Feeds:
Pos
Komentar

Film di akhir minggu

Screenshot_20171119-135318Baru tahu ada aplikasi HOOQ di First Media televisi berbayar dan kebetulan masih promo Rp. 20.000 per bulan, langsung tangkap.. Kebetulan juga, sudah lama pengin nonton film Indonesia, yang bukan horor pastinya. Kenapa ya serasa mereka ingin berlomba memenangkan festival film horor? Mungkin ada statistik perfilman kita, yang menyajikan persentase jumlah produksi film horor per tahun? Perlu dibandingkan dengan produksi film dengan kategori sejenis di negara-negara lain. Gak jelas juga misi apa yang mau disampaikan dengan film horor ini. Ah gak usahlah ngomongin berpanjang-panjang dengan film horor.. Ngeri..
Sabtu kemarin, empat film Indonesia aku tonton menggunakan aplikasi HOOQ, yaitu: Soekarno, Critical Eleven, Melbourne Rewind, Winter in Tokyo. Satu film politik Screenshot_20171119-135414dan tiga film drama. Aku bukan kritikus film, hanya penikmat film. Artinya parameter apa saja yang perlu digunakan sebagai alat penilai sebuah film, tidak aku pahami. Lebih tepatnya, belum berusaha untuk mempelajarinya. Yang ada selama ini hanya “suka” atau “tidak suka”, itu saja. Soekarno aku pilih karena ingin refreshing sejarah yang¬† sudah puluhan tahun yang lalu kupelajari. Masa SMA lah, sejarah perjuangan banyak terekam dalam otakku. Tiga film drama lainnya kupilih karena menurut sinopsisnya berlatarbelakang tinggal di luar negeri dan diadaptasi dari novel yang laris di negeri ini. Baru tahu juga bahwa dalam rumahku pun ada novel Winter in Tokyo, bacaan istriku.. ūüôā Novel bagus katanya, karya Ilana Tan. Aku selalu kagum dengan para penulis bagus.
¬†…
54423-winter-in-tokyo-cerita-cinta-yang-bikin-baperSelesai nonton Soekarno, aku merasa bahwa film ini perlu juga ditonton oleh para anak kita, yang sudah berjarak jauh dengan sejarah para pendiri bangsanya. Tidak mesti sepakat dengan tafsir sejarah dan visualisasinya, tapi setidaknya bisa memancing daya kritis berpikir dialektis untuk mencari tahu kebenaran sejarah. Dari sisi ini, aku merasa film G30S PKI menjadi layak tonton, untuk dijadikan pemicu berpikir kritis generasi milenial, dan tidak dipaksakan sebagai satu-satunya tafsir kebenaran sejarah. Kembali dengan film Soekarno, urutan peristiwa sejarah sejak Soekarno kecil hingga Proklamasi Kemerdekaan sangat membantu ingatan. Yang sebelumnya hanya keping-keping puzzle peristiwa yang berserakan, seolah bisa tersambung runtut dalam cerita yang utuh dalam film ini. Visualisasi kekejaman Belanda dalam kerjapaksa dijaman Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, kemudian Romusha Jepang, juga pelecehan perempuan untuk memenuhi syahwat para tentara Jepang, kemiskinan dan kelaparan, mampu melengkapi kebutuhan suasana emosi atau situasi psikologis masyarakat saat itu. Film ini juga mencoba menjawab atas keraguan berbagai pihak tentang status Kemerdekaan RI, apakah hasil perjuangan para pendiri bangsa ataunpemberian Jepang. Silahkan tonton filmnya sebagai karya seni, kebebasan anda menilainya.
¬†…
CsifPVMUsAESXUWTiga drama lainnya adalah adaptasi dari novel karya penulis negeri ini. Di toko-toko buku off-line maupun on-line sekarang ini banyak sekali berjajar novel karya penulis muda negeri ini. Cerita berlatar-belakang kehidupan luar negeripun juga banyak ditemui. Hebat. Kekagumanku terhadap para penulis novel ini, berujung pada pilihan nonton flim¬†Critical Eleven dari novel terlaris karya Ika Natassa, Melbourne Rewind dari novel Winna Efendi dan¬†Winter in Tokyo dari novel karya Ilana Tan. Menghibur, filosofis dan kreatif dalam hal tema dan jauh beda dengan dengan film-film drama adaptasi tahun 70-80an yang melihat problem kehidupan begitu sederhana. Film-film menarik yang mewakili jamannya. Sedikit kritik untuk Winter in Tokyo, dialog berbahasa Jepang terlihat jelas teknis dubbingnya, mengganggu. Silahkan menonton filmnya, nikmati sesuai jamannya. Santai … ūüôā
Iklan

Indonesia Berwarna

imagesKetika jaman Soekarno, 60an awal kira2, sering agak bingung melihat para orang tua bergerombol mendekatkan diri pada sebuah radio, dengan wajah serius memiringkan kepala untuk fokus mendengarkan pidato Presiden Soekarno. Wajah kagum menghias wajah-wajah mereka setelahnya .. lalu suara pujian lamat-lamat terdengar, saling berbisik …
¬†…
Tahun terus berganti,¬†dijaman presiden Soeharto, mulai terbiasa menyaksikan upacara bendera 17 Agustus di TVRI, hitam-putih tentunya.. khidmat, sunyi, militeristik .. suara terompet, drum band dan suara lantang komandan upacara menjadi pengingat kuat dalam benak .. traumatik menegangkan, seiring suasana pensiun dipercepat bagi para¬†pegawai negeri sipil di berbagai departemen. Demikian terus terjadi setiap tahunnya. Kadang sempat melihat selintas pidato presiden Soeharto di DPR/MPR, yang tentu tak sepenuhnya bisa aku pahami saat itu ” .. saudara-saudara .. meningkatken .. mangkin … “. Rutin, datar menjemukan. Lelah
¬†…
Kegiatan upacara 17an tersebut terus berlangsung setiap tahunnya, dalam suasana dan gaya yang sama, bahkan setelah presiden silih berganti. Ritual yang tak menarik lagi bagiku … membosankan..¬†seolah siaran ulang saja layaknya …
IMG-20170818-WA0001
Tahun 2017, menjadi tahun istimewa bagi bangsa Indinesia .. presiden Jokowi memberikan pidato APBN 16 Agustus 2017 dengan mengenakan pakaian daerah dan membungkuk hormat kepada Yang Terhormat anggota DPR berdasi. Luar biasa .. desakralisasi tata laku pidato resmi Presiden selama ini telah berubah menjadi lebih Indonesia. Cair, berwarna dan rendah hati terasa.
¬†…
Upacara pada HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan dengan semangat dan ceria, baik para elit pemerintah, maupun para undangan. Pejabat berpakaian penuh warna dan gaya, berlalu-lalang menuju tempat duduk dengan gembira saling berfoto ria. Tak lama, muncul Presiden berpakaian adat mengunjungi para undangan di bagian depan dan menyalaminya satu-persatu. Dengan ceria, mereka berebut mengambil gambar bersama. Selfie katanya. Tak pernah terjadi sebelumnya. Rendah hati.
¬†…
Berbagai suguhan hiburan dan karnaval budaya sangat indah untuk dinikmati, hingga kebhinekaan sangat terasa disana, sebagai pengingat bagi kita semua untuk merawatnya. Membanggakan.
¬†…
Baru kali ini tak bosan menikmati upacara  bendera HUT Kemerdekaan RI di istana melalui telivisi, sejak awal hingga akhir. Saat pengibaran bendera di siang hari, juga penurunan bendera di sore hari.
¬†…
Selamat pak Jokowi-JK, yang telah mengubah wajah upacara berkesan angker, menjadi ramah, indah, berwarna dan menghibur, namun tetap khidmad saat prosesi sang saka merah-putih, yang diawali arak-arakan menggunakan kereta kuda hingga pengibaran di depan istana negara.
IMG-20170817-WA0027
Momen penting yang belum pernah ada sebelumnya juga terjadi, ketika presiden Jokowi sukses menghadirkan semua mantan Presiden dan Wakil Presiden ke istana untuk saling bertegur-sapa, akrab. Semoga semua kesejukan para negarawan tersebut menjadi awal bagus untuk kebaikan bangsa dan negara. Amin

Ibu Kartini

Panggil aku Kartini sajaSukses. Melalui film Kartini, karya Hanung Bramantyo yang disajikan dalam waktu tak lebih dari 2 jam dengan acting para pemeran yang tak diragukan kagi kemampuannya, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Dian Sastro, sukses menghadirkan kondisi sosial yang mencekam saat itu. Penjajahan feodalistik yang begitu mengakar oleh Belanda dan bangsa sendiri, tak hanya terhadap rakyatnya yang digambarkan dengan masyarakat yang duduk menyembah ketika bangsawan melewatinya; bahkan Kartini dan semua saudaranya pun harus jalan jongkok (laku dhodhok) ketika menghadap ayahandanya. Jangankan akses pendidikan, bahkan organ seksual perempuan pun, termasuk Kartini dan adik-adiknya, tak berhak dipertahankan oleh pemiliknya, kawin paksa. Air mata penonton terkuras banyak dalam adegan-adegan kawin paksa hingga film berakhir.
Kartini filmSelain Hanung, pada 1982 Sjuman Djaya pernah membuat film Kartini dengan judul “R.A. Kartini” yang berdurasi hampir 3 jam, dibintangi oleh Yenny Rachman, Nani Wijaya.
Film Kartini karya Hanung di atas, memaksa untuk membuka lagi buku lama karya Pramoedya Ananta Toer, “Panggil aku Kartini saja“. Rasanya, Hanung banyak mengacu pada buku ini. Bahkan ada adegan khusus Kartini mengucapkan kalimat ini ke kedua adiknya¬† “Panggil aku Kartini saja” untuk menghilangkan sekat feodalisme diantara mereka bertiga.
Di tangan Pramoedya, cuplikan surat-surat Kartini bertebaran di dalam buku dengan selingan disana-sini opini Toer menafsirkan maksud penulisnya, hingga mampu bercerita utuh menggambarkan dirinya sebagai sosok lengkap gadis kecil hingga dewasa, melawan kesepian karena pingitan selama 4 tahun, sejak usia 12 tahun, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Wafat usia 25 tahun. Tentu, dengan banyak polesan tafsir ideologis yang membingkai karakter perjuangan perempuan Kartini. Emansipansi dan kesetaraan gender.
Tak sepenuhnya getir, dalam buku inipun terungkap kisah cinta yang hangat dan mesra, tempat ia menggantungkan diri dengan seluruh hatinya yang menghauskan cinta. Mereka itu adalah Ayah dan kakaknya yang ketiga, kakak termuda. Hanung sukses menampilkan kenyataan ini di filmnya. Ayahanda yang digambarkannya lembut tutur kata dan sabar tindak-tanduknya. Betapa besar cinta Kartini kepadanya, tertuang dalam suratnya untuk Estella Zeehandelaar, 25 Mei 1899,
“Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadian; tapi tiadalah aku bisa bertanggung jawab kepada nuraniku, pabila aku serahkan diriku kepada orang-orang lain itu, sementara itu Ayahku, yang paling dahulu berhak atas diriku, kubiarkan menderita dan sakit-sakitan, sedangkan ia membutuhkan aku.
Kewajibanku sebagai anak tidak boleh aku kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah bahwa untuk sementara ini aku membaktikan diri kepada ayahku…”
“Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepalaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya”.
Tentang kakaknya yang ke-3, Toer menulis
“Abang itu tidak mentertawakannya, kalau ia bicara tentang cita-citanya, ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak pernah ia membuatnya menggigil dengan jawaban dingin: ‚ÄúMasa bodo, aku hanya orang Jawa!‚ÄĚ Dan sekalipun ia tidak menyatakan bersimpati dengan cita-citanya, namun ia tahu, bahwa dalam hati abangnya membenarkannya, Ia tahu, bahwa abangnya berdiam diri, untuk tidak makin menyebabkan huru-hara. Buku-buku yang disodorkan ke tangannya tak lain dari kata-katanya. Ni merasa demikian kayanya dengan cinta ke dua orang kekasihnya ini, dan dengan simpati dari batin abangnya”.
Kompilasi surat-surat tersebut juga mampu menjelaskan kecerdasan Kartini dalam hal seni mengarang dan berpuisi untuk mengekspresikan kepekaan juga keprihatinannya terhadap nasib bangsa yang terjajah dalam segala hal ini.
Kepiawaian menulis adalah satu-satunya kekuatan minimal yang dipunyai Kartini, yang menginsyafi bahwa kepengarangan adalah tugas sosial. Manifes itu tak lain daripada manifes kesadaran batinnya tentang kewajiban-kewajiban terhadap Rakyatnya, Bangsanya, dan Negerinya. Sayang sekali, peran perjuangan Kartini melalui tulisannya ini (dasar pemikiran munculnya ide-ide kerakyatan) kurang kuat terlihat di film Hanung, padahal dari sisi inilah sebetulnya nilai-nilai kepahlawanan Kartini, atau mungkin tertutupi oleh banyaknya adegan dramatik kawin paksa yang kejam menimpa para perempuan pada jamannya.
Pemahaman terhadap kondisi rakyatnya sebagian didapat dari Max Havelaar, karya Multatuli, dari koran majalah, serta dari diskusi-diskusinya dengan orang-orang terpelajar, terutama sekali dari Ayah dan Pamannya sendiri.  Hubungannya dengan Rakyat memang terbatas, tetapi mendalam, dan ia melihatnya dengan pandangan yang jernih, baik tentang kekurangannya maupun kelebihannya. Kartini juga sering membantu pengembangan usaha kerajinan batik dan ukiran.
Tentang sikapnya terhadap Belanda, Kartini, yang hidup dimasa Politik Balas-budi, juga banyak diskusi dengan Ayah dan Pamannya. Salah satu kalimat dalam suratnya,
“Sekali waktu Ayah mengatakan kepadaku: “Ni, jangan kau kira adalah banyak orang Eropa, yang benar suka padamu. Hanya beberapa orang saja.”
Tentang pemahaman atas rakyatnya, Kartini membuat catatan di Jepara 1903:
Sudah umum bahwa kebanyakan dukun yang mengetahui rahasia sesuatu obat terhadap penyakit-penyakit tertentu membawa serta rahasia tersebut ke kuburan bila dia mati, kepada anaknya pun tidak sudi ia mempercayakannya. Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidaklah mungkin.
Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak pribadi kaum aristokrat, bersumber pada paham sesat, bahwa kaum bangsawan adalah mutlak manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas daripada Rakyat, dan karenanya berhak mengangkangi segala yang terbaik!.
Pramoedya dengan sikap politik dan kepeduliannya yang kental terhadap rakyat kecil, mencoba menggali keberpihakan sosial Kartini melalui tafsir atas surat-suratnya. Dan dia menemukannya, Kartini memahami dan mampu sungguh merasakan kehidupan Rakyat jelata, orang-orang yang melarat dan miskin di sekitarnya. Sekaligus ia dapat melihat, bahwa kemelaratan kemiskinan itu tidak lain daripada penderitaan seluruh Rakyatnya. Ia telah sampai pada suatu sikap, suatu pemihakan, dan sikap ini bukanlah  emosional belaka, melainkan hasil pengetahuan dan pengamatan sosial yang rinci teliti. Bukan lagi pemberontakan fisik yang hanya didorong oleh kebencian terhadap bangsa asing semata. Ujung dari buah renungan Kartini cuma satu: Kerja! Kerja buat Rakyatnya!
Dengan buku karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, cetakan 3, 2007 ini, pembaca mampu mengerti betul sosok Kartini lebih dalam, sehingga bisa memahami kepahlawanannya.
20170403_131935Membaca koran Tempo 25 Maret 2017 dengan judul “Sepulang dari Sillicon valley” dan “Start-Up yang bikin takjub”, betul membuat rasa wow untuk pertumbuhan perusahaan start-up yang sungguh pesat, baik dari sisi jumlah maupun jenis jasa layanan yang ditawarkan. Ratusan start-up muncul setelah Go-Jek lahir 2010, bahkan di Sillicon Valley banyak perusahaan berskala rumahan namun berpenghasilan milliaran dollar.
Terkait dengan buku ini, Geoffrey G. Parker juga menulis dalam bukunya, “Platform Revolution”, bahwa Uber “By the end of 2014, the five-year-old company was valued by investors at $540 billion (up from the $17 billion valuation of just six months earlier)“. Berapa kali lipatkah itu ? Hanya di era disruption peningkatan pendapatan bisa terjadi sedemikan besar. Tentang Alibaba.com, ditulisnya mampu meraup dana $25 milyar dari IPO di tahun 2014. IPO terbesar dalam sejarah.
Incumbent terperangah dengan fenomena 3S (surprise, sudden¬†shift, dan speed) yang disebabkan munculnya para pemain baru,¬†yang menggergaji kaki-kaki mereka. Rhenald Kasali menjelaskan fenomena tersebut dengat sangat bagus melalui buku terbarunya “Disruption“.
Di bagian awal bukunya, Kasali mengamati bahwa dunia telah sangat berubah di berbagai bidang, meliputi perkembangan teknologi komunikasi, munculnya generasi millenials, kebutuhan pola pikir eksponensial, corporate mindset, model bisnis disruptif, dan era internet of things; “kita menghadapi suatu era baru, era disruption¬†atau ‘peradaban Uber’,¬†yang membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing”, ujarnya. Berbagai contoh bisnis disruptif dibidang pemerintahan, transportasi, hospitality, marketing dll.yang fenomenal, juga menjadi pokok bahasan Kasali. Dilanjutkan pada bab-bab berikutnya mengenai berbagai teori disrupsi, perubahan mindset dan akibat-akibat disrupsi.
Menurutnya Peradaban Uber ini dicirikan oleh adanya:
  1. Teknologi pengubah peradaban dari time series menjadi real time
  2. Sumberdaya sendiri sebagai modal kerja, berubah menjadi saling-berbagi
  3. Teknologi Big Data memungkinkan percepatan produk dan layanan
  4. Kurva tunggal supply-demand yang tergantikan dengan kerja jaringan
  5. Kompetitor yang tak terlihat dan langsung masuk ke konsumen
Seiring waktu, lompatan-lompatan peningkatan pendapatan telah banyak terjadi, berhubungan dengan munculnya berbagai terobosan teori manajemen, mulai dari manajemen Jepang yang marak sejak 1980 melalui total quality control, just in time, dan budaya perusahaan; lalu memasuki era re-enginering (1990-an), change (2000), dan transformasi. Kini manajemen pada awal abad ke 21 menuntut kita menghadapi disruption dengan agile management (ketangkasan).
Cragun & Sweetman (2016) mengidentifikasi lima pemicu gelombang disruption yang terjadi sejak 1980. Tercatat hingga 2015, telah melewati sekitar 20 episode kejutan yang dibagi dalam lima kategori penyebab, yaitu:
  1. Teknologi (khususnya IT),
  2. Teori Manajemen (metode baru pengelolaan SDM, kepemimpinan, produksi dan bisnis),
  3. Peristiwa Ekonomi (peran negara, bank sentral, fluktuasi penawaran-permintaan),
  4. Daya Saing Global, dan
  5. Geopolitik (ketegangan antar wilayah).
Lalu, apa yang dimaksud dengan Disruption oleh penulis?
Menurut Kasali, disruption adalah sebuah inovasi, yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologl digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.
Disruption pada akhirnya menciptakan suatu dunia baru: digital marketplace. Pasar virtual, konsep yang serasa asing bagi para pelaku usaha lama maupun regulator senior. Kini kaum muda hidup di dunia yang berbeda, dunia virtual yang tak kelihatan sehingga para regulator perlu siap adaptif terhadap perubahan ini.
Pada era ini, perdagangan melalui dunia maya akan semakin intens, membuat para pendatang baru menantang korporasi-korporasi besar dan para incumbent. Disruption menjadi sesuatu yang tak terhindarkan atau sudah menjadi keniscayaan.
Selain menghancurkan Kodak, Western Union, Nokkia, Blackberry dan menggergaji taksi Express, Bluebird dan banyak lagi lainnya, Disruption juga melahirkan platform-platform baru seperti MOOC (Massive Open Online Course), ekonomi berbagi (sharing economy), online economy, peer to peer Iending, smart home, fleet management, smart cities/kampong, surveilIance, dan lain-lain.
Owning economy vs sharing economy
Cukup mencengangkan bahwa dalam era kapitalistik, muncul fenomena ekonomi berbagi  (sharing economy). Tidak sepenuhnya salah sepertinya, karena hulu konsep sharing economy ini tetap lah keuntungan semata. Hanya, di era internet of things sekarang ini memang mensyaratkan budaya jaringan, baik dalam hal cara berbisnis maupun cara mendapatkan perolehannya. Idle capacity karena konsekuensi budaya lama penumpukan kapital (owning economy), akan menjadi beban pemilik, sehingga perlu utilisasi optimal untuk menghasilkan perolehan.
‚ÄúBuat apa membeli yang baru, kalau barang-barang yang lama saja masih bisa dipakai orang lain?” Jadi, jutaan barang bekas yang ada di garasi dan gudang rumah dijual kembali via e-Bay, OLX atau Kaskus. Gila, piringan hitam zaman dulu hidup lagi. Velg-velg mobil yang sudah langka kini bisa ditemui. Prinsipnya, lebih baik jadi uang daripada rusak tak terawat; lebih baik murah tapi terpakai penuh ketimbang underutilized.
Ketika sharing economy menjadi gejala ekonomi yang marak, gelombang ini akan terjadi: Deflasi karena harga-harga akan turun, ledakan pariwisata dalam jumlah yang tak terduga karena banyak pilihan menginap yang murah, aset-aset milik masyarakat yang menganggur menjadi produktif, dan kerusakan alam lebih terjaga.
Sebaliknya, seperti halnya modernisasi, ia juga menimbulkan dampak-dampak negatif: Pengangguran bagi yang tak lolos dalam seleksi alam (persaingan) dengan business model baru ini, kerugian-kerugian besar dari sektor-sektor usaha konvensional yang konsumennya shifting (berpindah), dan kriminalisasi oleh para penegak hukum atau pembuat kebijakan yang terlambat mengatur.
Transportasi on-line vs konvensional
Tentang trasportasi on-line yang sedang marak di negeri ini, bahkan hingga memancing konflik horizontal antara pemain transportasi konvensional dengan Gojek, Grab, Uber, yang berbasis internet. Kasali berpendapat bahwa ada beberapa alasan mengapa disruption dalam industri ini berkembang begitu cepat, mematikan dan membuat kehebohan:
  1. Para regulator tidak mampu menyediakan aturan baru yang spesifik untuk memisahkan kedua jenis industri ini.
  2. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 yang mengatur lalu lintas dan angkutan jalan terlihat begitu banyak ketentuan yang membuat usaha taksi konvensional harus bergerak dalam suasana yang kaku dan berbiaya tinggi.
  3. Minimnya pemahaman tentang disruption dan model bisnis di kalangan pemain lama (incumbent) menyebabkan para pelaku usaha melihat ‘persaingan’ dalam kacamata lama.
  4. Ketiadaan atau belum adanya aturan baru telah membuat pemain lama dan pemain baru berjalan menurut cara mereka sendiri-sendiri.
Ekspansi dalam regulasi yang seakan-akan sama, membuat incumbent berpikir bahwa serangan disruption adalah perubahan biasa. Mereka banyak merespons dengan ekspansi biasa, yaitu meng-online-kan bisnis tradisional. Hal ini, selain tetap beroperasi dengan struktur biaya tinggi (dan sulit menaklukkan pelaku ekonomi berbagi), mereka juga mengalami pertarungan internal yang rumit. Incumbent selalu beranggapan digital disruption adalah menurunkan harga melalui layanan online.
MODEL BISNIS
Model Bisnis menjadi sorotan penting bagi Kasali untuk menjelaskan perbedaan yang mematikan antara bisnis konvensional dengan bisnis disruptif. Dalam hal peristiwa politik pun, telah terjadi perubahan yang tak pernah terjadi sebelumnya di negeri ini, yaitu terjadinya fenomena Pilkada, jalur independen vs jalur partai, dan suara rakyat pun terdisrupsi. Beberapa contoh lainnya, adalah:
Era disruptif juga telah mengganggu peta perbankan. Ketika semua bank menerapkan bunga dan fee based, dalam skala global muncul model bisnis disruptif, fintech (financial technology), yang mempereteli elemen penghasil uang bank satu per satu dengan pendekatan fee based. KickStarter.com, yang berdiri tahun 2009 misalnya, dikenal sebagai pionir dalam bidang crowdfunding. Contoh lain adalah Cravar misalnya, produsen produk kerajinan kulit Indonesia, sebagai pendatang baru ia berhasil mendapatkan dukungan sebesar 30.000 dolar AS, plus sejumlah pelanggan baru dan feedback. Barangnya tembus pasar Amerika Serikat sejalan dengan ketersediaan modal. Bukan dari pinjaman bank.
Menurutnya, masih banyak model bisnis yang perlu kita pelajari pada abad ke-21 ini, tetapi intinya adalah:
  1. Persaingan abad ini ditandai bukan lagi antara produk dalam industri yang sejenis, melainkan antara model bisnis dalam industri yang batas-batasnya semakin kabur
  2. Model bisnis merevolusi industri, membuat cara yang ditempuh incumbent menjadi semakin rumit, tetapi inti dari model bisnis adalah bagaimana pelaku usaha mendapatkan uang dari kegiatan usahanya dengan cara-cara baru.
  3. Pengusaha yang cerdik bukanlah pengusaha yang bersikeras dengan model bisnis lamanya. Seorang pengusaha perlu mempertanyakan kembali fundamental usahanya: what business are we in? Apakah kita masih harus menjual apa yang semata-mata kita hasilkan saja, ataukah kita juga bisa memperluasnya?
  4. Model bisnis juga mencerminkan siapa yang memegang kendali perusahaan: apakah generasi tua yang merupakan imigran dalam dunia teknologi (hanya menjadi pemakai/ pengguna) atau generasi millennials (mereka yang berusia 18-32 tahun)? Model bisnis yang kreatif terkesan memenuhi syarat SDM 30 Under 30, yang artinya terdapat 30% SDM dari generasi milIennials yang paham tentang generasi mereka (di bawah usia 30 tahun).
Sepuluh model bisnis hiper-disruptif (hyper disruptive business model) berjangkauan model bisnis yang mendunia, selain teknologinya baru atau memanfaatkan terbentuknya peradaban baru, mereka pun menggunakan cara-cara baru yang tak terpikirkan generasi yang dibesarkan peradaban manufakturing (Peter F. Drucker,
“The greatest danger in times of turbulence; it is to act with yesterday’s logic”), adalah sbb.:
  • Subscription Model
  • Free Model
  • Freemium Model
  • Marketplace Model
  • Hypermarket
  • Acees over ownership Model
  • On Demand Model
  • Experience Model
  • Pyramid
  • Ecosystem
KONSEKUENSI
Disruption menyandang sejumlah konsekuensi akibat teknologi infomasi dari kehadiran para wirausaha muda yang beroperasi lintas-batas di dunia global bersama kaum millennials. Hal ini berdampak luas pada tiga hal berikut ini.
  1. Disruption menyerang hampir semua incumbent (pelaku lama, para pemimpin pasar), baik itu produk-produk atau perusahaan-perusahaan ternama, sekolah atau universitas terkemuka, organisasi-organisasi sosial, partai politik, maupun jasa-jasa yang sudah kita kenal.
  2. Disruption menciptakan pasar baru yang selama ini diabaikan incumbent, yaitu kalangan yang menduduki dasar piramida. Klini mereka yang dulu kurang beruntung sebagai konsumen karena daya beli yang rendah, telah menjadi kekuatan pasar. Secara keseluruhan, partisipasi pasar pun meningkat. Sekuat apa pun brand loyalty yang telah dibangun incumbent melalui strategi pemasaran konvensional, posisi incumbent tetap terancam.
  3. Disruption menimbulkan dampak deflasi (penurunan harga) karena biaya mencari (searching cost) dan biaya transaksi (transaction cost) praktis menjadi nol rupiah. Kedua jenis biaya ini umumnya hanya dikenal oleh generasi millennials berkat teknologi infokom. Selain itu timbul gerakan berbagi (sharing resources) yang mampu memobilisasi pemakaian barang-barang konsumsi ke dalam kegiatan ekonomi produktif.
Demikianlah disruption bekerja secara cepat pada awal abad ke-21. Peranan dominan televisi perlahan-lahan dilengkapi oleh internet. Media-media konvensional beralih ke dunia maya. Cara beriklan berubah. Banyak cara baru yang masih berada di tahap awal penggerusan yang akan mengubah masa depan perusahaan atau industri yang gagal melakukan self-disruption.
Disruption mengantarkan kehidupan baru pada abad ke-21 yang kerap tak terdeteksi dan teratasi incumbent. Perbedaan generasi telah mengantarkan kehancuran yang besar pada perusahaan-perusahaan yang amat kita kagumi di masa lalu. Perusahaan-perusahaan multi-nasional yang dulu dikenal seperti lBM, Exxon, Walmart, P&G, dan Lehman Brothers kini digantikan Google, Apple, Facebook, Samsung, dan pendatang-pendatang baru dari China, Korea, dan Rusia.
Kehancuran perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti Pan Am, Kodak, Enron, Arthur Andersen, Lehman Brothers, Nokia, dan seterusnya juga mengakibatkan industri-industri keuangan terguncang.
Para pelaku usaha start-up itu kemudian mendisrupsi industri, menyerang incumbent dengan teknologi-teknologi baru sambil menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Mereka bisa saja dikecam pasar dan incumbent karena pada tahap awal itu terjadi banyak ketidaksempurnaan, baik dalam hal produk maupun manajemen.
Apalagi setelah itu muncul metode-metode baru yang membuat biaya transaksi dan biaya mencari menjadi serendah mungkin. Aplikasi-aplikasi digital yang mempertemukan permintaan dengan penawaran, membuat pengelolaan usaha berubah sama sekali. Ini sekaligus menjadi ancaman bagi para incumbent yang terbelenggu aturan-aturan lama, manajemen birokrasi, fixed cost yang tinggi, biaya transaksi yang mahal, serta metode-metode yang hanya cocok dipakai sebelum dunia mengenal smartphone, aplikasi teknologi, statistic analytic, big

data, dan uang digital. Terjadilah persaingan tak berimbang antara mereka yang sudah hidup dalam era (dan memegang data) real time dan mereka yang masih hidup dalam era time series – antara yang menggunakan Google Maps dan yang masih berpatokan pada argometer.

Aset-aset pribadi yang semula digunakan hanya untuk konsumsi, kini pun bisa digunakan untuk kegiatan usaha, menjadi lebih produktif. Siapapun bisa membuka warung dari rumah, menaruh taksi di garasi dengan mobil pribadi. ltulah barang-barang konsumsi yang kini bisa dipakai untuk kegiatan ekonomi produktif. Jadi, inilah saatnya dunia membentuk aturan-aturan baru. Bukan semata-mata kapitalisme, melainkan kekuatan gotong-royong, dengan partisipasi yang luas dan lebih sejahtera. Kekuatan gotong-royong dunia baru itu dikenal sebagaI ekonomi berbagi (sharing economy).
Maraknya pengembangan model bisnis dalam strategi bisnis mengakibatkan perusahaan-perusahaan memilih bersaing di bidang model bisnis ketimbang bersaing di bidang produk semata.
Perubahan revolusioner
Banyak pihak yang kurang mengerti bahwa sebuah revolusi tengah terjadi, terutama pada aspek-aspek tertentu, yaitu:
  • Teknologi lnformasi – menghubungkan semua orang, baik yang membutuhkan (demand side) maupun yang menawarkan (supply side).
  • Deflasi –¬†disruptive innovation dilakukan dengan upaya-upaya serius untuk memberikan ‚Äúvalue‚ÄĚ yang lebih besar bagi konsumen dan penyedia jasa melalui ekonomi biaya rendah. Akibatnya, hadirlah jasa atau produk dengan harga yang relatif lebih menarik.
  • Ekonomi Berbagi – inovasi tak hanya pada produk, melainkan pada model bisnis, yaitu cara mencari ‚Äúdaging‚ÄĚ usaha. Bentuk yang dipilih antara lain adalah ekonomi berbagi, yaitu ekonomi¬†gotong-royong, sharing resources, atau terkadang disebut ekonomi kolaborasi.
  • TeknoIogi Statistik – menggunakan big data analytics, yaitu statistik big data bukan time series lagi, melainkan real time sehingga pasokan dapat dikerahkan saat permintaan bergerak. Ini membuat biaya mencari dan biaya transaksi yang menjadi beban pelanggan dapat turun.
  • Partisipasi Aset-Aset Telantar – ekonomi berbagi diusahakan untuk mengaktifkan aset-aset masyarakat yang tak sepenuhnya terpakai saat konsumsi sedang berlangsung.
SUSTAINING VS. DISRUPTIVE INNOVATION
Dengan menggunakan contoh runtuhnya perusahaan es balok, yang telah banyak melakukan inovasi, yang tergantikan oleh munculnya kulkas (temuan atas keperluan rumah-tangga), bab ini menjadi menarik karena mampu menjelaskan fenomena runtuhnya suatu perusahaan, meskipun telah melakukan berbagai upaya inovasi. Pada umumnya, incumbent hanya tertarik mengembangkan strategi sustaining innovation, yaitu inovasi-inovasi yang ditujukan untuk mempertahankan existing market seperti yang diajarkan para guru marketing, yaitu branding, strategi pelayanan, menurunkan biaya, memperbaiki kinerja mesin atau orang, dan melakukan perubahan-perubahan kecil. Sementara itu, para pendatang baru menyerang kelompok pasar di luar teritori incumbent yang berakibat runtuhnya bangunan usaha tanpa diduga. Dalam hal perusahaan es balok di atas, supermarket yang harusnya membeli es balok memilih membeli kulkas sendiri berukuran sedang untuk mengawetkan ikan-ikan basah yang diperdagangkannya.
Perubahan yang dilakukan para pendatang baru ini terkesan revolusioner karena amat radikal, mengubah peta pasar, bahkan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru pada pelanggan. Awalnya memang mereka menciptakan pasar baru, tetapi pelan-pelan konsumen lama pun punya potensi ikut berpindah. Itulah yang dlsebut sebagai sudden shift.
¬†…
Penjelasan lebih lanjut tentang Disruption,
  • Adalah suatu proses. la tidak terjadi seketika. Dimulai dari ide, riset atau eksperimen, lalu proses pembuatan, pengembangan business model. Ketika berhasil, pendatang akan mengembangkan usahanya pada titik pasar terbawah yang diabaikan incumbent, lalu perlahan-lahan menggerus ke atas, ke segmen yang sudah dikuasai incumbent.
  • Memasuki pasar dengan business model baru, yang berbeda dengan yang sudah dilakukan pemain-pemain lama. Karena itu, inovasi business model menjadi penting.
  • Tidak semua disruption sukses menjadi pelaku disruption atau menghancurkan posisi incumbent.
  • lncumbent tak harus selalu berubah menjadi disruptor. Ada banyak strategi yang bisa ditempuh incumbent, temasuk meneruskan sustainable innovation dan membentuk unit lain yang melayani disruptor.
  • Teknologi bukan disruptor, tapi enabler. Selain TI, alat-alat baru lain dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan.
  • Disruption dapat menyebabkan deflasi, harga turun, karena disruptor memulai low cost strategy.
¬†…
DISRUPTIVE MINDSET
Ini hal yang menarik buat saya karena persoalan mindset ini menjadi sangat penting, mengingat surprise, sudden shift, dan speed adalah ancaman serius di disruption ini.
…¬†
Mindset
Mindset adalah bagaimana manusia berpikir, yang ditentukan oleh setting awal, yang kita buat sebelum berpikir dan bertindak.
Seperti diketahui bahwa¬†disruption menghancurkan masa depan para incumbent, sedangkan incumbent selalu melihat dengan “pengalamannya”. Kalau¬†incumbent memiliki disruptive mindset, ia bisa menjadi kreatif dan tak takut melihat perubahan yang seperti dilakukan anak-anak muda tanpa beban masa lalu (entrant). Sebaliknya, kalau ia memiliki steady (fixed) mindset, ia menjadi sangat takut dan tak menghasilkan perubahan. Ia hanya terkurung oleh pengalaman masa lalunya dengan menyangkal realitas baru.¬†Karakter disruptive mindset bisa digambarkan sbb.:
  1. Respons cepat: tidak terhambat.
  2. Real-time: begitu diterima, seketika diolah.
  3. Follow-up: langsung ditindaklanjuti. Tidak ditunda.
  4. Mencari jalan, bukan mati langkah.
  5. Mengendus informasi dan kebenaran, bukan menerima tanpa menguji.
  6. Penyelesaian paralel, bukan serial.
  7. Dukungan teknologi informasi, bukan manual.
  8. 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu), bukan eight to five (dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore).
  9. Connected (terhubung), bukan terisolasi.
Mental disruptive ini tidak terikat oleh pengalaman atau aturan baku yang kaku pada masa lalu, melainkan sikap terbuka terhadap masa depan. Terhadap sesuatu yang baru, manusia harus berupaya lagi dan berpikiran terbuka.
Akibat lebih lanjut dari disruptive mindset ini adalah terjadinya pertentangan dengan pihak berkarakter steady mindset, yaitu pertempuran internal antara pemilik fixed mindset yang merasa hebat serta terikat tradisi, merasa lebih pandai serta akan selalu paling pandai, dan pemilik growth mindset yang selalu terbuka dan mampu ‚Äúmelihat‚ÄĚ kesempatan-kesempatan baru dalam setiap perubahan. Akan terjadi pertarungan antara mereka yang merasa terancam atau akan terlihat kurang pandai kalau menjalani perubahan melawan mereka yang tak peduli dengan penilaian orang lain; antara mereka yang ingin mempertahankan status quo dengan yang ingin berubah, membangun kompetensi baru pada masa depan. Jadi, akan ada yang memanipulasi kebenaran, membesarkan kesalahan-kesalahan kecil, menakut-nakuti, dan menciptakan batu-batu sandungan untuk menghambat self-disruption.
Mindset tetap (fixed mindset) berbeda dengan mindset yang tumbuh (growth mindset). Karena berusaha terus, mereka sangat percaya bahwa suatu saat masa depan baru itu ada bersama mereka yang hari ini belum tampak hebat. Umumnya orang-orang ini amat suka tantangan-tantangan baru, dan kalau menghadapi kesulitan, mereka tak mudah menyerah. Mereka juga pantang mempersoalkan kritik orang lain. Mindset bukan hanya harus dipahami, melainkan juga harus dilatih.
¬†…
Generasi Millenials
Kasali memberikan perhatian khusus terhadap tumbuhnya Generasi Millenials yang menjadi ujung tombak disruption, yang berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya dalam banyak hal, yaitu:
  • Merasa jauh lebih merdeka, baik secara batiniah maupun lahiriah. Merdeka dalam berpendapat, memilih karier, bepergian, konsumsi, dan menjalin kehidupan.
  • Amat ekstrover, kurang hati-hati dalam bertindak, terlalu emosional, mudah berpindah-pindah, ingin cepat ‚Äúnaik kelas”, dan lebih materialistis.
  • Lebih berpendidikan dan memiliki akses yang besar pada segala sumber daya dan informasi sehingga memudahkan mereka berkolaborasi.
  • Masa mukim mereka terhadap segala hal menjadi lebih pendek. Entah itu terhadap tempat tinggal, keluarga, sekolah, pekerjaan, atau kegiatan-kegiatan yang serius (semisal ideologi atau hal-hal terkait).
  • Lebih mengutamakan kebebasan dan kebahagiaan ketimbang aturan-aturan yang membelenggu.
¬†…
Karena sifat-sifat baru yang seperti itu belum banyak dipahami, kebanyakan perusahaan milik incumbent pun terganggu. Banyak yang tak menyadari Shifting (Pergeseran atau perpindahan) dan banyak produsen yang gagal menyediakan area transit bagi pasar kaum muda ini. Kehadiran generasi millennials mempercepat perubahan tren.
¬†…
Rekomendasi
Buku Disruption ini merupakan buku terbagus dan tidak membosankan untuk dibaca berulang-kali, karya Rhenald Kasali, yang pernah saya baca. Buku yang berhubungan dengan bisnis start-up dan platform berbahasa Indonesia dengan contoh-contoh dan analisis yang lengkap dan rinci. Sangat direkomendasikan. Terimakasih pak Rhenald Kasali.

Balikpapan 2016-2017

2016_1231_13500100

Batu Dayak

Terminal 3 Bandara Soetta
Resto Tjap Toean, dari namanya bermaksud menjelaskan kalau resto ini masakan peranakan, tempat kami mampir sarapan di Terminal 3 bandara Soetta sebelum penerbangan ke Balikpapan GA566 pagi itu. Bubur ayam (aroma kwang tung, rasa biasa), cakwe isi ikan (uenak), prata (enak) dan pisang goreng keju (biasa) adalah menu utama kami plus teh tawar panas dan dua es kopi tarik (enak). Jam 10.50 boarding yang seharusnya melalui Gate 16, dipindah ke Gate 12. Hemmm … Masih penyakit lama bandara Soetta.
Tepat 11.10 wib, GA566 melaju di taxi way siap mengudara menuju Balikpapan, yang kira-kira membutuhkan 2 jam penerbangan. Bandara modern Sipinggan bagus, bersih, terang dan terkesan lengang. Toilet bersih. Banyak ruang kosong. Mudah untuk menemukan loket layanan taksi bandara.
Aston hotel
Menjelang akhir tahun 2016, hotel Aston Balikpapan di jalan Jend. Sudirman fully booked. Untung sudah booking lama sebelumnya. Lobby sempit dan ramai tamu antri untuk checkin. Suite room dengan dua kamar cukup lega utk kami bertiga. Bapak, ibu dan anak satu.
Resto kepiting Dandito
imagesSetelah magrib kami makan di resto Dandito, yang terkenal dengan menu kepitingnya. Karena taxi tak banyak berkeliling, maka wisatawan disarankan untuk sewa mobil dari hotel atau pergunakan taxi sampai selesai makan. Alhamdulillah hujan deras sehingga udara sejuk dalam ruangan yang tidak berpendingin, namun kipas tetap berputar di langit-langit.
Kepiting telor saus Dandito, kapiting lada hitam dan kangkung cah menjadi pilihan makan malam kami. Wuih .. telor kepiting berlimpah dan saus Dandito memang suedapp .. Sayang, kepiting kurang besar … lagi gak musim???
Cafe Delicia
img-20170102-wa0000Pagi berikutnya, dengan menggunakan mobil rental Avanza seharga Rp. 400 ribu dari jam 11 hingga sore hari, kami mencoba masakan Latin di resto Delicia, jalan MT. Haryono. Resto kecil berdinding depan dari kaca bening dengan tempat duduk panjang berwarna merah menempel pada salah satu dindingnya yang berwarna putih, berasesoris foto-foto buah dan minuman berlatar-belakang pantai putih bersih dan laut biru, serta kursi-kursi metalic minimalis di seberang meja, memberi kesan lega, terang dan resik. Bar panjang di ujung ruangan dengan lampu gantung kuning di atasnya terasa santai tenang, cocok untuk ngobrol.
see_this_instagram_photo_by_deliciacafebpn_%e2%80%a2_26_likes__Menu penggoda saat itu, Burittos De Pollo¬†berukuran besar dengan roti pembungkus tipis putih¬† halus, berisi daging ayam, sayuran dan saos di dalamnya serta sedikit olesan saos sambal di kulit luar terasa lezat, lalu Quesadilla, sejenis roti tipis bundar seukuran piring berisi ayam, keju, bawang bombay dan sedikit jagung. Strogonoff De Frango, menu asing berupa nasi disajikan dengan kentang goreng, ayam, jamur dan kacang merah menggunakan saus Delicia. Sedap … Layak coba. Untuk minuman, tidak terlihat adanya menu yang asing. Mujito dan lechee tea jadi pilihan kami. Di Jakarta kami belum menemukan resto masakan Amerika Latin yang lezat seperti ini. Ada yang tahu?
Pasar Sayur
20170102_004454Selesai makan, lanjut menuju Pasar Sayur yang terkenal menjual banyak cendera-mata khas Kaltim yang bisa ditawar, seperti kalung, gelang atau tas berbahan manik-manik batu hias. Kain batik lokal juga tersedia. Tak lupa, makanan khas Balikpapan berbahan dasar ikan dan kepiting banyak dijual disini, seperti kerupuk tenggiri mentah, kemplang (kerupuk ikan matang), abon ikan, rempeyek kepiting dll. Oleh-oleh siap sudah terbungkus kardus. Kembali ke hotel, mampir untuk reserve makan malam di Oceans resto.
Oceans Resto

2016_1231_17065600Ini resto seafood terbesar dan terkenal di Balikpapan dan banyak direkomendasikan oleh jaringan wisata di internet. Lokasi di jalan Sudirman

2016_1231_17231800

Senja 31 Desember 2016

pinggir pantai dengan panggung dan pagar kayu bersih rapi di atas laut. Untuk penggemar fotografi, ini lokasi yang tepat untuk ambil gambar sunset. Kami sudah siap di meja sejak 17.45 sambil jeprat-jepret, foto. Karena saat itu 31 Desember 2016, maka seluruh meja sudah fully booked, untung kami sudah reserve tempat dan menu siang sebelumnya.
Kepiting besar lada hitam, lobster besar yang sudah dikupas bersaus mentega, sayur cah kangkung dan roti prata adalah menu makan malam menjelang pergantian tahun kami, dilengkapi minuman kelapa muda utuh segar. Super sekali … highly recommended. Sayang, laut di bawah panggung banyak sampah.
Pesta New Year 2017
2016_1231_19290900Jam 19.15 pulang ke hotel karena ada undangan pesta Malam Tahun Baru 2017 di taman hotel Aston, pinggir pantai. Alhamdulillah, melalui quiz, kami 2016_1231_19303500dapat hadiah voucher tinggal di sebuah hotel di Surabaya. Setelah beberapa lagu dimainkan band dari Surabaya, kami kembali ke kamar. Ada yang lucu dari penyanyi perempuan band tersebut. Dengan kostum terbuka di bagian atas punggungnya, terlihatlah bekas bekam disana. Kasihan, masuk angin rupanya mbak penyanyi itu. Tetap semangat jemput rejeki mbak …
EWalk Mall
imagesSatu hari sisa di Balikpapan kami gunakan ngintip Ewalk Mall, swkaligus cari makan siang. Ruameee … tahun baru mungkin ya .. makan di resto Jinten yang menyajikan masakan-masakan daerah. Gudeg komplit dan soto bening kurang cocok dengan lidah kami. Yang mengecewakan, pesanan nasi goreng tidak pernah muncul. Tanpa alasan.
Mampir sebentar ngopi di Starbuck. Nah, bagi yang biasa tanpa gula, coffee latte disini standarnya pakai sirop (manis). So, kalau mau tanpa gula, perlu pastikan ke barista lebih dahulu untuk tidak ditambahkan sirop.
Pulang ke hotel mampir ke toko makanan Sibayak, banyak direkomendasikan sebagai tempat belanja oleh-oleh makanan khas Kaltim (kemplang, abon kepiting dan rempeyek kepiting). Satu dos siap terangkut.
Bandara Sepinggan
img-20170102-wa0001

Checkin Garuda

GA567 siap menerbangkan kami pulang ke Jakarta jam 13.05 WITA dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Bandara bersih, dinding kaca tembus cahaya, terang dan bersih. Loket checkin banyak dan rapih teratur. Setiap kali menanyakan informasi ke petugas yang lewat, dijawab dengan ramah dan sopan. Salut untuk Angkasa Pura I. Cafe dan kios cenderamata cukup banyak tersedia, termasuk Starbuck dan Old Town cafe. Bahkan resto masakan Padang pun juga tersedia. Lounge Garuda di lantai 2, terkesan mewah, lega, banyak sofa, juga banyak downlamp dan portable ac. Makanan, seperti biasa, minimalis ūüėā.

images

Masyarakat Kolektif

Catatan penting tulisan Michael A. Witt, Professor dari Asian Business & Management, INSEAD di majalah digital Forbes 6 Maret 2012, bisa menjadi panduan untuk memulai membangun kemitraan dalam lingkungan budaya China di negerinya. Pengalaman bernegosiasi dengan beberapa pengusaha asal  China yang berdomisili di luar  negeripun juga menunjukkan kultur yang tidak jauh beda.

  1. Investor perlu ‘blusukan’ di kota-kota pinggiran China utk dpt info holistik ttg budaya masy. China, bila mengharapkan bisa berbisnis disana.
  2. Perlu melakukan analisis keunggulan kompetitif dan tidak terjebak pada nafsu pertumbuhan pasar sendiri
  3. Perlu kesabaran dan tidak terburu-buru dalam memulai operasi dengan mengenali relasi lebih dalam sebelum membuat keputusan kemitraan
  4. Masyarakat China adalah masyarakat kolektif, meskipun akan bersikap individualis thd kelompok yang berbeda, shg sikap kooperatif akan sulit dicapai. Win-win solutions bukanlah karakter mereka sehingga kecenderungan re-open negotiation sering terjadi pada saat dealing sudah hampir berhasil, karena dianggap tidak cukup keras bernegosiasi (terlalu berkompromi).
  5. Ada dua cara membangun trust, yaitu berikanlah trust hingga terbukti tidak dapat dipercaya, atau buktikan dulu hingga layak dipercaya. Kultur bisnis China sepertinya mengikuti cara yang kedua. Konsekuensi dari karakter seperti ini, ditambah dengan sifat individualis (diluar groupnya) dan sistem legal China yang kurang imparsial, menyebabkan sikap oportunistik, sehingga berakibat sulitnya membuat kontrak bisnis. Mekanisme sejenis cash on delivery sering menjadi jalan keluar.
  6. Untuk menghadapi karakter oportunistik, perlu dibangun kepercayaan personal terhadap relasi bisnis yang membutuhkan waktu lama, sehingga sikap tergesa-gesa akan sangat berresiko. Makan malam dengan minuman beralkohol adalah cara termudah yang biasa dilakukan dalam budaya bisnis China, namun perlu kecerdikan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol yang ditawarkan, sehingga bisa tetap fokus dalam membangun hubungan.
  7. Batas-batas negosiasi seringkali tidak jelas dan kekuasaan politik bisa menjadi parameter yang sangat menentukan.
  8. Kultur masyarakat China adalah hirarkis, keputusan penting akan dilakukan secara top-down, maka perlu memahami posisi hirarki relasi bisnis saat sedang bernegosiasi karena otoritas pengambil keputusan berada pada puncak tertinggi. Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi formal, usia dan pendidikan dari lawan negosiasi.
  9. Sistem pemerintahan komunis China adalah desentralisasi, sehingga apapun yang diperintahkan pemerintah pusat untuk dilakukan pemerintah daerah, pasti akan dikerjakan. Namun demikian, dealing bisnis dengan pemerintah pusat untuk pekerjaan di daerah, tanpa melakukan dealing dengan pemerintah daerah, pasti akan bermasalah.
  10. Perlu difahami bahwa kondisi ekonomi China yang sedang bagus dan ambisi pemerintah untuk terus memacu BUMN hingga berprestasi dan menguntungkan, akan menjadi pesaing berat perusahaan swasta, untuk itu perlu berhati-hati menentukan pasar. Kerjasama saling menguntungkan masih mungkin terjadi bila tekonologi anda memang sangat dibutuhkan oleh pemerintah China.

Ref.: The Ten Principles For Doing Business In China

images

Perdebatan di media massa tentang masalah hukum terhadap kriminalisasi kebijakan direksi BUMN yang dianggap beberapa pihak telah merugikan negara, masih sering terjadi, bahkan menyebabkan banyak diantaranya yang tak berani melakukan terobosan dalam membuat kebijakan bisnis. Buku ini sangat mencerdaskan karena penjelasannya yang lengkap dan rinci, baik dari sisi hukum maupun praktek manajemen BUMN dimana penulis sangat menguasai keduanya. Berikut ini adalah catatan singkat berupa suntingan dan/atau kutipan dari buku “Dilema BUMN“, yang ditulis oleh Prasetio (Dirut. Peruri sejak 2012) dan diterbitkan tahun 2014.

Buku ini merupakan bentuk lebih ringan dari disertasi doktoral penulis di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan judul ‚ÄúPenerapan Business Judgment Rule dalam Restrukturisasi Transaksi Komersial PT (Persero) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas‚ÄĚ.

Keberanian penulis mengangkat isu Business Judgment Rule (BJR) yang berpotensi menjadi kontroversial ini patut diacungi jempol, terutama dikaitkan dengan proteksi terhadap direksi ketika menjalankan tanggungjawabnya dalam pengambilan keputusan dan dihadapkan pada tuntutan hukum di kemudian hari akibat terjadinya kerugian. Dengan menggali dan mengetengahkan pentingnya BJR, dimungkinkan muncul interpretasi bahwa penulis sedang berusaha ‚Äúmembela‚ÄĚ para koruptor di lingkungan perusahaan, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang selama ini sering dipersonifikasikan oleh para pimpinan BUMN sebagai penanggung jawab utama. Bisa jadi ada kecurigaan bahwa doktrin ini nantinya akan digunakan untuk menutupi tindakan-tindakan salah yang dijalankannya dalam memimpin perusahaan.

Dari kajian hukum terhadap perundang-undangan yang berlaku, penulis beranggapan bahwa kerugian persero atau corporate loss yang diakibatkan dari penerapan doktrin BJR tidak merupakan kerugian negara, tetapi merupakan kerugian perusahaan yang lazim disebut risiko bisnis. Ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan saat inilah yang menimbulkan ketidakpastian hukum dan risiko bagi para direksi persero untuk mengambil keputusan bisnis mengingat dalam praktiknya doktrin BJR telah diabaikan.

Dari kajian ilmiahnya, penulis juga meyakini bahwa BJR telah diberlakukan semestinya, jika direksi telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan hati-hati untuk kepentingan perseroan semua, serta sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Selanjutnya, dalam pengambilan keputusan dapat dibuktikan bahwa ia tidak mempunyai benturan kepentingan. Di samping itu, direktur juga diyakini telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.

Dengan kata lain, doktrin BJR otomatis gugur apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Apabila perusahaan mengalami kerugian yang diakibatkan oleh fraud atau penggelapan uang perseroan atau BUMN oleh direksi, tentu saja proteksi yang diberikan BJR gugur dengan sendirinya. Dan, apabila ini yang terjadi, hukum dan undang-undang sudah mengatur bahwa ini akan masuk ke ranah hukum pidana. Aparat hukum seperti pihak kepolisian yang masuk menanganinya, sebab ini termasuk tindak pidana umum, bukan tindak pidana korupsi. Oleh karenanya, menjadi tidak relevan untuk mengatakan bahwa penerapan BJR merupakan suatu sikap yang pro koruptor. Justru dengan penerapan BJR, tercermin adanya keharusan untuk menegakkan good corporate governance (GCG), karena hal itu merupakan prasyarat dari dapat diterapkannya doktrin BJR.

Sejarah BUMN
Secara politik-ekonomi, pendirian BUMN di Indonesia dapat disederhanakan dengan mengemukakan tiga alasan pokok, yaitu:

Pertama, sebagai wadah bisnis aset yang dinasionalisasi. Alasan ini terjadi di tahun 1950-an ketika pemerintah menasionalisi perusahaan-perusahaan asing. Peristiwanya dimulai pada 1957, ketika Kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh disertai krisis ekonomi yang parah. Kejatuhan kabinet ini seakan memperkuat sinyal bahwa pemerintahan Parlementer akan membawa Indonesia ke dalam keterpurukan.

Kedua, membangun industri yang diperlukan masyarakat, tetapi mayarakat sendiri (atau swasta) tidak mampu memasukinya, baik karena alasan investasi yang sangat besar maupun risiko usaha yang sangat besar. Pada pertengahan tahun 1960-an, pemerintah mulai mendirikan pabrik-pabrik pupuk urea, mulai di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Aceh. Pemerintah mengambil-alih Indosat sebagai home base pemilikan dan pengelolaan Satelit Palapa. Pemerintah juga mendirikan industri-industri kelistrikan sebagai bahan bakar energi nasional. Selain itu,

Ketiga, membangun industri yang sangat strategis karena berkenaan dengan keamanan negara. Oleh karena itu, pemerintah membangun industri persenjataan (Pindad), bahan peledak (Dahana), pencetakan uang (Peruri), hingga pengelolan stok pangan (Bulog).

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969, sebagai pengganti Perpu Nomor 1 Tahun 1969, mengelompokkan BUMN menjadi tiga bentuk, yaitu Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum), dan Perusahaan Perseroan (Persero). Selain itu, ada lagi bentuk BUMN yang diatur secara khusus dengan undang-undang tersendiri yaitu bank-bank milik pemerintah dan Pertamina.

Dalam praktiknya, bidang usaha BUMN dibedakan antara public utilities (telekomunikasi, listrik, gas, kereta dan penerbangan), industri vital strategis (minyak, batu bara, besi baja, perkapalan, dan otomotif), dan bisnis. Pada saat ini bentuk BUMN dibedakan menjadi dua, yaitu Perusahaan Persero dan Perusahaan Umum (Perum).

Jika mengacu kepada ketentuan Pasal 2 UU BUMN, tujuan pendirian BUMN adalah sebagai berikut:

  • memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan perekonomian negara pada khususnya. BUMN diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat sekaligus memberikan kontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan membantu penerimaan keuangan negara.
  • mengejar keuntungan. Meskipun maksud dan tujuan Persero adalah untuk mengejar keuntungan, dalam hal-hal tertentu untuk melakukan pelayanan umum, Persero dapat diberi tugas khusus dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat. Dengan demikian, penugasan pemerintah harus disertai dengan pembiayaannya (kompensasi) berdasarkan perhitungan bisnis komersial.
  • menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan jasa yang bermutu tinggi serta memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Dengan maksud dan tujuan seperti ini, setiap hasil usaha dari BUMN baik barang maupun jasa, dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
  • menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Kegiatan perintisan merupakan suatu kegiatan usaha untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi kegiatan tersebut belum dapat dilakukan oleh swasta dan koperasi karena secara komersial tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tugas tersebut dapat dilakukan melalui penugasan kepada BUMN. Dalam hal adanya kebutuhan masyarakat luas yang mendesak, pemerintah dapat pula menugasi suatu BUMN yang mempunyai fungsi pelayanan kemanfaatan umum untuk melaksanakan program kemitraan dengan pengusaha golongan ekonomi lemah.
  • turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Dengan demikian, tujuan pendirian BUMN terkait erat dengan peranan negara untuk turut serta dalam membangun perekonomian bangsa baik secara masyarakat luas maupun secara individu. Seperti dikemukakan oleh Arnold Hertje, bahwa peningkatan kehidupan ekonomi seorang individu dan anggota masyarakat tidak hanya tergantung pada peranan pasar dan keberadaan organisasi-organisasi ekonomi swasta saja, akan tetapi tergantung pula pada peranan negara.

Bentuk BUMN
Pada dasarnya ada dua sifat usaha BUMN, yaitu untuk memupuk keuntungan dan melaksanakan kemanfaatan umum. Hal ini kemudian dinyatakan dalam UU BUMN tahun 2003 yang menyederhanakan bentuk BUMN menjadi dua.

Pertama, Perusahaan Perseroan (Persero) yang bertujuan memupuk keuntungan, sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007).

Kedua, Perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah untuk melaksanakan usaha sebagai implementasi kewajiban pemerintah guna menyediakan barang dan jasa tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bentuk usaha Perum walaupun keberadaannya untuk melaksanakan kemanfaatan umum, sebagai badan usaha diupayakan agar tetap mandiri dan, untuk itu, Perum harus diupayakan juga untuk mendapat laba agar bisa hidup berkelanjutan.

Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. Ia bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Pendirian Perum diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Adapun Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% (limapuluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh negara Republik Indonesiea yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Pendirian Persero diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Dilema BUMN
1. Hukum Publik vs Hukum Privat
Pasal 1 butir 5 UU Perseroan Terbatas menyatakan: ‚ÄúDireksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.‚ÄĚ

Masih berkaitan dengan itu, dalam Pasal 97 ayat (2) UU Perseroan Terbatas ditegaskan lebih lanjut bahwa pengurusan dimaksud wajib dilaksanakan oleh setiap direktur sebagai anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab) dalam arti memperhatikan kepentingan perseroan dengan saksama dan tekun. Direksi, dalam kedudukannya sebagai organ perseroan, mengemban fungsi manajemen (management function) dan fungsi perwakilan (representative function)- Pada waktu menjalankan fungsi manajemen, direksi bertindak sebagai pemimpin organisasi perseroan, sedangkan dalam menjalankan fungsi perwakilan, direksi bertindak sebagai agen perseroan ketika berinteraksi dengan pihak eksternal.

Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa antara perseroan dan direksi ada suatu hubungan kepercayaan atau fiduciary relationship. Secara prinsip diangkatnya atau ditunjuknya seseorang atau beberapa orang menjadi direktur dalam lembaga direksi, pada dasarnya dilandasi atas adanya kepercayaan pemegang saham, melalui mekanisme RUPS, terhadap intelektualitas dan integritas yang bersangkutan, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan untuk dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan kesinambungan (continuity) perseroan.

Sementara itu pada pasal 4 ayat (1) UU BUMN dinyatakan bahwa modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Merujuk kepada Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN, secara jelas dinyatakan:

“Yang dimaksudkan dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan modal pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN di atas, maknanya sudah jelas bahwa kekayaan negara yang telah dipisahkan tersebut bukan lagi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga publik atau instansi pemerintah melainkan telah berubah menjadi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga privat (perdata) biasa, (perdata) biasa, dan posisinya tidak jauh berbeda dengan pemegang saham lainnya. Oleh karena itulah kemudian pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, tetapi mengacu kepada prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

Artinya, ini murni masuk domain kekuasaan hukum privat, khususnya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perseroan terbatas. Bahkan selanjutnya masuk pula dalam kawasan peraturan perundang-undangan yang secara spesifik mengatur norma dalam lingkungan bisnis dan operasional perseroan, di mana negara dalam posisinya sebagai badan hukum publik sudah tidak selayaknya untuk campur tangan.

Sebaliknya, dalam dalam penjelasan umum UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan: ‚ÄúYang dimaksud dengan keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung-jawaban BUMN/ BUMD, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara.‚ÄĚ

Adanya perbedaan di antara dua undang-undang ini membawa konsekuensi direksi BUMN berada dalam posisi dilematis ketika mengambil keputusan, terutama keputusan yang berisiko menimbulkan kerugian. Sebab, kerugian yang timbul tersebut dapat mengakibatkan mereka dituding menciptakan kerugian negara lalu dijerat dengan UU Tipikor.

Sesungguhnya, apabila menyimak UU Perseroan Terbatas, terdapat doktrin Business Judgment Rule (BJR) sebagai salah satu prinsip yang memberi perlindungan bagi direksi dari pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang diambilnya yang mengakibatkan timbulnya kerugian perseroan
sepanjang tindakan tersebut dilakukan dengan itikad dengan kehati-hatian yang wajar, untuk kepentingan dengan maksud dan tujuan perseroan.

Doktrin BJR tersebut dapat dijumpai dalam Pasal 97 ayat (5) UU Perseroan Terbatas yang menyatakan: “Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian Perseroan apabila dapat dibuktikan:

  • Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
  • Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
  • Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
  • Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.‚ÄĚ

Namun, jika dihadapkan kepada fakta yang terjadi dalam tatanan praktis terkait tindak pidana korupsi, perlindungan kepentingan hukum direksi, berdasarkan doktrin BJR tersebut, cenderung diabaikan dan tidak diterapkan. Aparat penegak hukum hampir-hampir tidak membedakan dua asas penting dalam sistem hukum Indonesia menyangkut kedudukan negara, terutama terhadap status kekayaan negara dalam suatu perseroan, apakah diartikan masuk dalam lingkungan hukum publik ataukah dalam lingkungan hukum privat, lebih khusus lagi menyangkut perseroan yang telah menjadi perusahaan publik (status terbuka, yang sahamnya dimiliki oleh banyak pihak dan diperdagangkan di pasar modal atau bursa efek).

2. Corporate Loss vs State Loss
Idealnya, seorang hakim (agung), dalam memeriksa perkara terkait keputusan bisnis seorang direksi yang dianggap merugikan perseroan, seharusnya tidak hanya melihat dari sisi kesalahan dan kelalaian seorang direksi dalam mengambil keputusan. la juga harus memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis apakah mengandung kecurangan (fraud), dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi seorang direksi ataukah benar semata-mata untuk kepentingan usaha perseroan dalam mengambil keputusan tersebut.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban direksi dan dewan komisaris, laporan tahunan tersebut harus ditandatangani semua anggota direksi dan semua anggota dewan komisaris untuk dapat diperiksa oleh pemegang saham. Apabila dalam forum RUPS laporan tahunan yang disampaikan oleh direksi diterima, maka dari aspek hukum perseroan, pertanggungjawaban direksi dalam menjalankan fungsi, kedudukan, dan kewenangannya dalam mengelola dan mengurus perseroan telah terlaksana dengan baik dan/atau memuaskan. Dalam kondisi yang demikian, tentu telah terjadi/terdapat pembebasan atau pelunasan tanggung jawab bagi direksi. Hal ini sering diistilahkan acquit et decharge.

Pada kondisi ini, setelah adanya acquit et decharge dari RUPS, secara prinsip seharusnya pertanggungjawaban direksi terhadap adanya corporate loss yang digolongkan sebagai kerugian bisnis tersebut sudah dibebaskan dari pertanggungjawaban pengelolaan korporasi. Artinya, dari aspek hukum perusahaan sudah tidak dapat atau setidaknya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi apa yang sudah dilakukan oleh direksi.

Pada kenyataannya. meskipun RUPS telah memberi putusan penilaian kinerja performansi direksi, termasuk komisaris, dengan pemberian acquit et decharge, corporate loss tersebut, tidak tertutup kemungkinan, atau bahkan sering sekali, menjadi objek pemeriksaan aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, kejaksaan, dan/atau Komisi Pemberantasan Korupsi, serta kemungkinan pemeriksaan tersebut sampai kepada tahap persidangan di pengadilan.

Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah masih tumpang-tindihnya pengaturan tentang arti atau makna keuangan negara, di mana pihak-pihak terkait, satu dan yang lainnya, terbukti tidak mempunyai pemahaman yang sama terhadap status negara sebagai badan hukum publik dan sebagai badan hukum privat, atas kepemilikan saham negara (pemerintah) pada perseroan. Akibatnya, peristiwa corporate loss yang tergolong sebagai kerugian bisnis tersebut sering dianggap atau dapat dipersamakan sebagai kerugian negara atau state loss. Kerancuan atau ketidaksamaan pemahaman seperti ini mengakibatkan risiko hukum yang timbul dan menimpa direksi menjadi sesuatu hal yang sangat tidak dapat diperkirakan (unpredictable), termasuk kemungkinan berhenti atau diberhentikan dari jabatannya. Kondisi ini bukan saja memberi dilema bagi direksi, tetapi juga menimbulkan pengaruh yang negatif bagi pertumbuhan usaha atau corporate growth, khususnya apabila dihadapkan kepada kondisi persaingan dalam bisnis yang dikelola perseroan.

Saran Penulis

Pertama
Pengertian kekayaan negara dalam UU BUMN perlu diubah menjadi kekayaan negara yang telah dipisahkan dalam BUMN. Dengan demikian, kekayaan negara bukanlah kekayaan negara sebagaimana diatur dalam Fatwa Mahkamah Agung No. WKMA/Yud/20/VIII/2006. Sebagaimana kedua pendekatan tentang uang negara dan kerugian negara pada Persero, yaitu pendekatan bisnis (business judgment) dan pendekatan hukum (legal judgment), menghasilkan pengertian yang sama. Apabila terjadi kerugian atas Persero, maka mekanisme pertanggungjawaban yang wajib ditempuh pertama kali adalah mekanisme yang diatur dalam UU Perseroan Terbatas, yakni melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS) yang menguji intelektualitas dan integritas direksi, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan.

Kedua
Disarankan kepada Kementerian Hukum dan HAM yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia untuk melakukan harmonisasi dan Perubahan atas UU BPK, UU Keuangan Negara, Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya terhadap pasal dan ayat yang berkaitan erat dengan pengaturan pengertian keuangan negara agar sejalan dengan pengertian kekayaan negara yang diatur menurut UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas. Demikian pula dengan Penjelasan Pasal 2 angka 7 UU Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, yang mengategorikan direksi, komisaris, dan pejabat struktural lainnya pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah sebagai Penyelenggara Negara, sebaiknya dihapus. Persero merupakan badan hukum yang berbentuk korporasi sebagaimana dibentuk berdasarkan UU Perseroan Terbatas dan diakui oleh pemerintah sebagai suatu entitas privat.

Ketiga
Perlu dilakukan diseminasi kepada aparat penegak hukum yang dapat menjelaskan secara mudah dan pasti mengenai pengertian keuangan negara dalam UU Keuangan Negara, UU Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta

UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah berbeda dengan pengertian kekayaan yang diatur UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas sehingga dapat dipahami bersama bahwa kekayaan Persero/BUMN bukanlah merupakan keuangan negara atau kekayaan negara, melainkan kekayaan badan hukum itu sendiri. Kedudukan pemerintah dalam Persero hanya sebatas pemegang saham (entitas privat).

Diseminasi ini diharapkan dapat menuntun jalannya gelar perkara di masing-masing institusi penegak hukum sehingga kriminalisasi terhadap kasus-kasus perdata dapat diminimalkan dimasa mendatang. Selain hal tersebut, aparat perlu memahami secara mendalam aspek ekonomi dan bisnis serta tata kelola perusahaan yang baik yang meliputi logika perhitungan bisnis, manajemen risiko, dan sistem pengendalian internal serta sistem pengawasan yang berlaku di Persero/BUMN.

Kritik
Buku Prasetio ini dengan jelas telah menjawab keingintahuan publik tentang banyaknya kasus hukum terhadap direksi BUMN yang mungkin saja terjadi karena kesalahan pilihan Undang-Undang yang dijadikan dasar gugatan dan/atau kurangnya memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis, seperti dijelaskan diatas.

Dari sisi penyajian, contoh-contoh kasus akan lebih baik ditempatkan dalam bab khusus sehingga mudah untuk mencari dan mempelajarinya, juga sering terjadi pengulangan kalimat. Lebih daripada itu, isi buku ini sangat memperkaya pengetahuan pembaca, dari kalangan manapun.

Terimakasih mas Prasetio atas buku gratisnyanya “Dilema BUMN“, bahkan sudah mendapat lagi dua bukunya yang lain “It Goes Without Saying” dan “Out of Comfort Zone“. Sukses terus.

 

%d blogger menyukai ini: