebenaran Dunning-Kruger Effect diuji. Bahwa, semakin bodoh seseorang, akan semakin tidak mampu mengenali bahwa dirinya bodoh. Pendidikan para pendukung Trump, menurut Nichols, berada pada posisi tersebut. Rendah pendidikan.


Nichols mengingatkan bahwa ada lima kesalahpahaman pubkik terhadap para Pakar, yaitu:

  1. Pakar bukan Dalang
  2. Pakar tidak bisa mengatur para Pemimpin dalam mengimplementasikan pensihatannya
  3. Pakar tidak mengatur kebijakan publik secara rincindari konsep hingga eksekusinya
  4. Pakar tidak pada posisi untuk terlibat dalam pengambilan keputusan oleh Pemimpin terhadap Penasihatannya.
  5. Pakar hanya memberikan penjelasan dan pilihan

Dalam masyarakat demokratis, layanan penasihatan dan berbagai analisis para Pakar adalah bagian dari kontrak sosial. Masyarakat mendelegasikan kekuatannya dalam mengambil keputusan dalam berbagai persoalan rumit kepada parlemen. Sedangkan, para pakar atau staf ahli Parlemen atau Pejabat Publik lainnya, berharap supaya pemikiran yang sesuai kompetensinya dapat diterima publik selayaknya. Relasi Pakar dengan Publik ini didasarkan pada kepercayaan. Trust. Bila Trust ini hilang, maka akan terjadi chaos dalam demokrasi karena kurangnya pilihan-pilihan rasional berbasis sains untuk pengambilan keputusan. Otoritarian akan terjadi. Akibat buruk ini yang menjadi kekhawatiran utama dari Nichols.

Tautan:

  1. The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters
  2. How ignorance became a virtue
  3. Wikipedia: “The Death of Expertise”
  4. Tom Nichols: Are Facts Dead?
  5. Why Don’t Americans Trust Experts Anymore?
  6. Tom Nichols, “The Death Of Expertise”

Rekomendasi

Buku yang sudah banyak sekali di’review’ dan tayang di berbagai media cetak maupun channel video ini layak untuk dibaca. Meskipun kepercayaan publik terhadap Kepakaran, di negara kita tercinta ini, masih relatif tinggi, namun penyebab-penyebab umum Kematian Kepakaran, seperti disebutkan oleh Nichols, sudah mulai muncul. Misalnya, reaksi spontan para netizen terhadap Hoax semakin tinggi. Kemudahan akses informasi dari internet, menyebabkan semakin banyaknya netizen merasa “tahu segalanya”. Tanpa merasa perlu melakukan validasi data. Melemahnya “critical thinking”.


Namun di sisi lain, para Pakar yang mempunyai ‘kontrak sosial’ terhadap publik, banyak diantaranya yang tidak sepenuhnya memberikan layanan semestinya. Rendahnya produksi layanan analisis sosial atau kebijakan, atau bahkan memberikan bias informasi karena kepentingan politiknya. Selamat membaca.

Educated

Tara Westover

Suatu hari muncul di whatsap dari ponakan penggemar buku. 

Dhilla, aku memanggilnya. Dia sangat rekomendasikan buku ini untuk dibaca. “Bill Gates pun mewawancarainya di youtube”, semangatnya mengingatkan. Ok, langsung berselancar di Google untuk mencari info tentang buku tersebut. Wooww … banyak selebriti dunia media seperti Oprah, Bill Gates, Ellen deGeneres, mewawancarainya terkait bukunya. Bahkan channel youtube dari media cetak dunia seperti Washington Post, CNN dan perguruan tinggi ternama juga melakukannya. Penghargaan juga banyak diterimanya, seperti :

  • Nonfiction Book of the Year by the American Booksellers Association
  • Finalist for the John Leonard Prize from the National Book Critics Circle Award
  • Finalist for the Autobiography Award from the National Book Critics Circle Award
  • One of the New York Times’ 10 Best Books of 2018
  • Winner of the Goodreads Choice Award for Autobiography
  • Alex Award from the American Library Association
  • Audie Award for Autobiography/Memoir
  • Audie Award for Best Female Narrator (because Julia is fab)
  • Amazon Editors’ pick for Best Book of 2018
  • Apple’s Best Memoir of the Year
  • Audible’s Best Memoir of the Year
  • Hudson Group Best Book of the Year
  • President Barack Obama’s Favorite Books of the Year List
  • Bill Gates’s Holiday Reading List

Educated“, terbitan Random House, 2018. Sebuah buku memoir setebal 336 halaman dari seorang gadis lulusan doktoral Cambridge, Tara Westover, kelahiran Idaho AS, telah menghentak dunia. Menduduki posisi Best Seller di New York Times selama dua tahun, hingga Februari 2020, dan telah diterjemahkan dalam 45 bahasa. Kehidupan keras keluarga pedesaan penganut faham Mormon yang sangat taat ‘mengikat’, menjadi isu utama buku ini. Dan kegigihan Tara dalam menuntut ilmu hingga meraih gelar Doktor, tanpa dukungan orangtua, menjadi penyeimbang isu dalam memoir tersebut. Buku yang penuh dengan rasa traumatik, opresif, bipolar, kelam namun tidak cengeng, bahkan tegar inspiratif.


Memoir ini dibuka dengan cerita indah dan segarnya wilayah pegunungan Buck’s Peak, area tempat tinggal sekaligus tempat usaha keluarga Tara. Idaho, AS. Bisnis Gene, sang ayah, adalah mengelola bengkel besi bekas dan pendapatan Faye, sang ibu, dari jasa bidan yang membantu kelahiran anak, serta membuat jamu herbal. Selain bermain, tugas anak-anak, termasuk Tara, adalah bekerja membantu ayahnya melakukan pemilihan besi-besi bekas yang masih mungkin untuk diperdagangkan. Belajar di rumah setelahnya. Kerja keras melibatkan keluarga dibawah umur tanpa aturan-aturan pokok keselamatan kerja ini telah berkali-kali menyebabkan kecelakaan.Tyler, Luke, Tara dan terakhir Gene mengalami luka parah yang nyaris mematikan. Terbakar.


Minggu adalah hari gereja. Kehidupan sehari-hari berlangsung rutin, tanpa perubahan signifikan. Tak berkesan. “My strongest memory is not a memory. It’s something I imagined, then came to remember as if it had happened”. Tertulis sebagai kalimat pembuka pada Chapter 1. 


Dengan pemahaman yang kuat terhadap ajaran Mormon, Gene (ayah) dan Faye (ibu) tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Namun mendidiknya sendiri di rumah (home schooling). Menurut Gene, sekolah negeri hanya akan menjauhkan murid dari perintah Tuhan. Berbeda dengan pendapat Tyler (kakak) dan neneknya, yang justru mengharapkan Tara untuk mengenyam pendidikan formal, “Grandma thought we should be in school and not, as she put it, “roaming the mountain like savages”. Gene mendidik keras keluarganya untuk tidak berhubungan dengan pelayanan publik, termasuk Rumah Sakit harus dihindari. Suatu saat Gene mengingatkan, “Doctors can’t help with them diabetes, but the Lord can!” Hingga mengenyam pendidikan tinggi, Tara belum pernah sekalipun vaksinasi. Juga tidak penah minum kopi, karena larangan gereja yang dianutnya.


Tara, lahir September 1986, adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Berturut-turut dari anak tertua adalah Tony, Shawn, Tyler, Luke, Audry (perempuan), Richard dan Tara. Empat dari tujuh bersaudara termuda tersebut tidak mempunyai Akte Lahir, karena lahir di rumah. Tidak ada catatan medis, karena memang tidak pernah ke dokter atau Rumah Sakit. Usia 9 tahun, Tara baru mengurus Surat Lahirnya berdasar dokumen baptis di gereja. Gene berusaha sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan pemerintah karena keyakinannya. Mormonism. 

Rumah keluarga Tara Westover, di Buck’s Peak


Faye sebetulnya tidak berkeinginan sebagai bidan, namun Genelah yang berkehendak. Dengan alasan kemandirian finansial dan untuk tidak bergantung pada pemerintah. Gene selalu berprasangka buruk terhadap hal yang berhubungan dengan Pemerintah. Illuminati. Termasuk urusan pendidikan dan kesehatan. Sikap tersebut ditunjukkan dalam dialog dengan ibunya, “Those doctors aren’t  trying to  save you,” katanya. “They’re trying to kill  you”.  Faye cukup berpenghasilan untuk membantu belanja kebutuhan rutin rumahtangga. Bahkan Gene sudah merencanakan sepenuhnya mandiri dengan membangun pipa air dari gunung dan memasang solar-cell untuk keperluan energinya. Ini semua dalam rangka mempersiapkan kondisi ‘Hari Akhir‘. Menurutnya.


Ketiga kakak tertua sudah meninggalkan rumah. Tony bekerja, Shawn kabur karena tak tahan dengan kesewenang-wenangan ayahnya dan Tyler kuliah. Sikap sinis sang ayah, Gene, terhadap para profesor ketika Tyler bermaksud kuliah, “There’s two kind of them college professors. Those who know they’re lying, and those who think they’re telling the truth”. Dia juga berpendapat “A man can’t make a living out of books and scraps of paper. You’re going to be the head of a family. How can you support a wife and children with books?”. Absurd.


Tony mulai mengajarnya membaca ketika Tara berusia 4 tahun. Buku-buku agama menjadi obyek bacaan sehari-hari setelah selesai bekerja. Tyler mengajarnya aljabar dan trigonometri untuk test kesetaraan SMU dan persiapan ke jenjang perguruan tinggi. Tara juga sempat bekerja pagi-sore sebagai babby-sitter dari Senin hingga Jumat. Dan dikenal mampu menyanyi dengan bagus karena sempat belajar atas inisiatif ibunya. Semangat untuk menempuh pendidikan formal muncul ketika neneknya (dari ayahnya) memaksanya untuk kabur bersamanya, demi sekolah. Faye, sang ibu, mendukungnya. Ketika Tara mencoba menyampaikan keinginannya untuk sekolah, jawab ayahnya adalah bahwa tempat perempuan itu di rumah dan belajar pengobatan herbal. “God’s pharmacy”, sebutnya. Suatu saat Tara berkata pada ibunya, “I’ve decided not to go to Birgham Young University (BYU),”. Sang ibu meyakinkannya dengan bergumam pelan, “Don’t say that. I don’t want to hear that”. “… Don’t you stay. Go. Don’t let anything stop you from going.”


Pada usia 16 tahun, Tara mengikuti test ACT (American College Testing) yang meliputi bahasa, membaca, matematika, dan sains, sebagai syarat untuk masuk BYU (Birgham Young University) dan universitas di Amerika pada umumnya. Dan berikut adalah paragraf yang menggembirakan bagi para pembaca, setelah disuguhi penuh getir kemuraman di separuh buku memoirnya, “I returned from the junkyard to find a white envelope. I tore it open, staining the page with grease, and looked past the individual scores to the composite. Twenty-two. My heart was beating loud, happy beats. It wasn’t a twenty-seven, but it opened up possibilities. Maybe Idaho State”. Berhak masuk universitas.


Tara tidak puas dan mengulang lagi ACT. Berhasil mendapatkan nilai 28. Diterima di BYU, Utah.


Kehidupan kota menyebabkan culture shock bagi Tara. Tujuhbelas tahun dalam kungkungan kehidupan Mormon yang ketat, membuatnya kaget melihat banyak aktifitas di hari Minggu, cara berpakaian dan pilihan menu makanan teman-temannya. Banyak hal masuk dalam ketegori ‘sesat’ dan tidak sesuai dengan keyakinan Mormon, seperti yang diajarkan ayahnya, Gene. Kompromi dilakukannya.

Junk Yard, tempat kerja keluarga Westover


Di perkuliahan pun Tara banyak tertinggal dengan isu-isu global, yang seharusnya sudah pernah didengar sebagai pengetahuan umum. Seperti Holocaust, gerakan hak-hak sipil di Amerika, Martin Luther King, dll. Namun dengan usaha yang lebih keras, Tara mampu memperoleh Beasiswa berupa potongan 50% biaya kuliah, karena mendapat nilai ujian yang memuaskan. 


Liburan semester digunakan Tara untuk pulang ke Buck’s Peak. Kembali ceria bekerja di Stokes, toko keperluan rumahtangga. Namun tak kuasa menolak permintaan orangtuanya untuk kembali bekerja di junkyard. “You have an opportunity to help your father,” Faye said. “He needs you. He’ll never say it but he does. It’s your choice what to do.” There was silence, then she added, “But if you don’t help, you can’t stay here. You’ll have to live somewhere else”. Tara bekerja untuk Ayahnya, lagi.


Bullying bahkan tindakan fisik semena-mena oleh Shawn (kakaknya) setiap kali pulang ke Buck’s Peak, yang selama ini dianggapnya hanya sebagai canda, mulai menyadarkannya. Misalnya, panggilan Niger berulang kali terhadapnya, bahkan menyebutnya “whore“, menyakitinya serta menyiksanya secara fisik. Memang dimaksudkan sebagai pelecehan. Perilaku sakit.


His expression is unforgettable: not anger or rage. There is no fury in it. Only pleasure, unperturbed. Then a part of me understands, even as I begin to argue against it, that my humiliation was the cause of that pleasure. It was not an accident or side effect. It was the objective.


There was one point when he was forcing me from the car, that he had both hands pinned above my head and my shirt rose up. I asked him to let me fix it but it was like he couldn’t hear me. He just stared at it like a great big jerk. It’s a good thing I’m as small as I am. If I was larger, at that moment, I would have torn him apart.


Ketakutannya untuk tidak lagi memperoleh beasiswa karena kesulitannya dalam memahami Aljabar, tidak terbukti. Dengan ketekunannya, Tara berhasil mendapatkan nilai A untuk Aljabar. Dan mendapatkan dana pemerintah sebagai mahasiswa ‘tidak mampu’. Kontrak apartemen terbayarkan.


Terminologi bipolar, paranoia, schizophrenia dan kelainan mental lainnya, Tara dapatkan di kuliah psikologi. Dari kuliah ini, Tara mengindikasikan Gene, ayahnya, menderita kelainan mental.

Menurutnya, ada dua risiko bagi anak-anak berorangtua Bipolar yaitu, akan menurun secara genetis dan kehidupan keluarga yang tidak nyaman atau depresif. Sering kecelakaan terjadi di tempat kerja ‘junk yard‘ akibat kelainan mental Gene yang lebih mengutamakan ‘keyakinan’ dan egonya, tanpa memperdulikan protokol keselamatan kerja. Keluarga telah berkali-kali menanggung resikonya.


Setelah 19 tahun hidup dengan tuntunan Gene yang otoriter, akhirnya Tara memutuskan untuk berhenti dan tidak pulang ke rumah selama liburan semester. Mencoba hidup ‘normal’ dan fokus di kuliah. Dari Jurusan Sejarah BYU, Tara menerima penghargaan “the most outstanding undergraduate”. Tanpa kehadiran orangtuanya. 

Tara merasakan bahwa pendidikan mampu menghasilkan perspektif berpikir sendiri dalam ‘melihat’ dunia, sehingga tidak bergantung pada perspektif pihak lain. Seperti yang dirasakan selama ini di Peak’s Buck. Masuk Cambridge, Inggris. Tara adalah siswa ketiga dalam sejarah BYU yang memperoleh beasiswa The Gates Scholersip (TGE), Cambridge. 


Isaiah Berlin’s two concepts of liberty, menjadik topik kuliah pertama yang belum pernah Tara ketahui. Dosennya mengajarkan,

Brigham Young University, Idaho
  1. “Negative liberty, is the freedom from external obstacles or constraints. An individual is free in this sense if they are not physically prevented from taking action.” 
  2. “Positive liberty, is freedom from internal constraints.”

Positive liberty is self-mastery—the rule of the self, by the self. To have positive liberty, he explained, is to take control of one’s own mind; to be liberated from irrational fears and beliefs, from addictions,  superstitions and all other forms of self coercion. Tara memahaminya, None but ourselves can free our minds. Vaksinasi dilakukannya.


Perkawanan di Cambridge membuatnya nyaman, ada rasa kekeluargaan antar sesamanya, sangat berbeda dengan situasi di Buck’s Peak. Bahkan berlawanan. Serasa mengkhianati keluarganya. Bahagia, tak ingin pulang. Tapi … tetap pulang. Perlakuan hinaan mental dan fisik tetap diperoleh dari kakaknya, Shawn. Terhadap Erin, bekas pacar Shawn sendiri, penyiksaan fisik juga dilakukannya. Menyebutnya pelacur, mencekik, bahkan membenturkan kepala ke dinding. Ketidak-percayaan terhadap Tara, tetap ada pada ayahnya, Gene. Semua pengaduan Tara tentang sikap Shawn terhadapnya, tidak dipercaya Gene. Faye, sang ibu, bersikap ganda. Mendukung Tara, namun selalu menyerah terhadap kata Gene. 


I stared at the reflection. The mirror was mesmeric, with its triple panels trimmed with false oak. It was the same mirror I’d gazed into as a child, then as a girl, then as a youth, half woman, half girl. Behind me was the same toilet Shawn had put my head in, holding me there until I confessed I was a whore. Tara merasa terbelah kepribadiannya.. Kesempatan kuliah pendek di Harvard cukup membahagiakannya.


“I am called of God to testify that disaster lies ahead of you,” Dad said. “It is coming soon, very soon, and it will break you, break you utterly. It will knock you down into the depths of humility. And when you are there, when you are lying broken, you will call on the Divine Father for mercy.” Dad’s voice, which had risen to fever pitch, now fell to a murmur. “And He will not hear you”. Gene masih berusaha menarik Tara dari universitas, kembali pulang bekerja di Bucks Peak. Ketika berkunjung ke Harvard. Tara menolak.


Satu kalimat singkat yang ditulisnya ini bisa jadi gambaran utama tentang ayahnya, Gene, “I am not the child my father raised, but he is the father who raised her”.


Usia 27 tahun (2014) Tara memperoleh gelar Doctor dari Trinity Colledge, Cambridge dengan disertasi berjudul “The Family, Morality, and Social Science in Anglo-American Cooperative Thought, 1813–1890″. Luar biasa. Dalam situasi kejiwaan yang demikian rumit, menekan, Tara mampu menyelesaikan pendidikan tinggi yang membebaskan.


Apakah Tara akan pulang dan berdamai dengan ayah (Gene) dan kakaknga (Shawn)? Silahkan membaca Educated, kemudian menikmati video2 tentangnya di Youtube.


TARA WESTOVER was born in Idaho in 1986. She received her BA from Brigham Young University in 2008 and was subsequently awarded a Gates Cambridge Scholarship. She earned an MPhil from Trinity College, Cambridge, in 2009, and in 2010 was a visiting fellow at Harvard University. She returned to Cambridge, where she was awarded a PhD in history in 2014. Educated is her first book.


Tautan:

  1. Tara Westover
  2. Facebook
  3. Mormon stories
  4. Opah Winfrey
  5. What happened after I left
  6. A Mormon survivalist

Berpakaian

Di masa kecilku.

Kemeja dan pantalon warna coklat muda berbahan ‘dril‘ tebal itu terlihat gagah dikenakan bapakku setiap hari ke tempat kerjanya. Ibu bergaun panjang hingga selutut, membonceng sepeda duduk menyamping. Wajar saja.


Pemuda bercelana panjang dan lebar di bagian bawah kakinya, ‘cutbrai‘ katanya. Sibuk menyapu jalan kesannya, dengan sepatu ‘jènggel‘ berhak tinggi dan kemeja lengan panjang terbuka dua kancing atasnya. Serasa sudah paling modis saja sepertinya. Tentu dengan rambut gondrong sepundaknya. Pengin menirunya.


Rok mini mekar di bawah untuk bergaya para perempuannya. Dan kacamata besar menutupi wajahnya. Sepeda mini berkemudi tinggi menjadi kegemaran para murid SD SMP saat itu. Nyaman saja melihatnya


Lima tahun kemudian.

SMAku membebaskan murid memilih pakaian kesehariannya. Bila di SMA lain berpakaian rapi, seragam dan bercelana panjang. Di sekolahku malahan banyak memilih celana pendek, bersandal jepit dan berrambut panjang. Lusuh, tanpa seragam. Tentu sepeda jengki masih jadi andalan. Perilaku bukan ditentukan dari bungkus, kredonya. Puas kami memilih kesenangan diri. Jantan rasanya.


80an

Dua kancing atas kemeja terbuka itu masih bergaya. Bedanya, ada tshirt di dalamnya dan ditarik ke atas lengan panjangnya … haha gaya sekali rasanya … gondrong masih berlanjut, bagian belakang saja. GoBel julukannya.


Akhir 80an.

Entah kapan persisnya.. semangat religius setelah era Orba, mulai tampak dlm pilihan gaya pakaiannya. Baju koko, celana cingkrang, jilbab, semakin terlihat .. ungkapan kata bahasa Arab pun mulai sering terdengar. 


Sepakat sudah, pak menteri pendidikan mengaturnya. Tidak melarang, namun juga tidak mewajibkan, murid berbusana sesuai keyakinannya. Tak perlu kiranya pengguna suatu model pakaian tertentu merasa dirinya lebih suci, atau di lain pihak merasa lebih berbudaya hanya karena berkebaya. Pakaian itu pilihan. Budaya itu bergerak. Dan kesucian itu kuasaNya. Biasa saja.

Kesibukan pekerjaan yang berhubungan dengan korporasi, dan sedikit pengalaman tentang GCG, auditing dan manajemen risiko, membuat kewaspadaan semakin perlu dilatih untuk mencegah kemungkinan terjadinya perilaku bisnis yang  menyimpang, karena kelalaian atau kesengajaan. Tulisan ini dimaksudkan hanya sebagai penyemangat untuk dapat menikmati lebih jauh dengan membaca buku-buku kejahatan finansial korporasi di bawah ini.


Kisah runtuhnya dua korporasi besar dunia yang disajikan oleh tiga buku dibawah ini, sangat bagus dan inspiratif, untuk dijadikan pelajaran dalam tata-kelola perusahaan yang baik dan benar. Tiga buku tersebut adalah:

  1. Conspiracy of Fools: A True Story, Eichenwald, Kurt. (Veteran New York Times financial journalist, a finalist for the Pulitzer Prize in 2000, also authored The Informant), 784 halaman (hard copy), BROADWAY BOOKS, 2005.
  2. The Smartest Guys In The RoomBethany McLean and Peter Elkind, Penguin Group, 2003
  3. Extraordinary Circumstances, The Journey of a Corporate Whistleblower, Cynthia Cooper, John Wiley & Sons, Inc., 2008

Buku ke 1 dan 2 adalah tentang runtuhnya Enron,  sebuah perusahaan migas dan energi yang  masuk peringkat 7 dunia, berpusat di Houston, Texas, AS. Pada tahun 2001 Enron mempunyai valuasi US$ 100 Milyar. The Smartest Guys In The Room juga sudah bisa dinikmati filmnya dengan judul yang sama, sedangkan buku ke 3 adalah tentang runtuhnya Worldcom, perusahaan telekomunikasi, yang mulai berdiri 1983 namun sudah mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang luar biasa dari US $152 juta  pada tahun 1990 menjadi US  $392 Milyar pada tahun 2001, hingga bisa berada pada posisi ke 42 dari 500 perusahaan lainnya menurut majalah Fortune.


Skandal Enron

How could America’s seventh-biggest company just blow up? Where had the billions gone? Itulah pertanyaan yang seringkali muncul dari berbagai  komen yang didapatkan dari  internet  terhadap berbagai artikel yang berkaitan dengan Enron.


Kedua buku ini adalah karya rekonstruksi kisah nyata runtuhnya perusahaan migas terbesar ke-7 dunia,  yang berpusat di Houston, Amerika.  Enron, perusahaan bervaluasi $100 milyar di tahun 2001, runtuh karena Kejahatan finansial korporasi. Arthur Andersen, konsultan bisnis dan auditor terkemuka dunia yang mendapatkan $49 juta dari Enron di tahun 2000 (termasuk $35 juta dari jasa manajemen konsultan), turut runtuh juga karenanya. Harga saham melorot menjadi $0.26 di tahun 2001, setelah pernah mencapai tertinggi di harga $90.75.


Kedua buku menulis hal yang sama, bahwa kecurigaan publik atas adanya masalah dengan  Enron dimulai pada 20 September 2000, yaitu, ketika Jonathan Weil, wartawan Texas Journal dari biro Dallas, meliput tentang bisnis  energi yang mengandalkan metode akuntansi mark-to-market (keuntungan diambil didepan tanpa mengindahkan fluktuasi nilai yg bisa menyebabkan kerugian), diantaranya adalah Enron. Membaca liputan Texas Journal, Jim Chanos, investment manager Kynikos Associates di New York, mulai mendalami Laporan Keuangan Tahunan 1999 dan Triwulan ke-3 2020 yang terlihat bagus. Dinyatakan dalam Laporan Keuangan, Enron mengalami pertumbuhan keuntungan, sedangkan bisnis telekomunikasi saat itu sedang  buruk,  bahkan  ROIC Enron hanya 7 %. Mencurigakan. Diperoleh info bahwa Ken Lay (CEO) mulai menjual sahamnya 250 lembar setiap  harinya dalam  beberapa hari. Juga Skilling (pengganti Ken Lay), yang menjual sahamnya  dalam jumlah besar. Insider Selling


September 2000, Enron tidak menghasilkan cash dan telah banyak mengambil  keuntungan  didepan  melalui metode akunting mark to market atas persetujuan SEC. Dengan metode akutansi Mark to Market ini, Enron harus menanggung kerugian $500 Juta di bisnis Enron Energy Services. Bahkan, ada penambahan hutang sebesar US$ 3,9 Milyar. Dan dokumen menunjukkan bahwa 40% dari pendapatan di tahun 1998 dan 1999 adalah hasil dari penjualan aset, bukan dari hasil operasi. Harga saham Enron meluncur turun.


Pertanyaan yang muncul pada saat konferensi pers oleh Enron ketika kepercayaan pasar mulai merosot, pada umumnya adalah tentang adanya transaksi bisnis dengan anak perusahaan (special purpose entities) yang tidak transparan dan susah difahami proses bisnisnya oleh komunitas pasar saham. Awal 2001, Chanos mulai menghubungi Bethany McLean (wartawan Fortune), penulis buku ini. Dan kekacauan semakin merebak.


Tentang Mark to Market, David Woytek, Internal Auditor dari Arthur Andersen, saat itu sempat meragukannya, “How can you book twenty years of revenue in the first year?” Woytek asked. “That goes against everything I was ever taught in accounting. You never recognize revenue in advance, only when title passes from one owner to the next. And title doesn’t pass on this until you deliver the gas, over the next twenty years.”


Dari isi buku, Conspiracy of Fools tidak berbeda dengan The Smartest Guys In The Room, karena sejatinya kedua buku tersebut adalah ‘laporan’ tentang kejadian nyata kejahatan korporasi, bukan novel. Hanya, bobot liputan peristiwa-peristiwa dan narasi dialog para pelaku di dalamnya yang sedikit berbeda namun tetap tidak mengubah fakta substansial yang ada.


Untuk menunjukkan bahwa maksud penulis sepenuhnya hanya menyajikan berita dan opini publik terkait kejahatan korporasi Enron, dalam bab Q&A, Kurt Eichenwald mengatakan “I am not going to venture out and say “I know, in my opinion this person committed a crime, in my opinion this person did not.” That’s really up to a jury”. … “I kind of look at it as an impressionistic painting. Everyone can look at it and make their own judgments about what they think the intents were. I don’t think that’s my job”. 


Tentang Arthur Andersen, Echenwald di akhir bukunya menulis “Arthur Andersen deserved the death penalty. They were not public accountants. They were not acting on behalf of public interest. And I think that failure—they paid a very heavy price for it, but I think it’s a price that was ultimately deserved. It was a company that had experienced these kind of violations in the past, and didn’t do enough to make sure that it didn’t happen again”.


Yang juga menarik dari buku Kurt Eichenwald ini adalah kemampuannya menggali informasi, mengangkat kisah-kisah pertemuan pejabat Enron seperti Ken Lay, Andy Fastow (CFO) dan Jeff Skilling dengan para selebriti politik dan bisnis, seperti George W. Bush, Dick Cheney, Paul O’Neill, Harvey Pitt, Colin Powell, Gray Davis, Arnold Schwarzenegger, Alan Greenspan, Bill Clinton, Rupert Murdoch and Sumner Redstone, kemudian merangkainya dan menyajikannya secara runtut dan rinci dalam satu kerangka skandal korporasi Enron, dengan narasi yang nyaman untuk dinikmati. Framing. Membacanya serasa sedang menikmati novel detektif Tom Clancy :). Opini penulis tidak terlihat muncul dalam bahasa verbal yang menghakimi.


Sedikit berbeda dengan Conspiracy of Fools, The Smartest Guys In The Room sudah ‘menghakimi’ sejak di bab Pendahuluan “It would later be blindingly obvious that Fastow had not told us the truth—how could he, given that much of Enron’s earnings were the result of accounting manipulations that created the illusion of profitability?” … meskipun memang benar adanya, setelah membaca lebih jauh dalam bukunya.


Sherron Smith (kemudian Sharron Watkins, setelah menikah), bekerja di Enron sebagai akuntan sejak 1993. Sebagian kecil kutipan surat Sherron Watkins ke  Ken Lay (CEO), termasuk penjelasannya setelah menemukan banyak penyimpangan akutansi yang dilakukan Fastow, “Dear Mr. Lay, Has Enron become a risky place to work? For those of us who didn’t get rich over the last few years, can we afford to stay? Skilling’s abrupt departure will raise suspicions of accounting improprieties and valuation issues. …”. Surat ini yang kemudian menjadikan Sherron Watkins dianggap publik sebagai Whistleblower. Pahlawan.

Skandal Worldcom

Satu lagi kasus penyelewengan keuangan yang terjadi diwaktu yang hampir bersamaan dengan Enron, yaitu Worldcom. Perusahaan telekomunikasi AS, dibawah Bernie Ebbers, yang melayani jasa telekomunikasi jarak jauh. Berpusat di Jackson (1997, Clinton), Mississippi. Pada awalnya hanya melayani pantai selatan AS, berkembang hingga 65 negara lain di dunia.


Kasus ini dibongkar oleh Internal Auditor Worldcom, Cynthia Cooper, penulis buku ini, yang mulai bekerja di bagian Internal Audit Worldcom sejak usia 20 tahun,  tahun 1994. Menjadi Vice President Internal Audit di usia 37 tahun (2002). “WorldCom was an underdog company, with an underdog CEO, headquartered in an underdog state”. Dalam 8 tahun masa kerjanya, pendapatan Worldcom tumbuh dari $1,5 Milyar menjadi $38 Milyar. Tahun 1999, Bernie Ebbers berada pada nomor 174 orang terkaya di AS.

Pada Juni 2002, Internal Audit, dibawah Cynthia Cooper, menemukan keanehan adanya transaksi transfer dari akun ekspense di Income Statement ke akun asset di Balance Sheet sejak 2001 yang total nilanya mencapai $3,8 milyar lebih. Scott Sullivan, CFO, memberi alasan bisnis yang menurut Cynthia tidak rasional secara akuntasi.


Scott Sullivan, diangkat sebagai CFO pada usia 33 tahun dan Wall Street memberinya penghargaan sebagai ahli financial yang cemerlang. Di tahun 1997, dengan kompensasi sebesar $19 million, dia merupakan CFO termahal di AS. Tahun 1998, CFO Magazine memberinya penghargaan CFO Excellence Award karena sukses untuk bidang merger dan akuisisi.

Konvensi akutansi “matching principle”, digunakan untuk penundaan pembukuan biaya sehingga terlihat seolah  masih sebagai asset. Hal ini dilakukan untuk menjaga performa perusahaan supaya tetap terlihat bagus.

Akibat dari semua ini adalah anjloknya harga saham Worldcom menjadi $83  cent di NASDAQ, dari puncaknya $64 tahun  1999, hilangnya pekerjaan dari 17.000 karyawan, atau 20% dari total jumlah karyawan Worldcom, hilangnya kepercayaan publik, kerugian finansial dan kehancuran reputasi serta karir. Worldcom merupakan kasus runtuhnya korporasi terbesar dunia.

Penutup

Kedua skandal keuangan tersebut, Enron dan Worldcom, memicu munculnya undang-undang Federal AS, “The Sarbanes-Oxley Act” (or SOX Act) yang diinisiasi oleh anggota Senat Paul Sarbanes dan anggota DPR Michael Oxley, serta ditandatangani oleh Presiden George W. Bush , 30 Juli, 2002. Akta ini dimaksudkan untuk melindungi investor dari kejahatan keuangan korporasi.

Sudah banyak sekali artikel tentang skandal Enron ini, selain karena skala kerugian yang sangat material, peristiwanya juga sudah relatif lama terjadi, sehingga tak perlu lagi ulasan yang lebih rinci dalam tulisan ini. Ada beberapa link artikel yang bisa dirujuk untuk menjelaskan kasusnya lebih rinci:

  1. Kasus Worldcom
  2. ANALISIS KASUS ENRON COORPORATION
  3. Stocks plunge as WorldCom admits $3.8 billion fraud

Suluk Tambangraras

Setelah membaca Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, Suluk Tambangraras adalah novel sejarah kedua yang saya baca. Menarik dan dapat menjadi penyemangat awal untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa. Penyegaran ulang atas pengetahuan Sejarah yang pernah kita nikmati di masa SMP dulu. 

Damar Shashangka adalah penulis yang kondang dengan karya-karyanya ttg sejarah kerajaan di Jawa dan spiritual Jawa. Masih cukup muda namun pengetahuannya tentang budaya Jawa sangatlah mumpuni. Saat ini beliau berdomisili di Bogor dan melakukan praktek spritual Jawa bersama komunitasnya.

Suluk Tambangraras karya Damar Shashangka ini adalah bentuk ‘novelisasi’ sejarah, sehingga tak dapat dihindari akan adanya ‘kembangan’ cerita supaya lebih menarik, runtut ceritanya dan nyaman dibacanya. Namun mestinya tidak jauh menyimpang dari sumbernya, yaitu Serat Centhini, yang aslinya dalam bentuk tembang Jawa. Setidaknya dari informasi di internet, penanggalan peristiwa-peristiwa besar dan tokoh-tokoh ternama, memang benar adanya.


Awal tahun 80an terkenal cerita silat berlatar belakang kerajaan Islam Jawa, Demak hingga Mataram, seperti Api Di Bukit Menoreh dan Naga Sasra dan Sabuk Inten karya SH. Mintardja serta Bende Mataram karya,  Herman Pratikto. Para  tokoh utama dalam novel berseri tersebut adalah masyarakat ‘kebanyakan’ atau bukan para pejabat pemerintah. Meskipun ada juga sedikit keterlibatan Ki Ageng Pemanahan (ayah  Sutawijaya, raja Mataram pertama) dalam cerita Api Di Bukit Menoreh. Ini berbeda dengan Suluk Tambang Raras, yang memang bercerita tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, sehingga para tokoh utama di dalamnya adalah para petinggi kerajaan itu sendiri.


Novel Suluk Tambangraras ini berisi sejarah kekuasaan atau sejarah penaklukan di tanah Jawa yang di beberapa kesempatan terkesan kejam, bahkan brutal. Betulkah memang demikian adanya? Mulai dari kisah bayi Raden Paku (Sunan Giri) yang dibuang, bahkan dari sumber yang berbeda, diceritakan bayi ini telah dilarung atau dihanyutkan. Kemudian kisah Sultan Pasai, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, yang melakukan pelecehan seksual terhadap kedua puterinya sendiri hingga berakibat tewasnya kedua puteri tsb karena bunuhdiri. Pajang dibawah Mas Karebet, ditaklukkan Danang Sutawijaya, putera angkatnya sendiri. Perebutan kekuasaan Sultan Hamengkubuwana II oleh Sultan Hamengkubuwana III yang dibantu Belanda. Adipati Pragola, dari Pathi, tewas dalam pemberontakan Mataram dibawah Panembahan Senapati. Panembahan Senapati adalah suami dari kakak perempuan Adipati Pragola. Kyai Adipati Upasanta wafat karena dipancung oleh menantunya sendiri, Raja Mataram,  Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma karena kalah dalam penyerbuan Batavia. Lebih dari seribu pasukan Sumedang dan Ukur, yang menyertainya juga mendapat hukuman mati di alun-alun Mataram karena alasan yang sama.


Secara umum, sebagai pembuka diceritakan latarbelakang kekuasaan di tanah Jawa, khususnya wilayah Surakarta dan Yogyakarta, dimana polah-tingkah Belanda telah menyebabkan terpecahnya Kasunanan Surakarta melalui Perjanjian Palihan Nagari menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Salatiga yang memecah Kasunanan Surakarta menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegara. 


Bab selanjutnya, dibuka dengan dialog RM Gusti Sugandi, yang bergelar Adipati Anom Amengkunegoro III, putra mahkota Sunan Pakubuwono IV, dengan RN. Sastradipura, RN. Ranggasutrasna, RT. Sastranagara (Ki Ranggawarsata atau RN. Yasadipura II) di keraton Kasunanan Surakarta. Adipati Anom bermaksud untuk menyusun sebuah naskah yang mencatat lengkap tentang sejarah dan budaya Jawa, sejak runtuhnya Majapahit. Naskah tersebut akan  berbentuk kumpulan tembang Jawa yang dinamai Suluk Tambangraras. Dan nantinya akan dikenal sebagai Serat Centhini.


Maksud Adipati Anom ini dipicu oleh banyaknya benda berharga, termasuk kitab-kitab yang berisi sejarah dan budaya warisan leluhur Mataram/Kasunanan Surakarta yang hilang, diangkut oleh Inggris (Raffles) ke negerinya ketika menaklukkan keraton Yogya dimasa Sultan Hamengkubuwana II. Inggris menaklukkan Belanda di tahun 1811.


Selanjutnya novel bercerita tentang sejarah tokoh utama, mulai dari kisah pengembaraan Syekh Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang, kemudian berlanjut kisah puteranya, yaitu Raden Paku sejak lahirnya di tahun 1442 M dan berdirinya Giri Kedhaton, kemudian berakhir dengan kisah Ki Ageng Pekik, hingga kesuksesannya sebagai panglima perang Mataram di masa Susuhunan Adi Prabhu Anyakrakusuma, dalam menaklukkan Giri Kedhaton. Diakhir cerita inilah para putera-puteri Sunan Giri, yaitu Raden Jayengresmi, Raden Jayengsari dan Niken Rancangkaoti melarikan diri dan berkelana.
Sebagai penutup novel ini, cerita kembali pada suasana dialog ketiga sastrawan Kasunanan Surakarta, yang sedang mengumpulkan cerita diatas dan kemudian bersepakat bahwa cerita sejarah panjang kerajaan Islam Jawa tersebut adalah bagian awal dari keseluruhan naskah Serat Centhini, hasil pengembaraan ketiga putra-putri Sunan Giri tersebut diatas.


Novel terbitan Prameswari cetakan I tahun 2016 ini setebal 831 halaman. Layout dan cover buku, menarik dan nyaman dibaca. Banyak pebendaharaan kata asing di dalamnya, bahasa Jawa kuno. Akan sangat membantu bila semua kata yang tercetak miring,  ditambahkan  penjelasannya  di bagian bawah halaman atau dibuatkan khusus semacam kamus di bagian belakang buku. Tebalnya buku menyebabkan berat dan tidak nyaman untuk dapat dibaca di sembarang tempat. Akan menjadi pilihan yang bagus bila diperjual-belikan juga dalam format digital, sehingga mudah dibawa dan dibaca menggunakan gadget.


Buku bagus yang sangat direkomendasikan untuk penggemar novel sejarah, khususnya kerajaan di tanah Jawa. Akhirnya, tetap berkarya untuk mas Damar Shashangka.

Berikut ini adalah urutan waktu yang ada dalam buku ini:

1267 Kesultanan Pasai (Kerajaan Islam) didirikan oleh Meurah Silu, bergelar Sultan Malik Al-Salih
1295 Pasai mulai dibawah Sultan Muhammad Malik Az-Zahir1325-1351 Kesultanan Delhi dibawah Sultan Muhammad Taghlug. Syekh Ahmad Syah Jalal, dari Samarkand, keturunan Nabi Muhammad. (Silsilah hal. 116)
1326 Sultan Muhammad Malik Az-Zahir wafat (Mendahului ayahnya, Sultan Malik As-Shaleh). Mempunyai 2 putra: Malik Al-Mahmud dan Malik Al-Mansur.
1345 Gan Eng Cu atau Arya Teja (gelar dari Majapahit) sbg perwakilan Bong Tak Keng di Tuban
1346-1383 Kesultanan Pasai dibawah Sultan Ahmad Malik Az-Zahir. Berperilaku buruk, membunuh putranya yg melindungi dua adik perempuannya, yg akhirnya juga bunuh diri.
1350 Kesultanan Pasai ditaklukkan Majapahit
1383-1405 Kesultanan Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair1385 Syekh Jamaluddin Syah Jalal (Syekh Jumadil Kubra) bangsawan Kesultanan Delhi, putra Syekh Ahmad Syah Jalal, sampai di Pasai bersama 4 saudara:

  1. Sayyid Qamaruddin Syah Jalal
  2. Sayyid Majduddin Syah Jalal
  3. Sayyid Tsanauddin Syah Jalal
  4. Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Tandhês/Sunan Gresik)

Adik Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair, Putri Ramawati, dinikahkan dengan Syekh Jamaluddin Syah Jalal, melahirkan Syekh Ibrahim Al-Akbar (di Champa, dikenal sbg Syekh Ibrahim As-Samarqand).
1393 Di Pasai, Syekh Ibrahim Al-Akbar dan istrinya, melahirkan Syekh Maulana Ishaq
Di Champa, Syekh Ibrahim Al-Akbar dan Chandravati, melahirkan:

  1. Sayyid Ali Murtadlo
  2. Sayyid Ali Rahmad (dari Makkah, singgah di Palembang, bertemu Adipati Aria Damar atau Swan Liong)
  3. Siti Zaenab

1405-1428 Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zair wafat, digantikan Sultanah Nahrasiyyah utk memimpin Pasai
1428-1438  Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin II
1429 Lahir Sayyid Abdul Qadir. Putra Syekh Maulana Ishaq (kakak tiri Raden Paku) dgn istri pertama di Pasai, sblm menikah dgn Dewi Sekardhadhu.
1438-1462 Pasai dibawah Sultan Shalahuddin. Syekh Maulana Ishaq ke Jawa mencari kakeknya  Syekh Jamaluddin Syah Jalal
1441 Syekh Maulana Ishaq menyembuhkan Ratna Dewi Sekardhadhu (mjd istrinya), putri Adipati Blambangan. Syekh Maulana Ishaq diusir dari Blambangan krn memaksakan Adipati Blambangan utk memeluk agama Islam. Mengubah nama mjd Syekh Wali Lanang
1442 DewiSekardhadhu melahirkan. Bayi dibuang. Dipungut oleh Nyi Gede Pinatih di Tandhes dan diberi nama Jaka Samodra (Raden Paku).
1445 Di Tuban, Sayyid Ali Rahmad bertemu ayahnya, Syekh Ibrahim Al-Akbar (wafat di Tuban, dikenal sbg Syekh Ibrahim Asmarakondi)
1445 Syekh Wali Lanang gagal membawa Raden Paku (3 thn) dari Nyi Gedhe Pinatih
1447 Penguasa Majapahit Sthri Dyah Rani Suhita lengser, digantikan putra tirinya, Kertawijaya, yg bergelar Bathara Prabhu Wijayaparakramawardhana
1451 lahir Siti Sarah di Pasai, putri Syekh Maulana Ishaq. Setelah pulang dari Jawa
1451 Sayyid Ali Rahmad pindah ke Ujung Galuh, mendirikan pesantren dan dikenal sbg Sunan Ngampeldênta atau Sunan Ngampel.
1451-1453 Raden Kertawijaya wafat. Digantikan Raden Kertarajasa Bhre Pamotan Sang Sinagara sbg penguasa Majapahit (Wafat 1453), nenek moyang Pangeran Purbaya (putra Panembahan Senopati dgn Rara Lembayung)
1453 Nyi Gedhe Pinatih membawa Raden Paku ke pesantren Sunan Ngampeldênta atau Sunan Ngampelgadhing atau Raden Rahmad atau Sayyid Ali Rahmad atau Bong Swi Hoo, putra Syekh Ibrahim Al Akbar. Di Ujung Galuh, yg telah diubah namanya mjd Surabhaya oleh Rakryan Kanuruhan Kahuripan Arya Lembu Sora. Raden Paku bersahabat dgn Makdum Ibrahim, putra Sunan Ngampel. Selanjutnya Makdum Ibrahim menetap di Lasem sbg pengajar agama, dikenal sbg Sunan Benang.
1453-1456 Majapahit tanpa raja
1456-1466 Raden Suryawikrama, putra Raden Kertawijaya sbg penguasa Majapahit
1462-1464 Pasai dibawah Sultan Ahmad II
1464-1466 Pasai dibawah Sultan Abu Zaid Ahmad III
1466 Pasai dibawah Sultan Ahmad IV (<1 thn)
1466-1468 Pasai dibawah Sultan Mahmud

1468-? Pasai dibawah Sultan Zainal Abidin III
1468 Bhre Kertabhumi menguasai Majapahit stlh mengalahkan Raden Suprabhawa atau Bhre Pandhan Salas III,  putra Raden Suryawikrama. Tak lama, kembali dikuasai kembali Raden Suprabhawa dan diserahkan kpd Raden Girindrawardhana Dyah Wijayakusuma, bergelar Bathara Prabhu Singawardhana.
1468 Perkawinan Raden Paku dgn: 

  • Siti Murtasyi’ah, putri Sunan Ngampel, keturunan, Pasai-Tiongkok-Champa-Tagalog
  • Siti Wardah, Bungkul, Jawa (putri pemilik buah delima)

1469 Raden Paku, bersama Makdum Ibrahim, bertemu ayah dan kedua putra-putrinya di Pasai. Sayyid Abdul Qadir (40 thn) dan Siti Sarah (18 thn).
1473 Syekh Maulana Ishaq wafat. Sayyid Abdul Qadir bersama adiknya, Siti Sarah, datang ke Sunan Ngampeldenta di Jawa. Siti Sarah kemudian dinikahkan oleh Sunan Ngampeldenta dengan Raden Sahid (putra Adipati Tuban), yg dkemudian dikenal sbg Sunan Kalijaga
1474 Raden Wijayakusuma mangkat, digantikan Bhre Kertabhumi
1478 Sultan Ngampeldenta wafat
1478 Majapahit yg diruntuhkan oleh Demak, diserahkan pada Tionghoa, Nyo Lay Wa. Sayyid Abdul Qadir diserahi daerah Pergota oleh Panembahan Jin Bun, dan mendpt gelar Susuhunan Ing Pandhanarang.
1486 Majapahit bawahan Demak (Nyo Lay Wa) ditaklukkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dan memindahkan Majapahit dari Trawulan ke Daha. Kecil namun bebas dari Demak. Bergelar Syri Wilwatikta Kanggala Kadhiri Prabhu Nata.
1487 Berdirinya Giri Kedhaton
1489 Lahir Sayyid Maulana Muhammad yg nantinya sbg Sunan Giri IV atau Susuhunan Adi Giri Parapen
1506 Jaka Samodra atau Raden Paku atau Sunan Giri Kedhaton atau Sunan Ing Giri Gajah atau Sultan Abdul Faqih ‘Ainul Yaqin Prabhu Setmata wafat (64 thn). Digantikan oleh putranya, Pangeran Zainal Abidin, bergelar Sunan Giri Dalem
1515 Lahir Mas Karebet atau Jaka Tingkir Tujuh hari stlh kelahirannya, ayahnya (Ki Ageng Kebo Kanigara atau Ki Ageng Pengging) dihukum mati oleh Demak melalui Sunan Kudus (ayah dari Arya Penangsang, Jipang).
1517 Majapahit tetap dibawah Girindrawardhana namun mjd daerah taklukkan Demak, yg dipimpin Panembahan Jin Bun.
1518 Panembahan Jin Bun mangkat, digantikan Adipati Unus
1521 Adipati Unus mangkat dlm perang di Malaka melawan Peranggi (Portugis). Digantikan Raden Trenggana.
1524 Susuhunan Giri Kawis Guwa lahir
1527 RadenGirindrawardhana mangkat
1530 Lahir Bagus Brubut putra Ki Pemanahan yg diangkat anak oleh Jaka Tingkir atau Ki Mas Karebet dan dikenal sbg Danang Sutawijaya
1531 Surabhaya ditaklukkan Demak
1532 Giri Kedhaton dibebaskan Demak. Pasukan Sengguruh keluar dari Tandhes.
1535 Pasuruhan yg masih Syiwa Budha tunduk thd Demak
1546 Sultan Trenggana tewas di Panarukan
1546Susuhunan Giri Dalemwafat, digantikan Pangeran Sayyid Ali Kusumawira atau Susuhunan Giri III
1548 Susuhunan Giri III wafat krn perang dgn pasukan pedalaman, digantikan oleh adiknya,  Sayyid Maulana Muhammad atau Sunan Giri IV atau Susuhunan Adi Giri Parapen, utk memimpin Giri Kadhaton 
1549 Demak Bintara dikuasai Mas Karebet dan pusat pemerintahan pindah dari Demak Bintara ke Pajang. 
1550Sunan Kalijaga wafat
1556 Ki Pemanahan menerima Alas Mentaok dari Sultan Pajang. Berubah nama menjadi Mataram dan Ki Pemanahan bergelar Ki Ageng Mataram
1564 Pajang membunuh pembawa surat dari Kesultanan Aceh yg berharap Pajang menyerang Kasultanan Malaka krn terhina bhb Pajang tidak punya kekuatan laut spt Demak
1581 Pajang dibawah mas Karebet (Sultan Hadiwijaya) menguasai sebagian besar Jawa, kecuali Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kerajaan Blambangan dan Kesultanan Giri Kedhaton.
1584Ki Ageng Mataram wafat
1587Danang Sutawijaya menguasai Pajang yg belum lama dikuasai Pangeran Benawa (Jipang), dan bergelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama
1600 Pemberontakan Adipati Pragola (Pati) ditumpas Panembahan Senopati, yg telah menikahi Dyah Retno Dumilah (adik Adipati Pragola)
1601Panembahan Senapati mangkat (71 thn). Digantikan putranya, Raden Mas Jolang, bergelar Susuhunan Prabhu Anyakrawati Senopati Ing Ngalaga
1605Susuhunan Giri Parapen wafat (116 thn). Digantikan Susuhunan Giri Kawis Guwa atau Sultan Giri V
1613 Prabhu Anyakrawati wafat. Digantikan putranya Raden Mas Rangsang bergelar Adi Prabhu Anyakrakusuma
1613-1645Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram terbesar yang memerintah 
1616 Penguasa Surabhaya Pangeran Panji Jayalengkara berinisiatif mengumpulkan para pemimpin brang wetan untuk menyerang Mataram. Perlu mendapat restu Giri Kadhaton lebih dahulu. Pangeran Pekik (putra Jayalengkara) sbg utusan. Pd kesempatan tsb, Sunan Giri bersabda bhw anak keturunan Pangeran Pekik akan menguasai Jawa (hal. 356)
1618 Giri Kadhaton dibawah Susuhunan Ageng Giri
1619 Lahir Raden Mas Sayidin atau Adipati Anom Arya Mataram, putra Sultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma (dgn Ratu Wetan, putra Kyai Adipati Upasanta yg dipancung Anyakrakusuma krn kalah melawan Batavia di penyerangan pertama), yg nantinya akan dinikahkan dengan putri Pangeran Pekik (dgn istri pertama)
1620 Mataram dibawah Anyakrakusuma mengirimkan pasukan utk menaklukan Surabhaya
1624 Mataram menaklukkan Madura
1625 Mataram menaklukkan Surabhaya. Sungai Kali Mas dibendung, mjd sumber penyakit
1628 Pangeran Panji Jayalengkara mangkat
1628 Serangan Mataram pertama ke Batavia dipimpin Tumenggung Bahureksa, Kendhal membawa 48.000 prajurit. Kalah dan Tumenggung Bahureksa wafat dlm peperangan.
1629 Serangan Mataram kedua ke Batavia dipimpin Tumenggung Singaranu. GubJen. Yan Peters Zoon Coen tewas di masa peperangan.
1633 Pemberontakan ke Mataram oleh Syekh Bungas, keturunan Susuhunan Ing Tembayat, dipicu krn kekecewaan penyerbuan ke Batavia yg tidak maksimal berhasil digagalkan. 1.260 org dari Ukur dan Sumedang (tanah Pasundan) dihukum penggal di alun-alun Mataram krnnya.
1633 (1555 Tahun SyakaSultan Agung Adiprabhu Anyakrakusuma mulai menggunakan almanak berdasar  perhitungan perputaran bulan (tahun Islam)
1635 Pengembaraan putra-putri Sunan Giri stlh runtuhnya Giri Kedhaton oleh Mataram (Ki Ageng Pekik)
1645-1677 Sri Susuhunan Amangkurat Agung, penguasa terakhir yang memerintah Kasultanan Mataram
1680-1703 Jawa, Sri Susuhunan Amangkurat Amral pendiri dan penguasa pertama Keraton Kartasura
1703-1705 Susuhunan Amangkurat Mas, penguasa Keraton Kartasura
Raden Mas Garendi adalah cucu Sri Susuhunan Amangkurat Mas, putra dari Pangeran Tépasana.
1704 1719Sri Susuhunan Raden Pakubuwana I, memerintah Keraton Kartasura
1719-1726 Sri Susuhunan Amangkurat Jawa yang memerintah Keraton Kartasura
Sri Susuhunan Raden Pakubuwana II adalah putra dari Sri Susuhunan Amangkurat Jawa.
1755 runtuhnya Mataram, peristiwa Palihan Nagari
1788 Sri Susuhunan Raden Pakubuwana IV naik tahtaRM Gusti Sugandi bergelar Adipati Anom Amengkunegoro III
1799 runtuhnya VOC
1810 pengangkatan RM. Suroyo (putra mahkota HB II) sbg Sultan HB III oleh Gubjen. Herman Willem Daendels. 
1811 Belanda digantikan Inggris. 
1812 Yogya diserang. Banyak benda berharga warisan leluhur Mataram/Kasunanan Surakarta diangkut oleh Inggris (Raffles) ke negerinya. Sultan HB II berkuasa kembali
1812 ide penulisan semua hal terkait sejarah Jawa oleh Adipati Anom Amengkunegoro III
1815 Adipati Anom Amengkunegoro III, putra mahkota Sunan Pakubuwono IV, memprakarsai penyusunan lengkap budaya Jawa, Suluk Tambangraras. Yg nantinya lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Penyusunnya adalah:

  1. RN. Sastradipura  
  2. RN. Ranggasutrasna
  3. RT. Sastranagara (Ki Ranggawarsata atau RN. Yasadipura II)

3 Tahun – Anton Chekov

Buku kecil setebal 157 halaman ini aku beli entah dimana. Lupa. Tertulis catatanku di dalamnya, tahun 2018. Buku karya Anton (Pavlovich) Chekov ini ditulisnya pada tahun 1885, di era Tsar Nicholas tentunya, sebelum revolusi Uni Soviet (1917).  Dedikasinya sebagai penulis cerpen realis dan penulis naskah drama, menghantarkannya sebagai penerima Pushkin Prize,  penghargaan bergengsi Russia, bagi sastrawan. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bentang pada tahun 2017 dan diterjemahkan oleh sastrawan besar kita, Sapardi Djoko Damono.


Meskipun novel ini pendek, namun tetap lebih panjang dari  cerita pendek biasa. Lebih dari 15 nama terlibat dalam ceritanya, termasuk beberapa tokoh utama yaitu Laptev (Alyosha) Alexei Fyodorovich 32 tahun (tokoh utama), Yulia Sergeyevna 21 tahun (tokoh utama), Nina  Fyodorovna 39 tahun (kakak Laptev), Panaurov Grigory Nikolayevich (suami Nina), Fyodor Stepanych (ayah Laptev), Fyodor (kakak Laptev),  Yartsev (tmn Laptev), dan Kostya Kochevoi (tmn Laptev). Lokasi cerita hanya ada di dua tempat, yaitu kota kecil tempat Yulia berada dan Moscow, dengan setting waktu pada saat buku ini ditulis, 1885.


Garis besar cerita buku ini tentang cinta tak berbalas. Cerita biasa, tak istimewa dan lazim adanya. Betulkah? Betul, namun kembang-kembang  cerita yang disajikan penulis realis  inilah yang menjadikan  keseluruhan cerita mengalun getir,  depresif  dan memperkaya makna kehidupan sosial. Bukan karena alur cerita utama,  tetapi  justru karena  kembang – kembang cerita inilah, bisa tertangkap kelunya realitas sosial  budaya yang melatar-belakanginya. 


Chekov menggunakan teknik cerita pihak ke-3, sebagai pencerita yang seolah tahu semua pikiran dan perasaan para tokohnya. Dan Chekov juga selalu menjelaskan secara rinci sifat fisik dan karakter mereka.  Misalnya, tentang Laptev, Chekov  menjelaskan, “… dirinya tidak tampan, dan kini dia hampir yakin tentang kenyataan tersebut. Dia agak pendek dan kecil, pipinya merah muda dan rambutnya mulai menipis di bagian atas sehingga kalau hawa sedang dingin, dia bisa langsung merasakannya di kulit kepala. Wajahnya tidak memiliki daya tarik yang paling sederhana sekalipun, yang bisa membuat wajah tampak menyenangkan. Kepada perempuan dia bersikap kaku, terlalu banyak omong, dan suka asyik dengan dirinya sendiri”.


Begitu piawainya Chekov bercerita, hingga baru mulai membaca  halaman pertama buku ini, langsung terbayang pengalaman pembaca tentang setting kota kecil Russia, di akhir abad 19. Kereta kuda, kemeja rapi dalam celana besar berikatpinggang untuk lelaki, dan gaun yang berkembang di bawah dengan payung mekar menutupi kepalanya.


Laptev, anak pengusaha kaya, tertarik dengan Yulia, gadis cantik, putri seorang dokter. Tak ingin berpanjang waktu, Laptev menyatakan cintanya. Namun ternyata, meskipun berasal dari kelas pengusaha, tak membuatnya menjadi percaya diri. Begitupun juga dengan Yulia, tak serta-merta mampu menerimanya. Bimbang. “Benar bahwa dia tidak mencintai lelaki itu, dan jika menikah dengannya, berarti dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi-mimpinya untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, akankah kelak dia dapat menemukan lelaki yang diimpikannya itu? Umurnya kini sudah 21 tahun. Di kota ini memang tidak ada pemuda yang pantas. Dia berpikir tentang semua lelaki yang dikenalnya , pegawai pemerintah, guru, opsir, dan ternyata sebagian dari mereka telah menikah dan hidup mereka teramat kosong dan menjemukan, yang sebagian lagi tidak menarik, hambar, bodoh, atau tidak bermoral”.


Konflik perkawinan tanpa cinta di awal cerita inilah yang kemudian  menjadi isu utama buku ini. Tentu, situasi sosial masyarakat berkelas yang menjadi ciri utama karya-karya Chekov menjadi landasan utama cerita. Laptev yang tertekan karena tak nyaman menjadi pengusaha yang sewenang-wenang, pekerja pabrik yang tak berkutik, religiusitas tanpa praksis dan perkawinan tanpa cinta sebagai plot cerita.


Karya-karya sastrawan Russia dijamannya, menurutku selalu getir menggugah pikiran kritis yanh memperkaya nurani. Perlu dibaca.

Banyu Moto

Surfing di youtube diakhir minggu, tersesat dalam tampilan videoclip musik dangdut Jawa lembut yang enak didengar, dilantunkan pasangan penyanyi muda rupawan, Dory Harsa (DH) dan Nella Kharisma (NK). Hanya dalam satu bulan, videoclip lagu ‘Banyu Moto” di youtube ini mampu meraih 27 juta viewers. Luar biasa, bahkan mencapai trending youtube menurut penyanyinya. Selamat. Tentu ini berdampak revenue yang wahhh dari  Youtube, memancing untuk tahu lebih dalam. 


Apa yang membuat video ini begitu meledak? Penulis bukan penyanyi, namun bisa merasakan keluwesan gaya dan keindahan suara penyanyi NK yang memang berdarah seni dari kedua orangtuanya. NK telah lama merintis karir sebagai penyanyi panggung dan semakin melejit dengan lagunya ‘Jaran Goyang‘ yang menggaet 249 juta views. Dia juga pernah diundang sebagai penyanyi tamu di Indonesian Idols untuk menyanyi bersama Judika, dan beberapa kali tampil di luar negeri (Hongkong dll.). Sedangkan DH yang berparas tampan dan bersuara lumayan oke, ternyata juga cukup luwes di atas panggung. Lalu, apakah karena penampilan mereka semata yang membuat videoclip ‘Banyu Moto’ menjadi trending? Bukan .. Perlu menelisik kedalam akun medsos mereka untuk melihat prosesnya. 


NK, penyanyi lajang rupawan asal dan domisili Kediri ini mempunyai akun Instagram (IG) dengan 5.9 juta follower dan banyak akun pendukungnya yang masing2 berfollower banyak juga. Dia juga mempunyai akun di youtube yang menampilkan banyak videoclip lagu-lagu sendiri dan cover dari penyanyi lain. Juga, banyak channel di youtube yang menyajikan aktifitas NK sehari-hari, videoclip, IG Live dan penampilannya di panggung. Reputasi sebagai penyanyi panggung dangdut Jawa ini memang sudah terkenal. 


Lain halnya dengan DH, yang juga sudah release beberapa video clip lagu-lagunya, sebelumnya lebih dikenal sebagai jagoan penabuh gendang almarhum Didik Kempot, yang selalu mengiringinya hingga tenar di Suriname. Gendang adalah alat musik utama dalam genre musik dangdut, dan dengan keahliannya mampu menyihir para penonton untuk turut bergoyang, dan sering didorong alm. Didi Kempot untuk mengisi jeda dalam penampilannya sebagai penyanyi antar-waktu, dengan lagu khasnya ‘Kangen Nickerie‘. Penggemar yang banyak dari kaum hawa sering mengelu-elukannya saat di panggung karena rupawan dan tampilannya yang sopan rendah hati. DH juga mempunyai akun IG dengan 1.1 juta follower dan beberapa akun pengemarnya yang masing-masing juga ber-follower banyak. Selain itu, juga mempunyai channel di youtube dengan 264 ribu subscriber, namun mampu menggaet 6.6 juta viewers untuk video clip ‘Sing tak sayang ilang‘ dalam satu bulan dan 4.8 juta viewers untuk ‘Ojo nesu-nesu‘ sejak 4 bulan yll. 


Pasangan NK-DH yang masing-masing sudah mempunyai jutaan penggemar ini semakin menanjak popularitasnya ketika keduanya tampil duet dalam acara penggalangan dana untuk mereka yang terdampak Covid-19 di Kompastv, dan di De Tjolomadoe, juga terus berlanjutnya komunikasi di akun IG mereka yang terkesan mesra dimata penggemarnya. Live IG mereka berdua selalu ditunggu penggemarnya, bahkan mampu menyedot 15 ribu akun penggemar untuk melihat sekali dialog live mereka berdua, yang isinya sebetulnya hanya canda ringan belaka… Luar biasa. 


Fenomena Black Swan seperti ditulis Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan mengatakan bahwa “Melihat angsa putih bukan sebuah penegasan bahwa angsa hitam tidak ada. Dengan melihat adanya seekor angsa hitam, dapat ditegaskan secara formal bahwa tidak semua angsa  berwarna putih!”.


Dan fenomena tersebut juga terjadi dalam kasus ini. Penampilan panggung dari kedua artis ini dijamin akan heboh dikalangan milenial-kultural, bukan karena kualitas aksi panggung, namun lebih karena dukungan proses kedekatan personal mereka berdua yang terbangun (atau dibangun?) melalui sosial media. Apapun yang ditayangkan mereka berdua bersama, entah itu gambar, video atau tatap-muka, akan selalu mengundang penggemarnya untuk mengerumuninya. Dan bukan tidak mungkin akan terus menggelinding viral. Unik. KeUNIKan proses bisnis inilah yang menurut penulis menyebabkan pasangan ini mempunyai NILAI jual lebih dibanding artis-artis panggung milenial lainnya.


Michel Porter pakar manajemen mengatakan “The key to competitive success-for businesses and nonprofits alike-lies in an organization’s ability to create unique value. Porter’s prescription: aim to be unique, not best. Creating value, not beating rivals, is at the heart of competition.”

Disini proses bisnis akan berpotensi risiko bila misi utama tidak dibangun dan dijaga dengan benar. Bila ini adalah strategi marketing, lalu apa revenue center nya? Kualitas performance di atas panggung sebagai produk jasa, atau click-bait yang tinggi dengan syarat harus selalu menyediakan content menarik untuk meraih reward dari IG atau Youtube? Ini pilihan bisnis yang harus jelas. 

Menurut penulis akan lebih baik bila performance sebagai penyanyi tetap menjadi tujuan utama, dan aktifitas sosial-media sebagai supporter, sehingga keahlian olah suara dan penampilan di atas panggung, termasuk segala hal yang berkaitan dengannya, menjadi prioritas utama yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan, dan tidak tergelincir dengan kesibukan utama di ranah medsos. 


Selamat dan sukses terus artis muda, Nella Kharisma dan Dory Harsa dengan prestasi anda. Terus berkarya.

IMG_20200520_233418
Mumpung dalam suasana karantina mandiri akibat Covid-19, saya coba main medsos yang akhirnya terperosok dalam penawaran online training Udemy.com. Kebetulan yang ditawarkan cukup murah dan menarik, karena berhubungan dengan beberapa buku yang pernah saya baca terkait dengan Otak dan Perilaku, seperti The Brain That Changes Itself , Personality: What makes You the Way You Are dan Quiet, yang ketiganya juga ada dalam blog ini.
Karena pelupa maka seringkali buku yang dibaca, saya buatkan tulisannya dalam blog ini, termasuk kursus ini, sehingga menjadi catatan yang bisa dibaca ulang dimanapun berada. Berikut ini adalah gambar besar dari keseluruhan isi kursus.
Kursus ini diadakan oleh Udemy.com dengan judul “Neuroscience for personal development“. Isinya tentang perilaku manusia dalam kaitannya tentang struktur otak kita. Menurut kursus ini, ada empat struktur otak yang bertanggung-jawab terhadap perilaku kita, yaitu: Reptilian brain, Neo-limbic brain, Paleo-limbic brain dan Prefrontal brain. Berikut ini penjelasan garis besar masing-masing struktur otak tersebut. Masih banyak lagi sub-bab dan contoh kasus, juga latihan dari masing-masing peran struktur otak tsb yang tidak dapat diringkaskan dalam blog ini, mengingat banyaknya materi. Ikutilah kursusnya karena sungguh menarik untuk bekal memahami diri sendiri, orang lain dan relasi sosial.
 
 
images (3)
Reptilian Brain (RB)
. .
Bertanggung-jawab untuk semua jenis fungsi fisiologis dasar seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dll.  Ini tempat bagi naluri bertahan hidup dan bertanggungjawab untuk menghadapi situasi yang mengancam. Secara teknis ia bekerjsama dengan amigdala limbik. Reptilian brain disebut jg ‘otak primitif’, yang memicu respon fisiologis untuk hasil yang positif dalam situasi kritis atau dalam tekanan. Tiga strategi yg dipergunakan untuk respon terhadap tekanan adalah:
  1. Flee: melarikan diri, otak memerintahkan pengiriman darah ke kaki sehingga otot mendapatkan oksigen lebih untuk mampu berlari cepat.
  2. Fight: bertarung atau mengintimidasi lawan,  mengirim darah ke bagian-bagian tubuh untuk bertarung.
  3. Freeze: ‘mengecilkan’ diri dengan harapan lawan akan mengabaikan. Otak tidak memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih kencang tapi justru memperlambatnya. Dan energi akan turun.
Reptilian brain ini mempunyai fungsi primitif, yaitu tidak bisa belajar, tidak bisa berevolusi atau adaptasi. Juga tidak mempunyai memori. Bila dipicu oleh amigdala, ia akan memilih 3 strategi tersebut untuk bertahan.
Reptilian Brain (RB) akan aktif ketika muncul rasa khawatir terhadap suatu hal, walaupun belum tentu akan terjadi, sehingga menimbulkan stress. Strategi Flee, bisa diartikan ingin berada di tempat atau situasi lain (anxiety). Respon fisik akan terjadi seperti tangan bergetar, kaki bergerak saat duduk, jari-jari terus bermain pen, dll. Suara tidak stabil, ingin ke belakang, insomnia … Itu adalah perintah otak limbik untuk lari.  Respon strategi Fight, menyebabkan sikap agresif (intimidate). Merasa superior, tangguh. Leher, rahang dan lengan terasa tegang. Suara menjadi lebih keras, nada tinggi dan jelas. Tidak sabar dan mata menyipit namun tajam menatap,  fokus pada lawan. Respon strategi Freeze, menginginkan masalah cepat selesai. Merasa tak mampu hadapi masalah dan membutuhkan bantuan (helplessness). Demoralization. Tak berdaya. Seluruh tubuh terasa lesu. Suara rendah lambat, sedikit kata. Menangis. Sangat lelah bahkan sesak napas.
 
Relational stress management (RSM)
Upaya pendampingan terhadap penderita stress utk masing-masing strategi:
Strategi Flee
Orang yang sedang mengambil strtegi ini akan cenderung mengalihkan pandangan. Ingin beralih dari situasi yang ada. Bila memintanya bersikap tenang, akan dirasakannya sebagai upaya membatasi kebebasan untuk lari, melepaskan diri. Memberikan pertanyaan dengan jawaban ya/tidak (close question), akan membuatnya bingung. Pendamping jangan bersikap yang bisa ditafsirkan sebagai upaya menekan, seperti berteriak, mengancam atau memberi sangsi. Lebih baik segera bekerja bersama. Ajukan pertanyaan terbuka (open question), tawarkan beberapa alternatif solusi, dan letakkan masalah pada proporsinya, serta berikan harapan. Buatlah suasana santai, bila perlu berikan lelucon atau aktifitas santai lainnya.
 
Strategi Fight
Respon orang pada strstegi ini mudah terlihat. Berdiri tegak, bersuara keras, nada tinggi. Menunjukkan ketidak-sabaran. Ketegangan naik, terlihat dari rahang dan urat lehernya. Karena sedang menunjukkan over-power, maka sebaiknya jangan lakukan interupsi, buatlah tertawa. Akui kesalahan, berikan empati. Tawarkan alternatif solusi. Karena karakter Fight stress adalah impatience, maka perlu langsung to the point dan factual.
 
Strategi Freeze
Memintanya untuk mengambil alih, pegang kendali atau bersikap berani, menunjukkan kekuatan hanya akan membuatnya semakin menderita. Humor bukan cara tepat. Berikan pemahaman, duduk bersama, hargai dia, pelukan bisa membantu.  Ingat tujuan nya adalah keluar dari otak reptil. Menghilangkan bahaya yangg dirasakan dan menawarkan perlindungan serta menunjukkan langkah kecil ke arah yg benar. Intinya adalah finding protection.
Pada intinya, bila kita ingin membuat tenang penderita stress, perlu dihilangkan rasa bahaya yang dirasakannya dengan menunjukkan bahwa kita berada di pihaknya. Ini adalah elemen umum untuk menghilangkan kebutuhan adanya reaksi defensif sehingga respon stress akan memudar. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah mematikan otak reptil.
. . .
Reaksi strategi Flee, Fight dan Freeze bisa berubah-ubah dalam waktu singkat ketika kondisi stress. Ingin lari, marah lalu menyerah, sangat umum terjadi dalam suatu kasus kritis yg membuat stress.
NBA316 Reptilian Brain Conclusion
 
Paleo-Limbic (PL) Brain (Limbig amigdala)
PL bertanggung-jawab atas reaksi individu dalam suatu kelompok. Seperti diketahui bahwa Self Confidence (SC) dan Trust penting untuk bisa mendapatkan akses masuk ke dalam kelompok. Reaksi emosi dan perilaku sangat berhubungan dengan posisi SC – Trust kita.
Tingkat rasa SC dan Trust ini digambarkan dalam bentuk dua garis sumbu berpotongan. Sumbu vertikal adalah sumbu SC. Di bagian tengah sumbu adalah zona assertiveness. Kurangnya SC akan mengarah pada Submissiveness, dan SC yang berlebihan akan mengarah pada Dominance.  Tingkat paling rendah dari Submissiveness adalah rasa auto-mutilation and suicide, sedangkan paling atas atau titik potong sumbu adalah rasa Perfectionism and Credulity. Sedangkan tingkat terendah dari Dominance adalah rasa Flattery and Seduction, dan yang tertinggi adalah Sadism and cruelty.
 
Dominance: Mild dominance – narcisistic personality
  1. Flattery and Seduction
  2. Manipulation of feeling,  in order to alienate the person
  3. Mockery, in order to de-stabilize  level for refined violence against objects
  4. Intimidation,
  5. Sadism, cruelty,  enjoying to see others suffer
Submissiveness:
  1. Perfectionism (takut berbuat salah), credulity (thd dominan)
  2. Sensitivity, thd penderitaan sendiri
  3. Superstition, irrational fear if sanction, panic attacks
  4. Panic attack,  guilt
  5. Auto-mutilation, sucide
Submissiveness hanya mungkin terjadi bila memang berserah diri pada kelompok Dominance.
Tingkat Trust digambarkan pada sumbu horizontal, dengan bagian tengah sumbu adalah zona Assertiveness, kekurangan Trust akan mengarah pada sikap Marginality, dan berlebihan Trust akan mengarah pada Axiality. Tingkat terendah Marginality adalah Conspiracy dan yang tertinggi adalah Uneasiness at sharing. Sementara tingkat terrendah dari Axiality adalah Easines at sharing dan yang tertinggi adalah Connection to the universe.
Pada sumbu Trust, zona Assertiveness dibatasi oleh dua ujung ekstrim, yaitu: Marginality dan Axiality. Bentuk ekstrim dari marginality adalah paranoia, sebaliknya bentuk ekstrim dari axiality adalah mystical delirium.
 
Marginality:
  1. Uneasiness to share private life
  2. Feeling of loss contact with others
  3. Megalomaniac speech due to loss of connection with others
  4. Sense of exclusion
  5. Feels there is conspiracy theory against him or her
Axiality:
  1. Ease at sharing
  2. Feeling of percieving a hidden meanings of things
  3. A feeling of communicating with others witout words
  4. Communicating with things
  5. Feels connected to the universe
Kelompok Marginal merasa susah sekali mempercayai orang lain dan merasa terancam oleh kelompok predator, sementara kelompok axial merasa diuntungkan dlm kelompok. Namun kelompok axial sering kali juga naif, sehingga bisa membawa kesulitan.
Reptilian brain sudah aktif sejak dilahirkan, sedangkan Paleo-limbic aktif kira-kira umur 2 tahun ketika anak mulai bersosialisasi. Trustworthy yg rendah di masa kecil dan selalu meminta ijin untuk bertindak, akan berdampak dimasa selanjutnya seeing selalu merasa tidak mendapat kepercayaan dalam bawah sadarnya. Solusinya, finding a balance between authority and freedom. Namun perlu pengawasan yang tegas bila anak mulai melintas batas berbahaya. Keberadaan the authority sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Terlalu strict and rigid akan membentuk Submisiveness, sebaliknya terlalu longgar aturan dan disiplin, akan membentuknya menjadi Dominance. Paleo-limbic sangat rigid dan lamban untuk berubah, bergantung pada pengalaman hidup. Kondisi sementara dalam group memungkinkan tingkat SC dan Trust berubah posisi.
Mengubah posisi SC – Trust dalam group perlu dilakukan, meskipun menaikkan tingkat SC tidak bisa seketika, karena rigiditas dari paleo-limbic brain. Menggali posisi traumatik masa lalu, misalnya pengeroyokan, pemerkosaan, dll. akan sangat membantu untuk bisa menerima keadaan dengan sadar, bangkit dan menaikkan SC. Tujuan dari positioning group adalah stabilitas. Rebound effect adalah posisi kembali ke central referal point setelah mengalami masa naik-turun. Pendampingan coach direkomendasi.
 
Relational Group Positioning Management (RGPM)
Marginalitas dalam Dominance seringkali bersikap resisten, namun bisa berubah menjadi agresif. Tujuan RGPM bukan mengubah positioning, namun untuk mengelolanya dengan baik. Diperlukan sikap menghargai dan tidak menyalahkan dimanapun posisi group lainnya, karena kita tidak akan bisa mengubahnya. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah mendorongnya untuk keluar dari Paleo-limbic melalui komunikasi. Perlu diingat bahwa pihak lain bisa jadi tidak dalam level perilaku rasional untuk mulai berdiskusi secara rasional tentang siapa yang salah atan benar. Jangan terseret pada isi diskusi karena dalam hal ini tidak penting. Untuk membantu anak-anak mencapai ketegasan (assertiveness), perlu dibuatkan kerangka kerja dimana anak-anak merasa bebas untuk eksplor banyak hal, dan orangtua hanya mengawasi batas-batasnya. Berbeda dengan Reptilian brain yang sedang dalam sosisi bahaya dan membutuhkan teman, Paleo-limbic tidak membutuhkan kita sebagai teman, sehingga sedapat mungkin kita tidak berada dalam sosisi over-power. Harus bisa acting dalam posisi netral, menjaga jarak, menghargai untuk bisa meulai komunikasi tentant niai-nilai yang bague dalam limbic brain, dengan harapan bisa memicu prefrontal-brain untuk teraktifkan. Jangan lupa bahwa paleo-limbic sangat rigid (susah berubah), sehingga kesabaran sangat diperlukan. Berikan cukup waktu untuk beradaptasi dan jangan berharap dapat berubah dalam waktu yang pendek. Sabar. Tetap perlu diingatkan bila perilaku sudah diluar batas.
NBA428 Paleo-limbic Conclusion
 
Neo-limbic brain
Ini adalah struktur ketiga dari otak yang berfungsi untuk mengelola motivasi dan emosi terdalam. Setiap pengalaman hidup kita, hingga yang paling dalam, disimpan disini. Untuk memahami identitas diri sebenarnya, perlu menggali ingatan yang paling dalam ini. Dan yang lebih penting lagi adalah mampu membebaskan diri dari ekspektasi orang lain. Disini juga kita menentukan kesadaran diri (Consciousness). Bisa mengenali situasi, dimana kita seolah sudah mempunyai SOP, tentang bagaimana menghadapinya. Serasa autopilot. Disini tempat semua yang sudah dipelajari akan tersimpan, seperti misalnya bagaimana berjalan, mengemudi, berkomputer dll. Semua seperti instan, mengemudi sambil berkomunikasi, makan, dll. Disini akan ditemukan kontradiksi dan paradoks personality yang rumit.
Perlu disadari, apakah kita menjalani hidup ini atas dasar ekspektasi lingkungan sosial atau atas berdasar motivasi diri sendiri.
 
Primary Personalities
 
Karakter dari Primary Motivations ini adalah penuh energi yang memberi semangat dan motivasi berkelanjutan. Ini sudah tetap (fixed) pada saat awal kehidupan dan tidak akan berubah atau berkembang. Ini sebagian ditentukan oleh gen dan sebagian lainnya oleh lingkungan sosial awal. Primary Motivations atau Intrinsic motivations, ditentukan oleh fakta bahwa telah tertanam sekali, dan untuk selamanya di dalam inti personaliti primer (core of primary personalities). Terbaik yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi motivasi utama, menerimanya dan menghargainya karena merupakan representasi ideal cara hidup kita. Karakteristik kedua adalah motivasi-motivasi utama sebagai sumber energi (Gives us energy),  mereka seperti motor yang terus berjalan tanpa henti dengan emosi yang stabil. Karakteristik ketiga adalah mereka tidak membutuhkan imbalan dari luar berhubung memang tidak berharap hasil (no need for results). Hasil yang positif ataupun negatif, tidak mempengaruhi kesenangan individu. Misalnya, walaupun bersuara buruk tapi tetap menikmati bernyanyi, atau walaupun badan besar tapi tetap bisa menggemari menari. Kesenangan itu berada pada dirinya, bukan karena yang dipikirkan oleh pihak lain. Masih banyak orang yg belum menyadari kegemaran dirinya. Lalu, bagaimana mengidentifikasi Primary Motivations anda sendiri? Lihatlah apa yang anda lakukan dan apa yg anda sukai, apakah memberikan anda energi kegembiraan atau kebahagiaan?
Guidlines:
  • Apakah anda menikmati, bila sesuatunya mudah, atau lebih suka ada tantangan? (Easy or challenge)
  • Apakah lebih suka action atau reflection? (Action or reflection)
  • Apakah lebih suka bergaul dengan teman atau lebih suka sibuk sendiri? (Together or alone)
  • Merasa introvert atau extrovert?
Pilihan bisa keduanya cocok atau bergantung kondisi. Cobalah utk menggali lebih dalam, apa yang memotivasi anda. Apakah lebih suka sharing with others atau enjoying nature. Atau, kemenangan lebih membahagiakan, atau helping others lebih menarik? Ingat, ini bukan What you like, tapi what you enjoy. What give you choice and energy. Hal apa yang bisa menggerakkan dan membahagiakanmu di dalam sana? Apa yang bisa memberikan arti bagimu.
Impact of the reptilian strategies
Saat dilahirkan, kita memiliki 100 billion neuron, dan setiap neuron mempunya 100.000 koneksi. Tiga bulan berikutnya, hanya sisa 10.000 koneksi. Yang terjadi dalam bulan-bulan pertama tsb, sangat bergantung pada lingkungan dimana kita berada. Koneksi yang tidak aktif, akan mati, karena tidak dipergunakan. Ingat, bahwa saat kelahiran, reptilian brain sangat aktif, dan punya 3 strategi. Termasuk dalam situasi aman tanpa bahaya (standby mode), RB mempunyai 4 kondisi, dan bayi akan mengalami 1 dari 4 kondisi tsb. Idealnya, dalam perkembangannya, siapa kita, akan didasarkan pada satu kondisi tsb. Identitas diri didasarkan pada modus ‘fleeing’ yg menyukai pergerakan dan perubahan, dan akan berubah menjadi mode ‘fighting’ karena menikmati tantangan dan kemenangan, kemudian berubah menjadi mode ‘freezing’ karena menyukai perhatian dan berbagi (caring and sharing). Dan terakhir, mode ‘stand by’ karena menyukai kontemplasi dan berpikir (thinking). Setiap strategi (mode) ada dua modulasi, tergantung pada tingkat kesuksesan yang diperoleh dari strategi utama.  Apakah lebih mudah kontemplasi, atau lebih mudah lari, atau justru merasa perlu berlindung,  atau cukup dengan mengintimidasi atau malah harus bertarung ? Apakah lebih mudah mencari perlindungan atau harus membantu lainnya?
. . .
Tingkat risiko setiap pilihan strategi akan menentukan personality kita. Bila kemudahan adalah yang kita sukai, maka akan berkembang menjadi extrovert. Bila membutuhkan usaha lebih banyak untuk sukses,  akan menjadi introvert. Extrovertion akan mendatangkan kepuasan instan tanpa hambatan, sementara introversion akan lebih lambat merasakan kepuasan sebagai refleksi kedisiplinan dan keseriusan, perencanaan, ethic, efisiensi. Cara lain melihat hal ini adalah dengan membuat perbedaan antara individual dan personality sosial. Stand by tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Personality ini menyukai kesendirian. Fighting dan Freezing jelas membutuhkan kehadiran pihak lain, sebagai musuh ataupun pelindung. Penting untuk dipahami bahwa kita bisa mempunyai antara 2 dan 4 personality untuk menentukan siapa kita sebenarnya.
 
Secondary Personalities
Setelah 3 bulan, ketika primary personalities pada akhir pembentukannya, secondary personality mulai terbentuk melalui ingatan yg ‘dipaksakan’ sebagai ajaran positif. Perilaku dengan penyemangat “carrot” akan berdampak motivasi positif, sebaliknya perilaku dengan stimulus “stick” Akan berdampak pada motivasi negatif. Lingkungan biasa mengajarkan perilaku anak dengan “stick n carrot”, sebagai budaya ajaran yang menurun.
Secondary personalities dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya serta primary personalities yang sudah terbentuk sebelumnya. Keseimbangan antar kekuatan primary dan secondary personalities akan terbentuk. Seringkali lingkungan akan mengkoreksi sikap dan perilaku yg tidak layak. Menghardik anak yang selalu bergerak kesana kemari (fleeing) akan menyebabkan trauma dan menutup sumber motivasi dan kesenangannya serta tidak menggunakannya di kemudian hari. Sebaliknya, dengan memberikan hadiah (carrot) untuk tidak berlompatan, akan membuatnya senang dan tidak traumatik.
Karakter Secondary personalities ini adalah dapat berubah (Can change), perlu upaya keras (Cost us energy) dan membuthkan adanya hasil (Need for results).
Loss of motivation
Sering kita mendengar “aku gak tahu apa yang mesti kulakukan dlm hidup ini”. Seharusnya sudah jelas bahwa pilihan hidup mesti didasarkan pada primary personalities, bukan pada secondary personalities. Setidaknya, bila bisa nyaman menikmati apapun yang kita rencanakan, tanpa berrisiko demotivasi ketika mendapat hambatan. Jadi, contohnya, ketika memulai studi, apakah memilih berdasar kesukaan (passion) atau karena keinginan orangtua atau karena kemungkinan pendapatan yang akan dihasilkan dari pekerjaan nantinya? Ingat bahwa motivasi kenaikan gaji hanya akan bertahan 3 – 6 bln saja, tidak berkelanjutan. Oleh karenanya, untuk membuat pilihan-pilihan tsb, perlu benar menyadari primary personalities anda. Bisa jadi akan menemukan beberapa pilihan, atau mungkin justru masih belum bisa meyakini primary personalitiesnya. Berikut ini yang akan terjadi bila masih belum menemukan dasar motivasi. Ini merupakan indikasi bahwa secondary personalities telah menutupi primary personalitiesnya. Ini terjadi karena tidak meyakini bahwa sebenarnya sudah mempunyai primary personalities. Periode krusial ada pada usia 3-6 tahun. Bila pada tahun-tahun tsb primary personalities terrepresi, terabaikan atau terkerdilkan, maka akan bisa berakibat kelainan pathologis (pathological disorders), dimana kehilangan motivasi adalah akibat awal, yang dalam jangka panjang akan bisa bertendensi menjadi depresi. Anak-anak ekstrovert yang dimasukkan dalam sekolah yang sangat ketat, akan bisa menyebabkan hal seperti ini. Stress. Hal ini juga terjadi pada anak-anak introvert yang selalu disalahkan oleh orangtuanya karena merasa takut bersosialisasi. Bagus saja mendorong anak untuk bersosialisasi, asalkan dengan lembut dan tanpa menghakimi atau mengurangi nilai kecenderungan emosional mereka. Tapi, memilih diam pun, bukan suatu yg salah. Berbeda dengan primary personalities yang sudah fixed, masih ada cara untuk mensiasati dimensi negatif dari secondary personalities. Ini adalah proses identifikasi dan melepaskan langkah demi langkah.
 
NBA539 Neo-limbic Conlusion Motivation
 
Obsessions – How we spot them
Lapis ketiga diatas Primary dan Secondary Motivations, istilah teknisnya adalah Hyper investment, dan medisnya adalah Neurosis, yang biasa disebut Obsesi.. Jatuh cinta adalah contoh obsesi atau hyper investment. Bisa berada dalam situasi sangat tidak bersalah, atau memang betul invasif atau destruktif. Ini memberi rangsangan untuk perilaku addictive seperti workaholism, alcoholism, shopaholic, dll. Bahkan bisa mempengaruhi lainnya. Titik balik diatas primary motivations adalah dimana kesenangan (passion) kita berubah menjadi obsesi. Perlu perhatian. Bgmn mengenalinya? Ingat ketika merasa joy, satisfaction dan relief dgn primary dan secondary motivations. Disini tidak ada satisfaction,  selalu tidak cukup,  selalu ingin lebih walaupun kesuksesan sudah diraih. Bila seorang obsesif tidak mendptkan keinginannya, bisa tak terkendali dan akan terus mengganggu pikirannya. Ini kontras dengan primary motivations, yang bila tak bisa terpenuhi kesenangannya maka tak terlalu terganggu pikirannya. Selalu siap dengan yang terburuk. Karakteristik ketiga adalah besarnya energi untuk sebuah obsesi. Sangat melelahkan, setidaknya untuk orang lain. Obsesive person terlihat bertindak berlebihan, karena sikap invasif dan terus berulang sehingga menjadi membosankan, mengesalkan, dan melelahkan.
Causes and mechanism
Mengapa terjadi obsesi? Karena yang diinginkan tak bisa didapatkan, sehingga berusaha mengganti objek yg mirip dengannya namun tetap tak bisa menggantikannya karena hanya ‘mirip” dan bukan ‘sebenarnya’. Anak yang belum mature otak prefrontalnya, tidak mempunyai alat utk menangani masalah kekecewaan tsb. Sehingga otak neo-limbicnya akan ‘mengeras’ atau terpateri dengan kekecewaan tsb. Bahkan bisa terjadi menyimpannya di tempat yg paling dalam, diluar kesadaran. Ini yg disebut small social trauma, dan akan menyebabkan perilaku yang berubah, yang seharusnya dihindari dengan segala daya. Setelah 17 tahun, tidak ada perubahan perilaku karena pre-frontal mulai aktif dan mampu mengatasi persoalan-persoalan tsb.
Seorang anak yang merasa dipermalukan orang tuanya karena mendapatkan nilai buruk, akan terbentuk rasa tidak percaya pada orang lain (merasa dikhianati org tuanya) dan mengganti sikapnya menjadi perfectionism. Substitusi dari tindak obsesif bisa perfectionism, atau menjadi lucu, atau hal lainnya, yang tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah bila object obsesi terus bergerak atau berubah. Kompensasi akan terus berulang dilakukan.
Belajar NBA bisa jadi untuk alasan memenuhi obsesi pengetahuan, sains, atau pertumbuhan personal. Bila selalu melakukan lompatan teori tanpa merasa puas, selalu mencari yang lain,  cobalah bertanya, bagian mana yang ‘menutupi’ dirimu sehingga harus melakukan kompensasi?
NBA650 Conclusion to the Obsession
 
 
Prefrontal brain
Struktur otak ke-4 adalah Prefrontal brain, hasil proses evolusi yang menakjubkan. Ini yang membuat manusia menjadi unik, karena tidak ada mahluk hidup lain yang mempunyainya. Tiga struktur otak lainnya, bisa dipunyai oleh mahluk hidup lain. Reptilian dan paleo-limbic adalah dasar yang menempatkan manuaia tidak memounyai hubungan lagi dengan kemampuan berpikir logis. Di sisi lain, dalam Neo-limbic terletak esensi siapa kita sebenarnya, dengan ingatan dan motivasi. Namun, tetap masih belum menunjukkan bhw kita manusia. Siapapun yang mempunyai anjing atau kucing, bisa menunjukkan bhw mereka punya karakter masing-masing, seperti suka, tidak suka dan motivasi. Prefrontal yg membedakan bahwa kita manusia, meskipun ada mamalia yang juga mempunyainya. Lumba2, gajah, anjing, dan kera-kera besar. Ukuran otak prefrontal mereka adalah normal saja, tidak seperti milik manusia yang sangat besar volumenya. Disinilah bedanya. Prefrontal brain seperti super-komputer yang mampu mengambil keputusan tanpa kesadaran, dari input yg bermacam-macam, kemudian mengkombinasikannya secara inovatif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, prefrontal brain adalah alat utama yang adaptif dan kreatif dan sesuai untuk situasi yang sebekumnya tidak diketahui dan rumit.
Seperti diketahui bahwa neo-limbic bekerja secara autopilot dalam menghadapi dunia ini, untuk perilaku kecil yang rutin sehingga bisa efektif dalam kehidupan sehari-hari. Prefrontal brain digunakan untuk menghadapi masalah dan situasi yang baru dan rumit. Kita selalu resisten terhadap perubahan, karena sebenarnya kedua otak limbic keberatan untuk melakukan kontrol dan melimpahkannya ke prefrontal. Cobalah minta kolega anda untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Mempertanyakan dan menolak permintaan tsb adalah indikasi otak limbik mereka untuk minta lebih banyak info. Aksi ini adalah indikasi aktifitas prefrontal. Pastikan bahwa ini bukan karakter animator yang memang suka perubahan.
Bila limbic brains resistan dalam menghadapi situasi rumit, maka akan kembali ke reptilian brain untuk melakukan respon. Disinilah prefrontal berperan untuk mengolahnya setelah reptilian brain mengirimkan signal. Bisa dikatakan bahwa stress adalah signal dalam otak untuk berpindah peran dari reptilian ke prefrontal. Sehingga tidak ada lagi stress dan akan dirasakan kedamaian dan ketenangan, dalam kendali penuh atas mental kita. Emosi akan terbuka pada dunia dan mulai ingin tahu terhadap hal-hal baru, kreatif dan intuitif. Artinya, kita telah menggunakan otak kita secara optimal.
Menggunakan prefrontal brain bukan berarti menyetujui semua pendapat, namun setidaknya telah mendengar opini lainnya sebelum tentukan keputusan. Artinya, tidak perlu memaksakan diri untuk memenangkan opini. Namun juga tidak perlu harus mengalah bila memang harus mengatakan ‘tidak’. Intinya adalah harus terbuka dan bersikap dewasa.
Ketika lahir, prefrontal brain belum matang dan terus berkembang hingga tingkat kematangan mencapai usia 24 thn, dimana diharapkan sudah mampu mengkontrol emosi. Maka janganlah kaget bila remaja sering bersikap berlebihan (over-reacting) karena prefrontal brain yang mengkontrol emosi memang belum matang. Jadi sangatlah tidak tepat bila menuntut anak-anak atau remaja untuk bersikap seperti orang dewasa. Mereka bukanlah miniatur orang dewasa. Otaknya belum berkembang sepenuhnya. Biarkanlah mereka berperilaku seperti apa adanya anak-anak. Adalah tidak adil bagi mereka dan kita, bila mengharapkan mereka menjadi orabg dewasa, karena kemampuan berperilaku dewasa bukanlah dalam kontrol orang dewasa atau mereka sendiri.
 …
Bgmn mengarahkan orang untuk menggunakan prefrontal brain? Disinilah maksud kursus ini, yaitu berharap seseorang mampu meninggalkan reptilian brain dan limbic brain untuk pindah ke prefrontal brain. Cobalah selalu membuat pertanyaan terbuka terhadapnya, supaya mereka mampu berpikir tentang diri mereka sendiri, dan juga mampu melihat perbedaan situasi sehingga bisa berubah dari yang kondisi rutin ke pemikiran kritis.
. . .
NBA757 Conclusion to the prefrontal brain
 
Final conclusions
Dengan reptilian brain bisa mengetahui bagaimana mengkontrol diri bila menghadapi stress. Dengan paleo-limbic, bisa mengetahui posisi fundamental kita dalam group, dengan menggunakan sumbu Trust vs Self-Confidence. Dengan neo-limbic, kita mengetahui tentang Intrinsik dan Ekstrinsik Motivasi, begitu juga dengan Obsesi. Kita juga belajar bagaimana menghubungkan dengan motivasi jangka panjang berkelanjutan dan menyingkirkan perilaku dangkal. Kita bahkan sudah belajar memasuki lubang terdalam untuk mencari trauma dan berdamai dengannya. Prefrontal brain, membawa kita ke kesuksesan adaptasi dan perubahan. Bila suatu hal tidak berjalan sesuai ekspektasi, bisa belajar melihatnya dengan parameter situasi lain berdasar struktur otak yang aktif. Ini memberikan kita semua bekal untuk berhadapan dengan yang lain dan mampu mengambil keputusan sendiri. Ini adalah inti dari semua, the new cognitive and behavioral approach, yang memberi pengetahuan dan penjelasan mengapa kita berperilaku begini, sehingga setiap pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasar pilihan sadar dan hidup kita bukan lagi dikontrol oleh ketidak-sadaran, atau hanya warisan pendidikan atau lingkungan sosial semata. Atau dengan kata lain, kita sendiri adalah satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dan punya kekuatan terhadap hidup kita sendiri. Jadi, gunakanlah pengetahuan ini secara bijaksana untuk menghubungkan kembali dengan primary motivations, dalam berhadapan dengan mekanisme kompensasi anda. Hilangkan intolerance, berhentilah hidup berdasar keinginan pihak lain, dan mulailah hidup yang nyaman.
Temukanlah siapa anda sebenarnya, dibawah lapisan-lapisan ekspektasi sosial, kemudian fahamilah dan terimalah dengan rasa hormat dan jalani hidup anda, serta mulailah bersosialisasi. Tetap berperilaku sesuai siapa anda sebenarnya dan temukanlah orang-orang yang mencintai dan menghormati anda seperti apa adanya.
This is what you are meant to be. Become the best version of your self. 
IMG_20200515_182454_223
 
 
 

imagesAda yang menarik dari buku berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari setebal 443 halaman, terbitan Harper Perennial, yang mulai beredar dalam bahasa Hebrew 2011, dan bahasa Inggris 2014 ini, hingga memilihnya untuk dibaca. Selain karena seringnya tampil di bagian depan toko-toko buku, beberapa kali terlihat dibaca penumpang saat menunggu boarding di bandara, juga karena judulnya yang seolah akan bercerita tentang rahasia sejarah kehidupan manusia.. Selain itu, judulnya sangat mengingatkan akan buku favorit “A brief history of time” karya Stephen Hawking. Apalagi kalimat pembuka dalam bab pertama sungguh layaknya appetizer lezat sebelum main-course siap santap, “About 14 billion years ago, matter, energy, time and space came into being in what is known as the Big Bang” .. wowwww sejak Big Bang …

Buku ini sebetulnya mencoba menjelaskan tentang bagaimana mahluk yang pada masa awalnya hanya species tak berdaya, kemudian bisa menjadi penguasa dunia saat ini. Harari menyajikan pemikirannya dalam empat bagian berdasar urutan waktu, yaitu The Cognitive Revolution yang dimulai 70.000 tahun yll. di bagian pertama, dilanjutkan dengan bagian The Agricultural Revolution dimulai dari 12.000 tahun yll, lalu The unification of humankind dan diakhiri dengan The Scientific Revolution dari 500 tahun yll. Sebelum masuk pada bagian pertama, Harari menyajikan tabel sejarah besar kehidupan, mulai dari Big Bang hingga ke Masa Depan. Berikut ini adalah catatan singkat masing-masing bagian.

Bagian 1. The Cognitive Revolution
Pada bagian ini, disajikan sejarah perkembangan kemampuan kognitif mahluk hidup, termasuk Homo Sapiens, juga tentang punahnya berbagai binatang besar. Species manusia pertama ditemukan di Afrika Barat, Australopithecus, yang berarti ‘Southern Ape’ kira-kira 2.5 juta tahun yll. Kemudian ditemukan di Asia Barat dan Eropa Barat, ‘Nenderthals’ dengan fisik yang lebih gempal dan berotot serta adaptif dalam iklim dingin Ice Age, berlanjut dengan ditemukannya Homo erectus di Asia Barat yang berdiri tegak dan mampu survive paling lama diantara species lainnya, hingga 2 juta tahun. Dalam khasanah arkheologi, Indonesia selalu muncul dalam pembahasan Homo sapiens, demikian juga dalam buku ini. Homo soloensis yang mampu hidup di daerah tropik, ditemukan di Solo. Kemudian Homo floresiensis ditemukan di Flores dengan ciri ukuran tubuh yang pendek, 3.5 feet dengan berat tak lebih dari 55 lbs. Homo floresiensis masuk ke pulau Flores ketika muka laut sedang rendah, kemudian terjebak di dalamnya. Berkurangnya makanan karena muka laut yang naik, menyebabkan manusia yang lebih besar punah lebih dulu sehingga tersisa mereka yang berbadan pendek. Namun demikian, mereka sudah mempunyai keahlian membuat peralatan berburu dari batu. Sementara itu di Siberia ditemukan Homo denisofa dan evolusi di Afrika Timur juga tetap berlangsung hingga ditemukannya Homo rudolfensis, Homo ergaster dan kemudian species kita sendiri Homo sapiens ‘Wise Man‘. Bermacam species tersebut bukanlah tumbuh berkembang dalam proses linear berurutan, namun merupakan species yang memang berbeda-beda, artinya, sejak 2 juta hingga 10.000 tahun yll, bumi menjadi tempat yang sama untuk hidupnya species-species tersebut.

Genus Homo dalam rantai makanan berada dalam tingkat Menengah, dikalahkan oleh predator-predator besar. Pada 400.000 tahun yll sebagian species manusia mulai mampu berburu binatang besar, dan sejak 100.000 tahun yll, dengan munculnya Homo sapiens, species manusia mampu menduduki posisi teratas dalam rantai makanan. Evolusi cepat dari Homo sapiens ini menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu, seperti munculnya perubahan perilaku binatang, wabah penyakit dan perang.

Lompatan besar beberapa species manusia dalam rantai makanan ini salah-satunya disebabkan oleh kemampuan menguasai api yang terjadi sejak 800.000 thaun yll. Homo erectus Neanderthal dan nenek-moyang Homo sapiens mulai 300.000 tahun yll. menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk membuka lahan dan penghangat tubuh. Evolusi fisik Homo sapiens pun mulai berubah dengan berfungsinya api, seperti tulang rahang dan gigi yang lebih kecil daripada species sebelumnya. Banyak ahli meyakini bahwa Homo sapiens yang berkembang di Afrika Timur 150.000 tahun yll namun gagal menyebar ke seluruh dunia, kemudian menyebar lagi 70.000 tahun yll dan sukses beranak-pinak di seluruh dunia, sangat menyerupai manusia sekarang ini. Bahkan ukuran otak pun sama dengan ukuran otak manusia saat ini. Kira-kira 45.000 tahun yll, mereka mulai menyeberang ke Australia, daratan yang saat itu belum disentuh species manusia. Kemudian ditemukan peninggalan periode 70.000 – 30.000 tahun yll berupa perahu, lampu minyak, busur dan anak panah, dan jarum untuk menjahit pakaian hangat. Penyebab lompatan keahlian yang disebut sebagai The Tree of Knowledge mutation dizaman Cognitive Revolution Homo sapiens ini belum jelas benar. Namun para ahli sepakat bahwa Homo sapiens is primarily a social animal. Social cooperation is our key for survival and reproduction.

Ada 3 hal yang menjadi catatan penting Hariri terkait Cognitive Revolution, yaitu terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan Homo sapiens:

  1. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang lingkungan Homo sapiens
  2. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang hubungan-hubungan sosial Homo sapiens
  3. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang suatu hal yang TIDAK NYATA, misalnya ttg tribal spirits, kebangsaan, atau Hak Azasi Manusia, dll.

Dari sisi hubungan kemasyarakatan, – sensasi, emosi, hubungan keluarga -, sulit mencari perbedaan antara manusia modern dengan chimpanzee atau Neanderthal. Perbedaan akan terlihat jelas pada saat ratusan atau ribuan masing-masing kelompok ini berada dalam kerumunan besar. Kekacauan akan terjadi pada kelompok Chimpanzee, justru sebaliknya kita sangat biasa melakukan banyak hal dengan berkumpul. “Flexible cooperation in large numbers” adalah kata kunci ttg kelebihan Homo sapiens dibanding mahluk lainnya, menurut Hariri.

Dalam penyebaran dan perkembangan Homo sapiens dari Afrika Timur ke seluruh dunia, dikenal dua teori, yaitu Interbreeding Theory dan Replacement Theory. Interbreeding Theory beranggapan bahwa terjadi merging antara Homo sapiens dengan Neandethal, Erectus dan lain-lainnya. Teori ini banyak ditentang dengan alasan perbedaan species tidak akan terjadi perkawinan karena dianggap mahluk yang berbeda sehingga tidak ada saling ketertarikan dan tidak akan terjadi pembuahan karena genetis yang berbeda. Dengan alasan tersebut maka yang terjadi adalah penaklukan dari species satu terhadap species lainnya, yang dalam hal ini Homo sapiens dapat mengungguli dan menggantikan keberadaan species-species yang sudah ada sebelumnya, dan teori ini disebut Replacement Theory.

Screenshot_20200425-142306

Peta Penyebaran Homo sapiens


Kasus muncul ketika 2010 ditemukan 4% DNA Neaderthal dalam populasi modern di Timur Tengah dan Eropa. Demikian pula ditemukan 6% DNA Denisovan dalam populasi modern Melanesia dan Aborigin. Kesimpulan sementara dengan adanya DNA dalam jumlah kecil dari species lain adalah adanya perkawinan silang antara Homo sapiens dengan species lain pada suatu kesempatan.


Kepunahan Binatang Purba
Di benua Australia, Harari menyoroti bahwa punahnya bermacam binatang besar disana, disebabkan oleh 3 hal, yaitu:

  1. Kebutuhan waktu yang lama untuk berkembang-biak, membuatnya mudah panah karena perburuan oleh Homo Sapiens
  2. Kemampuan baru homo sapiens dalam menggunakan api intuk membuka ladang mengakibatkan pola hidup dan konsumsi binatang menjadi terganggu
  3. Perubahan Iklim pada 45.000 tahun yll mmenyebabkan destabilisasi ekosistem

Homo sapiens adalah species manusia pertama dan satu-satunya yang menginjakkan kakinya di Amerika 16.000 tahun yll. Terjadi ketika muka air laut masih rendah sehingga dari Timur-Laut Siberia mereka bisa menyeberang ke Barat-Laut Alaska melalui darat. Mereka telah melengkapi dirinya dengan pakaian dan peralatan berburu untuk area beriklim ekstrim dingin. Dalam perjalanan ke selatan dari Siberia, mereka menemukan banyak binatang purba berukuran besar spt mammoth, mastodon, dll. Namun setelah 2.000 tahun sejak kedatangan Homo sapiens, binatang-binatang besar ini musnah. Tulang-tulang yang ditemukan para arkeolog menunjukkan bahwa binatang-binatang tersebut hidup pada masa Homo sapiens memasuki Amerika kira2 12.000-9.000 tahun yll.

Pada masa Cognitive Revolution, planet kita ini dihuni oleh kira-kira 200 jenis binatang mamalia berbobot lebih dari 100 lbs. dan hanya tinggal separuhnya pada masa Agriculture Revolution. Hariri beranggapan bahwa Homo sapiens menjadi penyebab utama kepunahan tersebut sebelum menemukan roda dan peralatan besi.

Pula Madagascar, 250 mile sebelah timur Afrika, juga kehilangan banyak binatang purba, termasuk burung besar dan lemur (pukang) raksasa. Punah semenjak manusia menginjakkan kakinya disana, demikian pendapat Hariri. Sementara di Lautan Pacific, gelombang kepunahan dimulai sejak tahun 1.500 BC ketika para petani Polynesia mulai memasuki Kepulauan Solomon, Fiji dan New Caledonia. Mereka menghabisi banyak species burung, insekta, siput, bahkan masyarakat lokal. Pemusnahan terus berlanjut kearah Samoa, Tonga, kepulauan Cook, Hawaii hingga New Zealand dari 1200 BC hingga AD 1200.

Hariri menyimpulkan bahwa Homo sapiens dimasa Agriculture Revolution adalah species yang paling bertanggungjawab terhadap punahnya banyak sekali binatang dan tumbuhan. Apakah ini anggapan personal Hariri atau memang demikian adanya menurut para ahli archeology? Perlu masukan lainnya.


Bagian 2. The Agriculture Revolution
Pada abad pertama AD, sebagian besar kehidupan manusia di dunia adalah berkebun. Revolusi Agrikultur terjadi di Timur Tengah, China, dan Amerika Tengah, tapi tidak di Australia, Alaska atau Afrika Selatan; karena di sana sebagian besar species tumbuhan dan binatang tidak bisa ditumbuh-kembangkan. Gandum yang 10.000 tahun yll tidak muncul di gurun Amerika Utara, sekarang bisa dilhat sepanjang ratusan miles disana. Bahkan saat ini sudah menutupi muka bumi seluas 870.000 mile persegi. “This ape had been living a fairly comfortable life hunting and gathering until about 10,000 years ago, but then began to invest more and more effort in cultivating wheat.”, tulis Hariri sedikit kasar. Gandum telah memaksa Homo sapiens untuk tinggal di rumah, menjaga kebunnya. Studi antropologi dan arkeologi menyebutkan bahwa kekejaman dalam masyarakat agrikultur sederhana menyebabkan tewasnya manusia hampir 15%, atau 35% laki-laki.

Keinginan Homo sapiens untuk hidup yang lebih nyaman dan instan di masa Revolusi Agrikaltur, bahkan hingga saat ini, banyak menyebabkan perlakuan kejam terhadap binatang-binatang ternak, langsung ataupun tidak langsung. Sapi dan biri-biri yang diambil susunya, kulit dan dagingnya, juga ayam yang diambil daging dan telornya; semuanya dalam sistem peternakan yang kejam. Ada perbedaan besar antara keberhasilan evolusi dan penderitaan individu dalam Revolusi Agrikultur.

“One of history’s few iron laws is that luxuries tend to become necessities and to spawn new obligations”.


Victims of the Revolution
Sapiens semakin pintar hingga mampu berburu secara selektif sehingga bisa mendapatkan hanya binatang-binatang ternak yang sehat dan potensial dikembangkan secara ekonomis sesuai kebutuhan manusia. Sepuluh ribu tahun yll, mungkin hanya jutaan biri-biri, sapi, kambing dan ayam yang hidup di Afro-Asia. Sekarang, bumi ini sudah dihuni 1 milyaran biri-biri, 1 milyaran babi, bahkan lebih dari 1 milyar sapi dan lebih dari 25 milyar ayam.

Bagaimana para petani dan peternak dimasa Revolusi Agrikultur, terus berkembang dalam jumlah luas area yang dikuasai dan jumlah hewan ternak yang dengan cepatnya terus bertambah, secara panjang-lebar diceritakan Harari dalam Bagian ke-2 ini. Namun, perang terus terjadi, bukan karena kelaparan atau kekurangan bahan pangan tapi justru karena ego mempertahankan properti dan kekhawatiran tentang masa depan. “It was not food shortages that caused most of history’s wars and revolutions”.

Pada bagian ke-2 ini, Harari bercerita tentang Hammurabi, raja Babilonia, kota terbesar dijamannya, yang terkenal sukses menguasai wilayah Mesopotamia, termasuk Irak, Siria dan Iran di tahun 1776 BC. Saat itu Hammurabi menggolongkan manusia menjadi dua gender yaitu laki-laki dan perempuan, serta tiga kelas, yaitu: manusia kelas atas, manusia biasa dan budak. Konsep Hammurabi (Hammurabi Code) ini didasarkan pada premis bahwa bila seorang raja dan semua golongan tersebut bisa menyadari posisinya dan berperilaku sesuai hirarkinya maka semua pihak akan bisa bekerjasama secara efektif.

Dari kisah ini, Harari merasa mendapatkan pembenaran bahwa kepercayaan atas Cerita Tidak Obyektif atau Imajinasi lah yang menyebabkan terjadinya kerjasama efektif, karena sejatinya tidak ada yang Obyektif dari Konsep Hammurabi tentang penggolongan manusia tersebut. Namun, kemampuan Sapiens yang terbatas selama jutaan tahun dalam hal penyimpanan informasi, konsep dan banyak hal Tidak Obyektif (imajinasi) sebagai bekal Homo sapiens untuk menguasai dunia tersebut, tentu menyulitkan dalam penyebarannya. Mengingat kekuasaan Sapiens berada pada imjinasi dalam otaknya, maka perlu dibuatkan berbagai aturan untuk menjaga kelangsungan kekuasaannya. Namun keberlangsungan aturan tersebut tetap sulit terjaga karena tak adanya fasilitas penyimpan informasi yang dapat disebar-luaskan secara spatial maupun kegenerasi berikutnya, hingga kaum Sumeria pada 3500 BC menemukan sistem penyimpanan dan pemrosesan data, yaitu ‘tulisan’. Maka semakin berkuasalah Homo sapiens.

Kekuatan aturan-aturan imajiner yang tentu tidak berbasis obyek nyata ini semakin berperan dalam penguasaan dunia, bahkan tehadap sesama manusia. Berbagai kebijakan politik rasis, perbudakan, bias gender, dll. tentu hanya berdasar konsepsi pembenaran belaka tanpa didasari obyek nyata yang bisa dijadikan fakta. Tentang niat berkuasa yang tinggi dari manusia ini, Hariri juga menulis tentang konsepsi ‘kemurnian’ yang sering dijadikan alasan untuk menguasai kelompok manusia lainnya.

Panjang-lebar Hariri berasumsi bahwa ‘Kasta’ dalam agama Hindu, (dengan mengatas-namakan ‘para ahli’, tanpa bukti pendukung), hanyalah konsepsi dari usaha bangsa Indo-arya, pendatang pada masa 3.000 tahun yll yang menguasai India saat itu, untuk melanggengkan kekuasaannya dan menjadikan bangsa asli setempat sebagai bangsa jajahan atau berada pada Kasta yang lebih rendah. Banyak hal dimasa itu aturan dibuat untuk membatasi hak-hak sipil pada masing-masing kasta, sehingga menjadi masyarakat berkelas. Perkawinan antar kasta tidak dibenarkan karena dianggap mengotori ‘kemurnian’ dari Kasta yang lebih tinggi. Pada era India modern sekarang ini, Demokrasi mencoba memberi pandangan berbeda terhadap keyakinan tentang ‘pengotoran atas kemurnian’ Kasta, khususnya di dunia kerja dan masalah perkawinan.

Isu ‘kemurnian’ ras sebagai upaya memenangkan hirarki kekuasaan ini juga terjadi di Amerika ketika pendatang Eropa melakukan perbudakan yang didatangkan dari Afrika. Lagi, perbedaan warna kulit tentu bukanlah basis obyektif atau hanya konsepsi imajiner belaka untuk menganggap bahwa kulit putih mempunyai tingkat kecerdasan dan moralitas yang lebih baik. Mithos, yang sampai saat ini masih sering menjadi isu dalam kultur dan beberapa kebijakan politik AS.


Bias Gender
Bagaimana usaha Homo sapiens untuk menguasai dunia ini terus dikritisi Hariri hingga masalah Bias Gender. Seperti halnya Kasta di India dan Kebijakan Rasis di AS, maka bias gender di banyak keputusan politik ataupun domestik masih banyak terjadi dimanapun. Lagi, ini merupakan produk imajinasi yang memang tidak ada akar biologisnya sehingga pembagian peran dalam banyak hal akan lebih merugikan perempuan.

Rasionalisasi imajinasi yang juga disebut oleh Hariri sebagai mithos, ini sering menjadi pembenaran Sapiens demi alasan penaklukan terhadap yang lain. Atas nama Budaya, banyak perilaku dianggap salah karena unnatural, meskipun dari perspektif biologi tidak ada yang salah, misalnya dalam kasus bias gender, rasis, LGBT, dll.

 

Screenshot_20200425-135849

Gambar King Lousi XIV

Maskulinitas diabad 18 diwakili oleh King Louis XIV dari Perancis berpedang panjang, mengenakan sepatu hak tinggi, rambut palsu panjang dan kaos-kaki panjang serta berpose bagaikan penari. Pada masanya, budaya seperti ini bukanlah suatu yang aneh, melainkan natural. Namun, diera digital sekarang ini pasti dianggap unnatural.


Bagian 3.The Unification of Humankind
Pada bagian ini, Hariri menyoroti perkembangan budaya global sebagai produk imperialisme. Menurutnya, Budaya yang kita anut seolah mempunyai nilai abadi sehingga seringkali menjadi rujukan penilaian baik-buruk perilaku seseorang, namun ternyata tidak demikian adanya. Budaya berubah seiring waktu. Contoh model pakaian Raja Louis XIV diatas menunjukkan perubahan budaya tersebut. Perubahan budaya sejak dulu dipengaruhi oleh lingkungan, sebagai respon terhadap budaya lain; berbeda dengan hukum-hukum atau proses fisika yang tidak berobah terhadap waktu. Globalisasi budaya sudah terjadi sejak dimulainya penaklukan suatu wilayah. Dari bermacam budaya, terjadi homogenisasi, lalu terpecah-pecah mengikuti tradisi lokal namun tetap dalam kerangka bahasa global. Saat ini semua wilayah di dunia sudah dalam satu kepentingan dan bahasa yang sama, yaitu nuklir, US$, perdagangan, bahasa dll. Ini semua adalah warisan imperialisme. Namun demikian, tak ada bukti menunjukkan bahwa imperialisme universal memang betul-betul untuk kesejahteraan bangsanya.


Bagian 4. The Scientific Revolution
Dalam 500 tahun terakhir ini, pertumbuhan penduduk bumi sangat tinggi. Di tahun 1500, diperkirakan hanya ada 500 juta Homo sapiens di muka bumi. Hari ini sudah mencapai 7 milyar manusia. Tahun-tahun penting selama 500 tahun terakhir ditandai dengan beberapa kejadian penting, yang dimulai pada abad 16, tepatnya 1522, pertama kali terjadi pelaut berusaha mengelilingi bumi, ekspedisi Magellan menempuh jarak 44.000 mile. Kembali ke Spanyol hanya sedikit pelaku, tidak termasuk Magellan. Tahun 1674 untuk pertama kalinya dipergunakan mikroskop micro-organisme buatan Anton van Leeuwenhoek. Lalu 20 Juli 1969 pertama kali manusia mendarat di bulan. Dan yang paling signigikan pengaruhnya dalam kehidupan Homo sapiens adalah pada 16 Juli 1945 ketika pertama kali bom atom diledakkan di Alamogordo, New Mexico. Sejak itu, Homo sapiens mampu mengubah sejarah, termasuk memusnahkan kehidupan. Proses bersejarah sejak 500 tahun yll ini ditengarai sebagan Revolusi Sains (Scientific Revolution).

Tidak menyerah pada seleksi alam yang dibatasi oleh kemampuan sifat biologis mahluk hidup, abad 21 ini mulai terlihat intervensi Sapiens melalui berbagai upaya inteligensia desain, yaitu rekayasa genetika, rekayasa cyborg dan rekayasa unorganik. Tak lama lagi, berbagai upaya rekayasa biologi akan mulai menunjukkan banyak hasil, tidak hanya dalam hal sistem imun, fisiologi, atau perpanjangan usia, namun juga peningkatan kapasitas intelektual dan emosional.

Di dunia peternakan sudah banyak dilakukan rekayasa genetika untuk mendapatkan produk susu sapi, daging sapi, daging ayam, telor unggulan, dll. Bahkan saat ini, ahli biologi Jepang, Korea dan Rusia secara bersama-sama sedang melakukan rekayasa genetika untuk dapat melahirkan bayi mammooth dari induk gajah.

Rekayasa Cyborg, yang memadukan kemajuan teknologi dengan organ tubuh manusia, misalnya tangan/kaki robotik, alat bantu pendengaran, dsb. adalah contoh rekayasa biologi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh manusia.

Upaya Sapiens lainnya dalam melawan seleksi alam adalah menciptakan kehidupan melalui rekayasa anorganik. Kecanggihan Artificial Intelligent sebagai bagian dari pemrograman komputer adalah modal dasar rekayasa anorganik, dimana algorithma di dalamnya mampu untuk melatih dirinya sendiri dalam mencari solusi permasalahan tanpa kontrol dari penggunanya. Tahun 2050 bahkan diduga sudah ada beberapa manusia immortal. Luar biasa kemampuan Homo sapiens. Mampu membuat ‘kehidupan’ dari proses baru evolusi yang bebas hukum-hukum evolusi organik.

Arah teknologi masa depan justru berpotensi mengubah Homo sapiens sendiri, termasuk nafsu dan emosinya, bukan lagi alat transportasi atau persenjataan. Dan, immortalitas jelas akan menggali persoalan baru tentang ethika, sosial dan politik bagi kemanusiaan. Cuplikan kalimat dari lembaran akhir buku ini sungguh menarik untuk direnungkan:

“What do we want to want?’ … massive increases in human power did not necessarily improve the well-being of individual Sapiens, and usually caused immense misery to other animals. … We are more powerful than ever before, but have very little idea what to do with all that power”.


Kesimpulan dan Rekomendasi
Dalam buku ini Harari menceritakan dan memberikan opininya terkait perubahan-perubahan kejadian penting sejak penyebaran Homo sapiens pertama kali dari Afrika Barat. Menarik, ketika proses sejarah species manusia disajikan, dan mulai membosankan ketika menyajikan rekaman peristiwa kekinian di era kita berada. Namun opini Hariri terhadap fenomena yang disajikannya memang menarik untuk dikritisi.

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan panjang Hariri adalah pendapatnya bahwa tiga kekuatan penting dalam sejarah penaklukan dunia adalah Imajinasi (tidak nyata), kemampuan bekerjasama dan kemampuan menyampaikan pesan.

Buku yang perlu dibaca untuk memperkaya pengetahuan dan memancing pemikiran.


Tautan:
1. Why humans run the world

2. Bentang Rentang Pemikiran Yuval Noah Harari by Budiman Sujatmiko

3. Yuval Noah Harari on the myths we need to survive

4. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

5. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

6. Sapiens by Yuval Noah Harari

7. Mark Zuckerberg & Yuval Noah Harari in Conversation

health-security-indexSeperti diketahui bahwa dampak Perubahan Iklim, urbanisasi dan migrasi antar negara sekarang banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, bisa diperkirakan bahwa dampak ikutan seperti penyebaran penyakit akan sangat mungkin terjadi, dan puncaknya adalah saat epidemi Ebola di Afrika Barat 2014. Bencana Ebola ini adalah mimpi buruk negara-negara di dunia. Para petinggi negara dan Badan Dunia seperti WHO terhenyak, menyadari bahwa ternyata masih banyak celah kekurangan pada sistem keamanan kesehatan dunia yang perlu dipahami dan diperbaiki untuk mencegah, mendeteksi dan merespon ancaman penyakit-penyakit menular ini. Untuk itu, GHS Index melakukan survei terhadap kesiapan dan kapasitas sistem keamanan kesehatan dari 195 negara dengan harapan para pejabat negara tergugah untuk meningkatkan political will dan mengalokasikan dananya untuk memperbaiki celah-celah kekurangan tersebut.

Laporan the Global Health Security Index (GHS) Oktober 2019 ini menarik karena menyangkut tingkat kesehatan suatu bangsa dan kapabilitas sebuah negara yang terkait dengannya. Proyek ini diinisiasi oleh Nuclear Threat Initiative (NTI) dan the Johns Hopkins Center for Health Security (JHU) serta dikembangkan bersama The Economist Intelligence Unit (EIU). Organisasi-organisasi tersebut meyakini bahwa, seiring waktu, GHS Index akan mampu mendorong percepatan peningkatan keamanan kesehatan nasional dan kemampuan internasional dalam mengatasi risiko kesehatan yang paling berbahaya, yaitu wabah penyakit menular, yang dapat menyebabkan epidemi dan pandemi internasional.

Nilai Keseluruhan rata-rata GHS Index tahun 2019, dari 195 negara adalah 40.2 dalam skala 100. Berdasarkan masing-masing kategori, kurang dari 7%, dari 195 negara, yang mampu mencegah terjadinya kondisi darurat karena menyebarnya pathogen. Hanya 19% yang mampu secara cepat mendeteksi dan melaporkan terjadinya epidemik, yang potensial menjadi isu internasional, serta hanya 5% yang mampu secara cepat merespon dan memitigasi penyebaran epidemik.

Temuan umum dan kesimpulan oleh GHS Index:

  1. Keamanan kesehatan nasional masing-masing negara tersebut pada dasarnya lemah. Tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi epidemi atau pandemi, dan setiap negara memiliki celah penting untuk ditangani.
  2. Negara tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana global biologis
  3. Sebagian besar negara telah menguji kapasitas keamanan kesehatannya yang akan berfungsi dalam keadaan krisis
  4. Sebagian besar negara belum mengalokasikan dana yang cukup untuk menutup celah kekurangan yang telah teridentifikasi
  5. Lebih dari setengah dari semua negara tersebut menghadapi risiko politik dan keamanan yang besar, yang dapat merusak kemampuan nasional dalam menghadapi ancaman bencana biologis
  6. Sebagian besar negara tidak memiliki kapasitas sistem kesehatan dasar utama untuk menghadapi epidemi dan pandemi
  7. Koordinasi dan pelatihan tidak memadai di kalangan dokter hewan, profesional satwa liar, dan profesional kesehatan masyarakat serta pemangku kebijakan
  8. Meningkatkan kepatuhan negara terhadap norma-norma kesehatan dan keamanan internasional adalah sangat penting.

Indonesia
Ada enam kategori untuk menentukan nilai Tingkat Keamanan Kesehatan dari sebuah negara, yaitu: Prevention, Detection and Reporting, Rapid Response, Health System, Compliance with Global Norms dan Risk Environment. Urutan tertinggi diperoleh AS, kemudian Thailand (6), Malaysia (18) Singapura (24) dan Indonesia (30). Italia, New Zealand, Polandia, Turki dll berada dibawahnya. Sedangkan untuk masing-masing kategori, Indonesia berada dalam urutan sbb.:

  1. Prevention of The Emergence or Release of Pathogens: 38
  2. Early Detection & Reporting for Epidemics of Potential International Concern: 37
  3. Rapiď Response To And Mitigation of The Spread of an Epidemic: 30
  4. Sufficient & Robust Health System To Trea The Sick & Protect Health Workers: 42
  5. Commitments To Improving National Capacity, Financing and Adherence To Norms: 7
  6. Overall Risk Environment And Country Vulnerebility To Biological Threats: 106

Pada kategori ke-6, termasuk di dalamnya adalah aspek risiko keamanan dan politik, ketahanan sosial-ekonomi, kecukupan infrastruktur, risiko lingkungan dan kerentanan kesehatan masyarakat. Artinya Negara bila sedang dalam kondisi lemah ekonomi, politik yang tidak kondusif dan ‘miskin’ infrastruktur, maka akan menyebabkan tidak efektifnya pemerintah dalam menyiapkan diri menghadapi epidemi dan pandemi. Dan faktanya, 55% dari 195 negara menunjukkan tingkat risiko keamanan dan politik yang rendah dan hanga 15% yang menunjukkan adanya kepercayaan publik yang tinggi, aman.

Cukup membanggakan bahwa negara kita mampu meraih nilai diatas rata-rata, pada urutan ke-30 dengan nilai 56.6 (rata-rata=40.2) dari 195 negara yang dinilai, dalam hal ini, sedikit dibawah Thailand, Malaysia dan Singapura dalam kawasan Asia Tenggara.

Meskipun dari 6 kategori mampu meraih nilai di atas rata-rata untuk 5 kategori, namun pada kategori Risk Assesment, Indonesia mendapatkan nilai di bawah rata-rata 53.7 (55.0). Kategori ini menilai risiko keamanan dan politik; ketahanan sosial ekonomi; kelayakan infrastruktur; risiko lingkungan; serta kerentanan kesehatan masyarakat; yang semuanya dapat memengaruhi kemampuan suatu negara untuk mencegah, mendeteksi, atau merespons adanya epidemi atau pandemi dan wabah penyakit yang bisa menyebar melintasi batas-batas negara.

Menjadi penting disini bahwa turunnya tensi politik domestik atau naiknya kepercayaan publik kepada Pemerintah (kategori ke-6), akan sangat berperan untuk menghambat dan menghentikan penyebaran virus Covid-19 yang saat ini sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Atau, siapapun yang dengan sengaja mengganggu atau menyebabkan kegaduhan politik, bisa dianggap turut menyebarkan wabah Covid-19. 🙂

COVID – 19
preparedness-vs-covid19-cases-3Dari kesimpulan pertama GHS Index diatas, telah disebutkan bahwa ” … Tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi epidemi atau pandemi …”. Kenyataan menunjukkan bahwa hingga saat ini, 5 April 2020, total korban meninggal dunia sudah mencai 64.784 orang, termasuk di Amerika (8.489 orang) yang berada di urutan no. 1 dalam GHS Index. Dengan fakta tersebut, data dan kesimpulan GHS Index bisa dianggap benar adanya. Laporan GHS Index yang diterbitkan Oktober 2019, sebelum pandemi Covid-19, ini menunjukkan bahwa meskipun termasuk dalam negara papan atas, ternyata tetap saja masih ada celah yang harus diperbaiki untuk siap menghadapi pandemi. Sebaliknya, muncul pertanyaan “Nilai berapa sesungguhnya herus diraih oleh suatu negara sehingga bisa menjadi bekal sukses menghadapi pandemi, bila peraih nilai tertinggi pun (AS) terbukti gagal menghadapi Covid-19?”. Atau jangan-jangan 6 kategori tidak cukup sebagai parameter acuan kesiapan menghadapi pandemi.

Sumber:
1. 2019 Global Health Security Index

2. Ranked: Global Pandemic Preparedness by Country

3. Coronavirus disease

 

%d blogger menyukai ini: