Feeds:
Tulisan
Komentar

Balikpapan 2016-2017

2016_1231_13500100

Batu Dayak

Terminal 3 Bandara Soetta
Resto Tjap Toean, dari namanya bermaksud menjelaskan kalau resto ini masakan peranakan, tempat kami mampir sarapan di Terminal 3 bandara Soetta sebelum penerbangan ke Balikpapan GA566 pagi itu. Bubur ayam (aroma kwang tung, rasa biasa), cakwe isi ikan (uenak), prata (enak) dan pisang goreng keju (biasa) adalah menu utama kami plus teh tawar panas dan dua es kopi tarik (enak). Jam 10.50 boarding yang seharusnya melalui Gate 16, dipindah ke Gate 12. Hemmm … Masih penyakit lama bandara Soetta.
Tepat 11.10 wib, GA566 melaju di taxi way siap mengudara menuju Balikpapan, yang kira-kira membutuhkan 2 jam penerbangan. Bandara modern Sipinggan bagus, bersih, terang dan terkesan lengang. Toilet bersih. Banyak ruang kosong. Mudah untuk menemukan loket layanan taksi bandara.
Aston hotel
Menjelang akhir tahun 2016, hotel Aston Balikpapan di jalan Jend. Sudirman fully booked. Untung sudah booking lama sebelumnya. Lobby sempit dan ramai tamu antri untuk checkinSuite room dengan dua kamar cukup lega utk kami bertiga. Bapak, ibu dan anak satu.
Resto kepiting Dandito
imagesSetelah magrib kami makan di resto Dandito, yang terkenal dengan menu kepitingnya. Karena taxi tak banyak berkeliling, maka wisatawan disarankan untuk sewa mobil dari hotel atau pergunakan taxi sampai selesai makan. Alhamdulillah hujan deras sehingga udara sejuk dalam ruangan yang tidak berpendingin, namun kipas tetap berputar di langit-langit.
Kepiting telor saus Dandito, kapiting lada hitam dan kangkung cah menjadi pilihan makan malam kami. Wuih .. telor kepiting berlimpah dan saus Dandito memang suedapp .. Sayang, kepiting kurang besar … lagi gak musim???
Cafe Delicia
img-20170102-wa0000Pagi berikutnya, dengan menggunakan mobil rental Avanza seharga Rp. 400 ribu dari jam 11 hingga sore hari, kami mencoba masakan Latin di resto Delicia, jalan MT. Haryono. Resto kecil berdinding depan dari kaca bening dengan tempat duduk panjang berwarna merah menempel pada salah satu dindingnya yang berwarna putih, berasesoris foto-foto buah dan minuman berlatar-belakang pantai putih bersih dan laut biru, serta kursi-kursi metalic minimalis di seberang meja, memberi kesan lega, terang dan resik. Bar panjang di ujung ruangan dengan lampu gantung kuning di atasnya terasa santai tenang, cocok untuk ngobrol.
see_this_instagram_photo_by_deliciacafebpn_%e2%80%a2_26_likes__Menu penggoda saat itu, Burittos De Pollo berukuran besar dengan roti pembungkus tipis putih  halus, berisi daging ayam, sayuran dan saos di dalamnya serta sedikit olesan saos sambal di kulit luar terasa lezat, lalu Quesadilla, sejenis roti tipis bundar seukuran piring berisi ayam, keju, bawang bombay dan sedikit jagung. Strogonoff De Frango, menu asing berupa nasi disajikan dengan kentang goreng, ayam, jamur dan kacang merah menggunakan saus Delicia. Sedap … Layak coba. Untuk minuman, tidak terlihat adanya menu yang asing. Mujito dan lechee tea jadi pilihan kami. Di Jakarta kami belum menemukan resto masakan Amerika Latin yang lezat seperti ini. Ada yang tahu?
Pasar Sayur
20170102_004454Selesai makan, lanjut menuju Pasar Sayur yang terkenal menjual banyak cendera-mata khas Kaltim yang bisa ditawar, seperti kalung, gelang atau tas berbahan manik-manik batu hias. Kain batik lokal juga tersedia. Tak lupa, makanan khas Balikpapan berbahan dasar ikan dan kepiting banyak dijual disini, seperti kerupuk tenggiri mentah, kemplang (kerupuk ikan matang), abon ikan, rempeyek kepiting dll. Oleh-oleh siap sudah terbungkus kardus. Kembali ke hotel, mampir untuk reserve makan malam di Oceans resto.
Oceans Resto

2016_1231_17065600Ini resto seafood terbesar dan terkenal di Balikpapan dan banyak direkomendasikan oleh jaringan wisata di internet. Lokasi di jalan Sudirman

2016_1231_17231800

Senja 31 Desember 2016

pinggir pantai dengan panggung dan pagar kayu bersih rapi di atas laut. Untuk penggemar fotografi, ini lokasi yang tepat untuk ambil gambar sunset. Kami sudah siap di meja sejak 17.45 sambil jeprat-jepret, foto. Karena saat itu 31 Desember 2016, maka seluruh meja sudah fully booked, untung kami sudah reserve tempat dan menu siang sebelumnya.
Kepiting besar lada hitam, lobster besar yang sudah dikupas bersaus mentega, sayur cah kangkung dan roti prata adalah menu makan malam menjelang pergantian tahun kami, dilengkapi minuman kelapa muda utuh segar. Super sekali … highly recommended. Sayang, laut di bawah panggung banyak sampah.
Pesta New Year 2017
2016_1231_19290900Jam 19.15 pulang ke hotel karena ada undangan pesta Malam Tahun Baru 2017 di taman hotel Aston, pinggir pantai. Alhamdulillah, melalui quiz, kami 2016_1231_19303500dapat hadiah voucher tinggal di sebuah hotel di Surabaya. Setelah beberapa lagu dimainkan band dari Surabaya, kami kembali ke kamar. Ada yang lucu dari penyanyi perempuan band tersebut. Dengan kostum terbuka di bagian atas punggungnya, terlihatlah bekas bekam disana. Kasihan, masuk angin rupanya mbak penyanyi itu. Tetap semangat jemput rejeki mbak …
EWalk Mall
imagesSatu hari sisa di Balikpapan kami gunakan ngintip Ewalk Mall, swkaligus cari makan siang. Ruameee … tahun baru mungkin ya .. makan di resto Jinten yang menyajikan masakan-masakan daerah. Gudeg komplit dan soto bening kurang cocok dengan lidah kami. Yang mengecewakan, pesanan nasi goreng tidak pernah muncul. Tanpa alasan.
Mampir sebentar ngopi di Starbuck. Nah, bagi yang biasa tanpa gula, coffee latte disini standarnya pakai sirop (manis). So, kalau mau tanpa gula, perlu pastikan ke barista lebih dahulu untuk tidak ditambahkan sirop.
Pulang ke hotel mampir ke toko makanan Sibayak, banyak direkomendasikan sebagai tempat belanja oleh-oleh makanan khas Kaltim (kemplang, abon kepiting dan rempeyek kepiting). Satu dos siap terangkut.
Bandara Sepinggan
img-20170102-wa0001

Checkin Garuda

GA567 siap menerbangkan kami pulang ke Jakarta jam 13.05 WITA dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Bandara bersih, dinding kaca tembus cahaya, terang dan bersih. Loket checkin banyak dan rapih teratur. Setiap kali menanyakan informasi ke petugas yang lewat, dijawab dengan ramah dan sopan. Salut untuk Angkasa Pura I. Cafe dan kios cenderamata cukup banyak tersedia, termasuk Starbuck dan Old Town cafe. Bahkan resto masakan Padang pun juga tersedia. Lounge Garuda di lantai 2, terkesan mewah, lega, banyak sofa, juga banyak downlamp dan portable ac. Makanan, seperti biasa, minimalis 😂.

images

Masyarakat Kolektif

Catatan penting tulisan Michael A. Witt, Professor dari Asian Business & Management, INSEAD di majalah digital Forbes 6 Maret 2012, bisa menjadi panduan untuk memulai membangun kemitraan dalam lingkungan budaya China di negerinya. Pengalaman bernegosiasi dengan beberapa pengusaha asal  China yang berdomisili di luar  negeripun juga menunjukkan kultur yang tidak jauh beda.

  1. Investor perlu ‘blusukan’ di kota-kota pinggiran China utk dpt info holistik ttg budaya masy. China, bila mengharapkan bisa berbisnis disana.
  2. Perlu melakukan analisis keunggulan kompetitif dan tidak terjebak pada nafsu pertumbuhan pasar sendiri
  3. Perlu kesabaran dan tidak terburu-buru dalam memulai operasi dengan mengenali relasi lebih dalam sebelum membuat keputusan kemitraan
  4. Masyarakat China adalah masyarakat kolektif, meskipun akan bersikap individualis thd kelompok yang berbeda, shg sikap kooperatif akan sulit dicapai. Win-win solutions bukanlah karakter mereka sehingga kecenderungan re-open negotiation sering terjadi pada saat dealing sudah hampir berhasil, karena dianggap tidak cukup keras bernegosiasi (terlalu berkompromi).
  5. Ada dua cara membangun trust, yaitu berikanlah trust hingga terbukti tidak dapat dipercaya, atau buktikan dulu hingga layak dipercaya. Kultur bisnis China sepertinya mengikuti cara yang kedua. Konsekuensi dari karakter seperti ini, ditambah dengan sifat individualis (diluar groupnya) dan sistem legal China yang kurang imparsial, menyebabkan sikap oportunistik, sehingga berakibat sulitnya membuat kontrak bisnis. Mekanisme sejenis cash on delivery sering menjadi jalan keluar.
  6. Untuk menghadapi karakter oportunistik, perlu dibangun kepercayaan personal terhadap relasi bisnis yang membutuhkan waktu lama, sehingga sikap tergesa-gesa akan sangat berresiko. Makan malam dengan minuman beralkohol adalah cara termudah yang biasa dilakukan dalam budaya bisnis China, namun perlu kecerdikan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol yang ditawarkan, sehingga bisa tetap fokus dalam membangun hubungan.
  7. Batas-batas negosiasi seringkali tidak jelas dan kekuasaan politik bisa menjadi parameter yang sangat menentukan.
  8. Kultur masyarakat China adalah hirarkis, keputusan penting akan dilakukan secara top-down, maka perlu memahami posisi hirarki relasi bisnis saat sedang bernegosiasi karena otoritas pengambil keputusan berada pada puncak tertinggi. Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi formal, usia dan pendidikan dari lawan negosiasi.
  9. Sistem pemerintahan komunis China adalah desentralisasi, sehingga apapun yang diperintahkan pemerintah pusat untuk dilakukan pemerintah daerah, pasti akan dikerjakan. Namun demikian, dealing bisnis dengan pemerintah pusat untuk pekerjaan di daerah, tanpa melakukan dealing dengan pemerintah daerah, pasti akan bermasalah.
  10. Perlu difahami bahwa kondisi ekonomi China yang sedang bagus dan ambisi pemerintah untuk terus memacu BUMN hingga berprestasi dan menguntungkan, akan menjadi pesaing berat perusahaan swasta, untuk itu perlu berhati-hati menentukan pasar. Kerjasama saling menguntungkan masih mungkin terjadi bila tekonologi anda memang sangat dibutuhkan oleh pemerintah China.

Ref.: The Ten Principles For Doing Business In China

images

Perdebatan di media massa tentang masalah hukum terhadap kriminalisasi kebijakan direksi BUMN yang dianggap beberapa pihak telah merugikan negara, masih sering terjadi, bahkan menyebabkan banyak diantaranya yang tak berani melakukan terobosan dalam membuat kebijakan bisnis. Buku ini sangat mencerdaskan karena penjelasannya yang lengkap dan rinci, baik dari sisi hukum maupun praktek manajemen BUMN dimana penulis sangat menguasai keduanya. Berikut ini adalah catatan singkat berupa suntingan dan/atau kutipan dari buku “Dilema BUMN“, yang ditulis oleh Prasetio (Dirut. Peruri sejak 2012) dan diterbitkan tahun 2014.

Buku ini merupakan bentuk lebih ringan dari disertasi doktoral penulis di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan judul “Penerapan Business Judgment Rule dalam Restrukturisasi Transaksi Komersial PT (Persero) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas”.

Keberanian penulis mengangkat isu Business Judgment Rule (BJR) yang berpotensi menjadi kontroversial ini patut diacungi jempol, terutama dikaitkan dengan proteksi terhadap direksi ketika menjalankan tanggungjawabnya dalam pengambilan keputusan dan dihadapkan pada tuntutan hukum di kemudian hari akibat terjadinya kerugian. Dengan menggali dan mengetengahkan pentingnya BJR, dimungkinkan muncul interpretasi bahwa penulis sedang berusaha “membela” para koruptor di lingkungan perusahaan, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang selama ini sering dipersonifikasikan oleh para pimpinan BUMN sebagai penanggung jawab utama. Bisa jadi ada kecurigaan bahwa doktrin ini nantinya akan digunakan untuk menutupi tindakan-tindakan salah yang dijalankannya dalam memimpin perusahaan.

Dari kajian hukum terhadap perundang-undangan yang berlaku, penulis beranggapan bahwa kerugian persero atau corporate loss yang diakibatkan dari penerapan doktrin BJR tidak merupakan kerugian negara, tetapi merupakan kerugian perusahaan yang lazim disebut risiko bisnis. Ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan saat inilah yang menimbulkan ketidakpastian hukum dan risiko bagi para direksi persero untuk mengambil keputusan bisnis mengingat dalam praktiknya doktrin BJR telah diabaikan.

Dari kajian ilmiahnya, penulis juga meyakini bahwa BJR telah diberlakukan semestinya, jika direksi telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan hati-hati untuk kepentingan perseroan semua, serta sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Selanjutnya, dalam pengambilan keputusan dapat dibuktikan bahwa ia tidak mempunyai benturan kepentingan. Di samping itu, direktur juga diyakini telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.

Dengan kata lain, doktrin BJR otomatis gugur apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Apabila perusahaan mengalami kerugian yang diakibatkan oleh fraud atau penggelapan uang perseroan atau BUMN oleh direksi, tentu saja proteksi yang diberikan BJR gugur dengan sendirinya. Dan, apabila ini yang terjadi, hukum dan undang-undang sudah mengatur bahwa ini akan masuk ke ranah hukum pidana. Aparat hukum seperti pihak kepolisian yang masuk menanganinya, sebab ini termasuk tindak pidana umum, bukan tindak pidana korupsi. Oleh karenanya, menjadi tidak relevan untuk mengatakan bahwa penerapan BJR merupakan suatu sikap yang pro koruptor. Justru dengan penerapan BJR, tercermin adanya keharusan untuk menegakkan good corporate governance (GCG), karena hal itu merupakan prasyarat dari dapat diterapkannya doktrin BJR.

Sejarah BUMN
Secara politik-ekonomi, pendirian BUMN di Indonesia dapat disederhanakan dengan mengemukakan tiga alasan pokok, yaitu:

Pertama, sebagai wadah bisnis aset yang dinasionalisasi. Alasan ini terjadi di tahun 1950-an ketika pemerintah menasionalisi perusahaan-perusahaan asing. Peristiwanya dimulai pada 1957, ketika Kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh disertai krisis ekonomi yang parah. Kejatuhan kabinet ini seakan memperkuat sinyal bahwa pemerintahan Parlementer akan membawa Indonesia ke dalam keterpurukan.

Kedua, membangun industri yang diperlukan masyarakat, tetapi mayarakat sendiri (atau swasta) tidak mampu memasukinya, baik karena alasan investasi yang sangat besar maupun risiko usaha yang sangat besar. Pada pertengahan tahun 1960-an, pemerintah mulai mendirikan pabrik-pabrik pupuk urea, mulai di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Aceh. Pemerintah mengambil-alih Indosat sebagai home base pemilikan dan pengelolaan Satelit Palapa. Pemerintah juga mendirikan industri-industri kelistrikan sebagai bahan bakar energi nasional. Selain itu,

Ketiga, membangun industri yang sangat strategis karena berkenaan dengan keamanan negara. Oleh karena itu, pemerintah membangun industri persenjataan (Pindad), bahan peledak (Dahana), pencetakan uang (Peruri), hingga pengelolan stok pangan (Bulog).

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969, sebagai pengganti Perpu Nomor 1 Tahun 1969, mengelompokkan BUMN menjadi tiga bentuk, yaitu Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum), dan Perusahaan Perseroan (Persero). Selain itu, ada lagi bentuk BUMN yang diatur secara khusus dengan undang-undang tersendiri yaitu bank-bank milik pemerintah dan Pertamina.

Dalam praktiknya, bidang usaha BUMN dibedakan antara public utilities (telekomunikasi, listrik, gas, kereta dan penerbangan), industri vital strategis (minyak, batu bara, besi baja, perkapalan, dan otomotif), dan bisnis. Pada saat ini bentuk BUMN dibedakan menjadi dua, yaitu Perusahaan Persero dan Perusahaan Umum (Perum).

Jika mengacu kepada ketentuan Pasal 2 UU BUMN, tujuan pendirian BUMN adalah sebagai berikut:

  • memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan perekonomian negara pada khususnya. BUMN diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat sekaligus memberikan kontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan membantu penerimaan keuangan negara.
  • mengejar keuntungan. Meskipun maksud dan tujuan Persero adalah untuk mengejar keuntungan, dalam hal-hal tertentu untuk melakukan pelayanan umum, Persero dapat diberi tugas khusus dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat. Dengan demikian, penugasan pemerintah harus disertai dengan pembiayaannya (kompensasi) berdasarkan perhitungan bisnis komersial.
  • menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan jasa yang bermutu tinggi serta memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Dengan maksud dan tujuan seperti ini, setiap hasil usaha dari BUMN baik barang maupun jasa, dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
  • menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Kegiatan perintisan merupakan suatu kegiatan usaha untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi kegiatan tersebut belum dapat dilakukan oleh swasta dan koperasi karena secara komersial tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tugas tersebut dapat dilakukan melalui penugasan kepada BUMN. Dalam hal adanya kebutuhan masyarakat luas yang mendesak, pemerintah dapat pula menugasi suatu BUMN yang mempunyai fungsi pelayanan kemanfaatan umum untuk melaksanakan program kemitraan dengan pengusaha golongan ekonomi lemah.
  • turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Dengan demikian, tujuan pendirian BUMN terkait erat dengan peranan negara untuk turut serta dalam membangun perekonomian bangsa baik secara masyarakat luas maupun secara individu. Seperti dikemukakan oleh Arnold Hertje, bahwa peningkatan kehidupan ekonomi seorang individu dan anggota masyarakat tidak hanya tergantung pada peranan pasar dan keberadaan organisasi-organisasi ekonomi swasta saja, akan tetapi tergantung pula pada peranan negara.

Bentuk BUMN
Pada dasarnya ada dua sifat usaha BUMN, yaitu untuk memupuk keuntungan dan melaksanakan kemanfaatan umum. Hal ini kemudian dinyatakan dalam UU BUMN tahun 2003 yang menyederhanakan bentuk BUMN menjadi dua.

Pertama, Perusahaan Perseroan (Persero) yang bertujuan memupuk keuntungan, sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007).

Kedua, Perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah untuk melaksanakan usaha sebagai implementasi kewajiban pemerintah guna menyediakan barang dan jasa tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bentuk usaha Perum walaupun keberadaannya untuk melaksanakan kemanfaatan umum, sebagai badan usaha diupayakan agar tetap mandiri dan, untuk itu, Perum harus diupayakan juga untuk mendapat laba agar bisa hidup berkelanjutan.

Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. Ia bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Pendirian Perum diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Adapun Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% (limapuluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh negara Republik Indonesiea yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Pendirian Persero diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Dilema BUMN
1. Hukum Publik vs Hukum Privat
Pasal 1 butir 5 UU Perseroan Terbatas menyatakan: “Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.”

Masih berkaitan dengan itu, dalam Pasal 97 ayat (2) UU Perseroan Terbatas ditegaskan lebih lanjut bahwa pengurusan dimaksud wajib dilaksanakan oleh setiap direktur sebagai anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab) dalam arti memperhatikan kepentingan perseroan dengan saksama dan tekun. Direksi, dalam kedudukannya sebagai organ perseroan, mengemban fungsi manajemen (management function) dan fungsi perwakilan (representative function)- Pada waktu menjalankan fungsi manajemen, direksi bertindak sebagai pemimpin organisasi perseroan, sedangkan dalam menjalankan fungsi perwakilan, direksi bertindak sebagai agen perseroan ketika berinteraksi dengan pihak eksternal.

Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa antara perseroan dan direksi ada suatu hubungan kepercayaan atau fiduciary relationship. Secara prinsip diangkatnya atau ditunjuknya seseorang atau beberapa orang menjadi direktur dalam lembaga direksi, pada dasarnya dilandasi atas adanya kepercayaan pemegang saham, melalui mekanisme RUPS, terhadap intelektualitas dan integritas yang bersangkutan, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan untuk dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan kesinambungan (continuity) perseroan.

Sementara itu pada pasal 4 ayat (1) UU BUMN dinyatakan bahwa modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Merujuk kepada Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN, secara jelas dinyatakan:

“Yang dimaksudkan dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan modal pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN di atas, maknanya sudah jelas bahwa kekayaan negara yang telah dipisahkan tersebut bukan lagi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga publik atau instansi pemerintah melainkan telah berubah menjadi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga privat (perdata) biasa, (perdata) biasa, dan posisinya tidak jauh berbeda dengan pemegang saham lainnya. Oleh karena itulah kemudian pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, tetapi mengacu kepada prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

Artinya, ini murni masuk domain kekuasaan hukum privat, khususnya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perseroan terbatas. Bahkan selanjutnya masuk pula dalam kawasan peraturan perundang-undangan yang secara spesifik mengatur norma dalam lingkungan bisnis dan operasional perseroan, di mana negara dalam posisinya sebagai badan hukum publik sudah tidak selayaknya untuk campur tangan.

Sebaliknya, dalam dalam penjelasan umum UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan: “Yang dimaksud dengan keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung-jawaban BUMN/ BUMD, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara.”

Adanya perbedaan di antara dua undang-undang ini membawa konsekuensi direksi BUMN berada dalam posisi dilematis ketika mengambil keputusan, terutama keputusan yang berisiko menimbulkan kerugian. Sebab, kerugian yang timbul tersebut dapat mengakibatkan mereka dituding menciptakan kerugian negara lalu dijerat dengan UU Tipikor.

Sesungguhnya, apabila menyimak UU Perseroan Terbatas, terdapat doktrin Business Judgment Rule (BJR) sebagai salah satu prinsip yang memberi perlindungan bagi direksi dari pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang diambilnya yang mengakibatkan timbulnya kerugian perseroan
sepanjang tindakan tersebut dilakukan dengan itikad dengan kehati-hatian yang wajar, untuk kepentingan dengan maksud dan tujuan perseroan.

Doktrin BJR tersebut dapat dijumpai dalam Pasal 97 ayat (5) UU Perseroan Terbatas yang menyatakan: “Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian Perseroan apabila dapat dibuktikan:

  • Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
  • Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
  • Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
  • Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.”

Namun, jika dihadapkan kepada fakta yang terjadi dalam tatanan praktis terkait tindak pidana korupsi, perlindungan kepentingan hukum direksi, berdasarkan doktrin BJR tersebut, cenderung diabaikan dan tidak diterapkan. Aparat penegak hukum hampir-hampir tidak membedakan dua asas penting dalam sistem hukum Indonesia menyangkut kedudukan negara, terutama terhadap status kekayaan negara dalam suatu perseroan, apakah diartikan masuk dalam lingkungan hukum publik ataukah dalam lingkungan hukum privat, lebih khusus lagi menyangkut perseroan yang telah menjadi perusahaan publik (status terbuka, yang sahamnya dimiliki oleh banyak pihak dan diperdagangkan di pasar modal atau bursa efek).

2. Corporate Loss vs State Loss
Idealnya, seorang hakim (agung), dalam memeriksa perkara terkait keputusan bisnis seorang direksi yang dianggap merugikan perseroan, seharusnya tidak hanya melihat dari sisi kesalahan dan kelalaian seorang direksi dalam mengambil keputusan. la juga harus memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis apakah mengandung kecurangan (fraud), dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi seorang direksi ataukah benar semata-mata untuk kepentingan usaha perseroan dalam mengambil keputusan tersebut.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban direksi dan dewan komisaris, laporan tahunan tersebut harus ditandatangani semua anggota direksi dan semua anggota dewan komisaris untuk dapat diperiksa oleh pemegang saham. Apabila dalam forum RUPS laporan tahunan yang disampaikan oleh direksi diterima, maka dari aspek hukum perseroan, pertanggungjawaban direksi dalam menjalankan fungsi, kedudukan, dan kewenangannya dalam mengelola dan mengurus perseroan telah terlaksana dengan baik dan/atau memuaskan. Dalam kondisi yang demikian, tentu telah terjadi/terdapat pembebasan atau pelunasan tanggung jawab bagi direksi. Hal ini sering diistilahkan acquit et decharge.

Pada kondisi ini, setelah adanya acquit et decharge dari RUPS, secara prinsip seharusnya pertanggungjawaban direksi terhadap adanya corporate loss yang digolongkan sebagai kerugian bisnis tersebut sudah dibebaskan dari pertanggungjawaban pengelolaan korporasi. Artinya, dari aspek hukum perusahaan sudah tidak dapat atau setidaknya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi apa yang sudah dilakukan oleh direksi.

Pada kenyataannya. meskipun RUPS telah memberi putusan penilaian kinerja performansi direksi, termasuk komisaris, dengan pemberian acquit et decharge, corporate loss tersebut, tidak tertutup kemungkinan, atau bahkan sering sekali, menjadi objek pemeriksaan aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, kejaksaan, dan/atau Komisi Pemberantasan Korupsi, serta kemungkinan pemeriksaan tersebut sampai kepada tahap persidangan di pengadilan.

Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah masih tumpang-tindihnya pengaturan tentang arti atau makna keuangan negara, di mana pihak-pihak terkait, satu dan yang lainnya, terbukti tidak mempunyai pemahaman yang sama terhadap status negara sebagai badan hukum publik dan sebagai badan hukum privat, atas kepemilikan saham negara (pemerintah) pada perseroan. Akibatnya, peristiwa corporate loss yang tergolong sebagai kerugian bisnis tersebut sering dianggap atau dapat dipersamakan sebagai kerugian negara atau state loss. Kerancuan atau ketidaksamaan pemahaman seperti ini mengakibatkan risiko hukum yang timbul dan menimpa direksi menjadi sesuatu hal yang sangat tidak dapat diperkirakan (unpredictable), termasuk kemungkinan berhenti atau diberhentikan dari jabatannya. Kondisi ini bukan saja memberi dilema bagi direksi, tetapi juga menimbulkan pengaruh yang negatif bagi pertumbuhan usaha atau corporate growth, khususnya apabila dihadapkan kepada kondisi persaingan dalam bisnis yang dikelola perseroan.

Saran Penulis

Pertama
Pengertian kekayaan negara dalam UU BUMN perlu diubah menjadi kekayaan negara yang telah dipisahkan dalam BUMN. Dengan demikian, kekayaan negara bukanlah kekayaan negara sebagaimana diatur dalam Fatwa Mahkamah Agung No. WKMA/Yud/20/VIII/2006. Sebagaimana kedua pendekatan tentang uang negara dan kerugian negara pada Persero, yaitu pendekatan bisnis (business judgment) dan pendekatan hukum (legal judgment), menghasilkan pengertian yang sama. Apabila terjadi kerugian atas Persero, maka mekanisme pertanggungjawaban yang wajib ditempuh pertama kali adalah mekanisme yang diatur dalam UU Perseroan Terbatas, yakni melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS) yang menguji intelektualitas dan integritas direksi, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan.

Kedua
Disarankan kepada Kementerian Hukum dan HAM yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia untuk melakukan harmonisasi dan Perubahan atas UU BPK, UU Keuangan Negara, Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya terhadap pasal dan ayat yang berkaitan erat dengan pengaturan pengertian keuangan negara agar sejalan dengan pengertian kekayaan negara yang diatur menurut UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas. Demikian pula dengan Penjelasan Pasal 2 angka 7 UU Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, yang mengategorikan direksi, komisaris, dan pejabat struktural lainnya pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah sebagai Penyelenggara Negara, sebaiknya dihapus. Persero merupakan badan hukum yang berbentuk korporasi sebagaimana dibentuk berdasarkan UU Perseroan Terbatas dan diakui oleh pemerintah sebagai suatu entitas privat.

Ketiga
Perlu dilakukan diseminasi kepada aparat penegak hukum yang dapat menjelaskan secara mudah dan pasti mengenai pengertian keuangan negara dalam UU Keuangan Negara, UU Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta

UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah berbeda dengan pengertian kekayaan yang diatur UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas sehingga dapat dipahami bersama bahwa kekayaan Persero/BUMN bukanlah merupakan keuangan negara atau kekayaan negara, melainkan kekayaan badan hukum itu sendiri. Kedudukan pemerintah dalam Persero hanya sebatas pemegang saham (entitas privat).

Diseminasi ini diharapkan dapat menuntun jalannya gelar perkara di masing-masing institusi penegak hukum sehingga kriminalisasi terhadap kasus-kasus perdata dapat diminimalkan dimasa mendatang. Selain hal tersebut, aparat perlu memahami secara mendalam aspek ekonomi dan bisnis serta tata kelola perusahaan yang baik yang meliputi logika perhitungan bisnis, manajemen risiko, dan sistem pengendalian internal serta sistem pengawasan yang berlaku di Persero/BUMN.

Kritik
Buku Prasetio ini dengan jelas telah menjawab keingintahuan publik tentang banyaknya kasus hukum terhadap direksi BUMN yang mungkin saja terjadi karena kesalahan pilihan Undang-Undang yang dijadikan dasar gugatan dan/atau kurangnya memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis, seperti dijelaskan diatas.

Dari sisi penyajian, contoh-contoh kasus akan lebih baik ditempatkan dalam bab khusus sehingga mudah untuk mencari dan mempelajarinya, juga sering terjadi pengulangan kalimat. Lebih daripada itu, isi buku ini sangat memperkaya pengetahuan pembaca, dari kalangan manapun.

Terimakasih mas Prasetio atas buku gratisnyanya “Dilema BUMN“, bahkan sudah mendapat lagi dua bukunya yang lain “It Goes Without Saying” dan “Out of Comfort Zone“. Sukses terus.

 

Preman

imagesPada mulanya adalah kekaguman
“Hebat !!!” ungkapnya
Tegas, anti korupsi, bangun sana-sini
Menggelinding cepat, penuh tenaga
Sebagian terlindas, yang lain tiarap
Banyak juga berbalik sikap
Ketakutan merambat, pelan …
Tidur tak nyenyak, duduk tak tegak
Menggeliat penat, lambat merayap
Sadar tergugah, panik menyerbu
Goncangan terasa, kenyamanan terganggu
Kusak-kusuk, tiup-tiup, beranjak gerak
DIA PENJAHAT !!!! Lantang teriak, berburu selamat
Tangan terkepal mata melotot … merah marah
Fitnah menyerbak …
Hancur … kotor lagi, korupsi lagi, preman lagi
Duduk tenang, tunggu setoran
“Enak begini”, pikirnya
Kasihan ….

Belajar Air di Korea

2016_1018_08595600

Kimchi

Perjalanan menarik kali ini berthemakan Air, mulai dari Asia Water Council di Andong, Korea International Water Week di Daegu, Water Treatment di Gyeongju, Water Treatment di Incheon dan sungai Cheonggyecheon di Seoul.

Annyeong haseyo …

16 Okt 2016 Berangkat

Jam 22.05 wib, KE628 takeoff dari terminal 2E bandara Soetta menuju Incheon, Korea. Korea Airline Boeing 777-300, nyaman dan menyenangkan. Pramugari berseragam putih-hijau muda, ramah, cantik, sopan dan masih muda semua. Namun ada sedikit janggal melihat wajah mereka, putih pucat mengkilat tanpa rona merah di pipinya. Dingin … Ternyata, itulah trend wajah perempuan kekinian di Korea … hahaha ndeso ya saya .. Makanan enak dan badan lurus tertutup selimut, tidur nyenyak, setelahnya. Sejuk dan gelap.
 
 
17 Okt 2016 Ke Andong
2016_1020_17442100-3

Hanbook

Jam 5.30 waktu setempat, lampu cabin menyala, penumpang mulai berlalu lalang ke toilet dan sarapan pagi dihidangkan. Tepat jam 7.00 pesawat mendarat di bandara Incheon. Antrian imigrasi berkelok-kelok panjang, namun tersedia banyak loket dan petugas yang mengaturnya. Cepat dan nyaman.

 
Keluar ruang pengambilan bagasi, ada 3 kios penyedia jasa layanan sewa router wifi. Selama satu minggu ditawarkan US$50 untuk 2 hp dengan deposit $200, yang dapat diambil lagi saat pengembalian alat. Bisa jd alternatif dan lebih murah drpd Telkomsel, yang dikenakan biaya Rp. 500 ribu untuk 1 minggu paket data/internet. Saya menggunakan Telkomsel, lancar tanpa gangguan.
 
Carnival, produk KIA terbaru, menjadi alat transport kami berempat menuju Andong yang diperkirakan akan membutuhkan 2,5 jam perjalanan. Mobil jauh sudah lebih bagus dan lebih nyaman daripada Carnival yang dulu pernah masuk Indonesia akhir 90an. 
 
img-20161017-wa0033

Solar cell di tempat parkir

Satu jam perjalanan di jalan besar bebas hambatan tak terasa kecepatan sudah mencapai 120 km/jam dan beberapa kali harus diperlambat karena ada perbaikan jalan. Terowongan jalan yang mulus dindingnya, terang cahayanya dan tersedia ruang aman untuk pejalan kaki di kiri-kanannya lebih dari 10 kali kami lewati. Berbeda dengan jalan di Puncak, Bogor yang berliku sejuk indah pemandangannya mengikuti gelombang bentang alam berbukit, Korea sepertinya lebih prioritas pada kecepatan koneksitas antar kota dengan cara membangun jalan besar mulus menembus gunung. Sejauh mata memandang, adalah bukit-bukit hijau yang mulai menguning, bahkan merah menjelang musim dingin. Indah.

 
Setelah satu jam perjalanan, mobil masuk ke area rest area. Udara menyergap sejuk begitu pintu mobil terbuka, sekitar 15°C dengan matahari terik, memancing keinginan minuman penghangat tubuh. Capuccino menjawabnya. Area parkir mobil terbuka yang demikian luas didukung oleh shelter beratap solar cell untuk menghasilkan listrik yang cukup untuk menerangi seluruh area. Cemerlang. Korea bukanlah penghasil minyak dan gas bumi.
 

2016_1017_15384000Sekitar jam 13.00 kami sampai hotel Richell di kota kecil Andong, bagian tengah selatan Korea Selatan. Hotel bagus namun sepi di pinggiran kota yang lengang dengan jalan yang lebar rapi tertata dan pepohonan rindang terjaga. Nyaman. Oktober adalah saat yang tepat untuk dapat bepergian ke Korea karena suhu yang mulai sejuk namun masih ok untuk jalan di ruang terbuka dengan jakat tipis saja dan

2016_1017_12102700

Dari Lt. 5 Hotel Richell

pepohonan yang mulai menguning daunnya, indah.

 
Menyimpan barang sambil cek-cek kamar berukuran sedang di lantai 5. AC posisi mati dan heater menyala, gerah. Buka pintu balkon dan wuzzzz … angin sejuk menerpa .. segar. Pepohonan rindang dan jalan lebar tertata apik di sekeliling hotel. Sepiii tak terlihat mahlukNya berlalu-lalang di depan hotel.
 
2016_1017_15022300

K-Water, Andong

Sore hingga magrib hari itu dihabiskan untuk keperluan Asian Water Council (AWC) di kantor K-Water, diskusi terbatas tentang pelaporan program penelitian awal penyediaan air bersih di Bali, yang akan dipresentasikan keesokan harinya dalam forum resmi pengangkatan presiden baru dan diskusi seluruh anggota Asian Water Council.

 
2016_1018_13192000Makan malam ditraktir pengusaha Korea, chairman dari Seoul di resto masakan Korea,  Yahh … Daging sapi Bulgagi, bakar di meja berlebih dan nasi … menjadi menu utama malam itu, termasuk asesori lainnya. Seperti lazimnya resto Korea, duduk lesehan bersila dengan lebih dulu menggantungkan jas di samping pintu kamar makan privat kami. Chairman bisa sedikit bahasa Inggris, sehingga perlu ditemani penerjemahnya. Begitu semangat Chairman membakar daging potong itu untuk kami berdua, dengan om Firdaus Ali. Full … kenyang … Makan dan ngobrol selesai malam itu, akrab penuh canda. Kembali ke hotel, lelap …
 
 
18 Oktober 2016 Hahoe Village
Pagi hari itu kegiatan AWC dibagi menjadi dua, yaitu board meeting yang diikuti oleh DR. Firdaus Ali sebagai wakil Indonesia dan kunjungan kebudayaan ke peninggalan kampung tua Haoe di pinggiran kota Andong untuk peserta lainnya.
 
2016_1018_09160300Hahoe Village (abad 15) menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2010, bersamaan dengan Yangdong Village di Gyeungju, yang keduanya warisan jaman dinasti Joseon, dapat dicapai dalam waktu 45 menit dari kota Andong. Jalan sempit (kelas II di negeri kita) halus berkelok, berundulasi dengan pepohonan rindang yang mulai menguning tanda musim gugur segera tiba, indah sekali. 2016_1018_08395200Lingjungan Kampung Haoe ini berisikan sawah, sungai, hutan dan banyak bangunan yang umumnya beratapkan kayu dan beberapa rumah beratapkan jerami.
 
Setelah makan siang, 3rd Asian Water Council Meeting dimulai dengan pembukaan oleh Presiden AWC lama, dilanjutkan dengan pengangkatan Presiden AWC baru, Hak-Soo Lee dari Korea. Hadir dalam acara ini para pejabat pemerintah dari beberapa negara anggota. Indonesia diwakili oleh Stafsusmen Pupera, DR. Firdaus Ali, DR. Ismail dan DR. Indra, yang semuanya dari kementrian Pupera.
 
2016_1018_16215000

Penutupan 3rd AWC

Makan malam sekaligus acara penutupan AWC diadakan di hotel Ritchell. Buffet style dengan menu berbagai jenis madakan seafood terhidang berlebih. Musik gesek akustik yang dimainkan pars perempuan cantik mengiringi majan malam. Selesai acara jam 8 malam langsung masuk Carnival menuju Daegu. Jam 12 malam masuk kamar hotel … setelah drop om Firdaus di hotel …

 
 
19 Oktober 2016 KIWW
20161019_141258Setelah sarapan roti bakar, telor setengah matang dan salmon plus teh hangat dan jus jeruk di hotel Interburgo Exco, pagi itu langsung turun hotel dan menyeberang jalan untuk masuk di gedung Exco Exhibition, tempat acara Korea International Water Week 2016. Gedung buesarr bertingkat … untuk keperluan pameran industri, ruang diskusi, theater .. lengkap dengan cafe dan resto. Sayangnya, pameran industri tingkat internasional yang semestinya berharap mendapatkan perhatian atau buyer-buyer asing, banyak hanya menyediakan keterangan tertulis atau verbal dari penjaga pameran yang hanya berbahasa Korea. Terus piye jal …
 
2016_1020_15032400Acara resmi pembukaan KIWW dilakukan di ruang theater, semacam cinema 21 lah, dengan panggung luas di depan. Kursi baris depan diisi oleh para menteri Korea, wakil badan dunia, para menteri serta dubes negara peserta, dari Asia hingga Afrika. Sangat representatif untuk membicarakan tentang Air dan berbagai permasalahannya di berbagai belahan dunia. Dua jam dipergunakan untuk pidato dari tuan rumah dan berbagai perwakilan negara peserta termasuk tayangan singkat video dan slide tentang Air diselingi sedikit hiburan. Kemasan presentasi yang singkat dan menarik untuk dilanjutkan diskusi thematik di beberapa ruang terpisah keesokan harinya.
 

Sesi thematik dalam KIWW ini akan membuat berbagai usulan kebijakan tata air dan solusi teknis terhadap berbagai tantangan persoalan air yang dihadapi berbagai negara di belahan dunia. Sepuluh thema utama yang dibahas masing-masing dalam format diskusi meja bundar adalah:

  1. Sustainable Development Goals: Implementation and monitoring of the SDGs
  2. Capacity Building: On-Iine & on-site convergence capacity building for global water issues
  3. Water Cooperation
  4. Water-Energy-Food nexus for water security and SDGs Achievement in Asia
  5. Examining the links between Integrated Water Resources Management and Smart Water Management
  6. Healthy urban where people and water ecosystem live together
  7. Climate change and water management
  8. Water information beyond data and knowledge: Asia Dynamic Hub for Water The power of lnformation
  9. Water projects: opportunities, challengesand synergies for implementing the SDGs
  10. Policy and strategies for sustainable water management: To share and discuss practical ways to realize better water governance and policy

Yang terpenting dalam event KIWW kali adalah meliputi thema KIWW 2016 yaitu “Water Partnership for Sustainable Development“, yang sama juga dengan thema utama dalam The 8th World Water Forum “Sharing Water and Sustainability“. 

 
2016_1020_08321200Adalah DR. Firdaus Ali, Pendiri Indonesia Water Institute, Staf Khusus Menpupera dan dosen Teknik Lingkungan UI yang selalu dijadikan narasumber di berbagai thema diskusi selama 3 hari tersebut bersama beberapa wakil dari badan-badan dunia. Hebat beliau ini, sudah mendunia ternyata bahkan bila ada kementerian Sumberdaya Air di negeri kita ini, sudah selayaknya beliau menjabatnya. Rencana Deep Tunnel sebagai saluran air dan transportasi darat, Waduk Pluit, Giant Sea Wall di Teluk Jakarta, adalah sebagian proyek-proyek raksasa yang beliau turut terlibat membidaninya.
 
Selama di Daegu, tak sempat kami berkeliling mencari obyek wisata, hanya sempat masuk mall di belakang hotel untuk memenuhi titipan beli masker pembersih muka dan  makan malam di resto Korea, lengkap dengan iringan kecapi dua lagu, yang dimainkan oleh perempuan ayu berpakaian tradisional Korea, hanbook. Sayang, ada persyaratan khusus untuk menikmati permainannya “dilarang mengambil gambar”.
 
 
20 Oktober 2016 Dinner di Daegu
20161020_202141Sesi diskusi thematik masih berlangsung di beberapa ruangan, kebutuhan air bersih Jakarta menjadi salah satu topik bahasan yang dikemukakan oleh DR. Firdaus Ali. Tinggi dan pertumbuhan populasi Jakarta serta kualitas dan ketersediaan air bersihnya, membuat terbelalak mata peserta, apalagi presentasi bung Firdaus yang lengkap dengan analisis data dan peta yang valid semakin membuatnya duduk 20161020_222953tegak fokus menyimak. Pemerintah propinsi Jakarta perlu serius menyikapinya.
 
Dinner untuk pejabat Korea dan para penyaji makalah diselenggarakan sangat menarik. Diawali dengan presentasi kondisi pembangunan ekonomi saat ini di layar lebar dengan presenter bersuara bariton yang berjalan santai kesana-kemari di atas panggung, sungguh menarik. Setelahnya, paduan suara anak-anak yang kompak merdu suaranya tampil di atas panggung. Sepotong kecil ikan salmon dalam piring besar mulai disajikan di atas meja. Acara paling menarik malam itu adalah hanbok fashion show. Ditampilkan para model dan miss Daegu dengan sorotan lampu warna-warni yang 20161020_201637sangat terang dan diiringi musik tradisional, terasa indah bersahaja penuh wibawa. Sebuah kemasan yang cerdas mempesona.
 
 
21 Oktober 2016 Ke Gyeongju
Tepat jam 7 pagi kami dijemput pengusaha Surabaya dan pengusaha laboratorium Seoul untuk bersama-sama berangkat menuju Gyeongju menggunakan kereta cepat KTX dari stasiun Daegu. Bagasi kami yang cukup banyak, disimpan dalam lemari khusus yang tersedia di luar kabin penumpang, ujung gerbong. Hanya butuh 15 menit untuk sampaindi Gyeongju. Melihat Pengolahan Air berteknologi canggih Plasma Ozon Water Treatment System adalah maksud kunjungan kami.
 
kor02287

Indonesia – Korea

Sebelum menuju lokasi Water Treatment, kami disambut secara resmi di kantor walikota. Sangat mengagetkan karena kunjungan kami tidak dimaksudkan sebagai G2G, melainkan bisnis biasa. Duduk di sekeliling meja bundar, Walikota memberi sambutan resmi melalui penerjemah dengan penata acara berdiri di podium. Lengkap dengan dua bendera kecil di atas meja, Korea dan Indonesia. Wah … bercelana jean dengan polo shirt, malu euy …. cindera-mata pun diberikan walikota ke bung Firdaus setelah masing-masing memberi sambutan. Sepertinya Gyeongju memang sedang bersemangat memasarkan teknologi water treatmentnya ke berbagai negara lain.

 
kor02305

Dgn Pengusaha Indonesia

Ada dua lokasi water treatment Gyeongju yang kami kunjungi, bisa dicapai melalu jalan darat dalam 15 menit melalui jalan halus berkelok-kelok. Pemandangan indah, dedaunan hijau dengan sebagian mulai menguning bahkan merah pertanda mulai masuk musim gugur. Area water treatment sedang saja luasnya. Di area terbuka, tempat pengolahan air berteknologi lama sebagai tempat masuknya air kotor dari sungai. Keluaran dari proses tersebut dilanjutkan dengan proses selanjutnya dalam bangunan besar penuh dengan berbagai peralatan mekanis dan elektris yang masuk semuanya dalam jaringan komputerisasi sehingga bisa dimonitor melalui jaringan nirkabel dari luar lokasi. Air minum kemasan dalam botol banyak diproduksi dari proses pengolahan di sini.

 
kor02308Di kota kecil Gyeongju (kota kabupaten) terdapat 9 tempat pengolahan air. Yang menarik juga adalah adanya waduk kecil di Gyeongju sebagai cadangan air bersih, yang tidak diijinkan digunakan sebagai area pemancingan ikan. Komitmen masyarakat terhadap kepentingan bersama terhadap keberadaan air bersih ini sungguh mengagumkan, sehingga air waduk sebagai masukan untuk pengolahan air bisa tetap terlihat jernih dan mengurangi kerja berat proses pengolahan.
 
gyeongju-stasiun

Stasiun Singyeongju, Gyeongju

 

Selesai kunjungan Pengolahan Air, menuju stasiun kereta Singyeongju, untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul menggunakan kereta cepat KTX. Makan siang di resto setasiun, menu bibimbap yang semua disajikan dalam mangkok kuningan. Air layak minum tetap dimasukkan dulu ke dalam water purifier. Menurut mereka, air minum yang bersih membuat kulit bagus. Kereta datang tepat waktu, kali ini gerbong bagus dengan 2 kursi di sebelah kiri dan 1 kursi di kanan. Lega. Terlihat di monitor, kecepatan kereta 276 km/jam. Kurang-lebih 2 jam, kereta memasuki setasiun Seoul. Ramai padat penumpang.

 
Makan malam dijamu relasi bisnis di restoran masakan Korea tersohor yang mempunyai waralaba di berbagai negara maju, seperti Jepang, Hongkong dan Eropa. Menu utama terhidang dagang kepiting mentah di dalam cangkang terbuka. Entah apa ramuan bumbunya, tapi memang lezat rasanya. Dengan menghirup cara menikmatinya. Lembut manis. Menu lainnya adalah ikan kuah kuning, menurutku mirip seperti woku Manado.
 
 
Sabtu, 22 Oktober 2016 Incheon Water Treatment
Pagi jam 9, kami berdua (dengan bung Firdaus Ali) dijemput oleh pengusaha laboratorium air BLTEC untuk mengunjungi workshopnya, yang berada di kawasan Bucheon Techno Park, Old Seoul. Gedung perkantoran yang dipergunakan sebagai pabrik-pabrik kecil perakitan, mungkin seperti Gelodok Jakarta tempat merakit komputer. Tak banyak karyawannya namun keahlian masing-masing sangat spesifik. Ahli kimia air, komputer, elektro mempunyai peran sangat penting. Peralatan monitoring dan analisis air mulai yang berukuran sebesar microwave hingga ukuran kulkas dua pintu dengan kerumitan sederhana sampai ketelitian tinggi, bisa diproduksi di pabrik kecil ini. 
 
Bupyeong Water Treatment
kor02377Kunjungan berikutnya ke Pusat Pengolahan Air di Incheon (PDAMnya Incheon) yang menempati area yang luas dan hijau. Bangunan tempat wireless control dan monitoring yang sangat luas dan nyaman, juga bangunan bertingkat untuk laboratorium air yang mampu menganalisis banyak parameter. Laboratorium ini juga biasa menerima pelajar atau karyawan dari berbagai negara lain untuk belajar Analisa Air dengan teknologi canggih. Pada kesempatan ini, staff khusus Kemen Pupera juga sempat bernegosiasi dengan pimpinan laboratorium untuk bisa mendapatkan kesempatan mengirimkan karyawan Pupera belajar ke lab tsb.
 
kor02354

Kolam Baru

Di lapangan, ķami ditunjukkan kolam-kolam besar tempat pengolahan air fase awal berteknologi tinggi, sementara di sebelahnya adalah kolam besar berteknologi lama (masih dipergunakan di Jakarta), yang sudah tidak dipergunakan lagi.

 
Sungai Cheonggyecheon
img-20161026-wa0004Masih berkaitan dengan air, kami mengunjungi sungai Cheonggyecheon yang jernih terawat dengan lingkungan yang dibangun bersih hijau, telah menjadi area bersantai penduduk Seoul, lengkap dengan pameran seni dan kios-kios cenderamata dan makanan kecil di pinggirnya.
 
Sungai ini dibuka untuk umum September 2005 setelah direnovasi lingkungannya. Renovasi dimulai tahun 2003 dengan membongkar jalan layang yang sebelumnya berada di atas sungai. Menurut pemerintah setempat, sungai baru ini mampu menurunkan polusi dan suhu udara di sekitar sungai sebesar 3°C dan mengembalikan habitat naturalnya.
 
Dongdaemun market
Tak lupa kami mampir ke salah satu mall di Dongdaemun market untuk membeli oleh-oleh titipan dari tanah air, makanan kering dan berbagai asesoris lainnya. Satu hal penting yang tak ditemukan adalah Black Garlic.
 
 
23 Oktober 2016 Pulang
Jam 8 pagi, kami checkout dari hotel Grand Intercontinental menuju bandara Incheon untuk pulang Jakarta menggunakan Korea Airline KE 627 15.20. Masih banyak waktu untuk mencari Black Garlic. Gak dapat juga, setelah menjelajahi semua sudut bandara yang luas itu. Pegal dan puas.
 
Alhamdulillah mendarat di bandara Soetta 20.30 wib. Terimakasih om Firdaus Ali sudah mengajak saya sebagai observer dalam Asian Water forum dan Korea International Water Week, mengunjungi Pengolahan Air di Gyeongju dan Incheon serta mampir di Sungai Cheonggycheon.
 

Kamsahamnida

 
Catatan:
 
6. Buku: The New Korea
kor02253-2

Persepsi vs Realitas

imagesDalam kasus “Penistaan Agama oleh Ahok”, kompromi antara demonstran dengan Wapres JK sore 4 November 2016 di istana, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden pada jam 12 malam harinya, adalah memerintahkan Kapolri untuk mempercepat Proses Hukum Ahok secara terbuka, supaya bisa disaksikan masyarakat, dengan harapan kecurigaan terhadap kemungkinan terjadinya ‘permainan‘ peradilan dapat dihindarkan. Ternyata tak semua pihak bisa menilai atau lebih tepatnya bersedia menilai upaya presiden ini sebagai sebuah niat baik. Reaksi sebagian dari pihak penuntut justru menganggap Presiden melakukan intervensi proses hukum, yang dengan alasan tersebut maka Presiden bisa dituntut bahkan dimakjulkan. Hemmm … garuk-garuk tangan … kira-kira apa komentar mereka bila proses hukum dilakukan tertutup?

Proses untuk mendapatkan keterangan dari saksi, termasuk terlapor Ahok, sudah mulai dilakukan polisi kemarin, Senin 7 November 2016. Komentar miring kelompok penuntut Ahok di medsospun mulai bermunculan, “kemungkinan ahok dibebaskan sudah terlihat”, “pertanyaan penyidik meringankan ahok”, dll. yang pada intinya, penyidikan sebagai suatu kenyataan proses hukum dirasa sudah bertentangan dengan Harapan (bukan fakta hukum). Mulai tumbuh kekhawatiran karena harapan dirasa tak searah lagi dengan kenyataan bahwa ‘Percepatan Proses Hukum Ahok’ tak berujung pada ‘Hukum Ahok’. Kecewa.

Seperti diketahui bahwa Persepsi yang melebihi Realitas (satu tingkat dibawah mimpi) bisa terjadi karena:

1. Kurangnya informasi
Kekurangan informasi disini bisa terjadi karena memang tak banyak informasi ditemukan, atau banyak informasi valid namun tak mampu menganalisisnya sehingga berakibat salah persepsi.

2. Pengingkaran kebenaran informasi

Realitas berada jauh dari ekspektasi yang dibangun berdasar kesalahan asumsi sehingga terjadi dilusi, frustrasi.
Didasarkan pada kemampuan pengendalian harapan atas hasil proses hukum yang mungkin akan membebaskan Ahok ditingkat penyidikan, karena tidak ditemukannya unsur pidana, akan segera muncul persepsi baru yaitu Menerima Kenyataan atau Mengingkarinya.
Bila alasan-alasan hukum positif yang memang harus membebaskan Ahok bisa diterima para penuntut secara jernih obyektif, tanpa mempertentangkannya dengan persepsi yang berlebihan, maka selesai sudah drama Penistaan Agama. Namun apa yang akan terjadi bila Realitas Hukum tak bisa diterima karena persepsi kolektif atas kebenaran sendiri yang begitu tinggi? Pengingkaran kebenaran informasi akan terjadi dan berujung pada frustrasi. Peran para pemimpin menjadi sangat penting untuk membantunya ‘menginjak bumi’, menerima kenyataan. Kecuali, rasa frustrasi massa memang sudah menjadi prasyarat yang direncanakan (by design) atas niat pemakjulan presiden seperti diteriakkan beberapa orator politik dalam demonstrasi ‘Damai’ 4 November yang lalu, maka sudah bisa diduga kekacauan traumatik bangsa ini akan terjadi lagi. Bila demikian adanya, maka menjadi jelas bahwa gembar-gembor “Hukum Ahok!!!” hanyalah sasaran antara saja dan sasaran akhirnya adalah pemakjulan Presiden terpilih, Jokowi. Kejam.

Raja Ampat – Sorong

2016_0924_1224360024 Sep. 2016
GA0650 takeoff menuju Makassar, 23 Sep. 2016, tepat jam 21.00 dari Terminal 3 bandara Soetta.  Mendarat jam 1.30 pagi wita. Bandara Hasanuddin masih ramai dan cafe juga banyak yang buka, sepertinya bandara 24 jam karena letak geografis yang berada di tengah wilayah NKRI dan melayani penerbangan ke berbagai wilayah negeri ini. Isrirahat 2 jam di lounge Garuda, tepat jam 3.15 waktu setempat pesawat bombardir Garuda takeoff menuju Sorong. Kabin terasa hangat, tanpa perlu mengenakan jaket walaupun penerbangan malam hari. Membutuhkan waktu kira-kita 1,5 jam, pesawat mendarat di bandara Sorong ‘Domine Eduard Osok‘ 6.30 wit. Bandara bagus, bersih dan lengang. Semoga karena perawatan yang baguslah sehingga bandara ini terlihat bersih, bukan hanya karena bandara baru.
 …
Coto Makassar menjadi menu sarapan kami di di kota ini. Dengan ketupat dan buras, satu mangkok coto daging itu ludas tergilas dibilas dengan teh tawar panas. Badan terasa hangat segar setelah hampir 7 jam duduk dan kurang tidur. Siap duduk lagi selama 2 jam dalam speedboat 2 x 85 PK, menyeberang laut menuju cottage Waiwo di pulau Waigeo, Raja Ampat.
20160924_074758

Pelabuhan speedboat Sorong

Di pelabuhan speedboat Sorong, sebelah pelabuhan kapal penumpang regular, terlihat banyak speedboat parkir berjajar, namun tak cukup mudah menyewanya. Bukan karena kurangnya jumlah speedboat, melainkan karena langkanya ketersediaan bbm.

20160926_091340

Salawati 2 x 85 pk

Dua jam harus menunggu, akhirnya muncul juga speedboat Salawati berbbm penuh di atas. Duabelas penumpang terangkut, termasuk pengemudi dan supporternya, juga kopor dan tas besar masing2 yang disimpan dalam ruang kecil di haluan, di bawah kemudi. Enam kursi menghadap ke depan speedboat dan dua bangku panjang berhadapan di bagian buritan. Cukup untuk 10 penumpang dengan hanya 8 life vest … hahaha..sedikit menambah detak jantung selama 2 jam .. Jam 9 pagi cuaca cerah dan laut cukup tenang, sehingga tak banyak goncangan terasa. Daratan semakin jauh, namun masih terlihat daratan di kiri-kanan speedboat.

2016_0924_09490600

Dermaga Raja Ampat, Pulau Waigeo

Dua jam tak terasa karena rasa excited di tengah laut, akhirnya sandar di dermaga Raja Ampat. Banyak speedboat sandar berjajar dan terlihat bangunan sederhana kosong beratap di daratan, semacam shelter untuk berteduh bagi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan darat. Istirahat sebentar di rumah penduduk, dilanjutkan 5 menit berspeedboat lagi untuk bersandar di lokasi cottage Waiwo. Tempat Jokowi menginap di Raja Ampat tempo hari.

20160924_130656Cottage yang rindang tepat di tepi laut dengan banyak bangunan rumah panggung kayu tipe studio yang masing-masing untuk dua tamu, terasa panas begitu memasukinya karena listrik, untuk AC, bertenaga diesel masih padam. Makan siang di resto cottage berlauk sangat minimal cukup membekali tenaga untuk snorkling/diving di pulau Mansuar.
2016_0924_12212200

Bersama bang Buyung Lalana (stafsus menhub, tengah)

Sekoci karet membawa kami dari dermaga speedboat ke tengah laut ditemani bang Buyung Lalana, menuju kapal patroli besar dua lantai bernavigasi canggih. Dua jam berlayar, akhirnya kapal sandar di dermaga pulau Mansuar, menurunkan kurang-lebih 20 penumpang untuk menikmati keindahan bawah laut, diving/snorkling dimulai dalam pengawasan bang Buyung Lalana, ex Komandan Marinir, dan para asistennya. Wooowwww … pasir putih di pantai, air jernih, dangkal, terumbu karang berbagai bentuk dan warna melambai lembut, juga aneka ikan indah kaya bentuk dan warna, kadang melintas kura-kura besar … betul indah Raja Ampat, surganya para pecinta wisata bawah laut. Sayang, tanpa perlengkapan kamera bawah air.

 

Puas menikmati keindahan bawah laut, terhampar ikan baronang goreng rica dan kuah kuning (woku) di atas meja, tentu dengan nasi panas dalam magic jar besar, cukup untuk 25 orang yang lapar bermain air. Sikat abis … terimakasih bu syahbandar yang memasaknya di atas kapal. Puas..
Lumba-lumba terlihat berlompatan dikejauhan seolah berlomba mengejar kapal bergerak kembali ke pelabuhan Raja Ampat. Mampir ke salah satu pulau setelah matahari terbenam, menunggu awak kapal menyelam berburu ikan menggunakan harpoon. Jadi ingat film serial tv akhir 70an ‘Deni si manusia ikan’ hehehe …
25 Sep. 2016
2016_0925_12444100

Team IWI di Pianemo, Raja Ampat

Cottage nyaman sejuk dan suara deburan ombak depan pintu plus kecapaian main air di hari sebelumnya membuat lelap tidur tanpa gerak. Puas istirahat semalaman, siang jam 12.30 speedboat membawa kami bertujuh menuju kepulauan Pianemo yag diperkirakan membutuhkan waktu dua jam, tanpa sarapan berharap tersedia resto di tujuan. Langit berawan, sedikit menambah detak jantung, jangan-jangan … benar .. belum sampai 1 jam boat bermesin ganda 85 pk melaut, mulai terasa hentakan keras menghantam air. Ombak bergulung cepat hingga perahu terus melompat, duduk tak enak dan badan terus bergerak terbanting-bating. Barang-barang di atas dashboard mulai berjatuhan, driver sering mengeluarkan tubuhnya dari jendela sambil tetap pegang kemudi, untuk melihat laut di depan, jangan sampai menabrak batang kayu terapung. Penumpang diam, was-was, mulai menghitung jumlah life vest …tak cukup jumlah untuk semua penumpang. Berdoa dalam diam .. tegang. Bung Firli mulai menimbang-nimbang “lanjut atau pulang?”, ceritanya setelah sampai di cottage …

20160925_150708-2

Pianemo

Satu jam kemudian laut mulai tenang, masuk dalam kepulauan kecil .. indah  .. pasir putih sebelah kanan dan perahu sandar di bawah tebing pulau terbesar sebelah kiri. Terlihat ada 5 speedboat besar telah parkir disana. Keluar speedboat, tangga kayu permanen beranaktangga 300 buah siap menunggu menuju puncak. Jangankan resto, pedagang asonganpun gak ada. Kawasan lindung. Istirahat

20160925_142500

Dermaga Pianemo

sebentar mengatur napas di shelter tangga ke 100 dan lanjut ulang. Ngos-ngosan sampai di puncak …. wuihhh .. worth it … indah betul pemandangan kepulauan dari puncak bukit. Betul kata orang “jangan bilang sampai di Raja Ampat kalau belum naik di Kepulauan Pianemo”. Sebetulnya ada lagi yang lebih spektakular yaitu pulau Wayag, dua jam melaut lebih jauh. Tepatnya antara Pianemo – Halmahera, laut lepas. Kebayang ombaknya … Satu jam foto-foto, turun bukit langsung dan melaut lagi dua jam pulang ke kota Waisai di pulau Waigeo, karena tak cukup waktu untuk lanjut ke Sorong yang masih butuh 2 jam lagi. Sudah sore jam 4, driver gak sanggup khawatir kayu melintang tak terlihat .. bisa brakkk, bocor itu boat.. bahaya.

2016_0925_15305200

Rifalda cottage

Rifalda Cottage di kota kecil Waisai, pulau Waigeo, menyediakan 6 bangunan rumah panggung sederhana, masing-masing berisi 2 kamar. Tidak menyediakan makan siang/malam, hanya sarapan pagi nasi kuning. Perut yang lapar tak terisi sejak pagi akhirnya menyantap mie instant telor rebus bikinan mbak Lintang, huenakkk … masih tambah nasi ayam penyet, malamnya. Puas, tidur pulas.

26 Sep. 2016
20160926_132547

Resto Goyang Lidah 2, Sorong

Gerimis jam 7 pagi, kami berangkat melaut lagi menuju Sorong, 2 jam. Laut berombak dan boat terhentak namun tak sekeras kemarin, karena searah arus laut. Alhamdulillah selamat sampai Sorong. Satu hari kami habiskan waktu untuk melihat kora Sorong, yang sedang menggeliat tumbuh dan masih butuh banyak pengadaan gedung perkantoran yang aman, air bersih, listrik, bahan bakar, dll.. Makan siang di resto ‘Goyang Lidah’, masakan jawa dengan cara timba sendiri, maksudnya ambil sendiri, hahaha… Kehidupan Sorong sebagai kota pelabuhan berlangsung 24 jam sehari. Berderet warung tenda menjajakan berbagai jenis makanan, yang selalu tersedia malam hari hingga subuh.

27 Sep. 2016
Takeoff jam 16.00 wit dari bandara Sorong menuju Jakarta menggunakan Garuda dan transit di Makassar. Alhamdulillah mendarat di Terminal 3 jam 18.00. Sampai jumpa Raja Ampat.
Masih banyak yang perlu dikerjakan untuk mengangkat Raja Ampat sebagai destinasi wisata internasional. Hotel, transportasi, restoran masih sangat kurang, apalagi transportasi laut masih minim kelengkapan safetynya. Tetap semangat untuk terus berkembang, Sorong dan Raja Ampat.
 ….
Terimakasih bung  Firdaus Ali dan rekan-rekan Indonesia Water Institute yang telah mengajak saya mengunjungi Sorong dan Raja Ampat. Sukses terusss ..
Tautan Video dan Gambar:
2016_0926_12535900-3

Waduk Sorong

%d blogger menyukai ini: