Feeds:
Pos
Komentar

Black Wave – Kim Ghattas

Resensi oleh: Anang SK

Perang sipil dengan bumbu sektarian keagamaan. Pertengahan tahun 1970an, sering muncul di harian Kompas tentang perang, pemboman dan aksi mogok makan, dalam kota Belfast, di Irlandia Utara. Sinn Fein, partai politik di Irlandia Utara dan IRA sayap militernya, sering kali terlihat seram dalam foto-fotonya. Seragam militer dengan topeng membungkus kepalanya. Begitu menancap dalam benak. Buku tentang Irlandia Utara (lupa judulnya), dibeli di Perth 1994, menjadi rujukan pengetahuan tentang konflik kekuasan Irlandia Utara, yang diwarnai isu sektarian katolik-protestan.

Keprihatinan terhadap seringnya media menyampaikan berita adanya kekerasan atas-nama agama di negeri ini dan konflik bersenjata di berbagai negara Timur Tengah, membuat banyak pihak bertanya-tanya, “sejak kapan kekerasan atas-nama agama ini terjadi dan apa penyebabnya?”. Mungkin perlu dipahami dulu sejarah konflik Timur Tengah, barangkali sumber penyebab ada disana. Lalu coba berselancar di Kindle, mencari buku tentang Timur Tengah.

Buku rujukan terbaru tentang konflik Timur Tengah yang ditemukan adalah Black Wave, karya Kim Ghattas. Format ebook, Kindle. Terbit tahun 2019. Buku ini dipilih karena Ghattas seorang journalis dan karya pertamanya “The Secretary” , yang resensinya ada dalam blog ini juga, gaya penyajiannya memang cukup informatif dan nyaman dibaca.

“What happened to us?”, adalah kalimat pembuka di bab Pendahuluan buku Black Wave, yang sekaligus sebagai panduan arah isi buku ini. Ghattas menengarai peristiwa besar yang terjadi di 3 negara Islam dalam tahun yang sama, 1979, mempunyai arti penting dalam sejarah konflik sektarian di negara-negara semenanjung Arab hingga  Asia Tengah dikemudian hari. Peristiwa tersebut adalah:

  1. Revolusi Iran. Jatuhnya Syah Iran dan berkuasanya Komeini
  2. Dikuasainya Kabah dan Masjidil Haram, oleh pemberontak Arab
  3. Invasi Uni Soviet ke Afganistan. Menjadi perang milisi Taliban yang dibantu Arab Saudi dan AS melawan Uni Soviet

Dari ketiga peristiwa di tahun 1979 tersebut, muncul gelombang kegelapan, black wave,  beruntun di negara-negara tersebut dan di beberapa negara Islam lainnya. Buku ini mencoba menjelaskan perjuangan melawan gelombang kegelapan kekuasaan yang seringkali harus dibayar dengan penderitaan hancurnya kebudayaan, represi bahkan  kematian yang mengenaskan. Seperti jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, yang dibunuh dan dimutilasi di konsulat Saudi, Istanbul pada Oktober 2018. Atau Farag Foda, intelektual sekular Mesir yang dihakimi massa dengan hukuman mati karena berani berdebat dengan ulama dan mempublikasikan pemikiran sekularnya. Dianggap mengkhianati Islam. Tewas di depan kantornya dengan 7 peluru menembus tubuhnya dan melukai anaknya. Seperti biasanya, silent majorities yang  selalu banyak menanggung beban derita oleh kebijakan kelompok intoleran yang berkuasa. Betulkah kekuasaan yang diraih, sejatinya memang untuk kesejahteraan rakyatnya? Atau, kekuasaan untuk kuasa semata?

Sistematika penulisan buku ini, secara garis besar, disajikan berbasis negara, yang tidak ketat dan tidak dalam waktu yang berurutan. Keterkaitan sejarah antar negara, migrasi aktor penting di dalamnya, karena arah perjuangan atau risiko pilihan politik, dan proxy war, menyebabkan batasan negara pada masing-masing bab menjadai longgar. Setelah bab Pendahuluan yang menjelaskan maksud penulis, Kim Ghattas, yang kebetulan berkelahiran Lebanon menjadikan Lebanon sebagai awal cerita Black Wave. Selanjutnya tentang Iran, kemudian Arab, Syria, Iraq, Mesir, Pakistan, dst.  Di dalam bab-bab tersebut, terkait di dalamnya adalah negara-negara lain di kawasan Semenanjung Arab dan Asia Tengah. Namun, yang selalu ada dalam masing-masing bab tersebut adalah keterkaitan langsung atau tidak langsung, antara Saudi Arabia dan Iran.

Shirin Ebadi, hakim perempuan pertama, yang harus berhenti karena Revolusi Iran. Penerima Noble Perdamaian 2003.

Di Lebanon, mulai dengan pengungsi Palestina dan PLO di wilayah selatan. Lembah Beqqa menjadi wilayah pelatihan milisi bersenjata Iran yang kelak berkembang sebagai Pengawal Revolusi Iran dan tempat lahirnya Partai Hezbollah dengan Hassan Nasrallah sebagai Sekjennya sejak 1992, dengan dukungan Iran dan Syria. Disisi lain, Rafiq Hariri adalah Perdana Menteri Lebanon, pengusaha besar percetakan Quran di Saudi, yang mempunyai kewarganegaraan Saudi Arabia dan menjadi Perdana Menteri Lebanon atas dukungan kerajaan Saudi dan Syria, pada awalnya. Namun, kaum Shiah merasa terpinggirkan oleh Hariri yang dianggap lebih mementingjan Sunni. Terbunuh, 4 hari setelah pertemuan yang akrab dengan Nasrallah, karena bom truk bunuhdiri di Beirut pada tanggal 14 Februari 2005. Syria jadi terduga.

Di Pakistan. Ali Bhutto yang pluralis, beristrikan perempuan Iran Shia, digantikan dengan paksa dan dihukum mati oleh Jendral Zia Ul-Haq. Yang kemudian menggantikannya sebagai Presiden. Ideolog dan filsuf Islam Abul A’la Maududi, pendiri Jamaat-e-Islami, yang banyak menginspirasi Sayyid Qutb di Mesir dan Khomeini di Iran, sangat mewarnai gaya kepemimpinan Zia dalam model pemerintahan Islam yang dianutnya. Maududi adalah orang pertama penerima penghargaan Raja Faisal, Saudi untuk jasanya bagi Islam, 1979. Beliau juga sebagai Penasihat di Universitas Madinah. Raja Khaled, Arab Saudi dalam ucapannya kepada Zia, juga  berharap untuk “melihat penerapan hukum Islam di semua negara Muslim”. Distrik Kurram dengan 40% warga Shia, di perbatasan Afghanistan, menjadi tempat konflik bersenjata Shia-Sunni.

Di Iraq. Najaf dan Karbala menjadi pusat Shia di negara yang dikuasai Sunni. Khomeini pernah tinggal di Najaf dalam pelariannya dari Iran dimasa Shah Iran. Pertempuran sektarian Sunni-Shiah dengan dukungan masing-masing dari Saudi dan Iran, sering terjadi di wilayah ini. Bahkan milisi dari wilayah ini sering dikirim ke daerah lain dan menjelma menjadi the Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) vs the Iranian Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Di Syria, sering terjadi pertempuran antara ISIS, Sunni radikal yang selalu diasosiasikan dengan Saudi Arabia, melawan IRGC atau Syrian Freedom Army, dukungan Iran. ISIS deklarasikan Raqqa, Syria sebagai kantor pusat

Di Yaman. Saudi mendukung pemerintah Yaman memerangi kelompok Houthi yang didukung Hezbollah dan Iran

Seperti lazimnya politik, permusuhan atau perkawanan adalah tidak langgeng, atau bisa berubah karena kepentingan. Syria, Iran dan Arab pernah berada dalam satu kubu bersama Amerika Serikat, ketika melawan Iraq di Kuwait. Di tahun 1960an, Arab Saudi mendukung kelompok Shia Zaidi, bahkan mendapat tawaran bantuan dari Iran. Namun sekarang Saudi justru memerangi Houthi dan Iran di Yaman.

Menurut Ghattas, bentuk korban budaya yang sering dialami dengan dicanangkannya negara atau komunitas dalam kekuasaan hukum sektarian, seperti yang dialami Arab, Iran (sejak Revolusi Iran)  Pakistan (sejak pemerintahan Zia Ul-Haq), Mesir (setelah Nasser), komunitas Hizbollah, ISIS, Yaman (dibawah Hothi), adalah melemahnya pendidikan, terpuruknya hak-hak azasi perempuan, seperti kesempatan mengecap pendidikan, pekerjaan, bersosialisasi, berpakaian ‘bebas’. Di Pakistan, pria diwajibkan berpakaian kurta dan salwar. Pakaian budaya asli Pakistan. Tak ada lagi budaya berpikir kritis. Pelanggaran hal-hal diatas bisa berujung penjara, pengasingan atau bahkan kematian. Mereka yang pernah mengalaminya dan bagaiman sangsinya di berbagai negara tersebut, banyak disajikan dalam buku ini. Menyedihkan.

Untuk lebih memudahkan dalam membaca summary buku ini, kompilasi berbasis negara yang telah disusun berdasar kronologi, bisa dibaca secara terpisah berdasar tautan berikut ini:

Membaca buku ini hingga akhir, bukti-bukti yang disajikan akan mengkerucut ke kesimpulan bahwa Gelombang Kegelapan yang dialami negara-negara Islam besar tersebut, yang riak-riaknya mulai muncul di negeri kita tercinta ini, sudah ada sejak konflik kekuasaan Sunni-Shia, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Walaupun secara tersurat, Ghattas tidak mengatakan demikian, bahkan menurutnya  sebelum 1979 sebenarnya Arab-Iran dalam kondisi ‘sejuk’. Apakah Ghattas melakukan bias konfirmasi? Entahlah, mungkin pembaca perlu menelisiknya lebih dalam melalui sumber-sumber lain untuk kejelasannya. Ghattas sepertinya lebih perhatian pada hilangnya “hak-hak azasi”, akibat kepemimpinan sektarian para elite negeri, seperti Arab Saudi, Pakistan, Iran, Lebanon dibawah partai Hezbollah, Hothi di Yemen, dll.

Terlepas dari opini Ghattas terhadap berbagai peristiwa obyektif yang disajikan, buku ini tetap layak dan berharga untuk dipelajari. Terlebih karena Ghattas sudah berusaha keras untuk connecting the dots berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai negara dan menyajikannya dalam cerita yang logis, rapi dan enak dibaca. Meskipun informasi penanggalan, yang seringkali tanpa angka tahun, perlu pembaca pastikan dari penjelasan di halaman-halaman depannya atau bahkan perlu mengacu dari Wikipedia. Ghattas banyak menggunakan informasi Wikipedia untuk menjelaskan tokoh-tokoh dalam buku ini.

Setidaknya, buku ini memancing keingintahuan lebih dalam, untuk mempelajarinya dari sumber-sumber valid lainnya. Sangat direkomendasikan kepada siapapun yang ingin mempelajari tentang konflik Timur Tengah.

Tautan:

What is Sahwa, the Awakening movement under pressure in Saudi?

Telling the Truth, Facing the Whip

Iranian Green Movement

Nasr Hamid Abu Zayd, Tafsir Qur’an, dan Islam Senyum ala Indonesia

How The CIA Overthrew Iran’s Democracy In 4 Days

Black Wave by Kim Ghattas review — why 1979 is the key to understanding today’s Middle East

Who are the Taliban?

Who Are the Taliban and How Did They Conquer Afghanistan?

Afghanistan airport attack: Who are IS-K?

Black Wave – Afghanistan

Back to: BLACK WAVE

1839–1842 The First Anglo-Afghan War,

was about blocking the Russian influence from the Indian border and extending British influence into Central Asia. After the British political agent was assassinated, the remnants of the first British expeditionary force (16,000 soldiers, dependents, and camp followers) tried to retreat back into India. The subsequent British punitive expedition killed thousands of Afghans and destroyed three cities, including Kabul. The British then withdrew.

1878–1880 Second Anglo-Afghan War,

disputes over potential Russian influence on Kabul again produced a British ultimatum, a rapid and successful invasion, a troubled occupation, a murdered British envoy, and subsequent maneuver warfare.

1880-1901

Abdur Rahman Khan (1884-1901) became emir after a Pyrrhic victory for Great Britain. Rahman brought the country together and ruled well but harshly. He was forced to accept the hated Durand Line drawn by the British envoy, Sir Henry Mortimer Durand, to divide Afghanistan from India. It also divided the Pashtuns, leaving a third of them in Afghanistan and two-thirds in western India, which later became modern Pakistan.

1901-1919

Habibullah Khan menjadi raja. Terbunuh

1919-1929

Amanullah Khan, putra Habibullah, menjadi raja. The Third Anglo-Afghan War followed World War I and established full independence. After victory in the third war, later celebrated as the beginning of Afghan self-rule, Amanullah decided to modernize his kingdom. He was the first Afghan ruler to take aid and military assistance from the Soviet Union.

After touring Europe for a few months. In 1928, Amanullah returned with a notion of becoming an Afghan version of Kemal Attaturk, the leader who made Turkey a modern secular state.

1929 Pemberontakan, Civil War

Raja Amanullah turun tahta. Digantikan oleh Habibullah Kalakani. Hanya 9 bulan. Dihukum mati

1929-1933

Mohammed Nadir Shah, yang memerintah hingga 1933. Nadir kembali memperjuangkan prinsip-prinsip Afghan, hak-hak Perempuan dan Hukum Sharia. Tewas, terbunuh.

1929-1978 dibawah dinasti Musahiban

1933-1973

Mohammed Zahir Shah, putra Nadir Shah, menggantikannya dengan beberapa Perdana Menteri bergantian.

(1953-1964)

Perdana Menteri pertama Prince Mohammed Daoud, keponakan Zahir Shah. During Zahir Shah’s reign, Afghanistan managed to remain neutral in World War II, began to develop economically with the help of foreign aid, created a modern military with the help of the USSR, and stayed at an uneasy peace with its neighbor, Pakistan.

1964

Zahir Shah mengeluarkan UU yang isinya melarang kerabat raja menjadi anggota kabinet. Prince Mohammed Daoud berhenti sebagai PM.

1973-1978

Mohammed Daoud bersama militter sayap kiri melakukan kudeta tak berdarah, ketika Zahir Shah sedang berada di luar negeri. Presiden Daoud mulai berpaling ke AS.

The United States did provide aid but in general was much less interested in Afghanistan than the Soviet Union was. Afghanistan was much more important for the Soviet Union. It was a neutral, developing state on the periphery of the USSR, beholden to Moscow for economic and military aid which was generously applied, especially in the early 1970s.

1978

Mohammed Daoud digulingkan oleh sayap kiri yang dulu membantunya kudeta. Wafat terbunuh bersama keluarganya.  Pemerintahan pewaris Amanullah yang represif radikalis mulai terjadi. Kekuatan berada pada kelompok dukungan intelektual Pashtun Timur dan militer dukungan Soviet.

Ancaman perpecahan seperti terorisme, Islam radikalisme, globalisasi dan era informasi terus terjadi sejak wafatnya Abdur Rahman Khan 1901 hingga munculnya Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (1978).

3 dari 4 penguasa komunis selalu terbunuh saat berkuasa atau sesaat setelah meninggalkan kekuasaannya (Taraki, Hafizullah Amin, and Mohammad Najibullah). Hanya Babrak Karmal selamat hingga 1986 diasingkan.

Ke-12 pendahulu Presiden Hamid Karzai telah menjalani kehidupan yang sulit: semuanya telah dipaksa lepas dari jabatannya, dengan tujuh orang terbunuh dalam prosesnya.

Februari 1979

Kelompok radikalis menculik dubes AS. Adolph “Spike” Dubs di Kabul.

Maret 1979

Pemberontak menyerang kota Herat. Membunuh 50 warga Soviet.

September 1979

Presiden Taraki mengunjungi Moscow. Diperingatkan oleh para pejabat Soviet tentang berbahayanya PM radikalis Hafizullah Amin. Beredar foto Presiden Taraki menghormati Leonid Brezhnev di halaman depan harian Pravda. Tak lama kemudian Presiden Taraki dibunuh. Hafizullah Amin mengambil alih posisi defense secretary, prime minister, president, and general secretary of the party.

Desember 1979

Invasi Soviet ke Afghanistan. Hafizullah Amin terbunuh.

Babrak Karmal diangkat Uni Soviet (era sekjen. Mikhail Gorbachev) sebagai Presiden Afghanistan (1979-1986)

(Understanding War in Afghanistan by Joseph J. Collins)

What We, the Taliban, Want

Februari 1979

Saudi meminta Amerika Serikat untuk membantu para pejuang Afghanistan, dan menawarkan untuk mendanai upaya tersebut.

25 Desember 1979

Tank-tank Soviet melintasi perbatasan Uzbekistan, melintasi Sungai Amu Darya, masuk ke Afghanistan.  Pada 5.00 am, Soviet memulai pengangkutan udara besar-besaran pasukan tempur ke Kabul. Dilaporkan lebih dari 200 penerbangan take off/landing di Kabul. Peningkatan jumlah tentara dari 1.500 menjadi 6.000 tentara dalam satu malam.

Februari 1980

Turki al-Faisal, pimpinan intelijen Arab Saudi, yang baru saja menaklukkan Juhaiman di Mekah, melakukan perjalanan ke Peshawar. Mengunjungi pengungsi Afghanistan. Mulai khawatir ttg kemungkinan masuknya Soviet ke Pakistan, dari Afghanistan.

Juli 1979

Presiden Carter menyetujui bantuan ringan radio transmiters dan dukungan propaganda terhadap Saudi Arabia.

1986

Mohammad Najibullah menggantikan Babrak Karmal sebagai Presiden (Joseph J. Collins)

15 Februari 1988

Militer Soviet terakhir keluar dari Afghanistan menyeberangi sungai Amu Darya melalui jembatan Termez Bridge. Kembali memasuki Soviet Republic of Uzbekistan. Route yang sama ketika memasuki Afghanistan, Desember 1979.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Iran

Back to: Black Wave

Iran was ancient Persia; its kings Cyrus and Darius had ruled over the world’s first superpower, centuries before Jesus and Muhammad.

1946

Navvab Safavi (1924-1955) mahasiswa theologi, mendirikan Fedayyeen atau Society of Islam Devotees (SID). Sebuah organisasi fundamentalis Islam Shia.

Safavid conversion of Iran to Shia Islam

1955

Shah mengeksekusi mati Navvab Safavi Kaum Shia dan Sunni menghormatinya sebagai martir. Sejak itu, para pengikut Savafi banyak berlindung ke Ruhollah Khomeini. Navvab SafaviRuhollah Khomeini adalah dua sahabat yang punya keyakinan sama tentang adanya pengaruh buruk sekularisme terhadap kaum intelektual dan politisi Iran.

1962

Jalal Al-e Ahmad menulis Gharbzadeghi, biasa diterjemahkan sebagai Westoxication atau Occidentosis. Sebuah fondasi revolusi Iran. Artikel tentang hilangnya jatidiri bangsa Iran karena budaya Barat.

1963

Shah Reza Pahlevi mencanangkan White Revolution. Ini dianggap sebagian masyarakat sebagai westernisasi. Misalnya  Hak perempuan menduduki jabatan publik. Ruhollah Khomeini melarikan diri ke Turki dan tinggal di Najaf, Iraq tahun 1965.

Imam Khomeini’s Biography

Ayatollah Kazem Shariatmadari, ulama senior bijak, intervensi keputusan hukuman untuk Khomeini karena melawan White Revolution, sehingga tidak mendapatkan putusan hukuman mati.

Mostafa Chamran adalah anggota Nehzat-e Azadi-e Iran, the Liberation Movement of Iran (LMI), partai oposisi yang turut serta menentang pemerintah Iran di tahun 1963. Para pendirinya adalah Mehdi Bazergan dan ulama liberal Ayatollah Taleghani, yang keduanya religious modernists. Keduanya menolak White Revolution.  Bekerjasama dengan LMI adalah Abolhassan Banisadr, putra seorang ayatollah yang lebih memilih politik daripada agama, profesor ekonomi yang berhaluan nasionalis kiri. Tinggal di Paris.

Setelah 1963, kepemimpinan LMI terpaksa harus bergerak di bawah tanah dan luar negeri. Pindah dari Tehran ke Cairo, kemudian Berkeley. Sementara Mostafa Chamran pindah ke Lebanon tahun 1971, untuk membantu Hussein el-Husseini dan Musa al-Sadr dalam memperbaiki tingkat kehidupan Shia Lebanon.

1964

Jalal Al-e Ahmad bersama istri mengunjungi Israel. Jalal menulis Vilayet-e Izrael. Sistem pemerintahan yang dipimpin oleh para ulama, sebuah wilayat Yahudi. Sebuah model untuk sistem pemerintahan Muslim. Di tahun 69an, Jalal adalah intelektual kunci dalam revolusi Iran. Oposisi sekular yang sangat penting didalam oposisi melawan Shah.

Abolhassan Banisadr, Mostafa Chamran, Sadegh Ghotbzadeh, dan Ebrahim Yazdi adalah generasi yang sama, lahir pertengahan 1930 an. Mereka tumbuh dalam periode penuh gejolak di awal 1950-an di Iran, ketika kudeta 1953 yang diprakarsai CIA telah menjatuhkan Mohammad Mossadegh, Perdana Menteri nasionalis Iran yang populer dan telah menyatakan kemerdekaannya dari Shah.

Membaca buku Khomeini tentang Negara Islam, Banisadr merasa kurang nyaman. Dia beranggapan bahwa negara telah melakukan ‘pembelokan’ konsep wilayat al-faqih untuk mendiskreditkan Khomeini.

1969

Jalal Al-e Ahmad wafat. Ali Shariati ideolog visioner adalah penerusnya dan wafat 1977. Konsep Gharbzadeghi diadopsi oleh Khomeini untuk memerangi AS.

1971

Ali Shariati, ideolog revolusi sekaligus pengajar di universitas Mashhad, menggalang massa untuk menentang Shah Iran. Tahun 1973 ditangkap dan dibebaskan 4 tahun kemudian. Seorang nasionalis kiri yang belajar sosiologi di Paris. Satu generasi dengan Chamran. Pindah ke London dan wafat Juni 1977 disana karena serangan jantung.

Paul Sarte pernah menyatakan, “I have no religion, but if I had to pick one it would be Shariati.”

November 1977

Nama Ayattolah Khomeini mulai popular lagi ketika peringatan 40 hari wafatnya Mustofa, putra Khomeini. Cerita konspirasi wafatnya Ali Shariati dan Mustofa disebabkan oleh SAVAK, agen rahasia Iran.

19 Agustus 1978

Terjadi serangan dan kerusuhan dengan pembakaran di Bioskop Rex di kota Abadan, menewaskan 420 orang. Tanggal yang sama saat jatuhnya Perdana Menteri Mossadegh, 1953. Pendukung fanatik Ayattolah Khomeini telah membakar 29 bioskop dan ratusan bisnis swasta pada bulan-bulan sebelumnya. Aksi massa terus berlanjut.

Terrorists Kill 377 by Burning Theater in Iran

Akhir Agustus 1978

Mohammad Reza Pahlavi menerima peringatan via telepon dari Saddam Husein. Intinya, Ayattolah Khomeini sudah mengganggu, perlu disingkirkan. Mohammad Reza Pahlavi tidak setuju.

8 September 1978, Black Friday

Black Friday, a bloody day which led to the victory of the Islamic revolution

Ribuan demonstran terdiri dari pendukung Khomeini, mahasiswa, pelajar dan kelompok kiri, memenuhi Jaleh Square sambil menyerukan “Marg bar shah, Death to the shah”. Media massa nasional maupun Barat, menyatakan korban jiwa sebanyak 3.000 orang.

Pada saat itu, AS dan Arab Saudi lebih khawatir terhadap kaum kiri dan komunis Soviet, daripada Ayattolah Khomeini. Dari sudut pandang AS, Iran dan Arab Saudi adalah sekutu dalam berhadapan dengan Soviet. Namun ketika kerusuhan semakin membesar, Saudi menyatakan mendukung kekuasaan sah dari Mohammad Reza Pahlavi

1979

Ayattolah Khomeini menerjemahkan dan menerapkan Gharbzadeghi tanpa mengindahkan lagi sumbernya. Jalal Al-e Ahmad dan Ali Shariati sudah wafat.

Hubungan FedayyeenIkhwanul Muslimin terus berlanjut setelah wafatnya Navvab Safavi. Ayattolah Khomeini lebih banyak mengadopsi pemikiran Sayyid Qutb, yang sebenarnya sudah dielaborasi oleh Abul A’la Maududi (25/9/1903-22/9/1979), ideolog fundamentalis Pakistan. Pendiri Jamaat-e Islami.

Ali Khamenei menterjemahkan buku-buku Sayyid Qutb ke dalam bahasa Persi, dan memberinya Kata Pengantar. Di era Revolusi Iran, buku-buku Qutb diajarkan di sekolah-sekolah. Pemerintah Iran sangat menghormati Sayyid Qutb dan memberinya penghargaan dengan mencetaknya dalam perangko Iran.

16 Januari 1979

Iran semakin chaos. Shah Iran bersama istri, Farah Diba, melarikan diri setelah menunjuk Shahpour Bakhtiar sebagai Perdana Menteri. Meninggalkan rumahnya di kawasan istana Niavaran, wilayah utara Tehran, menggunakan dua helikopter menuju bandara Mehrabad.

Pukul 1:24 pm, Boeing 707 terbang meninggalkan bandara dengan Mohammad Reza Pahlavi sebagai penerbang. Menuju bandara militer di Aswan, Mesir.  Tahun 1939, shah menikah pertama kali dengan Fawzieh, putri raja Mesir, Fouad I. Raja Shiah menikahi putri Sunni.

1 Februari 1979

Pukul 9.30 pagi, Air France Boeing 747 Flight ID 4271 yang membawa Ayattolah Khomeini, mendarat di bandara Mehrabad, Tehran bersama Ebrahim Yazdi, Mohsen Sazegara dan Sadegh Ghotbzadeh, juga puluhan wartawan, setelah 15 tahun di pengasingan.

Jutaan masyarakat memadati jalan dan diatap-atap rumah menyambut Khomeini di dalam deretan mobil yang melintas di depan mereka.

Berbeda dengan rencana LMI atau Ebrahim Yazdi, kelompok ulama fundamentalis yang dekat dengan Ayattolah Khomeini telah membawanya pergi ke sekolah yang mereka miliki. Abolhassan Banisadr, merasa bahwa tugas para intelektual adalah hanya membawa Khomeini ke Teheran dan menyerahkannya kepada para mollah. Ironis

Ruhollah Khomeini berada tepat di tempat yang dia inginkan, yaitu bersama teman-teman terdekatnya.  Dia telah memanipulasi dan menggunakan kelompok kiri sekuler dan modernis Islamis, sebagai kendaraan, dan akan membuangnya bila tak lagi dibutuhkan. Pada waktunya, dia bahkan akan melawan Fedayyeen. Dan fokus utama Khomeini adalah merebut kekuasaan.

Ayatollah Mohammad Beheshti, teman dekat Ruhollah Khomeini yang mempunyai kesamaan visi politik dan theologi, bergerak cepat mengambil alih peran kekuasaan dengan menyatukan semua kekuatan loyalis Ruhollah Khomeini kedalam Partai Republik Islam yang baru. Diantaranya adalah Akbar Hashemi Rafsanjani, yang nantinya menjadi Presiden Iran.

5 Februari 1979

Ruhollah Khomeini menunjuk pemerintahan sipil sementara, dengan Mehdi Bazargan sebagai Perdana Menteri. Tanpa banyak disadari oleh para elit politik, Ayattolah Khomeini telah menjalankan wilayat al-faqih dan menyatakan, “Revolt against God’s government is a revolt against God,” dan “Revolt against God is blasphemy.” Kediktatoran Shah telah digantikan dengan hukum theokrasi. Sayangnya, penulis tidak menyebutkan sumber pernyataan dimaksud.

11 Februari 1979

Militer menyatakan netral. PM Shahpour Bakhtiar mengundurkan diri. Pendukung Mohammad Reza Pahlavi sudah tumbang. Revolusi sukses. Ayatollah Sadeq Khalkhali ditunjuk sebagai Ketua Pengadilan Revolusioner dan segera bertindak.

15 Februari 1979

Generals’ Execution Recalls the Horror of 1979 Iran

Ayatollah Sadeq Khalkhali mengakui telah menghukum mati 4 jendral dan 500 kriminal yang dekat dengan keluarga Shah, dan ratusan pemberontak di wilayah Kurdistan, Gonbad dan Khuzestan.

17 Februari 1979

Yasser Arafat berkunjung ke Tehran utk bertemu Ayattolah Khomeini. Menggunakan pesawat kepresidenan Syria. Mendarat di bandara Mehrabad, Sabtu 18.00. Tamu Pejabat negara asing yang pertama ke Iran setelah Revolusi. Disambut oleh Ebrahim Yazdi, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri. Pada saat yang sama, sedang terjadi perundingan Mesir – Israel di Camp David, AS.

Ribuan warga asing mencoba keluar dari Iran melalui bandara Mehrabad. Pesawat-pesawat militer Hercules C130 milik AS mengevakuasi warganya kembali ke negerinya.

PLO Chief, in Iran, Hails Shah’s Fall

Perubahan budaya setelah Revolusi Iran 1979, terjadi sangat keras dan seringkali diiringi dengan keluarnya peraturan resmi dari Pemerintah. Musik di radio dan televisi dilarang. Toko penjual kaset musik dihentikan. Minuman keras dimanapun dilarang. Kolam renang tidak boleh untuk campur laki-laki perempuan. Perempuan harus berkerudung.

24 Februari 1979

Hussein el-Husseini dan Mostafa Chamran menuju Tehran, dari Lebanon. Mostafa Chamran diangkat sebagai Menteri Pertahanan oleh Perdana Menteri Mehdi Bazargan.

March 6, 1979

Ayattolah Khomeini mengeluarkan peraturan resmi bahwa perempuan tanpa cadar, dilarang bekerja di kementerian. Peraturan ini disambut dengan demonstrasi oleh puluhan ribu perempuan dan para lelaki pendukungnya pada hari International Women’s Day, 8 Maret 1979. Keberanian perempuan Iran (tidak di Arab Saudi) ini karena mereka secara resmi di era Sah Iran, mempunyai hak politik, hak bekerja di kantor, hak mengenakan pakaian yang disukai.

Maret 1979

Hasil referendum, nama resmi negara Iran adalah Republik Islam Iran (The Islamic Republic of Iran).

Mohsen Rafighdoost membantu pembentukan The Sepah-e Pasdaran-e Enghelab-e Islami, the Army of the Guardians of the Islamic Revolution. Milisi bersenjata ini digunakan pemerintah untuk menghabisi kelompok-kelompok bersenjata  anti-revolusi Iran, milisi non-muslim, marxis dan komunis.

Tragis, Mohsen justru berakhir di penjara dengan siksaan karena berseberangan dengan para ulama. Bebas dan kembali ke AS.

Mei 1979

IM Syria bersama pimpinan sekaligus ideolognya, Sa’id Hawwa, yang diasingkan di Jordan, kembali mengunjungi Ayattolah Khomeini di Tehran. Mengajukan usulan untuk menggulingkan diktator Syria, Hafez al-Assad. Khomeini tidak menanggapinya, karena Syria banyak memberi dukungan kepada Shia Iran. Bahkan Syria adalah negara pertama yang mengucapkan Selamat saat jatuhnya pemerintahan Iran dibawah Shahpour Bakhtiar

Saʽid Ḥawwa dan Ikhwanul Suriah tidak akan pernah melupakan, atau memaafkan, Ayattolah Khomeini dan Iran karena telah meninggalkan mereka. Setelah memuji Ayattolah Khomeini dan revolusinya, Sa’id Hawwa segera mulai mencerca ayatollah sebagai bahaya bagi dunia Muslim Sunni.

14 Juni 1979

Text konstitusi baru, yang disusun oleh Mehdi Bazargan dkk dipublikasikan. Konstitusi tersebut berisikan diantaranya,  kekuasaan di tangan rakyat, bukan monarki. Komite pemimpin agama mempunyai veto yang terbatas terhadap hukum. Lelaki dan perempuan diperlakukan sama di depan hukum. Konstitusi tidak mengacu pada wilayat al-faqih.

Konstitusi yang mengacu pada konsep konstitusi revolusi 1906 tersebut sudah disusun Mehdi Bazargan dkk di Perancis sejak Ayattolah Khomeini masih berada disana.

Ketegangan antara Ayattolah Khomeini dengan Ayatollah Taleghani, sebagai ulama besar kedua di Iran, dan Ayatollah Kazem Shariatmadari. Mulai muncul ke permukaan. Putra Taleghani ditangkap. Ayatollah Taleghani wafat di saat tidurnya. Misterius

Ayatollah Kazem Shariatmadari yang menginginkan kembali pada konstitusi 1906, mendirikan partai politik. Namun kalah besar dibanding the Islamic Republican Party (IRP), partai pemerintah yang dipimpin oleh Behesti.

Kelompok sekular, marxist dan komunis masih merajai di jalanan. Mereka bisa mengerahkan ratusan ribu hingga sejuta massa pendukungnya untuk turun ke jalan.

9 September 1979

Taleghani wafat dalam kondisi misterius, setelah mencela masuknya konsep Wilayat dalam konstitusi.

4 November 1979

Pengikut radikal Ayattolah Khomeini menunjukkan eksistensinya dengan cara menyandera 66 warga Kedubes AS di Kedubes AS. Khomeini memberi restunya terhadap tindak penyandaraan tsb.

6 November 1979

Perdana Menteri Mehdi Bazargan, dan Ebrahim Yazdi mengundurkan diri. Setelah perdebatan lama dengan Ayattolah Khomeini terkait visi pemerintahan. Dan puncaknya adalah aksi penyanderaan warga AS.

Januari 1980

Mohammad Montazeri (1944-1981), pernah belajar perang bersama PLO di Lebanon, radikalis internasional, mengirim 200 anak muda ke Lebanon untuk berperang bersama PLO melawan Israel. Sebagai cikal-bakal milisi Hizbullah. Wafat di Tehran 1981, karena pemboman.

3 Desember 1979

Referendum perubahan konstitusi menghasilkan masuknya wilayat al-faqih. Disusun oleh Mohammad Beheshti dkk. Faqih (Ayattolah Khomeini) berkuasa menentukan pimpinan tertinggi militer dan hakim, menurunkan Presiden, diskualifikasi kandidat politisi, menyatakan perang dan damai. Ayattolah Khomeini menjadi Penguasa Tertinggi (Supreme Leader).

Mohammad Kazem Shariatmadari menentang konstitusi terbaru. Membubarkan sendiri partainya. Mendapat hukuman rumah.

Summer 1980

Hukum rajam telah diberlakukan lagi untuk dua orang pelacur dan dua orang homoseksual. Hukum tembak dan hukum cambuk diberlkukan. Tidak ada hukum pancung seperti di Arab Saudi, melainkan hukum gantung. Seperti Arab Saudi, Iran juga mempunyai Polisi Religi, the Gasht-e Ershad.

Januari 1981

Sebanyak 52 orang warga AS dibebaskan dari kedubes AS, Iran, setelah 444 hari disandera kelompok radikal pendukung Khomeini.

Juni 1981

Ayattolah Khomeini mendorong pemakzulan Abolhassan Banisadr. Memaksanya melarikan diri utk menghindari penjara, sebelum akhirnya menyelinap ke luar negeri.

September 1982

Sadegh Ghotbzadeh (24 February 1936 – 15 September 1982) politisi Iran dan kolega dekat Ayattolah Khomeini selama pembuangan di Paris, justru dituduh merencanakan penggulingan Republik Islam dan dieksekusi oleh regu tembak.

1983

Evin Prison di Tehran, yang berkapasitas 300 tahanan, dipergunakan untuk memenjarakan 15.000 tahanan di jaman Ayattolah Khomeini. Lebih dari 7900 tahanan politik akan dieksekusi mati antara 1981-1985. Setidaknya 79 kali dari jumlah dihukum mati antara 1971-1979, dimasa Shah Iran.

Pada saat itu Shia-Sunni bukanlah isu perjuangan. Isu yang dibangun Ayattolah Khomeini adalah antara nasionalisme – agamis, sekular aktifisme – religius fundamentalisme. Namun Yasser Arafat, seperti halnya Ayattolah Khomeini, tidak berharap menjadi Follower, melainkan Leader. Yasser Arafat tidak menggunakan slogan Perjuangan Islam. Oleh karenya, kelompok yang resisten terhadap kepemimpinan Yasser Arafat, akan menyarakan dirinya sebagai Palestinian Islamists, seperti halnya Hamas. Dan akan membutuhkan bantuan Iran.

1984

Penghormatan Khomeini terhadap Sayyid Qutb, pimpinan IM Mesir tahun 50an dan 60an, ditunjukkan dengan membuatkan perangko bergambar Sayyid Qutb. Dan kunjungan Navvab Safavi, pemimpin Fedayeen-e Islam Iran.

1986

Ayatollah Kazem Shariatmadari wafat di penjara

1988

Sedikitnya, 3.000 tahanan dieksekusi hukuman mati dalam 5 bulan.

3 July 1988

Penerbangan komersial Airbus A300 Iran Air Flight 655 dari Tehran ke Dubai, jatuh ditembak oleh kapal tempur AS USS Vincennes di selat Hormuz, dekat Dubai. Semua penumpang tewas, 290 orang termasuk 66 anak-anak. Kesalahan identifikasi pesawat.

14 Februari 1989

Ayattolah Khomeini mengumumkan via radio di Tehran bahwa penulis The Satanic Verses, Salman Rusdhie telah menodai Islam, Nabi dan Quran. Dan layak dibunuh. Penerjemah Jepang dan Turki, juga penerbit Norwegia, tewas dibunuh.

3 Juni 1989

Ayattolah Khomeini (86 thn) wafat. Gagal jantung.

Presiden Ali Khamenei menggantikannya sebagai Supreme Leader. Ali Akbar Rafsanjani diangkat menjadi Presiden.

20 Juni 1989

Setelah selesai perang Iran-Irak, 1988, Hashemi Rafsanjani diterima Mikhail Gorbachev di Moscow. Iran menghabiskan $1 Trilyun dan kehilangan 1 juta warganya. Turut hadir di Moscow, Foreign Minister Ali Akbar Velayati dan Mohsen Rezaee, komandan Pengawal Revolusi Iran.

September 1990

Iran dan Arab berbicara di Sidang Umum PBB, New York. Protes tentang tindakan Iraq invasi ke Kuwait. Mengganggu geopolitik regional Timur Tengah.

Arab, Iran, Syria dan AS sepakat bersama-sama memusuhi Iraq dalam kasus Kuwait.

18 Maret 1991

Menlu Arab Saudi dan Iran bertemu di Oman. Kuota haji Iran naik dari 45.000 jemaah, menjadi 110.000 jemaah.

Mei 1999

Menteri Pertahanan Arab Saudi melakukan kunjungan menegaraan ke Tehran, Iran.

2000

Masih Alinejad, magang, kemudian reporter parlemen, untuk Hambastegi, sebuah surat kabar nasional yang merupakan bagian dari pers reformis Iran yang sedang berkembang di bawah presiden Mohammad Khatami.

Kiyan akhirnya akan ditutup, dan Abdolkarim Soroush harus meninggalkan Iran.

Kiyan, majalah yang berani dan kontroversial, menerbitkan artikel tentang pluralisme agama dan peran ulama dalam politik. Publikasi tersebut didirikan oleh seorang intelektual revolusi, Abdolkarim Soroush, yang telah memainkan peran kunci dalam revolusi budaya yang mengislamkan kurikulum universitas.

2003

Mohsen Sazegara, setelah keluar dari pemerintahan dan bergabung dengan Soroush di harian Kiyan, dipenjara selama 4 bulan. Protes menuntut perubahan sistem pemerintahan presiden Mohammad Khatami. Melakukan mogok makan, dan akhirnya diasingkan. Tinggal di AS.

10 October 2003

Shirin Ebadi menerima Nobel Peace Prize. Hakim perempuan pertama kalinya ada di Iran, yang kemudian dihentikan setelah Revolusi Iran, 1979. Hadiah Nobel Perdamaian telah disita oleh otoritas Iran, 2009 dimasa presiden Mohammad Khatami.

Agustus 2005

Mahmoud Ahmadinejad, terpilih sebagai Presiden Iran. Menggantikan presiden Mohammad Khatami.  Konservatif, salah satu Pengawal Revolusi yang melakukan perjalanan tugas singkat di Lebanon pada 1980-an untuk membantu mendirikan Hizbullah,

2009

Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden untuk kedua kalinya. Dibutuhkan untuk konsolidasi Iran setelah AS invasi ke Iraq, 2003. Kandidat lain, Mir-Hossein Mousavi, moderat, yang diharapkan oleh AS akan terpilih, kalah.

The Green Movement, demo pendukung Mousavi menuntut kecurangan pilpres, berlangsung 3 bln lebih. Sedikitnya 69 orang tewas. Mousavi bersama istri berada dalam tahanan rumah selama beberapa tahun.

Juni 2013

Hassan Rouhani, menjadi Presiden Iran. Menggantikan Mahmoud Ahmadinejad

May 2014

Masih Alinejad membuat akun FB My Stealthy Freedom, yang segera mendapat 500.000 follower, untuk perjuangan terhadap hak-hak Perempuan.

September 2014

Kelompok pemberontak Houthi merebut ibu kota Sana’a, Yaman, dan menjatuhkan pemerintah yang diakui secara internasional. Saudi menuduh Iran dan Hizbullah mendukung dan mempersenjatai kelompok pemberontak Houthi yang pejuangnya berasal dari sub-sekte Syiah yang dikenal sebagai Zaidi.

2017

Mohsen Sazegara, aktivis muda yang terbang dari Paris ke Iran bersama Ayattolah Khomeini dan membantu mendirikan Pengawal Revolusi, sekarang berada di pengasingan, Virginia, AS, sama seperti Masih Alinejad dan banyak lainnya.

December 2017

Demo menuntut dihilangkannya posisi Supreme Leader. Masyarakat sudah lelah dengan perang tidak bermanfaat yang dilakukan pemerintahnya di negara lain (proxy war). Lebanon, Iraq, Syria, Yaman, bahkan nuklir yang tidak berguna. Ekonomi tidak bergerak tumbuh.

Back to: Black Wave

Black Wave – Iraq

Back to: BLACK WAVE

1974

Hussein al-Husseini dari Lebanon menemui Khomeini (72 tahun) di Najaf, Iraq,  memintanya untuk bersuara supaya Shiah Lebanon mendukung revolusi di Iran. Khomeini tertarik untuk terlibat dalam politik Iran dan Palestina.

Khomeini meyakini bahwa Quran sudah memuat semua aturan yang diperlukan dalam melaksanakan pemerintahan Islam. Dan menurutnya, Nabi dan Imam Ali, merasa perlu adanya orang bijak dan terpelajar dalam hukum Islam, untuk merealisasikannya. Konsep pemerintahan Islam Khomeini ini kemudian dikenal dengan wilayat al-faqih. Namun Husseini tidak membahas konsep Khomeini diatas, saat pertemuannya.

1978

Sheikh Sobhi Tufayli, Sayyed Abbas Mussawi, Sheikh Mohammad Yazbek dan Hassan Nasrallah (31 Agustus 1960, 18 thn) yg kelak menjadi pimpinan militan di Beirut dan penulis buku “Voice of Hezbollah” serta Sekjen Partai Allah, berada bersama Khomeini di Najaf. Sebelum Khomeini pindah ke Perancis.

6 Oktober 1978

Khomeini tiba di Perancis

31 Maret 1979

Arafat tiba di Bagdad untuk menghadiri Pertemuan Puncak Liga Arab. Dia berharap supaya negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Cairo, Mesir.

1980

Mohammad Baqer al-Sadr (March 1, 1935 – April 9, 1980), ulama Shia Iraq, theolog, ideolig dan pendiri Islamic Dawa Party. Pendukung Khomeini tentang Wilayat. Dihukum mati.

8 April 1980

Ayatollah Mohammad Baqer al-Sadr  (March 1, 1935 – April 9, 1980), ulama Shia Iraq, theolog, ideolog dan pendiri partai Islam Dakwah (Islamic Call), meniru model Ikhwanul Muslimin Mesir, serta pendukung Khomeini tentang Wilayat. Setelah ditangkap 5 April 1980, akhirnya bersama saudara perempuannya, dieksekusi mati oleh rejim Sadham.

Sadr adalah satu-satunya ulama terkemuka di Najaf yang secara terbuka mendukung wilayat al-faqih Khomeini, dan dia telah melakukan agitasi terhadap pemerintah Irak, mengeluarkan fatwa agama agar tidak bergabung dengan Partai Baath.  Pendukungnya menggambarkan dia sebagai Khomeini masa depan Irak.

22 September 1980

Sadham Hussein menyatakan perang terhadap Iran.

Agustus 1990

Iraq, dibawah Saddam Hussein melakukan invasi dan aneksasi Kuwait.

2003

Kampanye Saddam adalah koalisi Salafisme dan nasionalisme, sebagai buah dari persaingan Saudi-Iran yang akan berkontribusi di tahun-tahun mendatang dalam pembentukan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Setelah runtuhnya rezim Saddam Husein, kelompok Salafi bergabung dengan lebih dari 400.000 tentara Iraq dan pegawai negeri yang di’non-aktif’kan oleh AS. Mereka ini bersama milisi2 dari Arab mulai memerangi AS. Lebih dari 500.000 warga Iraq tewas dan lebih dari 4.000 tentara AS tewas. Wacana munculnya Negara Islam dari kelompok Sunni mulai membesar, untuk mencegah berkuasanga kelompok Shia yang didukung Iran.

5 Februari 2003

Menteri Pertahanan AS, Colin Powell, dalam pidatonya di PBB menyatakan bahwa Abu Musab al-Zarqawi, pendiri ISIS adalah teroris kelompok Bin Laden, Al-Qaeda.

Maret 2003

Saddam Hussein kabur dan patungnya diruntuhkan massa.

29 Agustus 2003

Ayatollah al-Hakim bersama 95 orang lainnya, tewas karena bom meledak di depan makam Imam Ali di Najaf. Pembunuhan tersebut atas perintah Abu Musab al-Zarqawi (30 Oktober 1966 – 7 Juni 2006), anak didik Abu Muhammad al-Maqdissi, ideolog Yordania yang telah menghabiskan waktu di Peshawar dan menulis pamflet anti-Saudi yang mengilhami pemboman pertama di Arab Saudi pada 1990-an.

Abu Musab al-Zarqawi, bernama asli Ahmad Fadeel al-Khalayleh, adalah seorang putus sekolah menengah Yordania, mulai eksis sejak di medan perang Afghanistan, melawan Soviet. Pernah dipenjara di Jordan 1992, bertemu dan belajar dibawah bimbingan Maqdissi. Kembali ikut perang di Afghanistan 1999. Tokoh dibalik penyembelihan sandera bangsa Barat, peledakan kantor-kantor PBB dan kedubes Yordania di Iraq. Juga dalang bom bunuhdiri hotel bintang 4 di Amman, Desember 2005, 60 orang tewas.

22 February 2006

Bom meledak di Samarra. Kota Sunni, tempat Masjid Agung Al-Askari peninggalan khalifah Abbasid.

Atwar Bahjat, wartawan perempuan televisi Al-Jazeera memberitakan peristiwa pemboman di Sammara. Ditemukan tewas keesokan harinya. Ditembak

20 May 2006

Nuri al-Maliki diangkat sebagai Perdana Menteri. Aktifis Shia. Tahun 1979, melarikan diri dan tinggal di Iran, karena sebagai anggota partai terlarang di Iraq saat itu Islamic Dawa Party. Kembali ke Iraq 2003, setelah tumbangnya Saddam Husein.

7 Juni 2006, 6:15 p.m.

Dua pesawat tempur F-16 meluncurkan bom seberat 500 pound, yang dipandu sinar laser, ke arah sebuah rumah, berjarak 55 mille timur laut Bagdad, Baquba. Enam orang, termasuk Abu Musab al-Zarqawi, terbunuh di serangan udara AS tersebut.

30 December 2006, 6.10, Idul Adha

Saddam Hussein, eksekusi hukuman mati. Digantung.

Interpretasi yang berbeda antara Sunni-Shia.  Sunni melihatnya sebagai seorang negarawan Sunni tua dicemooh oleh massa Syiah, kehilangan martabatnya di saat terakhirnya. Syiah merasa lega, mendapat keadilan setelah puluhan tahun diperlakukan sebagai minoritas dgn tindak opresif. Dendam

2009

Pasukan Amerika mulai menarik diri dari Irak pada 2009, dan tidak ada yang tersisa pada akhir 2011. Obama berharap bisa membuat keseimbangan dengan menjaga jarak yang sama terhadap, Iran mauoun Saudi Arabia.

2011

Abu Bakr al-Baghdadi, mengirim 8 orangnya ke Syria untuk menjajagi kemungkinan realisasikan mimpi Zarqawi, Negara Islam. Bagdadi menafsirkan kondisi Syria seperti saat Iraq sebekum invasi AS.

3 January 2020

Suleimani terbunuh ketika dia meninggalkan bandara Baghdad dalam konvoi, baru saja kembali dari perjalanan ke Suriah dan Lebanon.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Israel

Back to Black Wave

1953

Islamic Conference diadakan di Jerusalem. Dihadiri oleh Navvab Safavi (1924-1955), pendiri Society of Islam Devotees (SID) atau Fedayeen di Iran. Juga dihadiri Sayyid Qutb, pemikir Islam, yang kemudian menjadi ideolog radikal IM (Muslim Brotherhood) di Mesir, dan penulis berbagai artikel yang menginspirasi berbagai generasi fundamentalis.

Oktober 1967

Perang 6 hari melawan Mesir dan Syria.

November 1997

Anwar Saddad memasuki parlemen Knesset, Israel. Negara-negara Arab dan Palestina merasa dikhianati.

November 1982

Pemboman di Pos Komando Tyre, 75 tentara tewas.

Back to Black Wave

Black Wave – Lebanon

Back to: BLACK WAVE

Baca juga “Dari Beirut Ke Jerusalem”

Tiga kelompok agama besar yang menguasai Libanon, adalah:

1. Sunni: kelas pedagang borjuis dan birokrat

2. Kristen: penguasa karena warisan kolonial masa lalu

3. Shia: kelas buruh tani kentang dan tembakau di Lembah Beka, wilayah selatan Libanon

Di kota Balbeek, Libanon Selatan, Shia adalah komunitas mayoritas diantara tiga kelompok yang ada. Komunitas Shiah sudah berada di wilayah ini sejak abad 15 ketika Libanon masih berada dalam kekuasaan Persia dibawah Shah Ismail I. Saat itu pengikut Sunni dipaksa untuk mengikuti keyakinan Shiah. Di masa Ottoman, pengikut Shiah menjadi minoritas di bawah kekuasaan Sunni.

Di awal masa Libanon modern, perbedaan antara kelompok Shiah – Sunni cukup cair dari perspektif agama maupun identitas budaya. Mereka hidup damai berdampingan.

Tiga orang berpangaruh dari komunitas Shia di kota Khalde, Beirut Selatan, 1974:

  1. Musa al-Sadr (Imam Sadr), the magnetic, turbaned Iranian cleric with green eyes; alumni Universitas Tehran jurusan politik. Merupakan ancaman bagi Khomeini, karena kharismanya di Qom, Iran. Sangat dekat dengan ulama-ulama elit yang ditakuti Ruhollah Khomeini, termasuk Mahmoud Taleghani dan Mohammad Kazem Shariatmadari.
  2. Hussein al-Husseini, the witty, mustachioed Lebanese politician, in a suit;
  3. Mostafa Chamran (1932-1981), the Iranian physicist turned leftist revolutionary in fatigues. Alumni univ California, Berkeley dan Texas, Austin. Masuk Libanon 1971, dari Iran. Anggota Nehzat-e Azadi-e Iran, the Liberation Movement of Iran (LMI), partai oposisi di Iran penentang Shah Iran 1963. Mengorganisir LMI di camp-camp Palestina. Menjadi Menteri Pertahanan Iran dimasa pemerintahan Perdana Menteri pertama setelah revolusi, Mehdi Bazergan. Wafat dalam perang Iran-Iraq (1981). Dianggap rival Ruhollah Khomeini.

Musa al-Sadr (Imam Sadr) dgn turban dan jubah hitamnya, sebagai sayyed, pindah dari Iran ke Libanon 1959 utk membesarkan Shia. 1974 Imam Sadr yang sudah termasyur, masuk Balbeek untuk membangun kesadaran politik. Kaum Shiah yang sebelumnya tanpa suara di parlemen, selalu kalah dengan kaum Kristen, menjadi terdengar suaranya karena Musa al-Sadr (Imam Sadr).

Musa al-Sadr (Imam Sadr) tidak menganjurkan perlawanan bersenjata, namun kepemilikan senjata untuk kelompok Shiah dirasanya perlu untuk menaikkan daya tawar politik. Dia adalah ulama modernist yang berpandangan luas, berpendidikan politik, tidak hanya agama, menghormati masyarakat sunni dan kristen, bahkan mengajar di sekolah Sunni dan Universitas St. Yoseph, Beirut, tentang filosofi Islam.

Libanon juga jadi tempat penampungan pengungsi Palestina sejak perang 1948. Pengungsi 1960an bahkan masuk gerilyawan Palestina bersenjata yang melawan Israel dari wilayah Libanon Selatan. Penduduk Libanon di selatan kesal dengan tindakan kelompok Palestina yang dianggapnya telah mengundang serbuan Israel dan menghancurkan kehidupan mereka. Musa al-Sadr (Imam Sadr) melakukan agitasi dan protes ke pemerintah Libanon yang dianggapnya tidak melindung rakyatnya. Namun, dia tidak bersuara terhadap tindakan kelompok Palestina bersenjata.

Mostafa Chamran dan LMI bukan satu-satunya kelompok yang menggunakan Libanon sebagai panggung untuk kegiatan anti-Syah mereka. Kaum kiri dan Marxis Iran juga ada di sana, berlatih dengan PLO sebelum membantu menjatuhkan monarki.

1960an

Banyak pelarian politik dari Iran karena pencanangan White Revolution oleh Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi.

Setelah 1963

Mostafa Chamran juga sibuk mengatur pelatihan LMI di berbagai camp Palestina. Ratusan pemuda Iran, Marxist dan ulama, banyak datang ke camp-camp tersebut. Mereka nantinya menjadi Pengawal Revolusi Iran.

1970

Kelompok Kristen berlindung ke Perancis. Sunni berlindung ke Arab dan Suria. Shiah tidak ada perlindungan, karena Shah Iran masih bersekutu dengan Israel.

1974

Mostafa Chamran, Sadegh Ghotbzadeh, dan Ebrahim Yazdi adalah tulang punggung LMI, yang anggotanya adalah bangsa Iran kelas menengah.

1977

Perang saudara di Lebanon sudah berlangsung 3 tahun.

Musa al-Sadr (Imam Sadr) dan Hussein al-Husseini mulai membuat rekaman pidato agitasi melawan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi dan menggandakannya sebanyak mungkin untuk diselundupkan di Iran.

17 Februari 1979

Yasser Arafat bersama Hani Fahs, ulama Shia Lebanon yg menghubungkannya dengan Khomeini 1977,  menggunakan jalan darat dari Lebanon melalui pegunungan Lebanon, Lembah Beqaa dan gerbang Mesnaa menuju Damascus, Syria. Turut menemani adalah Mahmoud Abbas, yang kemudian hari menjadi Presiden Palestina, dan Elias Khoury, 37 tahun, aktifis intelektual kiri. Khoury, kristen Lebanon, domisili di Jordan setelah perang 1967. Penulis. Novelis dan editor majalah Palestinian Affairs.

PLO dibawah pimpinan Yasser Arafat, banyak memberi pelatihan perang di Lebanon, untuk revolusi Iran.

8 Juni 1982 7.00 am

Tank-tank Israel memasuki Lebanon. Operasi Peace for Galilea dimulai. Beirut digempur selama berminggu-minggu sampai Yasser Arafat dan anak buahnya setuju untuk meninggalkan negara tempat mereka memprovokasi perang saudara, memecah kaum nasionalis melawan kaum revolusioner, kiri melawan kanan, Muslim melawan Kristen.  Mereka dievakuasi melalui Lebanon utara dan akhirnya mendarat di Tunisia, dan PLO mendirikan markas besarnya. Penduduk Shia senang karena PLO keluar dari Lebanon.

Israel ‘mendekati’ penduduk Shia Lebanon Selatan. Mereka tidak menyukai Israel, namun LEBIH tidak menyukai PLO karena sikap jumawanya yang seolah menguasai Lebanon.

Mahmoud Ahmadinejad, kelak menjadi Presiden Iran, bersama 1.500 Pengawal Revolusi Iran dari Kantor Gerakan Pembebasan tetap tinggal dan mendirikan basis operasi di Suriah, untuk keluar/masuk Lebanon.

April 1983

Pemboman Kedubes AS di Beirut, menewaskan 63 orang

Oktober 1983

Bom mobil meledakkan barak marinir AS dan paratroop Perancis di Beirut. 300 orang tewas, termasuk 241 warga AS.

Imad Fayez Mughniyeh (1962-2008) bekas elit militer PLO, dicurigai sebagai dalang Hezbollah dibalik para pemboman bunuhdiri.

9 April 1985

Sana’a Mehaidli (August 14, 1968 – April 9, 1985) sekular nasionalis, anggota the Syrian Social Nationalist Party, meledakkan diri di dalam mobil Peogeot di Jezzine, Lebanon ketika tentara Israel sedang konvoi, setelah menaklukkan Lebanon Selatan. Dua tentara Israel tewas. The Bride of the South

1985

Israel menarik diri dari sebagian besar wilayah yang telah didudukinya sejak tahun 1982, termasuk kota-kota besar Sidon dan Tirus.

Juli 1990

Demonstrasi di Tyre, menuntut keluarnya milisi Iran dari Lebanon. Pengawal Revolusi Iran meninggalkan Lebanon. Hezbollah sebagai afiliasi Iran, masih tetap tinggal.

13 Oktober 1990

Militer Syria memasuki wilayah Kristen, Lebanon. Banyak mendominasi wilayah Islam, Beirut Barat. AS ‘tutup mata’ krn Syria bersedia turut memusuhi Iraq bersama Iran, Arab dan AS dlm program Desert Storm di Kuwait.

14 February 2005 12.55 pm

Rafic Bahaa El Deen Al Hariri, PM, pengusaha sipil dan politisi. Dianggap sebagai anak oleh Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Abdallah, terbunuh oleh bom truk bunuh diri di Saint George Hotel, Beirut. Diduga Hezbollah yang didukung Syria/Iran, pelakunya. Secara tidak resmi, Iran ‘mengumumkan’ perang terhadap Saudi Arabia.

6 November 2017

Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, putra mendiang Rafiq Hariri (keduanya juga pemegang kewarganegaraan Saudi), dipanggil ke Arab Saudi, ditahan secara paksa, dan dipaksa mengundurkan diri dalam acara televisi. Di mata Arab Saudi, perlindungan keluarga Hariri selama bertahun-tahun, tidak mendapatkan balasan setimpal, karena Hezbollah dan Iran masih berkuasa di Libanon.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Libya

Back to: BLACK WAVE

Akhir Agustus 1978

Imam Sadr di Tripoli untk bertemu Ayatollah Mohammad Beheshti. Teman sejalan Khomeini dalam hal politik dan theologi. Bahesti setuju dengan negara theokratis, namun Sadr tidak sepakat. Pertemuan akan difalisitasi oleh Muammar al-Gaddafi. Pertemuan tidak terjadi.

Sadr berencana ke Jerman untuk bertemu perwakilan Shah Iran.

31 Agustus 1978 8:15 p.m.

Imam Sadr tercatat dalam penerbangan Alitalia flight AZ 881 menuju Rome. Bagasi sampai tujuan, penumpang tidak ditemukan.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Mesir

Back to: BLACK WAVE

1954

Navab Safavi pendiri Fedayen Iran (Shia) bertemu Sayyed Qutb pendiri Ikhwanul Muslimin (Sunni) di Mesir. Keduanya mempunyai perhatian yang sama tentang perlunya keberadaan gerakan fundamentalis Islam.

Egypt’s Muslim Brotherhood and Iran

Presiden Nasser melarang Ikhwanul Muslimin

1966

Sayyed Qutb (9/10/1906-29/8/1966), pendiri IM Mesir, dieksekusi hukuman gantung oleh pemerintahan Mesir, setelah ditahan lebih dari satu dekade. Dianggap terlibat dalam perencanaan pembunuhan presiden Nasser. Selama di penjara, Sayyid Qutb membaca dan terilhami karya Abu A’la al-Mawdudi (25/9/1903-22/9/1979) , pendiri Jamaat-e Islami Pakistan,The Four Expressions“.

1970

Presiden Nasser wafat. Digantikan Anwar Sadat. Kubu berubah dari Uni Soviet ke Amerika Serikat.

Sadat, seorang pengajar Quran di sekolah desa tradisional. Fasih membaca Quran, direkamannya untuk diwariskan bagi keturunannya.

September 1971

Sadat mengamandemen konstitusi, dengan mengacu pada shariah sebagai sumber legislasi. Tanpa sepenuhnya disadari, Sadat telak membesarkan ‘anak harimau’, yang kelak justru akan banyak membuat kerusuhan.

Oktober 1973

Menyerang Israel untuk mengambil alih kembali Gurun Sinai. Gagal. Namun menjadi kebanggaan Mesir karena berani menyerang Israel.

7 November 1973

Sadat membuka hubungan baik dgn AS. Meninggalkan Uni Soviet, yg menurutnya telah menyebabkan kebangkrutan ekonomi Mesir dan tidak menyebabkan kemenangan melawan Israel.

Sadat menggunakan agama sebagai ‘kendaraan politik’ untuk menutupi kebijakan politiknya yg pro-AS dan kelemahannya dalam orasi publik.

9 November 1977

Sadat: “I will go the ends of the earth for peace, even to the Knesset itself.”

18 November 1977

Sadat terbang ke Teluk Aviv. Lebih dari 2.000 jurnalis meliput peristiwa ini.

Opini sinis penulis yg aneh: The Saudis were irritated but kept their distance—they neither denounced nor applauded, but secretly King Khaled had prayed that Sadat’s plane would crash on the way to Tel Aviv.

1979

Buku-buku Khomeini tentang Pemerintahan Islam Iran banyak dibaca dan diterjemahkan di Mesir.

Muhammad Abd al-Salam Faraj (27 tahun), insinyur kelistrikan di Universitas Cairo, mendapat inspirasi dari pemikiran Sayyid Qutb, pendiri IM Mesir dan Abu A’la al-Mawdudi, pendiri Jamaat-e Islami Pakistan. Dia menerbitkan sebuah buku hasil kompilasi para teolog radikal masa lalu, Neglected Duty. Kewajiban bagi setiap muslim adalah Jihad, yaitu Aksi mengalahkan para pemimpin yang tidak menjalankan kepemimpinan yang syar’i. Sadat termasuk dalam, kategori  pemimpin yang tidak syariah, sehingga perlu dikalahkan. Karam Zuhdi (27 tahun), insinyur pertanian, dan salah satu pendiri Gama’a, diajaknya untuk aksi jihad melawan Sadat.

26 Maret 1979

Anwar Sadat – Menachim Begin menandatangani perjanjian bilateral traktat perdamaian di White House. Kembali mendapatkan Sinai dan menyetujui hubungan diplomatik penuh dengan Israel.

DR. Nageh Ibrahim, yang kagum terhadap Revolusi Iran, menjadi, semakin radikal. Founding member of Gama’a Islamiyya, Kelompok Islam, yang didukung pemerintahan Sadat, meyebar-luaskan perlunya penerapan Hukum Islam. Termasuk pelarangan cinema. Kampus menjadi ladang kampanye Gama’a Islamiyya untuk melawan kelompok sekular sosialis dan komunis. Menurut Wikipedia, dianggap sebagai kelompok teroris oleh Canada, Israel, Russia, the United Arab Emirates, the United States, the United Kingdom and the European Union

Egyptian Gama’a al-Islamiyya’s Public Relations Campaign

Camelia Sadat Forgives Nageh Ibrahim, Leader of Islamic Group that Assassinated Her Father

Faraj mendirikan Islamic Jihad.

Akhir 1979

Gama’a telah memenangkan kendali serikat mahasiswa di sebagian besar universitas besar di seluruh negeri, dari Alexandria hingga Asyut.

Sadat thought he was using the Islamists, but in fact they were using him, and he was accumulating the mistakes, feeding their rage.

25 March 1980

Ada banyak persamaan antara Sadat dan Syah: kebarat-baratan, dengan ibu negara yg progresif, landasan strategi bagi Amerika di kawasan Arab, sahabat Israel, imperial, dan otoriter.  Semakin jauh Sadat membawa Mesir westernisasi, seperti yang telah dilakukan Syah dengan Iran, maka semakin menyebar fundamentalisme, seperti yang terjadi di Iran. Kedekatan ini semakin nyata ketika Shah disambut oleh Sadat di bandara Mesir, untuk pengobatan dan pengamanan. Protes membesar di pelosok negeri, dari Kairo hingga Asyut. Nageh sangat berperan dalam penggalangan demonstrasi tersebut di Universitas Asyut.

Tidak ada kebijakan khusus dari Pemerintah Iran tentang praktek keagamaan rakyatnya; karena sudah jauh terorganisir, dengan sejarah panjang aktivisme melawan penguasa.  Di Mesir, praktek keagamaan tunduk pada kebijakan pemerintah. Lembaga Islam tertinggi negara itu, Al-Azhar, tidak pernah sebagai oposisi, bahkan terhadap kolonialisme Inggris.

September 1981

Penangkapan oposisi mulai dilakukan Sadat. Tidak hanya islam, tetapi juga sekular kiri, sosialis dan aktivis perempuan. Penulis Nawal al-Saadawi dan Mohammad Heikal juga ditawan.

Sadat mendeklarasikan “no politics in religion and no religion in politics.”

DR. Nageh Ibrahim, Muhammad abd-al-Salam Faraj, Karam Zuhdi dan teman-temannya d Gama’a dan Jihad Islami sangat marah melihat kondisi Mesir yang menurutnya semakin terpuruk secara ekonomi dan politik.

26 September 1980

Rencana aksi pembunuhan Sadat pada saat parade militer 6 Oktober telah diputuskan bersama. Gama’a dan Jihad Islami ada dibelakangnya (Nageh, Fafaj, Zuhdi, dkk). Khaled Islambouli, konservatif nasionalis dan Zomor, fundamentalis  Kolonel Angkatan Darat Mesir, turut bergabung.

6 Oktober 1980 12.40 pm

Islambouli teriak: “I killed the Pharaoh” setelah menembak Sadat menggunakan AK-47. Sepuluh pengunjung lainnya di podium turut menjadi korban tewas. Dalam beberapa jam kemudian, radiomTehran menyiarkan berita, “death of the traitor mercenary” who had “joined his old friend Mohammad Reza Shah.”

Gama’a salah dalam memperhitungkan psikososial masyarakat Mesir. Gama’a masih merupakan kelompok marginal di negara berpenduduk lebih dari 45 juta orang.  Masyarakat memang tidak sepenuhnya mencintai Sadat—tetapi juga tidak ada keinginan yang besar untuk mendukung pemberontakan Islam. Mesir bukan Iran, yang mempunyai figur utama Khomeini setelah revolusi.

Wakil Presiden Hosni Mubarak menggantikan Sadat, menjadi Presiden.

10 October 1981

Pemakaman jenazah Anwar Sadat. Dihadiri banyak pemimpin negara sahabat. Presiden AS, Reagen absen karena baru saja selamat dari usaha pembunuhan.

1985

Farag Foda, Egypt’s most vocal secular intellectual, menulis artikel “Before the Fall” tentang meningkatnya semangat Islam di negara-negara Arab.

“Dialogue is the only way out of this crisis,” he wrote, “because sometimes the word can stop a bullet, because it is of course stronger, and definitely longer lasting.”

1992

Nasr Abu Zeid (July 10, 1943 – July 5, 2010) The progressive professor of Islamic studies and Arabic at Cairo University. Mengajukan proposal untuk promosi professornya di Departemen Arab, Universitas Cairo. DR. Abdel Sabour Shaheen sebagai salah satu professor penilainya, adalah ulama fundamentalis Islam. Shaheen tidak menyukai karya2 Nasr seperti  “Critique of Islamic Discourse” atau “Rationalism in Exegesis: A Study of the Problem of Metaphor in the Writing of the Mu’tazilah”.

Nasr berpendapat “the Quran had to be understood both metaphorically and in its historical context”, “the human dimension of the Quran needs to be reconsidered”. Thesis Nasr tentang Mu’tazilah, the rationalist Islamic movement drawing on Greek philosophy that had first stirred a big debate between reason and dogma barely two hundred years after the founding of Islam.

8 Januari 1992

Menurut Foda, ada tiga hal yang menjadi kecenderungan Islam di Mesir:

1. Politik tradisional Ikhwanul Muslimin. Lemah, namun paling pragmatis.

2. Revolusi Islam, yang diinspirasi dari Iran. Sangat menginspirasi anak-anak muda 1970an

3. Petrodollar, kaum Islam kaya. Sangat powerful dan berbahaya karena mampu mengubah sosio-kultural masyarakat sesuai keinginannya

Foda mempublikasikan pemikirannya yang sekular dalam forum debat terbuka di depan 15.000 penonton yang diselanggarakan dalam rangka Cairo International Book Fair ke-24. Lawan debatnya adalah Mohammad al-Ghazali seorang cendekiawan Islam lukusan Al-Azhar, ulama kharismatik pengajar di Universitas di Mekkah, Doha dan Algeria tahun 1980an.

3 Juni 1992

Sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar mengeluarkan pernyataan bahwa Farag Foda, berdasarkan pikiran dan tulisannya, telah menghujat agama dan karenanya keluar dari Islam. Ini berarti, ia adalah musuh Islam dan halal darahnya. Di sini, labelisasi halal berarti boleh dibunuh.

8 Juni 1992

Farag Foda tewas dengan 7 peluru menembus tubuhnya, dan melukai puteranya. Di depan kantornya, Cairo.

Ribuan penduduk Mesir menghadiri pemakamannya.  Bahkan Presiden Mubarak mengirim perwakilan;  menteri, gubernur, mufti republik, intelektual, duta besar semua bergabung dalam prosesi melalui jalan-jalan Kairo.

Dengan dingin, Mohammad al-Ghazali menyatakan bahwa tidak ada hukuman bagi seorang Muslim yang melaksanakan tugas menjalankan hukuman mati ini. Ghazali adalah penerima penghargaan Raja Faisal tahun 1989, hadiah pertama yang diberikan kepada Maududi, pendiri Jamaat-e-Islami di Pakistan.

2 April 1993

Dr. Abdel Sabour Shaheen di dalam masjid menyatakan bahwa Nasr Abu Zeid telah murtad. Wafat 2010 di Mesir karena sakit.

In the 1970s, 30 percent of Egyptian women wore the headscarf; by the mid-1990s, it was 65%. The veil was the new chic; it was a status symbol. In the past, middle- class and rich Egyptians may have looked to Europe for the latest fashions. Now they looked to Saudi Arabia and adopted not just the veil but even the niqab, which was previously an unknown phenomenon in Egypt.

Foda’s assassination marked the violent beginning of the siege of Egyptian intellectuals. For the years to come, secular, liberal, progressive writers and thinkers would be hounded, banned, harassed, and assassinated. The long target list included journalists, intellectuals, and plastic surgeons.

Agustus 1993

Hassan Alfi, Menteri Dalam Negeri, selamat dari rencana pembunuhan oleh kelompok Jihad Islami. Ayman al-Zawahiri had approved a new weapon: suicide bombings.

October 1994

Naguib Mahfouz pemenang Nobel, penulis Egyptian as the Nile, ditusuk pisau di lehernya oleh 2 orang. Selamat, namun tangannya cedera.

Religion took over everything, rapidly. In 1985, barely 6 percent of books published in Egypt were religious. In 1994, it was 25%, and by 1995, 85% of books sold at the Cairo book fair were religious.

In the mid-1980s, there was a mosque for every 6,031 Egyptians; by the mid-2000s there would be one for every 745.

2010

Ahmed Naji journalis dwn novelis, menerima telpon dari Kedubes Arab Saudi di Cairo, dilarang masuk ke Arab Saudi.

25 January 2011

Demo besar di lapangan Tahrir, menuntut TURUNnya President Hosni Mubarak, yang sudah memerintah Mesir selama 30 tahun. Korupsi sudah merajalela, diiringi dengan tindak opresif pemerintah. Korban tewas 800 orang. Tanpa slogan Islami. Sekular demokrasi.

11 February 2011, 6.00 pm

Wakil Presiden Omar Suleiman mengumumkan pengunduran diri President Hosni Mubarak. Tanggal yang sama di tahun 1979, ketika PM Iran, Shahpour Bakhtiar mengundurkan diri, sbg tanda kemenangan Revolusi Iran.

May 2012

Al-Azhar meluncurkan kampanye untuk mengingatkan adanya bahaya konversi ke Syiah, dengan pamflet, konferensi, dan kuliah di klub pemuda.

30 June 2012

Mohammad Morsi, phD, engineering lulusan University of Southern California, anggota Ikhwanul Muslimin, diangkat sebagai Presiden Mesir ke-5.

5 Februari 2013

President Iran Ahmadinejad mengunjungi Mesir. Terjadi insiden pelemparan sepatu oleh pendemo kearahnya, ketika keluar dari masjid al-Hussein, Cairo.

8 Februari 2013

Presiden Morsi menerima surat dari 17 ulama Iran, yang isinya berupa anjuran supaya pemerintah Mesir melaksanakan pemerintahan Islam atau implementasikan wilayat al-faqih, seperti yang Iran lakukan.

Awal juni 2013

Benyak poster anti-Shia beredar di kota Abu Musallam, 20 mile selatan Cairo.

23 Juni 2013

Komunitas Shia berkumpul di suatu rumah untuk merayakan Maulud. Hadir diantaranya, Hassan Shehata, yang dulunya adalah imam Sunni. Shehata bersama 3 orang lainnya dikeroyok dan terbunuh di depan rumah tsb.

30 Juni 2013

Demo besar didukung militer dan Arab Saudi, menuntut turunnya Presiden Morsi yang dianggap IM dan pro Iran. 800 tewas selama demo.

3 Juli 2013

Morsi diturunkan. Digantikan Presiden Adly Mansour (interim). Anggota IM banyak dipenjara, dan ratusan ďiantaranya dikenakan hukuman mati, termasuk Morsi.

2014

Fouad Ahmed Negm (22 May 1929 – 3 December 2013)

Dia seorang jurnalis, penulis, yang mendukung Revolusi Iran 1979, dengan harapan terjadinya sosial demokrasi yang benar, seperti yang dijanjikan para politikus. Total mendekam dipenjara 18 tahun,  karena memusuhi pemerintah Mesir.

Ahmed Naji (born 15 September 1985), menerbitkan novelnya “Using Life“, yang ditulisnya sebelum revolusi 2013. Masuk bui karenanya. Pengagum Nasr Abu Zeid.

Mei 2014

Abdel Fattah Sissi (19 November 1954 age 66 tahun)atase militer di Arab Saudi, dilantik sebagai Presiden Mesir.

2017

9 orang pembunuh Hassan Shehata di tahun 2013, dijatuhi hukuman penjara 14 tahun.

17 June 2019

Morsi meninggal karena serangan jantung saat sidang pengadilan.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Pakistan

Back to: BLACK WAVE

1941

Di Lahore, Abu A’la al-Mawdudi mendirikan Jamaat-e Islami, yang diniatkan sebagai pelopor revolusi Islam.

August 11, 1947

Pidato kenegaraan Bapak Bangsa Muhammad Ali Jinnah menjelang hari kemerdekaan 14 Aug 1947, “you are free to go to your temples, free to go to your mosques, or to any other place of worship in this State of Pakistan. You may belong to any religion or case or creed—that has nothing to do with the business of the state”. Pluralis. Shia.

Muhammad Ali Jinnah (25 Desember 1876 – meninggal 11 September 1948 pada umur 71 tahun).

1956

Konstitusi Pakistan mendeklarasikan bahwa Pakistan adalah Republik Islam dan melarang non-Muslim memegang jabatan kepala negara.

1960an

Abu A’la al-Maududi (25/9/1903 – 22/9/1979) adalah inspirator fundamentalis keislaman sosial kultural Pakistan. Dia juga yang memberi inspirasi  kepada Sayyid Qutb (9/10/1906 – 29/8/1966), Mesir dan Ayatollah Khomeini (24/9/1902 – 3/6/1989), Iran. Seperti halnga Hassan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, Mesir, Maududi kecewa dengan jatuhnya Kekaisaran Ottoman pada tahun 1924 dan sekularisme pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Atatürk.

Maududi meyakini bahwa nasionalisme Barat di kalangan Muslim telah menyebabkan jatuhnya Ottoman. Untuk membangkitkan dan memperkuat bangsa Muslim, perlu penerapan aturan Islam yang benar. Meskipun demikian, Maududi tidak mendukung wacana revulusi Pakistan, namun berharap kebangkitan pemerintahan islami yang natural. Empat kali di penjara Pakistan dan dan nyaris dihukum mati, namun terselamatkan berkat intervendi Arab Saudi, 1953.

Raja Faisal, Arab Saudi menyumbang pemerintah Pakistan $120 juta untuk pembangunan masjid.

1970an

Partai Jamaat Islamiya hanya mendapatkan 4 kursi. Pemikiran Maududi mulai banyak diakomodir oleh pemerintahan Zia Ulhaq

1976

Mehtab Channa (3 March 1947), liberal, presenter televisi menuju AS untuk melanjutkan studi dibidang Political Science, University of Massachusetts

July 5, 1977

Perdana Menteri Zulfiqar Ali Bhutto (Presiden 1971-1973, Perdana Menteri 1973-1977), lulusan Universitas Southern California, Berkeley. Popular dan kharismatik, digulingkan dan dipenjarakan oleh pimpinan angkatan daratnya, jenderal Zia ul-Haq. Ali Bhutto menikah dengan perempuan Shia, Iran.

1977: Zulfikar Ali Bhutto Lengser

Bhutto dikenakan hukuman mati karena mendalangi pembunuhan Nawab Muhammad Ahmed Khan Kasuri 

16 September 1978

Muhammad Zia-ul-Haq (12 August 1924 – 17 August 1988) tidak menepati janjinya untuk mengadakan Pemilihan Umum pada Oktober 1978, namun justru mengangkat dirinya sebagai Presiden.

25 September 1978

Hadir di Pakistan, Penasihat Raja Khaled, Maarouf Dawalibi, atas undangan Zia Ulhaq, untuk memberikan penasihatan tentang Ideologi Islam terkait Penerapan Hukum Islam di Pakistan. Bertemu dengan elite pemerintahan Pakistan, termasuk anggota Konsul Ideologi Islam, Menteri Hukum dan juga Al-Maududi. Menurut Dawalibi, terjadi pembicaraan menarik, “penghapusan sistem sekuler dan penggantiannya dengan hukum syariah sebagai harapan terbesar bagi seluruh umat manusia.”

Februari 1979

Beberapa pimpinan pejuang Islam Afghanistan telah berlindung di Pakistan, di mana, pada awal Februari 1979, sekitar 2.000 orang telah mendapatkan pelatihan militer.

10 Februari 1979

Zia menyatakan akan memberlakukan secepatnya Nizam-i-Islam, atau Shariah Islam dalam sistem hukum ketatanegaraan Pakistan. Meliputi aspek hukum, sosial, ekonomi dll. Raja Khaled dari Arab Saudi melalui telegram, mengucapkan selamat kepada Zia, dan berharap supaya “semua negara Muslim juga segera menerapkan hukum Islam”.

12-13 Februari 1979

Komunitas Islam Shia melakukan protes karena pemerintah dianggap memaksakan hukum Islam Sunni dan hanya menempatkan hakim Sunni di seluruh Pakistan. Menurut ajaran hukum Shia, zakat adalah kewajiban individual, bukan dipungut oleh negara.

14 Februari 1979

Zia menyatakan dalam wawancaranya dengan televisi CBS bahwa Pakistan memutuskan melaksanakan Hukum Islam tanpa kerusuhan sosial seperti Iran.

21 Februari 1979

Abul A’la Maududi menerima hadiah utama King Faisal International Award sebesar $200.000, yang biasa diberikan kepada ulama bervisi radikal Islami. Ghattas menulisnya sebagai “… to scholars and clerics with radical views”. Sangat tendensius. Sementara New York Times menulis, “… Mr. Maududi wrote several books on Islam and received the first Faisal Award for Islamic literature”.

Maulana Abdul Ala Maududi, 76, A Pakistani Islamic Party Leader

4 April 1979 2.00 am

12-13 April 1979

Ribuan pengikut Shia berkumpul di kota Bhakkar, Punjab dan membentuk Tehrik-e-Nifaz-e-Jafariya (TNFJ), the Movement for the Implementation of Jaafari (Shia) law.

20 Juni 1979

Zia secara resmi melaksanakan pemungutan Zakat bagi seluh rakyat Pakistan. Kepemilikan akun bank akan dipotong 2.5% dari jumlah dana tersimpan. Terjadi rush penarikan uang. Khomeini, Iran peringatkan Zia untuk tidak memojokkan kaum Shia.

22 September 1979

Maududi mendapat perawatan penyakit liver dan ginjal di Millard Fillmore Hospital, AS. Wafat karena penyakit jantung. Dimakamkan di Pakistan.

23 November 1979

Unjuk rasa anarki terjadi di depan Kedubes AS di Pakistan, seiring peristiwa pembajakan masjidil Haram di Mekah dan penyanderaan warga AS di Kedubes AS, Iran. Empat karyawan kedutaan Besar AS dan demonstran, meninggal. Lebih dari 300 warga AS dievakuasi keluar dari Pakistan.

Karena Zia berpihak pada Saudi Arabia, sebagai penyantun besar dan seiring dalam ideologi Islamisasinya, dan mendukung mujahidin Afghanistan melawan Uni Soviet, maka AS mendukungnya.

1980

Allama Arif Hussaini (November 25, 1946 – August 5, 1988), pimpinan Shia di Pakistan. Belajar di Najaf, Iraq. Pengagum dan pendukung Khomeini. Berjubah dan berturban hitam, sebagai simbol keturunan Nabi. Menguasai bahasa Arab. Memimpin ribuan penganut Shia di Kurram, untuk unjuk-rasa terkait dengan zakat.

Tahun 1980an, Pakistan menjadi sumber pendapatan besar untuk Iran, melalui pengumpulan pajak Shia, Khum. Pakistan adalah negara Islam Sunni, dengan jumlah penganut Shia terbanyak setelah Iran. Ali Jinnah, Bapak Bangsa Pakistan, adalah penganut Shia. Istri Ali Bhutto juga penganut Shia Iran.

Peshawar menjadi pusat berkumpulnya ideolog Islam militan, pusat mujahidin dsn ratusan ribu pengungsi Afghanistan, ratusan relawan kesehatan dan kemanusiaan dari negara lain dan Badan-Badan Bantuan PBB. Juga, relawan-relawan kemanusiaan, milisi Arab dan jurnalis. Kampung Arab mulai muncul di Peshawar. Termasuk Jamal Khashoggi juga muncul disana sebagai jurnalis Arab Saudi.

1984

Allama Arif Hussaini (38 thn) menjadi Ketua Tehrik-e-Nifaz-e-Jafariya (TNFJ). Diangkat secara resmi sebagai Wakil Resmi Shiah untuk Pakistan oleh Khomeini. Berhak mengumpulkan pajak religi, khum, dari penganut Shia Pakistan untuk kepentingan Shia Pakistan dan Khomeini. Hussaini sering berada di pusat pendidikan Shia di Peshawar untuk menyebarkan ajaran Khomeini.

1985an

DR. Abdullah Yusuf Azzam (1941–1989) dan Bin Laden membuat Jasa Layanan atau Maktab al-Khidamat, di Peshawar untuk pengumpulan dana, sumbangan untuk pengungsi, mengirim mujahidin dan pembagian senjata. Setiap bulan Bin Laden mengalokasikan dana $25.000 untuk menjalankan Pusat Layanan ini.

Abdullah Azzam melanjutkan studi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan mendapat gelar master di bidang syariah. Ia kembali mengajar pada Universitas Jordan di Amman dan pada tahun 1971, Syekh Azzam kembali ke Universitas Al-Azhar dan memperoleh Ph.D dalam bidang Ushul Fiqh pada tahun 1973.

1985

Terbentuk di Punjab, milisi Sepah-e Sahaba Pakistan (SSP), atau the Army of the Companions of the Prophets, atas ijin Zia Ulhaq, kelompok sektarian militan anti Shia. Slogan, “Shia kafir”.

1986

Mulai terbut fatwa-fatwa terkait Sunni-Shia, seperti larangan untuk Sunni mengkonsumsi makanan yang dimasak oleh penganut Shia. Juga larangan untuknSunnj menghadiri pemakaman kaum Shia.

Konflik bersenjata mulai terjadi antara Sunni yang didukung pemerintah Zia dengan suku Turis pimpinan Allama Arif Hussaini di Kurram, perbatasan Afghanistan. Inj karena pemerintah menghendaki Kurram digunakan sebagai basis perjuangan mujahiddin Sunni Afghanistan, dukungan Arab Saudi.

23 Maret 1987

Ehsan Elahi Zaheer, murid Abd al-Aziz ibn Baz (BinBaz) luka berat karena bom meledak di dekat kakinya saat memberikan kuliah di Lahore. Diterbangkan ke King Faisal hospital, Riyadh, Arab Saudi, untuk mendapatkan perawatan medis. Delapan orang tewas.

30 Maret 1987

Ehsan Elahi Zaheer wafat di King Faisal hospital, Riyadh, Arab Saudi

1988

Pembantaian 150 Syiah oleh warga Sunni, diikuti oleh pembunuhan pembalasan dari para pemimpin Syiah militan.

14 April 1988

Kesepakatan antara Pakistan – Afghanistan tentang penghentian perang di Afghanistan, di Kantor Pusat PBB di Jenewa, dengan penjamin Soviet dan AS. Soviet yang sudah terlibat perang sejak 1979, diharapkan mulai menarik pasukannya 15 Mei 1988.

Afghanistan: The Accords

August 5, 1988

Allama Arif Hussaini tewas ditembak di madrassa Lahore.

Zaheer dan Hussain adalah korban akibat peran sama yang mereka lakukan dalam perang proksi antara Arab Saudi dengan Iran. Kematian yang kejam, upaya mereka untuk meradikalisasi komunitas mereka masing-masing. Dua pembunuhan besar pertama yang bermotivasi sektarian dalam sejarah modern.

17 Agustus 1988 4.30 pm

Pesawat C-130 yang membawa Presiden Zia Ulhaq jatuh, setelah beberapa menit take off dari Bahawalpur, Punjab, Pakistan. Dekat perbatasan dengan India.

16 November 1988

Partai Benazir Bhutto, Pakistan Peoples Party, memenangkan Pemilihan Umum. Berhak menyusun kabinet. Benazir Bhutto sebagai Perdana Menteri.

24 November 1989

Abdullah Azzam bersama kedua putranya, terbunuh oleh bom yang meledak di tempat parkir mobilnya di Peshawar. Maktab al-Khadamat menjadi embrio Al-Qaeda.

1990

Pengungsi Afghanistan di Peshawar mencapai 3.27 juta.

Dengan seijin Zia Ulhaq, Arab Saudi membangun ratusan Madrassa di sepanjang perbatasan Afghanistan. Materi Pendidikan didalamnya lebih banyak tentang indoktrinasi dan mobilisasi untuk menghasilkan aktifis militan demi keberlangsungan islamisasi di Pakistan dan Afghanistan.

Beberapa lulusan madrassa menjadi pendiri gerakan Taliban, dan mengarah pada kebangkitan al-Qaeda.

in 1990

the Iranian cultural attaché in Lahore was assassinated;

Agustus 1990

Maksud Benazir untuk mengembalikan iklim politik ke era sebelum Zia, digagalkan oleh militer. Digantikan oleh Nawaz Sharif (40 thn), yang didukung oleh Arab Saudi.

October 1990

Pengadilan Syariah Federal memutuskan Hukuman Mati bagi penista Islam. 1927-1985 hanya ada 10 kasus penistaan agama muncul di pengadilan. 1985-2011 ada 4.000 kasus.

In 1996

there were 5 days of Sunni-Shia fighting in Parachinar that left two hundred dead. Mosques were being bombed, both Sunni and Shia.

in 1997

the Iranian cultural centers in Lahore and Multan were torched and 5 Iranian military personnel were assassinated in Rawalpindi.

2002

Sepah-e Sahaba Pakistan dilarang. Muncul Ahl-e Sunnah Wal Jamaat, anti sektarian Shia baru. Dilarang pemerintah.

Desember 2007

Benazir Bhutto ditembak saat berdiri di dalam mobilnya, dalam kerumunan. Gugur

November 8, 2010

Asia Bibi, perempuan kristen Pakistan dihukum gantung. Juni 2009, Bibi minum air dengan cara memasukkan gelas ke dalam ember yang diisi air dari sumur masyarakat. Perempuan lain menyebutnya Bibi telah menodai air tersebut. Viral. Penodaan agama.

2011

Kelompok radikal Lashkar-e Jhangvi mengirim surat terbuka kepada komunitas Shia di Quetta, mengancam “All Shias are worthy of killing. We will rid Pakistan of [this] unclean people”

4 January 2011, pagi

Salman Taseer, Gubernur Punjab sejak 2008, tewas dengan 27 peluru menembus tubuhnya, ditembak di Islamabad oleh Mumtaz Qadri, polisi. Publik setempat “mensyukurinya”. Penistaan agama. Taseer ingin mereformasi undang-undang penistaan agama dan menghentikannya dari penyalahgunaan;  dia melihatnya sebagai ancaman eksistensial terhadap identitas Pakistan.

“I am a slave of the Prophet, and the punishment for one who commits blasphemy is death,” Mumtaz Qadri said with a smile

In all 6,236 verses of the Quran, there is not a single verse calling on Muslims to silence blasphemers by force. The Quran is immutable, and all it does is tell believers to respond to blasphemy with dignity.

Few dared to protest against those who killed in the name of Islam, afraid they would meet the same fate. Everything had shifted to the right; the old extremes were the new center—or so it felt.

2 Maret 2011

Shahbaz Bhatti, Menteri Hak-Hak Minoritas, Kristen. Ditembak mati. Bhatti sedang mereview kasus Asia Bibi dan dalam proses mereformasi Hukum Penistaan Agama.

26 Agustus 2011

Shahbaz, putra tertua dari Salman Taseer, diculik dari dalam mobilnya oleh orang-orang bersenjata. Pergerakan Islam Uzbekistan,  Pakistan dan Afghanistan. Dan sejak November 2015 ditawan oleh Taliban, Afghanistan.

2012

1 dari 2 warga Pakistan, tidak menganggap Shiah adalah muslim. Anti sektarian Ahl-e Sunnah Wal Jamaat sudah dilarang, tapi tetap saja para pimpinannya muncul di Karachi dengan tanpa takut meneriakkan slogan “Shia kafir!”.

In August 2012

Razia penumpang Shia bus Gilgit-Baltistan di wilayah utara Pakistan oleh kelompok bersenjata. Bila ditemukan penumpang Shia, dikeluarkan dari bus dan ditembak mati. Sudah terjadi 3 kali, dan pemerintah tidak meresponnya.

29 February 2016

Shahbaz dibebaskan.

Mumtaz Qadri, pembunuh Salman Taseer dihukum gantung di Islamabad.

1 Maret 2016

Puluhan ribu orang turun ke jalan. Protes hukuman mati terhadap Mumtaz Qadri. Menteri Agama menyatakan Mumtaz Qadri sebagai martir.

Back to: BLACK WAVE

Black Wave – Palestina

Back to: BLACK WAVE

Baca juga “Dari Beirut ke Jerusalem

1917

Inggris menguasai Jerusalem setelah runtuhnya Ottoman dalam Perang Dunia I.

1921

British High Commisionair menyatakan warga Yahudi hanya 10% dari total populasi di British Mandate Palestine.

1936

Terjadi konflik bersenjata antara Yahudi vs Arab.

1937

Rencana pembagian wilayah muncul di PBB. Wilayah Arab – Yahudi. Sensus PBB menunjukkan bahwa penduduk Yahudi sudah 1/3 populasi di Palestina, dan 2/3 lainnya adalah penduduk Muslim dan Kristen Arab. Sementara pembagian wilayah adalah 1/2 Arab – 1/2 Yahudi.

29 November 1947

Sidang Umum PBB menyetujui the Partition Plan (pembagian wilayah).

Penguasa kolonial keluar dari Arab. Pengungsi holocaust mulai membanjiri Palestina.

14 May 1948

Para pemimpin Yahudi mendeklarasikan negara Israel, dengan wilayah seluas keputusan SU-PBB 1947. Arab menolak.

15 May 1948

Arab melanjutkan perang untuk tanah Palestina yang utuh tidak dibagi dengan Yahudi.

1949

Yahudi dibantu negara2 Eropa bahkan mampu menguasai 78% wilayah Palestina, termasuk Jerusalem Barat. Jordan menguasai West Bank, termasuk Jerusalem Timur. Mesir menguasai Gaza Strip.

Ratusan ribu bangsa Palestina terpaksa mengungsi ke berbagai wilayah, termasuk ke negara-negara Arab terdekat. Libanon, Syria dan Jordan. Bangsa Palestina merasa diperlakukan sebagai penebus dosa Eropa terhadap Holocaust yang mereka lakukan. Sangat tidak adil.

1967

Dalam Perang 6 Hari, bangsa Palestina semakin banyak kehilangan wilayah. Gaza, West Bank, Jerusalem Timur, termasuk Kota Lama tempat Masjid Al-Aqsa, juga Sinai dan Dataran Tinggi Golan (Golan Heights). Jerusalem kembali dalam kekuasaan Yahudi.

1969

Yasser Arafat menjadi Pemimpin Palestinian Liberation Organzation (PLO). Melanjutkan perang gerilya melawan Yahudi.

1970

Jordan tidak melibatkan diri dalam perang Palestina – Israel. Bahkan menghancurkan tentara Palestina. Semakin banyak pengungsi dan milisi Palestina pindah ke Libanon.

Back to: BLACK WAVE

%d blogger menyukai ini: