Feeds:
Pos
Komentar

3 Film LGBT

imagesKeingintahuan tentang LGBT, berujung mencari film tentangnya di jagad maya, dan menemukan The Danish Girl (2015) yang memenangkan Oscar, dengan pemeran handal Edward Redmayne (Theory of Everything) dan Alicia Vikander (Ex Machina); dan Carol (2015) yang dibintangi aktris senior Cate Blanchett dan Rooney Mara (The girl with the dragon  tatoo). Yang ketiga, beberapa hari yang lalu HBO memutar film Gia (1998) dengan pemeran utama Angelina Jolie, Faye Dunaway, Elisabeth Mitchell. Rasanya ketiga film tersebut belum pernah diputar di Indonesia. Atau saya yang tertinggal? Mengingat isu pelangi yang sedang panas, ketiga film ini jadi semakin menantang untuk ditonton.  Entahlah …
Dikisahkan dalam The Danish Girl pasangan muda suami istri yang hidup rukun dan ceria, tinggal di sebuah apartemen sederhana, dalam setting tahun 1926 di Copenhagen. Pada awal film, masih belum terlihat karakter atau peran masing-masing pemain, semuanya tampak datar. Biasa saja. Gerda Wegener, seorang pelukis dan sang suami Einar Wegener menjadi model lukisannya. Yang mengejutkan adalah Einar dilukis dengan pose anggun dan kostum perempuan. Proses melukis ini berlangsung lama dan memberikan kesan bahwa Einar semakin nyaman dengan tampilan keperempuanannya. Tidak lagi hanya sekedar senang berpakaian perempuan, bahkan segala gerak dan perilakunyapun mulai perempuan. Hingga suatu saat berani tampil di publik dengan sepenuhnya berdandan, berperilaku dan bertutur-kata layaknya perempuan. Dan namanyapun berubah menjadi Lili Elbe. Tak puas dengan  penampilan dan perilaku keperempuanannya, Einar bertekad untuk operasi genital, ganti kelamin, demi mengejar kelengkapan hidupnya sebagai perempuan, dengan kondisi ilmu dan teknologi kedokteran yang sangat beresiko tinggi dimasa itu.
Percakapan Elinar dengan perempuan hamil tak dikenal di suatu taman, tentang keinginan dirinya untuk hamil, menjadi sesi yang cukup mencengangkan. Mungkin sesi dialog ini dimaksudkan sutradara untuk menggambarkan gemuruhnya hasrat hati Elinar untuk menjadi perempuan seutuhnya sesuai kodratnya. Sulit membayangkan seseorang melakukan operasi ganti kelamin di tengah komunitas yang begitu ketat dalam hal “penyimpangan” gender. Berat sungguh beban Elinar di alam nyata, merasa terjebak dalam jenis kelamin biologis yang berbeda dengan identitas dan ekspresi atau perilaku gender yang dirasakannya. Transgender menjadi pilihan hidupnya, yang sayangnya berujung tragis pada akhirnya.
Menurut American Psychological Association, Transgender is an umbrella term for persons whose gender identity, gender expression or behavior does not conform to that typically associated with the sex to which they were assigned at birth.
imagesBerbeda dengan thema transgender yang disuguhkan The Danish Girl, film Carol bercerita tentang kehidupan Lesbian antara Therese Belivet (Rooney Mara), seorang fotografer 20 tahunan yang bekerja di sebuah pertokoan di New York 1950, yang sedang menghadapi kehidupan pra-perkawinan yang tidak cukup membahagiakan, dengan Carol (Cate Blanchett) seorang istri beranak satu yang sedang dalam proses perceraian. Pertemuannya dengan Carol Aird di toko mainan tempat Therese bekerja, berbuntut kedekatan diantara keduanya. Gambar-gambar yang tajam dengan setting 1950an, meskipun kadang redup cahaya, tetap enak dilihat. Kostum dan penampilan Carol yang bergerak anggun berkelas sekaligus tegas, bersorot mata tajam dominan, terlihat sempurna meskipun halus dalam bertutur-kata. Kontras dengan karakter Therese yang cenderung penurut, sederhana cenderung na’if dan kurang percaya-diri. Pertemuan makan siang pertama mereka di sebuah resto mampu menggambarkan karakter mereka berdua. Kelelahan psikis Carol akibat rumahtangganya yang tidak bahagia dan keinginan Theresse untuk menemukan sahabat sejati, menyebabkan munculnya kenyamanan keduanya yang serasa menemukan tempat bersandar akibat kelelahan hidup berpasangan yang tak sejalan, membuat hubungan semakin erat dan saling membutuhkan, bahkan sudah seperti layaknya pasangan suami-istri. Perilaku lesbian.
images-2Gia, film semi-dokumenter kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan singkat supermodel Gia Carangi, lengkap dengan adegan narasi sang Ibu dan rekan-rekannya. Adegan pembuka di awal cerita menggiring opini penonton bahwa Gia adalah seorang remaja yang tersiksa batinnya karena kekosongan sosok sang ibu, Kathleen (Mercedes Ruehl), hubungan kedua orangtuanya yang tidak harmonis, bahkan sudah menunjukkan kecenderungan KDRT. Bekerja sebagai juru masak di resto bapaknya di Philadelphia, Gia tumbuh sebagai gadis cantik berbadan bagus dengan gaya rambut punk dan pergaulan bebas. Pertemuannya dengan seorang fotografer menjadi titik awal karirnya sebagai fotomodel sukses di New York. Kekayaan yang cepat diperoleh dan gaya pergaulan supermodelnya yang begitu bebas tanpa kesiapan mental kedewasaan telah menjerumuskan dirinya dalam ketergantungan narkoba dan sex bebas dengan pasangan sejenis, Linda (Elizabeth Mitchell), yang telah mempunyai pasangan lawan jenis, namun sebetulnya sangat peduli dan supportive untuk kehidupan Gia yang lebih baik. Ketidakmampuan hidup mandiri tanpa kehadiran Ibu dan kehilangan panutan dari fashion agent yang membawanya ke puncak kesuksesan, Wilhelmina Cooper (Faye Dunaway). AIDS pada akhirnya mengakhiri kehidupannya yang singkat dan getir, di usia 26 tahun.
Orientasi seksual
Research over several decades has demonstrated that sexual orientation ranges along a continuum, from exclusive attraction to the other sex to exclusive attraction to the same sex. However, sexual orientation is usually discussed in terms of three categories: heterosexual (having emotional, romantic or sexual attractions to members of the other sex), gay/lesbian (having emotional, romantic or sexual attractions to members of one’s own sex) and bisexual (having emotional, romantic or sexual attractions to both men and women).  http://www.apa.org/topics/lgbt/orientation.aspx
Ada kesamaan pada dua film terakhir, Carol dan Gia, yaitu diawali dengan kehidupan sebelumnya yang getir dalam kaitannya dengan kehidupan bersama lawan jenis dan berujung kehidupan bersama dengan kaum sejenis:
  • Carol, tidak harmonisnya kehidupan perkawinan Carol, juga kurang eratnya hubungan Theese dengan pasangannya
  • Gia, hilangnya kasih sayang Ibu
The Danish Girl berbeda dengan kedua film diatas. Hubungan perkawinan yang tetap harmonis antara dua gender biologis laki-laki dan perempuan meskipun terjadi perubahan status perkawinan seiring perjalanan waktu dengan pertumbuhan identitas atau perilaku gender salah satu pasangan. Einar berubah menjadi Lili Elbe, tanpa cerita suram di masa awal kehidupannya, seolah memastikan adanya jebakan identitas gender (psikis) yang disandangnya, dalam identitas biologis yang berbeda.
Apakah memang demikian gejala prosesnya untuk menjadi Gay/Lesbian dan Transgender? Menarik untuk dipelajari tanpa perlu menghakimi.
Reference:
Answers to Your Questions About Transgender People, Gender Identity and Gender Expression

Getir

poster_sinet-23Sambil nunggu siaran langsung badminton, olimpiade Rio 2016 di stasiun tv swasta, coba-coba lihat saluran-saluran tetangga. Ehh … ikutan nonton sinetron produksi lokal. Gak apa-apa, sekaligus pengin tahu berhubung sudah lama gak menontonnya.

Aktrisnya cantik-cantik, aktornya ganteng-ganteng, baik yang muda maupun yang tua. Cerita tentang eksekutif muda. Pria muda gagah berdasi keluar dari ruang kantornya, tak lupa memberikan perintah ini-itu ke sekretarisnya. Memberi kesan sebagai pejabat tinggi di perusahaan tersebut. Masuk ke ruang dirut pershn yang ternyata bapaknya sendiri, chitchat sebentar lalu anak muda itu pamit keluar kantor, bermobil sport, menjemput perempuan muda cantik di rumah mewahnya, untuk makan siang di sebuah resto. Cerita berikutnya ya cuma hahahihi saja dan berujung keperkawinan mewah dengan warisan sebuah perusahaan besar karena sang bapak mau menikmati pensiun. Hadeuh … ini cerita apa sebetulnya ?? Raam Punjabi pernah berujar bahwa thema seperti ini adalah “memberi harapan”, bukan mimpi.

Jadi ingat obrolan ringan 30 tahun yang lalu dengan kawan di Bandung tentang persinetronan kita yang secara thematik tidak ada perubahan hingga sekkarang. Umumnya cerita dimulai dengan kisah kecil dimanja, muda kaya-raya, tua bahagia, mungkin mati juga masuk surga. Nikmat apalagi yang kau nantikan? Kalaupun ada sedikit modifikasi cerita, biasanya diawali dengan kisah duka dan berakhir kaya raya. Nikmat juga.. Itu perbincangan ringan kami saat itu, lalu berkembang dengan obrolan kisah nyata di ibu-kota. Sering terlihat di perempatan, anak-anak usia sekolah dasar minta-minta di sebelah mobil, yang dewasa maksa bersihin kaca depan, yang tua bersimpuh di pembatas jakan dengan kaki dikerubuti lalat dan tangan menadah. Juga tersebar di medsos, kisa pak tua yang sakit dan tergeletak di gerobak pinggir jalan. Kecil susah, hingga mati tua pun sengsara … nyata. Siapa yang akan membuatkan filmya??? Ironis ..

Buku dan Televisi

IMG-20160802-WA0004Sambil buka facebook saat berangkat kantor kemarin, saya menemukan penawaran buku baru “Suluk Tambangraras”, karya Damar Shashangka. Saya suka buku-buku tentang budaya Jawa lama. Langsung transfer uang via internet banking wuzzz … Kenikmatan teknologi yang mudah meloloskan uang ..hemm serem .. Eh dapat balasan pesan “Kami catat dan akan dikirim bukunya setelah terbit Agustus nanti”. Halah, ternyata belum tersedia bukunya. Akhirnya keluar di pintu tol Semanggi dan masuklah ke Plaza Semanggi untuk cari buku lainnya.

Dapat lima buku, novel “Orang-orang Bloomington” karya Budi Darma, “Orang aneh” karya Albert Camus, yang ternyata sudah punya versi asingnya “the Stranger” dan saya tulis resumenya di blog beberapa tahun yang lalu, “Filsafat Kebudayaan” karya Jannes Uhi, kumpulan tulisan “Cinta yang kuberi” karya Erizeli Bandaro. Bung Erizeli ini ‘teman’ di Facebook, sering mengunggah tulisan ringan inspiratif, yang berhubungan dengan aktifitas atau kejadian sehari-hari. Yang terakhir, “Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global”, karya Ade Armando, sebuah modifikasi dari disertasi doktoral beliau di jurusan Komunikasi UI sehingga lebih mudah dibaca oleh khalayak umum. Sebetulnya kurang suka dengan judulnya yang ‘menjual’ sekali dengan kata ‘kapitalisme’nya, tapi keingintahuan tentang pertelevisian membuat saya mengambilnya.

Keingintahuan, itulah kata kunci yang paling tepat setelah lama saya berpikir tentang alasan untuk selalu ingin membaca. Pop culture atau hal-hal yang berbau perubahan atau perkembangan budaya sering menjadi pilihan bacaan. Novel atau cerpen koran  minggu yang sering menguji rasa dan pemikiran kritis, jarang terlewatkan.

“Televisi Indonesia” yang belum selesai saya baca ini sangat menarik dan mampu menjawab keingintahuan tentang pertelevisian di negeri ini. Pasti teman sekalian sudah sadar benar dan faham bahwa televisi bagaikan pisau bermata dua, dimana nilai positif  berada pada fungsinya sebagai sarana untuk berbagi informasi dan pendidikan; namun di sisi yang lain berfungsi sebagai sarana intervensi budaya asing, propaganda politik atau kepentingan bisnis semata. Buku ini mampu menjelaskannya dengan runtut, rapi dan didukung oleh banyak data termasuk di dalamnya adalah sejarah perkembangan teknologi dan model bisnis penyiaran televisi di Indonesia. Hormat dan terimakasih untuk bung Ade Armando.

Adu Panco Presiden

Hah … itu bener video Jokowi dan putranya ??? Setelah foto Boeng Karno yang berkaos dalam dan Gus Dur yang bercelana pendek, baru sekarang muncul lagi presiden yang dengan santai bersarung, tak perlu berjas dasi necis, seolah berpesan akan kerendahan hati. Sambil menggulung lengan kaos dalam putihnya, Presiden menunjukkan lengannya yang langsing kurang berotot, dibandingkan lengan putranya yang begitu gempal terlatih, lalu menepuknya dan berkomentar: ” belum tentu kaya gini ini kuat …” Tawaran adu panco pun (engkol, bahasa Jawa) dilayangkan sang anak ke bapaknya. Menyeruak tanya dalam benak “Apa maksud adegan video pendek ini?”. Pesan moral, sindiran politik, nasihat kesehatan atau teguran buat anak?

Screenshot_20160704-231614Buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell kembali mengingatkan kisah lama tentang si Lemah David melawan si Raksasa Goliath yang kasat mata seharusnya dengan mudah mampu melindasnya. Namun, kita semua sudah mengetahui hasil dari pertandingan ini. David dengan kesabaran, rendah hati dan kecerdikannya mampu mengalahkan Goliath sebagai representasi kesombongan dengan cara melempar batu hingga menjatuhkannya dan membunuhnya. Gladwell menulis dalam bukunya “Giants are not what we think they are. The same qualities that appear to give them strength are often the sources of great weakness”.
“Yang besar belum tentu kuat”, ungkap sang Presiden kepada putranya seolah memberi pesan moral pada kita semua bahwa kekuasaan, kekayaan ataupun kepandaian yang dilandasi kesewenang-wenangan, ketamakan dan kesombongan akan mampu mencelakakan dirinya sendiri. “Yang besar adalah kuat kesabarannya, yang besar adalah kuat keshalehannya“, pesan penutup Presiden dalam video pendek sang putra, Kaesang.
Ataukah ini dimaksudkan sebagai kelanjutan pesan politik Presiden untuk memperingatkan Tiongkok beberapa saat yang lalu saat kunjungan di laut Natuna? Entahlah.

Dee

Screenshot_20160623-143152Begitu banyak novel tulisan Dewi Lestari, yang biasa dipanggil Dee, bertumpuk di berbagai toko buku terkenal itu, tebal dan ada beberapa judul yang berbeda, berseri sepertinya. Kulihat di Semarang, Jakarta, bahkan juga terpajang di toko yang sama, di kota kecil Kediri.

Sudah sangat lama kudengar nama penulis ini, bahkan di rumahku pun tersimpan Perahu Kertas bacaan istri, tapi baru sekarang ingin membaca tulisannya. Madre, novel pendeknya yang terbit 2015, menjadi pilihan buku digital yang kubeli dari Google Playbook. Murah, hanya Rp. 10 ribu saja (hehe seperti iklan rumah, pakai kata saja). Pertimbanganku membelinya, pendek ceritanya sehingga tak terlalu lelah menyelesaikannya apalagi kalau nanti ternyata membosankan ceritanya.

Membeli ebook di Google Playbook selalu ada pilihan Sample yang gratis, hanya beberapa halaman saja atau Buy, yang berarti beli dengan nilai Rupiah tertulis disana. Dari Sample cerpen Madre, terasa nyaman membacanya. Gak punya aku teorinya untuk menilai cerpen ini, namun jelas terasa nyaman, mengalir dan ingin segera menyelesaikannya. Tak terasa halaman Sample habis, dan akhirnya Buy menjadi pilihan supaya bisa membaca sampai akhir tulisan. Tak bosan membacanya.

Ceritanya sederhana, hanya tentang pembuatan adonan roti, yang didukung oleh tiga pemeran utama. Ini penulis yang detail, mengamati bahkan mungkin dia ikut meneliti atau setidaknya rajin membuat catatan, entah tertulis atau dalam kepalanya. Cerdas. Dia bisa menggambarkan proses pembuatan roti sedemikian runtut hingga memberi gambaran aroma roti yang demikian harum. Rinci penuh rasa, tak terkungkung kaidah bahasa. Mencerdaskan.

Screenshot_20160623-143059Selesai dengan Madre, mulai searching tulisan lainnya. Ketemulah kumpulan cerpen Filosofi Kopi, terbit 2012, yang filmnya sudah tayang di cinema 21 bulan lalu namun belum nonton (dimana beli dvdnya?). Pengin juga tahu isinya, maka belilah ebooknya. Lagi, di cerpen pertamanya, dari 18 cerpen dalam buku itu, yang juga berjudul Filosofi Kopi, menampilkan cerita yang rinci tentang kopi. Tetap, mengalir santai, ringan namun tersimpan misi etika di dalamnya yang patut jadi renungan. Hebat.

Di cerpen keduanya Mencari Herman, Dee menulis tentang perjalanan hidup seorang perempuan, Hira, yang mencari seseorang bernama Herman. Unik ceritanya, bahkan tak terduga ada ide cerita semacam ini. Tetap asik membacanya. Masih ada beberapa cerpen lagi di dalamnya yang belum selesai membacanya. Keahlian langka.

Jagong Manten, Solo

Catatan ringan kali ini tentang perjalanan jagong manten (menghadiri pesta perkawinan) di Solo. Tentu wisata kuliner jadi tujuan kedua setelahnya. Sudah terngiang-ngiang cerita tentang nikmatnya gudeg Solo bu Harso yang perlu dibuktikan. Glegh …

Sabtu, 4 Jun 2016

akad nikah

Ki-Ka: bu Tutut, bu Dewi, bu Peni, bu Ari, bu Yudith

Sabtu jam 10 pagi GA-222 mendarat mulus di bandara Adisumarmo, Solo, langsung menuju kediaman orang tua pengantin putri, bapak Hari (adik ipar pak Jokowi), tempat akad nikah berlangsung. Terlambat, hampir selesai. Terlihat menpolkam LBP dan pengusaha TW, juga WT meninggalkan lokasi. Sempat menikmati salad solo, sejenis salad berisikan buncis, wortel, selada, daging sapi dan telor dengan kuah manis berwarna coklat yang disajikan dalam piring makan cekung kecil. Segar.

Jadi ingat cara khas menyajikan hidangan pada acara hajatan di kota-kota kecil di Jawa pada masa lalu, bukan dengan cara prasmanan dan standing party seperti lazimnya di kota-kota besar, melainkan dengan cara membagikan hidangan yang sudah disiapkan dalam piring/gelas untuk masing-masing tamu. Tamu duduk manis di kursi-kusi yang diatur rapi berbaris dan makanan dibagikan berantai dari tangan ke tangan mulau dari ujung barisan kursi. Para pekerja catering membawa baki besar berisikan piring berisi makanan sejenis untuk dibagikan ke para tamu secara serentak. Dulu, sebelum tumbuhnya usaha jasa catering, semua juru masak dan para pramusaji dilakukan oleh anggota keluarga, sahabat dan para tetangga terdekat. Urutan hidangan yang biasa disajikan berturut-turut dimulai dengan segelas minuman hangat dan kue kecil, lalu sup sayur (kentang, wartel, buncis dan daging) atau salad solo, kemudian sepiring nasi rames atau lontong capgomeh dan yang terakhir adalah es puter atau puding.

370998_620

Soto Gading 1, saat pak Jokowi menjamu tamunya beberapa waktu yll.

Setelah bersalaman dengan pengantin dan para orangtuanya, sebagai tanda turut berbahagia, kami pamit undur diri. Langsung menuju Soto Gading 1, Jl. Brigjen Sudiarto No. 75 Gading, Solo. Ini adalah warung soto tempat presiden Jokowi menjamu bu Mega dan pejabat lainnya beberapa waktu yang lalu. Semangkok nasi soto ayam bening dan kecambah di dalamnya dengan ubo rampe (tambahan lauk lainnya  yang biasa disajikan dalam beberapa piring) sate brutu kecap, bakwan udang, tahu goreng dan telor rebus terhidang di atas meja serta es jeruk, terasa wuenakk tenann .. Warung yang siap menampung kurang-lebih 80 orang itu dipenuhi para pelanggannya.

Ke hotel Aston, kami istirahat sejenak untuk menyiapkan diri ke acara pesta pernikahan setelah magrib.

IMG-20160605-WA0001-1

Ki-Ka: bu Moerjati S, Ibunda pak Jokowi, bu Dewi, bu Peni, bu Ari WP

20160604_Gudeg2

Gudeg Bu harso

Setelah melalui antrian yang panjang dan padat untuk bersalaman dengan pengantin dan kedua orang tuanya di atas panggung penuh bunga, kami bercengkerama sejenak dengan beberapa keluarga pengantin dan sahabat sebelum akhirnya undur diri untuk tugas selanjutnya, Gudeg Bu Harso… 😃.

Berada di sebuah bangunan kecil sederhana di
deretan pertokoan jalan dr. Rajiman, Laweyan, 20160604_Gudeg1warung makan bu Harso melayani para tamunya dengan menu andalan gudeg Solo yang bisa disajikan dengan bubur halus atau lontong sesuai selera tamunya masing-masing. Bu Harso sudah wafat, putrinyalah sekarang yang melanjutkan usahanya. Konon, sudah ada dua tempat di Solo yang menyajikan resep masakan bu Harso ini. Berbeda dengan gudeg Yogya yang berisikan sayur nangka, tahu/tempe bacem, 20160604_222928-1sambal goreng tahu/tempe, opor ayam dan kerecek; gudeg Solo berisikan sayur nangka, sambal tumpang pedas, soun cabe hijau dan opor ayam. Karena huenaknya, saya dan om Firdaus Ali sempat habisin dua piring. Masih ditempat yang sama, kami mencoba ketan yang ditaburi bubuk kedelai di satu sisi dan dengan taburan kelapa dn gula merah di sisi lainnya yang disajikan diatas daun pisang.. terakhir, kami mencoba Cabuk

Cabuk Rambak

Cabuk Rambak -Bu Harso

Rambak, yaitu lontong/ketupat bertabur parutan daging kelapa dan wijen yang terasa gurih dan dimakan dengan kerupuk rambak, yaitu kerupuk yang berbahan dasar karak/nasi. Juga disajikan di atas daun pisang. Gak salah rekomendasinya om Dimas Wahab, memang luezzaattt masakan Bu Harso.

Dari bubur gudeg, kami ber 15 digiring mbak Tutut ke warung tenda susu murni SHI Jack, yang menyajikan minuman susu dengan berbagai variannya, seperti coklat, jahe, madu dan telor. Bermacam kue basah terhampar di

atas meja panjang, termasuk juga ‘nasi kucing’.

20160604_230648

Susu murni SHI Jack

Semuanya dengan harga lokal yang sangat murah. Terlihat para paspampres dengan jeep mercy nya juga menikmati susu di warung ini, setelah mengawal Presidennya di acara resepsi pernikahan di atas. Masuk hotel dengan perut terasa super penuh. Puas dan tidur nyenyak.

Minggu, 5 Juni 2016
Pagi itu kami berharap bisa nenikmati sarapan pecel, sayangnya tutup. Berbeloklah kami ke soto daging (orang Jawa biasa menyebut daging sapi dengan daging saja) Tri Windu. Cukup sedap, sayangnya ubo rampe sudah habis semua. Batal  menikmati sate kambing Bejo yang katanya kegemaran pak Jokowi, kami lanjut nyate kambing pak Min yang tak jauh dari soto Tri Windu, menyajikan sate kambing, sate buntel (daging kambing cincang), gulai rebus/goreng. Sambil mendengarkan penjelasan dari om Dimas W. tentang INCOS (Indonesia Collecting Society) dan HaKI, kami menikmati sate kambing dll.tanpa nasi, karena perut sudah terisi soto. Cukup nikmat dan saya lebih menyukai sate kambingnya yang empuk tanpa lemak.

Selesai nyate, kami meluncur ke toko roti Orion di Jln. Urip Sumoharjo No. 80,  yang terkenal dengan roti lapis Mandarin, dan ramai dikunjungi para pemburu oleh-oleh penganan.. Dua dus roti lapis Mandarin Spesial jadi pilihan saya.Kardus pembungkus oleh-oleh yang rapi dan aman juga telah disiapkan oleh toko Orion untuk perjalanan darat maupun udara.

Sambil menunggu boarding GA-227 jam 14:00 menuju Jakarta, mbak Tutut masih juga menawari kami cemilan pisang goreng manis, singkong oven non-kolesterol dan serabi solo. Ampunnn mbak, super kenyang 😃.

Maturnuwun mas BKS, om Dimas dan om Firdaus Ali beserta ibu-ibu, yang sudah mentraktir saya dan istri wisata kuliner ke Solo.

Castells - OutrageBuku Manuel Castells yang pertama saya baca adalah Communication Power, merupakan buku pemberian kawan yang telah selesai menjalani kuliah S3 Komunikasi Politik di Unpad, Bandung. Buku yang terbit di tahun 2009 tersebut bisa dianggap sebagai pemikiran Castells tentang bagaimana komunikasi politik gerakan sosial jaringan beroperasi di era digital ini. Berbeda dengan The Net Delusion, karya Evgeny Morozov, yang lebih cenderung negatif terhadap Internet dalam kaitan perubahan sosial, maka Castells berpendapat sebaliknya.

NETWORKS OF OUTRAGE AND HOPE adalah buku Castells berikutnya 2012 (pemberian sahabat saya, Fadjroel Rachman, nuhun), setelah protes sosial menjamur di berbagai negara dengan peran sosial media yang sangat signifikan untuk tercapainya tujuan gerakan sosial politik. Catatan tentang penyebab gerakan sosial, yang kemudian berkembang menjadi viral yang semakin besar dan bahkan hingga berakhir pada keruntuhan kekuasaan, tercatat rinci dan runtut di dalamnya. Gerakan protes sosial jaringan yang terjadi di Afrika, Arab (Arab spring), Spanyol  Amerika Selatan juga Amerika Utara adalah contoh kasus yang dibahas Castells dalam buku ini.

Ada dua bagian besar pembahasan dalam buku ini, yaitu pertama tentang gerakan sosial jaringan di berbagai negara yang telah berhasil mengubah kebijakan, bahkan meruntuhkan penguasa tiran; dan yang kedua adalah opini dan analisis Castells tentang keterkaitan antara gerakan sosial dengan perubahan politik berdasar gerakan sosial jaringan.

Dalam Kata Pengantarnya, Castells beranggapan bahwa dirinya berhasil membuat hipotesa-hipotesa keterkaitan antara gerakan sosial jaringan dengan perubahan politik; juga, menawarkan konsepsi tentang perbedaan fundamental antara gerakan sosial jaringan dengan gerakan populis, di tengah berbagai perbedaan ideologi yang ada, yang dipicu krisis legitimasi politik dalam situasi krisis dan perubahan berbagai aspek di tingkat global.

Pendahuluan
‘Kegelapan’ adalah istilah pesimisme Castells untuk menggambarkan kondisi sosial global saat ini yang sedang mengalami tekanan ekonomi, korupsi, ketidakadilan, keterasingan, kesewenang-wenangan, dan ketakberdayaan manusia, yang memicu merosotnya ‘trust‘, sebagai modal dan perekat sosial, hingga menyebabkan kontrak sosial semakin longgar dan berujung pada sikap masyarakat yang bergerak ke arah kepentingan individual untuk melindungi dirinya sendiri, bertahan hidup.  Kondisi seperti inilah yang menyebabkan media sosial berbasis Internet menjadi eksis sebagai ruang bersama yang leluasa untuk berkeluhkesah dan berfungsi untuk ‘connecting the dots‘, bukan hanya ‘point to point‘ bahkan ‘many to many‘ dengan otonomi yang dibatasi oleh kemampuan teknologi, dan di luar batas jangkauan regulasi pemerintahan.

Dalam ruang publik internet yang demikian bebas, masyarakat bisa terhubung untuk saling berbagi duka dan harapan hingga terbentuklah jaringan sosial yang tak lagi memperdulikan latarbelakang masing-masing, hanya dilandasi tujuan yang sama yaitu kehidupan universal yang lebih baik. Bila di dunia maya jaringan itu terbentuk, maka pada akhirnya ruang publik di dunia nyata menjadi tempat berkumpul sebagai awal runtuhnya ketakutan dan sekaligusnya munculnya keberanian untuk berbagi, diskusi dan bersikap terhadap pelanggaran demokrasi yang dilakukan para pejabat publik, secara bersama-sama dalam ruang-ruang publik di dunia nyata.

 

Dalam buku ini, Castell bermaksud untuk menawarkan pemikiran, berdasar pengamatan dan analisisnya, tentang gerakan sosial jaringan. Analisis ini juga didasarkan pada teori kekuasaan, dalam bukunya Communication Power (2009), yang menjadi latarbelakang pengetahuan untuk memahami gerakan-gerakan sosial yang disampaikan pada bab-bab awal di buku ini, yang berangkat dari premis bahwa relasi-relasi kekuasaan ini sangat menentukan di masyarakat karena telah membangun institusi-institusi berdasar nilai-nilai dan kepentingan mereka.

Teori komunikasi Castell mengatakan bahwa manusia membangun makna melalui interaksi dengan lingkungan alaminya dan lingkungan sosialnya. Jaringan-jaringan ini bekerja karena aksi komunikasi, yang sebetulnya adalah proses berbagi makna melalui pertukaran informasi. Dalam kerangka yang lebih luas, kunci utama pembentukan makna sosial adalah proses komunikasi yang tersosialisasikan, yang berada di ranah publik, di luar komunikasi interpersonal.

Nah, transformasi teknologi komunikasi yang sedang berlangsung di era digital ini semakin luas jangkauan komunikasinya hingga ke semua domain kehidupan sosial dalam sebuah jaringan, yang terjadi sekaligus dalam waktu yang sama, baik global maupun lokal, umum atau khusus, dengan pola yang terus berubah. Ada suatu ciri umum dalam setiap proses konstruksi pembangunan makna, yaitu adanya ketergantungan yang tinggi terhadap pesan dan kerangka yang dibuat, diformat dan disebarkan dalam jaringan komunikasi multimedia.

Meskipun setiap individu membangun makna dan istilah sendiri yang unik dalam menafsirkan bahan yang dikomunikasikan, proses ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan komunikasi. Dengan demikian, transformasi lingkungan komunikasi akan mempengaruhi konstruksi makna, dan disitulah terjadi relasi kekuasaan.

Konsep mass self-communication, yang sebelumnya muncul di Communication Power (2009) kembali diingatkan Castell dalam buku ini, merupakan hasil perubahan mendasar dalam ranah komunikasi, dimana internet dan jaringan nirkabel menjadi pijakan dalam era komunikasi digital. Disebut mass communication karena mengolah pesan dan menyebarkannya secara many to many, dan potensial semakin membesar jumlah penerimanya, juga semakin meluas jangkauan jaringannya seolah tak berujung hingga seluruh dunia. Disebut self- communication, karena penulisan pesan dan pemilihan penerimanya ditentukan secara otonom, bahkan pengambilan pesan dari jaringan komunikasipun juga bisa dipilih secara bebas sesuai keinginan anggota jaringan. Mass self-communication ini didasarkan pada komunikasi interaktif dari jaringan horizontal, yang secars umum sulit dikontrol olh pemerintah atau korporasi.

Dukungan teknologi untuk keperluan Mass self-communication banyak tersedia sehingga otonomi aktor sosial, baik secara induvidual ataupun kolektif bisa tetap aman. Akibat lebih lanjut adalah munculnya kekhawatiran pemerintah terhadap internet, karena sulitnya melakukan pengawasan, sebaliknya justru menjadi peluang bisnis bagi para internet provider dengan cara menjual akses internet untuk para penggunanya berbasis jumlah byte yang bisa diunggah/diunduh atau berbasis waktu penggunaan internet, dll.

Berbagai jaringan kekuatan yang berbeda-beda domain juga akan saling berhubungan dan membentuk jaringan kekuatan baru. Global financial networks dan global multimedia networks sangatlah berkaitan hingga membentuk meta-network dan merupakan kekuatan yang sangat menentukan, meskipun kekuatan inipun masih bergantung pada jaringan-jaringan lainnya, seperti jaringan politik, jaringan budaya, jaringan militer, jaringan kriminal global, dan jaringan global yang menentukan produksi dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan manajemen pengetahuan. Jaringan-jaringan ini tidak bergabung menjadi satu jaringan permanen, melainkan bekerjasama dalam kemitraan strategis dengan membentuk jaringan ad-hoc untuk kepentingan tertentu.  Mereka berbagi kepentingan yang sama, yaitu untuk mengkontrol pembangunan aturan-aturan dan norma-norma masyarakat melalui sistem politik dengan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai mereka. Inilah sebabnya mengapa jaringan kekuatan yang dibangun di sekitar pemerintahan dan sistem politik memainkan peran utama dalam semua jaringan kekuatan.

Bagaimanakah cara jaringan-jaringan kekuatan saling terhubung, sambil tetap menjaga lingkup aksi mereka? Castells berpendapat bahwa mereka melakukannya dengan mekanisme penyusunan kekuatan dalam masyarakat jaringan, yaitu ‘switching power‘. Ini merupakan kemampuan untuk menghubungkan dua atau jaringan yang berbeda dalam proses pembentukan kekuatan masing-masing di wilayahnya masing-masing. Jadi,  siapa sebetulnya pemegang kekuasaan dalam masyarakat jaringan? Para ‘programmer‘lah yang punya kapasitas untuk memprogram masing-masing jaringan utama, seperti pemerintah, parlemen, militer, media, instansi keuangan, teknologi, dll. dan switcher yang mengoperasikan berbagai relasi antar jaringan yang berbeda.

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan sosial adalah pengunggah nilai-nilai dan cita-cita baru, dimana institusi-institusi bertransformasi berdasar nilai-nilai keutamaan dengan membangun norma-norma baru untuk kehidupan sosial yang lebih baik. Gerakan-gerakan sosial terus memperbaiki diri untuk berhadapan dengan kekuasaan hingga mampu menguasai komunikasi sosial jaringan internet nirkabel secara otonom, bebas dari kekuasaan institusi resmi pemerintah atau korporasi.
Hal penting yang perlu mendapat perhatian khusus adalah adanya wilayah publik baru, yaitu wilayah jaringan antara wiayah digital dengan wilayah urban, yang merupakan wilayah komunikasi otonom. Otonomi komunikasi adalah esensi gerakan sosial, dengan tujuan inilah gerakan sosial dibentuk sehingga kegiatan gerakan bisa menjangkau masyarakat lebih dalam, yang jauh dari jangkauan pemangku kekuasaan melalui kekuatan komunikasi.
Pada tataran individu, gerakan sosial merupakan gerakan emosi. Pemberontakan tidak dimulai dengan program atau strategi politik. Mungkin saja akan muncul pada akhirnya, setelah adanya kepemimpinan, baik dari salam ataupun dari luar gerakan, untuk mengarahkan pada agenda-agenda politik, ideologi atau bahkan agenda personal yang bisa jadi berhubungan atau tidak berhubungan dengan cita-cita atau motivasi awal pergerakan. Yang jelas, agenda besarnya adalah transformasi dari dari gerakan emosi ke aksi yang lebih tertata dan terencana. Namun demikian, untuk bisa menjadi gerakan sosial, aktifasi emosi individu-individu mesti terkoneksi dengan individu-individu lainnya. Hal in membutuhkan proses komunikasi yang mensyaratkan adanya dua hal: ke-saling paham-an permasalahan antara pengirim dan penerima pesan, serta jalur komunikasi yang efektif.
Sejarah menunjukkan bahwa gerakan sosial selama ini didasarkan pada adanya mekanisme komunikasi khusus, seperti rumor, pamflet, manifesto, yang tersebar melalui media massa atau dari ‘mulut ke mulut’ atau oleh media komunikasi apapun yang tersedia. Saat ini, jaringan digital komunikasi horizontal merupakan sarana tercepat, paling otonom, interaktif, dan bebas sesuai kemauan personal. Karakter proses komunikasi antara individu yang terhubung dalam gerakan sosial akan menentukan karakter organisasi gerakan sosial itu sendiri. Semakin interaktif dan dengan konfigurasi yang bebas, maka semakin longgar juga hirarki organisai dan semakin banyak partisipasi dalam gerakan. Itulah sebabnya, gerakan sosial jaringan pada era digital menjadi represantasi spesies gerakan sosial baru.
Gerakan Sosial Jaringan sebaga Sebuah Kecenderungan
arab springBila Arab spring disebabkan oleh kekuasaan diktator yang akut; kekacauan politik di Eropa dan AS yang disebabkan krisis finansial; lalu mengapa Brazil, Turki dan Chili yang relatif aman dari krisis demokrasi dan finansial juga mengalami krisis politik? Jelas disini bahwa othoritarian, kemiskinan dan krisis finansial bukanlah syarat utama munculnya gerakan sosial di beberapa negara lain.
Ada dua faktor penyebab lain yang turut menyebabkan munculnya gerakan sosial masif, yaitu:
  1. Krisis fundamental legitimasi sistem politik (korupsi, interaksi, dll.)
  2. Otonomi komunikasi berbasis internet atau nirkabel
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan (menjadi presiden 2014), pernah menyatakan bahwa “Twitter is the enemy of the people”.
Castells meyakini bahwa dalam kondisi sosial yang represif, para individu pengguna media sosial yang saling terkoneksi dan tersebar di seluruh penjuru jaringan nirkabel akan mulai terbangun rasa pemberontakan, yang dalam beberapa kultur masyarakat, akan memberikan bentuk respon politik atau gerakan sosial yang berbeda. Dengan kata lain, bibit gerakan sosial akan semakin dewasa dalam lingkugan komunikasi yang otonom, walaupun revolusi sosial tidak mesti terjadi dalam setiap masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan-gerakan sosial telah dan masih akan menjadi agen perubahan sosial,  yang biasanya dimulai dari krisis kondisi kesejahteraan yang menyebabkan kehidupan sehari-hari terasa sangat tak berarti. Ketidak percayaan terhadap institusi politik dalam mengatur kepentingan rakyatnya,  yaitu kombinasi antara degradasi kondisi kehidupan material dengan krisis legitimasi para pembuat kebijakan publik.
Internet Dan Kultur Otonomi
Karena manusia hanya bisa menghadapi dominasi melalui: komunikasi dengan lainnya, rasa kebersamaan, membangun usaha-usah alternatif untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat yang lebih luas; maka perlu adanya jaringan komunikasi interaktif, yang dalam skala lebih luas, diperlukan komunikasi horizontal berbasis internet dan jaringan nirkabel sebagai alat penting untuk mobilisasi, organisasi, deliberasi, koordinasi dan pengambilan keputusan.
Jadi, aktifitas terpenting dari Internet adalah tempat berjejaring (social networking sites, SNS), an SNS merupakan platform untuk berbagai aktifitas, tidak hanya untuk keperluan pertemanan atau chatting, namun juga marketing, e-commerce, pendidikan, kreatifitas budaya, distribusi media dan hiburan, aplikasi kesehatan, dll. dan tentu juga untuk aktifitas sosial-politik. SNS menjadi wilayah kehidupan yang menghubungkan individu dengan latarbelakang yang bervariasi. Kecenderungan masyarakat di era digital, yang bertransformasi menjadi ‘culture of sharing’.
Kunci keberhasilan dari SNS adalah kehadiran (self-presentation) sebagai dirinya sendiri yang terhubung dengan lainnya. Orang membangun jaringan dengan maksud dapat bergabung bersama yang lain seperti yang diinginkannya, termasuk di dalamnya adalah pihak-pihak dalam kriteria pemahaman masalah yang sama atau setidaknya ingin mengetehaui persoalan yang sama. Ini adalah masyarakat jaringan berkepentingan sama. Ini bukan masyarkat yang sepenuhnya virtual, melainkan bisa jadi ini jaringan yang nyata. Dalam era internet, batas antara virtual dan nyata sangatlah tipis. Dalam gerakan sosial jaringan inilah masyarakat berbagi kekesalan, harapan dan perjuangan. Studi juga menunjukkan bahwa penggunaan Internet mampu meningkatkan perasaan aman dan merdeka, juga bernilai positif bagi mereka yang berpendapatan rendah, tersingkirkan, yang umumnya berada di negara sedang berkembang.
Keberlanjutan Gerakan Sosial berbasis Internet
Alat ukur kesuksesan sebuah gerakan sosial adalah dampak langsung yang dirasakan oleh para pendukungnya dan realisasi transformasi sosial yang diinginkannya. Namun melihat eksistensi gerakan sosial jaringan yang terus bergerak naik-turun atau memudar bahkan berubah dari bentuknya yang sekarang, juga mengingat beberapa aktornya akan bertransformasi menjadi politikus atau menjelma menjadi partai politik, maka terlalu awal untuk mempertanyakan relevansi hasil yang optimal dari gerakan ini, walaupun telah diketahui bahwa rejim telah berganti, banyak institusi mulai diperbaiki dan finansial global yang kapitalistikpun mulai dipertanyakan.
Warisan dari sebuah aksi gerakan sosial dapat dilihat dari perubahan kultural yang dihasilkannya. Karena gerakan didasari oleh ketidakpuasan kehidupan personal atau sosial, maka sudah seharusnya ada hasil perubahan pada institusinya. Perubahan pasti terjadi, walaupun sering juga sejarah menunjukkan arah perubahan tidak seperti yang diharapkan sebelumnya. Dengan demikian, harapan dari gerakan sosial jaringan akan terjadinya perubahan masih harus terus diperjuangkan. Demokrasi, dalam bentuk barunya.
Gerakan sosial jaringan merupakan bentuk baru gerakan demokratis, yang melakukan rekonstruksi kehidupan publik dalam wilayah otonomi yang dibangun oleh adanya interaksi antara berbagai wilayah lokal dan jaringan-jaringan Internet, merupakan gerakan yang didasari oleh upaya pengambilan keputusan yang berkeadilan dan saling-percaya sebagai dasar hubungan antar manusia. Warisan gerakan sosial jaringan diharapkan akan meningkatkan kemungkinan untuk terus belajar hidup bersama yang lebih baik, dalam kultur demokrasi yang sebenarnya.
Kritik
Hampir 75% isi buku ini lebih banyak mengalisis gerakan sosial yang terjadi Timur Tengah, Amerika Latin, Turki dan Eropa Barat, dan sebagai basis teori komunikasi, banyak copy-paste dari buku Communication Power. Cukup membantu pemahaman terhadap konsep gerakan sosial jaringan.
%d blogger menyukai ini: