Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Panggil aku Kartini sajaSukses. Melalui film Kartini, karya Hanung Bramantyo yang disajikan dalam waktu tak lebih dari 2 jam dengan acting para pemeran yang tak diragukan kagi kemampuannya, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Dian Sastro, sukses menghadirkan kondisi sosial yang mencekam saat itu. Penjajahan feodalistik yang begitu mengakar oleh Belanda dan bangsa sendiri, tak hanya terhadap rakyatnya yang digambarkan dengan masyarakat yang duduk menyembah ketika bangsawan melewatinya; bahkan Kartini dan semua saudaranya pun harus jalan jongkok (laku dhodhok) ketika menghadap ayahandanya. Jangankan akses pendidikan, bahkan organ seksual perempuan pun, termasuk Kartini dan adik-adiknya, tak berhak dipertahankan oleh pemiliknya, kawin paksa. Air mata penonton terkuras banyak dalam adegan-adegan kawin paksa hingga film berakhir.
Kartini filmSelain Hanung, pada 1982 Sjuman Djaya pernah membuat film Kartini dengan judul “R.A. Kartini” yang berdurasi hampir 3 jam, dibintangi oleh Yenny Rachman, Nani Wijaya.
Film Kartini karya Hanung di atas, memaksa untuk membuka lagi buku lama karya Pramoedya Ananta Toer, “Panggil aku Kartini saja“. Rasanya, Hanung banyak mengacu pada buku ini. Bahkan ada adegan khusus Kartini mengucapkan kalimat ini ke kedua adiknya  “Panggil aku Kartini saja” untuk menghilangkan sekat feodalisme diantara mereka bertiga.
Di tangan Pramoedya, cuplikan surat-surat Kartini bertebaran di dalam buku dengan selingan disana-sini opini Toer menafsirkan maksud penulisnya, hingga mampu bercerita utuh menggambarkan dirinya sebagai sosok lengkap gadis kecil hingga dewasa, melawan kesepian karena pingitan selama 4 tahun, sejak usia 12 tahun, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Wafat usia 25 tahun. Tentu, dengan banyak polesan tafsir ideologis yang membingkai karakter perjuangan perempuan Kartini. Emansipansi dan kesetaraan gender.
Tak sepenuhnya getir, dalam buku inipun terungkap kisah cinta yang hangat dan mesra, tempat ia menggantungkan diri dengan seluruh hatinya yang menghauskan cinta. Mereka itu adalah Ayah dan kakaknya yang ketiga, kakak termuda. Hanung sukses menampilkan kenyataan ini di filmnya. Ayahanda yang digambarkannya lembut tutur kata dan sabar tindak-tanduknya. Betapa besar cinta Kartini kepadanya, tertuang dalam suratnya untuk Estella Zeehandelaar, 25 Mei 1899,
“Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadian; tapi tiadalah aku bisa bertanggung jawab kepada nuraniku, pabila aku serahkan diriku kepada orang-orang lain itu, sementara itu Ayahku, yang paling dahulu berhak atas diriku, kubiarkan menderita dan sakit-sakitan, sedangkan ia membutuhkan aku.
Kewajibanku sebagai anak tidak boleh aku kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah bahwa untuk sementara ini aku membaktikan diri kepada ayahku…”
“Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepalaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya”.
Tentang kakaknya yang ke-3, Toer menulis
“Abang itu tidak mentertawakannya, kalau ia bicara tentang cita-citanya, ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak pernah ia membuatnya menggigil dengan jawaban dingin: “Masa bodo, aku hanya orang Jawa!” Dan sekalipun ia tidak menyatakan bersimpati dengan cita-citanya, namun ia tahu, bahwa dalam hati abangnya membenarkannya, Ia tahu, bahwa abangnya berdiam diri, untuk tidak makin menyebabkan huru-hara. Buku-buku yang disodorkan ke tangannya tak lain dari kata-katanya. Ni merasa demikian kayanya dengan cinta ke dua orang kekasihnya ini, dan dengan simpati dari batin abangnya”.
Kompilasi surat-surat tersebut juga mampu menjelaskan kecerdasan Kartini dalam hal seni mengarang dan berpuisi untuk mengekspresikan kepekaan juga keprihatinannya terhadap nasib bangsa yang terjajah dalam segala hal ini.
Kepiawaian menulis adalah satu-satunya kekuatan minimal yang dipunyai Kartini, yang menginsyafi bahwa kepengarangan adalah tugas sosial. Manifes itu tak lain daripada manifes kesadaran batinnya tentang kewajiban-kewajiban terhadap Rakyatnya, Bangsanya, dan Negerinya. Sayang sekali, peran perjuangan Kartini melalui tulisannya ini (dasar pemikiran munculnya ide-ide kerakyatan) kurang kuat terlihat di film Hanung, padahal dari sisi inilah sebetulnya nilai-nilai kepahlawanan Kartini, atau mungkin tertutupi oleh banyaknya adegan dramatik kawin paksa yang kejam menimpa para perempuan pada jamannya.
Pemahaman terhadap kondisi rakyatnya sebagian didapat dari Max Havelaar, karya Multatuli, dari koran majalah, serta dari diskusi-diskusinya dengan orang-orang terpelajar, terutama sekali dari Ayah dan Pamannya sendiri.  Hubungannya dengan Rakyat memang terbatas, tetapi mendalam, dan ia melihatnya dengan pandangan yang jernih, baik tentang kekurangannya maupun kelebihannya. Kartini juga sering membantu pengembangan usaha kerajinan batik dan ukiran.
Tentang sikapnya terhadap Belanda, Kartini, yang hidup dimasa Politik Balas-budi, juga banyak diskusi dengan Ayah dan Pamannya. Salah satu kalimat dalam suratnya,
“Sekali waktu Ayah mengatakan kepadaku: “Ni, jangan kau kira adalah banyak orang Eropa, yang benar suka padamu. Hanya beberapa orang saja.”
Tentang pemahaman atas rakyatnya, Kartini membuat catatan di Jepara 1903:
Sudah umum bahwa kebanyakan dukun yang mengetahui rahasia sesuatu obat terhadap penyakit-penyakit tertentu membawa serta rahasia tersebut ke kuburan bila dia mati, kepada anaknya pun tidak sudi ia mempercayakannya. Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidaklah mungkin.
Bahwa yang terbaik harus dikangkangi sendiri dan dianggap sebagai hak pribadi kaum aristokrat, bersumber pada paham sesat, bahwa kaum bangsawan adalah mutlak manusia lebih mulia, makhluk lapisan teratas daripada Rakyat, dan karenanya berhak mengangkangi segala yang terbaik!.
Pramoedya dengan sikap politik dan kepeduliannya yang kental terhadap rakyat kecil, mencoba menggali keberpihakan sosial Kartini melalui tafsir atas surat-suratnya. Dan dia menemukannya, Kartini memahami dan mampu sungguh merasakan kehidupan Rakyat jelata, orang-orang yang melarat dan miskin di sekitarnya. Sekaligus ia dapat melihat, bahwa kemelaratan kemiskinan itu tidak lain daripada penderitaan seluruh Rakyatnya. Ia telah sampai pada suatu sikap, suatu pemihakan, dan sikap ini bukanlah  emosional belaka, melainkan hasil pengetahuan dan pengamatan sosial yang rinci teliti. Bukan lagi pemberontakan fisik yang hanya didorong oleh kebencian terhadap bangsa asing semata. Ujung dari buah renungan Kartini cuma satu: Kerja! Kerja buat Rakyatnya!
Dengan buku karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, cetakan 3, 2007 ini, pembaca mampu mengerti betul sosok Kartini lebih dalam, sehingga bisa memahami kepahlawanannya.
Iklan

Read Full Post »

20170403_131935Membaca koran Tempo 25 Maret 2017 dengan judul “Sepulang dari Sillicon valley” dan “Start-Up yang bikin takjub”, betul membuat rasa wow untuk pertumbuhan perusahaan start-up yang sungguh pesat, baik dari sisi jumlah maupun jenis jasa layanan yang ditawarkan. Ratusan start-up muncul setelah Go-Jek lahir 2010, bahkan di Sillicon Valley banyak perusahaan berskala rumahan namun berpenghasilan milliaran dollar.
Terkait dengan buku ini, Geoffrey G. Parker juga menulis dalam bukunya, “Platform Revolution”, bahwa Uber “By the end of 2014, the five-year-old company was valued by investors at $540 billion (up from the $17 billion valuation of just six months earlier)“. Berapa kali lipatkah itu ? Hanya di era disruption peningkatan pendapatan bisa terjadi sedemikan besar. Tentang Alibaba.com, ditulisnya mampu meraup dana $25 milyar dari IPO di tahun 2014. IPO terbesar dalam sejarah.
Incumbent terperangah dengan fenomena 3S (surprise, sudden shift, dan speed) yang disebabkan munculnya para pemain baru, yang menggergaji kaki-kaki mereka. Rhenald Kasali menjelaskan fenomena tersebut dengat sangat bagus melalui buku terbarunya “Disruption“.
Di bagian awal bukunya, Kasali mengamati bahwa dunia telah sangat berubah di berbagai bidang, meliputi perkembangan teknologi komunikasi, munculnya generasi millenials, kebutuhan pola pikir eksponensial, corporate mindset, model bisnis disruptif, dan era internet of things; “kita menghadapi suatu era baru, era disruption atau ‘peradaban Uber’, yang membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing”, ujarnya. Berbagai contoh bisnis disruptif dibidang pemerintahan, transportasi, hospitality, marketing dll.yang fenomenal, juga menjadi pokok bahasan Kasali. Dilanjutkan pada bab-bab berikutnya mengenai berbagai teori disrupsi, perubahan mindset dan akibat-akibat disrupsi.
Menurutnya Peradaban Uber ini dicirikan oleh adanya:
  1. Teknologi pengubah peradaban dari time series menjadi real time
  2. Sumberdaya sendiri sebagai modal kerja, berubah menjadi saling-berbagi
  3. Teknologi Big Data memungkinkan percepatan produk dan layanan
  4. Kurva tunggal supply-demand yang tergantikan dengan kerja jaringan
  5. Kompetitor yang tak terlihat dan langsung masuk ke konsumen
Seiring waktu, lompatan-lompatan peningkatan pendapatan telah banyak terjadi, berhubungan dengan munculnya berbagai terobosan teori manajemen, mulai dari manajemen Jepang yang marak sejak 1980 melalui total quality control, just in time, dan budaya perusahaan; lalu memasuki era re-enginering (1990-an), change (2000), dan transformasi. Kini manajemen pada awal abad ke 21 menuntut kita menghadapi disruption dengan agile management (ketangkasan).
Cragun & Sweetman (2016) mengidentifikasi lima pemicu gelombang disruption yang terjadi sejak 1980. Tercatat hingga 2015, telah melewati sekitar 20 episode kejutan yang dibagi dalam lima kategori penyebab, yaitu:
  1. Teknologi (khususnya IT),
  2. Teori Manajemen (metode baru pengelolaan SDM, kepemimpinan, produksi dan bisnis),
  3. Peristiwa Ekonomi (peran negara, bank sentral, fluktuasi penawaran-permintaan),
  4. Daya Saing Global, dan
  5. Geopolitik (ketegangan antar wilayah).
Lalu, apa yang dimaksud dengan Disruption oleh penulis?
Menurut Kasali, disruption adalah sebuah inovasi, yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologl digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.
Disruption pada akhirnya menciptakan suatu dunia baru: digital marketplace. Pasar virtual, konsep yang serasa asing bagi para pelaku usaha lama maupun regulator senior. Kini kaum muda hidup di dunia yang berbeda, dunia virtual yang tak kelihatan sehingga para regulator perlu siap adaptif terhadap perubahan ini.
Pada era ini, perdagangan melalui dunia maya akan semakin intens, membuat para pendatang baru menantang korporasi-korporasi besar dan para incumbent. Disruption menjadi sesuatu yang tak terhindarkan atau sudah menjadi keniscayaan.
Selain menghancurkan Kodak, Western Union, Nokkia, Blackberry dan menggergaji taksi Express, Bluebird dan banyak lagi lainnya, Disruption juga melahirkan platform-platform baru seperti MOOC (Massive Open Online Course), ekonomi berbagi (sharing economy), online economy, peer to peer Iending, smart home, fleet management, smart cities/kampong, surveilIance, dan lain-lain.
Owning economy vs sharing economy
Cukup mencengangkan bahwa dalam era kapitalistik, muncul fenomena ekonomi berbagi  (sharing economy). Tidak sepenuhnya salah sepertinya, karena hulu konsep sharing economy ini tetap lah keuntungan semata. Hanya, di era internet of things sekarang ini memang mensyaratkan budaya jaringan, baik dalam hal cara berbisnis maupun cara mendapatkan perolehannya. Idle capacity karena konsekuensi budaya lama penumpukan kapital (owning economy), akan menjadi beban pemilik, sehingga perlu utilisasi optimal untuk menghasilkan perolehan.
“Buat apa membeli yang baru, kalau barang-barang yang lama saja masih bisa dipakai orang lain?” Jadi, jutaan barang bekas yang ada di garasi dan gudang rumah dijual kembali via e-Bay, OLX atau Kaskus. Gila, piringan hitam zaman dulu hidup lagi. Velg-velg mobil yang sudah langka kini bisa ditemui. Prinsipnya, lebih baik jadi uang daripada rusak tak terawat; lebih baik murah tapi terpakai penuh ketimbang underutilized.
Ketika sharing economy menjadi gejala ekonomi yang marak, gelombang ini akan terjadi: Deflasi karena harga-harga akan turun, ledakan pariwisata dalam jumlah yang tak terduga karena banyak pilihan menginap yang murah, aset-aset milik masyarakat yang menganggur menjadi produktif, dan kerusakan alam lebih terjaga.
Sebaliknya, seperti halnya modernisasi, ia juga menimbulkan dampak-dampak negatif: Pengangguran bagi yang tak lolos dalam seleksi alam (persaingan) dengan business model baru ini, kerugian-kerugian besar dari sektor-sektor usaha konvensional yang konsumennya shifting (berpindah), dan kriminalisasi oleh para penegak hukum atau pembuat kebijakan yang terlambat mengatur.
Transportasi on-line vs konvensional
Tentang trasportasi on-line yang sedang marak di negeri ini, bahkan hingga memancing konflik horizontal antara pemain transportasi konvensional dengan Gojek, Grab, Uber, yang berbasis internet. Kasali berpendapat bahwa ada beberapa alasan mengapa disruption dalam industri ini berkembang begitu cepat, mematikan dan membuat kehebohan:
  1. Para regulator tidak mampu menyediakan aturan baru yang spesifik untuk memisahkan kedua jenis industri ini.
  2. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 yang mengatur lalu lintas dan angkutan jalan terlihat begitu banyak ketentuan yang membuat usaha taksi konvensional harus bergerak dalam suasana yang kaku dan berbiaya tinggi.
  3. Minimnya pemahaman tentang disruption dan model bisnis di kalangan pemain lama (incumbent) menyebabkan para pelaku usaha melihat ‘persaingan’ dalam kacamata lama.
  4. Ketiadaan atau belum adanya aturan baru telah membuat pemain lama dan pemain baru berjalan menurut cara mereka sendiri-sendiri.
Ekspansi dalam regulasi yang seakan-akan sama, membuat incumbent berpikir bahwa serangan disruption adalah perubahan biasa. Mereka banyak merespons dengan ekspansi biasa, yaitu meng-online-kan bisnis tradisional. Hal ini, selain tetap beroperasi dengan struktur biaya tinggi (dan sulit menaklukkan pelaku ekonomi berbagi), mereka juga mengalami pertarungan internal yang rumit. Incumbent selalu beranggapan digital disruption adalah menurunkan harga melalui layanan online.
MODEL BISNIS
Model Bisnis menjadi sorotan penting bagi Kasali untuk menjelaskan perbedaan yang mematikan antara bisnis konvensional dengan bisnis disruptif. Dalam hal peristiwa politik pun, telah terjadi perubahan yang tak pernah terjadi sebelumnya di negeri ini, yaitu terjadinya fenomena Pilkada, jalur independen vs jalur partai, dan suara rakyat pun terdisrupsi. Beberapa contoh lainnya, adalah:
Era disruptif juga telah mengganggu peta perbankan. Ketika semua bank menerapkan bunga dan fee based, dalam skala global muncul model bisnis disruptif, fintech (financial technology), yang mempereteli elemen penghasil uang bank satu per satu dengan pendekatan fee based. KickStarter.com, yang berdiri tahun 2009 misalnya, dikenal sebagai pionir dalam bidang crowdfunding. Contoh lain adalah Cravar misalnya, produsen produk kerajinan kulit Indonesia, sebagai pendatang baru ia berhasil mendapatkan dukungan sebesar 30.000 dolar AS, plus sejumlah pelanggan baru dan feedback. Barangnya tembus pasar Amerika Serikat sejalan dengan ketersediaan modal. Bukan dari pinjaman bank.
Menurutnya, masih banyak model bisnis yang perlu kita pelajari pada abad ke-21 ini, tetapi intinya adalah:
  1. Persaingan abad ini ditandai bukan lagi antara produk dalam industri yang sejenis, melainkan antara model bisnis dalam industri yang batas-batasnya semakin kabur
  2. Model bisnis merevolusi industri, membuat cara yang ditempuh incumbent menjadi semakin rumit, tetapi inti dari model bisnis adalah bagaimana pelaku usaha mendapatkan uang dari kegiatan usahanya dengan cara-cara baru.
  3. Pengusaha yang cerdik bukanlah pengusaha yang bersikeras dengan model bisnis lamanya. Seorang pengusaha perlu mempertanyakan kembali fundamental usahanya: what business are we in? Apakah kita masih harus menjual apa yang semata-mata kita hasilkan saja, ataukah kita juga bisa memperluasnya?
  4. Model bisnis juga mencerminkan siapa yang memegang kendali perusahaan: apakah generasi tua yang merupakan imigran dalam dunia teknologi (hanya menjadi pemakai/ pengguna) atau generasi millennials (mereka yang berusia 18-32 tahun)? Model bisnis yang kreatif terkesan memenuhi syarat SDM 30 Under 30, yang artinya terdapat 30% SDM dari generasi milIennials yang paham tentang generasi mereka (di bawah usia 30 tahun).
Sepuluh model bisnis hiper-disruptif (hyper disruptive business model) berjangkauan model bisnis yang mendunia, selain teknologinya baru atau memanfaatkan terbentuknya peradaban baru, mereka pun menggunakan cara-cara baru yang tak terpikirkan generasi yang dibesarkan peradaban manufakturing (Peter F. Drucker,
“The greatest danger in times of turbulence; it is to act with yesterday’s logic”), adalah sbb.:
  • Subscription Model
  • Free Model
  • Freemium Model
  • Marketplace Model
  • Hypermarket
  • Acees over ownership Model
  • On Demand Model
  • Experience Model
  • Pyramid
  • Ecosystem
KONSEKUENSI
Disruption menyandang sejumlah konsekuensi akibat teknologi infomasi dari kehadiran para wirausaha muda yang beroperasi lintas-batas di dunia global bersama kaum millennials. Hal ini berdampak luas pada tiga hal berikut ini.
  1. Disruption menyerang hampir semua incumbent (pelaku lama, para pemimpin pasar), baik itu produk-produk atau perusahaan-perusahaan ternama, sekolah atau universitas terkemuka, organisasi-organisasi sosial, partai politik, maupun jasa-jasa yang sudah kita kenal.
  2. Disruption menciptakan pasar baru yang selama ini diabaikan incumbent, yaitu kalangan yang menduduki dasar piramida. Klini mereka yang dulu kurang beruntung sebagai konsumen karena daya beli yang rendah, telah menjadi kekuatan pasar. Secara keseluruhan, partisipasi pasar pun meningkat. Sekuat apa pun brand loyalty yang telah dibangun incumbent melalui strategi pemasaran konvensional, posisi incumbent tetap terancam.
  3. Disruption menimbulkan dampak deflasi (penurunan harga) karena biaya mencari (searching cost) dan biaya transaksi (transaction cost) praktis menjadi nol rupiah. Kedua jenis biaya ini umumnya hanya dikenal oleh generasi millennials berkat teknologi infokom. Selain itu timbul gerakan berbagi (sharing resources) yang mampu memobilisasi pemakaian barang-barang konsumsi ke dalam kegiatan ekonomi produktif.
Demikianlah disruption bekerja secara cepat pada awal abad ke-21. Peranan dominan televisi perlahan-lahan dilengkapi oleh internet. Media-media konvensional beralih ke dunia maya. Cara beriklan berubah. Banyak cara baru yang masih berada di tahap awal penggerusan yang akan mengubah masa depan perusahaan atau industri yang gagal melakukan self-disruption.
Disruption mengantarkan kehidupan baru pada abad ke-21 yang kerap tak terdeteksi dan teratasi incumbent. Perbedaan generasi telah mengantarkan kehancuran yang besar pada perusahaan-perusahaan yang amat kita kagumi di masa lalu. Perusahaan-perusahaan multi-nasional yang dulu dikenal seperti lBM, Exxon, Walmart, P&G, dan Lehman Brothers kini digantikan Google, Apple, Facebook, Samsung, dan pendatang-pendatang baru dari China, Korea, dan Rusia.
Kehancuran perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti Pan Am, Kodak, Enron, Arthur Andersen, Lehman Brothers, Nokia, dan seterusnya juga mengakibatkan industri-industri keuangan terguncang.
Para pelaku usaha start-up itu kemudian mendisrupsi industri, menyerang incumbent dengan teknologi-teknologi baru sambil menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Mereka bisa saja dikecam pasar dan incumbent karena pada tahap awal itu terjadi banyak ketidaksempurnaan, baik dalam hal produk maupun manajemen.
Apalagi setelah itu muncul metode-metode baru yang membuat biaya transaksi dan biaya mencari menjadi serendah mungkin. Aplikasi-aplikasi digital yang mempertemukan permintaan dengan penawaran, membuat pengelolaan usaha berubah sama sekali. Ini sekaligus menjadi ancaman bagi para incumbent yang terbelenggu aturan-aturan lama, manajemen birokrasi, fixed cost yang tinggi, biaya transaksi yang mahal, serta metode-metode yang hanya cocok dipakai sebelum dunia mengenal smartphone, aplikasi teknologi, statistic analytic, big

data, dan uang digital. Terjadilah persaingan tak berimbang antara mereka yang sudah hidup dalam era (dan memegang data) real time dan mereka yang masih hidup dalam era time series – antara yang menggunakan Google Maps dan yang masih berpatokan pada argometer.

Aset-aset pribadi yang semula digunakan hanya untuk konsumsi, kini pun bisa digunakan untuk kegiatan usaha, menjadi lebih produktif. Siapapun bisa membuka warung dari rumah, menaruh taksi di garasi dengan mobil pribadi. ltulah barang-barang konsumsi yang kini bisa dipakai untuk kegiatan ekonomi produktif. Jadi, inilah saatnya dunia membentuk aturan-aturan baru. Bukan semata-mata kapitalisme, melainkan kekuatan gotong-royong, dengan partisipasi yang luas dan lebih sejahtera. Kekuatan gotong-royong dunia baru itu dikenal sebagaI ekonomi berbagi (sharing economy).
Maraknya pengembangan model bisnis dalam strategi bisnis mengakibatkan perusahaan-perusahaan memilih bersaing di bidang model bisnis ketimbang bersaing di bidang produk semata.
Perubahan revolusioner
Banyak pihak yang kurang mengerti bahwa sebuah revolusi tengah terjadi, terutama pada aspek-aspek tertentu, yaitu:
  • Teknologi lnformasi – menghubungkan semua orang, baik yang membutuhkan (demand side) maupun yang menawarkan (supply side).
  • Deflasi – disruptive innovation dilakukan dengan upaya-upaya serius untuk memberikan “value” yang lebih besar bagi konsumen dan penyedia jasa melalui ekonomi biaya rendah. Akibatnya, hadirlah jasa atau produk dengan harga yang relatif lebih menarik.
  • Ekonomi Berbagi – inovasi tak hanya pada produk, melainkan pada model bisnis, yaitu cara mencari “daging” usaha. Bentuk yang dipilih antara lain adalah ekonomi berbagi, yaitu ekonomi gotong-royong, sharing resources, atau terkadang disebut ekonomi kolaborasi.
  • TeknoIogi Statistik – menggunakan big data analytics, yaitu statistik big data bukan time series lagi, melainkan real time sehingga pasokan dapat dikerahkan saat permintaan bergerak. Ini membuat biaya mencari dan biaya transaksi yang menjadi beban pelanggan dapat turun.
  • Partisipasi Aset-Aset Telantar – ekonomi berbagi diusahakan untuk mengaktifkan aset-aset masyarakat yang tak sepenuhnya terpakai saat konsumsi sedang berlangsung.
SUSTAINING VS. DISRUPTIVE INNOVATION
Dengan menggunakan contoh runtuhnya perusahaan es balok, yang telah banyak melakukan inovasi, yang tergantikan oleh munculnya kulkas (temuan atas keperluan rumah-tangga), bab ini menjadi menarik karena mampu menjelaskan fenomena runtuhnya suatu perusahaan, meskipun telah melakukan berbagai upaya inovasi. Pada umumnya, incumbent hanya tertarik mengembangkan strategi sustaining innovation, yaitu inovasi-inovasi yang ditujukan untuk mempertahankan existing market seperti yang diajarkan para guru marketing, yaitu branding, strategi pelayanan, menurunkan biaya, memperbaiki kinerja mesin atau orang, dan melakukan perubahan-perubahan kecil. Sementara itu, para pendatang baru menyerang kelompok pasar di luar teritori incumbent yang berakibat runtuhnya bangunan usaha tanpa diduga. Dalam hal perusahaan es balok di atas, supermarket yang harusnya membeli es balok memilih membeli kulkas sendiri berukuran sedang untuk mengawetkan ikan-ikan basah yang diperdagangkannya.
Perubahan yang dilakukan para pendatang baru ini terkesan revolusioner karena amat radikal, mengubah peta pasar, bahkan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru pada pelanggan. Awalnya memang mereka menciptakan pasar baru, tetapi pelan-pelan konsumen lama pun punya potensi ikut berpindah. Itulah yang dlsebut sebagai sudden shift.
 …
Penjelasan lebih lanjut tentang Disruption,
  • Adalah suatu proses. la tidak terjadi seketika. Dimulai dari ide, riset atau eksperimen, lalu proses pembuatan, pengembangan business model. Ketika berhasil, pendatang akan mengembangkan usahanya pada titik pasar terbawah yang diabaikan incumbent, lalu perlahan-lahan menggerus ke atas, ke segmen yang sudah dikuasai incumbent.
  • Memasuki pasar dengan business model baru, yang berbeda dengan yang sudah dilakukan pemain-pemain lama. Karena itu, inovasi business model menjadi penting.
  • Tidak semua disruption sukses menjadi pelaku disruption atau menghancurkan posisi incumbent.
  • lncumbent tak harus selalu berubah menjadi disruptor. Ada banyak strategi yang bisa ditempuh incumbent, temasuk meneruskan sustainable innovation dan membentuk unit lain yang melayani disruptor.
  • Teknologi bukan disruptor, tapi enabler. Selain TI, alat-alat baru lain dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan.
  • Disruption dapat menyebabkan deflasi, harga turun, karena disruptor memulai low cost strategy.
 …
DISRUPTIVE MINDSET
Ini hal yang menarik buat saya karena persoalan mindset ini menjadi sangat penting, mengingat surprise, sudden shift, dan speed adalah ancaman serius di disruption ini.
… 
Mindset
Mindset adalah bagaimana manusia berpikir, yang ditentukan oleh setting awal, yang kita buat sebelum berpikir dan bertindak.
Seperti diketahui bahwa disruption menghancurkan masa depan para incumbent, sedangkan incumbent selalu melihat dengan “pengalamannya”. Kalau incumbent memiliki disruptive mindset, ia bisa menjadi kreatif dan tak takut melihat perubahan yang seperti dilakukan anak-anak muda tanpa beban masa lalu (entrant). Sebaliknya, kalau ia memiliki steady (fixed) mindset, ia menjadi sangat takut dan tak menghasilkan perubahan. Ia hanya terkurung oleh pengalaman masa lalunya dengan menyangkal realitas baru. Karakter disruptive mindset bisa digambarkan sbb.:
  1. Respons cepat: tidak terhambat.
  2. Real-time: begitu diterima, seketika diolah.
  3. Follow-up: langsung ditindaklanjuti. Tidak ditunda.
  4. Mencari jalan, bukan mati langkah.
  5. Mengendus informasi dan kebenaran, bukan menerima tanpa menguji.
  6. Penyelesaian paralel, bukan serial.
  7. Dukungan teknologi informasi, bukan manual.
  8. 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu), bukan eight to five (dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore).
  9. Connected (terhubung), bukan terisolasi.
Mental disruptive ini tidak terikat oleh pengalaman atau aturan baku yang kaku pada masa lalu, melainkan sikap terbuka terhadap masa depan. Terhadap sesuatu yang baru, manusia harus berupaya lagi dan berpikiran terbuka.
Akibat lebih lanjut dari disruptive mindset ini adalah terjadinya pertentangan dengan pihak berkarakter steady mindset, yaitu pertempuran internal antara pemilik fixed mindset yang merasa hebat serta terikat tradisi, merasa lebih pandai serta akan selalu paling pandai, dan pemilik growth mindset yang selalu terbuka dan mampu “melihat” kesempatan-kesempatan baru dalam setiap perubahan. Akan terjadi pertarungan antara mereka yang merasa terancam atau akan terlihat kurang pandai kalau menjalani perubahan melawan mereka yang tak peduli dengan penilaian orang lain; antara mereka yang ingin mempertahankan status quo dengan yang ingin berubah, membangun kompetensi baru pada masa depan. Jadi, akan ada yang memanipulasi kebenaran, membesarkan kesalahan-kesalahan kecil, menakut-nakuti, dan menciptakan batu-batu sandungan untuk menghambat self-disruption.
Mindset tetap (fixed mindset) berbeda dengan mindset yang tumbuh (growth mindset). Karena berusaha terus, mereka sangat percaya bahwa suatu saat masa depan baru itu ada bersama mereka yang hari ini belum tampak hebat. Umumnya orang-orang ini amat suka tantangan-tantangan baru, dan kalau menghadapi kesulitan, mereka tak mudah menyerah. Mereka juga pantang mempersoalkan kritik orang lain. Mindset bukan hanya harus dipahami, melainkan juga harus dilatih.
 …
Generasi Millenials
Kasali memberikan perhatian khusus terhadap tumbuhnya Generasi Millenials yang menjadi ujung tombak disruption, yang berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya dalam banyak hal, yaitu:
  • Merasa jauh lebih merdeka, baik secara batiniah maupun lahiriah. Merdeka dalam berpendapat, memilih karier, bepergian, konsumsi, dan menjalin kehidupan.
  • Amat ekstrover, kurang hati-hati dalam bertindak, terlalu emosional, mudah berpindah-pindah, ingin cepat “naik kelas”, dan lebih materialistis.
  • Lebih berpendidikan dan memiliki akses yang besar pada segala sumber daya dan informasi sehingga memudahkan mereka berkolaborasi.
  • Masa mukim mereka terhadap segala hal menjadi lebih pendek. Entah itu terhadap tempat tinggal, keluarga, sekolah, pekerjaan, atau kegiatan-kegiatan yang serius (semisal ideologi atau hal-hal terkait).
  • Lebih mengutamakan kebebasan dan kebahagiaan ketimbang aturan-aturan yang membelenggu.
 …
Karena sifat-sifat baru yang seperti itu belum banyak dipahami, kebanyakan perusahaan milik incumbent pun terganggu. Banyak yang tak menyadari Shifting (Pergeseran atau perpindahan) dan banyak produsen yang gagal menyediakan area transit bagi pasar kaum muda ini. Kehadiran generasi millennials mempercepat perubahan tren.
 …
Rekomendasi
Buku Disruption ini merupakan buku terbagus dan tidak membosankan untuk dibaca berulang-kali, karya Rhenald Kasali, yang pernah saya baca. Buku yang berhubungan dengan bisnis start-up dan platform berbahasa Indonesia dengan contoh-contoh dan analisis yang lengkap dan rinci. Sangat direkomendasikan. Terimakasih pak Rhenald Kasali.

Read Full Post »

images

Perdebatan di media massa tentang masalah hukum terhadap kriminalisasi kebijakan direksi BUMN yang dianggap beberapa pihak telah merugikan negara, masih sering terjadi, bahkan menyebabkan banyak diantaranya yang tak berani melakukan terobosan dalam membuat kebijakan bisnis. Buku ini sangat mencerdaskan karena penjelasannya yang lengkap dan rinci, baik dari sisi hukum maupun praktek manajemen BUMN dimana penulis sangat menguasai keduanya. Berikut ini adalah catatan singkat berupa suntingan dan/atau kutipan dari buku “Dilema BUMN“, yang ditulis oleh Prasetio (Dirut. Peruri sejak 2012) dan diterbitkan tahun 2014.

Buku ini merupakan bentuk lebih ringan dari disertasi doktoral penulis di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan judul “Penerapan Business Judgment Rule dalam Restrukturisasi Transaksi Komersial PT (Persero) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas”.

Keberanian penulis mengangkat isu Business Judgment Rule (BJR) yang berpotensi menjadi kontroversial ini patut diacungi jempol, terutama dikaitkan dengan proteksi terhadap direksi ketika menjalankan tanggungjawabnya dalam pengambilan keputusan dan dihadapkan pada tuntutan hukum di kemudian hari akibat terjadinya kerugian. Dengan menggali dan mengetengahkan pentingnya BJR, dimungkinkan muncul interpretasi bahwa penulis sedang berusaha “membela” para koruptor di lingkungan perusahaan, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang selama ini sering dipersonifikasikan oleh para pimpinan BUMN sebagai penanggung jawab utama. Bisa jadi ada kecurigaan bahwa doktrin ini nantinya akan digunakan untuk menutupi tindakan-tindakan salah yang dijalankannya dalam memimpin perusahaan.

Dari kajian hukum terhadap perundang-undangan yang berlaku, penulis beranggapan bahwa kerugian persero atau corporate loss yang diakibatkan dari penerapan doktrin BJR tidak merupakan kerugian negara, tetapi merupakan kerugian perusahaan yang lazim disebut risiko bisnis. Ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan saat inilah yang menimbulkan ketidakpastian hukum dan risiko bagi para direksi persero untuk mengambil keputusan bisnis mengingat dalam praktiknya doktrin BJR telah diabaikan.

Dari kajian ilmiahnya, penulis juga meyakini bahwa BJR telah diberlakukan semestinya, jika direksi telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan hati-hati untuk kepentingan perseroan semua, serta sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Selanjutnya, dalam pengambilan keputusan dapat dibuktikan bahwa ia tidak mempunyai benturan kepentingan. Di samping itu, direktur juga diyakini telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.

Dengan kata lain, doktrin BJR otomatis gugur apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Apabila perusahaan mengalami kerugian yang diakibatkan oleh fraud atau penggelapan uang perseroan atau BUMN oleh direksi, tentu saja proteksi yang diberikan BJR gugur dengan sendirinya. Dan, apabila ini yang terjadi, hukum dan undang-undang sudah mengatur bahwa ini akan masuk ke ranah hukum pidana. Aparat hukum seperti pihak kepolisian yang masuk menanganinya, sebab ini termasuk tindak pidana umum, bukan tindak pidana korupsi. Oleh karenanya, menjadi tidak relevan untuk mengatakan bahwa penerapan BJR merupakan suatu sikap yang pro koruptor. Justru dengan penerapan BJR, tercermin adanya keharusan untuk menegakkan good corporate governance (GCG), karena hal itu merupakan prasyarat dari dapat diterapkannya doktrin BJR.

Sejarah BUMN
Secara politik-ekonomi, pendirian BUMN di Indonesia dapat disederhanakan dengan mengemukakan tiga alasan pokok, yaitu:

Pertama, sebagai wadah bisnis aset yang dinasionalisasi. Alasan ini terjadi di tahun 1950-an ketika pemerintah menasionalisi perusahaan-perusahaan asing. Peristiwanya dimulai pada 1957, ketika Kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh disertai krisis ekonomi yang parah. Kejatuhan kabinet ini seakan memperkuat sinyal bahwa pemerintahan Parlementer akan membawa Indonesia ke dalam keterpurukan.

Kedua, membangun industri yang diperlukan masyarakat, tetapi mayarakat sendiri (atau swasta) tidak mampu memasukinya, baik karena alasan investasi yang sangat besar maupun risiko usaha yang sangat besar. Pada pertengahan tahun 1960-an, pemerintah mulai mendirikan pabrik-pabrik pupuk urea, mulai di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Aceh. Pemerintah mengambil-alih Indosat sebagai home base pemilikan dan pengelolaan Satelit Palapa. Pemerintah juga mendirikan industri-industri kelistrikan sebagai bahan bakar energi nasional. Selain itu,

Ketiga, membangun industri yang sangat strategis karena berkenaan dengan keamanan negara. Oleh karena itu, pemerintah membangun industri persenjataan (Pindad), bahan peledak (Dahana), pencetakan uang (Peruri), hingga pengelolan stok pangan (Bulog).

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969, sebagai pengganti Perpu Nomor 1 Tahun 1969, mengelompokkan BUMN menjadi tiga bentuk, yaitu Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum), dan Perusahaan Perseroan (Persero). Selain itu, ada lagi bentuk BUMN yang diatur secara khusus dengan undang-undang tersendiri yaitu bank-bank milik pemerintah dan Pertamina.

Dalam praktiknya, bidang usaha BUMN dibedakan antara public utilities (telekomunikasi, listrik, gas, kereta dan penerbangan), industri vital strategis (minyak, batu bara, besi baja, perkapalan, dan otomotif), dan bisnis. Pada saat ini bentuk BUMN dibedakan menjadi dua, yaitu Perusahaan Persero dan Perusahaan Umum (Perum).

Jika mengacu kepada ketentuan Pasal 2 UU BUMN, tujuan pendirian BUMN adalah sebagai berikut:

  • memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan perekonomian negara pada khususnya. BUMN diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat sekaligus memberikan kontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan membantu penerimaan keuangan negara.
  • mengejar keuntungan. Meskipun maksud dan tujuan Persero adalah untuk mengejar keuntungan, dalam hal-hal tertentu untuk melakukan pelayanan umum, Persero dapat diberi tugas khusus dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat. Dengan demikian, penugasan pemerintah harus disertai dengan pembiayaannya (kompensasi) berdasarkan perhitungan bisnis komersial.
  • menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan jasa yang bermutu tinggi serta memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Dengan maksud dan tujuan seperti ini, setiap hasil usaha dari BUMN baik barang maupun jasa, dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
  • menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Kegiatan perintisan merupakan suatu kegiatan usaha untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi kegiatan tersebut belum dapat dilakukan oleh swasta dan koperasi karena secara komersial tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tugas tersebut dapat dilakukan melalui penugasan kepada BUMN. Dalam hal adanya kebutuhan masyarakat luas yang mendesak, pemerintah dapat pula menugasi suatu BUMN yang mempunyai fungsi pelayanan kemanfaatan umum untuk melaksanakan program kemitraan dengan pengusaha golongan ekonomi lemah.
  • turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Dengan demikian, tujuan pendirian BUMN terkait erat dengan peranan negara untuk turut serta dalam membangun perekonomian bangsa baik secara masyarakat luas maupun secara individu. Seperti dikemukakan oleh Arnold Hertje, bahwa peningkatan kehidupan ekonomi seorang individu dan anggota masyarakat tidak hanya tergantung pada peranan pasar dan keberadaan organisasi-organisasi ekonomi swasta saja, akan tetapi tergantung pula pada peranan negara.

Bentuk BUMN
Pada dasarnya ada dua sifat usaha BUMN, yaitu untuk memupuk keuntungan dan melaksanakan kemanfaatan umum. Hal ini kemudian dinyatakan dalam UU BUMN tahun 2003 yang menyederhanakan bentuk BUMN menjadi dua.

Pertama, Perusahaan Perseroan (Persero) yang bertujuan memupuk keuntungan, sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007).

Kedua, Perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah untuk melaksanakan usaha sebagai implementasi kewajiban pemerintah guna menyediakan barang dan jasa tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bentuk usaha Perum walaupun keberadaannya untuk melaksanakan kemanfaatan umum, sebagai badan usaha diupayakan agar tetap mandiri dan, untuk itu, Perum harus diupayakan juga untuk mendapat laba agar bisa hidup berkelanjutan.

Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. Ia bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Pendirian Perum diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Adapun Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% (limapuluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh negara Republik Indonesiea yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Pendirian Persero diusulkan oleh menteri kepada presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan menteri terkait dan menteri keuangan.

Dilema BUMN
1. Hukum Publik vs Hukum Privat
Pasal 1 butir 5 UU Perseroan Terbatas menyatakan: “Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.”

Masih berkaitan dengan itu, dalam Pasal 97 ayat (2) UU Perseroan Terbatas ditegaskan lebih lanjut bahwa pengurusan dimaksud wajib dilaksanakan oleh setiap direktur sebagai anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab) dalam arti memperhatikan kepentingan perseroan dengan saksama dan tekun. Direksi, dalam kedudukannya sebagai organ perseroan, mengemban fungsi manajemen (management function) dan fungsi perwakilan (representative function)- Pada waktu menjalankan fungsi manajemen, direksi bertindak sebagai pemimpin organisasi perseroan, sedangkan dalam menjalankan fungsi perwakilan, direksi bertindak sebagai agen perseroan ketika berinteraksi dengan pihak eksternal.

Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa antara perseroan dan direksi ada suatu hubungan kepercayaan atau fiduciary relationship. Secara prinsip diangkatnya atau ditunjuknya seseorang atau beberapa orang menjadi direktur dalam lembaga direksi, pada dasarnya dilandasi atas adanya kepercayaan pemegang saham, melalui mekanisme RUPS, terhadap intelektualitas dan integritas yang bersangkutan, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan untuk dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan kesinambungan (continuity) perseroan.

Sementara itu pada pasal 4 ayat (1) UU BUMN dinyatakan bahwa modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Merujuk kepada Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN, secara jelas dinyatakan:

“Yang dimaksudkan dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan modal pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU BUMN di atas, maknanya sudah jelas bahwa kekayaan negara yang telah dipisahkan tersebut bukan lagi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga publik atau instansi pemerintah melainkan telah berubah menjadi kepunyaan negara dalam kedudukan sebagai lembaga privat (perdata) biasa, (perdata) biasa, dan posisinya tidak jauh berbeda dengan pemegang saham lainnya. Oleh karena itulah kemudian pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, tetapi mengacu kepada prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

Artinya, ini murni masuk domain kekuasaan hukum privat, khususnya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perseroan terbatas. Bahkan selanjutnya masuk pula dalam kawasan peraturan perundang-undangan yang secara spesifik mengatur norma dalam lingkungan bisnis dan operasional perseroan, di mana negara dalam posisinya sebagai badan hukum publik sudah tidak selayaknya untuk campur tangan.

Sebaliknya, dalam dalam penjelasan umum UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan: “Yang dimaksud dengan keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung-jawaban BUMN/ BUMD, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara.”

Adanya perbedaan di antara dua undang-undang ini membawa konsekuensi direksi BUMN berada dalam posisi dilematis ketika mengambil keputusan, terutama keputusan yang berisiko menimbulkan kerugian. Sebab, kerugian yang timbul tersebut dapat mengakibatkan mereka dituding menciptakan kerugian negara lalu dijerat dengan UU Tipikor.

Sesungguhnya, apabila menyimak UU Perseroan Terbatas, terdapat doktrin Business Judgment Rule (BJR) sebagai salah satu prinsip yang memberi perlindungan bagi direksi dari pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang diambilnya yang mengakibatkan timbulnya kerugian perseroan
sepanjang tindakan tersebut dilakukan dengan itikad dengan kehati-hatian yang wajar, untuk kepentingan dengan maksud dan tujuan perseroan.

Doktrin BJR tersebut dapat dijumpai dalam Pasal 97 ayat (5) UU Perseroan Terbatas yang menyatakan: “Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian Perseroan apabila dapat dibuktikan:

  • Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
  • Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
  • Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
  • Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.”

Namun, jika dihadapkan kepada fakta yang terjadi dalam tatanan praktis terkait tindak pidana korupsi, perlindungan kepentingan hukum direksi, berdasarkan doktrin BJR tersebut, cenderung diabaikan dan tidak diterapkan. Aparat penegak hukum hampir-hampir tidak membedakan dua asas penting dalam sistem hukum Indonesia menyangkut kedudukan negara, terutama terhadap status kekayaan negara dalam suatu perseroan, apakah diartikan masuk dalam lingkungan hukum publik ataukah dalam lingkungan hukum privat, lebih khusus lagi menyangkut perseroan yang telah menjadi perusahaan publik (status terbuka, yang sahamnya dimiliki oleh banyak pihak dan diperdagangkan di pasar modal atau bursa efek).

2. Corporate Loss vs State Loss
Idealnya, seorang hakim (agung), dalam memeriksa perkara terkait keputusan bisnis seorang direksi yang dianggap merugikan perseroan, seharusnya tidak hanya melihat dari sisi kesalahan dan kelalaian seorang direksi dalam mengambil keputusan. la juga harus memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis apakah mengandung kecurangan (fraud), dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi seorang direksi ataukah benar semata-mata untuk kepentingan usaha perseroan dalam mengambil keputusan tersebut.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban direksi dan dewan komisaris, laporan tahunan tersebut harus ditandatangani semua anggota direksi dan semua anggota dewan komisaris untuk dapat diperiksa oleh pemegang saham. Apabila dalam forum RUPS laporan tahunan yang disampaikan oleh direksi diterima, maka dari aspek hukum perseroan, pertanggungjawaban direksi dalam menjalankan fungsi, kedudukan, dan kewenangannya dalam mengelola dan mengurus perseroan telah terlaksana dengan baik dan/atau memuaskan. Dalam kondisi yang demikian, tentu telah terjadi/terdapat pembebasan atau pelunasan tanggung jawab bagi direksi. Hal ini sering diistilahkan acquit et decharge.

Pada kondisi ini, setelah adanya acquit et decharge dari RUPS, secara prinsip seharusnya pertanggungjawaban direksi terhadap adanya corporate loss yang digolongkan sebagai kerugian bisnis tersebut sudah dibebaskan dari pertanggungjawaban pengelolaan korporasi. Artinya, dari aspek hukum perusahaan sudah tidak dapat atau setidaknya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi apa yang sudah dilakukan oleh direksi.

Pada kenyataannya. meskipun RUPS telah memberi putusan penilaian kinerja performansi direksi, termasuk komisaris, dengan pemberian acquit et decharge, corporate loss tersebut, tidak tertutup kemungkinan, atau bahkan sering sekali, menjadi objek pemeriksaan aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, kejaksaan, dan/atau Komisi Pemberantasan Korupsi, serta kemungkinan pemeriksaan tersebut sampai kepada tahap persidangan di pengadilan.

Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah masih tumpang-tindihnya pengaturan tentang arti atau makna keuangan negara, di mana pihak-pihak terkait, satu dan yang lainnya, terbukti tidak mempunyai pemahaman yang sama terhadap status negara sebagai badan hukum publik dan sebagai badan hukum privat, atas kepemilikan saham negara (pemerintah) pada perseroan. Akibatnya, peristiwa corporate loss yang tergolong sebagai kerugian bisnis tersebut sering dianggap atau dapat dipersamakan sebagai kerugian negara atau state loss. Kerancuan atau ketidaksamaan pemahaman seperti ini mengakibatkan risiko hukum yang timbul dan menimpa direksi menjadi sesuatu hal yang sangat tidak dapat diperkirakan (unpredictable), termasuk kemungkinan berhenti atau diberhentikan dari jabatannya. Kondisi ini bukan saja memberi dilema bagi direksi, tetapi juga menimbulkan pengaruh yang negatif bagi pertumbuhan usaha atau corporate growth, khususnya apabila dihadapkan kepada kondisi persaingan dalam bisnis yang dikelola perseroan.

Saran Penulis

Pertama
Pengertian kekayaan negara dalam UU BUMN perlu diubah menjadi kekayaan negara yang telah dipisahkan dalam BUMN. Dengan demikian, kekayaan negara bukanlah kekayaan negara sebagaimana diatur dalam Fatwa Mahkamah Agung No. WKMA/Yud/20/VIII/2006. Sebagaimana kedua pendekatan tentang uang negara dan kerugian negara pada Persero, yaitu pendekatan bisnis (business judgment) dan pendekatan hukum (legal judgment), menghasilkan pengertian yang sama. Apabila terjadi kerugian atas Persero, maka mekanisme pertanggungjawaban yang wajib ditempuh pertama kali adalah mekanisme yang diatur dalam UU Perseroan Terbatas, yakni melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS) yang menguji intelektualitas dan integritas direksi, termasuk profesionalisme dan kecakapannya dalam mengelola perseroan.

Kedua
Disarankan kepada Kementerian Hukum dan HAM yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia untuk melakukan harmonisasi dan Perubahan atas UU BPK, UU Keuangan Negara, Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya terhadap pasal dan ayat yang berkaitan erat dengan pengaturan pengertian keuangan negara agar sejalan dengan pengertian kekayaan negara yang diatur menurut UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas. Demikian pula dengan Penjelasan Pasal 2 angka 7 UU Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, yang mengategorikan direksi, komisaris, dan pejabat struktural lainnya pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah sebagai Penyelenggara Negara, sebaiknya dihapus. Persero merupakan badan hukum yang berbentuk korporasi sebagaimana dibentuk berdasarkan UU Perseroan Terbatas dan diakui oleh pemerintah sebagai suatu entitas privat.

Ketiga
Perlu dilakukan diseminasi kepada aparat penegak hukum yang dapat menjelaskan secara mudah dan pasti mengenai pengertian keuangan negara dalam UU Keuangan Negara, UU Perbendaharaan Negara, UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta

UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah berbeda dengan pengertian kekayaan yang diatur UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas sehingga dapat dipahami bersama bahwa kekayaan Persero/BUMN bukanlah merupakan keuangan negara atau kekayaan negara, melainkan kekayaan badan hukum itu sendiri. Kedudukan pemerintah dalam Persero hanya sebatas pemegang saham (entitas privat).

Diseminasi ini diharapkan dapat menuntun jalannya gelar perkara di masing-masing institusi penegak hukum sehingga kriminalisasi terhadap kasus-kasus perdata dapat diminimalkan dimasa mendatang. Selain hal tersebut, aparat perlu memahami secara mendalam aspek ekonomi dan bisnis serta tata kelola perusahaan yang baik yang meliputi logika perhitungan bisnis, manajemen risiko, dan sistem pengendalian internal serta sistem pengawasan yang berlaku di Persero/BUMN.

Kritik
Buku Prasetio ini dengan jelas telah menjawab keingintahuan publik tentang banyaknya kasus hukum terhadap direksi BUMN yang mungkin saja terjadi karena kesalahan pilihan Undang-Undang yang dijadikan dasar gugatan dan/atau kurangnya memperhatikan proses dari posisi seorang direksi ketika mengambil keputusan bisnis, seperti dijelaskan diatas.

Dari sisi penyajian, contoh-contoh kasus akan lebih baik ditempatkan dalam bab khusus sehingga mudah untuk mencari dan mempelajarinya, juga sering terjadi pengulangan kalimat. Lebih daripada itu, isi buku ini sangat memperkaya pengetahuan pembaca, dari kalangan manapun.

Terimakasih mas Prasetio atas buku gratisnyanya “Dilema BUMN“, bahkan sudah mendapat lagi dua bukunya yang lain “It Goes Without Saying” dan “Out of Comfort Zone“. Sukses terus.

 

Read Full Post »

IMG-20160802-WA0004Sambil buka facebook saat berangkat kantor kemarin, saya menemukan penawaran buku baru “Suluk Tambangraras”, karya Damar Shashangka. Saya suka buku-buku tentang budaya Jawa lama. Langsung transfer uang via internet banking wuzzz … Kenikmatan teknologi yang mudah meloloskan uang ..hemm serem .. Eh dapat balasan pesan “Kami catat dan akan dikirim bukunya setelah terbit Agustus nanti”. Halah, ternyata belum tersedia bukunya. Akhirnya keluar di pintu tol Semanggi dan masuklah ke Plaza Semanggi untuk cari buku lainnya.

Dapat lima buku, novel “Orang-orang Bloomington” karya Budi Darma, “Orang aneh” karya Albert Camus, yang ternyata sudah punya versi asingnya “the Stranger” dan saya tulis resumenya di blog beberapa tahun yang lalu, “Filsafat Kebudayaan” karya Jannes Uhi, kumpulan tulisan “Cinta yang kuberi” karya Erizeli Bandaro. Bung Erizeli ini ‘teman’ di Facebook, sering mengunggah tulisan ringan inspiratif, yang berhubungan dengan aktifitas atau kejadian sehari-hari. Yang terakhir, “Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global”, karya Ade Armando, sebuah modifikasi dari disertasi doktoral beliau di jurusan Komunikasi UI sehingga lebih mudah dibaca oleh khalayak umum. Sebetulnya kurang suka dengan judulnya yang ‘menjual’ sekali dengan kata ‘kapitalisme’nya, tapi keingintahuan tentang pertelevisian membuat saya mengambilnya.

Keingintahuan, itulah kata kunci yang paling tepat setelah lama saya berpikir tentang alasan untuk selalu ingin membaca. Pop culture atau hal-hal yang berbau perubahan atau perkembangan budaya sering menjadi pilihan bacaan. Novel atau cerpen koran  minggu yang sering menguji rasa dan pemikiran kritis, jarang terlewatkan.

“Televisi Indonesia” yang belum selesai saya baca ini sangat menarik dan mampu menjawab keingintahuan tentang pertelevisian di negeri ini. Pasti teman sekalian sudah sadar benar dan faham bahwa televisi bagaikan pisau bermata dua, dimana nilai positif  berada pada fungsinya sebagai sarana untuk berbagi informasi dan pendidikan; namun di sisi yang lain berfungsi sebagai sarana intervensi budaya asing, propaganda politik atau kepentingan bisnis semata. Buku ini mampu menjelaskannya dengan runtut, rapi dan didukung oleh banyak data termasuk di dalamnya adalah sejarah perkembangan teknologi dan model bisnis penyiaran televisi di Indonesia. Hormat dan terimakasih untuk bung Ade Armando.

Read Full Post »

Castells - OutrageBuku Manuel Castells yang pertama saya baca adalah Communication Power, merupakan buku pemberian kawan yang telah selesai menjalani kuliah S3 Komunikasi Politik di Unpad, Bandung. Buku yang terbit di tahun 2009 tersebut bisa dianggap sebagai pemikiran Castells tentang bagaimana komunikasi politik gerakan sosial jaringan beroperasi di era digital ini. Berbeda dengan The Net Delusion, karya Evgeny Morozov, yang lebih cenderung negatif terhadap Internet dalam kaitan perubahan sosial, maka Castells berpendapat sebaliknya.

NETWORKS OF OUTRAGE AND HOPE adalah buku Castells berikutnya 2012 (pemberian sahabat saya, Fadjroel Rachman, nuhun), setelah protes sosial menjamur di berbagai negara dengan peran sosial media yang sangat signifikan untuk tercapainya tujuan gerakan sosial politik. Catatan tentang penyebab gerakan sosial, yang kemudian berkembang menjadi viral yang semakin besar dan bahkan hingga berakhir pada keruntuhan kekuasaan, tercatat rinci dan runtut di dalamnya. Gerakan protes sosial jaringan yang terjadi di Afrika, Arab (Arab spring), Spanyol  Amerika Selatan juga Amerika Utara adalah contoh kasus yang dibahas Castells dalam buku ini.

Ada dua bagian besar pembahasan dalam buku ini, yaitu pertama tentang gerakan sosial jaringan di berbagai negara yang telah berhasil mengubah kebijakan, bahkan meruntuhkan penguasa tiran; dan yang kedua adalah opini dan analisis Castells tentang keterkaitan antara gerakan sosial dengan perubahan politik berdasar gerakan sosial jaringan.

Dalam Kata Pengantarnya, Castells beranggapan bahwa dirinya berhasil membuat hipotesa-hipotesa keterkaitan antara gerakan sosial jaringan dengan perubahan politik; juga, menawarkan konsepsi tentang perbedaan fundamental antara gerakan sosial jaringan dengan gerakan populis, di tengah berbagai perbedaan ideologi yang ada, yang dipicu krisis legitimasi politik dalam situasi krisis dan perubahan berbagai aspek di tingkat global.

Pendahuluan
‘Kegelapan’ adalah istilah pesimisme Castells untuk menggambarkan kondisi sosial global saat ini yang sedang mengalami tekanan ekonomi, korupsi, ketidakadilan, keterasingan, kesewenang-wenangan, dan ketakberdayaan manusia, yang memicu merosotnya ‘trust‘, sebagai modal dan perekat sosial, hingga menyebabkan kontrak sosial semakin longgar dan berujung pada sikap masyarakat yang bergerak ke arah kepentingan individual untuk melindungi dirinya sendiri, bertahan hidup.  Kondisi seperti inilah yang menyebabkan media sosial berbasis Internet menjadi eksis sebagai ruang bersama yang leluasa untuk berkeluhkesah dan berfungsi untuk ‘connecting the dots‘, bukan hanya ‘point to point‘ bahkan ‘many to many‘ dengan otonomi yang dibatasi oleh kemampuan teknologi, dan di luar batas jangkauan regulasi pemerintahan.

Dalam ruang publik internet yang demikian bebas, masyarakat bisa terhubung untuk saling berbagi duka dan harapan hingga terbentuklah jaringan sosial yang tak lagi memperdulikan latarbelakang masing-masing, hanya dilandasi tujuan yang sama yaitu kehidupan universal yang lebih baik. Bila di dunia maya jaringan itu terbentuk, maka pada akhirnya ruang publik di dunia nyata menjadi tempat berkumpul sebagai awal runtuhnya ketakutan dan sekaligusnya munculnya keberanian untuk berbagi, diskusi dan bersikap terhadap pelanggaran demokrasi yang dilakukan para pejabat publik, secara bersama-sama dalam ruang-ruang publik di dunia nyata.

 

Dalam buku ini, Castell bermaksud untuk menawarkan pemikiran, berdasar pengamatan dan analisisnya, tentang gerakan sosial jaringan. Analisis ini juga didasarkan pada teori kekuasaan, dalam bukunya Communication Power (2009), yang menjadi latarbelakang pengetahuan untuk memahami gerakan-gerakan sosial yang disampaikan pada bab-bab awal di buku ini, yang berangkat dari premis bahwa relasi-relasi kekuasaan ini sangat menentukan di masyarakat karena telah membangun institusi-institusi berdasar nilai-nilai dan kepentingan mereka.

Teori komunikasi Castell mengatakan bahwa manusia membangun makna melalui interaksi dengan lingkungan alaminya dan lingkungan sosialnya. Jaringan-jaringan ini bekerja karena aksi komunikasi, yang sebetulnya adalah proses berbagi makna melalui pertukaran informasi. Dalam kerangka yang lebih luas, kunci utama pembentukan makna sosial adalah proses komunikasi yang tersosialisasikan, yang berada di ranah publik, di luar komunikasi interpersonal.

Nah, transformasi teknologi komunikasi yang sedang berlangsung di era digital ini semakin luas jangkauan komunikasinya hingga ke semua domain kehidupan sosial dalam sebuah jaringan, yang terjadi sekaligus dalam waktu yang sama, baik global maupun lokal, umum atau khusus, dengan pola yang terus berubah. Ada suatu ciri umum dalam setiap proses konstruksi pembangunan makna, yaitu adanya ketergantungan yang tinggi terhadap pesan dan kerangka yang dibuat, diformat dan disebarkan dalam jaringan komunikasi multimedia.

Meskipun setiap individu membangun makna dan istilah sendiri yang unik dalam menafsirkan bahan yang dikomunikasikan, proses ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan komunikasi. Dengan demikian, transformasi lingkungan komunikasi akan mempengaruhi konstruksi makna, dan disitulah terjadi relasi kekuasaan.

Konsep mass self-communication, yang sebelumnya muncul di Communication Power (2009) kembali diingatkan Castell dalam buku ini, merupakan hasil perubahan mendasar dalam ranah komunikasi, dimana internet dan jaringan nirkabel menjadi pijakan dalam era komunikasi digital. Disebut mass communication karena mengolah pesan dan menyebarkannya secara many to many, dan potensial semakin membesar jumlah penerimanya, juga semakin meluas jangkauan jaringannya seolah tak berujung hingga seluruh dunia. Disebut self- communication, karena penulisan pesan dan pemilihan penerimanya ditentukan secara otonom, bahkan pengambilan pesan dari jaringan komunikasipun juga bisa dipilih secara bebas sesuai keinginan anggota jaringan. Mass self-communication ini didasarkan pada komunikasi interaktif dari jaringan horizontal, yang secars umum sulit dikontrol olh pemerintah atau korporasi.

Dukungan teknologi untuk keperluan Mass self-communication banyak tersedia sehingga otonomi aktor sosial, baik secara induvidual ataupun kolektif bisa tetap aman. Akibat lebih lanjut adalah munculnya kekhawatiran pemerintah terhadap internet, karena sulitnya melakukan pengawasan, sebaliknya justru menjadi peluang bisnis bagi para internet provider dengan cara menjual akses internet untuk para penggunanya berbasis jumlah byte yang bisa diunggah/diunduh atau berbasis waktu penggunaan internet, dll.

Berbagai jaringan kekuatan yang berbeda-beda domain juga akan saling berhubungan dan membentuk jaringan kekuatan baru. Global financial networks dan global multimedia networks sangatlah berkaitan hingga membentuk meta-network dan merupakan kekuatan yang sangat menentukan, meskipun kekuatan inipun masih bergantung pada jaringan-jaringan lainnya, seperti jaringan politik, jaringan budaya, jaringan militer, jaringan kriminal global, dan jaringan global yang menentukan produksi dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan manajemen pengetahuan. Jaringan-jaringan ini tidak bergabung menjadi satu jaringan permanen, melainkan bekerjasama dalam kemitraan strategis dengan membentuk jaringan ad-hoc untuk kepentingan tertentu.  Mereka berbagi kepentingan yang sama, yaitu untuk mengkontrol pembangunan aturan-aturan dan norma-norma masyarakat melalui sistem politik dengan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai mereka. Inilah sebabnya mengapa jaringan kekuatan yang dibangun di sekitar pemerintahan dan sistem politik memainkan peran utama dalam semua jaringan kekuatan.

Bagaimanakah cara jaringan-jaringan kekuatan saling terhubung, sambil tetap menjaga lingkup aksi mereka? Castells berpendapat bahwa mereka melakukannya dengan mekanisme penyusunan kekuatan dalam masyarakat jaringan, yaitu ‘switching power‘. Ini merupakan kemampuan untuk menghubungkan dua atau jaringan yang berbeda dalam proses pembentukan kekuatan masing-masing di wilayahnya masing-masing. Jadi,  siapa sebetulnya pemegang kekuasaan dalam masyarakat jaringan? Para ‘programmer‘lah yang punya kapasitas untuk memprogram masing-masing jaringan utama, seperti pemerintah, parlemen, militer, media, instansi keuangan, teknologi, dll. dan switcher yang mengoperasikan berbagai relasi antar jaringan yang berbeda.

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan sosial adalah pengunggah nilai-nilai dan cita-cita baru, dimana institusi-institusi bertransformasi berdasar nilai-nilai keutamaan dengan membangun norma-norma baru untuk kehidupan sosial yang lebih baik. Gerakan-gerakan sosial terus memperbaiki diri untuk berhadapan dengan kekuasaan hingga mampu menguasai komunikasi sosial jaringan internet nirkabel secara otonom, bebas dari kekuasaan institusi resmi pemerintah atau korporasi.
Hal penting yang perlu mendapat perhatian khusus adalah adanya wilayah publik baru, yaitu wilayah jaringan antara wiayah digital dengan wilayah urban, yang merupakan wilayah komunikasi otonom. Otonomi komunikasi adalah esensi gerakan sosial, dengan tujuan inilah gerakan sosial dibentuk sehingga kegiatan gerakan bisa menjangkau masyarakat lebih dalam, yang jauh dari jangkauan pemangku kekuasaan melalui kekuatan komunikasi.
Pada tataran individu, gerakan sosial merupakan gerakan emosi. Pemberontakan tidak dimulai dengan program atau strategi politik. Mungkin saja akan muncul pada akhirnya, setelah adanya kepemimpinan, baik dari salam ataupun dari luar gerakan, untuk mengarahkan pada agenda-agenda politik, ideologi atau bahkan agenda personal yang bisa jadi berhubungan atau tidak berhubungan dengan cita-cita atau motivasi awal pergerakan. Yang jelas, agenda besarnya adalah transformasi dari dari gerakan emosi ke aksi yang lebih tertata dan terencana. Namun demikian, untuk bisa menjadi gerakan sosial, aktifasi emosi individu-individu mesti terkoneksi dengan individu-individu lainnya. Hal in membutuhkan proses komunikasi yang mensyaratkan adanya dua hal:
  1. ke-saling paham-an permasalahan antara pengirim dan penerima pesan
  2. jalur komunikasi yang efektif
Sejarah menunjukkan bahwa gerakan sosial selama ini didasarkan pada adanya mekanisme komunikasi khusus, seperti rumor, pamflet, manifesto, yang tersebar melalui media massa atau dari ‘mulut ke mulut’ atau oleh media komunikasi apapun yang tersedia. Saat ini, jaringan digital komunikasi horizontal merupakan sarana tercepat, paling otonom, interaktif, dan bebas sesuai kemauan personal. Karakter proses komunikasi antara individu yang terhubung dalam gerakan sosial akan menentukan karakter organisasi gerakan sosial itu sendiri. Semakin interaktif dan dengan konfigurasi yang bebas, maka semakin longgar juga hirarki organisai dan semakin banyak partisipasi dalam gerakan. Itulah sebabnya, gerakan sosial jaringan pada era digital menjadi represantasi spesies gerakan sosial baru.
 —
Gerakan Sosial Jaringan sebaga Sebuah Kecenderungan
arab springBila Arab spring disebabkan oleh kekuasaan diktator yang akut; kekacauan politik di Eropa dan AS yang disebabkan krisis finansial; lalu mengapa Brazil, Turki dan Chili yang relatif aman dari krisis demokrasi dan finansial juga mengalami krisis politik? Jelas disini bahwa othoritarian, kemiskinan dan krisis finansial bukanlah syarat utama munculnya gerakan sosial di beberapa negara lain.
Ada dua faktor penyebab lain yang turut menyebabkan munculnya gerakan sosial masif, yaitu:
  1. Krisis fundamental legitimasi sistem politik (korupsi, interaksi, dll.)
  2. Otonomi komunikasi berbasis internet atau nirkabel
Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan (menjadi presiden 2014), pernah menyatakan bahwa “Twitter is the enemy of the people”.
Castells meyakini bahwa dalam kondisi sosial yang represif, para individu pengguna media sosial yang saling terkoneksi dan tersebar di seluruh penjuru jaringan nirkabel akan mulai terbangun rasa pemberontakan, yang dalam beberapa kultur masyarakat, akan memberikan bentuk respon politik atau gerakan sosial yang berbeda. Dengan kata lain, bibit gerakan sosial akan semakin dewasa dalam lingkugan komunikasi yang otonom, walaupun revolusi sosial tidak mesti terjadi dalam setiap masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan-gerakan sosial telah dan masih akan menjadi agen perubahan sosial,  yang biasanya dimulai dari krisis kondisi kesejahteraan yang menyebabkan kehidupan sehari-hari terasa sangat tak berarti. Ketidak percayaan terhadap institusi politik dalam mengatur kepentingan rakyatnya,  yaitu kombinasi antara degradasi kondisi kehidupan material dengan krisis legitimasi para pembuat kebijakan publik.
Internet Dan Kultur Otonomi
Karena manusia hanya bisa menghadapi dominasi melalui: komunikasi dengan lainnya, rasa kebersamaan, membangun usaha-usah alternatif untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat yang lebih luas; maka perlu adanya jaringan komunikasi interaktif, yang dalam skala lebih luas, diperlukan komunikasi horizontal berbasis internet dan jaringan nirkabel sebagai alat penting untuk mobilisasi, organisasi, deliberasi, koordinasi dan pengambilan keputusan.
Jadi, aktifitas terpenting dari Internet adalah tempat berjejaring (social networking sites, SNS), an SNS merupakan platform untuk berbagai aktifitas, tidak hanya untuk keperluan pertemanan atau chatting, namun juga marketing, e-commerce, pendidikan, kreatifitas budaya, distribusi media dan hiburan, aplikasi kesehatan, dll. dan tentu juga untuk aktifitas sosial-politik. SNS menjadi wilayah kehidupan yang menghubungkan individu dengan latarbelakang yang bervariasi. Kecenderungan masyarakat di era digital, yang bertransformasi menjadi ‘culture of sharing’.
Kunci keberhasilan dari SNS adalah kehadiran (self-presentation) sebagai dirinya sendiri yang terhubung dengan lainnya. Orang membangun jaringan dengan maksud dapat bergabung bersama yang lain seperti yang diinginkannya, termasuk di dalamnya adalah pihak-pihak dalam kriteria pemahaman masalah yang sama atau setidaknya ingin mengetehaui persoalan yang sama. Ini adalah masyarakat jaringan berkepentingan sama. Ini bukan masyarkat yang sepenuhnya virtual, melainkan bisa jadi ini jaringan yang nyata. Dalam era internet, batas antara virtual dan nyata sangatlah tipis. Dalam gerakan sosial jaringan inilah masyarakat berbagi kekesalan, harapan dan perjuangan. Studi juga menunjukkan bahwa penggunaan Internet mampu meningkatkan perasaan aman dan merdeka, juga bernilai positif bagi mereka yang berpendapatan rendah, tersingkirkan, yang umumnya berada di negara sedang berkembang.
Keberlanjutan Gerakan Sosial berbasis Internet
Alat ukur kesuksesan sebuah gerakan sosial adalah dampak langsung yang dirasakan oleh para pendukungnya dan realisasi transformasi sosial yang diinginkannya. Namun melihat eksistensi gerakan sosial jaringan yang terus bergerak naik-turun atau memudar bahkan berubah dari bentuknya yang sekarang, juga mengingat beberapa aktornya akan bertransformasi menjadi politikus atau menjelma menjadi partai politik, maka terlalu awal untuk mempertanyakan relevansi hasil yang optimal dari gerakan ini, walaupun telah diketahui bahwa rejim telah berganti, banyak institusi mulai diperbaiki dan finansial global yang kapitalistikpun mulai dipertanyakan.
Warisan dari sebuah aksi gerakan sosial dapat dilihat dari perubahan kultural yang dihasilkannya. Karena gerakan didasari oleh ketidakpuasan kehidupan personal atau sosial, maka sudah seharusnya ada hasil perubahan pada institusinya. Perubahan pasti terjadi, walaupun sering juga sejarah menunjukkan arah perubahan tidak seperti yang diharapkan sebelumnya. Dengan demikian, harapan dari gerakan sosial jaringan akan terjadinya perubahan masih harus terus diperjuangkan. Demokrasi, dalam bentuk barunya.
Gerakan sosial jaringan merupakan bentuk baru gerakan demokratis, yang melakukan rekonstruksi kehidupan publik dalam wilayah otonomi yang dibangun oleh adanya interaksi antara berbagai wilayah lokal dan jaringan-jaringan Internet, merupakan gerakan yang didasari oleh upaya pengambilan keputusan yang berkeadilan dan saling-percaya sebagai dasar hubungan antar manusia. Warisan gerakan sosial jaringan diharapkan akan meningkatkan kemungkinan untuk terus belajar hidup bersama yang lebih baik, dalam kultur demokrasi yang sebenarnya.
Kritik
Hampir 75% isi buku ini lebih banyak mengalisis gerakan sosial yang terjadi Timur Tengah, Amerika Latin, Turki dan Eropa Barat, dan sebagai basis teori komunikasi, banyak copy-paste dari buku Communication Power. Cukup membantu pemahaman terhadap konsep gerakan sosial jaringan.

Read Full Post »

Screenshot_2015-11-27-11-49-26-1Berikut ini adalah catatan dari buku The World Energy is Flat, karya Daniel Lacalle dan Diego Parrilla tentang perilaku pasar energi dunia.

Dari sampul bagian dalam buku, penerbit menjelaskan bahwa maksud penulisan buku ini adalah mengungkapkan hasil analisis penulis tentang cepatnya perubahan kondisi pasar energi dan implikasinya terhadap ekonomi global serta perlunya strategi investor yang jeli dan hati-hati untuk memperoleh keuntungan dari situasi pasar yang ada.

Ada 4 bagian besar dalam buku Lacalle dan Parrilla ini, yaitu bagian 1 tentang pilihan strategi energi yang saat ini eksis di berbagai bagian dunia, kemudian bagian 2 tentang analogi fenomena revolusi internet dan gelembung dotcom yang diterapkan untuk analisis minyak dan pasar energi global. Bagian 3 menguasai bagian besar buku yang berisi tentang perataan energi dan 10 hal utama penunjangnya, kemudian bagian 4 adalah tentang implikasi dan peluang dalam pasar finansial.

Perataan dan Globalisasi Energi
Setelah kecelakaan reaktor nuklir Fukushima, yang terburuk sejak Chernobyl 1986, dimana keduanya berada pada skala 7 menurut acuan the International Nuclear Event Scale, banyak negara mulai menutup atau mengurangi reaktor nuklirnya dan berencana untuk tidak melanjutkan pembangunan yang baru. Namun demikian, Fukushima tidak mengubah posisi Perancis yang memenuhi 75% energi negerinya dari pembangkit tenaga nuklir. Demikian juga dengan Tiongkok, yang tetap berencana untuk membangun 70 reaktor nuklir baru hingga tahun 2020. Energi nuklir jelas menjadi ‘ancaman’ penting terhadap akhir dominasi OPEC, minyak. Ditutupnya seluruh pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang, menuntut adanya energi pengganti yang mungkin saja adalah batubara, gas alam, atau minyak. Harga gas alam pun mulai melejit di wilayah Asia hingga $20/MMBtu atau US$110 per barrel of oil equivalent (USD/boe) sehingga menggalakkan transportasi gas alam ke Jepang.

Australia, untuk mengamankan kebutuhan energinya, melakukan investasi hingga $500 juta untuk pembangunan infrastruktur LNG baru.

Tiga tahun setelah bencana Fukushima, Maret 2014, Perdana Menteri Abe menyatakan akan mengaktifkan kembali pembangkit nuklirnya secara bertahap, sehingga dapat memenuhi kebutuhan energinya dan menekan permintaan pasokan gas sekaligus menurunkan harga.

Di belahan dunia yang lain, AS yang mulai khawatir dengan ketahanan energinya justru mengalami kelimpahan, setelah menikmati kekayaan minyak dari proses fracking di lapisan tight oil dan shale gas. April 2012, konsumen gas AS menikmati harga rendah $2/MMBtu, berimplikasi pada insentifikasi substitusi pembangkit listrik tenaga batubara menjadi berbahanbakar gas dan merangsang tumbuhnya industri petrokimia.

Dari fenomena di atas, penulis buku ini berpendapat bahwa pergerakan Harga adalah penanda ketidak-seimbangan, sekaligus pemicu perubahan perilaku ekonomi, “the market defense itself”.

Geopolitik dan tingginya harga minyak
Ketidakseimbangan harga minyak dan gas seperti contoh di atas, yang dipicu oleh kejadian-kejadian lokal, akan mencapai keseimbangan baru karena adanya faktor-faktor kuat dari geopolitik, konsentrasi pasokan dan ketergantungan atas minyak. Misalnya, pada setiap terjadi ancaman geopolitik dan keamanan wilayah, konsumen akan berreaksi dengan cara meningkatkan volume penyimpanan, penemuan cadangan baru hingga peningkatan teknologi baru.

Tahun 2014, akibat terganggunya pasokan minyak dari Libya, sangsi perdagangan minyak Iran, serta kekacauan politik Sudan dan Siria, juga turunnya produksi minyak Irak, menyebabkan meningkatnya harga minyak dunia. Gangguan geopolitik akan menyebabkan naiknya harga minyak, namun dalam jangka lama akan turun kembali. Akhirnya, dunia minyak akan kembali seimbang, rata. A flatter energy world.

Harga minyak di AS pada tahun 2012 hampir 10 kali lipat lebih mahal daripada harga gas. Ini terjadi karena tidak ada mekanisme substitusi langsung dalam jangka pendek antara keduanya. Seperti diketahui bahwa minyak mentah banyak digunakan untuk keperluan transportasi, dan gas alam untuk pembangkit listrik perumahan dan industri. Sementara cadangan gas Amerika yang melimpah, produksi yang tinggi dan harga yang murah, sangat membantu konsumen untuk lebih mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi berbahan-bakar gas. Substitusi minyak – gas akan berdampak besar pada pasar minyak mentah. Revolusi substitusi akan berjalan secara global dan implikasi besar akan terjadi pada lintas sektor energi yang mengakibatkan munculnya pemenang dan yang kalah, OPEC ada di dalamnya.

Perbedaan harga yang tinggi antara minyak dan gas akan memicu pengembangan infrastruktur baru, misalnya pabrik LPG, LNG, jalur pipa dan penyimpanan.

Fenomena Revolusi Internet dan Gelembung dotcom
Seperti halnya revolusi pada bidang internet, mobile, broadband dan revolusi teknologi ‘dotcom’ lainnya yang telah mengubah budaya hidup kita, demikian juga dengan revolusi teknologi dibidang minyak dan gas yang memunculkan teknologi ‘fracking’ di Amerika Utara untuk pemboran horizontal pada lapisan batuan mengandung minyak/gas yang ketat (shale gas atau tight rock). Revolusi teknologi yang menjadikan AS sebagai negara produsen minyak terbesar dunia dengan 11 juta bpd (barrels per day). Dibutuhkan produksi minyak OPEC (Call on OPEC) sebesar 29 juta bpd untuk menyeimbangkan pasar.

Selama revolusi dotcom, valuasi kekayaan pada banyak perusahaan menunjukkan kenaikan secara eksponensial. Modal banyak masuk, banyak ide baru, teknologi dan infrastruktur mampu meningkatkan pendanaan dengan mudah. Bahkan banyak investor dan modal ventura justru mencari peluang investasi. Demikian juga dengan sektor migas, revolusi energi mengalami hal dinamis yang sama. Namun, tidak semua hal yang sedang naik akan berujung sebagai pemenang dalam kurun waktu yang panjang. Modal mengalir masuk untuk investasi besar di bidang infrastruktur pasokan, dari kegiatan eksplorasi hingga distribusi. Ekspenditur kapital tahunan melampaui $750 milyar. Akan banyak yang menang ataupun kalah dalam revolusi energi ini, persis sama dengan revolusi internet yang telah mengibarkan Google, Amazon, eBay dan menghancurkan pets.com di AS dan boo.com di Eropa.

Dugaan berlebihan akan tingginya Permintaan mengakibatkan kelebihan kapasitas
Di era revolusi Dotcom, harapan adanya keuntungan yang tinggi didasarkan pada asumsi bahwa akan adanya pertumbuhan eksponensial pada sisi permintaan. Pertumbuhan seolah tanpa batas sehingga pada akhirnya terjadi pembangunan infrastruktur yang melebihi kapasitas. Diantaranya adalah infrastruktur broadband fibre-optic di AS. Demikian juga dengan sektor energi, keputusan investasi banyak didasarkan pada asumsi adanya pertumbuhan permintaan yang tinggi atau sikap optimistik yang berlebihan terhadap masa depan, yang seringkali didasarkan pada kesepakatan diplomasi, dan mengabaikan adanya efisiensi atau substitusi yang terjadi, sehingga bisa diduga akan berujung pada kapasitas berlebihan (overcapacity). Kelebihan kapasitas pasokan energi memang diharapkan oleh konsumen sehingga diperlukan sentralisasi, perencanaan dan strategi yang matang dibawah kendali pemerintah atau badan usaha milik negara. Misalnya, Tiongkok.

Efisiensi merupakan faktor pengubah (game changer) yang berfungsi sebagai penyebab ‘terganggunya’ Permintaan (demand destruction), yang seringkali diabaikan dalam estimasi pertumbuhan Permintaan. Produk industri global telah tumbuh 2% per tahun, dengan tanpa pertumbuhan konsumsi energi sejak 2005. Atau, dunia telah berproduksi semakin banyak dengan menggunakan lebih sedikit energi.

Menurut International Energy Agency (IEA), efisiensi yang semakin tinggi akan mampu mengurangi pertumbuhan permintaan energi global hingga separuhnya. Banyak wacana optimistik yang mengatakan bahwa akan terjadi pertumbuhan permintaan yang besar. Namun penulis memperingatkan bahwa perubahan keseimbangan pasar energi global tidak terjadi karena perputaran siklus biasa, melainkan karena struktural. Perlu diketahui bahwa ekonomi baru, bahkan di Tiongkok, tidak banyak pembangunan industri skala besar dengan konstruksi yang masif.

Pasar energi banyak dikendalikan oleh adanya asumsi ilusif yang terlalu optimistik terhadap adanya pertumbuhan Permintaan, sehingga estimasi pada akhirnya harus direvisi untuk diturunkan supaya lebih realistik. Penulis menyatakan bahwa sejatinya belum pernah terjadi Pasokan atau Permintaan yang betul-betul ekstrim. Perlu kiranya adanya filosofi yang lebih daripada hanya sekedar berpikir “outside the box”, namun juga memahami bahwa data kompilasi yang dipergunakan untuk keperluan estimasi Pasokan-Permintaan, telah banyak dipengaruhi oleh berbagai kepentingan dari banyak pihak, sehingga tidak lagi fokus pada kepentingan pasar saja.

Pemerintah selalu bersikap optimistik terhadap GDP, dan terlalu percaya terhadap adanya korelasi positif antara GDP dan Permintaan energi, yang sebetulnya telah terbantahkan sejak 1998 dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak perlu diiringi dengan kenaikan Permintaan dan produksi.

Overcapacity
Selama awal tahun 2000an, industri telekomunikasi berusaha keras untuk terus mengembangkan tekhnilogi 3G, namun justru pemerintah ‘menghambat’ proses ini melalui penguasaan lisensi, untuk mendapatkan keuntungan maksimal lebih dulu dari teknologi 3G. Hal ini menyebabkan industri beada pada posisi sulit karena khawatir akan terlambat dalam kompetisi pengembangan teknologi. Kasus yang sama juga terjadi pada sektor migas, sehingga industri migas merasa perlu untuk berlomba-lomba investasi supaya tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi.

Menurut penulis, investasi besar selalu tersedia pada setiap kesempatan terlibat dalam perubahan arah permainan pasar, dikenal dengan istilah “position rent”, yaitu keputusan ekonomi untuk investasi dalam jumlah besar di bidang energi, yang tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial yang besar semata, namun juga untuk kepentingan memperoleh peluang peningkatan aset dari kemajuan teknologi, juga peluang posisi strategis perusahaan di suatu negara.

Investasi kapital di bidang energi setiap tahun sebesar 5% – 10% dari total investasi ratusan milyar dollar, dilakukan oleh banyak perusahaan untuk keperluan mendapatkan peluang strategis atau keamanan pasokan, walaupun belum tentu ada kepastian pengembalian modal. Porsi investasi tersebut jauh semakin besar untuk perusahaan sekelas Gazprom atau PetroChina, demi turut terlibat dalam ‘mengarahkan permainan’ pasar energi. Jelas bahwa berbagai keputusan strategis ini akan memungkinkan perusahan-perusahaan tersebut dapat lebih tangguh untuk turut terlibat memainkan peran penting dalam persaingan di masa depan.

“Strategic premium” dan “geopolitic risk positioning” di atas, mampu menyebabkan turunnya harga minyak mentah karena kemajuan teknologi dan bertambahnya kapasitas baru yang diakibatkannya, sehingga tidak terjadi krisis pasokan atau tidak terjadi permintaan maksimum (harga tinggi) seperti yang diperkirakan.

Selain teknologi untuk keperluan efisiensi tersebut, juga munculnya modal ventura untuk pengembangan industri diferensiasi produk kilang minyak mentah untuk keperluan sektor transportasi seperti CNG, LNG, mobil listrik dan mobil hibrid. Sayangnya, pengembangan industri mobil listrik justru banyak mengalami hambatan, bukan karena disebabkan oleh lobi-lobi perusahaan minyak, tapi justru salah satunya oleh para pemerintah sendiri. Misalnya, terjadinya kucuran pinjaman dana oleh pemerintah AS untuk industri mobil sebesar $25 milyar, pada Desember 2008 dan pemerintah AS menjadi pemilik mayoritas saham General Motors.

Faktor lain penyebab tidak berkembangnya industri mobil listrik adalah:

1. Harga.
Mobil listrik tidak akan laku bila harga jual masih 50% lebih mahal daripada mobil bbm. Dan mungkin akan laku bila menarik secara fisik, murah dan efisien.

2. Pajak.
Uni Eropa mengenakan pajak bbm sebesar €250 milyar per tahun (pajak bbm 40%-65%). Jadi, bila mobil listrik menggunakan sebagian besar pasokan listrik pemerintah, bisa jadi EU akan beralih mengenakan pajak tinggi pada sektor pembangkit listrik. Selama ini subsidi pembangkit listrik, termasuk energi terbarukan, batubara dan gas telah menyebabkan tingginya rata-rata biaya listrik di Uni Eropa.

Ketidakpastian masa depan energi bisa menyebabkan kerugian karena pengembangan infrastruktur yang berlebihan sehingga terjadi ‘overcapacity’, namun disisi lain justru menguntungkan konsumen karena harga minyak yang akan menjadi murah. Namun ketika aset komoditi dan harga dikendalikan oleh ekonomi marginal, maka ketidakseimbangan yang besar antara Pasokan dan Permintaan dapat menyebabkan fluktuasi harga yang tajam.

Revolusi energi saat ini sangat relevan, ketika krisis-krisis minyak sebelumnya hanya tentang minyak, yang dipicu oleh pertentangan antara Pasokan dan Permintaan, saat ini lebih banyak variasi penyebabnya, seperti gas alam, energi terbarukan dan substitusi bahan-bakar lain yang bisa sebagai ancaman terhadap keberadaan minyak itu sendiri.

10 Gaya Perataan Dunia Energi
Sektor energi global saat ini tidaklah rata (flat), mengingat keberadaan dan biaya energi yang bervariasi di berbagai pelosok dunia. Misalnya harga minyak mentah dan gas.

Sejarah menunjukkan bahwa secara umum keberadaan dan biaya sumberdaya alam, dan energi khususnya, merupakan faktor penting dalam menentukan kesejahteraan dan kemiskinan suatu bangsa, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang.

Penulis berpendapat bahwa ada 10 hal yang dapat meratakan (flattener) dunia energi, yaitu:
1. Geopolitics: The Two Sides of the Energy Security Coin
2. The Energy Reserves and Resources Glut
3. Horizontal Drilling and Fracking
4. The Energy Broadband
5. Overcapacity
6. Globalization, Industrialization, and Urbanization
7. Demand Destruction
8. Demand Displacement
9. Regulation and Government Intervention
10. Fiscal, Monetary, and Macroeconomic Flatteners

 

1. Geopolitics: The Two Sides of the Energy Security Coin
Pada tahun 2005, harga minyak mentah jatuh hingga $50/bbl, namun kembali melonjak di tahun 2008 hingga $140/bbl. Untuk pertama kakinya kenaikan harga minyak melonjak tinggi bukan karena geopolitik, namun karena tidak terpenuhinya Permintaan produk kilang (overcapacity) seperti bbm atau solar. Minyak mentah ‘heavy sour’ banyak di pasaran namun kapasitas kilang tidak mencukupi untuk memproduksi permintaan produk minyak yang lebih ringan (light) dan bersih.

Mengingat kebutuhan penggunaan alat transportasi yang tetap tinggi, maka hukum ekonomi pun mulai berjalan, harga minyak mentah naik dan produsen minyak mentah meningkatkan produksinya. Namun Saudi Arabia tidak turut meramaikan peningkatan produksi, bukan karena tidak ingin menikmati harga mahal, melainkan karena sistem kilang global tidak lagi mampu menampung kelebihan minyak Arab Saudi yang heavy dan sour untuk diproses menjadi produk ringan yang diharapkan oleh pasar.

Keseimbangan kekuatan telah bergeser dari para produsen minyak ke perusahaan pengilangan (refinery), walaupun tidak dalam jangka waktu yang lama.

Penyebab lain melonjaknya harga minyak adalah adanya subsidi pemerintah di pasar negara-negara sedang berkembang seperti Tiongkok, India dan Indonesia, untuk mencegah terjadinya lonjakan inflasi, krisis sosial dan melindungi konsumen terhadap fluktuasi harga minyak yang tajam.

Krisis finansial global yang terjadi saat itu, 2008, akhirnya menyebabkan harga minyak mentahpun merosot dari $140/bbl hingga $30/bbl namun kembali stabil setelah OPEC memotong produksinya secara agresif.

Kekacauan politik
Krisis di Irak 2014 menjadi salah satu sebab merosotnya harga minyak, dan lebih buruk lagi, belum ada kejelasan arah geopolitik Timur Tengah.

Minyak Irak sepenuhnya dimiliki oleh negara, dan perusahaan-perusahaan dari negara lain hanya terlibat bekerjasama sebagai kontraktor, bukan pemilik. Hampir seluruh minyak Irak, 80%, u tuk keperluan ekspor, dan lebih dari 77% berasal dari Irak bagian selatan yang uslit dijangksu ISIS.

Ancaman Venezuela untuk tidak mengekspor minyak ke AS semakin melemah karena bagaimanapun produsen membutuhkan pendapatan (revenue) secepatnya untuk mengamankan ‘cashflow’nya. Belum lagi, Venezuela yang pada tahun 2014 adalah negara dengan cadangan terbukti minyak terbesar di dunia, melebihi Arab Saudi, juga eksportir minyak terbesar ke-5 dunia, mengalami krisis ekonomi dengan inflasi mencapai 56% dan kekurangan makanan dan komoditi lainnya.

Perlu juga diketahui bahwa Venezuela ini telah menikmati kenaikan harga minyak tinggi, dari $18bbl menjadi $108/ bbl. Namun, kebijakan ekonomi yang salah, ditambah implementasi yang tidak bertanggungjawab, seperti subsidi yang sangat besar, donasi politik dan bantuan ke nagara sahabat yang juga sangat besar, telah meruntuhkan kekayaan yang diperoleh dari minyak.

Sebelum munculnya Chavez, PDVSA (Petróleos de Venezuela) merupakan perusahaan yang sangat bagus dan efisien di sektor migas, namun setelah restrukturisasi, justru menjadi tidak efisien dengan bertambahnya jumlah karyawan dari 40.000 orang menjadi 121.000 orang, sementara terjadi pengurangan produksi sebesar 16% dan gelembung hutang yang mengkhawatirkan, $7,1 milyar di tahun 1998 menjadi $43,3 pada tahun 2013, m3nurut laporan resmi PDVSA.

Venezuela kini sangat bergantung pada pendapatan dari minyak, dari $100 total pendapatan, $94 berasal dari ekspor minyak mentah. Seperti halnya Iran, Venezuela kini membutuhkan harga minyak sebesar $100/bbrl untuk menyeimbangkan anggarannya.

Beberapa puluh tahun terakhir ini, negara-negara produsen minyak di semenanjung Arab dan tempat lain di dunia, tanpa sengaja telah menghambat sendiri pengembangan cadangan terbukti minyaknya. Cadangan minyak dan gas mereka yang sangat besar ini telah lama tidak dikembangkan dan belum diproduksi. Konflik politik telah merusak infrastruktur yang ada dan membatasi investasi serta pengembangan kapasitas produksi yang baru. Contohnya adalah Iran dan Irak.

Mexico, negara bercadangan minyak besar, mampu menutup investasi asing untuk mengelola minyaknya sejak 1940an dengan tetap memberdayakan perusahaan nasionalnya, Petróleos Mexicanos (Pemex) untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Namun akhirnya harus ‘mengalah’, terhadap tuntutan efisiensi dan investasi asing demi menghadapi rendahnya harga minyak dan gas akibat revolusi industri migas, shale oil/gas di Amerika utara.

Akhirnya, tidak hanya konsumen yang menghadapi resiko fluktuasi harga minyak, namun Geopolitik juga menjadi ancaman terhadap produsen karena bisa menyebabkan rendahnya harga minyak, khususnya dekade akhir ini di Timur Tengah dan Amerika Latin.

Ketahanan energi bagi produsen adalah keamanan permintaan dan kemampuan menahan kelebihan produksi, sedangkan bagi konsumen, ketahanan energi menjadi prioritas tertinggi dalam menghadapi kondisi Geopolitik yang bisa berubah cepat menaikkan harga minyak. Konsumen melindungi dirinya dengan membangun infrastruktur yang melebihi kapasitas sehingga pasokan dapat diamankan.

Revolusi fracking di AS telah mengubah secara dramatis keseimbangan Pasokan/Permintaan minyak dunia, sehingga dunia energi semakin rata dan kompetisi pasar semakin sempurna, sehingga mengurangi peran oligopoli para kartel.
Russia vs Ukraine dan Barat

Tahun 1970 kanselir Jerman Barat Willy Brand mendapatkan kontrak pasokan gas Russia melalui jalur pipa yang melewati Ukraina, sekaligus menandai awal saling ketergantungan Soviet – Jerman. Ini adalah uang besar untuk Soviet dan dukungan ketahanan energi yang penting bagi Jerman. Saat ini pasokan gas ke negara-negara Eropa berada dalam keseimbangan geopolitik. Produksi wilayah domestik Eropa sendiri mampu memenuhi 39% kebutuhannya, dari Rusia 26%, Norwegia 16%, Aljazair 10%, dan sisanya 10% dari berbagai sumber lain, umumnya LNG.

Januari 2006, Russia memutus pasokan gas ke Ukraina, yang berdampak besar terhadap pasokan ke Eropa Tengah. Meskipun kekacauan tidak berlangsung lama, namun trust mulai terganggu dan kekhawatiran kedua belah pihak mulai tumbuh, sehingga ide diversifikasi mulai diwacanakan. Russia mulai mencari peluang komersial baru di Tiongkok dan berencana menambah jalur pipa baru ke Eropa. Sementara Eropa mulai mencari alternatif jaringan pemasok gas baru dan meningkatkan program energi terbarukan untuk mendukung ketahanan energinya.

Akibatnya, krisis yang hanya terjadi sebentar, menjadi berbuntut panjang dan berlarut-larut karena masing-masing mencari peluang diversifikasi, dan mempunyai kapasitas berlebih. Keduanya punya potensi sebagai penyeimbang (flatteners). Situasi semakin rumit karena hutang jatuh tempo dan kompensasi terhadap biaya transit pipa gas ke Eropa. Jan 2004, Ukraina punya hutang ke Gazprom, Russia sebesar $ 2,4 milyar. Eropa dan IMF menjadi penyelamat potensial Ukraina.

Ukraina sebenarnya mendapat harga gas murah dari Russia, $256 mcm, rapu karena situasi geopolitik dimana Ukraina mulai menjauhkan diri dari Russia, maka harga gas Russia untuk Ukraina berubah menjadi $400 mcm. Semua pipa pasokan gas Russia ke Eropa melalui Ukraina, yang mendapat biaya transit dari pengiriman gas ini. Tahun 2013, 25% pasokan minyak dan 33% gas Eropa diperoleh dqri Russia melalui jaringan pipa yang melintas Ukraina.

Dimulainya jalur pipa Nord Stream (September 2011) yang dimulai dari Vyborg, Russia menuju Greifswald, Jerman tanpa melewati Ukraina, merupakan jalur pasokan alternatif yang penting untuk Eropa.

Ukraina
Saat ini Ukraina memang sangat bergantung pada gas Russia. Namun dengan ditemukannya sumberdaya gas yang sangat besar, nomor 3 terbesar di Eropa setelah Russia dan Norwegia, ketergantungan Ukraina tersebut akan berkurang bahkan mulai menjalin hubungan strategis dengan AS untuk melanjutkan eksplorasi dan mengembangkannya.

Ini merupakan mimpi buruk Russia, karena:

1. Independensi energi Ukraina berarti Russia perlu mencari pasar pengganti
2. Dengan cadangan gas terbesar ketiga di Eropa (setelah Russia dan Norwegia), Ukraina sangat potensial menjadi pemasuk utama gas ke Eropa.

Saat penulisan buku ini, krisis Ukraina vs Russia sedang pada puncaknya.

Crimea
Geopolitik negara-negara bekas Uni Soviet semakin memanas dipicu dengan krisis Ukraina yang berdampak pada keseimbangan pasar energi di Eropa, belum lagi dengan kecenderungan Krimea ke Eropa Barat yang tentu akan mengganggu logistik di pelabuhan penting Sebastopol, Laut Hitam.

Dalam perdagangan bilateral, Russia sangat bergantung terhadap Eropa, mengingat kebutuhan gas domestik tidak dapat menyerap seluruh produksinya. Apalagi cadangan shale gas Ukraina dan Polandia cukup besar, belum lagi dengan batubara dan energi terbarukan, maka ketergantungan mereka terhadap Russia juga semakin kecil.

Tidak lama lagi kesaling-tergantungan (interdependency) antara Russia – Eropa akan semakin seimbang, bahkan dalam jangka panjang, ketergantungan Russia terhadap Eropa justru semakin besar.

 

2. Cadangan energi
Kekhawatiran akan terjadinya puncak produksi minyak (peak oil) yang konsep awalnya dimulai dari Malthus, kemudian dikembangkan oleh King Hubbert “theory of peak oil”, yang didasarkan pada tiga hal, yaitu eksploitasi minyak berlebihan, teknologi dan tekanan pasar, ternyata tidak terbukti.

Analisa tersebut ‘melupakan’ adanya kemungkinan temuan cadangan baru, penambahan cadangan, kemajuan teknologi yang menghasilkan sumberdaya unconventional yang sangat besar (shale oil, sand oil, dll.), substitusi energi dan penurunan permintaan (demand destruction).

Perubahan harga minyak selama ini menunjukkan tidak menerus (unsustainable), dinamis, sehingga tidak pernah tercapai ‘peak oil’ karena Permintaan yang tinggi, yang mengakibatkan runtuhnya ekonomi, karena ada berbagai faktor ekonomi yang terlibat di dalamnya, seperti inflasi, devaluasi $, pertumbuhan ekonomi suatu negara, demand destruction, yang perpaduan dari faktor-faktor ekonomi tersebut pada akhirnya akan kembali menyeimbangkan harga minyak dunia lagi dan tak akan terjadi kenaikan harga menerus.

Pendapat bahwa pertumbuhan penduduk akan berbanding linear dengan pertumbuhan konsumsi minyak adalah tidak sepenuhnya benar. Meskipun terjadi pertumbuhan populasi, kekayaan dan produksi, namun konsumsi energi per kapita relatif stabil sejak 1985, karena efisiensi dan pekembangan teknologi. Bahkan di AS, Jepang dan wilayah Uni Eropa, ‘peak oil’ telah terlewati pada tahun 2005, dan sekarang justru sudah lebih rendah konsumsi minyaknya.

Peak oil adalah titik maksimum produksi dan depleted adalah pengurangan fisik cadangan yang tak tergantikan, karena telah dilakukan eksploitasi. Enhance Oil Recovery (EOH) dan kemajuan teknologi, melalui pemboran horizontal dan pemboran laut dalam, telah mampu menggantikan jumlah cadangan minyak terambil. Saat ini investasi total per tahun sebesar $750 milyar dilakukan untuk menemukan cadangan baru.

Produksi minyak tidak akan jatuh karena cadangan berkurang, namun bisa terjadi karena faktor geopolitik. Produksi minyak dunia saat ini mampu mencapai 92 juta bpd bila diinginkan. Cadangan minyak tertambang saat ini sebesar 1,65 trilyun barel, mampu untuk memasok kebutuhan dunia selama 54 tahun dan bahkan bisa lebih lama bila kemajuan teknologi dan efisiensi turut dipethitungkan.

Penambahan cadangan di Saudi Arabia bukan karena adanya temuan baru (discovery) melainkan karena adanya perkembangan teknologi sehingga memungkinkan untuk dapat memproduksi minyak secara ekonomis lebih banyak daripada dimasa lalu. Demikian pula yang terjadi dengan Iran dan Venezuela. Juga Brazil dengan pemboran laut dalam dan shale oil di AS.

Dengan berbasis pada konsep Energy Return On Energy Invested (EROEI), unconventional energy (shale oil, sand oil dll.) dianggap boros energi untuk dapat mengeksploitasi minyak mentah. Asumsi tersebut tidak benar mengingat kemajuan teknologi dan nilai keekonomian bisa mengubah cadangan yang sebelumnya tidak ekonomis, menjadi bernilai ekonomis. Konsep EROEI tidak tepat digunakan untuk analisa ketahanan energi tanpa menambahkan parameter keekonomian.

Saat ini gas asosiasi (associated gas), yang biasa dianggap produk sampingan (by product) dan hanya dibakar (flare) saat memproduksi minyak mentah, mulai diperjual-belikan melalui pipa atau infrastruktur LNG untuk pembangkit listrik, bahan bakar mobil (BBM) kebutuhan rumahtangga dll. Gas alam, yang ramah lingkungan dan berlimpah cadangannya, sudah menjadi andalan pasar energi, dan berada pada posisi yang bagus untuk berkembang lebih lanjut sebagai pembangkit energi listrik, menggantikan peran bahan bakar minyak yang selama ini menjadi monopoli OPEC.

Penentuan harga gas
Pembangunan pipa baru dan infrastuktur LNG sangat padat modal (capital intensive). Produsen/konsumen mempunyai kepentingan yang sama untuk pengadaan infrastruktur tersebut, sehingga lazim terjadi kerjasama dalam jangka lama (20-30 tahun) untuk berbagi resiko dan keuntungan, dengan menggunakan skema bisnis yang paling aman, floating price.

Masalah timbul ketika tidak tersedia harga pembanding untuk perdagangan kargo spot LNG. Memang ada acuan harga untuk tujuan pengiriman ke Henry Hub (HH) di Amerika Utara atau National Balancing Point (NBP) di Inggris, namun harga-harga tersebut hanya berlaku untuk kondisi Pasokan dan Permintaan domestik di AS dan Inggris saja, bukan untuk Jepang dan Jerman, yang perbedaan harganya bisa sangat signifikan.

Untuk itu diperlukan solusi berupa formula khusus untuk konversi harga gas alam dengan harga bahan bakar alternatif lainnya. Jepang mengadopsi formula harga berdasar Japanese Crude Cocktail (JCC) untuk menghitung harga LNG. Faktor konversinya adalah 0.1, artinya bila harga JCC = $30 /bbl, maka harga LNG = $3 /MMBtu. Sementara Eropa menggunakan formula penentuan harga LNG yang lebih rumit, dengan memperhitungkan faktor harga minyak mentah, spesifikasi, batubara, inflasi dll. Secara ringkas, harga LNG berada dalam kurva ‘S’, dimana ada batas bawah dan batas atas sebagai pembatas.

Februari 2009, Platts mengumumkan berlakunya indeks JKM (Japan Korea Marker), yang didasarkan pada penilaian harian terhadap kargo-kargo LNG yang masuk ke Jepang dan Korea, yang merupakan negara importir LNG terbesar dunia.

Tiongkok dan Jepang sangat agresif untuk akuisisi sumberdaya alam, karena 3 hal:

1. Ekonomi
2. Managemen resiko finansial
3. Managemen resiko fisik

Saat ini 25% dari minyak yang diimpor oleh AS dan 30% oleh Tiongkok, berasal dari Afrika, dan propoersi tersebut akannterus meningkat di masa depan. Lebih dari $120 milyar telah dialokasikan untuk investasi sumberdaya alam di benua Afrika dalam beberapa tahun terakhir.

 

3. Horizontal Drilling and Fracking
Kemajuan teknologi perminyakan mampu meningkatkan volume dan efisiensi produksi. Ongkos produksi minyak per barrelnya untuk lokasi di darat AS, lepas pantai AS, Afrika dan Timur Tengah, berturut-turut adalah $34, $52, $45 dan $17.

Teknologi fracking pada awalnya ditemukan untuk memproduksi gas dari dalam lapisan batuan ketat, shale (tight rock), namun ternyata bisa juga dikembangkan untuk keperluan produksi minyak.

Tahun 2000an adalah awal produksi shale gas di AS, yang mampu menambah 1% total gasnya. Tahun 2012, AS telah mampu memenuhi 37% kebutuhan gasnya dari shale gas.

Dari sisi lingkungan, dalam 60 tahun, lebih dari satu juta lubang bor di AS, dilakukan dengan fracking, dan semuanya berada jauh di kedalaman tanah (lebih dari 3.000 feet). Sementara akuifer air tanah berada tak lebih dari 100 m dari permukaan tanah dan dibatasi oleh banyak lapisan batuan kedap air diantaranya sehingga kemungkinan terjadinya kebocoran minyak/gas ke dalam akuifer bisa dianggap kecil dan semakin kecil dengan semamin berkembangnya teknologi.

EIA memperkirakan bahwa sumberdaya shale oil AS sebesar 24 milyar barel, dan dengan menggunakan teknologi fracking yang ada saat ini, ongkos produksi rata-rata shale oil yang ekonomis adalah $60/barrel.

Diperkirakan Eropa mempunyai sumberdaya shale gas sebesar 156 tcm (trillion cubic metres), yang mampu memenuhi kebutuhan gasnya hingga 90 tahun. Sementara sumberdaya shale gas di Tiongkok sebesar 25 tcf.

Shale gas merupakan game changer, sebagai agen penyeimbang yang kuat dan faktor berpengaruh terhadap ketahanan energi dalam persaingan pasokan, yang memungkinkan para importir tradisional mengembangkan sumberdayanya sendiri.

 

4. The Energy Broadband
Jaringan distribusi energi dan globalisasi produk turunan gas alam (LNG, LPG, CNG) merupakan faktor penting perataan dunia energi.

Pipa Nord Stream 1224 km membutuhkan investasi $ 7,4 milyar dan 6 tahun penyelesaian. Selain padat modal dan butuh waktu lama, isu lingkungan juga menjadi penting dalam pembangunan infrastruktur pipa.

Untuk jaringan distribusi kontinental Eurasia, pada tahun 2000an, ekspor minyak Rusia ke Asia mencapai 4%. Saat ini sudah mencapai lebih dari 17%, dan diharapkan mencapai 30% dalam dua tahun lagi. Dengan selesainya jalur pipa Eastern Siberia – Pacific Ocean, maka ekspor minyak Russia ke Asia meningkat dari 0,5 juta bpd menjadi 2,1 juta bpd.

Selain dari Russia, Tiongkok juga banyak memenuhi kebutuhan energinya dari Kazakhstan (minyak 1,5 juta bpd), Turkmenistan dan Uzbekistan (gas 10 milyar cm).

LNG dan globalisasi gas alam
Dalam kondisi temperatur dan tekanan udara normal, methane berada dalam fase gas, namun bila dibekukan hingga – 260F (-162C), akan berubah menjadi cair dengan volume yang jauh lebih kecil, 1/600 dari ukuran pada fase gas, segingga mudah untuk dipindahkan menggunakan alat angkut (truk).

Pembangunan pabrik LNG likuifaksi, pengapalan dan pabrik regasifikasi merupakan investasi yang rumit, sangat padat modal dan butuh waktu lama, sehingga pada umumnya kontrak trading LNG berlangsung lama, bahkan bisa sampai 30 tahun dengan basis “take or pay” (mau gak mau tetap harus bayar).

Australia melakukan investasi pembangunan pabrik LNG sebesar $500 milyar untuk pasokan ke Asia Timur. Banyak negara lain yang sudah mulai berupaya untuk memenuhi pasar di wilayah tersebut.

Harga gas alam ditentukan secara regional, yang selama ini hanya di 3 tempat, yaitu:
1. Henry Hub (HH), AS untuk wilayah Amerika.
2. National Balancing Point (NBP), UK
3. Japan Korea Marker (JKM)

Investasi tanpa keamanan Permintaan atau kepastian harga, dapat membahayakan, terutama bila para konsumen juga turut berinvestasi sehingga menyebabkan kelebihan kapasitas pada akhirnya.

Harga gas di masing-masing wilayah tersebut tidak saling mempengaruhi (independen).

LNG super-cycle
Harga LNG dunia sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya shale gas di Amerika, bencana nuklir Fukushima dan geopolitik Rusia-Ukraina.

Penulis berpendapat bahwa pada tahun 2017 akan terjadi penambahan ekspor LNG dunia sebesar 32% dari keadaan saat ini, yang akan diserap oleh pasar sehingga menggantikan alternatif bahan bakar lainnya.

Solid methane
Selain dalam bentuk gas dan cair, methane dalam bentuk padat (CBM, coal bed methane) juga dapat diekspor secara tidak langsung dalam bentuk barang dan jasa.

Harga listrik merupakan kunci penggerak roda industri, sekaligus sebagai keunggulan daya saing. AS menikmati betul rendahnya harga gas alam sebagai stimulus ekonomi dan kontributor utama penyehatan ekonomi AS. Sebaliknya, Jepang mengalami penurunan daya saing sebagai akibat tragedi Fukushima yang menyebabkan kurangnya pasokan pembangkit listrik energi nuklir dan semakin mahalnya harga LNG.

Setelah krisis 1972, kemudian 1979, berbagai pihak mulai perlu langkah strategis untuk mengamankan dirinya dari lonjakan harga dengan cara melakukan eksplorasi yang agresif, diversifikasi pasokan, cadangan minyak strategis, bahan bakar alternatif atau baru, kebijakan efisiensi atau konservasi, atau bahkan biofuel.

Strategi konsumer AS untuk menghadapi resesi minyak dunia adalah dengan Strategic Petroleum Reserve (SPR), yang mampu mempertahankan sumberdaya energi (ketahanan energi) untuk memenuhi permintaan pasar domestik selama 90 hari pada saat terjadi Arab Spring, tanpa impor. Namun mengingat produksi minyak domestik AS yang semakin tinggi hingga suatu saat mampu independen, maka bisa jadi SPR tidak akan diperlukan lagi.

 

5. Overcapacity
Pengusahaan kilang minyak dipicu oleh adanya keuntungan yang diperoleh dari selisih harga antara harga minyak mentah sebagai input dan biaya pengilangan untuk memproduksi minyak yang lebih ‘bersih’ dan berbagai turunannya. Namun seringkali keuntungan yang lebih besar akan diperoleh oleh negara produsen minyak, bukan pengusaha kilang.

Tahun 2008, kilang yang mengalami ‘over capacity’ sempat menikmati keuntungan besar ketika harga minyak mentah dunia mencapai $140 bpd dan permintaan clean oil tinggi. Hal ini tidak berlangsung lama karena mulai marak terjadi peningkatan kapasitas kilang untuk mengajar marjin keuntungan. Di Amerika Utara, kilang bayak menangguk utung karena harga minyak murah (tight oil), sedangkan di Eropa dan Asia, kilang mendapatkan marjin keuntungan yang tipis karena ‘overcapacity’ serta tekanan pemerintah dan konsumen untuk penurunan harga produk kilang.

Kilang-kilang besar biasa dibangun di negara penghasil minyak, demikian pula piha konsumer juga membangun storage/refinary di negara masing-masing untuk mengantisipasi kelangkaan minyak atau tingginya harga minyak, sehingga kedua hal tersebut turut andil sebagai penyebab overcapacity.

Diplomatic demand outlook
Minyak mentah Arab Saudi adalah jenis ‘heavy sour’, berkandungan sulfur tinggi hingga dapat menyebabkan hujan asam. Lebih mendekati atau cocok utk bahan bakar minyak (fossil fuel). Sedangkan produk WTI dan Brent adalah ‘light sweet’.

Lokasi kilang sangat menentukan prospek bisnis pengilangan. Di Amerika Utara, tingginya produksi domestik yang didukung oleh regulasi pembatasan ekspor minyak mentah mengakibatkan keuntungan besar usaha pengilangan. Produksi tinggi minyak mentah menyebabkan kilang dapat membeli minyak mentah dengan harga murah untuk dikonversi menjadi produk kilang yang lebih bagus. ini merupakan keuntungan besar kilang atas tanggungan biaya tinggi dari produsen dan konsumen. Sebaliknya, kilang di Eropa dan Asia mengalami tekanan karena harga minyak Brent dan sejenisnya adalah harga Amerika Utara, sehingga produsen tetap menikmati keuntungan besar, namun atas beban biaya kilang dan konsumen.

Seperti diketahui bahwa sifat dasar industri energi adalah perilaku sinuistik ‘pro-cyclical’, yaitu keyakinan akan adanya permintaan tinggi terhadap minyak di satu sisi, dan penurunan harga yang diakibatkanya karena terjadinya over capacity berhubung pengembangan infrastruktur berlebihan di sisi lain.

 

6. Globalisasi, Industrialisasi, dan Urbanisasi
Ada suatu keyakinan yang sepenuhnya tak bisa dibenarkan, misalnya: dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka akan bertambah pula kebutuhan energi, yang berarti akan bertambah pula polusi udara yang diakibatkannya.

Berikut ini beberapa hal yang tidak mendukung keyakinan tersebut di atas.

Perlambatan pertumbuhan populasi global
Populasi global memang meningkat, namun dengan pertumbuhan yang rendah. Populasi dunia pada tahun 2013 adalah 7 milyar orang, tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9 milyar dan 2100 akan menjadi 11 milyar orang. Pertumbuhan akan menurun, dimana saat ini sebesar 1,25% akan menjadi 0,25% per tahun. Bahkan, 50 tahun lagi pertumbuhan di Eropa Tengah dan Timur akan turun 30%, 22% di Italia dan 14% di Jepang. Artinya, pertumbuhan penduduk terus terjadi, meskipun secara rata-rata, kecil persentasenya.

Struktur usia telah berubah
Dalam model piramida demografi struktur penyebaran usia global, kelompok usia tua semakin bertambah jumlahnya relatif terhadap usia yang lebih muda. Ini akan berimplikasi pada pengeluaran global yang lebih dibutuhkan untuk keperluan pembiayaan pensiun, jaminan kesehatan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Perubahan model demografi ini juga akan berimplikasi pada kebutuhan energi, mengingat perbedaan usia dan area, akan mempengaruhi pola konsumsi energinya.

Pertumbuhan Populasi vs Pertumbuhan Ekonomi vs Pertumbuhan Kebutuhan Energi
Bagaimana pengaruh kebutuhan energi akan berperan dalam peningkatan ekonomi di masa depan? Yang terjadi selama ini adalah, secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi semakin justru berbanding terbalik dengan kebutuhan energi.

Populasi Amerika Utara hanya 5% dari populasi dunia, namun mengkonsumsi 24% total energi dunia. IEA memperkirakan bahwa pertumbuhan permintaan energi dunia dalam kurun waktu 2010-2040 sebesar 56% (1,1% per tahun), dengan distribusi regional tidak merata dimana dalam wilayah OECD sebesar 17% dan diluar OECD 90%. Tahun 2040, kebutuhan energi Tiongkok sebesar dua kali kebutuhan AS, atau empat kali India. Sedangkan dalam hal pertumbuhan ekonomi, IMF memperkirakan bahwa pertumbuhan GDP dunia dalam kurun waktu yang sama adalah 411% (3.6% per tahun), dimana 4,7% berada di luar wilayah OECD dan 2,1% di dalamnya. Dari sisi kebutuhan energi, bisa dibedakan dalam dua kategori besar yaitu: kebutuhan energi untuk pembangkit listrik dan industri; serta untuk bahan bakar transportasi.

Ringkasan dari data di atas adalah bahwa pertumbuhan penduduk sebesar 0,25% dan pertumbuhan ekonomi (GDP) sebesar 3,6% per tahun akan menghasilkan pertumbuhan konsumsi energi sebesar 1,5% per tahun.

 

7. Demand Destruction
Efisiensi adalah kunci utama untuk mengamankan Pasokan/Permintaan. Efisiensi bisa terjadi karena tekanan pasar (invisible hand), atau karena kebijakan pemerintah (visibke hand).

Hari ini, 1 dari 10 barrel minyak dunia akan berada di pompa bensin AS. Bila penggunaan bensin di AS bisa lebih irit, dari 24 mpg menjadi 34 mpg (mile per gallon), maka kebutuhan minyak dunia bisa berkurang sebesar 1,65 juta bpd atau sekitar 4% per hari. (30 MPG = 9,4 lt/100km)

Efisiensi dan campurtangan pemerintah merupakan upaya yang bagus untuk mengurangi ketergantungan energi asing, mengamankan cadangan dan menjaga lingkungan.

 

8. Demand Displacement
Dari diskusi dengan banyak pihak, penulis berpendapat bahwa mereka lebih fokus pada sisi Pasokan dan Biaya Produksi daripada sisi Permintaan, serta meyakini bahwa bbm tak akan tergantikan. Asumsi lain adalah negara produsen yakin bahwa mampu mengkontrol harga minyak. Asumsi-asumsi seperti ini jelas berbahaya, karena:

  1. Harga banyak ditentukan oleh Pasokan dan Permintaan.
  2. Konsumen tetap akan beralih pilihan bila harga minyak tinggi
  3. Negara produsen cenderung memberi subsidi berlebihan thd harga minyak tinggi ke konsumen (venezuela, timur tengah, indonesia).

Bahan bakar alternatif, sebagai ancaman eksistensi BBM mulai banyak dipergunakan, misalnya biofuel, gas alam, batubara cair, gas cair, dsb. Beberapa hal yang menjadi faktor penentu terjadinya konversi bahan bakar transportasi dari BBM ke alternatif lainnya adalah:

1. Nilai investasi
Mobil berbahan bakar Gas (NGV), mobil listrik (EV) atau hibrid (HEV) saat ini masih berharga mahal, namun dengan berkembangnya teknologi, harga akan turun, apalagi dengan ditunjang oleh adanya insentif pajak dan besarnya produksi.

2. Biaya operasi
Dengan rendahnya harga gas domestik (shale gas), juga rendahnya energi listrik, diharapkan penggunakan kendaraan transportasi berbahan bakar alternatif akan semaki banyak digemari.

3. Kenyamanan dan jarak penggunaan
Mobil berBBM memang saat ini masih mudah diperoleh, nyaman dan jarak tempuh lebih jauh dibandingkan dengan mobil berbahan bakar gas atau listrik, namun, sekali lagi, dengan pesatnya perkembangan teknologi, mobil berBBM akan tertinggal. Stasiun pengisian gas/listrik saat ini juga masih terbatas jumlahnya, namun masih terus bertambah bahkan bisa diisi di rumah sendiri.

4. Kinerja
Kinerja mobil berbahan bakar alternatif juga mempunyai kinerja yang bagus

5. Lingkungan dan subsidi
Isu lingkungan dan Perubahan Iklim mulai banyak menyerang kebijakan penggunaan bahan bakar fosil

6. Keselamatan
Seringkali yang dikhawatirkan adalah keamanan tanki bahan bakar gas yang mudah meledak. Tidak benar, karena uji kelayakan/keamanan sudah membuktikan bahwa tanki gas adalah aman.

7. Keamanan pasokan
Jelas bahwa pasokan gas di AS tidak akan mengkhawatirkan, mengingat besarnya jumlah cadangan gas dari Shale Gas yang tersedia.

Mengapa mobil listrik sulit berkembang?

  1. Insentif milyaran dollar dari pemerintah AS utk pabrik mobil konvensional
  2. Pajak atas minyak. Pendapatan pajak bensin (petrol) dan diesel (solar) di Uni Eropa sebesar E 250 milyar
  3. Kesalahan model di industri mobil menyebabkan harga mobil semakin mahal. Hanya sistem ‘bahan bakar’ yang diubah, bukan kesuluruhan desain mobil yang diganti.

Kebutuhan peningkatan kapasitas pembangkit listrik

Pembangkit listrik sangat padat modal sehingga diperlukan kemampuan untuk terus dapat beroperasi hingga 60 tahun atau lebih, sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan. Selanjutnya perlu dipertimbangkan pilihan efisiensi teknologi untuk mempercepat dan miningkatkan keuntungan, mengingat pembangkit listrik bisa didukung oleh berbagai bahan bakar seperti gas, minyak, batubara, uranium, air, angin atau matahari. Yang terjadi kemudian adalah energy mix dengan memperhitungkan keamanan pasokan, keekonomian dan lingkungan.

Pembangkit listrik di AS ditopang berturut-turut oleh batubara sebesar 45%, gas 23% (terus tumbuh), nuklir 20%, PLTA 7%, Tenaga angin 2% dan minyak 1% (terus turun). Di Eropa, nuklir, batubara dan gas masing-masing sebesar 25%, PLTA 15%, minyak dan tenaga angin masing-masing 3%. Di Jepang, tenaga nuklir, batubara dan gas masing-masing 27%, sementara minyak masih 8% dan PLTA 8%. Pembangkit listrik di Tiiongkok menggunakan 80% batubara dan 16% PLTA; seadngkan India menggunakan batubara 69% dan PLTA 13%.

Tentang Energi Nuklir, AS, Perancis dan Tiongkok berada dalam sikap yang sama untuk melanjutkan penggunaan dan pengembangannya. Sementara Jerman dan Itali memilih untuk melakukan moratorium penambahan tenaga Nuklir, namun tetap mengimpor listrik dari dari Perancis yang nota bene dibangkitkan oleh Tenaga Nuklir.

The energy domino
Tahun 2013, harga tenaga listrik di Jerman hampir setengah dari harga tahun 2009. Pada kurun waktu yang sama, produsen sel surya yang menjamur di Jerman ‘memaksa’ turunnya biaya produksi karena ekspektasi permintaan yang terlalu optimistik. Perubahan permintaan (substitusi) terjadi karena adanya pilihan energi yang lebih murah dan pasokan yang mudah diperoleh.

Perhitungan kasar menunjukkan bahwa emisi gas CO2 yang diakibatkan oleh penggunaan Gas Alam sebagai pembangkit listrik sebesar 1/3 kali penggunaan batubara. Selain karena kelemahan batubara dalam hal emissi CO2, batubara juga lebih mahal dibanding Gas Alam, yang berlimpah cadangannya di AS (shale gas).

Sebaliknya di Eropa, harga pembangkit listrik tenaga batubara justru lebih murah dibanding menggunakan gas alam, karena biaya emisi CO2 relatif rendah dan tingginya kebutuhan LNG.

Mobil berbahan bakar gas alam, listrik, hibrid, CBM, LNG, biofuel, sel surya, dll; tak jelas benar bahan bakar apa yang akan dominan, namun satu hal yang jelas adalah bahwa BBM akan tergantikan atau paling tidak semakin berkurang penggunaannya.

Nilai kepemilikan beberapa produsen batubara terbesar di AS semakin turun dalam beberapa tahun ini sehingga menimbulkan efek domino “cheap becomes cheaper”.

 

9. Regulasi dan Intervensi Pemerintah
Regulasi lingkungan hidup di AS menuntut adanya energy mix untuk mengurangi polusi udara melalui penggunaan energi terbarukan, namun justru berakhir dengan solusi penggunaan batubara yang bahkan meningkatkan polusi, menggantikan gas alam.

Dalam konteks pemilihan sumber pembangkit listrik, jargon “freedom of choice” menimbulkan tanya “apakah konsumer akan menentukan kebutuhannya atau pemerintah yang akan menentukannya?”. Pengalaman menunjukkan selalu ada ‘kepentingan’ di belakang choice.

Regulasi vs pasar
Regulasi tetap dibutuhkan dalam mekanisme pasar bebas. Persoalan regulasi akan muncul bila bercampur dengan agenda politik, kebutuhan jangka-pendek, digunakan untuk menekan mekanisme pasar atau desain kebijakan/regulasi itu sendiri memang tidak bagus.

Kebijakan lingkungan juga mempunyai andil besar dalam pasar energi. Misalnya, Maret 2014, Tiongkok mencanangkan “perang melawan polusi”. Kebijakan tersebut berdampak strategis karena akan mempengaruhi desain penggunaan energi, mengingat batubara sebagai sumber utama pembangkit listrik, dinilai tidak ramah lingkungan.

 

10. Fiscal, Monetery, and Macroeconomic Flatteners

The “OPEC put”
Sering pasar berpendapat bahwa harga yang ditentukan oleh OPEC, “OPEC put”, merupakan ketentuan harga dasar yang mampu dipertahankan oleh OPEC dengan cara pengurangan produksi. Namun kenyataannya tidak demikian, OPEC tidak akan mengurangi produksinya hingga tidak berproduksi, untuk mempertahankan harga minyak; karena itu berarti 0 revenue, keluar dari pasar, tidak memenuhi kontrak perdagangan dan secara teknis akan membahayakan operasi produksi.

Yang terjadi adalah perubahan strategi dari “defence of price” ke “defence of volume”. Memproduksi minyak lebih banyak dengan harga rendah dengan harapan revenue tetap tinggi.

Studi APIC (Arab Petroleum Investment Corporatiin) menunjukkan bahwa breakeven price meningkat dari 2010 $77/bbl menjadi $100/bbl tahun 2013.

 

Implikasi dan Peluang dalam Pasar Finansial
Pada umumnya, pengusaha mempunyai tiga karakteristik yang khas, yaitu: sebagai penjual yang baik, reaktif dan berpandangan optimis. Sedangkan karakter Think against the box ditunjukkan dengan kemampuan mengidentifikasi inkonsistensi dan siklus perubahan atau setidaknya memahami tingkat potensi resiko yang dihadapi dan kemungkinan penyelesaian masalahnya.

Penulis meyakini bahwa gas alam akan menjadi pemenang dalam revolusi energi, namun tidak menyarankan untuk investasi dengan cara ETF (exchange traded fund) karena dua hal:

  1. Gas alam akan menjadi pemenang dalam hal besarnya volume, bukan dalam hal harga
  2. ETF gas alam AS cukup rumit, bahkan merupakan investasi yang berresiko tinggi

Kerumitan ETF ini menyangkut relasi antara commodity prices vs commodity equities. Commodity prices adalah harga minyak mentah, sedangkan commoditiy equities adalah harga perusahaan. Seringkali para pemain ETF berasumsi bahwa naiknya harga minyak akan berakibat naiknya harga perusahaan, atau berkorelasi positif. Kenyataannya tidak mesti demikian, bahkan bisa berkorelasi negatif, karena beberapa hal, misalnya:

  1. Semakin tinggi harga minyak mentah, semakin tinggi juga resiko terjadinya kenaikan pajak, ekspropriasi, bahkan nasionalisasi
  2. Pemogokan buruh, kekacauan pasokan, kebijakan ‘hedging’, resiko flujtuasi mata uang, lingkungan (kasus BP),

Berbagai resiko tersebut akan berdampak pada valuasi komoditi yang cenderung turun, dinamis dan tidak stabil seiring berjalannya waktu. Mudahnya, komoditi ekuiti ditentukan oleh harga minyak sebesar 1/3 bagian, dan sisanya 2/3 bagian ditentukan oleh faktor-faktor lain (spt tsb di atas), yang tidak berhubungan dengan harga minyak.

Pendapatan Arab Saudi sebesar 90% disumbang oleh minyak. Kebijakan ekonomi dan kebijakan luar negeri Riyadh sepenuhnya bergantung pada minyak. Rencana diversifikasi pemerintah Arab Saudi akan fokus pada bidang energi, pembangkit listrik, eksplorasi gas alam dan produk-produk petrokimia, yang semuanya berhubungan dan didukung oleh industri perminyakan. Arab Saudi membutuhkan 40% minyak per kapita lebih banyak daripada AS, atau lebih dari 3 kalinya Jerman atau Perancis.

Arab Saudi juga merupakan negara dengan subsidi per kapita terbesar di dunia, dan merupakan negara ke-2 di dunia terbesar nilai subsudi absolutnya, $43 milyar (2012), dibawah Iran, sebesar $61 milyar (2012) dengan jumlah penduduk hampir tiga kalinya, 76 juta orang. Arab Saudi menjual minyak untuk keperluan domestik seharga $5 – $15 per barrel.

Negara-negara yang banyak menghamburkan uang untuk subsidi harga bahan bakar minyak, pada umumnya adalah negara-negara produsen minyak, seperti Arab Saudi, Iran, Rusia dan Venezuela (juga Indonesia), yang penggunaan utamanya untuk keperluan sosial dan pembiayaan lainnya, tidak hanya untuk keperluan biaya produksi minyak. Bahkan di Tiongkok dan India, juga Indonesia, dibutuhkan untuk keperluan mengatasi inflasi.

Masalah kemudian akan timbul ketika kebutuhan subsidi yang semakin tinggi akan mendorong harga ‘breakeven’ minyak, untuk menyeimbangkan budget. Harga tinggi bisa diperoleh dengan mengurangi produksi, sedangkan sebagai negara produsen, membutuhkan pendapatan yang semakin tinggi dari peningkatan volume penjualan, maka pada akhirnya akan kesulitan mengurangi produksi daan harga semakin tinggi.

Harga minyak masih mungkin untuk turun, dengan cara melakukan substitusi bahan bakar minyak ke penggunaan gas untuk keperluan transportasi. Dan menurut penulis, hal ini akan menjadi faktor pengganjal dominasi OPEC.

Venezuela telah terperangkap dalam kasus subsidi harga minyak yang semakin besar. Inflasi semakin tinggi dan rakyat sudah termanjakan dengan harga minyak murah.

 

Penutup
Mengingat begitu stragisnya nilai energi bagi suatu negara sebagai agen pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri, maka ‘pertarungan’ akan terus berlangsung antara produsen dan konsumen untuk mencapai keseimbangan kepentingan dan memenangkan kompetisi.

Pertarungan ini umumnya pada aspek ketahanan pasokan energi, dan juga pembiayaan. Dan yang paling utama adalah aspek teknologi dan sumberdaya untuk bisa menghasilkan energi dengan harga yang terjangkau, volume besar dan ramah lingkungan.

Pada akhirnya, pemenang utama dalam revolusi energi adalah konsumen, yang mempunyai akses lebih dan murah terhadap energi.

Ada beberapa ciri pemenang dan yang kalah dari hasil pertarungan keras ini, yaitu:

Pemenang, adalah mereka yang:

  • tidak menganggap penting kecenderungan (trend) pasar dan lebih berpegang pada return on capital sebagai panduan, tanpa harus mengkesampingkan kebijakan.
  • memahami bahwa keyakinan berlebihan terhadap kenaikan Permintaan tidak dapat dijadikan dasar untuk investasi
  • memahami bahwa pasar energi bersifat alami ‘pro-cyclical’, yang bisa jatuh karena oversupply sehingga perlu sifat lentur dalam menghadapi berbagai perubahan
  • memahami kebutuhan dukungan perusahaan energi yang berkelanjutan
  • menyadari sepenuhnya bahwa pemerintah rela mengeluarkan uang demi ketahanan pasokan energi daripada keuntungan finansial

Yang kalah, akan:

  • jatuh dengan cepat karena salah memanfaatkan insentif pemerintah dan terlalu cepat bertindak berdasar gejala-gejala jangka pendek
  • melihat kredit sebagai solusi alternatif untuk ekspansi balance sheet yang menyebabkan sisi finansial semakin rapuh
  • berharap ada perubahan kebijakan untuk dapat menyelesaikan kesalahan strategik perusahaan
  • menunggu perubahan siklus pasar

Akhir dari kompetisi ini semua adalah energi murah dan tersedia bagi semua konsumen.

 

Penulis
Daniel Lacalle is an economist, fund manager and certified financial analyst specialised in Global Energy with experience in equities, bonds and commodities.

Diego Parrilla is a Hedge Fund Manager at BlueCrest Capital Management where he runs a portfolio of liquid macro commodity strategies. A Master of Science in Mineral Economics from the Colorado School of Mines in the USA, and a Master of Science in Petroleum Economics and Management by the French Institute of Petroleum in Paris. France. Diego currently resides ln Slngapore with his wife and three children.

 

Kritik buku

  1. Bagi pemula dalam dunia migas, buku ini sangat direkomendasikan karena padat informasi, khususnya dalam hal ‘permainan’ pasar energi dunia.
  2. Dari sisi penyampaian, perubahan subtopik bahasan cenderung melompat-lompat sehingga bahasan topik terkesan tidak tuntas, atau sepotong-sepotong.
  3. Daftar Pustaka pada akhir masing-masing bab sangat membantu untuk mengetahui lebih dalam tentang pokok bahasan.

 

Daftar Pustaka
1.  Lacalle and Parrilla, The Energy World Is Flat
2. Who benefits from lower oil prices?

Judul buku: The energy world is flat
Penulis: Daniel Lacalle dan Diego Parrilla
Jumlah halaman : 310
Penerbit: Wiley
Tahun: 2015

 

Read Full Post »

whatmoneycantbuyJudul: What money can’t buy

Sub-judul: The Moral Limits of Markets

Penulis: Michael J. Sandel

Format: eBook

Penerbit: Farrar, Straus and Giroux/ New York

Tahun: 2013

Setelah bukunya tentang kritik moral yang terkenal, ‘Justice: What’s the Right Thing to Do?, dan kemudian banyak didiskusikan di berbagai universitas di dunia, maka kembali muncul buku kedua Michael J. Sandel, masih tentang kritik moral, yang berkenaan dengan semakin meningkatnya komodifikasi berbagai hal ke dalam kehidupan sosial, keluarga dan individu yang melindas berbagai nilai kebajikan yang ada selama ini.

Mekanisme Pasar dan Moral

Dalam bab Pendahuluan bukunya, Sandel menulis kalimat pembuka yang mengganggu: “There are some things money can’t buy, but these days, not many. Today, almost everything is up for sale”.

Benar adanya, begitu banyak penawaran berlalu-lalang di depan kita, baik saat berada di ruang publik maupun ruang privat; melalui media cetak, elektronik bahkan penawaran secara langsung. Namun, tak semua penawaran tersebut mampu terbeli oleh setiap orang. Juga, tak semua penawaran tersebut memang layak untuk diperjual-belikan atau paling tidak, masih menjadi perdebatan moral dalam masyarakat, misalnya perdagangan hak emisi karbon, penawaran kewajiban antrian untuk mendapatkan tiket apapun, perdagangan organ tubuh, menyediakan diri untuk percobaan pengobatan dll. Kelayakan moral inilah yang menjadi pokok bahasan buku Sandel ini.

Saat ini kita berada dalam kurun waktu dimana hampir semua hal dapat diperjual-belikan. Mungkin, hampir lebih dari tiga dekade ‘pasar’ atau tepatnya ‘nilai-nilai pasar’ telah merasuki kehidupan kita tanpa terasa. Ekonomi telah menjadi domain imperial yang menerobos masuk ke segala bangsa di dunia. Kini, logika jual-beli tidak hanya berlaku terhadap kebutuhan saja, namun sudah menguasai hampir segala segi kehidupan, bahkan untuk hal yang tidak dibutuhkan sekalipun. Betulkah kita memang menginginkan kehidupan yang seperti ini?

Era Kejayaan Pasar

Dalam konteks AS, era ini dimulai pada awal 1980an, saat Ronald Reagen dan Margaret Thatcher mencanangkan bahwa mekanisme pasar, bukan pemerintah, merupakan kunci kesejahteraan dan kebebasan. Ini berlanjut di tahun 1990an ketika Bill Clinton dan Tony Blair memoderasi mekanisme pasar yang lebih ‘bersahabat’ dengan esensi yang tetap sama bahwa kapitalisme adalah jalan utama menuju kesejahteraan masyarakat. Saat ini, masa kejayaan mekanisme pasar mulai surut (baca: The End of Normal) mengingat runtuhnya finansial global di tahun 1998 dan 2008. Banyak pihak beranggapan bahwa nilai moral dalam jantung kejayaan mekanisme pasar adalah keserakahan, yang berujung pada tindakan yang sangat berresiko dan sulit dipertanggungjawabkan.

Namun demikian, tidaklah cukup hanya melakukan cercaan terhadap nilai keserakahan, melainkan perlu kepekaan kritis terhadap tindak perilaku pasar dalam masyarakat kita, termasuk batasan-batasan moral dalam menentukan barang dan jasa yang layak diperdagangkan. Mekanisme pasar, dan budaya berpikir yang berorientasi pasar, telah menjangkau bahkan mulai menguasai norma-norma kehidupan tradisional dan ini merupakan capaian budaya kapitalisme yang sangat signifikan pada saat ini.

Kekuasaan pasar yang telah menjangkau sektor kesehatan, pendidikan, keselamatan publik, keamanan nasional, lingkungan, dan kebutuhan sosial lainnya merupakan hal yang tidak lazim terjadi 30 tahun yang lalu di AS. Hari ini, semua itu telah kita telan tanpa menyadarinya. Semua hal ada ‘harga’nya.

Semua ada ‘harga’nya

Pertanyaan Sandel “Mengapa khawatir arah kehidupan sosial dimana semua hal dapat diperdagangkan?”. Jawabnya adalah karena alasan Kesenjangan dan Korupsi.

Dalam masyarakat dimana semua hal diperdagangkan, maka kehidupan semakin berat bagi masyarakat berpendapatan rendah dan kesenjangan ekonomi akan semakin lebar. Juga, komodifikasi semua hal akan mempertajam rasa ketidak-setaraan sehingga memacu untuk lebih bernafsu mendapatkan atau ‘mendewakan’ uang.

Pendapatan tinggi dan kekayaan berlebih masih belum menjadi persoalan penting bila dipergunakan untuk belanja barang-barang mewah, namun akan menjadi ‘berbahaya’ bila dipergunakan untuk keperluan belanja politik, kemudahan atau eksklusif terhadap akses pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan perumahan, yang seharusnya menjadi hak publik.

Alasan kedua berhubungan dengan kecenderungan pasar yang merusak. Memberikan harga (uang) terhadap sesuatu yang ber’nilai’ dalam hidup adalah tindak yang merendahkan atau merusak nilai itu sendiri.

Ketika kita memastikan bahwa suatu barang bisa diperjual-belikan, maka itu berarti bahwa secara implisit barang tersebut layak diperlakukan sebagai komoditi atau instrumen yang berguna dan bisa menguntungkan. Namun sejatinya tidak semua barang dapat diperlakukan seperti itu. Contoh yang paling jelas adalah manusia. Perbudakan dikecam karena memperlakukan manusia sebagai komoditi yang dapat diperjual-belikan. Perlakuan tersebut gagal memberikan nilai kemanusiaan dimana manusia seharusnya diperlakukan sebagai makhluk yang dihormati dan memiliki harga diri, alih-alih diperlakukan sebagai obyek atau alat untuk memperoleh keuntungan belaka.

Kelaziman di Indonesia saat pemilu atau pilkada untuk memilih anggota DPR/D atau Pemimpin Daerah atau Presisen, banyak terjadi ‘perdagangan’ suara, sehingga ‘pesta demokrasi’ menjadi barang mewah, alias mahal. Komodifikasi ‘suara’ jelas secara moral tidak dapat dibenarkan, karena pemungutan suara adalah hak/kewajiban warga negara, bukan hak personal yang dapat dirubah seenaknya menjadi komoditi. Contoh sederhana ini menjelaskan bahwa merubah hak mulia sebagai warganegara menjadi komoditi akan merusak atau merendahkan nilai hak itu sendiri, atau lazim disebut sebagai Korupsi Nilai.

Untuk menentukan posisi suatu barang, apakah berada dalam mekanisme pasar atau tidak, dan bagaimana menentukan ‘nilai’ terhadapnya, perlu dilakukan pengkajian moral dan politis secara kritis (kesehatan, pendidikan, keluarga, sumberdaya alam, seni, kewajiban warganegara, dll.), bukan pengkajian ekonomi.

Komodifikasi banyak hal telah menyeret kita semua dari Ekonomi Pasar (Market Economy) ke dalam Masyarakat Pasar (Market society), dan perbedaan yang jelas dari kedua hal tersebut adalah: Ekonomi Pasar merupakan sebuah alat yang berharga dan efektif untuk mengatur aktifitas produktif; sedangkan Masyarakat Pasar adalah cara hidup, dimana nilai-nilai Pasar telah menyerap semua aspek kemanusiaan. Ini adalah sebuah tempat dimana hubungan-hubungan sosial dibangun berdasar nilai-nilai Pasar.

Perdebatan besar yang hilang dalam kultur politik kontemporer adalah aturan-aturan dan jangkauan pasar-pasar tersebut. Misalnya: Apakah kita menginginkan Ekonomi Pasar atau Masyarakat Pasar? Aturan pasar seperti apa yang bisa menjangkau kehidupan publik dan hubungan antar personal? Bagaimana kita menentukan bahwa sesuatu bisa diperjual-belikan atau tidak? Dan, bagaimana menentukan sesuatu tersebut berada dalam kategori nilai-nilai keutamaan (non-market value)? Dalam hal apa, uang tidak berlaku? Hal-hal inilah yang akan dijawab dalam buku ini.

Pemikiran kritis terhadap peran dan jangkauan Pasar di dalam masyarakat perlu dimulai dari dua hal penting, yaitu:

  1. Masih kuatnya basis pemikiran Mekanisme Pasar, walaupun telah terjadi kegagalan pasar yang parah dalam 80 tahun ini.
  2. Ketiadaan wacana publik tentang batas-batas moral terhadap praktek Mekanisme Pasar

Seperti banyak kritikus kapialisme, Sandel juga berpendapat bahwa Era kejayaan Pasar telah usai dan sekarang saatnya mulai mempertimbangkan tentang pentingnya nilai-nilai kebajikan atau moral. Krisis finansial global 2008 sedikit meruntuhkan kepercayaan publik terhadap Mekanisme Pasar, meskipun lebih mendiskreditkan pemerintah, daripada sistem perbankan.

Masalah perpolitikan di AS, juga Indonesia, bukannya lamban mengambil putusan dalam hal masuknya nilai-nilai Pasar karena terlalu banyak pertimbangan moral, melainkan justru terlalu sedikitnya komponen moral dan spiritual dalam pertimbangan keputusan politik. Wacana politik para pimpinan negeri juga telah gagal dalam mengakomodir kepentingan rakyatnya. Beberapa penyebab kekosongan moral dalam politik kontemporer, salah satu penyebabnya adalah justru karena adanya upaya memendam wacana publik untuk memperbaiki kehidupan sosialnya (swa-sensor).

Dengan harapan menghindari konflik sektarian, seringkali kita memaksakan diri untuk memendam atau meninggalkan keyakinan moral dan spiritual ketika berada di ruang publik. Alasan-alasan demi kebebasan pasar juga menyebabkan hilangnya argumen moral kehidupan masyarakat. Salah satu sifat daripada Pasar adalah ketidakpeduliannya terhadap penilaian yang terlalu tinggi atau terlalu penting terhadap suatu barang atau tindak sosial. Perdebatan masyarakat tentang batasan-batasan moral mekanisme pasar akan bermuara pada kesimpulan apakah suatu pasar akan melayani kepentingan masyarakat atau tidak.

Dalam buku ini, Sandel banyak memberikan contoh kasus praktek mekanisme Pasar yang layak diperdebatkan dari sisi moral, misalnya membayar orang untuk menggantikan dirinya dalam antrian, sistem ‘3 in1’ (3 penumpang dalam 1 mobil) supaya mobil dapat menggunakan jalan raya tertentu, biaya tol yang lebih mahal untuk dapat menggunakan jalan yang lebih lengang, dll.

Pendekatan keekonomian dalam praktek sosial sehari-hari

Pada umumnya, para ekonom tidak berkepentingan dengan nilai moral, setidaknya merasa bukan dari bagian kewajiban seorang ekonom untuk mempertimbangkannya. Menurutnya, bagian dari pekerjaan mereka adalah menjelaskan perilaku manusia, bukan menilainya. Norma-norma seperti ‘apakah yang mengatur berbagai macam aktifitas?’ atau ‘bagaimana harus memberikan nilai semua itu?’, bukanlah bagian dari pekerjaan mereka. Sistem harga lah yang menentukan nilai suatu barang sesuai kesepakatan masyarakatnya,  bukanlah berdasarkan nilai kepentingan atau kecocokan. Namun demikian, persoalan moral ini tetap membayangi langkah para ekonom, setidaknya dalam dua hal: pertama karena perubahan jaman dan kedua, karena perubahan cara pandang ekonom terhadap subyek.

Pada beberapa dekade yang lalu, pasar dan pemikiran yang berorientasi pasar berada pada suatu keadaan dimana kehidupan tradisional diatur oleh norma-norma luhur bukan pasar. Seiring dengan  berjalannya waktu, semakin banyak nilai ‘harga’ dikenakan terhadap setiap hal, yang sebelumnya bukanlah barang ekonomi. Misalnya, program Insentif Sterilisasi, Penurunan Berat Badan, antrian, dll.

Di era modern ini, ekonom berpendapat bahwa ekonomi tidak hanya berhubungan dengan produksi dan konsumsi barang/jasa saja, namun juga merupakan ilmu tentang perilaku manusia. Diberbagai aspek kehidupan, perilaku manusia dalam pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan lebih dahulu ‘costs and benefits’ untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Bila idea ini benar, maka setiap hal akan mempunyai ‘harga’. Harga tersebut bisa eksplisit, seperti mobil, kulkas, daging dll; atau bisa juga implisit, seperti perkawinan, anak, pendidikan, aktifitas kriminal, diskriminasi rasial, partisipasi politik, lingkungan atau bahkan kehidupan manusia. Peduli atau tidak, semuanya itu akan berada dalam ranah hukum ekonomi, yaitu ‘supply and demand’.

Sandel menyajikan buah pikirnya dalam lima bab besar, yaitu Pendahuluan, kemudian dilanjutkan dengan kajian kritis moral Antrian di bab 1, lalu persoalan tentang program insentif yang tidak pada tempatnya di bab 2. Konsep tentang bagaimana Nilai-Nilai Pasar telah menguasai Nilai-Nilai kebajikan yang telah ada sebelumnya, berada pada bab 3. Persoalan moral tentang perdagangan asuransi jiwa disajikan dalam bab 4, dan terakhir, bab 5 adalah tentang periklanan sebagai mekanisme pasar yang sudah masuk dalam wilayah privat.

1. Perdagangan Jasa Antrian

Pada bab ini Sandel mengkritisi perilaku antrian sebagai bagian aktifitas keseharian. Prinsip dari usaha jasa ini adalah mendapatkan urutan terdepan tanpa harus bersusah-payah turun mengantri. Misalnya, membayar orang untuk berada dalam antrian untuk mendapatkan tiket travel, tiket theater, pelayanan dokter, dll.

Ini praktek ‘ketertiban’ publik yang buruk dan sudah lama terjadi, bahkan sudah berkembang kearah ‘ketidakadilan’ dengan munculnya para ‘calo’. Berikut ini adalah beberapa contoh yang berkaitan dengan usaha jasa antrian.

Jalur Cepat

British airlines di bandara Inggris dan United Airlines di AS menyediakan fasilitas Fast Track bagi penumpang kelas eksekutif, yaitu layanan khusus untuk penumpang sehingga mendapat kesempatan untuk melewati imigrasi dan security check-in tanpa harus mengantri bersama penumpang kelas ekonomi. Persoalan muncul ketika penumpang kelas ekonomi juga diijinkan menggunakan fasilitas Fast Track, bila bersedia membayar dengan harga tertentu.

Security checks, adalah masalah keamanan nasional, seharusnya tidak mengenal perbedaan kelas sosial, sehingga perlakuan istimewa terhadap penumpang yng mampu membayar lebih, tidak dapat dibenarkan.

Banyak pihak merasa keberatan terhadap ide penjualan hak untuk berada di posisi depan dalam suatu antrian untuk dapat menggunakan fasilitas publik, dengan cara apapun. Alasan mendasar penolakan ini adalah bahwa si kaya akan selalu mendapatkan pelayanan utama dibanding si miskin untuk dapat menggunakan fasilitas publik yang sama, karena kemampuan daya beli yang tinggi..

Jasa Layanan Antrian

Jasa layanan untuk menempatkan orang tetap berada dalam barisan antrian dengan maksud mendapatkan tiket yang akan dibayar oleh pemesan sehingga tidak perlu harus turut bersusah-payah mengantri untuk mendapatkannya.

Di AS, ketika Congress mengadakan ‘dengar pendapat’, panitia akan menyediakan kursi untuk para awak media dan masyarakat umum dalam jumlah terbatas berdasar antrian.

Karena para pelobi sangat berminat untuk hadir maka mereka menggunakan perusahaan jasa ‘pengantri’ yang akan untuk berbaris dalam antrian selama semalam sehingga bisa mendapatkan kursi tamu. Biaya untuk jasa antrian ini bisa sampai ribuan dollar. Sarikat Pekerja di AS menganggap pekerjaan sebagai tenaga antrian adalah bagian dari ekonomi pasar bebas.

The Washington Post dalam editorialnya, menentang praktek perdagangan antrian dan menganggapnya sebagai tindak yang merendahkan Congress dan melecehkan masyarakat.

Calo Tiket Pelayanan Kesehatan

Di rumah sakit papan atas di Beijing, sudah menjadi ‘lazim’ bahwa untuk segera mendapatkan pelayanan dokter, bisa membeli ‘tiket’ sehingga tidak perlu berlama-lama menunggu dalam antrian. Sistem seperti ini jelas tidak dapat dibenarkan mengingat orang yang lebih sehat dan mungkin tidak harus segera memerlukan perawatan dokter, justru bisa mendapatkan kesempatan lebih dahulu dibanding pasien yang lebih parah, hanya karena mempunyai uang lebih.

Apakah pasien yang mempunyai uang dan bersedia membayar lebih, berhak untuk melewati antrian dan mendapatkan pelayanan lebih dahulu dibanding pasien lainnya?

Makna Moralitas Pasar

Etika antrian adalah “first come, first-served”, yang bersifat egaliter dan berkeadilan, tanpa memperdulikan kekuasaan dan uang, namun dari ketiga contoh di atas, kini sudah berubah menjadi “you get what you pay for”. Pergeseran makna ini menjadi semakin besar dengan semakin luasnya jangkauan pasar dan uang, hingga memasuki segala aspek kehidupan, yang sebelumnya dikuasai oleh norma-norma sosial kemasyarakatan (bukan Pasar).

Mengkritisi benar/salah terhadap perilaku antrian di atas, dapat memberikan masukan pemikiran tentang seperti apakah sejatinya moralitas pasar ini. Terlihat bahwa mereka punya rasa simpati yang rendah terhadap etika antrian.

Kasus moralitas pasar terhadap etika antrian di atas, bisa diturunkan dalam dua hal, yaitu:

  1. Penghargaan terhadap kebebasan individu (libertarian). Masyarakat seharusnya bebas intuk menjual/membeli apapun yang dibutuhkan sejauh tidak melanggar hak pihak lain
  2. Memaksimalkan kepuasan publik (utilitarian). Mekanisme Pasar akan memberikan keuntungan para pihak, baik pembeli maupun penjual, hingga dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya.

Mekanisme Pasar atau Antrian?

Dari beberapa contoh kritik moral perilaku Pasar terhadap sistem antrian, muncul pendapat bahwa hal ini menempatkan masyarakat biasa dalam posisi yang dirugikan karena menjadi lebih sulit bagi mereka untuk bisa mendapatkan tiket, berhubung tidak mampu membayar jasa antrian atau membeli harga tiket lebih mahal melalui caĺo. Ini alasan kuat penolakan mereka terhadap jasa antrian atau percaloan.

Banyak ekonom berpendapat bahwa seseorang bersedia membayar lebih untuk bisa mendapatkan barang/jasa karena mengerti dan menghargai lebih tinggi terhadap nilai barang/jasa yang diinginkannya. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena banyak penonton sepakbola yang rela berhimpit-himpitan dalam antrian hanya untuk mendapatkan tiket paling belakang, justru sangat mengerti permainan dan pemain bola yang akan ditontonnya, dibanding para penonton yang duduk di kursi VVIP, yang mungkin saja hanya karena mempunyai kekuasaan atau finansial lebih untuk mendapatkan kursi tersebut dengan mudah.

Dengan demikian, argumen utilitarian bahwa mekanisme pasar selalu lebih baik daripada sistem antrian untuk mendapatkan suatu barang/jasa, tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya mekanisme pasar merupakan cara yang tepat bagi pihak yang bersedia membayar lebih mahal karena nilai barang/jasa yang memang lebih tinggi, namun ada kalanya sistem antrian yang lebih tepat.

Mekanisme Pasar dan Korupsi Nilai

Pendekatan Utilitarianisme, dengan sifatnya yang mengutamakan sisi kuantitatif daripada kualitatif, tanpa sadar sering kali menjadi praktek penyelesaian masalah sosial di jaman modern sekarang ini, yang berimplikasi terjadinya ketidakadilan moral. Metoda Cost-Benefit analysis untuk menyelesaikan kasus-kasus lingkungan/sosial adalah turunan dari teori pemikiran Utilitarian ini. Dengan pendekatan utilitarian, suatu barang dapat memiliki nilai tinggi, bahkan melebihi nilai kegunaannya untuk dapat diperjual-belikan (over value).

Sebaliknya, korupsi yang selama ini selalu diasosiasikan dengan keuntungan pendapatan yang diperoleh dari tindak penyalah-gunaan kekuasaan, dalam arti yang lebih luas, dapat diartikan melakukan penurunan ‘nilai’ (degradation) terhadap suatu barang/jasa atau tindak sosial.

Korupsi ‘nilai’ terjadi pada contoh di atas, ketika diperlukan biaya untuk masuk ruang sidang, atau membiarkan calo untuk mendapatkan keuntungan dari apa yang dimaksudkan pemerintah sebagai ‘hadiah’ untuk rakyatnya, yang seharusnya gratis. Perubahan festival publik menjadi sebuah bisnis, merupakan usaha untuk keuntungan pribadi yang tidak dapat dibenarkan. Seolah menonton pesta kembang-api pada perayaan Kemerdekaan, namun rakyat harus bayar.

Selain hal itu, ada ketidakadilan disini, dengan tersingkirnya masyarakat yang kurang mampu untuk turut masuk dalam ruang sidang, hanya karena tidak dapat membayar jasa antrian.

2. Insentif

Program-program insentif untuk mensukseskan program pemerintah, komunitas lokal ataupun misi keluarga juga mendapat perhatian Sandel, dari sisi moral. Beberapa contoh program insentif yang disajikan adalah:

– Sterilisasi

Project Prevention adalah program insentif sebesar $300 bagi para ibu yang mengalami ketergantungan obat-obatan (drug), untuk menunda kehamilan atau melakukan sterilisasi. Setiap tahun dilahirkam ribuan bayi dengan ketergantungan obat akibat dari perilaku para ibu tersebut. Lebih dari 3.000 perempuan telah mengambil kesempatan ini sejak program insentif ini diadakan oleh yayasan yang dipimpin oleh Barbara Harris pada tahun 1997.

Para kritikus Project Prevention menganggap program ini sebagai bentuk ‘penghinaan moral’ (morally reprehensible) atau tindak penyuapan untuk melakukan sterilisasi. Alih-alih membantu penyembuhan ketergantungan obat, program ini justru malah memberikan subsidi penggunaan obat, sehingga muncul ungkapan “Don’t Let a Pregnancy Ruin Your Drug Habit”.

Secara moral, program insentif semacam ini perlu diperdebatkan dengan dua alasan, yaitu Pemaksaan dan Penyuapan. Kategori Pemaksaan dimaksudkan karena tidak adanya ‘kehendak bebas’ untuk menolak tawaran sebesar $300 sebagai pengganti sterilisasi. Kondisi ketergantungan obat bagi pada perempuan yang pada umumnya berada pada situasi finansial yang lemah, tawaran program ini  dapat dirasakan sebagai suatu penyelamatan. Penyuapan adalah hal berbeda, karena didasari pada kesepakatan para pihak untuk menjual dan membeli. Yang ditentang dengan usaha  penyuapan, dalam hal ini adalah karena merupakan bagian dari tindak Korupsi, dimana ‘memperjual-belikan’ hak melahirkan anak, seberapapun tinggi nilai finansialnya, merupakan tindak korupsi nilai Moral. Pemaksaan tidak akan bisa diterima secara moral, berapapun tingginya nilai tukar yang ditawarkan. Untuk itu, perlu dilakukan uji Moral pada setiap transaksi Pasar yang terjadi, dengan mempertanyakan: pada kondisi apa suatu transaksi Pasar akan berrelasi dengan Kebebasan Kehendak (freedom of choice)? dan juga, pada kondisi seperti apa dapat dikategorikan sebagai Pemaksaan?

– Membayar siswa untuk berprestasi

Praktek insentif untuk memberikan semangat para siswa sehingga mampu mendapatkan hasil ujian yang baik di sekolahnya, sudah menjadi kelaziman di manapun, bahkan tidak perlu lagi diperdebatkan, baik secara finansial maupun moral. Logika ekonomi terhadap program insentif yang ‘berbau’ penyuapan ini adalah bahwa semakin banyak diberikan insentif/uang, maka semakin giat siswa belajar, dan semakin bagus hasil ujian. Ternyata logika ini tidak benar, program Advanced Placement (AP) di AS menunjukkan bahwa benar, insentif di bidang pendidikan bisa memacu prestasi siswa, namun tidak benar bahwa besarnya nilai insentif akan menentukan tingginya prestasi siswa. Program AP telah sukses mengubah kultur belajar siswa dalam memaknai sebuah keberhasilan tanpa terjebak dalam usaha ‘penyuapan’ siswa untuk mendapatkan hasil yang baik.

– Suap untuk Kesehatan

Norma ekonomi pasar juga telah memasuki sektor kesehatan. Kampanye pemerintah tentang kesehatan untuk menghentikan kebiasan merokok dan menurunkan kelebihan berat badan, ternyata tidak banyak membantu, atau gagal. Milyardan dollar telah habis per tahunnya untuk keperluan pengobatan tersebut, namun tetap tidak mengurangi angka perokok atau obesitas. Bukan karena kualitas obat atau nasihat dokter yang tidak bagus, melainkan karena rendahnya determinasi para pasien untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya, dokter dan asuransi merasa perlu menawarkan insentif kepada para perokok, penderita obesitas, pengidap penyakit jantung, stroke dan schizoprenia, untuk memotivasi dirinya supaya lebih serius mengikuti anjuran atau nasihat dokter dan mengkonsumsi obat-obat yang dianjurkannya. Di AS misalnya, para penderita potensi serangan jantung mendapatkan insentif $90/bulan untuk mengkonsumsi obat pencegahnya; demikian pula penderita schizoprenia di Inggris mendapatkan $22/bulan, atau para remaja putri mendapatkan $68 untuk dilakukan vaksinasi pencegah kanker rahim.

Muncul pertanyaan kritis berkaitan dengan moral, “perlukah program insentif untuk kebutuhan kesehatan bagi dirinya sendiri?”. Keberatan publik terhadap program insentif ini, pada umumnya didasarkan pada potensi adanya unsur Ketidakadilan dan Penyuapan.

Program insentif yang dibayarkan dari pendapatan pajak dirasakan banyak pihak sebagai bentuk ‘pemanjaan’ terhadap pengidap penyakit yang tak perduli pada kesehatan dirinya. Ini adalah penanganan yang tidak adil, mengingat masih banyaknya para pengidap penyakit yang serius membutuhkan bantuan keuangan untuk proses penyembuhannya.

Penanganan yang benar terhadap kesehatan pribadi adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri. Lebih dari 90% perokok di AS, yang telah menerima insentif, kembali menjadi perokok setelah 6 bulan sejak dihentikannya insentif.

– Insentif yang kurang tepat

Beberapa contoh lainnya tentang insentif terhadap aktifitas keseharian dalam keluarga, yang sering terjadi namun kurang pada tempatnya, misalnya:

– memberi uang kepada anak setiap kali mengucapkan ‘terimakasih’ saat menerima pemberian bantuan atau barang dari orang lain atau ‘maaf’ ketika melakukan kesalahan terhadap orang lain.

– memberi insentif uang kepada anak supaya sering membaca buku.

Maksud pemberi uang adalah memberi ajaran atau motivasi kepada anak untuk berbuat baik atau menghargai orang lain, namun bisa terjadi kesalahan tanggapan dari anak hingga menganggap kedua perbuatan tersebut hanya sebagai ‘alat’ untuk mengumpulkan uang dan tanpa sadar telah merendahkan nilai moral yang terkandung dalam maksud ajaran tersebut. Seperti diketahui, bahwa ‘aturan baku’ masyarakat yang berorientasi Pasar adalah kemampuan dan kemauan untuk membayar. Mekanisme Pasar bukanlah hanya alat perdagangan belaka, namun melekat di dalamnya adalah norma-norma. Begitu suatu tindak sosial dimulai dengan perilaku Pasar, maka selanjutnya norma-norma Pasarlah yang berlaku, dimana semua barang mempunyai nilai-nilai tukar finansial.

Denda vs Biaya?

Dalam hal kritik moral, Sandel memberikan pengertian yang jelas tentang perbedaan antaran Denda dan Biaya (fee). Denda bermakna adanya pelanggaran secara moral, sementara Biaya hanyalah harga transaksi semata tanpa adanya keterlibatan moral di dalamnya. Ketika Denda diperlakukan sebagai Biaya maka terjadi pengaburan pelanggaran moral didalamnya.

Didasarkan pada konsep Pasar dimana uang sebagai tolok-ukur nilai suatu barang, maka denda yang diperlakukan sebagai komoditi akan mudah terbeli oleh si kaya (a piece of cake).

– Kebijakan Satu Anak di Tiongkok

Di Tiongkok, denda sebesar kurang-lebih 200.000 yuan telah dikenakan terhadap para pelanggar kebijakan ‘1 anak’ sejak kebih dari 30 tahun yang lalu, untuk mengurangi pertumbuhan penduduk. Nilai denda sebesar itu terasa sangat berat bagi rata-rata pekerja, namun terasa ringan bagi para selebriti, pengusaha kaya atau olahragawan berprestasi. Banyak pihak menyesalkan para the haves yang bersikap arogan dengan membayar denda tersebut dengan ringan seolah membayar jasa murah untuk bebas menambah anak, dan mendesak pemerintah Tiongkok untuk memberikan hukuman sosial dan denda yang lebih besar sehingga bisa dirasakan oleh mereka bahwa perbuatan yang dilakukannya dengan mempunyai anak lebih dari satu adalah melanggar kebijakan pemerintah. Ada nilai moral dibalik kebijakan ‘1 anak’ yang diturunkan derajatnya dari status denda terhadap hukuman atas pelanggaran kebijakan, menjadi uang jasa (fee) yang bisa dibayarkan seenaknya, seolah pemerintah telah menjual hak untuk menambah anak bagi yang mampu membayarnya.

Perdagangan Ijin Polusi

Pilihan moral yang perlu dipikirkan oleh pemerintah dalam kaitannya dengan emisi karbon adalah:

  1. Menentukan batasan jumlah emissi dan memberikan sangsi bagi perusahaan yang melewati batas tersebut? Atau,
  2. Mengijinkan adanya perdagangan emissi ?

Perlu adanya keputusan pemerintah tentang arah kebijakan lingkungan. Mengijinkan negara untuk membeli hak jntik menyebarkan polusi, seperti halnya mengijinkan masyarakat untuk membeli tiket supaya bebas membuang sampah seenaknya.

Berdasar pada analogi yang sama, Sandel juga memberi contoh problematik moral tentang diberikannya ijin untuk berburu badak dan walrus.

Disini kita bisa temui bahwa pemaknaan Pasar tidaklah cukup tanpa pemaknaan moral.

Keterkaitan Insentif dengan Moral

Paul Samuelson penulis buku ekonomi yang kita pelajari semasa kuliah, mengidentifikasi masalah ekonomi adalah harga, upah, bunga, saham dan pinjaman, bank dan kredit, pajak dan belanja. Ekonomi menjelaskan depresiasi, pengangguran, inflasi, produktifitas, termasuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kini, ekonomi tidak hanya berhadapan dengan masalah produksi, distribusi dan komsumsi tapi juga tentang interaksi antar manusia, bahkan sudah menjadi panduan utama dalam setiap pengambilan keputusan dalam berbagai permasalahan sosial ataupun individual. ‘Insentif’ finansial adalah salah satu cara dalam sistem ekonomi pasar untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut di atas.

Steven D. Levitt, an economist at the University of Chicago, dan Stephen J. Dubner dalam bukunya Freakonomics menyatakan bahwa “insentif merupakan penanda kehidupan modern” dan “ekonomi sejatinya adalah studi tentang insentif”. Ini berarti nilai ekonomi pasar sudah masuk kehidupan sosial sehari-hari masyarakat jauh lebih dalam.

Insentif adalah bentuk intervensi dari para pembuat kebijakan (ekonom) untuk merancang, merekayasa dan melaksanakannya. Penurunan berat badan, ajakan bekerja keras atau pengurangan polusi bisa dilakukan dengan program Insentif ini. Para ekonom meyakini bahwa belum ada persoalan dunia ini yang tak terselesaikan dengan menggunakan cara insentif. Penyelesaian masalah dengan program insentif mungkin tidak selalu berjalan mulus, perlu paksaan, denda bahkan hukuman, namun masalah utama tetap dapa pada akhirnya terselesaikan. Insentif bagaikan sebuah peluru, yang sangat berkuasa untuk merubah keadaan. Inilah yang ditengarai Adam Smith sebagai “invisible hand“. Begitu Insentif menjadi ‘landasan kehidupan modern’, maka Ekonomi Pasar akan menjadi tangan yang kuat, berkuasa dan manipulatif.

Ungkapan Levitt and Dubner yang terkenal: “Morality represents the way we would like the world to work, and economics represents how it actually does work”.

Para ekonom sering berpendapat tidak benar bahwa Pasar tidak mempengaruhi nilai barang yang diaturnya. Pasar meninggalkan jejak pada norma-norma sosial. Bahkan sering terjadi bahwa Insentif, sebagai bagian perilaku Pasar, justru mendominasi nilai-nilai kebajikan yang ada sebelumnya.

3. Pasar yang mengalahkan Moral

Pada bab 3 dalam buku ini, Sandel kembali fokus pada pokok bahasan sesuai judul bukunya “Dalam hal apa sesungguhnya, uang layak dipergunakan atau tidak?”. Dengan cara yang berbeda, “Adakah yang tak terbeli oleh uang?”.

WHAT MONEY CAN AND CANNOT BUY

Dua azas penolakan ekonomi pasar yang umum dipergunakan untuk menilai kelayakan uang sebagai alat tukar, adalah:

  1. Azas Keadilan Ketidaksetaraan akses terhadap informasi dan kapital serta kondisi finansial personal menyebabkan rendahnya posisi tawar dalam perdagangan
  1. Azas Korupsi Merendahkan nilai-nilai kebajikan moral terhadap suatu hal yang seharusnya tidak untuk diperjual-belikan

Contoh permasalahan dilihat dari dua hal di atas:

Perdagangan organ tubuh

– Azas Keadilan

Di negara maju seperti AS, seringkali disebabkan karena kondisi finansial seseorang. Perdagangan dilakukan tidak dalam kondisi setara antara penjual dan pembeli, ada keterpaksaan.

–  Azas Korupsi

Perdagangan anggota tubuh manusia jelas merupakan korupsi/degradasi moral terhadap makna kehidupan, yang ‘melihat’ anggota tubuh manusia sebagai ‘onderdil’ kelengkapan mesin kehidupan belaka.

Perdagangan Anak

– Azas Keadilan

Menempatkan anak-anak sebagai obyek perdagangan adalah sama saja dengan melepaskan nilai orangtua ke dalam pasar atau menganggap anak sebagai suatu barang yang murah

– Azas Korupsi

Perbedaan harga perdagangan anak menunjukkan bahwa nilai anak hanya didasarkan pada ras, jenis kelamin, intelektual, fisik dll.

Prostitusi

– Azas Keadilan

Siapapun yang menjual tubuhnya untuk kepuasan seksual pihak lain, umumnya disebabkan oleh keterpaksaan akibat kemiskinan, ketagihn obat-obatan, kekerasan.

– Azas Korupsi

Korupsi nilai-nilai perempuan dan membangun sikap buruk perilaku seksual.

Satu alasan mengapa Pasar menjadi tempat memperdagangkan barang adalah karena pasar memberikan kebebasan untuk memilih. Namun, pilihan-pilihan yang ada bisa saja bukan karena kebebasan, melainkan karena keterpaksaan, sehingga penawaran tidak terjadi secara adil.

Pasar tidak sepenuhnya hanya sebuah alat, tempat atau mekanisme belaka, karena sesungguhnya melekat di dalamnya adalah nilai-nilai. Dan tidak jarang, di dalam Pasar itu juga dipenuhi oleh nilai-nilai kebajikan, yang seharusnya tidak untuk diperjual-belikan.

Runtuhnya Nilai Kebajikan

Insentif finansial dan mekanisme pasar lainnya dapat menguasai norma-norma keluhuran yang telah ada.

Banyak contoh menunjukkan bahwa keterlibatan seseorang atau sekelompok orang dalam aktifitas sosial yang diyakininya sebagai tindak yang luhur, justru akan menolak bila dipaksakan dengan insentif finansial, karena dirasakan sebagai pelemahan motivasi, komersialisasi atau degradasi moral.

Dua Prinsip Nilai Ekonomi Pasar

Pertama, komersialisasi suatu aktifitas sosial tidak akan merubah nilai-nilai di dalamnya. Atau, uang dan relasi Pasar tidak akan menurunkan nilai kebajikan yang telah ada sebelumnya.

Kedua, perilaku beretika merupakan komoditi yang perlu dipertimbangkan keekonomiannya. Semakin sering dipergunakan, semakin sedikit akan tersisa. Dalam asumsi paham Pasar ini, perilaku yang lebih banyak berbasis Pasar, dan menggunakan sedikit basis moral, dianggap dapat menghemat sumberdaya etika yang tak terbarukan.

Altruisme, kemurahan, solidaritas dan semangat kebangsaan tidaklah sama dengan komoditi, yang semakin berkurang jumlahnya kerena penggunaan. Karakter-karakter tersebut lebih mirip sebagai otot yang semakin kuat karena terus dilatih.

“Dalam sebuah kota yang tertata, setiap insan akan dengan senang hati berkumpul bersama di taman terbuka, namun dibawah kepemimpinan yang kacau, tak satupun berminat berada dalam ruang publik yang sama”, kata Rousseau.

Lanjutnya, “Begitu pelayan publik menyerah sebagai pemimpin untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya dan uang dijadikan alat utama untuk membuat kebijakan daripada pendekatan kemanusiaan, maka pemerintahan sudah tak jauh dari keruntuhan”.

Apa yang salah dengan komersialisme?

Banyak kritik dari para aktifis sosial terhadap periklanan yang dianggapnya telah menembus ruang dan waktu tanpa peduli nilai-nilai moral dan menyebutnya sebagai “polusi”, “nilai komersial yang rendah”, “penyakit” yang menyebabkan “keringnya hati dan pikiran” masyarakat dunia.

Cukup sulit melawan tekanan nilai-nilai Pasar, bahkan seringkali juga sulit mencari alasan keberatan terhadap gencarnya periklanan yang masuk ke ruang publik dan ruang privat, bahkan sampai ke kamar tidur, dalam dua dekade ini.

Penolakan terhadap kekerasan Pasar didasarkan pada konsep bahwa relasi Pasar hanya dapat disebut bebas bila kondisi para pihak yang bertransaksi jual-beli dalam keadaan adil, tanpa paksaan dan juga hanya bila tidak ada pihak yang tergantung secara finansial, independent.

Perdebatan politik saat inipun umumnya masih pada masalah antara mereka yang berkeinginan supaya tidak ada intervensi terhadap Pasar, dan mereka yang berharap akan adanya keadilan, kesempatan dan akses yang sama terhadap Pasar.

Ini bukan tentang paksaan dan ketidakadilan, melainkan tentang degradasi Nilai terhadap aktifitas sosial, dan obyek kebendaan. Kritik moral terhadap komersialisme sebenarnya adalah tentang penolakan korupsi Nilai.

Komersialisme di Sekolah

Banyak sekolah di AS saat ini yang mendapatkan sponsor dari suatu produk industri, dan hampir 80% dari seluruh materi pendidikannya akan cenderung ‘miring’ atau berpihak pada produk tersebut, atau sedikitnya tidak akan melawan keberadaan produk yang diiklankannya. Kesulitan jelas akan dialami oleh sistem pengajaran dalam sekolah semacam ini, mengingat adanya kontradiksi moral di dalamnya.

Periklanan dimaksudkan supaya orang tertarik untuk memuaskan keinginannya, sementara pendidikan diharapkan untuk menghasilkan siswa yang mampu berpikir kritis sehingga dapat mengendalikan nafsunya. Tujuan utama periklanan adalah menarik pembeli, sedangkan tujuan pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Cukup berat memang tantangan pendidikan di era kebebasan pasar sekarang ini, untuk menjaga jarak dengan budaya pop yang cenderung kearah etika konsumerisme.

Penutup

Banyak aktifitas Pasar yang secara moral berada tidak pada tempatnya, misalnya dalam kehidupan keluarga, pekawanan, seksual, prokreasi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, seni, olahraga dll. Begitu perilaku Pasar dan periklanan mulai mengubah sifat suatu barang, perlu segera dipertanyakan secara kritis bagaimana posisi seharusnya Nilai moral barang itu berada, karena keraguan untuk menunjukkan keyakinan moral dan spiritual sendiri ke ranah publik, maka Pasar akan menentukan Nilai-Nilai moral tersebut untuk kita.

Disaat kesenjangan finansial yang semakin tinggi, memperdagangkan semua hal dalam konsep Ekonomi Pasar akan semakin memperdalam jurang perbedaan kehidupan sosial masyarakat.

Mulai munculnya kejayaan Pasar di AS tiga dekade yang lalu, berada dalam waktu yang sama ketika wacana publik sedang terjadi kekosongan nilai-nilai moral dan spiritual yang substansial. Oleh karenanya, perlu terus dikampanyekan secara terbuka di ruang publik tentang Nilai benda-benda tertentu dan berbagai tindak sosial yang patut dihargai dan dihormati.

Kita hidup dalam ruang yang tercerai-berai; domisili, bekerja, belanja, sekolah dan bermain berada di tempat yang berbeda-beda. Ini bukanlah kehidupan yang nyaman dan juga tidak demokratis. Demokrasi tidak menuntut kesetaraan absolut, melainkan membutuhkan masyarakat yang bisa saling berbagi. Perbedaan status sosial karena latar belakang budaya, pendidikan, pekerjaan dll. dapat menyebabkan konflik antar anggota masyarakat dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian diperlukan adanya saling pengertian dan tindak sosial yang nyata untuk merawat ‘ruang’ bersama sehingga kehidupan keseharian bisa berjalan nyaman dan damai.

Pada akhir bukunya, Sandel mengatakan bahwa persoalan tentang Ekonomi Pasar sebenarnya adalah pilihan tentang kehidupan bersama seperti apa yang ingin kita jalani. Apakah kita menginginkan masyarakat yang semua hal bisa diperjual-belikan? Ataukah, kita menginginkan kehidupan masyarakat yang mempunyai keyakinan nilai moral, dimana tidak semua hal bisa diperjual-belikan? Pertanyaan yang membangunkan dari kelelapan. Silahkan pembaca merenungkannya dan menjawabnya, sendiri.

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: