Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jalan-Jalan’ Category

2016_1231_13500100

Batu Dayak

Terminal 3 Bandara Soetta
Resto Tjap Toean, dari namanya bermaksud menjelaskan kalau resto ini masakan peranakan, tempat kami mampir sarapan di Terminal 3 bandara Soetta sebelum penerbangan ke Balikpapan GA566 pagi itu. Bubur ayam (aroma kwang tung, rasa biasa), cakwe isi ikan (uenak), prata (enak) dan pisang goreng keju (biasa) adalah menu utama kami plus teh tawar panas dan dua es kopi tarik (enak). Jam 10.50 boarding yang seharusnya melalui Gate 16, dipindah ke Gate 12. Hemmm … Masih penyakit lama bandara Soetta.
Tepat 11.10 wib, GA566 melaju di taxi way siap mengudara menuju Balikpapan, yang kira-kira membutuhkan 2 jam penerbangan. Bandara modern Sipinggan bagus, bersih, terang dan terkesan lengang. Toilet bersih. Banyak ruang kosong. Mudah untuk menemukan loket layanan taksi bandara.
Aston hotel
Menjelang akhir tahun 2016, hotel Aston Balikpapan di jalan Jend. Sudirman fully booked. Untung sudah booking lama sebelumnya. Lobby sempit dan ramai tamu antri untuk checkinSuite room dengan dua kamar cukup lega utk kami bertiga. Bapak, ibu dan anak satu.
Resto kepiting Dandito
imagesSetelah magrib kami makan di resto Dandito, yang terkenal dengan menu kepitingnya. Karena taxi tak banyak berkeliling, maka wisatawan disarankan untuk sewa mobil dari hotel atau pergunakan taxi sampai selesai makan. Alhamdulillah hujan deras sehingga udara sejuk dalam ruangan yang tidak berpendingin, namun kipas tetap berputar di langit-langit.
Kepiting telor saus Dandito, kapiting lada hitam dan kangkung cah menjadi pilihan makan malam kami. Wuih .. telor kepiting berlimpah dan saus Dandito memang suedapp .. Sayang, kepiting kurang besar … lagi gak musim???
Cafe Delicia
img-20170102-wa0000Pagi berikutnya, dengan menggunakan mobil rental Avanza seharga Rp. 400 ribu dari jam 11 hingga sore hari, kami mencoba masakan Latin di resto Delicia, jalan MT. Haryono. Resto kecil berdinding depan dari kaca bening dengan tempat duduk panjang berwarna merah menempel pada salah satu dindingnya yang berwarna putih, berasesoris foto-foto buah dan minuman berlatar-belakang pantai putih bersih dan laut biru, serta kursi-kursi metalic minimalis di seberang meja, memberi kesan lega, terang dan resik. Bar panjang di ujung ruangan dengan lampu gantung kuning di atasnya terasa santai tenang, cocok untuk ngobrol.
see_this_instagram_photo_by_deliciacafebpn_%e2%80%a2_26_likes__Menu penggoda saat itu, Burittos De Pollo berukuran besar dengan roti pembungkus tipis putih  halus, berisi daging ayam, sayuran dan saos di dalamnya serta sedikit olesan saos sambal di kulit luar terasa lezat, lalu Quesadilla, sejenis roti tipis bundar seukuran piring berisi ayam, keju, bawang bombay dan sedikit jagung. Strogonoff De Frango, menu asing berupa nasi disajikan dengan kentang goreng, ayam, jamur dan kacang merah menggunakan saus Delicia. Sedap … Layak coba. Untuk minuman, tidak terlihat adanya menu yang asing. Mujito dan lechee tea jadi pilihan kami. Di Jakarta kami belum menemukan resto masakan Amerika Latin yang lezat seperti ini. Ada yang tahu?
Pasar Sayur
20170102_004454Selesai makan, lanjut menuju Pasar Sayur yang terkenal menjual banyak cendera-mata khas Kaltim yang bisa ditawar, seperti kalung, gelang atau tas berbahan manik-manik batu hias. Kain batik lokal juga tersedia. Tak lupa, makanan khas Balikpapan berbahan dasar ikan dan kepiting banyak dijual disini, seperti kerupuk tenggiri mentah, kemplang (kerupuk ikan matang), abon ikan, rempeyek kepiting dll. Oleh-oleh siap sudah terbungkus kardus. Kembali ke hotel, mampir untuk reserve makan malam di Oceans resto.
Oceans Resto

2016_1231_17065600Ini resto seafood terbesar dan terkenal di Balikpapan dan banyak direkomendasikan oleh jaringan wisata di internet. Lokasi di jalan Sudirman

2016_1231_17231800

Senja 31 Desember 2016

pinggir pantai dengan panggung dan pagar kayu bersih rapi di atas laut. Untuk penggemar fotografi, ini lokasi yang tepat untuk ambil gambar sunset. Kami sudah siap di meja sejak 17.45 sambil jeprat-jepret, foto. Karena saat itu 31 Desember 2016, maka seluruh meja sudah fully booked, untung kami sudah reserve tempat dan menu siang sebelumnya.
Kepiting besar lada hitam, lobster besar yang sudah dikupas bersaus mentega, sayur cah kangkung dan roti prata adalah menu makan malam menjelang pergantian tahun kami, dilengkapi minuman kelapa muda utuh segar. Super sekali … highly recommended. Sayang, laut di bawah panggung banyak sampah.
Pesta New Year 2017
2016_1231_19290900Jam 19.15 pulang ke hotel karena ada undangan pesta Malam Tahun Baru 2017 di taman hotel Aston, pinggir pantai. Alhamdulillah, melalui quiz, kami 2016_1231_19303500dapat hadiah voucher tinggal di sebuah hotel di Surabaya. Setelah beberapa lagu dimainkan band dari Surabaya, kami kembali ke kamar. Ada yang lucu dari penyanyi perempuan band tersebut. Dengan kostum terbuka di bagian atas punggungnya, terlihatlah bekas bekam disana. Kasihan, masuk angin rupanya mbak penyanyi itu. Tetap semangat jemput rejeki mbak …
EWalk Mall
imagesSatu hari sisa di Balikpapan kami gunakan ngintip Ewalk Mall, swkaligus cari makan siang. Ruameee … tahun baru mungkin ya .. makan di resto Jinten yang menyajikan masakan-masakan daerah. Gudeg komplit dan soto bening kurang cocok dengan lidah kami. Yang mengecewakan, pesanan nasi goreng tidak pernah muncul. Tanpa alasan.
Mampir sebentar ngopi di Starbuck. Nah, bagi yang biasa tanpa gula, coffee latte disini standarnya pakai sirop (manis). So, kalau mau tanpa gula, perlu pastikan ke barista lebih dahulu untuk tidak ditambahkan sirop.
Pulang ke hotel mampir ke toko makanan Sibayak, banyak direkomendasikan sebagai tempat belanja oleh-oleh makanan khas Kaltim (kemplang, abon kepiting dan rempeyek kepiting). Satu dos siap terangkut.
Bandara Sepinggan
img-20170102-wa0001

Checkin Garuda

GA567 siap menerbangkan kami pulang ke Jakarta jam 13.05 WITA dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Bandara bersih, dinding kaca tembus cahaya, terang dan bersih. Loket checkin banyak dan rapih teratur. Setiap kali menanyakan informasi ke petugas yang lewat, dijawab dengan ramah dan sopan. Salut untuk Angkasa Pura I. Cafe dan kios cenderamata cukup banyak tersedia, termasuk Starbuck dan Old Town cafe. Bahkan resto masakan Padang pun juga tersedia. Lounge Garuda di lantai 2, terkesan mewah, lega, banyak sofa, juga banyak downlamp dan portable ac. Makanan, seperti biasa, minimalis 😂.

Read Full Post »

2016_1018_08595600

Kimchi

Perjalanan menarik kali ini berthemakan Air, mulai dari Asia Water Council di Andong, Korea International Water Week di Daegu, Water Treatment di Gyeongju, Water Treatment di Incheon dan sungai Cheonggyecheon di Seoul.

Annyeong haseyo …

16 Okt 2016 Berangkat

Jam 22.05 wib, KE628 takeoff dari terminal 2E bandara Soetta menuju Incheon, Korea. Korea Airline Boeing 777-300, nyaman dan menyenangkan. Pramugari berseragam putih-hijau muda, ramah, cantik, sopan dan masih muda semua. Namun ada sedikit janggal melihat wajah mereka, putih pucat mengkilat tanpa rona merah di pipinya. Dingin … Ternyata, itulah trend wajah perempuan kekinian di Korea … hahaha ndeso ya saya .. Makanan enak dan badan lurus tertutup selimut, tidur nyenyak, setelahnya. Sejuk dan gelap.
 
 
17 Okt 2016 Ke Andong
2016_1020_17442100-3

Hanbook

Jam 5.30 waktu setempat, lampu cabin menyala, penumpang mulai berlalu lalang ke toilet dan sarapan pagi dihidangkan. Tepat jam 7.00 pesawat mendarat di bandara Incheon. Antrian imigrasi berkelok-kelok panjang, namun tersedia banyak loket dan petugas yang mengaturnya. Cepat dan nyaman.

 
Keluar ruang pengambilan bagasi, ada 3 kios penyedia jasa layanan sewa router wifi. Selama satu minggu ditawarkan US$50 untuk 2 hp dengan deposit $200, yang dapat diambil lagi saat pengembalian alat. Bisa jd alternatif dan lebih murah drpd Telkomsel, yang dikenakan biaya Rp. 500 ribu untuk 1 minggu paket data/internet. Saya menggunakan Telkomsel, lancar tanpa gangguan.
 
Carnival, produk KIA terbaru, menjadi alat transport kami berempat menuju Andong yang diperkirakan akan membutuhkan 2,5 jam perjalanan. Mobil jauh sudah lebih bagus dan lebih nyaman daripada Carnival yang dulu pernah masuk Indonesia akhir 90an. 
 
img-20161017-wa0033

Solar cell di tempat parkir

Satu jam perjalanan di jalan besar bebas hambatan tak terasa kecepatan sudah mencapai 120 km/jam dan beberapa kali harus diperlambat karena ada perbaikan jalan. Terowongan jalan yang mulus dindingnya, terang cahayanya dan tersedia ruang aman untuk pejalan kaki di kiri-kanannya lebih dari 10 kali kami lewati. Berbeda dengan jalan di Puncak, Bogor yang berliku sejuk indah pemandangannya mengikuti gelombang bentang alam berbukit, Korea sepertinya lebih prioritas pada kecepatan koneksitas antar kota dengan cara membangun jalan besar mulus menembus gunung. Sejauh mata memandang, adalah bukit-bukit hijau yang mulai menguning, bahkan merah menjelang musim dingin. Indah.

 
Setelah satu jam perjalanan, mobil masuk ke area rest area. Udara menyergap sejuk begitu pintu mobil terbuka, sekitar 15°C dengan matahari terik, memancing keinginan minuman penghangat tubuh. Capuccino menjawabnya. Area parkir mobil terbuka yang demikian luas didukung oleh shelter beratap solar cell untuk menghasilkan listrik yang cukup untuk menerangi seluruh area. Cemerlang. Korea bukanlah penghasil minyak dan gas bumi.
 

2016_1017_15384000Sekitar jam 13.00 kami sampai hotel Richell di kota kecil Andong, bagian tengah selatan Korea Selatan. Hotel bagus namun sepi di pinggiran kota yang lengang dengan jalan yang lebar rapi tertata dan pepohonan rindang terjaga. Nyaman. Oktober adalah saat yang tepat untuk dapat bepergian ke Korea karena suhu yang mulai sejuk namun masih ok untuk jalan di ruang terbuka dengan jakat tipis saja dan

2016_1017_12102700

Dari Lt. 5 Hotel Richell

pepohonan yang mulai menguning daunnya, indah.

 
Menyimpan barang sambil cek-cek kamar berukuran sedang di lantai 5. AC posisi mati dan heater menyala, gerah. Buka pintu balkon dan wuzzzz … angin sejuk menerpa .. segar. Pepohonan rindang dan jalan lebar tertata apik di sekeliling hotel. Sepiii tak terlihat mahlukNya berlalu-lalang di depan hotel.
 
2016_1017_15022300

K-Water, Andong

Sore hingga magrib hari itu dihabiskan untuk keperluan Asian Water Council (AWC) di kantor K-Water, diskusi terbatas tentang pelaporan program penelitian awal penyediaan air bersih di Bali, yang akan dipresentasikan keesokan harinya dalam forum resmi pengangkatan presiden baru dan diskusi seluruh anggota Asian Water Council.

 
2016_1018_13192000Makan malam ditraktir pengusaha Korea, chairman dari Seoul di resto masakan Korea,  Yahh … Daging sapi Bulgagi, bakar di meja berlebih dan nasi … menjadi menu utama malam itu, termasuk asesori lainnya. Seperti lazimnya resto Korea, duduk lesehan bersila dengan lebih dulu menggantungkan jas di samping pintu kamar makan privat kami. Chairman bisa sedikit bahasa Inggris, sehingga perlu ditemani penerjemahnya. Begitu semangat Chairman membakar daging potong itu untuk kami berdua, dengan om Firdaus Ali. Full … kenyang … Makan dan ngobrol selesai malam itu, akrab penuh canda. Kembali ke hotel, lelap …
 
 
18 Oktober 2016 Hahoe Village
Pagi hari itu kegiatan AWC dibagi menjadi dua, yaitu board meeting yang diikuti oleh DR. Firdaus Ali sebagai wakil Indonesia dan kunjungan kebudayaan ke peninggalan kampung tua Haoe di pinggiran kota Andong untuk peserta lainnya.
 
2016_1018_09160300Hahoe Village (abad 15) menjadi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2010, bersamaan dengan Yangdong Village di Gyeungju, yang keduanya warisan jaman dinasti Joseon, dapat dicapai dalam waktu 45 menit dari kota Andong. Jalan sempit (kelas II di negeri kita) halus berkelok, berundulasi dengan pepohonan rindang yang mulai menguning tanda musim gugur segera tiba, indah sekali. 2016_1018_08395200Lingjungan Kampung Haoe ini berisikan sawah, sungai, hutan dan banyak bangunan yang umumnya beratapkan kayu dan beberapa rumah beratapkan jerami.
 
Setelah makan siang, 3rd Asian Water Council Meeting dimulai dengan pembukaan oleh Presiden AWC lama, dilanjutkan dengan pengangkatan Presiden AWC baru, Hak-Soo Lee dari Korea. Hadir dalam acara ini para pejabat pemerintah dari beberapa negara anggota. Indonesia diwakili oleh Stafsusmen Pupera, DR. Firdaus Ali, DR. Ismail dan DR. Indra, yang semuanya dari kementrian Pupera.
 
2016_1018_16215000

Penutupan 3rd AWC

Makan malam sekaligus acara penutupan AWC diadakan di hotel Ritchell. Buffet style dengan menu berbagai jenis madakan seafood terhidang berlebih. Musik gesek akustik yang dimainkan pars perempuan cantik mengiringi majan malam. Selesai acara jam 8 malam langsung masuk Carnival menuju Daegu. Jam 12 malam masuk kamar hotel … setelah drop om Firdaus di hotel …

 
 
19 Oktober 2016 KIWW
20161019_141258Setelah sarapan roti bakar, telor setengah matang dan salmon plus teh hangat dan jus jeruk di hotel Interburgo Exco, pagi itu langsung turun hotel dan menyeberang jalan untuk masuk di gedung Exco Exhibition, tempat acara Korea International Water Week 2016. Gedung buesarr bertingkat … untuk keperluan pameran industri, ruang diskusi, theater .. lengkap dengan cafe dan resto. Sayangnya, pameran industri tingkat internasional yang semestinya berharap mendapatkan perhatian atau buyer-buyer asing, banyak hanya menyediakan keterangan tertulis atau verbal dari penjaga pameran yang hanya berbahasa Korea. Terus piye jal …
 
2016_1020_15032400Acara resmi pembukaan KIWW dilakukan di ruang theater, semacam cinema 21 lah, dengan panggung luas di depan. Kursi baris depan diisi oleh para menteri Korea, wakil badan dunia, para menteri serta dubes negara peserta, dari Asia hingga Afrika. Sangat representatif untuk membicarakan tentang Air dan berbagai permasalahannya di berbagai belahan dunia. Dua jam dipergunakan untuk pidato dari tuan rumah dan berbagai perwakilan negara peserta termasuk tayangan singkat video dan slide tentang Air diselingi sedikit hiburan. Kemasan presentasi yang singkat dan menarik untuk dilanjutkan diskusi thematik di beberapa ruang terpisah keesokan harinya.
 

Sesi thematik dalam KIWW ini akan membuat berbagai usulan kebijakan tata air dan solusi teknis terhadap berbagai tantangan persoalan air yang dihadapi berbagai negara di belahan dunia. Sepuluh thema utama yang dibahas masing-masing dalam format diskusi meja bundar adalah:

  1. Sustainable Development Goals: Implementation and monitoring of the SDGs
  2. Capacity Building: On-Iine & on-site convergence capacity building for global water issues
  3. Water Cooperation
  4. Water-Energy-Food nexus for water security and SDGs Achievement in Asia
  5. Examining the links between Integrated Water Resources Management and Smart Water Management
  6. Healthy urban where people and water ecosystem live together
  7. Climate change and water management
  8. Water information beyond data and knowledge: Asia Dynamic Hub for Water The power of lnformation
  9. Water projects: opportunities, challengesand synergies for implementing the SDGs
  10. Policy and strategies for sustainable water management: To share and discuss practical ways to realize better water governance and policy

Yang terpenting dalam event KIWW kali adalah meliputi thema KIWW 2016 yaitu “Water Partnership for Sustainable Development“, yang sama juga dengan thema utama dalam The 8th World Water Forum “Sharing Water and Sustainability“. 

 
2016_1020_08321200Adalah DR. Firdaus Ali, Pendiri Indonesia Water Institute, Staf Khusus Menpupera dan dosen Teknik Lingkungan UI yang selalu dijadikan narasumber di berbagai thema diskusi selama 3 hari tersebut bersama beberapa wakil dari badan-badan dunia. Hebat beliau ini, sudah mendunia ternyata bahkan bila ada kementerian Sumberdaya Air di negeri kita ini, sudah selayaknya beliau menjabatnya. Rencana Deep Tunnel sebagai saluran air dan transportasi darat, Waduk Pluit, Giant Sea Wall di Teluk Jakarta, adalah sebagian proyek-proyek raksasa yang beliau turut terlibat membidaninya.
 
Selama di Daegu, tak sempat kami berkeliling mencari obyek wisata, hanya sempat masuk mall di belakang hotel untuk memenuhi titipan beli masker pembersih muka dan  makan malam di resto Korea, lengkap dengan iringan kecapi dua lagu, yang dimainkan oleh perempuan ayu berpakaian tradisional Korea, hanbook. Sayang, ada persyaratan khusus untuk menikmati permainannya “dilarang mengambil gambar”.
 
 
20 Oktober 2016 Dinner di Daegu
20161020_202141Sesi diskusi thematik masih berlangsung di beberapa ruangan, kebutuhan air bersih Jakarta menjadi salah satu topik bahasan yang dikemukakan oleh DR. Firdaus Ali. Tinggi dan pertumbuhan populasi Jakarta serta kualitas dan ketersediaan air bersihnya, membuat terbelalak mata peserta, apalagi presentasi bung Firdaus yang lengkap dengan analisis data dan peta yang valid semakin membuatnya duduk 20161020_222953tegak fokus menyimak. Pemerintah propinsi Jakarta perlu serius menyikapinya.
 
Dinner untuk pejabat Korea dan para penyaji makalah diselenggarakan sangat menarik. Diawali dengan presentasi kondisi pembangunan ekonomi saat ini di layar lebar dengan presenter bersuara bariton yang berjalan santai kesana-kemari di atas panggung, sungguh menarik. Setelahnya, paduan suara anak-anak yang kompak merdu suaranya tampil di atas panggung. Sepotong kecil ikan salmon dalam piring besar mulai disajikan di atas meja. Acara paling menarik malam itu adalah hanbok fashion show. Ditampilkan para model dan miss Daegu dengan sorotan lampu warna-warni yang 20161020_201637sangat terang dan diiringi musik tradisional, terasa indah bersahaja penuh wibawa. Sebuah kemasan yang cerdas mempesona.
 
 
21 Oktober 2016 Ke Gyeongju
Tepat jam 7 pagi kami dijemput pengusaha Surabaya dan pengusaha laboratorium Seoul untuk bersama-sama berangkat menuju Gyeongju menggunakan kereta cepat KTX dari stasiun Daegu. Bagasi kami yang cukup banyak, disimpan dalam lemari khusus yang tersedia di luar kabin penumpang, ujung gerbong. Hanya butuh 15 menit untuk sampaindi Gyeongju. Melihat Pengolahan Air berteknologi canggih Plasma Ozon Water Treatment System adalah maksud kunjungan kami.
 
kor02287

Indonesia – Korea

Sebelum menuju lokasi Water Treatment, kami disambut secara resmi di kantor walikota. Sangat mengagetkan karena kunjungan kami tidak dimaksudkan sebagai G2G, melainkan bisnis biasa. Duduk di sekeliling meja bundar, Walikota memberi sambutan resmi melalui penerjemah dengan penata acara berdiri di podium. Lengkap dengan dua bendera kecil di atas meja, Korea dan Indonesia. Wah … bercelana jean dengan polo shirt, malu euy …. cindera-mata pun diberikan walikota ke bung Firdaus setelah masing-masing memberi sambutan. Sepertinya Gyeongju memang sedang bersemangat memasarkan teknologi water treatmentnya ke berbagai negara lain.

 
kor02305

Dgn Pengusaha Indonesia

Ada dua lokasi water treatment Gyeongju yang kami kunjungi, bisa dicapai melalu jalan darat dalam 15 menit melalui jalan halus berkelok-kelok. Pemandangan indah, dedaunan hijau dengan sebagian mulai menguning bahkan merah pertanda mulai masuk musim gugur. Area water treatment sedang saja luasnya. Di area terbuka, tempat pengolahan air berteknologi lama sebagai tempat masuknya air kotor dari sungai. Keluaran dari proses tersebut dilanjutkan dengan proses selanjutnya dalam bangunan besar penuh dengan berbagai peralatan mekanis dan elektris yang masuk semuanya dalam jaringan komputerisasi sehingga bisa dimonitor melalui jaringan nirkabel dari luar lokasi. Air minum kemasan dalam botol banyak diproduksi dari proses pengolahan di sini.

 
kor02308Di kota kecil Gyeongju (kota kabupaten) terdapat 9 tempat pengolahan air. Yang menarik juga adalah adanya waduk kecil di Gyeongju sebagai cadangan air bersih, yang tidak diijinkan digunakan sebagai area pemancingan ikan. Komitmen masyarakat terhadap kepentingan bersama terhadap keberadaan air bersih ini sungguh mengagumkan, sehingga air waduk sebagai masukan untuk pengolahan air bisa tetap terlihat jernih dan mengurangi kerja berat proses pengolahan.
 
gyeongju-stasiun

Stasiun Singyeongju, Gyeongju

 

Selesai kunjungan Pengolahan Air, menuju stasiun kereta Singyeongju, untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul menggunakan kereta cepat KTX. Makan siang di resto setasiun, menu bibimbap yang semua disajikan dalam mangkok kuningan. Air layak minum tetap dimasukkan dulu ke dalam water purifier. Menurut mereka, air minum yang bersih membuat kulit bagus. Kereta datang tepat waktu, kali ini gerbong bagus dengan 2 kursi di sebelah kiri dan 1 kursi di kanan. Lega. Terlihat di monitor, kecepatan kereta 276 km/jam. Kurang-lebih 2 jam, kereta memasuki setasiun Seoul. Ramai padat penumpang.

 
Makan malam dijamu relasi bisnis di restoran masakan Korea tersohor yang mempunyai waralaba di berbagai negara maju, seperti Jepang, Hongkong dan Eropa. Menu utama terhidang dagang kepiting mentah di dalam cangkang terbuka. Entah apa ramuan bumbunya, tapi memang lezat rasanya. Dengan menghirup cara menikmatinya. Lembut manis. Menu lainnya adalah ikan kuah kuning, menurutku mirip seperti woku Manado.
 
 
Sabtu, 22 Oktober 2016 Incheon Water Treatment
Pagi jam 9, kami berdua (dengan bung Firdaus Ali) dijemput oleh pengusaha laboratorium air BLTEC untuk mengunjungi workshopnya, yang berada di kawasan Bucheon Techno Park, Old Seoul. Gedung perkantoran yang dipergunakan sebagai pabrik-pabrik kecil perakitan, mungkin seperti Gelodok Jakarta tempat merakit komputer. Tak banyak karyawannya namun keahlian masing-masing sangat spesifik. Ahli kimia air, komputer, elektro mempunyai peran sangat penting. Peralatan monitoring dan analisis air mulai yang berukuran sebesar microwave hingga ukuran kulkas dua pintu dengan kerumitan sederhana sampai ketelitian tinggi, bisa diproduksi di pabrik kecil ini. 
 
Bupyeong Water Treatment
kor02377Kunjungan berikutnya ke Pusat Pengolahan Air di Incheon (PDAMnya Incheon) yang menempati area yang luas dan hijau. Bangunan tempat wireless control dan monitoring yang sangat luas dan nyaman, juga bangunan bertingkat untuk laboratorium air yang mampu menganalisis banyak parameter. Laboratorium ini juga biasa menerima pelajar atau karyawan dari berbagai negara lain untuk belajar Analisa Air dengan teknologi canggih. Pada kesempatan ini, staff khusus Kemen Pupera juga sempat bernegosiasi dengan pimpinan laboratorium untuk bisa mendapatkan kesempatan mengirimkan karyawan Pupera belajar ke lab tsb.
 
kor02354

Kolam Baru

Di lapangan, ķami ditunjukkan kolam-kolam besar tempat pengolahan air fase awal berteknologi tinggi, sementara di sebelahnya adalah kolam besar berteknologi lama (masih dipergunakan di Jakarta), yang sudah tidak dipergunakan lagi.

 
Sungai Cheonggyecheon
img-20161026-wa0004Masih berkaitan dengan air, kami mengunjungi sungai Cheonggyecheon yang jernih terawat dengan lingkungan yang dibangun bersih hijau, telah menjadi area bersantai penduduk Seoul, lengkap dengan pameran seni dan kios-kios cenderamata dan makanan kecil di pinggirnya.
 
Sungai ini dibuka untuk umum September 2005 setelah direnovasi lingkungannya. Renovasi dimulai tahun 2003 dengan membongkar jalan layang yang sebelumnya berada di atas sungai. Menurut pemerintah setempat, sungai baru ini mampu menurunkan polusi dan suhu udara di sekitar sungai sebesar 3°C dan mengembalikan habitat naturalnya.
 
Dongdaemun market
Tak lupa kami mampir ke salah satu mall di Dongdaemun market untuk membeli oleh-oleh titipan dari tanah air, makanan kering dan berbagai asesoris lainnya. Satu hal penting yang tak ditemukan adalah Black Garlic.
 
 
23 Oktober 2016 Pulang
Jam 8 pagi, kami checkout dari hotel Grand Intercontinental menuju bandara Incheon untuk pulang Jakarta menggunakan Korea Airline KE 627 15.20. Masih banyak waktu untuk mencari Black Garlic. Gak dapat juga, setelah menjelajahi semua sudut bandara yang luas itu. Pegal dan puas.
 
Alhamdulillah mendarat di bandara Soetta 20.30 wib. Terimakasih om Firdaus Ali sudah mengajak saya sebagai observer dalam Asian Water forum dan Korea International Water Week, mengunjungi Pengolahan Air di Gyeongju dan Incheon serta mampir di Sungai Cheonggycheon.
 

Kamsahamnida

 
Catatan:
 
6. Buku: The New Korea
kor02253-2

Read Full Post »

2016_0924_1224360024 Sep. 2016
GA0650 takeoff menuju Makassar, 23 Sep. 2016, tepat jam 21.00 dari Terminal 3 bandara Soetta.  Mendarat jam 1.30 pagi wita. Bandara Hasanuddin masih ramai dan cafe juga banyak yang buka, sepertinya bandara 24 jam karena letak geografis yang berada di tengah wilayah NKRI dan melayani penerbangan ke berbagai wilayah negeri ini. Isrirahat 2 jam di lounge Garuda, tepat jam 3.15 waktu setempat pesawat bombardir Garuda takeoff menuju Sorong. Kabin terasa hangat, tanpa perlu mengenakan jaket walaupun penerbangan malam hari. Membutuhkan waktu kira-kita 1,5 jam, pesawat mendarat di bandara Sorong ‘Domine Eduard Osok‘ 6.30 wit. Bandara bagus, bersih dan lengang. Semoga karena perawatan yang baguslah sehingga bandara ini terlihat bersih, bukan hanya karena bandara baru.
 …
Coto Makassar menjadi menu sarapan kami di di kota ini. Dengan ketupat dan buras, satu mangkok coto daging itu ludas tergilas dibilas dengan teh tawar panas. Badan terasa hangat segar setelah hampir 7 jam duduk dan kurang tidur. Siap duduk lagi selama 2 jam dalam speedboat 2 x 85 PK, menyeberang laut menuju cottage Waiwo di pulau Waigeo, Raja Ampat.
20160924_074758

Pelabuhan speedboat Sorong

Di pelabuhan speedboat Sorong, sebelah pelabuhan kapal penumpang regular, terlihat banyak speedboat parkir berjajar, namun tak cukup mudah menyewanya. Bukan karena kurangnya jumlah speedboat, melainkan karena langkanya ketersediaan bbm.

20160926_091340

Salawati 2 x 85 pk

Dua jam harus menunggu, akhirnya muncul juga speedboat Salawati berbbm penuh di atas. Duabelas penumpang terangkut, termasuk pengemudi dan supporternya, juga kopor dan tas besar masing2 yang disimpan dalam ruang kecil di haluan, di bawah kemudi. Enam kursi menghadap ke depan speedboat dan dua bangku panjang berhadapan di bagian buritan. Cukup untuk 10 penumpang dengan hanya 8 life vest … hahaha..sedikit menambah detak jantung selama 2 jam .. Jam 9 pagi cuaca cerah dan laut cukup tenang, sehingga tak banyak goncangan terasa. Daratan semakin jauh, namun masih terlihat daratan di kiri-kanan speedboat.

2016_0924_09490600

Dermaga Raja Ampat, Pulau Waigeo

Dua jam tak terasa karena rasa excited di tengah laut, akhirnya sandar di dermaga Raja Ampat. Banyak speedboat sandar berjajar dan terlihat bangunan sederhana kosong beratap di daratan, semacam shelter untuk berteduh bagi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan darat. Istirahat sebentar di rumah penduduk, dilanjutkan 5 menit berspeedboat lagi untuk bersandar di lokasi cottage Waiwo. Tempat Jokowi menginap di Raja Ampat tempo hari.

20160924_130656Cottage yang rindang tepat di tepi laut dengan banyak bangunan rumah panggung kayu tipe studio yang masing-masing untuk dua tamu, terasa panas begitu memasukinya karena listrik, untuk AC, bertenaga diesel masih padam. Makan siang di resto cottage berlauk sangat minimal cukup membekali tenaga untuk snorkling/diving di pulau Mansuar.
2016_0924_12212200

Bersama bang Buyung Lalana (stafsus menhub, tengah)

Sekoci karet membawa kami dari dermaga speedboat ke tengah laut ditemani bang Buyung Lalana, menuju kapal patroli besar dua lantai bernavigasi canggih. Dua jam berlayar, akhirnya kapal sandar di dermaga pulau Mansuar, menurunkan kurang-lebih 20 penumpang untuk menikmati keindahan bawah laut, diving/snorkling dimulai dalam pengawasan bang Buyung Lalana, ex Komandan Marinir, dan para asistennya. Wooowwww … pasir putih di pantai, air jernih, dangkal, terumbu karang berbagai bentuk dan warna melambai lembut, juga aneka ikan indah kaya bentuk dan warna, kadang melintas kura-kura besar … betul indah Raja Ampat, surganya para pecinta wisata bawah laut. Sayang, tanpa perlengkapan kamera bawah air.

 

Puas menikmati keindahan bawah laut, terhampar ikan baronang goreng rica dan kuah kuning (woku) di atas meja, tentu dengan nasi panas dalam magic jar besar, cukup untuk 25 orang yang lapar bermain air. Sikat abis … terimakasih bu syahbandar yang memasaknya di atas kapal. Puas..
Lumba-lumba terlihat berlompatan dikejauhan seolah berlomba mengejar kapal bergerak kembali ke pelabuhan Raja Ampat. Mampir ke salah satu pulau setelah matahari terbenam, menunggu awak kapal menyelam berburu ikan menggunakan harpoon. Jadi ingat film serial tv akhir 70an ‘Deni si manusia ikan’ hehehe …
25 Sep. 2016
2016_0925_12444100

Team IWI di Pianemo, Raja Ampat

Cottage nyaman sejuk dan suara deburan ombak depan pintu plus kecapaian main air di hari sebelumnya membuat lelap tidur tanpa gerak. Puas istirahat semalaman, siang jam 12.30 speedboat membawa kami bertujuh menuju kepulauan Pianemo yag diperkirakan membutuhkan waktu dua jam, tanpa sarapan berharap tersedia resto di tujuan. Langit berawan, sedikit menambah detak jantung, jangan-jangan … benar .. belum sampai 1 jam boat bermesin ganda 85 pk melaut, mulai terasa hentakan keras menghantam air. Ombak bergulung cepat hingga perahu terus melompat, duduk tak enak dan badan terus bergerak terbanting-bating. Barang-barang di atas dashboard mulai berjatuhan, driver sering mengeluarkan tubuhnya dari jendela sambil tetap pegang kemudi, untuk melihat laut di depan, jangan sampai menabrak batang kayu terapung. Penumpang diam, was-was, mulai menghitung jumlah life vest …tak cukup jumlah untuk semua penumpang. Berdoa dalam diam .. tegang. Bung Firli mulai menimbang-nimbang “lanjut atau pulang?”, ceritanya setelah sampai di cottage …

20160925_150708-2

Pianemo

Satu jam kemudian laut mulai tenang, masuk dalam kepulauan kecil .. indah  .. pasir putih sebelah kanan dan perahu sandar di bawah tebing pulau terbesar sebelah kiri. Terlihat ada 5 speedboat besar telah parkir disana. Keluar speedboat, tangga kayu permanen beranaktangga 300 buah siap menunggu menuju puncak. Jangankan resto, pedagang asonganpun gak ada. Kawasan lindung. Istirahat

20160925_142500

Dermaga Pianemo

sebentar mengatur napas di shelter tangga ke 100 dan lanjut ulang. Ngos-ngosan sampai di puncak …. wuihhh .. worth it … indah betul pemandangan kepulauan dari puncak bukit. Betul kata orang “jangan bilang sampai di Raja Ampat kalau belum naik di Kepulauan Pianemo”. Sebetulnya ada lagi yang lebih spektakular yaitu pulau Wayag, dua jam melaut lebih jauh. Tepatnya antara Pianemo – Halmahera, laut lepas. Kebayang ombaknya … Satu jam foto-foto, turun bukit langsung dan melaut lagi dua jam pulang ke kota Waisai di pulau Waigeo, karena tak cukup waktu untuk lanjut ke Sorong yang masih butuh 2 jam lagi. Sudah sore jam 4, driver gak sanggup khawatir kayu melintang tak terlihat .. bisa brakkk, bocor itu boat.. bahaya.

2016_0925_15305200

Rifalda cottage

Rifalda Cottage di kota kecil Waisai, pulau Waigeo, menyediakan 6 bangunan rumah panggung sederhana, masing-masing berisi 2 kamar. Tidak menyediakan makan siang/malam, hanya sarapan pagi nasi kuning. Perut yang lapar tak terisi sejak pagi akhirnya menyantap mie instant telor rebus bikinan mbak Lintang, huenakkk … masih tambah nasi ayam penyet, malamnya. Puas, tidur pulas.

26 Sep. 2016
20160926_132547

Resto Goyang Lidah 2, Sorong

Gerimis jam 7 pagi, kami berangkat melaut lagi menuju Sorong, 2 jam. Laut berombak dan boat terhentak namun tak sekeras kemarin, karena searah arus laut. Alhamdulillah selamat sampai Sorong. Satu hari kami habiskan waktu untuk melihat kora Sorong, yang sedang menggeliat tumbuh dan masih butuh banyak pengadaan gedung perkantoran yang aman, air bersih, listrik, bahan bakar, dll.. Makan siang di resto ‘Goyang Lidah’, masakan jawa dengan cara timba sendiri, maksudnya ambil sendiri, hahaha… Kehidupan Sorong sebagai kota pelabuhan berlangsung 24 jam sehari. Berderet warung tenda menjajakan berbagai jenis makanan, yang selalu tersedia malam hari hingga subuh.

27 Sep. 2016
Takeoff jam 16.00 wit dari bandara Sorong menuju Jakarta menggunakan Garuda dan transit di Makassar. Alhamdulillah mendarat di Terminal 3 jam 18.00. Sampai jumpa Raja Ampat.
Masih banyak yang perlu dikerjakan untuk mengangkat Raja Ampat sebagai destinasi wisata internasional. Hotel, transportasi, restoran masih sangat kurang, apalagi transportasi laut masih minim kelengkapan safetynya. Tetap semangat untuk terus berkembang, Sorong dan Raja Ampat.
 ….
Terimakasih bung  Firdaus Ali dan rekan-rekan Indonesia Water Institute yang telah mengajak saya mengunjungi Sorong dan Raja Ampat. Sukses terusss ..
Tautan Video dan Gambar:
2016_0926_12535900-3

Waduk Sorong

Read Full Post »

Catatan ringan kali ini tentang perjalanan jagong manten (menghadiri pesta perkawinan) di Solo. Tentu wisata kuliner jadi tujuan kedua setelahnya. Sudah terngiang-ngiang cerita tentang nikmatnya gudeg Solo bu Harso yang perlu dibuktikan. Glegh …

Sabtu, 4 Jun 2016

akad nikah

Ki-Ka: bu Tutut, bu Dewi, bu Peni, bu Ari, bu Yudith

Sabtu jam 10 pagi GA-222 mendarat mulus di bandara Adisumarmo, Solo, langsung menuju kediaman orang tua pengantin putri, bapak Hari (adik ipar pak Jokowi), tempat akad nikah berlangsung. Terlambat, hampir selesai. Terlihat menpolkam LBP dan pengusaha TW, juga WT meninggalkan lokasi. Sempat menikmati salad solo, sejenis salad berisikan buncis, wortel, selada, daging sapi dan telor dengan kuah manis berwarna coklat yang disajikan dalam piring makan cekung kecil. Segar.

Jadi ingat cara khas menyajikan hidangan pada acara hajatan di kota-kota kecil di Jawa pada masa lalu, bukan dengan cara prasmanan dan standing party seperti lazimnya di kota-kota besar, melainkan dengan cara membagikan hidangan yang sudah disiapkan dalam piring/gelas untuk masing-masing tamu. Tamu duduk manis di kursi-kusi yang diatur rapi berbaris dan makanan dibagikan berantai dari tangan ke tangan mulau dari ujung barisan kursi. Para pekerja catering membawa baki besar berisikan piring berisi makanan sejenis untuk dibagikan ke para tamu secara serentak. Dulu, sebelum tumbuhnya usaha jasa catering, semua juru masak dan para pramusaji dilakukan oleh anggota keluarga, sahabat dan para tetangga terdekat. Urutan hidangan yang biasa disajikan berturut-turut dimulai dengan segelas minuman hangat dan kue kecil, lalu sup sayur (kentang, wartel, buncis dan daging) atau salad solo, kemudian sepiring nasi rames atau lontong capgomeh dan yang terakhir adalah es puter atau puding.

370998_620

Soto Gading 1, saat pak Jokowi menjamu tamunya beberapa waktu yll.

Setelah bersalaman dengan pengantin dan para orangtuanya, sebagai tanda turut berbahagia, kami pamit undur diri. Langsung menuju Soto Gading 1, Jl. Brigjen Sudiarto No. 75 Gading, Solo. Ini adalah warung soto tempat presiden Jokowi menjamu bu Mega dan pejabat lainnya beberapa waktu yang lalu. Semangkok nasi soto ayam bening dan kecambah di dalamnya dengan ubo rampe (tambahan lauk lainnya  yang biasa disajikan dalam beberapa piring) sate brutu kecap, bakwan udang, tahu goreng dan telor rebus terhidang di atas meja serta es jeruk, terasa wuenakk tenann .. Warung yang siap menampung kurang-lebih 80 orang itu dipenuhi para pelanggannya.

Ke hotel Aston, kami istirahat sejenak untuk menyiapkan diri ke acara pesta pernikahan setelah magrib.

IMG-20160605-WA0001-1

Ki-Ka: bu Moerjati S, Ibunda pak Jokowi, bu Dewi, bu Peni, bu Ari WP

20160604_Gudeg2

Gudeg Bu harso

Setelah melalui antrian yang panjang dan padat untuk bersalaman dengan pengantin dan kedua orang tuanya di atas panggung penuh bunga, kami bercengkerama sejenak dengan beberapa keluarga pengantin dan sahabat sebelum akhirnya undur diri untuk tugas selanjutnya, Gudeg Bu Harso… 😃.

Berada di sebuah bangunan kecil sederhana di
deretan pertokoan jalan dr. Rajiman, Laweyan, 20160604_Gudeg1warung makan bu Harso melayani para tamunya dengan menu andalan gudeg Solo yang bisa disajikan dengan bubur halus atau lontong sesuai selera tamunya masing-masing. Bu Harso sudah wafat, putrinyalah sekarang yang melanjutkan usahanya. Konon, sudah ada dua tempat di Solo yang menyajikan resep masakan bu Harso ini. Berbeda dengan gudeg Yogya yang berisikan sayur nangka, tahu/tempe bacem, 20160604_222928-1sambal goreng tahu/tempe, opor ayam dan kerecek; gudeg Solo berisikan sayur nangka, sambal tumpang pedas, soun cabe hijau dan opor ayam. Karena huenaknya, saya dan om Firdaus Ali sempat habisin dua piring. Masih ditempat yang sama, kami mencoba ketan yang ditaburi bubuk kedelai di satu sisi dan dengan taburan kelapa dn gula merah di sisi lainnya yang disajikan diatas daun pisang.. terakhir, kami mencoba Cabuk

Cabuk Rambak

Cabuk Rambak -Bu Harso

Rambak, yaitu lontong/ketupat bertabur parutan daging kelapa dan wijen yang terasa gurih dan dimakan dengan kerupuk rambak, yaitu kerupuk yang berbahan dasar karak/nasi. Juga disajikan di atas daun pisang. Gak salah rekomendasinya om Dimas Wahab, memang luezzaattt masakan Bu Harso.

Dari bubur gudeg, kami ber 15 digiring mbak Tutut ke warung tenda susu murni SHI Jack, yang menyajikan minuman susu dengan berbagai variannya, seperti coklat, jahe, madu dan telor. Bermacam kue basah terhampar di

atas meja panjang, termasuk juga ‘nasi kucing’.

20160604_230648

Susu murni SHI Jack

Semuanya dengan harga lokal yang sangat murah. Terlihat para paspampres dengan jeep mercy nya juga menikmati susu di warung ini, setelah mengawal Presidennya di acara resepsi pernikahan di atas. Masuk hotel dengan perut terasa super penuh. Puas dan tidur nyenyak.

Minggu, 5 Juni 2016
Pagi itu kami berharap bisa nenikmati sarapan pecel, sayangnya tutup. Berbeloklah kami ke soto daging (orang Jawa biasa menyebut daging sapi dengan daging saja) Tri Windu. Cukup sedap, sayangnya ubo rampe sudah habis semua. Batal  menikmati sate kambing Bejo yang katanya kegemaran pak Jokowi, kami lanjut nyate kambing pak Min yang tak jauh dari soto Tri Windu, menyajikan sate kambing, sate buntel (daging kambing cincang), gulai rebus/goreng. Sambil mendengarkan penjelasan dari om Dimas W. tentang INCOS (Indonesia Collecting Society) dan HaKI, kami menikmati sate kambing dll.tanpa nasi, karena perut sudah terisi soto. Cukup nikmat dan saya lebih menyukai sate kambingnya yang empuk tanpa lemak.

Selesai nyate, kami meluncur ke toko roti Orion di Jln. Urip Sumoharjo No. 80,  yang terkenal dengan roti lapis Mandarin, dan ramai dikunjungi para pemburu oleh-oleh penganan.. Dua dus roti lapis Mandarin Spesial jadi pilihan saya.Kardus pembungkus oleh-oleh yang rapi dan aman juga telah disiapkan oleh toko Orion untuk perjalanan darat maupun udara.

Sambil menunggu boarding GA-227 jam 14:00 menuju Jakarta, mbak Tutut masih juga menawari kami cemilan pisang goreng manis, singkong oven non-kolesterol dan serabi solo. Ampunnn mbak, super kenyang 😃.

Maturnuwun mas BKS, om Dimas dan om Firdaus Ali beserta ibu-ibu, yang sudah mentraktir saya dan istri wisata kuliner ke Solo.

Read Full Post »

4 Mei 2016, 8:30 GA-602 mendarat di bandara Sam Ratulangi, Manado. Ini adalah kunjungan singkat ke Manado yang kedua kalinya setelah 2014 saat kampanye pilpres, dan tak sempat jalan-jalan kemanapun saat itu.

Panas terasa menyengat dan awan tebal mulai menggantung. Manado masih sering hujan. Bandara padat kedatangan penumpang sehingga mobil perlu antrian panjang untuk keluar bandara.

Dari bandara kami menuju Bitung untuk melihat pembangunan pelabuhan dan industri pengalengan ikan.

Pelabuhan Bitung

20160504_114741

Pelabuhan Bitung

Dermaga baru Pelindo IV dengan crane raksasa siap melayani bongkar muat peti kemas. Kesibukan dermaga kurang terasa, hanya terlihat satu kapal besar pengangkut ratusan peti kemas sedang sandar di dermaga lama. Pelabuhan Bitung mampu melayani kapal ukuran 10.000 TEUs dan juga sudah siap melayani bongkar muat dua kapal sekaligus.

Industri Pengalengan Ikan

Kunjungan selanjutnya adalah industri pengalengan ikan tuna PT. Sinar Pure Foods International di Bitung untuk konsumsi domestik dan ekspor. Industri ini memperoleh bahan mentah ikan cakalang dari nelayan dan impor hingga dari Amerika Latin. Pembuatan kaleng ikan tuna, cold storage, pengupasan tuna matang, pengisian daging tuna ke dalam kaleng hingga pelabelan kaleng, semua di lakukan dalam satu kawasan pabrik tersebut.

Tuna

Pengupasan daging tuna matang

Menurut si pemilik, kapasitas pabrik 120 ton per hari hanya berproduksi 20 % saja, karena ikan sedang susah didapat dan perlu kapal lebih banyak. Mungkin ini yang sedang jadi polemik di media massa beberapa hari yang lalu antara pak JK dan bu Susi. Pak JK berpendapat bahwa produksi pengalengan ikan menurun drastis berhubung  pasokan ikan susah karena regulasi penangkapan ikan yang menghambat. Sedangkan bu Susi berpendapat bahwa tingginya pasokan selama ini terjadi karena illegal fishing dan tidak terjadi penurunan produksi pengalengan ikan, melainkan memang sudah lama tidak berproduksi. Entah siapa yang benar.. tapi saya sepakat bahwa perlu adanya aturan yang adil dan legal implementasinya.

Jembatan Soekarno

IMG-20160504-WA0011

Jembatan Soekarno

Kota Bitung semakin berkembang dan ramai, jauh beda saat mengunjunginya di tahun 1995. Melewati jalan yang ramai di Bitung, di beberapa tempat justru cenderung padat, kami meluncur menuju Jembatan Soekarno; jembatan yang mulai dibangun 2003 saat presiden Megawati berkuasa dan baru diresmikan di masa presiden Jokowi setelah 12 tahun masa pembangunannya. Menurut info, akan lebih indah dilihat pada malam hari, meskipun di siang haripun sudah terlihat indah megah.

Ikatan Alumni ITB
20160505_213143
Dalam kesempatan ini, kami sempat bersilaturahmi dengan Pengurus Daerah IA-ITB Manado sambil makan malam bersama di Resto Wahaha, kawasan kuliner boulevard Manado. Pada umumnya, alumni ITB di sini adalah dosen universitas Sam Ratulangi, yang kuliah S2 di ITB.
Dua hal penting yang disampaikan Ketua IA-ITB adalah sosialisasi kuliah di ITB ke SMU-SMU sehingga mereka semangat untuk kuliah di ITB dan program IA-ITB untuk menyebarkan alumninya bekerja di daerah-daerah, seperti halnya penempatan dokter ke daerah. Ada lebih dari 100 alumni ITB dari Manado yang diantaranya bekerja sebagai dosen, dep. Pupera, pertambangan, pengusaha, dll. namun malam itu hanya sekitar 40 an orang yang hadir. Pertemuan sangat akrab kekeluargaan, sambil makan malam diiringi organ tunggal dengan penyanyi dari para alumni sendiri. Diakhiri dengan foto bersama.

Teluk Buyat

20160509_001523

Manado – Buyat

Berangkat dari Manado jam 7 pagi menuju teluk Buyat yang terletak di pantai selatan pulau Sulawesi, berseberangan dengan kota Manado yang berada di pantau utara, membutuhkan 3 jam perjalanan di siang hari.

Teluk Buyat ini dulu sempat menjadi wilayah konflik antara pertambangan emas PT. Newmont Minahasa Raya dengan masyarakat nelayan Ratatotok karena isu pencemaran tailing, yang berujung dengan ditahannya presdir. Newmont.

Perjalanan ke Buyat penuh jalan berkelok, melewati kota Tomohon di bawah gunung Lokon yang selalu berasap di sebelah kanan dalam jangkauan pandangan mata, juga sawah hijau di pinggir jalan, tetap sejuk asri sejak dulu (1997), dihiasi bunga di pinggir jalan dan kakilima yang tertata rapi. Pengemudi juga sempat melewatkan kami di kota kecil industri rumah panggung kayu Woloan. Menurutnya, kayu sebagai bahan mentah rumah tersebut sudah semakin susah mendapatkannya. Penduduk di wilayah Woloan ini memang  dikenal mempunyai keahlian pertukangan.

20160506_103424

Desa Basaan Satu

Jalan bagus walaupun sempit, terus turun berkelok-kelok hingga sampai pantai selatan di kota kecil Belang. Hindarilah bermain media sosial menggunakan handphone anda saat berkendaraan di jalur ini, karena pasti akan pusing dengan mobil yang terus pontang-panting belok kiri-kanan. Dan setengah jam kemudian sampailah kami di kecamatan Ratatotok, desa Basaan Satu untuk melihat jeti kecil, hasil bantuan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara, yang mengelola dana lingkungan penutupan tambang Newmont.

20160506_124724-1

Jeti Ratatotok yang rusak dan pencemaran air laut

Desa Buyat semakin ramai dan jalan beraspal halus. Masih juga terlihat beberapa mobil hardtop yang biasa dipergunakan para penambang emas rakyat berlalu-lalang.

20160506_141744_001-1Pantai Lakban yang sedikit berombak, di sebelah teluk Buyat yang tenang, adalah tempat wisata warga sekitar Ratatotok. Ramai dengan pendatang yang bermain air atau hanya duduk-duduk di warung sambil menikmati kopi atau es kelapa bergula merah aren dan pisang goreng yang dicolek ke dalam sambal, khas jajanan Sulawesi Utara. Nikmat.

Setelah menikmati ikan bobara bakar rica yang disediakan penduduk setempat, jam 4 sore kami kembali ke Manado. Makan malam di resto Big Fish, lagi-lagi ikan bakar rica besar. Enak dan tidak membosankan, diiringi live music lagu-lagu Manado. Nyaman.

Seperti lazimnya kota yang sedang berkembang, lalulintas Manado macet dimana-mana. Lingkungan wisata kuliner di boulevard pinggir pantai selalu ramai pengunjung. Sempat kami ngopi sambil menikmati pisang goreng sambal rica di sana.

Pulang

Jam 4:30 keesokan harinya, berangkat ke bandara Samratulangi untuk terbang menggunakan Garuda GA-607 tujuan Jakarta. Sampai jumpa Manado dan sekitarnya yang ramah bersahabat. Tunggu jo, kita mo balik ulang someday.

Catatan

1. Video sekitar jeti perahu nelayan desa Basaan Satu

2. Pengalengan ikan tuna 1

3. Pengalengan ikan tuns 2

4. Terimakasih bung Ridwan yang sudah mengajak saya ke teluk Buyat. Siap menemani ke Indonesia Timur 🙂

 

Read Full Post »

Bandara Silangit Runway 2250 m x 30 m

20160427_093942-1

Prosesi Penerbangan Perdana Sriwijaya ke Silangit, Sumatera Utara 26 April 2016, didahului dengan beberapa sambutan dari Dirut Angkasa Pura 2, CEO Sriwijaya, Komisi 6 dan 11 DPR-RI, dan Plt. Gubernur Sumut, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.

IMG-20160426-WA0004

Ka-Ki: Pak Budi KS, Om Dimas W, om Firdaus Ali, Saya

Jam 7:30 Sriwijaya Air Boeing 737-500 terbang untuk pertama kalinya menuju bandara Silangit,  Kab. Tapanuli Utara dari bandara Sutta. Pesawat penuh penumpang, termasuk para undangan

20160426_110845

Om Sigit dan om Firdaus Ali

Inaugural Flight, Gub. Sumut tidak ikut,  dan penumpang umum lainnya. Nasi Hainan yang pulen dan ayamnya yang empuk, juga puding dan coklat menjadi hidangan utama pada penerbangan kali ini. Enak. Selain Sriwijaya, maskapai Garuda, Wings dan Susi Air juga singgah di Silangit.

Mendekati bandara Silangit, daratan bergelombang terlihat hijau di bawah. Sawah hijau berteras datar dan sekumpulan pohon pinus di perbukitan tersebar dimana-mana, indah.

20160426_115324

Ground Breaking oleh Dirut. Angkasa Pura II

Kira-kira setelah dua jam penerbangan, pesawat menyentuh landasan bandara Silangit. Para penyambut dan tenda penyambutan terlihat di halaman bandara. Acara adat dilakukan terhadap Dirut. Angkasa Pura 2, dipimpin tetua adat setempat dengan mengalungkan ulos, sarung, ikat kepala dan pedang dan diiringi musik tradisional. Ground Breaking dilakukan.

Mengunjungi Toba

20160426_122307-1

Silangit – Muara

Dari Silangit menuju hotel kecil Sentosa, pinggir danau Toba bagian ujung selatan, di kota kecil (kampung?) Muara. Dijamu makan siang oleh Bupati Tapanuli Utara sambil menikmati danau Toba diiringi suara merdu penyanyi kawakan yang berasal dari Tapanuli, Victor Hutabarat. Jalan raya ke Muara, menuruni bukit, sempit dan rusak, sedang dalam proses

perbaikan, seringkali harus berhenti bila berpapasan dengan kendaraan lain.

Pemandangan khas sepanjang perjalanan adalah seringnya dijumpai bangunan makam tunggal berbentuk rumah kecil dengan patung orang berdiri di atasnya. Lokasi, ukuran dan indahnya makam menunjukkan tingkat ekonomi keluarga. Terlihat juga makam di puncak bukit, besar berdinding keramik, bersih dsn megah. Tanda salib juga menyertainya.

Screenshot_20160426-201426-1

Silangit – Parapat

20160426_145955

Pasar Balige

Jam 3 sore saat panas terik, kami berangkat menuju Parapat yang berlokasi di sebelah timur danau Toba, kembali melalui bandara Silangit. Jalan bagus kelas 2 dari Silangit menuju Parapat melewati Balige, ditempuh kira-kira 2 jam. Jslan raya kota Balige cukup padat, khususnya depan pasar utama yang berdesain etnik Sumatera Utara, indah.

20160426_163506

Teluk Danau Toba dari Hotel Inna, Parapat

Jam 5 sore kami sampai di Parapat, adalah sebuah kelurahan di tepi teluk Danau Toba, kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, merupakan daerah wisata utama Danau Toba yang sejuk dan asri. Hotel Inna adalah tempat kami bermalam, yang menurut rekan sepetjalanan adalah bsngunan akhir tahun 60an. Betulkah? Hotel terdiri dari beberapa bangunan kanar terpisah menghadap danau, di lahan berkontur dengan jalan setapak yang rapi dan taman yang indah tertata. Serasa di Puncak, Bogor. Segar. Ingat, Danau Toba adalah kawah gunung berapi yang sudah mati di ketinggian. Banyak sekali speedboat di pinggir danau yang siap mengantar pengunjung berputar-putar sepanjang Parapat. Kami mampir

20160426_172808-1

Rumah Bung Karno

sebentar di depan rumah Bung Karno untuk mengambil gambar. Pulau Samosir terlihat samar di tengah danau dari hotel, dan karena sudah senja, kami tidak sempat berkunjung ke Samosir yang membutuhkan kira-kira 1 jam menggunakan speedboat. Sambil menunggu maghrib, kami ngopi di ‘saung’ pinggir danau yang masih di area belakang hotel. Salah satu menu makanan hotel yang kami pesan adalah martabak. Gak lama menunggu, akhirnya pesanan datang. Ternyata martabak indomie ha ha ha .. enak juga sih. Dan sebagai bonus pesanan minuman panas adalah 4 potong singkong goreng kecil.

Makan malam, kami memilih untuk makan di luar hotel sambil melihat-lihat Parapat. Jalan raya gelap tanpa penerangan dan kami makan di resto Raja Minang, restoran besar, terang dan nyaman. Makanan enak, kami biasa menyebutnya masakan Padang. Gulai ikan nila. Sepertinya pasokan listrik di daerah ini kurang karena suara generator listrik banyak terdengar.

Membayangkan Danah Toba yang sudah jadi tujuan wisata sejak lama, bahkan Bung Karno pun ada rumah peristirahatan di sana, mestinya sudah semakin bersih, terang, indah tertata dan hidup saat ini. Seandainya tersedia jalan mulus beraspal keliling danau, mungkin bisa menjadi tujuan wisata olahraga bersepeda internasional. Mengagumkan, terbayang-bayang.. Kawan seiring yang pernah berkunjung dan bermain musik ke Toba di akhir tahun 60an mengatakan “Toba tak ada perubahan yang lebih baik, sebagai tujuan wisata”. Hidup segan, mati tak mau. Lesu. Kenapa ya? Semoga dengan terbentuknya Badan Otorita Danau Toba, percepatan pembangunan kawasan wisata Danau Toba segera bisa dilaksanakan sehingga tercapailah angan-angan kehadiran ‘Monaco of Asia’.

Jam 7 pagi tepat, kami checkout setelah sarapan. Nanas yang kami santap sangat manis sekali. Menurut kawan, nanas di wilayah Sumut memang terkenal enak. Kurang dari jam 9, sampai di bandara Silangit, ngopi sebentar di kios dan boarding 10:30 menggunakan Sriwijaya menuju bandara Sutta. Sampai jumpa lagi Danau Toba.

Catatan

  1. Detik.com: Sriwijaya Air Resmi Terbang ke Bandara Silangit, Tapanuli Utara
  2. Youtube.com: Video Danau Toba, diambil gambar dari Hotel Inna
  3. Terimakasih om Firdaus Ali yang sudah mengajak saya dalam kunjungan ini. Semoga bersedia ngajak saya lagi berkunjung ke daerah. 🙂

Read Full Post »

Bilowo

‘Bilowo Rangsang’, Ki Manteb Sudarsono, 13 Nov. 2015

Ki Manteb 'in action'Berada di tengah jamuan budaya wayang kulit, selalu terasa gerak tercuri, berat niat untuk beranjak, bahkan ketika hanya sedikit makna luhur terserap dalam benak.

Waranggana berderet duduk tegak beralas kaki tertekuk lentur, kebaya keemasan berkelip menyamarkan kulit, selendang merah menggantung rapi terlipat, berbalut jarik batik hitam merah. Tak tampak wajah kantuk ataupun lelah. Terus senyum terlukis di wajah berrias indah, sesekali berdendang tembang mengalun halus meliuk merdu. Tinggi-rendah, cepat-lambat juga keras-pelan suara, seakan lentur gampang dibentuk. Indah.

WaranggonoBlangkon hitam berbeskap merah, berlirik putih halus dan kain batik gelap membalut bawah tubuh, jarik, menjadi seragam para pengrawit matang usia, terlihat mumpuni dalam jamuan ritual wayang. Rasa gerakkan tangan lincah menabuh saron, peking, bonang, gender, gambang, dsb tampak santai, kadang memandang alat tabuh dalam jangkauan. Sinergi suara bergerak padu, kadang lembut halus berriak tipis, sering juga gelombang bergerak keras cepat berpindah nada, energik. Tetap padu saling isi, gemuruh lembut nyaman terasa.
Bersila tegap Ki Dalang menghadap layar, gamelan mengalun selaras iringi lengan membentang angkat gunungan. Wayang kulit mulai tayang, suatu peradaban dikisahkan. Pertentangan antara yang hak dan bathil “becik ketitik, ala ketara”, dan begitu banyak ‘pepiling’ atau pesan keluhuran budi yang dikemas dalam keseriusan dialog berbeda watak, perang dan canda hingga adzan subuh menutup jamuan penuh makna.
Alhamdulillah senang menikmatinya.
Putri, Putro dan Ki Manteb

Ibu, Putro dan Ki Manteb

Para putri

Para putri dan putu

Para Putri

Para Putri

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: