Feeds:
Pos
Komentar

Preman

imagesPada mulanya adalah kekaguman
“Hebat !!!” ungkapnya
Tegas, anti korupsi, bangun sana-sini
Menggelinding cepat, penuh tenaga
Sebagian terlindas, yang lain tiarap
Banyak juga berbalik sikap
Ketakutan merambat, pelan …
Tidur tak nyenyak, duduk tak tegak
Menggeliat penat, lambat merayap
Sadar tergugah, panik menyerbu
Goncangan terasa, kenyamanan terganggu
Kusak-kusuk, tiup-tiup, beranjak gerak
DIA PENJAHAT !!!! Lantang teriak, berburu selamat
Tangan terkepal mata melotot … merah marah
Fitnah menyerbak …
Hancur … kotor lagi, korupsi lagi, preman lagi
Duduk tenang, tunggu setoran
“Enak begini”, pikirnya
Kasihan ….

Belajar Air di Korea

2016_1018_08595600

Kimchi

Perjalanan menarik kali ini berthemakan Air, mulai dari Asia Water Council di Andong, Korea International Water Week di Daegu, Water Treatment di Gyeongju, Water Treatment di Incheon dan sungai Cheonggyecheon di Seoul.

Annyeong haseyo …

16 Okt 2016 Berangkat

Jam 22.05 wib, KE628 takeoff dari terminal 2E bandara Soetta menuju Incheon, Korea. Korea Airline Boeing 777-300, nyaman dan menyenangkan. Pramugari berseragam putih-hijau muda, ramah, cantik, sopan dan masih muda semua. Namun ada sedikit janggal melihat wajah mereka, putih pucat mengkilat tanpa rona merah di pipinya. Dingin … Ternyata, itulah trend wajah perempuan kekinian di Korea … hahaha ndeso ya saya .. Makanan enak dan badan lurus tertutup selimut, tidur nyenyak, setelahnya. Sejuk dan gelap.
 
 
17 Okt 2016 Ke Andong
2016_1020_17442100-3

Hanbook

Jam 5.30 waktu setempat, lampu cabin menyala, penumpang mulai berlalu lalang ke toilet dan sarapan pagi dihidangkan. Tepat jam 7.00 pesawat mendarat di bandara Incheon. Antrian imigrasi berkelok-kelok panjang, namun tersedia banyak loket dan petugas yang mengaturnya. Cepat dan nyaman.

 
Keluar ruang pengambilan bagasi, ada 3 kios penyedia jasa layanan sewa router wifi. Selama satu minggu ditawarkan US$50 untuk 2 hp dengan deposit $200, yang dapat diambil lagi saat pengembalian alat. Bisa jd alternatif dan lebih murah drpd Telkomsel, yang dikenakan biaya Rp. 500 ribu untuk 1 minggu paket data/internet. Saya menggunakan Telkomsel, lancar tanpa gangguan.
 
Carnival, produk KIA terbaru, menjadi alat transport kami berempat menuju Andong yang diperkirakan akan membutuhkan 2,5 jam perjalanan. Mobil jauh sudah lebih bagus dan lebih nyaman daripada Carnival yang dulu pernah masuk Indonesia akhir 90an. 
 
img-20161017-wa0033

Solar cell di tempat parkir

Satu jam perjalanan di jalan besar bebas hambatan tak terasa kecepatan sudah mencapai 120 km/jam dan beberapa kali harus diperlambat karena ada perbaikan jalan. Terowongan jalan yang mulus dindingnya, terang cahayanya dan tersedia ruang aman untuk pejalan kaki di kiri-kanannya lebih dari 10 kali kami lewati. Berbeda dengan jalan di Puncak, Bogor yang berliku sejuk indah pemandangannya mengikuti gelombang bentang alam berbukit, Korea sepertinya lebih prioritas pada kecepatan koneksitas antar kota dengan cara membangun jalan besar mulus menembus gunung. Sejauh mata memandang, adalah bukit-bukit hijau yang mulai menguning, bahkan merah menjelang musim dingin. Indah.

 
Setelah satu jam perjalanan, mobil masuk ke area rest area. Udara menyergap sejuk begitu pintu mobil terbuka, sekitar 15°C dengan matahari terik, memancing keinginan minuman penghangat tubuh. Capuccino menjawabnya. Area parkir mobil terbuka yang demikian luas didukung oleh shelter beratap solar cell untuk menghasilkan listrik yang cukup untuk menerangi seluruh area. Cemerlang. Korea bukanlah penghasil minyak dan gas bumi.
 

2016_1017_15384000Sekitar jam 13.00 kami sampai hotel Richell di kota kecil Andong, bagian tengah selatan Korea Selatan. Hotel bagus namun sepi di pinggiran kota yang lengang dengan jalan yang lebar rapi tertata dan pepohonan rindang terjaga. Nyaman. Oktober adalah saat yang tepat untuk dapat bepergian ke Korea karena suhu yang mulai sejuk namun masih ok untuk jalan di ruang terbuka dengan jakat tipis saja dan

2016_1017_12102700

Dari Lt. 5 Hotel Richell

pepohonan yang mulai menguning daunnya, indah.

 
Menyimpan barang sambil cek-cek kamar berukuran sedang di lantai 5. AC posisi mati dan heater menyala, gerah. Buka pintu balkon dan wuzzzz … angin sejuk menerpa .. segar. Pepohonan rindang dan jalan lebar tertata apik di sekeliling hotel. Sepiii tak terlihat mahlukNya berlalu-lalang di depan hotel.
 
2016_1017_15022300

K-Water, Andong

Sore hingga magrib hari itu dihabiskan untuk keperluan Asian Water Council (AWC) di kantor K-Water, diskusi terbatas tentang pelaporan program penelitian awal penyediaan air bersih di Bali, yang akan dipresentasikan keesokan harinya dalam forum resmi pengangkatan presiden baru dan diskusi seluruh anggota Asian Water Council.

 
2016_1018_13192000Makan malam ditraktir pengusaha Korea, chairman dari Seoul di resto masakan Korea,  Yahh … Daging sapi Bulgagi, bakar di meja berlebih dan nasi … menjadi menu utama malam itu, termasuk asesori lainnya. Seperti lazimnya resto Korea, duduk lesehan bersila dengan lebih dulu menggantungkan jas di samping pintu kamar makan privat kami. Chairman bisa sedikit bahasa Inggris, sehingga perlu ditemani penerjemahnya. Begitu semangat Chairman membakar daging potong itu untuk kami berdua, dengan om Firdaus Ali. Full … kenyang … Makan dan ngobrol selesai malam itu, akrab penuh canda. Kembali ke hotel, lelap …
 
 
18 Oktober 2016 Hahoe Village
Pagi hari itu kegiatan AWC dibagi menjadi dua, yaitu board meeting yang diikuti oleh DR. Firdaus Ali sebagai wakil Indonesia dan kunjungan kebudayaan ke peninggalan kampung tua Haoe di pinggiran kota Andong untuk peserta lainnya.
 
2016_1018_09160300Hahoe Village (abad 15) menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2010, bersamaan dengan Yangdong Village di Gyeungju, yang keduanya warisan jaman dinasti Joseon, dapat dicapai dalam waktu 45 menit dari kota Andong. Jalan sempit (kelas II di negeri kita) halus berkelok, berundulasi dengan pepohonan rindang yang mulai menguning tanda musim gugur segera tiba, indah sekali. 2016_1018_08395200Lingjungan Kampung Haoe ini berisikan sawah, sungai, hutan dan banyak bangunan yang umumnya beratapkan kayu dan beberapa rumah beratapkan jerami.
 
Setelah makan siang, 3rd Asian Water Council Meeting dimulai dengan pembukaan oleh Presiden AWC lama, dilanjutkan dengan pengangkatan Presiden AWC baru, Hak-Soo Lee dari Korea. Hadir dalam acara ini para pejabat pemerintah dari beberapa negara anggota. Indonesia diwakili oleh Stafsusmen Pupera, DR. Firdaus Ali, DR. Ismail dan DR. Indra, yang semuanya dari kementrian Pupera.
 
2016_1018_16215000

Penutupan 3rd AWC

Makan malam sekaligus acara penutupan AWC diadakan di hotel Ritchell. Buffet style dengan menu berbagai jenis madakan seafood terhidang berlebih. Musik gesek akustik yang dimainkan pars perempuan cantik mengiringi majan malam. Selesai acara jam 8 malam langsung masuk Carnival menuju Daegu. Jam 12 malam masuk kamar hotel … setelah drop om Firdaus di hotel …

 
 
19 Oktober 2016 KIWW
20161019_141258Setelah sarapan roti bakar, telor setengah matang dan salmon plus teh hangat dan jus jeruk di hotel Interburgo Exco, pagi itu langsung turun hotel dan menyeberang jalan untuk masuk di gedung Exco Exhibition, tempat acara Korea International Water Week 2016. Gedung buesarr bertingkat … untuk keperluan pameran industri, ruang diskusi, theater .. lengkap dengan cafe dan resto. Sayangnya, pameran industri tingkat internasional yang semestinya berharap mendapatkan perhatian atau buyer-buyer asing, banyak hanya menyediakan keterangan tertulis atau verbal dari penjaga pameran yang hanya berbahasa Korea. Terus piye jal …
 
2016_1020_15032400Acara resmi pembukaan KIWW dilakukan di ruang theater, semacam cinema 21 lah, dengan panggung luas di depan. Kursi baris depan diisi oleh para menteri Korea, wakil badan dunia, para menteri serta dubes negara peserta, dari Asia hingga Afrika. Sangat representatif untuk membicarakan tentang Air dan berbagai permasalahannya di berbagai belahan dunia. Dua jam dipergunakan untuk pidato dari tuan rumah dan berbagai perwakilan negara peserta termasuk tayangan singkat video dan slide tentang Air diselingi sedikit hiburan. Kemasan presentasi yang singkat dan menarik untuk dilanjutkan diskusi thematik di beberapa ruang terpisah keesokan harinya.
 

Sesi thematik dalam KIWW ini akan membuat berbagai usulan kebijakan tata air dan solusi teknis terhadap berbagai tantangan persoalan air yang dihadapi berbagai negara di belahan dunia. Sepuluh thema utama yang dibahas masing-masing dalam format diskusi meja bundar adalah:

  1. Sustainable Development Goals: Implementation and monitoring of the SDGs
  2. Capacity Building: On-Iine & on-site convergence capacity building for global water issues
  3. Water Cooperation
  4. Water-Energy-Food nexus for water security and SDGs Achievement in Asia
  5. Examining the links between Integrated Water Resources Management and Smart Water Management
  6. Healthy urban where people and water ecosystem live together
  7. Climate change and water management
  8. Water information beyond data and knowledge: Asia Dynamic Hub for Water The power of lnformation
  9. Water projects: opportunities, challengesand synergies for implementing the SDGs
  10. Policy and strategies for sustainable water management: To share and discuss practical ways to realize better water governance and policy

Yang terpenting dalam event KIWW kali adalah meliputi thema KIWW 2016 yaitu “Water Partnership for Sustainable Development“, yang sama juga dengan thema utama dalam The 8th World Water Forum “Sharing Water and Sustainability“. 

 
2016_1020_08321200Adalah DR. Firdaus Ali, Pendiri Indonesia Water Institute, Staf Khusus Menpupera dan dosen Teknik Lingkungan UI yang selalu dijadikan narasumber di berbagai thema diskusi selama 3 hari tersebut bersama beberapa wakil dari badan-badan dunia. Hebat beliau ini, sudah mendunia ternyata bahkan bila ada kementerian Sumberdaya Air di negeri kita ini, sudah selayaknya beliau menjabatnya. Rencana Deep Tunnel sebagai saluran air dan transportasi darat, Waduk Pluit, Giant Sea Wall di Teluk Jakarta, adalah sebagian proyek-proyek raksasa yang beliau turut terlibat membidaninya.
 
Selama di Daegu, tak sempat kami berkeliling mencari obyek wisata, hanya sempat masuk mall di belakang hotel untuk memenuhi titipan beli masker pembersih muka dan  makan malam di resto Korea, lengkap dengan iringan kecapi dua lagu, yang dimainkan oleh perempuan ayu berpakaian tradisional Korea, hanbook. Sayang, ada persyaratan khusus untuk menikmati permainannya “dilarang mengambil gambar”.
 
 
20 Oktober 2016 Dinner di Daegu
20161020_202141Sesi diskusi thematik masih berlangsung di beberapa ruangan, kebutuhan air bersih Jakarta menjadi salah satu topik bahasan yang dikemukakan oleh DR. Firdaus Ali. Tinggi dan pertumbuhan populasi Jakarta serta kualitas dan ketersediaan air bersihnya, membuat terbelalak mata peserta, apalagi presentasi bung Firdaus yang lengkap dengan analisis data dan peta yang valid semakin membuatnya duduk 20161020_222953tegak fokus menyimak. Pemerintah propinsi Jakarta perlu serius menyikapinya.
 
Dinner untuk pejabat Korea dan para penyaji makalah diselenggarakan sangat menarik. Diawali dengan presentasi kondisi pembangunan ekonomi saat ini di layar lebar dengan presenter bersuara bariton yang berjalan santai kesana-kemari di atas panggung, sungguh menarik. Setelahnya, paduan suara anak-anak yang kompak merdu suaranya tampil di atas panggung. Sepotong kecil ikan salmon dalam piring besar mulai disajikan di atas meja. Acara paling menarik malam itu adalah hanbok fashion show. Ditampilkan para model dan miss Daegu dengan sorotan lampu warna-warni yang 20161020_201637sangat terang dan diiringi musik tradisional, terasa indah bersahaja penuh wibawa. Sebuah kemasan yang cerdas mempesona.
 
 
21 Oktober 2016 Ke Gyeongju
Tepat jam 7 pagi kami dijemput pengusaha Surabaya dan pengusaha laboratorium Seoul untuk bersama-sama berangkat menuju Gyeongju menggunakan kereta cepat KTX dari stasiun Daegu. Bagasi kami yang cukup banyak, disimpan dalam lemari khusus yang tersedia di luar kabin penumpang, ujung gerbong. Hanya butuh 15 menit untuk sampaindi Gyeongju. Melihat Pengolahan Air berteknologi canggih Plasma Ozon Water Treatment System adalah maksud kunjungan kami.
 
kor02287

Indonesia – Korea

Sebelum menuju lokasi Water Treatment, kami disambut secara resmi di kantor walikota. Sangat mengagetkan karena kunjungan kami tidak dimaksudkan sebagai G2G, melainkan bisnis biasa. Duduk di sekeliling meja bundar, Walikota memberi sambutan resmi melalui penerjemah dengan penata acara berdiri di podium. Lengkap dengan dua bendera kecil di atas meja, Korea dan Indonesia. Wah … bercelana jean dengan polo shirt, malu euy …. cindera-mata pun diberikan walikota ke bung Firdaus setelah masing-masing memberi sambutan. Sepertinya Gyeongju memang sedang bersemangat memasarkan teknologi water treatmentnya ke berbagai negara lain.

 
kor02305

Dgn Pengusaha Indonesia

Ada dua lokasi water treatment Gyeongju yang kami kunjungi, bisa dicapai melalu jalan darat dalam 15 menit melalui jalan halus berkelok-kelok. Pemandangan indah, dedaunan hijau dengan sebagian mulai menguning bahkan merah pertanda mulai masuk musim gugur. Area water treatment sedang saja luasnya. Di area terbuka, tempat pengolahan air berteknologi lama sebagai tempat masuknya air kotor dari sungai. Keluaran dari proses tersebut dilanjutkan dengan proses selanjutnya dalam bangunan besar penuh dengan berbagai peralatan mekanis dan elektris yang masuk semuanya dalam jaringan komputerisasi sehingga bisa dimonitor melalui jaringan nirkabel dari luar lokasi. Air minum kemasan dalam botol banyak diproduksi dari proses pengolahan di sini.

 
kor02308Di kota kecil Gyeongju (kota kabupaten) terdapat 9 tempat pengolahan air. Yang menarik juga adalah adanya waduk kecil di Gyeongju sebagai cadangan air bersih, yang tidak diijinkan digunakan sebagai area pemancingan ikan. Komitmen masyarakat terhadap kepentingan bersama terhadap keberadaan air bersih ini sungguh mengagumkan, sehingga air waduk sebagai masukan untuk pengolahan air bisa tetap terlihat jernih dan mengurangi kerja berat proses pengolahan.
 
gyeongju-stasiun

Stasiun Singyeongju, Gyeongju

 

Selesai kunjungan Pengolahan Air, menuju stasiun kereta Singyeongju, untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul menggunakan kereta cepat KTX. Makan siang di resto setasiun, menu bibimbap yang semua disajikan dalam mangkok kuningan. Air layak minum tetap dimasukkan dulu ke dalam water purifier. Menurut mereka, air minum yang bersih membuat kulit bagus. Kereta datang tepat waktu, kali ini gerbong bagus dengan 2 kursi di sebelah kiri dan 1 kursi di kanan. Lega. Terlihat di monitor, kecepatan kereta 276 km/jam. Kurang-lebih 2 jam, kereta memasuki setasiun Seoul. Ramai padat penumpang.

 
Makan malam dijamu relasi bisnis di restoran masakan Korea tersohor yang mempunyai waralaba di berbagai negara maju, seperti Jepang, Hongkong dan Eropa. Menu utama terhidang dagang kepiting mentah di dalam cangkang terbuka. Entah apa ramuan bumbunya, tapi memang lezat rasanya. Dengan menghirup cara menikmatinya. Lembut manis. Menu lainnya adalah ikan kuah kuning, menurutku mirip seperti woku Manado.
 
 
Sabtu, 22 Oktober 2016 Incheon Water Treatment
Pagi jam 9, kami berdua (dengan bung Firdaus Ali) dijemput oleh pengusaha laboratorium air BLTEC untuk mengunjungi workshopnya, yang berada di kawasan Bucheon Techno Park, Old Seoul. Gedung perkantoran yang dipergunakan sebagai pabrik-pabrik kecil perakitan, mungkin seperti Gelodok Jakarta tempat merakit komputer. Tak banyak karyawannya namun keahlian masing-masing sangat spesifik. Ahli kimia air, komputer, elektro mempunyai peran sangat penting. Peralatan monitoring dan analisis air mulai yang berukuran sebesar microwave hingga ukuran kulkas dua pintu dengan kerumitan sederhana sampai ketelitian tinggi, bisa diproduksi di pabrik kecil ini. 
 
Bupyeong Water Treatment
kor02377Kunjungan berikutnya ke Pusat Pengolahan Air di Incheon (PDAMnya Incheon) yang menempati area yang luas dan hijau. Bangunan tempat wireless control dan monitoring yang sangat luas dan nyaman, juga bangunan bertingkat untuk laboratorium air yang mampu menganalisis banyak parameter. Laboratorium ini juga biasa menerima pelajar atau karyawan dari berbagai negara lain untuk belajar Analisa Air dengan teknologi canggih. Pada kesempatan ini, staff khusus Kemen Pupera juga sempat bernegosiasi dengan pimpinan laboratorium untuk bisa mendapatkan kesempatan mengirimkan karyawan Pupera belajar ke lab tsb.
 
kor02354

Kolam Baru

Di lapangan, ķami ditunjukkan kolam-kolam besar tempat pengolahan air fase awal berteknologi tinggi, sementara di sebelahnya adalah kolam besar berteknologi lama (masih dipergunakan di Jakarta), yang sudah tidak dipergunakan lagi.

 
Sungai Cheonggyecheon
img-20161026-wa0004Masih berkaitan dengan air, kami mengunjungi sungai Cheonggyecheon yang jernih terawat dengan lingkungan yang dibangun bersih hijau, telah menjadi area bersantai penduduk Seoul, lengkap dengan pameran seni dan kios-kios cenderamata dan makanan kecil di pinggirnya.
 
Sungai ini dibuka untuk umum September 2005 setelah direnovasi lingkungannya. Renovasi dimulai tahun 2003 dengan membongkar jalan layang yang sebelumnya berada di atas sungai. Menurut pemerintah setempat, sungai baru ini mampu menurunkan polusi dan suhu udara di sekitar sungai sebesar 3°C dan mengembalikan habitat naturalnya.
 
Dongdaemun market
Tak lupa kami mampir ke salah satu mall di Dongdaemun market untuk membeli oleh-oleh titipan dari tanah air, makanan kering dan berbagai asesoris lainnya. Satu hal penting yang tak ditemukan adalah Black Garlic.
 
 
23 Oktober 2016 Pulang
Jam 8 pagi, kami checkout dari hotel Grand Intercontinental menuju bandara Incheon untuk pulang Jakarta menggunakan Korea Airline KE 627 15.20. Masih banyak waktu untuk mencari Black Garlic. Gak dapat juga, setelah menjelajahi semua sudut bandara yang luas itu. Pegal dan puas.
 
Alhamdulillah mendarat di bandara Soetta 20.30 wib. Terimakasih om Firdaus Ali sudah mengajak saya sebagai observer dalam Asian Water forum dan Korea International Water Week, mengunjungi Pengolahan Air di Gyeongju dan Incheon serta mampir di Sungai Cheonggycheon.
 

Kamsahamnida

 
Catatan:
 
6. Buku: The New Korea
kor02253-2

Persepsi vs Realitas

imagesDalam kasus “Penistaan Agama oleh Ahok”, kompromi antara demonstran dengan Wapres JK sore 4 November 2016 di istana, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden pada jam 12 malam harinya, adalah memerintahkan Kapolri untuk mempercepat Proses Hukum Ahok secara terbuka, supaya bisa disaksikan masyarakat, dengan harapan kecurigaan terhadap kemungkinan terjadinya ‘permainan‘ peradilan dapat dihindarkan. Ternyata tak semua pihak bisa menilai atau lebih tepatnya bersedia menilai upaya presiden ini sebagai sebuah niat baik. Reaksi sebagian dari pihak penuntut justru menganggap Presiden melakukan intervensi proses hukum, yang dengan alasan tersebut maka Presiden bisa dituntut bahkan dimakjulkan. Hemmm … garuk-garuk tangan … kira-kira apa komentar mereka bila proses hukum dilakukan tertutup?

Proses untuk mendapatkan keterangan dari saksi, termasuk terlapor Ahok, sudah mulai dilakukan polisi kemarin, Senin 7 November 2016. Komentar miring kelompok penuntut Ahok di medsospun mulai bermunculan, “kemungkinan ahok dibebaskan sudah terlihat”, “pertanyaan penyidik meringankan ahok”, dll. yang pada intinya, penyidikan sebagai suatu kenyataan proses hukum dirasa sudah bertentangan dengan Harapan (bukan fakta hukum). Mulai tumbuh kekhawatiran karena harapan dirasa tak searah lagi dengan kenyataan bahwa ‘Percepatan Proses Hukum Ahok’ tak berujung pada ‘Hukum Ahok’. Kecewa.

Seperti diketahui bahwa Persepsi yang melebihi Realitas (satu tingkat dibawah mimpi) bisa terjadi karena:

1. Kurangnya informasi
Kekurangan informasi disini bisa terjadi karena memang tak banyak informasi ditemukan, atau banyak informasi valid namun tak mampu menganalisisnya sehingga berakibat salah persepsi.

2. Pengingkaran kebenaran informasi

Realitas berada jauh dari ekspektasi yang dibangun berdasar kesalahan asumsi sehingga terjadi dilusi, frustrasi.
Didasarkan pada kemampuan pengendalian harapan atas hasil proses hukum yang mungkin akan membebaskan Ahok ditingkat penyidikan, karena tidak ditemukannya unsur pidana, akan segera muncul persepsi baru yaitu Menerima Kenyataan atau Mengingkarinya.
Bila alasan-alasan hukum positif yang memang harus membebaskan Ahok bisa diterima para penuntut secara jernih obyektif, tanpa mempertentangkannya dengan persepsi yang berlebihan, maka selesai sudah drama Penistaan Agama. Namun apa yang akan terjadi bila Realitas Hukum tak bisa diterima karena persepsi kolektif atas kebenaran sendiri yang begitu tinggi? Pengingkaran kebenaran informasi akan terjadi dan berujung pada frustrasi. Peran para pemimpin menjadi sangat penting untuk membantunya ‘menginjak bumi’, menerima kenyataan. Kecuali, rasa frustrasi massa memang sudah menjadi prasyarat yang direncanakan (by design) atas niat pemakjulan presiden seperti diteriakkan beberapa orator politik dalam demonstrasi ‘Damai’ 4 November yang lalu, maka sudah bisa diduga kekacauan traumatik bangsa ini akan terjadi lagi. Bila demikian adanya, maka menjadi jelas bahwa gembar-gembor “Hukum Ahok!!!” hanyalah sasaran antara saja dan sasaran akhirnya adalah pemakjulan Presiden terpilih, Jokowi. Kejam.

Raja Ampat – Sorong

2016_0924_1224360024 Sep. 2016
GA0650 takeoff menuju Makassar, 23 Sep. 2016, tepat jam 21.00 dari Terminal 3 bandara Soetta.  Mendarat jam 1.30 pagi wita. Bandara Hasanuddin masih ramai dan cafe juga banyak yang buka, sepertinya bandara 24 jam karena letak geografis yang berada di tengah wilayah NKRI dan melayani penerbangan ke berbagai wilayah negeri ini. Isrirahat 2 jam di lounge Garuda, tepat jam 3.15 waktu setempat pesawat bombardir Garuda takeoff menuju Sorong. Kabin terasa hangat, tanpa perlu mengenakan jaket walaupun penerbangan malam hari. Membutuhkan waktu kira-kita 1,5 jam, pesawat mendarat di bandara Sorong ‘Domine Eduard Osok‘ 6.30 wit. Bandara bagus, bersih dan lengang. Semoga karena perawatan yang baguslah sehingga bandara ini terlihat bersih, bukan hanya karena bandara baru.
 …
Coto Makassar menjadi menu sarapan kami di di kota ini. Dengan ketupat dan buras, satu mangkok coto daging itu ludas tergilas dibilas dengan teh tawar panas. Badan terasa hangat segar setelah hampir 7 jam duduk dan kurang tidur. Siap duduk lagi selama 2 jam dalam speedboat 2 x 85 PK, menyeberang laut menuju cottage Waiwo di pulau Waigeo, Raja Ampat.
20160924_074758

Pelabuhan speedboat Sorong

Di pelabuhan speedboat Sorong, sebelah pelabuhan kapal penumpang regular, terlihat banyak speedboat parkir berjajar, namun tak cukup mudah menyewanya. Bukan karena kurangnya jumlah speedboat, melainkan karena langkanya ketersediaan bbm.

20160926_091340

Salawati 2 x 85 pk

Dua jam harus menunggu, akhirnya muncul juga speedboat Salawati berbbm penuh di atas. Duabelas penumpang terangkut, termasuk pengemudi dan supporternya, juga kopor dan tas besar masing2 yang disimpan dalam ruang kecil di haluan, di bawah kemudi. Enam kursi menghadap ke depan speedboat dan dua bangku panjang berhadapan di bagian buritan. Cukup untuk 10 penumpang dengan hanya 8 life vest … hahaha..sedikit menambah detak jantung selama 2 jam .. Jam 9 pagi cuaca cerah dan laut cukup tenang, sehingga tak banyak goncangan terasa. Daratan semakin jauh, namun masih terlihat daratan di kiri-kanan speedboat.

2016_0924_09490600

Dermaga Raja Ampat, Pulau Waigeo

Dua jam tak terasa karena rasa excited di tengah laut, akhirnya sandar di dermaga Raja Ampat. Banyak speedboat sandar berjajar dan terlihat bangunan sederhana kosong beratap di daratan, semacam shelter untuk berteduh bagi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan darat. Istirahat sebentar di rumah penduduk, dilanjutkan 5 menit berspeedboat lagi untuk bersandar di lokasi cottage Waiwo. Tempat Jokowi menginap di Raja Ampat tempo hari.

20160924_130656Cottage yang rindang tepat di tepi laut dengan banyak bangunan rumah panggung kayu tipe studio yang masing-masing untuk dua tamu, terasa panas begitu memasukinya karena listrik, untuk AC, bertenaga diesel masih padam. Makan siang di resto cottage berlauk sangat minimal cukup membekali tenaga untuk snorkling/diving di pulau Mansuar.
2016_0924_12212200

Bersama bang Buyung Lalana (stafsus menhub, tengah)

Sekoci karet membawa kami dari dermaga speedboat ke tengah laut ditemani bang Buyung Lalana, menuju kapal patroli besar dua lantai bernavigasi canggih. Dua jam berlayar, akhirnya kapal sandar di dermaga pulau Mansuar, menurunkan kurang-lebih 20 penumpang untuk menikmati keindahan bawah laut, diving/snorkling dimulai dalam pengawasan bang Buyung Lalana, ex Komandan Marinir, dan para asistennya. Wooowwww … pasir putih di pantai, air jernih, dangkal, terumbu karang berbagai bentuk dan warna melambai lembut, juga aneka ikan indah kaya bentuk dan warna, kadang melintas kura-kura besar … betul indah Raja Ampat, surganya para pecinta wisata bawah laut. Sayang, tanpa perlengkapan kamera bawah air.

 

Puas menikmati keindahan bawah laut, terhampar ikan baronang goreng rica dan kuah kuning (woku) di atas meja, tentu dengan nasi panas dalam magic jar besar, cukup untuk 25 orang yang lapar bermain air. Sikat abis … terimakasih bu syahbandar yang memasaknya di atas kapal. Puas..
Lumba-lumba terlihat berlompatan dikejauhan seolah berlomba mengejar kapal bergerak kembali ke pelabuhan Raja Ampat. Mampir ke salah satu pulau setelah matahari terbenam, menunggu awak kapal menyelam berburu ikan menggunakan harpoon. Jadi ingat film serial tv akhir 70an ‘Deni si manusia ikan’ hehehe …
25 Sep. 2016
2016_0925_12444100

Team IWI di Pianemo, Raja Ampat

Cottage nyaman sejuk dan suara deburan ombak depan pintu plus kecapaian main air di hari sebelumnya membuat lelap tidur tanpa gerak. Puas istirahat semalaman, siang jam 12.30 speedboat membawa kami bertujuh menuju kepulauan Pianemo yag diperkirakan membutuhkan waktu dua jam, tanpa sarapan berharap tersedia resto di tujuan. Langit berawan, sedikit menambah detak jantung, jangan-jangan … benar .. belum sampai 1 jam boat bermesin ganda 85 pk melaut, mulai terasa hentakan keras menghantam air. Ombak bergulung cepat hingga perahu terus melompat, duduk tak enak dan badan terus bergerak terbanting-bating. Barang-barang di atas dashboard mulai berjatuhan, driver sering mengeluarkan tubuhnya dari jendela sambil tetap pegang kemudi, untuk melihat laut di depan, jangan sampai menabrak batang kayu terapung. Penumpang diam, was-was, mulai menghitung jumlah life vest …tak cukup jumlah untuk semua penumpang. Berdoa dalam diam .. tegang. Bung Firli mulai menimbang-nimbang “lanjut atau pulang?”, ceritanya setelah sampai di cottage …

20160925_150708-2

Pianemo

Satu jam kemudian laut mulai tenang, masuk dalam kepulauan kecil .. indah  .. pasir putih sebelah kanan dan perahu sandar di bawah tebing pulau terbesar sebelah kiri. Terlihat ada 5 speedboat besar telah parkir disana. Keluar speedboat, tangga kayu permanen beranaktangga 300 buah siap menunggu menuju puncak. Jangankan resto, pedagang asonganpun gak ada. Kawasan lindung. Istirahat

20160925_142500

Dermaga Pianemo

sebentar mengatur napas di shelter tangga ke 100 dan lanjut ulang. Ngos-ngosan sampai di puncak …. wuihhh .. worth it … indah betul pemandangan kepulauan dari puncak bukit. Betul kata orang “jangan bilang sampai di Raja Ampat kalau belum naik di Kepulauan Pianemo”. Sebetulnya ada lagi yang lebih spektakular yaitu pulau Wayag, dua jam melaut lebih jauh. Tepatnya antara Pianemo – Halmahera, laut lepas. Kebayang ombaknya … Satu jam foto-foto, turun bukit langsung dan melaut lagi dua jam pulang ke kota Waisai di pulau Waigeo, karena tak cukup waktu untuk lanjut ke Sorong yang masih butuh 2 jam lagi. Sudah sore jam 4, driver gak sanggup khawatir kayu melintang tak terlihat .. bisa brakkk, bocor itu boat.. bahaya.

2016_0925_15305200

Rifalda cottage

Rifalda Cottage di kota kecil Waisai, pulau Waigeo, menyediakan 6 bangunan rumah panggung sederhana, masing-masing berisi 2 kamar. Tidak menyediakan makan siang/malam, hanya sarapan pagi nasi kuning. Perut yang lapar tak terisi sejak pagi akhirnya menyantap mie instant telor rebus bikinan mbak Lintang, huenakkk … masih tambah nasi ayam penyet, malamnya. Puas, tidur pulas.

26 Sep. 2016
20160926_132547

Resto Goyang Lidah 2, Sorong

Gerimis jam 7 pagi, kami berangkat melaut lagi menuju Sorong, 2 jam. Laut berombak dan boat terhentak namun tak sekeras kemarin, karena searah arus laut. Alhamdulillah selamat sampai Sorong. Satu hari kami habiskan waktu untuk melihat kora Sorong, yang sedang menggeliat tumbuh dan masih butuh banyak pengadaan gedung perkantoran yang aman, air bersih, listrik, bahan bakar, dll.. Makan siang di resto ‘Goyang Lidah’, masakan jawa dengan cara timba sendiri, maksudnya ambil sendiri, hahaha… Kehidupan Sorong sebagai kota pelabuhan berlangsung 24 jam sehari. Berderet warung tenda menjajakan berbagai jenis makanan, yang selalu tersedia malam hari hingga subuh.

27 Sep. 2016
Takeoff jam 16.00 wit dari bandara Sorong menuju Jakarta menggunakan Garuda dan transit di Makassar. Alhamdulillah mendarat di Terminal 3 jam 18.00. Sampai jumpa Raja Ampat.
Masih banyak yang perlu dikerjakan untuk mengangkat Raja Ampat sebagai destinasi wisata internasional. Hotel, transportasi, restoran masih sangat kurang, apalagi transportasi laut masih minim kelengkapan safetynya. Tetap semangat untuk terus berkembang, Sorong dan Raja Ampat.
 ….
Terimakasih bung  Firdaus Ali dan rekan-rekan Indonesia Water Institute yang telah mengajak saya mengunjungi Sorong dan Raja Ampat. Sukses terusss ..
Tautan Video dan Gambar:
2016_0926_12535900-3

Waduk Sorong

3 Film LGBT

imagesKeingintahuan tentang LGBT, berujung mencari film tentangnya di jagad maya, dan menemukan The Danish Girl (2015) yang memenangkan Oscar, dengan pemeran handal Edward Redmayne (Theory of Everything) dan Alicia Vikander (Ex Machina); dan Carol (2015) yang dibintangi aktris senior Cate Blanchett dan Rooney Mara (The girl with the dragon  tatoo). Yang ketiga, beberapa hari yang lalu HBO memutar film Gia (1998) dengan pemeran utama Angelina Jolie, Faye Dunaway, Elisabeth Mitchell. Rasanya ketiga film tersebut belum pernah diputar di Indonesia. Atau saya yang tertinggal? Mengingat isu pelangi yang sedang panas, ketiga film ini jadi semakin menantang untuk ditonton.  Entahlah …
Dikisahkan dalam The Danish Girl pasangan muda suami istri yang hidup rukun dan ceria, tinggal di sebuah apartemen sederhana, dalam setting tahun 1926 di Copenhagen. Pada awal film, masih belum terlihat karakter atau peran masing-masing pemain, semuanya tampak datar. Biasa saja. Gerda Wegener, seorang pelukis dan sang suami Einar Wegener menjadi model lukisannya. Yang mengejutkan adalah Einar dilukis dengan pose anggun dan kostum perempuan. Proses melukis ini berlangsung lama dan memberikan kesan bahwa Einar semakin nyaman dengan tampilan keperempuanannya. Tidak lagi hanya sekedar senang berpakaian perempuan, bahkan segala gerak dan perilakunyapun mulai perempuan. Hingga suatu saat berani tampil di publik dengan sepenuhnya berdandan, berperilaku dan bertutur-kata layaknya perempuan. Dan namanyapun berubah menjadi Lili Elbe. Tak puas dengan  penampilan dan perilaku keperempuanannya, Einar bertekad untuk operasi genital, ganti kelamin, demi mengejar kelengkapan hidupnya sebagai perempuan, dengan kondisi ilmu dan teknologi kedokteran yang sangat beresiko tinggi dimasa itu.
Percakapan Elinar dengan perempuan hamil tak dikenal di suatu taman, tentang keinginan dirinya untuk hamil, menjadi sesi yang cukup mencengangkan. Mungkin sesi dialog ini dimaksudkan sutradara untuk menggambarkan gemuruhnya hasrat hati Elinar untuk menjadi perempuan seutuhnya sesuai kodratnya. Sulit membayangkan seseorang melakukan operasi ganti kelamin di tengah komunitas yang begitu ketat dalam hal “penyimpangan” gender. Berat sungguh beban Elinar di alam nyata, merasa terjebak dalam jenis kelamin biologis yang berbeda dengan identitas dan ekspresi atau perilaku gender yang dirasakannya. Transgender menjadi pilihan hidupnya, yang sayangnya berujung tragis pada akhirnya.
Menurut American Psychological Association, Transgender is an umbrella term for persons whose gender identity, gender expression or behavior does not conform to that typically associated with the sex to which they were assigned at birth.
imagesBerbeda dengan thema transgender yang disuguhkan The Danish Girl, film Carol bercerita tentang kehidupan Lesbian antara Therese Belivet (Rooney Mara), seorang fotografer 20 tahunan yang bekerja di sebuah pertokoan di New York 1950, yang sedang menghadapi kehidupan pra-perkawinan yang tidak cukup membahagiakan, dengan Carol (Cate Blanchett) seorang istri beranak satu yang sedang dalam proses perceraian. Pertemuannya dengan Carol Aird di toko mainan tempat Therese bekerja, berbuntut kedekatan diantara keduanya. Gambar-gambar yang tajam dengan setting 1950an, meskipun kadang redup cahaya, tetap enak dilihat. Kostum dan penampilan Carol yang bergerak anggun berkelas sekaligus tegas, bersorot mata tajam dominan, terlihat sempurna meskipun halus dalam bertutur-kata. Kontras dengan karakter Therese yang cenderung penurut, sederhana cenderung na’if dan kurang percaya-diri. Pertemuan makan siang pertama mereka di sebuah resto mampu menggambarkan karakter mereka berdua. Kelelahan psikis Carol akibat rumahtangganya yang tidak bahagia dan keinginan Theresse untuk menemukan sahabat sejati, menyebabkan munculnya kenyamanan keduanya yang serasa menemukan tempat bersandar akibat kelelahan hidup berpasangan yang tak sejalan, membuat hubungan semakin erat dan saling membutuhkan, bahkan sudah seperti layaknya pasangan suami-istri. Perilaku lesbian.
images-2Gia, film semi-dokumenter kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan singkat supermodel Gia Carangi, lengkap dengan adegan narasi sang Ibu dan rekan-rekannya. Adegan pembuka di awal cerita menggiring opini penonton bahwa Gia adalah seorang remaja yang tersiksa batinnya karena kekosongan sosok sang ibu, Kathleen (Mercedes Ruehl), hubungan kedua orangtuanya yang tidak harmonis, bahkan sudah menunjukkan kecenderungan KDRT. Bekerja sebagai juru masak di resto bapaknya di Philadelphia, Gia tumbuh sebagai gadis cantik berbadan bagus dengan gaya rambut punk dan pergaulan bebas. Pertemuannya dengan seorang fotografer menjadi titik awal karirnya sebagai fotomodel sukses di New York. Kekayaan yang cepat diperoleh dan gaya pergaulan supermodelnya yang begitu bebas tanpa kesiapan mental kedewasaan telah menjerumuskan dirinya dalam ketergantungan narkoba dan sex bebas dengan pasangan sejenis, Linda (Elizabeth Mitchell), yang telah mempunyai pasangan lawan jenis, namun sebetulnya sangat peduli dan supportive untuk kehidupan Gia yang lebih baik. Ketidakmampuan hidup mandiri tanpa kehadiran Ibu dan kehilangan panutan dari fashion agent yang membawanya ke puncak kesuksesan, Wilhelmina Cooper (Faye Dunaway). AIDS pada akhirnya mengakhiri kehidupannya yang singkat dan getir, di usia 26 tahun.
Orientasi seksual
Research over several decades has demonstrated that sexual orientation ranges along a continuum, from exclusive attraction to the other sex to exclusive attraction to the same sex. However, sexual orientation is usually discussed in terms of three categories: heterosexual (having emotional, romantic or sexual attractions to members of the other sex), gay/lesbian (having emotional, romantic or sexual attractions to members of one’s own sex) and bisexual (having emotional, romantic or sexual attractions to both men and women).  http://www.apa.org/topics/lgbt/orientation.aspx
Ada kesamaan pada dua film terakhir, Carol dan Gia, yaitu diawali dengan kehidupan sebelumnya yang getir dalam kaitannya dengan kehidupan bersama lawan jenis dan berujung kehidupan bersama dengan kaum sejenis:
  • Carol, tidak harmonisnya kehidupan perkawinan Carol, juga kurang eratnya hubungan Theese dengan pasangannya
  • Gia, hilangnya kasih sayang Ibu
The Danish Girl berbeda dengan kedua film diatas. Hubungan perkawinan yang tetap harmonis antara dua gender biologis laki-laki dan perempuan meskipun terjadi perubahan status perkawinan seiring perjalanan waktu dengan pertumbuhan identitas atau perilaku gender salah satu pasangan. Einar berubah menjadi Lili Elbe, tanpa cerita suram di masa awal kehidupannya, seolah memastikan adanya jebakan identitas gender (psikis) yang disandangnya, dalam identitas biologis yang berbeda.
Apakah memang demikian gejala prosesnya untuk menjadi Gay/Lesbian dan Transgender? Menarik untuk dipelajari tanpa perlu menghakimi.
Reference:
Answers to Your Questions About Transgender People, Gender Identity and Gender Expression

Getir

poster_sinet-23Sambil nunggu siaran langsung badminton, olimpiade Rio 2016 di stasiun tv swasta, coba-coba lihat saluran-saluran tetangga. Ehh … ikutan nonton sinetron produksi lokal. Gak apa-apa, sekaligus pengin tahu berhubung sudah lama gak menontonnya.

Aktrisnya cantik-cantik, aktornya ganteng-ganteng, baik yang muda maupun yang tua. Cerita tentang eksekutif muda. Pria muda gagah berdasi keluar dari ruang kantornya, tak lupa memberikan perintah ini-itu ke sekretarisnya. Memberi kesan sebagai pejabat tinggi di perusahaan tersebut. Masuk ke ruang dirut pershn yang ternyata bapaknya sendiri, chitchat sebentar lalu anak muda itu pamit keluar kantor, bermobil sport, menjemput perempuan muda cantik di rumah mewahnya, untuk makan siang di sebuah resto. Cerita berikutnya ya cuma hahahihi saja dan berujung keperkawinan mewah dengan warisan sebuah perusahaan besar karena sang bapak mau menikmati pensiun. Hadeuh … ini cerita apa sebetulnya ?? Raam Punjabi pernah berujar bahwa thema seperti ini adalah “memberi harapan”, bukan mimpi.

Jadi ingat obrolan ringan 30 tahun yang lalu dengan kawan di Bandung tentang persinetronan kita yang secara thematik tidak ada perubahan hingga sekkarang. Umumnya cerita dimulai dengan kisah kecil dimanja, muda kaya-raya, tua bahagia, mungkin mati juga masuk surga. Nikmat apalagi yang kau nantikan? Kalaupun ada sedikit modifikasi cerita, biasanya diawali dengan kisah duka dan berakhir kaya raya. Nikmat juga.. Itu perbincangan ringan kami saat itu, lalu berkembang dengan obrolan kisah nyata di ibu-kota. Sering terlihat di perempatan, anak-anak usia sekolah dasar minta-minta di sebelah mobil, yang dewasa maksa bersihin kaca depan, yang tua bersimpuh di pembatas jakan dengan kaki dikerubuti lalat dan tangan menadah. Juga tersebar di medsos, kisa pak tua yang sakit dan tergeletak di gerobak pinggir jalan. Kecil susah, hingga mati tua pun sengsara … nyata. Siapa yang akan membuatkan filmya??? Ironis ..

Buku dan Televisi

IMG-20160802-WA0004Sambil buka facebook saat berangkat kantor kemarin, saya menemukan penawaran buku baru “Suluk Tambangraras”, karya Damar Shashangka. Saya suka buku-buku tentang budaya Jawa lama. Langsung transfer uang via internet banking wuzzz … Kenikmatan teknologi yang mudah meloloskan uang ..hemm serem .. Eh dapat balasan pesan “Kami catat dan akan dikirim bukunya setelah terbit Agustus nanti”. Halah, ternyata belum tersedia bukunya. Akhirnya keluar di pintu tol Semanggi dan masuklah ke Plaza Semanggi untuk cari buku lainnya.

Dapat lima buku, novel “Orang-orang Bloomington” karya Budi Darma, “Orang aneh” karya Albert Camus, yang ternyata sudah punya versi asingnya “the Stranger” dan saya tulis resumenya di blog beberapa tahun yang lalu, “Filsafat Kebudayaan” karya Jannes Uhi, kumpulan tulisan “Cinta yang kuberi” karya Erizeli Bandaro. Bung Erizeli ini ‘teman’ di Facebook, sering mengunggah tulisan ringan inspiratif, yang berhubungan dengan aktifitas atau kejadian sehari-hari. Yang terakhir, “Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global”, karya Ade Armando, sebuah modifikasi dari disertasi doktoral beliau di jurusan Komunikasi UI sehingga lebih mudah dibaca oleh khalayak umum. Sebetulnya kurang suka dengan judulnya yang ‘menjual’ sekali dengan kata ‘kapitalisme’nya, tapi keingintahuan tentang pertelevisian membuat saya mengambilnya.

Keingintahuan, itulah kata kunci yang paling tepat setelah lama saya berpikir tentang alasan untuk selalu ingin membaca. Pop culture atau hal-hal yang berbau perubahan atau perkembangan budaya sering menjadi pilihan bacaan. Novel atau cerpen koran  minggu yang sering menguji rasa dan pemikiran kritis, jarang terlewatkan.

“Televisi Indonesia” yang belum selesai saya baca ini sangat menarik dan mampu menjawab keingintahuan tentang pertelevisian di negeri ini. Pasti teman sekalian sudah sadar benar dan faham bahwa televisi bagaikan pisau bermata dua, dimana nilai positif  berada pada fungsinya sebagai sarana untuk berbagi informasi dan pendidikan; namun di sisi yang lain berfungsi sebagai sarana intervensi budaya asing, propaganda politik atau kepentingan bisnis semata. Buku ini mampu menjelaskannya dengan runtut, rapi dan didukung oleh banyak data termasuk di dalamnya adalah sejarah perkembangan teknologi dan model bisnis penyiaran televisi di Indonesia. Hormat dan terimakasih untuk bung Ade Armando.

%d blogger menyukai ini: