Feeds:
Pos
Komentar
IMG_20200520_233418
Mumpung dalam suasana karantina mandiri akibat Covid-19, saya coba main medsos yang akhirnya terperosok dalam penawaran online training Udemy.com. Kebetulan yang ditawarkan cukup murah dan menarik, karena berhubungan dengan beberapa buku yang pernah saya baca terkait dengan Otak dan Perilaku, seperti The Brain That Changes Itself , Personality: What makes You the Way You Are dan Quiet, yang ketiganya juga ada dalam blog ini.
Karena pelupa maka seringkali buku yang dibaca, saya buatkan tulisannya dalam blog ini, termasuk kursus ini, sehingga menjadi catatan yang bisa dibaca ulang dimanapun berada. Berikut ini adalah gambar besar dari keseluruhan isi kursus.
Kursus ini diadakan oleh Udemy.com dengan judul “Neuroscience for personal development“. Isinya tentang perilaku manusia dalam kaitannya tentang struktur otak kita. Menurut kursus ini, ada empat struktur otak yang bertanggung-jawab terhadap perilaku kita, yaitu: Reptilian brain, Neo-limbic brain, Paleo-limbic brain dan Prefrontal brain. Berikut ini penjelasan garis besar masing-masing struktur otak tersebut. Masih banyak lagi sub-bab dan contoh kasus, juga latihan dari masing-masing peran struktur otak tsb yang tidak dapat diringkaskan dalam blog ini, mengingat banyaknya materi. Ikutilah kursusnya karena sungguh menarik untuk bekal memahami diri sendiri, orang lain dan relasi sosial.
 
 
images (3)
Reptilian Brain (RB)
. .
Bertanggung-jawab untuk semua jenis fungsi fisiologis dasar seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dll.  Ini tempat bagi naluri bertahan hidup dan bertanggungjawab untuk menghadapi situasi yang mengancam. Secara teknis ia bekerjsama dengan amigdala limbik. Reptilian brain disebut jg ‘otak primitif’, yang memicu respon fisiologis untuk hasil yang positif dalam situasi kritis atau dalam tekanan. Tiga strategi yg dipergunakan untuk respon terhadap tekanan adalah:
  1. Flee: melarikan diri, otak memerintahkan pengiriman darah ke kaki sehingga otot mendapatkan oksigen lebih untuk mampu berlari cepat.
  2. Fight: bertarung atau mengintimidasi lawan,  mengirim darah ke bagian-bagian tubuh untuk bertarung.
  3. Freeze: ‘mengecilkan’ diri dengan harapan lawan akan mengabaikan. Otak tidak memerintahkan jantung untuk memompa darah lebih kencang tapi justru memperlambatnya. Dan energi akan turun.
Reptilian brain ini mempunyai fungsi primitif, yaitu tidak bisa belajar, tidak bisa berevolusi atau adaptasi. Juga tidak mempunyai memori. Bila dipicu oleh amigdala, ia akan memilih 3 strategi tersebut untuk bertahan.
Reptilian Brain (RB) akan aktif ketika muncul rasa khawatir terhadap suatu hal, walaupun belum tentu akan terjadi, sehingga menimbulkan stress. Strategi Flee, bisa diartikan ingin berada di tempat atau situasi lain (anxiety). Respon fisik akan terjadi seperti tangan bergetar, kaki bergerak saat duduk, jari-jari terus bermain pen, dll. Suara tidak stabil, ingin ke belakang, insomnia … Itu adalah perintah otak limbik untuk lari.  Respon strategi Fight, menyebabkan sikap agresif (intimidate). Merasa superior, tangguh. Leher, rahang dan lengan terasa tegang. Suara menjadi lebih keras, nada tinggi dan jelas. Tidak sabar dan mata menyipit namun tajam menatap,  fokus pada lawan. Respon strategi Freeze, menginginkan masalah cepat selesai. Merasa tak mampu hadapi masalah dan membutuhkan bantuan (helplessness). Demoralization. Tak berdaya. Seluruh tubuh terasa lesu. Suara rendah lambat, sedikit kata. Menangis. Sangat lelah bahkan sesak napas.
 
Relational stress management (RSM)
Upaya pendampingan terhadap penderita stress utk masing-masing strategi:
Strategi Flee
Orang yang sedang mengambil strtegi ini akan cenderung mengalihkan pandangan. Ingin beralih dari situasi yang ada. Bila memintanya bersikap tenang, akan dirasakannya sebagai upaya membatasi kebebasan untuk lari, melepaskan diri. Memberikan pertanyaan dengan jawaban ya/tidak (close question), akan membuatnya bingung. Pendamping jangan bersikap yang bisa ditafsirkan sebagai upaya menekan, seperti berteriak, mengancam atau memberi sangsi. Lebih baik segera bekerja bersama. Ajukan pertanyaan terbuka (open question), tawarkan beberapa alternatif solusi, dan letakkan masalah pada proporsinya, serta berikan harapan. Buatlah suasana santai, bila perlu berikan lelucon atau aktifitas santai lainnya.
 
Strategi Fight
Respon orang pada strstegi ini mudah terlihat. Berdiri tegak, bersuara keras, nada tinggi. Menunjukkan ketidak-sabaran. Ketegangan naik, terlihat dari rahang dan urat lehernya. Karena sedang menunjukkan over-power, maka sebaiknya jangan lakukan interupsi, buatlah tertawa. Akui kesalahan, berikan empati. Tawarkan alternatif solusi. Karena karakter Fight stress adalah impatience, maka perlu langsung to the point dan factual.
 
Strategi Freeze
Memintanya untuk mengambil alih, pegang kendali atau bersikap berani, menunjukkan kekuatan hanya akan membuatnya semakin menderita. Humor bukan cara tepat. Berikan pemahaman, duduk bersama, hargai dia, pelukan bisa membantu.  Ingat tujuan nya adalah keluar dari otak reptil. Menghilangkan bahaya yangg dirasakan dan menawarkan perlindungan serta menunjukkan langkah kecil ke arah yg benar. Intinya adalah finding protection.
Pada intinya, bila kita ingin membuat tenang penderita stress, perlu dihilangkan rasa bahaya yang dirasakannya dengan menunjukkan bahwa kita berada di pihaknya. Ini adalah elemen umum untuk menghilangkan kebutuhan adanya reaksi defensif sehingga respon stress akan memudar. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah mematikan otak reptil.
. . .
Reaksi strategi Flee, Fight dan Freeze bisa berubah-ubah dalam waktu singkat ketika kondisi stress. Ingin lari, marah lalu menyerah, sangat umum terjadi dalam suatu kasus kritis yg membuat stress.
NBA316 Reptilian Brain Conclusion
 
Paleo-Limbic (PL) Brain (Limbig amigdala)
PL bertanggung-jawab atas reaksi individu dalam suatu kelompok. Seperti diketahui bahwa Self Confidence (SC) dan Trust penting untuk bisa mendapatkan akses masuk ke dalam kelompok. Reaksi emosi dan perilaku sangat berhubungan dengan posisi SC – Trust kita.
Tingkat rasa SC dan Trust ini digambarkan dalam bentuk dua garis sumbu berpotongan. Sumbu vertikal adalah sumbu SC. Di bagian tengah sumbu adalah zona assertiveness. Kurangnya SC akan mengarah pada Submissiveness, dan SC yang berlebihan akan mengarah pada Dominance.  Tingkat paling rendah dari Submissiveness adalah rasa auto-mutilation and suicide, sedangkan paling atas atau titik potong sumbu adalah rasa Perfectionism and Credulity. Sedangkan tingkat terendah dari Dominance adalah rasa Flattery and Seduction, dan yang tertinggi adalah Sadism and cruelty.
 
Dominance: Mild dominance – narcisistic personality
  1. Flattery and Seduction
  2. Manipulation of feeling,  in order to alienate the person
  3. Mockery, in order to de-stabilize  level for refined violence against objects
  4. Intimidation,
  5. Sadism, cruelty,  enjoying to see others suffer
Submissiveness:
  1. Perfectionism (takut berbuat salah), credulity (thd dominan)
  2. Sensitivity, thd penderitaan sendiri
  3. Superstition, irrational fear if sanction, panic attacks
  4. Panic attack,  guilt
  5. Auto-mutilation, sucide
Submissiveness hanya mungkin terjadi bila memang berserah diri pada kelompok Dominance.
Tingkat Trust digambarkan pada sumbu horizontal, dengan bagian tengah sumbu adalah zona Assertiveness, kekurangan Trust akan mengarah pada sikap Marginality, dan berlebihan Trust akan mengarah pada Axiality. Tingkat terendah Marginality adalah Conspiracy dan yang tertinggi adalah Uneasiness at sharing. Sementara tingkat terrendah dari Axiality adalah Easines at sharing dan yang tertinggi adalah Connection to the universe.
Pada sumbu Trust, zona Assertiveness dibatasi oleh dua ujung ekstrim, yaitu: Marginality dan Axiality. Bentuk ekstrim dari marginality adalah paranoia, sebaliknya bentuk ekstrim dari axiality adalah mystical delirium.
 
Marginality:
  1. Uneasiness to share private life
  2. Feeling of loss contact with others
  3. Megalomaniac speech due to loss of connection with others
  4. Sense of exclusion
  5. Feels there is conspiracy theory against him or her
Axiality:
  1. Ease at sharing
  2. Feeling of percieving a hidden meanings of things
  3. A feeling of communicating with others witout words
  4. Communicating with things
  5. Feels connected to the universe
Kelompok Marginal merasa susah sekali mempercayai orang lain dan merasa terancam oleh kelompok predator, sementara kelompok axial merasa diuntungkan dlm kelompok. Namun kelompok axial sering kali juga naif, sehingga bisa membawa kesulitan.
Reptilian brain sudah aktif sejak dilahirkan, sedangkan Paleo-limbic aktif kira-kira umur 2 tahun ketika anak mulai bersosialisasi. Trustworthy yg rendah di masa kecil dan selalu meminta ijin untuk bertindak, akan berdampak dimasa selanjutnya seeing selalu merasa tidak mendapat kepercayaan dalam bawah sadarnya. Solusinya, finding a balance between authority and freedom. Namun perlu pengawasan yang tegas bila anak mulai melintas batas berbahaya. Keberadaan the authority sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Terlalu strict and rigid akan membentuk Submisiveness, sebaliknya terlalu longgar aturan dan disiplin, akan membentuknya menjadi Dominance. Paleo-limbic sangat rigid dan lamban untuk berubah, bergantung pada pengalaman hidup. Kondisi sementara dalam group memungkinkan tingkat SC dan Trust berubah posisi.
Mengubah posisi SC – Trust dalam group perlu dilakukan, meskipun menaikkan tingkat SC tidak bisa seketika, karena rigiditas dari paleo-limbic brain. Menggali posisi traumatik masa lalu, misalnya pengeroyokan, pemerkosaan, dll. akan sangat membantu untuk bisa menerima keadaan dengan sadar, bangkit dan menaikkan SC. Tujuan dari positioning group adalah stabilitas. Rebound effect adalah posisi kembali ke central referal point setelah mengalami masa naik-turun. Pendampingan coach direkomendasi.
 
Relational Group Positioning Management (RGPM)
Marginalitas dalam Dominance seringkali bersikap resisten, namun bisa berubah menjadi agresif. Tujuan RGPM bukan mengubah positioning, namun untuk mengelolanya dengan baik. Diperlukan sikap menghargai dan tidak menyalahkan dimanapun posisi group lainnya, karena kita tidak akan bisa mengubahnya. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah mendorongnya untuk keluar dari Paleo-limbic melalui komunikasi. Perlu diingat bahwa pihak lain bisa jadi tidak dalam level perilaku rasional untuk mulai berdiskusi secara rasional tentang siapa yang salah atan benar. Jangan terseret pada isi diskusi karena dalam hal ini tidak penting. Untuk membantu anak-anak mencapai ketegasan (assertiveness), perlu dibuatkan kerangka kerja dimana anak-anak merasa bebas untuk eksplor banyak hal, dan orangtua hanya mengawasi batas-batasnya. Berbeda dengan Reptilian brain yang sedang dalam sosisi bahaya dan membutuhkan teman, Paleo-limbic tidak membutuhkan kita sebagai teman, sehingga sedapat mungkin kita tidak berada dalam sosisi over-power. Harus bisa acting dalam posisi netral, menjaga jarak, menghargai untuk bisa meulai komunikasi tentant niai-nilai yang bague dalam limbic brain, dengan harapan bisa memicu prefrontal-brain untuk teraktifkan. Jangan lupa bahwa paleo-limbic sangat rigid (susah berubah), sehingga kesabaran sangat diperlukan. Berikan cukup waktu untuk beradaptasi dan jangan berharap dapat berubah dalam waktu yang pendek. Sabar. Tetap perlu diingatkan bila perilaku sudah diluar batas.
NBA428 Paleo-limbic Conclusion
 
Neo-limbic brain
Ini adalah struktur ketiga dari otak yang berfungsi untuk mengelola motivasi dan emosi terdalam. Setiap pengalaman hidup kita, hingga yang paling dalam, disimpan disini. Untuk memahami identitas diri sebenarnya, perlu menggali ingatan yang paling dalam ini. Dan yang lebih penting lagi adalah mampu membebaskan diri dari ekspektasi orang lain. Disini juga kita menentukan kesadaran diri (Consciousness). Bisa mengenali situasi, dimana kita seolah sudah mempunyai SOP, tentang bagaimana menghadapinya. Serasa autopilot. Disini tempat semua yang sudah dipelajari akan tersimpan, seperti misalnya bagaimana berjalan, mengemudi, berkomputer dll. Semua seperti instan, mengemudi sambil berkomunikasi, makan, dll. Disini akan ditemukan kontradiksi dan paradoks personality yang rumit.
Perlu disadari, apakah kita menjalani hidup ini atas dasar ekspektasi lingkungan sosial atau atas berdasar motivasi diri sendiri.
 
Primary Personalities
 
Karakter dari Primary Motivations ini adalah penuh energi yang memberi semangat dan motivasi berkelanjutan. Ini sudah tetap (fixed) pada saat awal kehidupan dan tidak akan berubah atau berkembang. Ini sebagian ditentukan oleh gen dan sebagian lainnya oleh lingkungan sosial awal. Primary Motivations atau Intrinsic motivations, ditentukan oleh fakta bahwa telah tertanam sekali, dan untuk selamanya di dalam inti personaliti primer (core of primary personalities). Terbaik yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi motivasi utama, menerimanya dan menghargainya karena merupakan representasi ideal cara hidup kita. Karakteristik kedua adalah motivasi-motivasi utama sebagai sumber energi (Gives us energy),  mereka seperti motor yang terus berjalan tanpa henti dengan emosi yang stabil. Karakteristik ketiga adalah mereka tidak membutuhkan imbalan dari luar berhubung memang tidak berharap hasil (no need for results). Hasil yang positif ataupun negatif, tidak mempengaruhi kesenangan individu. Misalnya, walaupun bersuara buruk tapi tetap menikmati bernyanyi, atau walaupun badan besar tapi tetap bisa menggemari menari. Kesenangan itu berada pada dirinya, bukan karena yang dipikirkan oleh pihak lain. Masih banyak orang yg belum menyadari kegemaran dirinya. Lalu, bagaimana mengidentifikasi Primary Motivations anda sendiri? Lihatlah apa yang anda lakukan dan apa yg anda sukai, apakah memberikan anda energi kegembiraan atau kebahagiaan?
Guidlines:
  • Apakah anda menikmati, bila sesuatunya mudah, atau lebih suka ada tantangan? (Easy or challenge)
  • Apakah lebih suka action atau reflection? (Action or reflection)
  • Apakah lebih suka bergaul dengan teman atau lebih suka sibuk sendiri? (Together or alone)
  • Merasa introvert atau extrovert?
Pilihan bisa keduanya cocok atau bergantung kondisi. Cobalah utk menggali lebih dalam, apa yang memotivasi anda. Apakah lebih suka sharing with others atau enjoying nature. Atau, kemenangan lebih membahagiakan, atau helping others lebih menarik? Ingat, ini bukan What you like, tapi what you enjoy. What give you choice and energy. Hal apa yang bisa menggerakkan dan membahagiakanmu di dalam sana? Apa yang bisa memberikan arti bagimu.
Impact of the reptilian strategies
Saat dilahirkan, kita memiliki 100 billion neuron, dan setiap neuron mempunya 100.000 koneksi. Tiga bulan berikutnya, hanya sisa 10.000 koneksi. Yang terjadi dalam bulan-bulan pertama tsb, sangat bergantung pada lingkungan dimana kita berada. Koneksi yang tidak aktif, akan mati, karena tidak dipergunakan. Ingat, bahwa saat kelahiran, reptilian brain sangat aktif, dan punya 3 strategi. Termasuk dalam situasi aman tanpa bahaya (standby mode), RB mempunyai 4 kondisi, dan bayi akan mengalami 1 dari 4 kondisi tsb. Idealnya, dalam perkembangannya, siapa kita, akan didasarkan pada satu kondisi tsb. Identitas diri didasarkan pada modus ‘fleeing’ yg menyukai pergerakan dan perubahan, dan akan berubah menjadi mode ‘fighting’ karena menikmati tantangan dan kemenangan, kemudian berubah menjadi mode ‘freezing’ karena menyukai perhatian dan berbagi (caring and sharing). Dan terakhir, mode ‘stand by’ karena menyukai kontemplasi dan berpikir (thinking). Setiap strategi (mode) ada dua modulasi, tergantung pada tingkat kesuksesan yang diperoleh dari strategi utama.  Apakah lebih mudah kontemplasi, atau lebih mudah lari, atau justru merasa perlu berlindung,  atau cukup dengan mengintimidasi atau malah harus bertarung ? Apakah lebih mudah mencari perlindungan atau harus membantu lainnya?
. . .
Tingkat risiko setiap pilihan strategi akan menentukan personality kita. Bila kemudahan adalah yang kita sukai, maka akan berkembang menjadi extrovert. Bila membutuhkan usaha lebih banyak untuk sukses,  akan menjadi introvert. Extrovertion akan mendatangkan kepuasan instan tanpa hambatan, sementara introversion akan lebih lambat merasakan kepuasan sebagai refleksi kedisiplinan dan keseriusan, perencanaan, ethic, efisiensi. Cara lain melihat hal ini adalah dengan membuat perbedaan antara individual dan personality sosial. Stand by tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Personality ini menyukai kesendirian. Fighting dan Freezing jelas membutuhkan kehadiran pihak lain, sebagai musuh ataupun pelindung. Penting untuk dipahami bahwa kita bisa mempunyai antara 2 dan 4 personality untuk menentukan siapa kita sebenarnya.
 
Secondary Personalities
Setelah 3 bulan, ketika primary personalities pada akhir pembentukannya, secondary personality mulai terbentuk melalui ingatan yg ‘dipaksakan’ sebagai ajaran positif. Perilaku dengan penyemangat “carrot” akan berdampak motivasi positif, sebaliknya perilaku dengan stimulus “stick” Akan berdampak pada motivasi negatif. Lingkungan biasa mengajarkan perilaku anak dengan “stick n carrot”, sebagai budaya ajaran yang menurun.
Secondary personalities dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya serta primary personalities yang sudah terbentuk sebelumnya. Keseimbangan antar kekuatan primary dan secondary personalities akan terbentuk. Seringkali lingkungan akan mengkoreksi sikap dan perilaku yg tidak layak. Menghardik anak yang selalu bergerak kesana kemari (fleeing) akan menyebabkan trauma dan menutup sumber motivasi dan kesenangannya serta tidak menggunakannya di kemudian hari. Sebaliknya, dengan memberikan hadiah (carrot) untuk tidak berlompatan, akan membuatnya senang dan tidak traumatik.
Karakter Secondary personalities ini adalah dapat berubah (Can change), perlu upaya keras (Cost us energy) dan membuthkan adanya hasil (Need for results).
Loss of motivation
Sering kita mendengar “aku gak tahu apa yang mesti kulakukan dlm hidup ini”. Seharusnya sudah jelas bahwa pilihan hidup mesti didasarkan pada primary personalities, bukan pada secondary personalities. Setidaknya, bila bisa nyaman menikmati apapun yang kita rencanakan, tanpa berrisiko demotivasi ketika mendapat hambatan. Jadi, contohnya, ketika memulai studi, apakah memilih berdasar kesukaan (passion) atau karena keinginan orangtua atau karena kemungkinan pendapatan yang akan dihasilkan dari pekerjaan nantinya? Ingat bahwa motivasi kenaikan gaji hanya akan bertahan 3 – 6 bln saja, tidak berkelanjutan. Oleh karenanya, untuk membuat pilihan-pilihan tsb, perlu benar menyadari primary personalities anda. Bisa jadi akan menemukan beberapa pilihan, atau mungkin justru masih belum bisa meyakini primary personalitiesnya. Berikut ini yang akan terjadi bila masih belum menemukan dasar motivasi. Ini merupakan indikasi bahwa secondary personalities telah menutupi primary personalitiesnya. Ini terjadi karena tidak meyakini bahwa sebenarnya sudah mempunyai primary personalities. Periode krusial ada pada usia 3-6 tahun. Bila pada tahun-tahun tsb primary personalities terrepresi, terabaikan atau terkerdilkan, maka akan bisa berakibat kelainan pathologis (pathological disorders), dimana kehilangan motivasi adalah akibat awal, yang dalam jangka panjang akan bisa bertendensi menjadi depresi. Anak-anak ekstrovert yang dimasukkan dalam sekolah yang sangat ketat, akan bisa menyebabkan hal seperti ini. Stress. Hal ini juga terjadi pada anak-anak introvert yang selalu disalahkan oleh orangtuanya karena merasa takut bersosialisasi. Bagus saja mendorong anak untuk bersosialisasi, asalkan dengan lembut dan tanpa menghakimi atau mengurangi nilai kecenderungan emosional mereka. Tapi, memilih diam pun, bukan suatu yg salah. Berbeda dengan primary personalities yang sudah fixed, masih ada cara untuk mensiasati dimensi negatif dari secondary personalities. Ini adalah proses identifikasi dan melepaskan langkah demi langkah.
 
NBA539 Neo-limbic Conlusion Motivation
 
Obsessions – How we spot them
Lapis ketiga diatas Primary dan Secondary Motivations, istilah teknisnya adalah Hyper investment, dan medisnya adalah Neurosis, yang biasa disebut Obsesi.. Jatuh cinta adalah contoh obsesi atau hyper investment. Bisa berada dalam situasi sangat tidak bersalah, atau memang betul invasif atau destruktif. Ini memberi rangsangan untuk perilaku addictive seperti workaholism, alcoholism, shopaholic, dll. Bahkan bisa mempengaruhi lainnya. Titik balik diatas primary motivations adalah dimana kesenangan (passion) kita berubah menjadi obsesi. Perlu perhatian. Bgmn mengenalinya? Ingat ketika merasa joy, satisfaction dan relief dgn primary dan secondary motivations. Disini tidak ada satisfaction,  selalu tidak cukup,  selalu ingin lebih walaupun kesuksesan sudah diraih. Bila seorang obsesif tidak mendptkan keinginannya, bisa tak terkendali dan akan terus mengganggu pikirannya. Ini kontras dengan primary motivations, yang bila tak bisa terpenuhi kesenangannya maka tak terlalu terganggu pikirannya. Selalu siap dengan yang terburuk. Karakteristik ketiga adalah besarnya energi untuk sebuah obsesi. Sangat melelahkan, setidaknya untuk orang lain. Obsesive person terlihat bertindak berlebihan, karena sikap invasif dan terus berulang sehingga menjadi membosankan, mengesalkan, dan melelahkan.
Causes and mechanism
Mengapa terjadi obsesi? Karena yang diinginkan tak bisa didapatkan, sehingga berusaha mengganti objek yg mirip dengannya namun tetap tak bisa menggantikannya karena hanya ‘mirip” dan bukan ‘sebenarnya’. Anak yang belum mature otak prefrontalnya, tidak mempunyai alat utk menangani masalah kekecewaan tsb. Sehingga otak neo-limbicnya akan ‘mengeras’ atau terpateri dengan kekecewaan tsb. Bahkan bisa terjadi menyimpannya di tempat yg paling dalam, diluar kesadaran. Ini yg disebut small social trauma, dan akan menyebabkan perilaku yang berubah, yang seharusnya dihindari dengan segala daya. Setelah 17 tahun, tidak ada perubahan perilaku karena pre-frontal mulai aktif dan mampu mengatasi persoalan-persoalan tsb.
Seorang anak yang merasa dipermalukan orang tuanya karena mendapatkan nilai buruk, akan terbentuk rasa tidak percaya pada orang lain (merasa dikhianati org tuanya) dan mengganti sikapnya menjadi perfectionism. Substitusi dari tindak obsesif bisa perfectionism, atau menjadi lucu, atau hal lainnya, yang tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah bila object obsesi terus bergerak atau berubah. Kompensasi akan terus berulang dilakukan.
Belajar NBA bisa jadi untuk alasan memenuhi obsesi pengetahuan, sains, atau pertumbuhan personal. Bila selalu melakukan lompatan teori tanpa merasa puas, selalu mencari yang lain,  cobalah bertanya, bagian mana yang ‘menutupi’ dirimu sehingga harus melakukan kompensasi?
NBA650 Conclusion to the Obsession
 
 
Prefrontal brain
Struktur otak ke-4 adalah Prefrontal brain, hasil proses evolusi yang menakjubkan. Ini yang membuat manusia menjadi unik, karena tidak ada mahluk hidup lain yang mempunyainya. Tiga struktur otak lainnya, bisa dipunyai oleh mahluk hidup lain. Reptilian dan paleo-limbic adalah dasar yang menempatkan manuaia tidak memounyai hubungan lagi dengan kemampuan berpikir logis. Di sisi lain, dalam Neo-limbic terletak esensi siapa kita sebenarnya, dengan ingatan dan motivasi. Namun, tetap masih belum menunjukkan bhw kita manusia. Siapapun yang mempunyai anjing atau kucing, bisa menunjukkan bhw mereka punya karakter masing-masing, seperti suka, tidak suka dan motivasi. Prefrontal yg membedakan bahwa kita manusia, meskipun ada mamalia yang juga mempunyainya. Lumba2, gajah, anjing, dan kera-kera besar. Ukuran otak prefrontal mereka adalah normal saja, tidak seperti milik manusia yang sangat besar volumenya. Disinilah bedanya. Prefrontal brain seperti super-komputer yang mampu mengambil keputusan tanpa kesadaran, dari input yg bermacam-macam, kemudian mengkombinasikannya secara inovatif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, prefrontal brain adalah alat utama yang adaptif dan kreatif dan sesuai untuk situasi yang sebekumnya tidak diketahui dan rumit.
Seperti diketahui bahwa neo-limbic bekerja secara autopilot dalam menghadapi dunia ini, untuk perilaku kecil yang rutin sehingga bisa efektif dalam kehidupan sehari-hari. Prefrontal brain digunakan untuk menghadapi masalah dan situasi yang baru dan rumit. Kita selalu resisten terhadap perubahan, karena sebenarnya kedua otak limbic keberatan untuk melakukan kontrol dan melimpahkannya ke prefrontal. Cobalah minta kolega anda untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Mempertanyakan dan menolak permintaan tsb adalah indikasi otak limbik mereka untuk minta lebih banyak info. Aksi ini adalah indikasi aktifitas prefrontal. Pastikan bahwa ini bukan karakter animator yang memang suka perubahan.
Bila limbic brains resistan dalam menghadapi situasi rumit, maka akan kembali ke reptilian brain untuk melakukan respon. Disinilah prefrontal berperan untuk mengolahnya setelah reptilian brain mengirimkan signal. Bisa dikatakan bahwa stress adalah signal dalam otak untuk berpindah peran dari reptilian ke prefrontal. Sehingga tidak ada lagi stress dan akan dirasakan kedamaian dan ketenangan, dalam kendali penuh atas mental kita. Emosi akan terbuka pada dunia dan mulai ingin tahu terhadap hal-hal baru, kreatif dan intuitif. Artinya, kita telah menggunakan otak kita secara optimal.
Menggunakan prefrontal brain bukan berarti menyetujui semua pendapat, namun setidaknya telah mendengar opini lainnya sebelum tentukan keputusan. Artinya, tidak perlu memaksakan diri untuk memenangkan opini. Namun juga tidak perlu harus mengalah bila memang harus mengatakan ‘tidak’. Intinya adalah harus terbuka dan bersikap dewasa.
Ketika lahir, prefrontal brain belum matang dan terus berkembang hingga tingkat kematangan mencapai usia 24 thn, dimana diharapkan sudah mampu mengkontrol emosi. Maka janganlah kaget bila remaja sering bersikap berlebihan (over-reacting) karena prefrontal brain yang mengkontrol emosi memang belum matang. Jadi sangatlah tidak tepat bila menuntut anak-anak atau remaja untuk bersikap seperti orang dewasa. Mereka bukanlah miniatur orang dewasa. Otaknya belum berkembang sepenuhnya. Biarkanlah mereka berperilaku seperti apa adanya anak-anak. Adalah tidak adil bagi mereka dan kita, bila mengharapkan mereka menjadi orabg dewasa, karena kemampuan berperilaku dewasa bukanlah dalam kontrol orang dewasa atau mereka sendiri.
 …
Bgmn mengarahkan orang untuk menggunakan prefrontal brain? Disinilah maksud kursus ini, yaitu berharap seseorang mampu meninggalkan reptilian brain dan limbic brain untuk pindah ke prefrontal brain. Cobalah selalu membuat pertanyaan terbuka terhadapnya, supaya mereka mampu berpikir tentang diri mereka sendiri, dan juga mampu melihat perbedaan situasi sehingga bisa berubah dari yang kondisi rutin ke pemikiran kritis.
. . .
NBA757 Conclusion to the prefrontal brain
 
Final conclusions
Dengan reptilian brain bisa mengetahui bagaimana mengkontrol diri bila menghadapi stress. Dengan paleo-limbic, bisa mengetahui posisi fundamental kita dalam group, dengan menggunakan sumbu Trust vs Self-Confidence. Dengan neo-limbic, kita mengetahui tentang Intrinsik dan Ekstrinsik Motivasi, begitu juga dengan Obsesi. Kita juga belajar bagaimana menghubungkan dengan motivasi jangka panjang berkelanjutan dan menyingkirkan perilaku dangkal. Kita bahkan sudah belajar memasuki lubang terdalam untuk mencari trauma dan berdamai dengannya. Prefrontal brain, membawa kita ke kesuksesan adaptasi dan perubahan. Bila suatu hal tidak berjalan sesuai ekspektasi, bisa belajar melihatnya dengan parameter situasi lain berdasar struktur otak yang aktif. Ini memberikan kita semua bekal untuk berhadapan dengan yang lain dan mampu mengambil keputusan sendiri. Ini adalah inti dari semua, the new cognitive and behavioral approach, yang memberi pengetahuan dan penjelasan mengapa kita berperilaku begini, sehingga setiap pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasar pilihan sadar dan hidup kita bukan lagi dikontrol oleh ketidak-sadaran, atau hanya warisan pendidikan atau lingkungan sosial semata. Atau dengan kata lain, kita sendiri adalah satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dan punya kekuatan terhadap hidup kita sendiri. Jadi, gunakanlah pengetahuan ini secara bijaksana untuk menghubungkan kembali dengan primary motivations, dalam berhadapan dengan mekanisme kompensasi anda. Hilangkan intolerance, berhentilah hidup berdasar keinginan pihak lain, dan mulailah hidup yang nyaman.
Temukanlah siapa anda sebenarnya, dibawah lapisan-lapisan ekspektasi sosial, kemudian fahamilah dan terimalah dengan rasa hormat dan jalani hidup anda, serta mulailah bersosialisasi. Tetap berperilaku sesuai siapa anda sebenarnya dan temukanlah orang-orang yang mencintai dan menghormati anda seperti apa adanya.
This is what you are meant to be. Become the best version of your self. 
IMG_20200515_182454_223
 
 
 

imagesAda yang menarik dari buku berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari setebal 443 halaman, terbitan Harper Perennial, yang mulai beredar dalam bahasa Hebrew 2011, dan bahasa Inggris 2014 ini, hingga memilihnya untuk dibaca. Selain karena seringnya tampil di bagian depan toko-toko buku, beberapa kali terlihat dibaca penumpang saat menunggu boarding di bandara, juga karena judulnya yang seolah akan bercerita tentang rahasia sejarah kehidupan manusia.. Selain itu, judulnya sangat mengingatkan akan buku favorit “A brief history of time” karya Stephen Hawking. Apalagi kalimat pembuka dalam bab pertama sungguh layaknya appetizer lezat sebelum main-course siap santap, “About 14 billion years ago, matter, energy, time and space came into being in what is known as the Big Bang” .. wowwww sejak Big Bang …

Buku ini sebetulnya mencoba menjelaskan tentang bagaimana mahluk yang pada masa awalnya hanya species tak berdaya, kemudian bisa menjadi penguasa dunia saat ini. Harari menyajikan pemikirannya dalam empat bagian berdasar urutan waktu, yaitu The Cognitive Revolution yang dimulai 70.000 tahun yll. di bagian pertama, dilanjutkan dengan bagian The Agricultural Revolution dimulai dari 12.000 tahun yll, lalu The unification of humankind dan diakhiri dengan The Scientific Revolution dari 500 tahun yll. Sebelum masuk pada bagian pertama, Harari menyajikan tabel sejarah besar kehidupan, mulai dari Big Bang hingga ke Masa Depan. Berikut ini adalah catatan singkat masing-masing bagian.

Bagian 1. The Cognitive Revolution
Pada bagian ini, disajikan sejarah perkembangan kemampuan kognitif mahluk hidup, termasuk Homo Sapiens, juga tentang punahnya berbagai binatang besar. Species manusia pertama ditemukan di Afrika Barat, Australopithecus, yang berarti ‘Southern Ape’ kira-kira 2.5 juta tahun yll. Kemudian ditemukan di Asia Barat dan Eropa Barat, ‘Nenderthals’ dengan fisik yang lebih gempal dan berotot serta adaptif dalam iklim dingin Ice Age, berlanjut dengan ditemukannya Homo erectus di Asia Barat yang berdiri tegak dan mampu survive paling lama diantara species lainnya, hingga 2 juta tahun. Dalam khasanah arkheologi, Indonesia selalu muncul dalam pembahasan Homo sapiens, demikian juga dalam buku ini. Homo soloensis yang mampu hidup di daerah tropik, ditemukan di Solo. Kemudian Homo floresiensis ditemukan di Flores dengan ciri ukuran tubuh yang pendek, 3.5 feet dengan berat tak lebih dari 55 lbs. Homo floresiensis masuk ke pulau Flores ketika muka laut sedang rendah, kemudian terjebak di dalamnya. Berkurangnya makanan karena muka laut yang naik, menyebabkan manusia yang lebih besar punah lebih dulu sehingga tersisa mereka yang berbadan pendek. Namun demikian, mereka sudah mempunyai keahlian membuat peralatan berburu dari batu. Sementara itu di Siberia ditemukan Homo denisofa dan evolusi di Afrika Timur juga tetap berlangsung hingga ditemukannya Homo rudolfensis, Homo ergaster dan kemudian species kita sendiri Homo sapiens ‘Wise Man‘. Bermacam species tersebut bukanlah tumbuh berkembang dalam proses linear berurutan, namun merupakan species yang memang berbeda-beda, artinya, sejak 2 juta hingga 10.000 tahun yll, bumi menjadi tempat yang sama untuk hidupnya species-species tersebut.

Genus Homo dalam rantai makanan berada dalam tingkat Menengah, dikalahkan oleh predator-predator besar. Pada 400.000 tahun yll sebagian species manusia mulai mampu berburu binatang besar, dan sejak 100.000 tahun yll, dengan munculnya Homo sapiens, species manusia mampu menduduki posisi teratas dalam rantai makanan. Evolusi cepat dari Homo sapiens ini menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu, seperti munculnya perubahan perilaku binatang, wabah penyakit dan perang.

Lompatan besar beberapa species manusia dalam rantai makanan ini salah-satunya disebabkan oleh kemampuan menguasai api yang terjadi sejak 800.000 thaun yll. Homo erectus Neanderthal dan nenek-moyang Homo sapiens mulai 300.000 tahun yll. menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk membuka lahan dan penghangat tubuh. Evolusi fisik Homo sapiens pun mulai berubah dengan berfungsinya api, seperti tulang rahang dan gigi yang lebih kecil daripada species sebelumnya. Banyak ahli meyakini bahwa Homo sapiens yang berkembang di Afrika Timur 150.000 tahun yll namun gagal menyebar ke seluruh dunia, kemudian menyebar lagi 70.000 tahun yll dan sukses beranak-pinak di seluruh dunia, sangat menyerupai manusia sekarang ini. Bahkan ukuran otak pun sama dengan ukuran otak manusia saat ini. Kira-kira 45.000 tahun yll, mereka mulai menyeberang ke Australia, daratan yang saat itu belum disentuh species manusia. Kemudian ditemukan peninggalan periode 70.000 – 30.000 tahun yll berupa perahu, lampu minyak, busur dan anak panah, dan jarum untuk menjahit pakaian hangat. Penyebab lompatan keahlian yang disebut sebagai The Tree of Knowledge mutation dizaman Cognitive Revolution Homo sapiens ini belum jelas benar. Namun para ahli sepakat bahwa Homo sapiens is primarily a social animal. Social cooperation is our key for survival and reproduction.

Ada 3 hal yang menjadi catatan penting Hariri terkait Cognitive Revolution, yaitu terkait dengan kemampuan menyampaikan pesan Homo sapiens:

  1. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang lingkungan Homo sapiens
  2. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang hubungan-hubungan sosial Homo sapiens
  3. Kemampuan untuk menyampaikan pesan yang lebih banyak tentang suatu hal yang TIDAK NYATA, misalnya ttg tribal spirits, kebangsaan, atau Hak Azasi Manusia, dll.

Dari sisi hubungan kemasyarakatan, – sensasi, emosi, hubungan keluarga -, sulit mencari perbedaan antara manusia modern dengan chimpanzee atau Neanderthal. Perbedaan akan terlihat jelas pada saat ratusan atau ribuan masing-masing kelompok ini berada dalam kerumunan besar. Kekacauan akan terjadi pada kelompok Chimpanzee, justru sebaliknya kita sangat biasa melakukan banyak hal dengan berkumpul. “Flexible cooperation in large numbers” adalah kata kunci ttg kelebihan Homo sapiens dibanding mahluk lainnya, menurut Hariri.

Dalam penyebaran dan perkembangan Homo sapiens dari Afrika Timur ke seluruh dunia, dikenal dua teori, yaitu Interbreeding Theory dan Replacement Theory. Interbreeding Theory beranggapan bahwa terjadi merging antara Homo sapiens dengan Neandethal, Erectus dan lain-lainnya. Teori ini banyak ditentang dengan alasan perbedaan species tidak akan terjadi perkawinan karena dianggap mahluk yang berbeda sehingga tidak ada saling ketertarikan dan tidak akan terjadi pembuahan karena genetis yang berbeda. Dengan alasan tersebut maka yang terjadi adalah penaklukan dari species satu terhadap species lainnya, yang dalam hal ini Homo sapiens dapat mengungguli dan menggantikan keberadaan species-species yang sudah ada sebelumnya, dan teori ini disebut Replacement Theory.

Screenshot_20200425-142306

Peta Penyebaran Homo sapiens


Kasus muncul ketika 2010 ditemukan 4% DNA Neaderthal dalam populasi modern di Timur Tengah dan Eropa. Demikian pula ditemukan 6% DNA Denisovan dalam populasi modern Melanesia dan Aborigin. Kesimpulan sementara dengan adanya DNA dalam jumlah kecil dari species lain adalah adanya perkawinan silang antara Homo sapiens dengan species lain pada suatu kesempatan.


Kepunahan Binatang Purba
Di benua Australia, Harari menyoroti bahwa punahnya bermacam binatang besar disana, disebabkan oleh 3 hal, yaitu:

  1. Kebutuhan waktu yang lama untuk berkembang-biak, membuatnya mudah panah karena perburuan oleh Homo Sapiens
  2. Kemampuan baru homo sapiens dalam menggunakan api intuk membuka ladang mengakibatkan pola hidup dan konsumsi binatang menjadi terganggu
  3. Perubahan Iklim pada 45.000 tahun yll mmenyebabkan destabilisasi ekosistem

Homo sapiens adalah species manusia pertama dan satu-satunya yang menginjakkan kakinya di Amerika 16.000 tahun yll. Terjadi ketika muka air laut masih rendah sehingga dari Timur-Laut Siberia mereka bisa menyeberang ke Barat-Laut Alaska melalui darat. Mereka telah melengkapi dirinya dengan pakaian dan peralatan berburu untuk area beriklim ekstrim dingin. Dalam perjalanan ke selatan dari Siberia, mereka menemukan banyak binatang purba berukuran besar spt mammoth, mastodon, dll. Namun setelah 2.000 tahun sejak kedatangan Homo sapiens, binatang-binatang besar ini musnah. Tulang-tulang yang ditemukan para arkeolog menunjukkan bahwa binatang-binatang tersebut hidup pada masa Homo sapiens memasuki Amerika kira2 12.000-9.000 tahun yll.

Pada masa Cognitive Revolution, planet kita ini dihuni oleh kira-kira 200 jenis binatang mamalia berbobot lebih dari 100 lbs. dan hanya tinggal separuhnya pada masa Agriculture Revolution. Hariri beranggapan bahwa Homo sapiens menjadi penyebab utama kepunahan tersebut sebelum menemukan roda dan peralatan besi.

Pula Madagascar, 250 mile sebelah timur Afrika, juga kehilangan banyak binatang purba, termasuk burung besar dan lemur (pukang) raksasa. Punah semenjak manusia menginjakkan kakinya disana, demikian pendapat Hariri. Sementara di Lautan Pacific, gelombang kepunahan dimulai sejak tahun 1.500 BC ketika para petani Polynesia mulai memasuki Kepulauan Solomon, Fiji dan New Caledonia. Mereka menghabisi banyak species burung, insekta, siput, bahkan masyarakat lokal. Pemusnahan terus berlanjut kearah Samoa, Tonga, kepulauan Cook, Hawaii hingga New Zealand dari 1200 BC hingga AD 1200.

Hariri menyimpulkan bahwa Homo sapiens dimasa Agriculture Revolution adalah species yang paling bertanggungjawab terhadap punahnya banyak sekali binatang dan tumbuhan. Apakah ini anggapan personal Hariri atau memang demikian adanya menurut para ahli archeology? Perlu masukan lainnya.


Bagian 2. The Agriculture Revolution
Pada abad pertama AD, sebagian besar kehidupan manusia di dunia adalah berkebun. Revolusi Agrikultur terjadi di Timur Tengah, China, dan Amerika Tengah, tapi tidak di Australia, Alaska atau Afrika Selatan; karena di sana sebagian besar species tumbuhan dan binatang tidak bisa ditumbuh-kembangkan. Gandum yang 10.000 tahun yll tidak muncul di gurun Amerika Utara, sekarang bisa dilhat sepanjang ratusan miles disana. Bahkan saat ini sudah menutupi muka bumi seluas 870.000 mile persegi. “This ape had been living a fairly comfortable life hunting and gathering until about 10,000 years ago, but then began to invest more and more effort in cultivating wheat.”, tulis Hariri sedikit kasar. Gandum telah memaksa Homo sapiens untuk tinggal di rumah, menjaga kebunnya. Studi antropologi dan arkeologi menyebutkan bahwa kekejaman dalam masyarakat agrikultur sederhana menyebabkan tewasnya manusia hampir 15%, atau 35% laki-laki.

Keinginan Homo sapiens untuk hidup yang lebih nyaman dan instan di masa Revolusi Agrikaltur, bahkan hingga saat ini, banyak menyebabkan perlakuan kejam terhadap binatang-binatang ternak, langsung ataupun tidak langsung. Sapi dan biri-biri yang diambil susunya, kulit dan dagingnya, juga ayam yang diambil daging dan telornya; semuanya dalam sistem peternakan yang kejam. Ada perbedaan besar antara keberhasilan evolusi dan penderitaan individu dalam Revolusi Agrikultur.

“One of history’s few iron laws is that luxuries tend to become necessities and to spawn new obligations”.


Victims of the Revolution
Sapiens semakin pintar hingga mampu berburu secara selektif sehingga bisa mendapatkan hanya binatang-binatang ternak yang sehat dan potensial dikembangkan secara ekonomis sesuai kebutuhan manusia. Sepuluh ribu tahun yll, mungkin hanya jutaan biri-biri, sapi, kambing dan ayam yang hidup di Afro-Asia. Sekarang, bumi ini sudah dihuni 1 milyaran biri-biri, 1 milyaran babi, bahkan lebih dari 1 milyar sapi dan lebih dari 25 milyar ayam.

Bagaimana para petani dan peternak dimasa Revolusi Agrikultur, terus berkembang dalam jumlah luas area yang dikuasai dan jumlah hewan ternak yang dengan cepatnya terus bertambah, secara panjang-lebar diceritakan Harari dalam Bagian ke-2 ini. Namun, perang terus terjadi, bukan karena kelaparan atau kekurangan bahan pangan tapi justru karena ego mempertahankan properti dan kekhawatiran tentang masa depan. “It was not food shortages that caused most of history’s wars and revolutions”.

Pada bagian ke-2 ini, Harari bercerita tentang Hammurabi, raja Babilonia, kota terbesar dijamannya, yang terkenal sukses menguasai wilayah Mesopotamia, termasuk Irak, Siria dan Iran di tahun 1776 BC. Saat itu Hammurabi menggolongkan manusia menjadi dua gender yaitu laki-laki dan perempuan, serta tiga kelas, yaitu: manusia kelas atas, manusia biasa dan budak. Konsep Hammurabi (Hammurabi Code) ini didasarkan pada premis bahwa bila seorang raja dan semua golongan tersebut bisa menyadari posisinya dan berperilaku sesuai hirarkinya maka semua pihak akan bisa bekerjasama secara efektif.

Dari kisah ini, Harari merasa mendapatkan pembenaran bahwa kepercayaan atas Cerita Tidak Obyektif atau Imajinasi lah yang menyebabkan terjadinya kerjasama efektif, karena sejatinya tidak ada yang Obyektif dari Konsep Hammurabi tentang penggolongan manusia tersebut. Namun, kemampuan Sapiens yang terbatas selama jutaan tahun dalam hal penyimpanan informasi, konsep dan banyak hal Tidak Obyektif (imajinasi) sebagai bekal Homo sapiens untuk menguasai dunia tersebut, tentu menyulitkan dalam penyebarannya. Mengingat kekuasaan Sapiens berada pada imjinasi dalam otaknya, maka perlu dibuatkan berbagai aturan untuk menjaga kelangsungan kekuasaannya. Namun keberlangsungan aturan tersebut tetap sulit terjaga karena tak adanya fasilitas penyimpan informasi yang dapat disebar-luaskan secara spatial maupun kegenerasi berikutnya, hingga kaum Sumeria pada 3500 BC menemukan sistem penyimpanan dan pemrosesan data, yaitu ‘tulisan’. Maka semakin berkuasalah Homo sapiens.

Kekuatan aturan-aturan imajiner yang tentu tidak berbasis obyek nyata ini semakin berperan dalam penguasaan dunia, bahkan tehadap sesama manusia. Berbagai kebijakan politik rasis, perbudakan, bias gender, dll. tentu hanya berdasar konsepsi pembenaran belaka tanpa didasari obyek nyata yang bisa dijadikan fakta. Tentang niat berkuasa yang tinggi dari manusia ini, Hariri juga menulis tentang konsepsi ‘kemurnian’ yang sering dijadikan alasan untuk menguasai kelompok manusia lainnya.

Panjang-lebar Hariri berasumsi bahwa ‘Kasta’ dalam agama Hindu, (dengan mengatas-namakan ‘para ahli’, tanpa bukti pendukung), hanyalah konsepsi dari usaha bangsa Indo-arya, pendatang pada masa 3.000 tahun yll yang menguasai India saat itu, untuk melanggengkan kekuasaannya dan menjadikan bangsa asli setempat sebagai bangsa jajahan atau berada pada Kasta yang lebih rendah. Banyak hal dimasa itu aturan dibuat untuk membatasi hak-hak sipil pada masing-masing kasta, sehingga menjadi masyarakat berkelas. Perkawinan antar kasta tidak dibenarkan karena dianggap mengotori ‘kemurnian’ dari Kasta yang lebih tinggi. Pada era India modern sekarang ini, Demokrasi mencoba memberi pandangan berbeda terhadap keyakinan tentang ‘pengotoran atas kemurnian’ Kasta, khususnya di dunia kerja dan masalah perkawinan.

Isu ‘kemurnian’ ras sebagai upaya memenangkan hirarki kekuasaan ini juga terjadi di Amerika ketika pendatang Eropa melakukan perbudakan yang didatangkan dari Afrika. Lagi, perbedaan warna kulit tentu bukanlah basis obyektif atau hanya konsepsi imajiner belaka untuk menganggap bahwa kulit putih mempunyai tingkat kecerdasan dan moralitas yang lebih baik. Mithos, yang sampai saat ini masih sering menjadi isu dalam kultur dan beberapa kebijakan politik AS.


Bias Gender
Bagaimana usaha Homo sapiens untuk menguasai dunia ini terus dikritisi Hariri hingga masalah Bias Gender. Seperti halnya Kasta di India dan Kebijakan Rasis di AS, maka bias gender di banyak keputusan politik ataupun domestik masih banyak terjadi dimanapun. Lagi, ini merupakan produk imajinasi yang memang tidak ada akar biologisnya sehingga pembagian peran dalam banyak hal akan lebih merugikan perempuan.

Rasionalisasi imajinasi yang juga disebut oleh Hariri sebagai mithos, ini sering menjadi pembenaran Sapiens demi alasan penaklukan terhadap yang lain. Atas nama Budaya, banyak perilaku dianggap salah karena unnatural, meskipun dari perspektif biologi tidak ada yang salah, misalnya dalam kasus bias gender, rasis, LGBT, dll.

 

Screenshot_20200425-135849

Gambar King Lousi XIV

Maskulinitas diabad 18 diwakili oleh King Louis XIV dari Perancis berpedang panjang, mengenakan sepatu hak tinggi, rambut palsu panjang dan kaos-kaki panjang serta berpose bagaikan penari. Pada masanya, budaya seperti ini bukanlah suatu yang aneh, melainkan natural. Namun, diera digital sekarang ini pasti dianggap unnatural.


Bagian 3.The Unification of Humankind
Pada bagian ini, Hariri menyoroti perkembangan budaya global sebagai produk imperialisme. Menurutnya, Budaya yang kita anut seolah mempunyai nilai abadi sehingga seringkali menjadi rujukan penilaian baik-buruk perilaku seseorang, namun ternyata tidak demikian adanya. Budaya berubah seiring waktu. Contoh model pakaian Raja Louis XIV diatas menunjukkan perubahan budaya tersebut. Perubahan budaya sejak dulu dipengaruhi oleh lingkungan, sebagai respon terhadap budaya lain; berbeda dengan hukum-hukum atau proses fisika yang tidak berobah terhadap waktu. Globalisasi budaya sudah terjadi sejak dimulainya penaklukan suatu wilayah. Dari bermacam budaya, terjadi homogenisasi, lalu terpecah-pecah mengikuti tradisi lokal namun tetap dalam kerangka bahasa global. Saat ini semua wilayah di dunia sudah dalam satu kepentingan dan bahasa yang sama, yaitu nuklir, US$, perdagangan, bahasa dll. Ini semua adalah warisan imperialisme. Namun demikian, tak ada bukti menunjukkan bahwa imperialisme universal memang betul-betul untuk kesejahteraan bangsanya.


Bagian 4. The Scientific Revolution
Dalam 500 tahun terakhir ini, pertumbuhan penduduk bumi sangat tinggi. Di tahun 1500, diperkirakan hanya ada 500 juta Homo sapiens di muka bumi. Hari ini sudah mencapai 7 milyar manusia. Tahun-tahun penting selama 500 tahun terakhir ditandai dengan beberapa kejadian penting, yang dimulai pada abad 16, tepatnya 1522, pertama kali terjadi pelaut berusaha mengelilingi bumi, ekspedisi Magellan menempuh jarak 44.000 mile. Kembali ke Spanyol hanya sedikit pelaku, tidak termasuk Magellan. Tahun 1674 untuk pertama kalinya dipergunakan mikroskop micro-organisme buatan Anton van Leeuwenhoek. Lalu 20 Juli 1969 pertama kali manusia mendarat di bulan. Dan yang paling signigikan pengaruhnya dalam kehidupan Homo sapiens adalah pada 16 Juli 1945 ketika pertama kali bom atom diledakkan di Alamogordo, New Mexico. Sejak itu, Homo sapiens mampu mengubah sejarah, termasuk memusnahkan kehidupan. Proses bersejarah sejak 500 tahun yll ini ditengarai sebagan Revolusi Sains (Scientific Revolution).

Tidak menyerah pada seleksi alam yang dibatasi oleh kemampuan sifat biologis mahluk hidup, abad 21 ini mulai terlihat intervensi Sapiens melalui berbagai upaya inteligensia desain, yaitu rekayasa genetika, rekayasa cyborg dan rekayasa unorganik. Tak lama lagi, berbagai upaya rekayasa biologi akan mulai menunjukkan banyak hasil, tidak hanya dalam hal sistem imun, fisiologi, atau perpanjangan usia, namun juga peningkatan kapasitas intelektual dan emosional.

Di dunia peternakan sudah banyak dilakukan rekayasa genetika untuk mendapatkan produk susu sapi, daging sapi, daging ayam, telor unggulan, dll. Bahkan saat ini, ahli biologi Jepang, Korea dan Rusia secara bersama-sama sedang melakukan rekayasa genetika untuk dapat melahirkan bayi mammooth dari induk gajah.

Rekayasa Cyborg, yang memadukan kemajuan teknologi dengan organ tubuh manusia, misalnya tangan/kaki robotik, alat bantu pendengaran, dsb. adalah contoh rekayasa biologi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh manusia.

Upaya Sapiens lainnya dalam melawan seleksi alam adalah menciptakan kehidupan melalui rekayasa anorganik. Kecanggihan Artificial Intelligent sebagai bagian dari pemrograman komputer adalah modal dasar rekayasa anorganik, dimana algorithma di dalamnya mampu untuk melatih dirinya sendiri dalam mencari solusi permasalahan tanpa kontrol dari penggunanya. Tahun 2050 bahkan diduga sudah ada beberapa manusia immortal. Luar biasa kemampuan Homo sapiens. Mampu membuat ‘kehidupan’ dari proses baru evolusi yang bebas hukum-hukum evolusi organik.

Arah teknologi masa depan justru berpotensi mengubah Homo sapiens sendiri, termasuk nafsu dan emosinya, bukan lagi alat transportasi atau persenjataan. Dan, immortalitas jelas akan menggali persoalan baru tentang ethika, sosial dan politik bagi kemanusiaan. Cuplikan kalimat dari lembaran akhir buku ini sungguh menarik untuk direnungkan:

“What do we want to want?’ … massive increases in human power did not necessarily improve the well-being of individual Sapiens, and usually caused immense misery to other animals. … We are more powerful than ever before, but have very little idea what to do with all that power”.


Kesimpulan dan Rekomendasi
Dalam buku ini Harari menceritakan dan memberikan opininya terkait perubahan-perubahan kejadian penting sejak penyebaran Homo sapiens pertama kali dari Afrika Barat. Menarik, ketika proses sejarah species manusia disajikan, dan mulai membosankan ketika menyajikan rekaman peristiwa kekinian di era kita berada. Namun opini Hariri terhadap fenomena yang disajikannya memang menarik untuk dikritisi.

Kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan panjang Hariri adalah pendapatnya bahwa tiga kekuatan penting dalam sejarah penaklukan dunia adalah Imajinasi (tidak nyata), kemampuan bekerjasama dan kemampuan menyampaikan pesan.

Buku yang perlu dibaca untuk memperkaya pengetahuan dan memancing pemikiran.


Tautan:
1. Why humans run the world

2. Bentang Rentang Pemikiran Yuval Noah Harari by Budiman Sujatmiko

3. Yuval Noah Harari on the myths we need to survive

4. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

5. Yuval Harari – Sapiens: A Brief History of Humankind

6. Sapiens by Yuval Noah Harari

7. Mark Zuckerberg & Yuval Noah Harari in Conversation

health-security-indexSeperti diketahui bahwa dampak Perubahan Iklim, urbanisasi dan migrasi antar negara sekarang banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, bisa diperkirakan bahwa dampak ikutan seperti penyebaran penyakit akan sangat mungkin terjadi, dan puncaknya adalah saat epidemi Ebola di Afrika Barat 2014. Bencana Ebola ini adalah mimpi buruk negara-negara di dunia. Para petinggi negara dan Badan Dunia seperti WHO terhenyak, menyadari bahwa ternyata masih banyak celah kekurangan pada sistem keamanan kesehatan dunia yang perlu dipahami dan diperbaiki untuk mencegah, mendeteksi dan merespon ancaman penyakit-penyakit menular ini. Untuk itu, GHS Index melakukan survei terhadap kesiapan dan kapasitas sistem keamanan kesehatan dari 195 negara dengan harapan para pejabat negara tergugah untuk meningkatkan political will dan mengalokasikan dananya untuk memperbaiki celah-celah kekurangan tersebut.

Laporan the Global Health Security Index (GHS) Oktober 2019 ini menarik karena menyangkut tingkat kesehatan suatu bangsa dan kapabilitas sebuah negara yang terkait dengannya. Proyek ini diinisiasi oleh Nuclear Threat Initiative (NTI) dan the Johns Hopkins Center for Health Security (JHU) serta dikembangkan bersama The Economist Intelligence Unit (EIU). Organisasi-organisasi tersebut meyakini bahwa, seiring waktu, GHS Index akan mampu mendorong percepatan peningkatan keamanan kesehatan nasional dan kemampuan internasional dalam mengatasi risiko kesehatan yang paling berbahaya, yaitu wabah penyakit menular, yang dapat menyebabkan epidemi dan pandemi internasional.

Nilai Keseluruhan rata-rata GHS Index tahun 2019, dari 195 negara adalah 40.2 dalam skala 100. Berdasarkan masing-masing kategori, kurang dari 7%, dari 195 negara, yang mampu mencegah terjadinya kondisi darurat karena menyebarnya pathogen. Hanya 19% yang mampu secara cepat mendeteksi dan melaporkan terjadinya epidemik, yang potensial menjadi isu internasional, serta hanya 5% yang mampu secara cepat merespon dan memitigasi penyebaran epidemik.

Temuan umum dan kesimpulan oleh GHS Index:

  1. Keamanan kesehatan nasional masing-masing negara tersebut pada dasarnya lemah. Tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi epidemi atau pandemi, dan setiap negara memiliki celah penting untuk ditangani.
  2. Negara tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana global biologis
  3. Sebagian besar negara telah menguji kapasitas keamanan kesehatannya yang akan berfungsi dalam keadaan krisis
  4. Sebagian besar negara belum mengalokasikan dana yang cukup untuk menutup celah kekurangan yang telah teridentifikasi
  5. Lebih dari setengah dari semua negara tersebut menghadapi risiko politik dan keamanan yang besar, yang dapat merusak kemampuan nasional dalam menghadapi ancaman bencana biologis
  6. Sebagian besar negara tidak memiliki kapasitas sistem kesehatan dasar utama untuk menghadapi epidemi dan pandemi
  7. Koordinasi dan pelatihan tidak memadai di kalangan dokter hewan, profesional satwa liar, dan profesional kesehatan masyarakat serta pemangku kebijakan
  8. Meningkatkan kepatuhan negara terhadap norma-norma kesehatan dan keamanan internasional adalah sangat penting.

Indonesia
Ada enam kategori untuk menentukan nilai Tingkat Keamanan Kesehatan dari sebuah negara, yaitu: Prevention, Detection and Reporting, Rapid Response, Health System, Compliance with Global Norms dan Risk Environment. Urutan tertinggi diperoleh AS, kemudian Thailand (6), Malaysia (18) Singapura (24) dan Indonesia (30). Italia, New Zealand, Polandia, Turki dll berada dibawahnya. Sedangkan untuk masing-masing kategori, Indonesia berada dalam urutan sbb.:

  1. Prevention of The Emergence or Release of Pathogens: 38
  2. Early Detection & Reporting for Epidemics of Potential International Concern: 37
  3. Rapiď Response To And Mitigation of The Spread of an Epidemic: 30
  4. Sufficient & Robust Health System To Trea The Sick & Protect Health Workers: 42
  5. Commitments To Improving National Capacity, Financing and Adherence To Norms: 7
  6. Overall Risk Environment And Country Vulnerebility To Biological Threats: 106

Pada kategori ke-6, termasuk di dalamnya adalah aspek risiko keamanan dan politik, ketahanan sosial-ekonomi, kecukupan infrastruktur, risiko lingkungan dan kerentanan kesehatan masyarakat. Artinya Negara bila sedang dalam kondisi lemah ekonomi, politik yang tidak kondusif dan ‘miskin’ infrastruktur, maka akan menyebabkan tidak efektifnya pemerintah dalam menyiapkan diri menghadapi epidemi dan pandemi. Dan faktanya, 55% dari 195 negara menunjukkan tingkat risiko keamanan dan politik yang rendah dan hanga 15% yang menunjukkan adanya kepercayaan publik yang tinggi, aman.

Cukup membanggakan bahwa negara kita mampu meraih nilai diatas rata-rata, pada urutan ke-30 dengan nilai 56.6 (rata-rata=40.2) dari 195 negara yang dinilai, dalam hal ini, sedikit dibawah Thailand, Malaysia dan Singapura dalam kawasan Asia Tenggara.

Meskipun dari 6 kategori mampu meraih nilai di atas rata-rata untuk 5 kategori, namun pada kategori Risk Assesment, Indonesia mendapatkan nilai di bawah rata-rata 53.7 (55.0). Kategori ini menilai risiko keamanan dan politik; ketahanan sosial ekonomi; kelayakan infrastruktur; risiko lingkungan; serta kerentanan kesehatan masyarakat; yang semuanya dapat memengaruhi kemampuan suatu negara untuk mencegah, mendeteksi, atau merespons adanya epidemi atau pandemi dan wabah penyakit yang bisa menyebar melintasi batas-batas negara.

Menjadi penting disini bahwa turunnya tensi politik domestik atau naiknya kepercayaan publik kepada Pemerintah (kategori ke-6), akan sangat berperan untuk menghambat dan menghentikan penyebaran virus Covid-19 yang saat ini sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Atau, siapapun yang dengan sengaja mengganggu atau menyebabkan kegaduhan politik, bisa dianggap turut menyebarkan wabah Covid-19. 🙂

COVID – 19
preparedness-vs-covid19-cases-3Dari kesimpulan pertama GHS Index diatas, telah disebutkan bahwa ” … Tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi epidemi atau pandemi …”. Kenyataan menunjukkan bahwa hingga saat ini, 5 April 2020, total korban meninggal dunia sudah mencai 64.784 orang, termasuk di Amerika (8.489 orang) yang berada di urutan no. 1 dalam GHS Index. Dengan fakta tersebut, data dan kesimpulan GHS Index bisa dianggap benar adanya. Laporan GHS Index yang diterbitkan Oktober 2019, sebelum pandemi Covid-19, ini menunjukkan bahwa meskipun termasuk dalam negara papan atas, ternyata tetap saja masih ada celah yang harus diperbaiki untuk siap menghadapi pandemi. Sebaliknya, muncul pertanyaan “Nilai berapa sesungguhnya herus diraih oleh suatu negara sehingga bisa menjadi bekal sukses menghadapi pandemi, bila peraih nilai tertinggi pun (AS) terbukti gagal menghadapi Covid-19?”. Atau jangan-jangan 6 kategori tidak cukup sebagai parameter acuan kesiapan menghadapi pandemi.

Sumber:
1. 2019 Global Health Security Index

2. Ranked: Global Pandemic Preparedness by Country

3. Coronavirus disease

 

Fear

imagesSaat ini media cetak dan elektronik AS seperti CNN, NBC News, FOXNews dll. sedang gencar memberitakan mundurnya para jaksa kasus Roger Stone karena intervensi Depatemen Kehakiman AS yang meminta Hakim Pengadilan Federal untuk mengurangi tuntutan hukuman Stone dalam kasus penghinaan pengadilan dan kebohongan kesaksian kasus interferensi Russia saat Pilpres AS 2016. Sebelumnya, Presiden Trump sempat posting di twitternya: “This is a horrible and very unfair situation,” dilanjutkan dengan: “The real crimes were on the other side, as nothing happens to them. Cannot allow this miscarriage of justice!” Trump juga menjawab pertanyaan wartawan di Oval Office, seperti dilansir oleh thehill.com: “I’d be able to do it if I wanted. I have the absolute right to do it. I stay out of things to a degree that people wouldn’t believe,”. Setelah membaca buku ini, pembaca bisa memahami karakter Trump yang “disrespecting the rule of law”, menurut istilah CNN. Begitulah dia adanya…

Buku tentang Presiden Trump sering kali terlihat dalam rak-rak buku di toko buku besar. Berbeda dengan buku-buku presiden AS lainnya, yang bila dibaca pada sampul belakangnya, bercerita tentang kebaikan dan kelebihan tokoh utamanya, sedangkan buku-buku tentang Presiden Trump, khususnya yang berbahasa Inggris, lebih variatif isinya, mulai dari yang memuja hingga yang mencerca, semua tersedia di toko buku besar seperti Periplus, Kinokuniya, dll.

Baru saja selesai membaca buku terbitan Simon & Schuster, “Fear, Trump in the White House“, yang mulai diterbitkan September 2018, dalam versi Kindlenya (sudah ada versi bahasa Indonesia, terbitan Noura Books). Buku ini ditulis oleh penulis handal Bob Woodward, jurnalis kondang pengusung kasus Nixon, ‘Watergate’. Buku berwarna dasar merah tua, yg mungkin dimaksudkan desainernya untuk menggambarkan karakter Trump yg arogan, temperamental, kasar dan semaunya, dengan disertai gambar mimik wajahanya yang sinis ini memang terasa bisa mewakili isi cerita di dalamnya.

20200216_180145

Penulisan kisah nyata ini menurut Bob Woodward didasarkan pada metode wawancara jurnalistik secara “deep background“, yaitu bahwa semua informasi dapat dipergunakan tanpa menyebutkan sumberita. Bahan penulisan diperoleh dari ratusan jam wawancara dengan saksi, tangan pertama atau bahkan pelaku kejadian itu sendiri, risalah rapat, catatan harian personal, dokumen resmi atau informasi dari kolega para pelaku. Namun sayangnya justru Donald Trump membatalkan wawancara untuk keperluan penerbitan buku ini. Lokasi peristiwa yang utamanya ditampilkan dalam kurun waktu 2017 ini, meskipun ada juga cerita di tahun 2010 ketika pertama kali Trump menyatakan minatnya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden AS kepada David Bossie, aktifis politik yang kemudian menjadi Campaign Manager Deputy untuk Trump di tahun 2016, sebagian besar berada di White House, Trump Tower, lapangan golf, pesawat terbang atau dalam mobil Presiden Trump.

Penyajian cerita tidak disusun berurutan waktu atau thema, namun selalu disebutkan tempat dan waktu kejadian di setiap awal Chapter, sehingga cukup menolong untuk bisa membayangkan urutan peristiwanya. Banyak diskusi dan dialog menarik dari para pengambil keputusan masalah-masalah strategis keamanan dan ekonomi AS, oleh para tokoh Ring 1 White House bersama Presiden, disampaikan dalam buku ini. Menarik juga adalah proses-proses penggantian para Pejabat penting negara oleh Presiden Trump yang sepertinya tidak tertib prosedural dan usaha para Pejabat Negara untuk mengamankan kepentingan Nasional dari tindakan Trump yang seringkali bisa dianggap membahayakan negara karena keputusan-keputusannya yang tidak cukup holistik pertimbangannya.

Membaca dari awal hingga akhir buku ini, rasanya seperti membaca novel yang penuh drama bertensi tinggi, apalagi kalau sudah melibatkan Trump di dalam komunikasinya, suasana serasa tegang dengan bumbu pedas ucapan kasar sarkastik. Dialog-dialaog para tokohnya disajikan dalam format kalimat langsung (dialog) seperti apa adanya, sehingga menarik, tidak membosankan serta cukup bisa menggambarkan situasi dan karakter masing-masing.

Setelah Prolog dari Bob Woodward tentang penjelasan metoda penggalian fakta dan sistematisasi penyajiannya, buku ini dibuka dengan cerita awal mula pertemuan Bannon dengan Donald Trump, untuk menjajagi kelayakan Trump untuk mengajukan diri sebagai Presiden AS. Bahkan di Chapter 1 pun pembaca sudah bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang sikap pragmatis Trump. Disebutkan disana bahwa ada 3 kelemahan Donald Trump saat memastikan dirinya akan ikut pencalonan Presiden AS dari partai Republik. Pertama, sebagai pengusaha, Trump dengan ringannya mengakui telah menyumbang Demokrat 80% dari total sumbangan yang dikeluarkan, untuk memperlancar usahanya. Kedua, Trump juga pernah mendukung kandidat capres Partai Republik (Primary Election) yang “pro-Choice” (menghalalkan aborsi), sedangkan the Tea Party jelas bersikap “pro-life”. Ketiga, Trump tidak cukup rajin untuk selalu mengikuti pemilihan pencalonan kandidat Presiden. Steve Bannon meragukan kelayakan Trump sebagai kandidat Presiden AS. Berikut dialog keraguan Bannon dengan David Bossie, aktifis politik: “Not a chance. Zero chance,” Bannon repeated. “Less than zero. “Look at the fucking life he’s got, dude. Come on. He’s not going to do this. Get his face ripped off.”

Masukan Bannon saat bertemu Trump di tahun 2016, setelah dinyatakan sebagai Capres AS dari Partai Republik pada 21 Juli 2016 adalah: “Hillary Clinton adalah simbol korupsi dan status quo yang tidak kompeten, sedangkan kamu adalah yang akan menjadikan America “great again“. Untuk itu, ada 3 hal yang perlu menjadi thema strategis kampanye:

  1. To stop mass illegal immigration and start to limit legal immigration to get our sovereignty back.
  2. To bring manufacturing jobs back to the country.
  3. To get out of these pointless foreign wars.

Sesuai permintaan Steve Bannon, Paul Manafort ditunjuk sebagai Campaign Chairman, tanpa punya otoritas dan Kellyanne Conway sebagai Campaign Manager, yang tugasnya lebih sebagai ‘pemanis’ karena mempunyai likability tinggi di mata media. Dan otak Pemenangan ada di Steve Bannon, yang terus berlanjut hingga Trump telah sukses menduduki White House.

Peran Manajer dalam membuatkan dan menjalabkan program pemenangan serta tim yang tangguh dan persistent, sangat penting sekali. Donald Trump yang begitu disepelekan potensi kemenangannya sejak 2010 dan bahkan disarankan Priebus untuk mengundurkan diri dari pencalonan atau bakalan dilindas oleh Hillary Clinton dalam masa pilpres, ternyata menang pada akhirnya, setelah Steve Bannon dipilih Trump untuk ambil-alih tim pemenangannya.

Selanjutnya, selain isu keterlibatan Russia dalam kampanye Pilpres yang berakibat dipecatnya James Comey, Direktur FBI, dan beberapa pejabat istana yang masih juga belum selesai hingga kini, buku ini lebih banyak bercerita tentang bagaimana aksi Trump dalam upayanya untuk mejalankan ambisinya terkait berbagai kebijakan luar-negeri AS, dan respon-responnya terhadap berbagai pihak yang tidak sependapat dengannya. Beberapa kebijakan luar-negeri yang dibahas dalam buku ini dan mengalami perdebatan sengit dalam istana sehingga perlu penundaan adalah:

* Mundur dari kesepakatan AFTA
* Mundur dari NATO
* Mengenakan tarif impor baja dari China, Korea, Jepang
* Menarik pasukan dari Afganistan, Irak dan Korea Selatan
* Menutup imigran masuk AS
* Tidak-lanjut kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim

Dengan membaca buku ini, pembaca akan bisa lebih memahami mengapa beberapa media AS menganggap terjadinya kematian demokrasi dan rendahnya aspek pengelolaan ketata-negaraan dalam masa pemerintahan Trump ini. Bagaimana Trump memperlakukan para pembantunya (advisor, menteri, dll.), bagaimana Trump menggunakan Twitter sebagai bagian media resmi istana, belum lagi pengangkatan staf istana yang tidak jelas hak dan kewajibannya, seperti Ivanka (anak perempuan Trump) dan Jared Kushner (menantu, suami Ivanka) yang dianggap miskin pengalaman namun selalu terlibat dalam rapat-rapat istana, juga posisi Steve Bannon yang begitu powerful (yang akhirnya dipecat Trump), sehingga menjadi ‘ganjalan’ bagi staf senior lainnya, semuanya menjadi bagian drama pemerintahan Trump yang menarik untuk diketahui pembaca sekalian.

Build bridges, not walls

The Two Popes
imagesSepertinya baru 1 minggu ini film The Two Popes muncul di deretan film Netflix. Di antara berbagai cover film yang menampilkan wajah2 cantik, ganteng, sangar, namun ada yang mencolok mata berupa dua pria tua berjubah dengan topi kecil yang menempel di kepalanya, gambaran petinggi gereja katolik yang membuatku berhenti menggulung layar mencari film yang menarik utk dinikmati. Betul, itu film baru produksi Netflix yang dibintangi dua pria tua, Anthony Hopkin dan Jonathan Pryce. Sebuah karya film sejarah tentang dialog antara Paus Benedict XVI dan penggantinya Paus Francis.
Film akhir tahun yang sangat mengesankan. Selama hampir 2 jam penuh film ini diisi dialog filosofis antara mereka berdua, Paus Benedict (Jerman) yang konservatif dan Paus Francis (Argentina) yang liberal (theologi pembebasan?). Dengan lokasi pengambilan gambar  berpindah-pindah, dari Gereja Vatikan, taman, kediaman Paus dan sudut pengambilan gambar yang bagus, terlihat keindahan lokasi yang sunyi bersih. Kontras warna antara jubah mereka dengan lingkungan taman yang hijau tertata rapi, sangat indah.
Akting Anthony Hopkin sungguh enak dilihat, serasa mimik wajah asli seorang Paus yang sejuk bersahaja. Tua renta bertongkat, jalan tertatih dengan guratan wajah dalam, sering hanya memicingkan sebelah mata dan kernyit dahi terlihat, tanpa perubahan gerak otot wajah. Namun kadang menghadirkan sorot mata tajam, tegas mempertahankan tradisi ratusan tahun yang menurutnya bagian dari ritual gereja. Demikian juga akting Jonathan Pryce sebagai Kardinal Bergoglio, sangat bisa menggambarkan sosok panutan pejuang kemanusiaan yang rela tidak popular di negerinya, Argentina, ketika sedang terjadi gejolak politik karena kediktatoran rejim militer. Pilihan jalan perjuangan yang berlawanan dengan rekan-rekan pimpinan gereja membuatnya dijauhi jemaat dan rekan-rekannya, bahkan dianggapnya sebagai pengkhianat.

Sikap keukeuh Paus Benedict mempertahankan tradisi gereja yang menjaga jarak dengan paktek politik represif menjadi dialog yang menarik, tak membosankan meskipun hanya antara mereka berdua saja. Contoh sikap konservatif diceritakan sang sopir bahwa Benedict lebih suka menerima tamunya dengan menggunakan pakaian kebesaran Paus dan sang tamu mengenakan jubah kardinalnya. Berbeda dgnnya, Bergoglio lebih membumi sederhana, bahkan tak bersedia menempati rumah dinasnya yang menurutnya mewah, ditunjukkan dengan hobbynya bersenandung lagu-lagu pop dan kecintaannya pada sepakbola yang tak perlu disembunyikannya. Sikapnya yang pro-poor terungkap dalam ucapannya ketika berdialog dengan kolega kardinal lainnya, “Reforms need a politician” dan “Being pope is like being a martyr”. Menurutnya, pemilihan Paus saat itu (yang dimenangkan oleh Paus Benedict) hanya akan memperlambat reformasi gereja, sehingga membuatnya bermaksud mengundurkan diri sebagai Kardinal, “I can do more good as a simple parish priest”.

Film ini dimulai dengan wafatnya Paus Yohanes II, lalu proses pemilihan Paus dan kedatangan kardinal Bergoglio di Vatikan karena Surat Pengunduran Dirinya yang dilayangkan ke Paus Benidicte. Dialog perbedaan visi dan rencana tindakan gereja terhadap perubahan jaman seperti masalah perkawinan pastor, kehidupan selibat, homoseksual, pemberian komini pada yang bercerai, dll. yang beberapa kali diselingi adegan masa lalu Bergoglio dalam warna hitam-putih, ketika Argentina masih dalam kekuasaan rezim represif, menjadi isu utama film ini. Perbedaan penafsiran terhadap fenomena sosial ini perlu “… build bridges, not walls”, menurut Bergoglio. Sangat menarik, hingga diakhiri dengan munculnya Bergoglio sebagai Paus baru, hingga saat ini (2019). Bagaimana ujung dialog dan munculnya Paus baru? Silahkan menikmatinya di Netflix. Saya sendiri sudah dua kali menontonnya.
Tautan:
  1. Pope Francis – A Man of His Word

Free Climbing

Screenshot_20191125-000628Sore itu, 23 Nov. 2019 tanpa sengaja dan sedikit telat, film Free Solo tayang lagi di Nat Geo channel. Film dokumenter tentang Alex Honnold (33 tahun) yang memanjat dinding tebing El Capitan, Taman Nasional Yosemite, AS tanpa bantuan tali pengaman (Free Climbing), 3 Juni 2017. Ini film yg memang sudah diiklankan lama di NatGeo dan juga sudah aku tunggu lama.
Film sejenis yang aku nikmati setelah film ini adalah The Dawn Wall. Berbeda dengan Free Solo, film The Dawn Wall, yang bisa dinikmati di Netflix, tentang dokumentasi panjat tebing El Capitan yang dilakukan oleh Tommy Caldwell, ditemani oleh Kevin Jorgeson, dengan bantuan tali pengaman pada 14 Januari 2015. Panjat tebing ini dilakukan selams 19 hari, dan selama pendakian mereka tinggal dalam tenda yang digantung pada dinding tebing di ketinggian kira-kira 1.500 feet.
Screenshot_20191125-230156Selanjutnya lebih menarik untuk cerita tentang Free Solo berhubung tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan menegangkan karena tanpa menggunakan tali pengaman. Walaupun The Dawn Wall juga layak dinikmati.
Sangat mengagumkan melihat Honnold memanjat dinding granit yang terlihat menjulang tegak-lurus setinggi 3.000 feet. Seringkali terlihat hanya ujung jari masuk rekahan atau tonjolan batu dan ujung sepatu yang tak sepenuhnya menginjak dinding atau hanya mengandalkan kasarnya permukaan batu granit. Mendebarkan .. bahkan kameramen seringkali tampak memalingkan muka dari layar kamera Canon di atas tripod yang fokus merekam gerak sang maestro, Honnold. Mengerikan, karena tanpa bantuan tali pengaman dengan tingkat kesulitan pendakian yang sangat tinggi dapat berakibat fatal.
Screenshot_20191125-221818Sedikit bisa melepas napas melihatnya ketika sebagian tubuh Honnold bisa masuk di rekahan batu (crack)  memanjang keatas namun terlihat menguras tenaga karena tak ada pijakan kaki dan jari tangan yang kokoh untuk mendorongnya keatas, hanya pelukan yang kuat pada sudut rekahan dan mendorong tubuhnya keatas prelahan seolah memanjat pohon saja layaknya. Berkali-kali ujung jari tangan menjadi tumpuan untuk mengangkatnya terus ke atas, sementara kaki berperan sebagai penyeimbang saja dan dasar tebing terlihat gelap ratusan meter jauh di bawahnya. Menegangkan.
Tak terlihat panik ketika menghadapi bolder, batuan besar yang menonjol keluar tebing, atau dinding terbuka rata tanpa pijakan seolah jalan buntu sehingga sulit untuk melewatinya, Honnold dengan sabar dan hati-hati terus bergerak kesamping atau lakukan gerakan ‘karate kick’, yaitu posisi kaki yang membentang lebar, bahkan kadang harus turun beberapa langkah dan kemudian menarik tubuhnya keatas lagi hingga mampu Screenshot_20191125-212900melewatinya. Luar biasa hebat kemampuan fisik, nyali dan kejelian memilih titik-titik aman untuk pijakan kaki dan jari-jari tangannya. Tak ada ruang untuk kesalahan.
Empat jam, dimulai dari jam 5 pagi, pemanjatan dinding tebing granit tanpa pengaman yang menegangkan itu akhirnya sukses sampai di puncak. Luar biasa.
Dalam film ini juga disajikan kisah cinta Honnold dengan perempuan pemanjat tebing, Sanni McCandless, yang kelak menjadi istrinya, tentang mobil yang menjadi tempat tinggal mereka berdua ketika persiapan pemanjatan, dan juga sedikit kisah masa kecilnya ketika belajar panjat tebing. Film produksi 2018 ini mendapat beberapa penghargaan, seperti Piala Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik 2019, dan Emmy Award untuk Sutradara Terbaik Film Dokumenter.
Tautan Berita:
  1. ‘It’s sort of the extreme’: Free Solo’s Alex Honnold on rock-climbing without ropes
  2. Climbing duo on Dawn Wall success and the power of pep talks

Tautan Video:

  1. How I climbed a 3,000-foot vertical cliff — without ropes | Alex Honnold
  2. How They Filmed the First El Capitan Climb With No Ropes in “Free Solo” | Vanity Fair
  3. What if He Falls? The Terrifying Reality Behind Filming “Free Solo” | Op-Docs
  4. The Dawn Wall (2018) | Official Trailer HD
  5. Behind The Scenes Of The Dawn Wall Film

Film sejarah Russia

20191117_182129Baru saja selesai nonton The Last Czars, film serial drama-sejarah produksi Netflix, Juli 2019, tentang kisah tumbangnya Tsar Nicholas II, dinasti Romanov yang sudah berlangsung 300 tahunan ditangan Bolshevik pimpinan Lenin 1918.

Film sejarah Rusia yang sangat layak tonton setelah film Stalin (Robert Duvall, produksi HBO, 1992), yang saya nikmati beberapa kali di HBO. Detail cerita The Last Czars sangat mungkin penuh adegan asesoris penyedap rasa, bahkan cenderung ‘lebay’ atau berlebihan, namun dari ‘gambar besar’nya film berdurasi 6 episode ini bisa menjelaskan sejarah runtuhnya kekaisaran Romanov, yang tak banyak literatur bisa dibaca, khususnya yang berbahasa Indonesia. Setidaknya, bisa memancing tanya untuk mencari tau lebih banyak tentangnya. Gambar, kostum, acting enak dilihat, menghibur.
Selain Tsar Nicholas II dari dinasti Romanov, Rasputin, spiritual mistis asal Siberia, adalah aktor yang sangat penting andilnya dalam mempercepat keruntuhan dinasti Romanov. Tokoh spiritual yang beraliran Sex Bebas ini menjadi tempat bergantungnya keluarga istana untuk menjaga kesehatan putera raja, Alexei yang menderita haemophilia. Persekongkolan Rasputin dan Alexandra, istri Nicholas, dalam manajemen otokrasi atas nama Tsar, yang tidak berada di istana untuk memimpin perang melawan Jepang dalam Perang Dunia I, menyebabkan kekacauan pemerintahan yang sedang menghadapi kerusuhan massal karena kelaparan.
20191117_182339Berselancar di Netflix, setelah selesai menikmati The Last Czars, akhirnya tersesat di film Trotsky. Film serial drama sejarah 8 episode biografi Rusia tentang Leon Trotsky, tokoh yang pasti familiar bagi aktivis mahasiswa, seperti halnya para tokoh ‘kiri’ lainnya, disutradarai oleh Alexander Kott dan Konstantin Statsky, yang tayang pertama kali di Channel One, Rusia pada 6 November 2017 untuk peringatan 100 tahun Revolusi Rusia.
Di film Trotsky ini, berbahasa Rusia dengan subtitle bahasa Inggris, sangat menonjol upaya penggambaran Trotsky sebagai tokoh sentral yang cerdas, pemikir, ideologis, sekaligus penggerak massa atau leader demonstrasi bahkan perencana strategis maupun taktis dalam perang melawan Jerman di beberapa area. Namun juga terlihat sisi gelap kekejamannya dengan menghalalkan pembunuhan bagi yang menentangnya dengan alasan menyelamatkan Revolusi. Dengan alasan ideologis ‘tak ada milik pribadi’, Trotsky juga melakukan sex bebas dan bahkan merelakan sang istri berhubungan gelap dengan orang lain. Hal inipun masih dilakukannya ketika berada di Mexico, negara terakhir tempat Tritsky berdomisili hingga akhir hayatnya yang tragis.
imagePerselisihan Lenin-Trotsky-Stalin ditampilkan juga dalam film ini, walaupun seringkali ide-ide Trotsky banyak didukung oleh mereka berdua, termasuk ide menghukum mati bagi mereka yang dianggap membahayakan Revolusi. Persaingan terjadi antara Lenin-Trotsky terlihat tajam bahkan hingga penentuan waktu aksi massa tak sepakat antara keduanya. Dan Trotsky melakukan 2 hari lebih cepat dari ketentuan Lenin. Akhirnya Trotsky mendukung Lenin sebagai pemimpin Partai Komunis karena menyadari kelemahannya bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, yang sangat kecil untuk mendapat dukungan masyarakat. Digambarkan bahwa kemenangan Stalin atas Trotsky adalah posisi Stalin berada di Moscow yang tentunya berdekatan dengan Lenin yang saat itu sedang sakit, sedangkan Trotsky lebih sering berada di front depan medan perang atau di luar negeri hingga kedekatan dan popularitas Stalin lebih bisa dirasakan kaum bolshevik dan angkatan perangnya. Trotsky tidak popular dan dirasa kejam terhadap angkatan perang. Kelemahan fatal.
Tiga film yang sangat membantu menjelaskan sejarah Rusia. Tentu, pikiran kritis diperlukan untuk memahami kebenaran sepihak dari film-film tersebut.
Tautan:
  1. Tentang Kehancuran Monarki hingga Kegilaan Rasputin
  2. ‘Trotsky’ is an Icepick to the Heart of Soviet History

Joker – Fenomena Sosial

20191012_212555

Dua kali sudah nonton film Joker, meskipun bukan penggemar film Batman, bahkan cenderung gak suka karena selalu gelap dan muram settingnya. Kali pertama nonton Joker hanya sambil lalu saja, suka, namun banyak terlewat detilnya. Dikesempatan kedua, perhatian serius tumpah di setiap detail aksi dan kata si Joker. Luar biasa pesan yang disampaikan film ini ..

Tak semangat pada awalnya, lalu sedikit kening berkernyit ketika sang aktor mulai tertawa depan kaca, sekaligus menangis hingga lukisan wajah sedikit luntur menetes. Sangat teatrikal, acting yang luar biasa dari Joaquin Phoenix. Jadi teringat Robert Deniro di film Taxi  (1976) ketika acting berlaga di depan cermin sambil memegang pistol … Adegan berlaga ini  diulang lagi pada saat Joker menjelang tampil di acara  tvshow Murray Franklin, yang beraksi seolah  di atas panggung dan memberi salam ke Murray dan penonton ..  Indah …

Film dibuka dengan suara televisi yang memberitakan kotornya kota, dengan sampah menumpuk dimana – mana, tak terurus, yang memberi pesan penting betapa amburadulnya penguasa mengurus  rakyatnya. Wajah  muram masyarakat direpresentasikan oleh kehidupan Joker yang tinggal berdua di apartemen sederhana bersama ibunya yang sudah tidak mampu lagi beraktifitas. Joker mengais rejeki dengan berprofesi sebagai badut  jalanan untuk kepentingan periklanan dan penghiburan di rumahsakit anak-anak. Dia juga mesti konsultasi rutin ke jasa pelayanan konsultasi psikologi dari Dept. Sosial dan Kesehatan karena perilakunya yang dianggap aneh. Himpitan finansial, penghinaan dan tekanan sosial yang kuat dan menerus, dirasakan berujung pada hilangnya eksistensi diri, hingga menjadi pemantik ledakan mental yang berujud kebuasan, namun sepertinya dirasakan sebagai ‘kepuasan’. Absurd.

Kerumitan karakter Joker memicu  keingintahuan tentang fenomena kejiwaan yang dialaminya. Pengamat psikologi, H. Eric Bender, M.D., menganggap Joker mengalami kelainan mental (mental disorder), yang dikategorikan sebagai psikopat, yaitu karakter dan perilaku yang sebab dasarnya lebih banyak dibentuk oleh hilangnya empati. Sementara psikolog lainnya berpendapat bahwa Joker berkarakter  psikotik, dengan simtom mengalami halunisasi seperti mendengar suara, halunisasi visual atau delusi pemikiran.

Konflik dalam film ini bukan lagi persoalan personal namun sudah menjadi fenomena sosial dimana Joker sebagai  representasi masyarakat kelas bawah, yang menurutnya “tidak eksis dan tak pernah bahagia selama hidupnya”, bahkan ditinggal tak terurus oleh penguasa; versus masyarakat kelas atas, kaya, berkuasa yang direpresentasikan oleh Murray Franklin (host tvshow) dan Thomas Wayne (ayah, pengusaha dan kandidat walikota Gotham City).


Tingginya pengangguran, kumuhnya kota dan ketidak-pedulian penguasa yang ditunjukkan dengan pemotongan budget Departemen Sosial dan Kesehatan yang dibutuhkan untuk mengurus rakyatnya, telah menyebabkan frustrasi sosial yang semakin tinggi, hingga kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah semakin rendah, dan bisa diduga akan berujung pada kecemburuan sosial. Anarki pada puncaknya ..

Bagaimana ujung kekusutan masalah sosial ini? Silahkan menikmatinya dalam gedung pertunjukan yang masih memutar filmnya..


Bagi yang mencari hiburan ringan, rasanya Joker bukan film tepat untuk ditonton,  namun bila ingin tahu potret sosial  dunia saat ini, Joker mampu  menjelaskannya. Sudah dua kali nonton, namun masih kurang  rasanya 😉

Kaitan lainnya:

Krisis Identitas

IMG-20191001-WA0040
Mhsw sebagai masyarakat terdidik yang diharapkan akan memimpin bangsa ini pada waktunya nanti, mestinya punya keluhuran moral dan akal-budi sebagai alat kontrol utama dalam setiap aksinya yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas, termasuk dalam melakukan unjuk rasa.
Mengamati aksi-aksi mhsw beberapa hari ini, terlihat jelas bahwa mhsw peserta unjuk-rasa tidak menggunakan kerendahan hati dan keluhuran akal-budi dalam usaha mencapai tujuan aksi, tetapi justru lebih mengutamakan tampilnya eksistensi diri, yang seakan sudah menjadi tujuan aksi. (Lihat gambar di atas). Gestur para pimpinan BEM yang tidak menguasai materi tuntutan aksi, ketika dialog dengan Menhumkam di ILC, dan sikapnya yang JUMAWA dengan memberikan syarat beberapa hal supaya terjadi pertemuan dengan  Presiden, menunjukkan hal tersebut masih di tataran eksistensi diri (arogansi) yang jauh dari kepentingan masyarakat luas. Tinggi hati, rendah akal-budi.
Sejak akhir 80an, demo mhsw selalu perhatian ttg kemurnian tujuan sesuai karakter Gerakan Moral yang disandangnya, sehingga di tataran operasi perlu membatasi peserta dari kemungkinan masuknya para penumpang gelap. Anehnya, demo mhsw seminggu ini terkesan justru mengundang penumpang gelap Tanpa Bentuk alias para perusuh/kriminal, yang sejatinya mereka tidak memahami tujuan aksi atau memang hanya pengacau keamanan semata, dibuktikan dengan banyaknya foto/video beredar yang menunjukkan mereka hanya tenaga bayaran yang masih berusia SMU/STM. Kebetulan atau salah berteman?
Melihat banyaknya korban cedera bahkan hilangnya nyawa serta kerugian negara karena banyaknya kerusakan fasum/fasos yang disengaja dan menyimpang dari tujuan aksi, sudah seharusnya BEM sebagai elemen elit berpendidikan tinggi (yang disubsidi dari pajak) yang menginisiasi unjuk-rasa ini, perlu mengembalikan marwah dirinya sebagai Agent of Changes melalui Gerakan Moral yang berintegritas dan berbasis pengetahuan, dengan cara MEMOHON MAAF secara terbuka kepada bangsa Indonesia atas besarnya akibat buruk yg disebabkannya.
Kesalahan yang tidak disengaja itu biasa, namun bagaimana memperbaikinya, disitulah nilai kehormatan Anda.
20190919_121938Film dokumenter bagus produksi Netflix 2019  “The Great Hack” sudah bisa dinikmati di Netflix, tayang mulai 2 bulan lalu (latepost). Film ini diproduksi oleh pasangan suami-istri Jehane Noujaim dan Karim Amer,  yang juga membuat film The Square, film dokumenter nominasi Oscar tentang Arab spring.
Tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai catatan pribadi untuk mengingat dua kasus besar tentang Trump pada Pilpres AS dan Referendum Brexit dalam kaitannya dengan media sosial sebagai alat kampanye dan Cambridge Analytica (CA) sebagai perusahaan Big Data yang mengolah data personal pengguna Facebook untuk kepentingan kedua kampanye  pemenangan tersebut. Tiga tokoh utama pengungkap kasus ini adalah Carole Cadwalladr, Christopher Wylie dan Brittany Kaiser.
Carole Cadwalladr, seorang jurnalis The Observer (sebelumnya The Daily Telegraph) yg tertarik dengan teknologi untuk kampanye ini menjadi terkenal di dunia pada tahun 2018 ketika mengekspose skandal data Facebook-Cambridge Analytica di The Observer dan The Guardian. Film ini bisa dianggap sebagai resume dari berbagai pendapat yang sebetulnya belum sepenuhnya bisa menjelaskan secara detail persoalan Cambridge Analytica terkait dengan dukungan pemenangan Trump pada Pilpres AS dan kampanye pemenangan Brexit dalam referendum di Inggris. Banyak hal perlu penjelasan dari sumber-sumber lain untuk lebih jelasnya, misalnya: apa yang dilakukan CA terhadap data yang diambilnya, siapa obyek data, apa yang dimaksud 5.000 data poin yang diklaim oleh CA, melalui iklan seperti apa pengambilan datanya, dimana target lokasi; namun terlepas dari itu semua, yang pasti adalah adanya keterkaitan antara CA, Facebook, Trump dan Brexit, sehingga  setidaknya film ini bisa menjadi pembuka Kotak Pandora kasus rumit tersebut.
CA adalah perusahaan data analisis, yang bekerja sama dengan tim kampanye pemenangan Brexit dan tim pemenangan Trump untuk presiden AS, yang melakukan pengambilan jutaan data profil akun pengguna Facebook dari para pemilih AS, dan digunakan untuk membangun perangkat lunak yang sangat digdaya sehingga mampu memprediksi dan mempengaruhi pemilih untuk menentukan pilihan kandidat presiden dalam kotak suara.
Akhirnya munculah whistleblower di harian The Observer tentang bagaimana CA, perusahaan yang dimiliki oleh Robert Mercer dan saat itu dipimpin oleh Steve Banon, penasihat utama Trump, menggunakan informasi personal yang diambil tanpa otorisasi pemilik akun pada awal 2014 untuk membangun sistem yang mampu membuat profil pemilih di AS, ditujukan khusus secara personal pada target pemilih AS melalui iklan politik. Dalam narasinya, Carole menjelaskan bhw CA sdh terlibat dlm kampanye di berbagai belahan dunia, khususnya di negara2 sedang bekembang seperti Irak, Afghanistan, Kenya, Malaysia dll. sebelum diaplikasikan di Inggris dan AS.
Christopher Wylie, Computer Programmer di CA dan mhs hukum di  Universitas  Cambridge, yang juga membantu setup CA, menjadi whisteblower dengan menyatakan secara detail tentang besarnya data yang dikoleksi dari pengguna Facebook, jenis informasi, para politisi yang menggunakan jasa Cambridge Analytica utk mempengaruhi pemilih, dan data komunikasi antara Facebook dengan CA. Kepada The Observer Wylie mangatakan bahwa telah mengambil jutaan data profil akun Facebook dan mengolahnya sehingga mampu dijadikan target pemenangan.
Di depan anggota Parlemen Inggris, Wylie mengatakan “You shouldn’t win by cheating. If we allow cheating in our democratic process, what about next time after that?”.  Pada kesempatan tsb., Wiley merekomendasikan Britney Kaiser untuk diberi kesempatan menjelaskan ttg CA.
Benang merah keterkaitan strategi pemenangan Trump dan CA melalui pengolahan Big Data, tak lepas dari peran Steve Bannon (Penasihat Trump).
Steve Bannon editor Breitbart, mengikuti doktrin Breitbart yaitu:
bila bermaksud mengubah masyarakat secara fundamental maka pertama-tama harus memecah masyarakat tsb, kemudian menyusunnya embali sesuai visi yang diinginkan
Subyek penting lainnya dalam film dokumenter ini adalah Brittany Kaiser (BK), seorang ahli hukum lulusan Universitas Edinburgh, Skotlandia, saat itu menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di Cambridge Analytica. Dia berperan sbg Whistle-Blower untuk perusahaan tempat dia bekerja karena dianggapnya telah melakukan praktek bisnis yang tidak beretika, menggunakan data personal dari para pengguna Facebook untuk kepentingan bisnisnya, dalam rangka Pilpres AS dan Brexit.
Dalam film ini, Kaiser, di Thailand, mengungkapkan bahwa kampanye Trump dalam Pilpres AS dan kampanye Brexit telah dilakukan dengan cara-cara ilegal. Data personal para Pemilih menjadi sangat penting untuk strategi pemenangan dalam kedua proses Penilihan tersebut. BK juga mengatakan bahwa, “perusahaan terkaya saat ini adalah perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, Amazon atau Tesla. Perusahaan-perusahaan tersebut menjadi digdaya karena nilai (value) Data yang dikelolanya sudah melebihi nilai komoditi Minyak. Sekarang, Data menjadi asset yang paling berharga di muka bumi, dan perusahaan ini (CA) telah menjadi sangat berharga karena menguasai dan mengeksploitasi aset banyak orang”.
Paul Hilder (writer/political technologist) mewawancarai BK. Nov 2015 dgn Alexander Nix (Presiden Direktur CA) mememui Corey Lewandowski (Trump Campaign Manager). Ide perusahaan adalah melakukan analisis skala besar thd populasi, dan kemudian identifikasi thd hal2 yg bisa menyebabkan pergerakan arah pemilihan dari satu situasi ke situasi yg lain. Ini satu hal menantang mengingat adanya masalah otonomi dan kebebasan individu dalam  demokrasi. Menurut BK, mestinya perlu edukasi masyarakat akan adanya beberapa pilihan dan menyerahkan keputusan pada mereka utk bebas memilih apapun/siapapun.
BK mjd bagian tim pemenangan Obama 2007, yg mengelola FB Obama. Disini dia menemukan cara menggunakan sosial media sbg alat komunikasi dgn Pemilih. Selanjutnya, BK bekerja di organisasi dunia HAM, hingga bertemu Alexander Nix, yg tertarik mempelajari pengalaman BK bekerja dgn Partai Demokrat. 2014 Nix menawari BK pekerjaan. BK merasa bahwa di AS, masyarakatnya sangat terpolarisasi, sulit memahami satu dengan lainnya, shg sulit utk bekerjasama utk menyelesaikan berbagai persoalan bersama-sama.
Bantuan pertanyaan utk Senat AS thd Mark Zuckerberg (MZ):
Brp banyak revenue FB yg diperoleh langsung dari monetisasi data personal para pengguna FB?  Menurut Hilder, FB adalah the best platform on which to run experiments. Menurit BK, banyak belanja dipergunakan utk membiayai iklan di FB.
Target operasi adalah mereka yg potensial utk berubah, disebut “the persuadables”, kemudian titik2 akun FBnya dipetakan secara spasial shg bisa dipisahkan secara geographic berbasis negara bagian dan diperkecil lagi berdasar wilayah yg lebih kecil (precinct). Lalu tim Kreatif membuat content menggunakan blog, video, website, artikel, iklan, dll yg sesuai dgn karakter the persuadables yg sudah dikelompokkan dan mulai diarahkan utk memilih kandidat presiden tertentu. Seperti layaknya Bumerang, CA menyebarkan data, menganalisanya hingga masuk dalam kelompok OCEAN Personality (Opennes, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Neuroticism) dan dijdkan target pesan2 kampanye utk mengubah perilaku (behaviour).
Dalam artikelnya di Financial Times 9 April 2018, BK menulis bahwa FB harus membayar ganti rugi thd 2 milyar penggunanya, yang telah diambil dan dipergunakan datanya tanpa otorisasi, utk kepentingan bisnis politik.
Sesi dengar pendapat MZ dgn Komite Peradilan, Perdagangan dan Transporrasi juga sempat ditampilkan dalam film ini. Disitu MZ menyatakan bhw prioritas utama adl misi sosial connecting people, building community dan bringing the world closer together. Menurutnya CA mengaku telah menghapus data tsb sebilan sblmnya. Ternyata tidak dilakukan. MZ jg menyatakan bhw FB tidak terlibat dalam Project Alamo utk memenangkan Trump. BK dan Hilder tertawa sinis saat melihat siaran langsung dengar pendapat ini melalui televisi.
Apakah CA merasa telah membajak demokrasi? Nix menjwb bhw dengan menyedialan jasa utk kepentonhan pemenangan pada salah satu kandidat yg terpilih secara resmi, sbg wakol dari Republikana AS, merasa bukan suatu lesalahan.
David Carroll, seorang profesor pengajar Digital Media dan Developing Applictions, New York, yang berjuang melalui sistem hukum Inggris, menuntut dikembalikan semua data personalnya yang telah diambil dan dikelola Cambridge Analytica. Dia juga berharap supaya CA bersikap terbuka, menjelaskan dari mana mendapatkan data personal, bagaimana mengolahnya, dan kepada siapa CA menyebarkan data. Pernyataannya yang menarik adalah “Digital traces of ourselves are being mined into trillion dollar a year”. Kita, pengguna media sosial, sekarang adalah komoditi.
Maret 2018, Mark Zuckerberg menyatakan penyesalannya di berbagai media, serta mengakui kesalahannya bahwa selama ini Facebook tidak cukup aman, serta berjanji akan memperbaikinya “That goes for fake news, foreign interference in elections and hate speech… It was my mistake, and I’m sorry. I started Facebook, I run it, and I’m responsible for what happens here.”
Menarik sekali film dokumenter ini hingga membuat penasaran untuk tahu lebih rinci dan menelusurinya via Google. Beberapa tautan di bawah ini bisa membantu lebih jauh untuk memahami kasus dan peran masing-masing tokoh di atas:

7. New Evidence Emerges of Steve Bannon and Cambridge Analytica’s Role in Brexit

%d blogger menyukai ini: