Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Opini’ Category

Indonesia Berwarna

imagesKetika jaman Soekarno, 60an awal kira2, sering agak bingung melihat para orang tua bergerombol mendekatkan diri pada sebuah radio, dengan wajah serius memiringkan kepala untuk fokus mendengarkan pidato Presiden Soekarno. Wajah kagum menghias wajah-wajah mereka setelahnya .. lalu suara pujian lamat-lamat terdengar, saling berbisik …
 …
Tahun terus berganti, dijaman presiden Soeharto, mulai terbiasa menyaksikan upacara bendera 17 Agustus di TVRI, hitam-putih tentunya.. khidmat, sunyi, militeristik .. suara terompet, drum band dan suara lantang komandan upacara menjadi pengingat kuat dalam benak .. traumatik menegangkan, seiring suasana pensiun dipercepat bagi para pegawai negeri sipil di berbagai departemen. Demikian terus terjadi setiap tahunnya. Kadang sempat melihat selintas pidato presiden Soeharto di DPR/MPR, yang tentu tak sepenuhnya bisa aku pahami saat itu ” .. saudara-saudara .. meningkatken .. mangkin … “. Rutin, datar menjemukan. Lelah
 …
Kegiatan upacara 17an tersebut terus berlangsung setiap tahunnya, dalam suasana dan gaya yang sama, bahkan setelah presiden silih berganti. Ritual yang tak menarik lagi bagiku … membosankan.. seolah siaran ulang saja layaknya …
IMG-20170818-WA0001
Tahun 2017, menjadi tahun istimewa bagi bangsa Indinesia .. presiden Jokowi memberikan pidato APBN 16 Agustus 2017 dengan mengenakan pakaian daerah dan membungkuk hormat kepada Yang Terhormat anggota DPR berdasi. Luar biasa .. desakralisasi tata laku pidato resmi Presiden selama ini telah berubah menjadi lebih Indonesia. Cair, berwarna dan rendah hati terasa.
 …
Upacara pada HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan dengan semangat dan ceria, baik para elit pemerintah, maupun para undangan. Pejabat berpakaian penuh warna dan gaya, berlalu-lalang menuju tempat duduk dengan gembira saling berfoto ria. Tak lama, muncul Presiden berpakaian adat mengunjungi para undangan di bagian depan dan menyalaminya satu-persatu. Dengan ceria, mereka berebut mengambil gambar bersama. Selfie katanya. Tak pernah terjadi sebelumnya. Rendah hati.
 …
Berbagai suguhan hiburan dan karnaval budaya sangat indah untuk dinikmati, hingga kebhinekaan sangat terasa disana, sebagai pengingat bagi kita semua untuk merawatnya. Membanggakan.
 …
Baru kali ini tak bosan menikmati upacara  bendera HUT Kemerdekaan RI di istana melalui telivisi, sejak awal hingga akhir. Saat pengibaran bendera di siang hari, juga penurunan bendera di sore hari.
 …
Selamat pak Jokowi-JK, yang telah mengubah wajah upacara berkesan angker, menjadi ramah, indah, berwarna dan menghibur, namun tetap khidmad saat prosesi sang saka merah-putih, yang diawali arak-arakan menggunakan kereta kuda hingga pengibaran di depan istana negara.
IMG-20170817-WA0027
Momen penting yang belum pernah ada sebelumnya juga terjadi, ketika presiden Jokowi sukses menghadirkan semua mantan Presiden dan Wakil Presiden ke istana untuk saling bertegur-sapa, akrab. Semoga semua kesejukan para negarawan tersebut menjadi awal bagus untuk kebaikan bangsa dan negara. Amin
Iklan

Read Full Post »

images

Masyarakat Kolektif

Catatan penting tulisan Michael A. Witt, Professor dari Asian Business & Management, INSEAD di majalah digital Forbes 6 Maret 2012, bisa menjadi panduan untuk memulai membangun kemitraan dalam lingkungan budaya China di negerinya. Pengalaman bernegosiasi dengan beberapa pengusaha asal  China yang berdomisili di luar  negeripun juga menunjukkan kultur yang tidak jauh beda.

  1. Investor perlu ‘blusukan’ di kota-kota pinggiran China utk dpt info holistik ttg budaya masy. China, bila mengharapkan bisa berbisnis disana.
  2. Perlu melakukan analisis keunggulan kompetitif dan tidak terjebak pada nafsu pertumbuhan pasar sendiri
  3. Perlu kesabaran dan tidak terburu-buru dalam memulai operasi dengan mengenali relasi lebih dalam sebelum membuat keputusan kemitraan
  4. Masyarakat China adalah masyarakat kolektif, meskipun akan bersikap individualis thd kelompok yang berbeda, shg sikap kooperatif akan sulit dicapai. Win-win solutions bukanlah karakter mereka sehingga kecenderungan re-open negotiation sering terjadi pada saat dealing sudah hampir berhasil, karena dianggap tidak cukup keras bernegosiasi (terlalu berkompromi).
  5. Ada dua cara membangun trust, yaitu berikanlah trust hingga terbukti tidak dapat dipercaya, atau buktikan dulu hingga layak dipercaya. Kultur bisnis China sepertinya mengikuti cara yang kedua. Konsekuensi dari karakter seperti ini, ditambah dengan sifat individualis (diluar groupnya) dan sistem legal China yang kurang imparsial, menyebabkan sikap oportunistik, sehingga berakibat sulitnya membuat kontrak bisnis. Mekanisme sejenis cash on delivery sering menjadi jalan keluar.
  6. Untuk menghadapi karakter oportunistik, perlu dibangun kepercayaan personal terhadap relasi bisnis yang membutuhkan waktu lama, sehingga sikap tergesa-gesa akan sangat berresiko. Makan malam dengan minuman beralkohol adalah cara termudah yang biasa dilakukan dalam budaya bisnis China, namun perlu kecerdikan dalam mengkonsumsi minuman beralkohol yang ditawarkan, sehingga bisa tetap fokus dalam membangun hubungan.
  7. Batas-batas negosiasi seringkali tidak jelas dan kekuasaan politik bisa menjadi parameter yang sangat menentukan.
  8. Kultur masyarakat China adalah hirarkis, keputusan penting akan dilakukan secara top-down, maka perlu memahami posisi hirarki relasi bisnis saat sedang bernegosiasi karena otoritas pengambil keputusan berada pada puncak tertinggi. Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi formal, usia dan pendidikan dari lawan negosiasi.
  9. Sistem pemerintahan komunis China adalah desentralisasi, sehingga apapun yang diperintahkan pemerintah pusat untuk dilakukan pemerintah daerah, pasti akan dikerjakan. Namun demikian, dealing bisnis dengan pemerintah pusat untuk pekerjaan di daerah, tanpa melakukan dealing dengan pemerintah daerah, pasti akan bermasalah.
  10. Perlu difahami bahwa kondisi ekonomi China yang sedang bagus dan ambisi pemerintah untuk terus memacu BUMN hingga berprestasi dan menguntungkan, akan menjadi pesaing berat perusahaan swasta, untuk itu perlu berhati-hati menentukan pasar. Kerjasama saling menguntungkan masih mungkin terjadi bila tekonologi anda memang sangat dibutuhkan oleh pemerintah China.

Ref.: The Ten Principles For Doing Business In China

Read Full Post »

Persepsi vs Realitas

imagesDalam kasus “Penistaan Agama oleh Ahok”, kompromi antara demonstran dengan Wapres JK sore 4 November 2016 di istana, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden pada jam 12 malam harinya, adalah memerintahkan Kapolri untuk mempercepat Proses Hukum Ahok secara terbuka, supaya bisa disaksikan masyarakat, dengan harapan kecurigaan terhadap kemungkinan terjadinya ‘permainan‘ peradilan dapat dihindarkan. Ternyata tak semua pihak bisa menilai atau lebih tepatnya bersedia menilai upaya presiden ini sebagai sebuah niat baik. Reaksi sebagian dari pihak penuntut justru menganggap Presiden melakukan intervensi proses hukum, yang dengan alasan tersebut maka Presiden bisa dituntut bahkan dimakjulkan. Hemmm … garuk-garuk tangan … kira-kira apa komentar mereka bila proses hukum dilakukan tertutup?

Proses untuk mendapatkan keterangan dari saksi, termasuk terlapor Ahok, sudah mulai dilakukan polisi kemarin, Senin 7 November 2016. Komentar miring kelompok penuntut Ahok di medsospun mulai bermunculan, “kemungkinan ahok dibebaskan sudah terlihat”, “pertanyaan penyidik meringankan ahok”, dll. yang pada intinya, penyidikan sebagai suatu kenyataan proses hukum dirasa sudah bertentangan dengan Harapan (bukan fakta hukum). Mulai tumbuh kekhawatiran karena harapan dirasa tak searah lagi dengan kenyataan bahwa ‘Percepatan Proses Hukum Ahok’ tak berujung pada ‘Hukum Ahok’. Kecewa.

Seperti diketahui bahwa Persepsi yang melebihi Realitas (satu tingkat dibawah mimpi) bisa terjadi karena:

1. Kurangnya informasi
Kekurangan informasi disini bisa terjadi karena memang tak banyak informasi ditemukan, atau banyak informasi valid namun tak mampu menganalisisnya sehingga berakibat salah persepsi.

2. Pengingkaran kebenaran informasi

Realitas berada jauh dari ekspektasi yang dibangun berdasar kesalahan asumsi sehingga terjadi dilusi, frustrasi.
Didasarkan pada kemampuan pengendalian harapan atas hasil proses hukum yang mungkin akan membebaskan Ahok ditingkat penyidikan, karena tidak ditemukannya unsur pidana, akan segera muncul persepsi baru yaitu Menerima Kenyataan atau Mengingkarinya.
Bila alasan-alasan hukum positif yang memang harus membebaskan Ahok bisa diterima para penuntut secara jernih obyektif, tanpa mempertentangkannya dengan persepsi yang berlebihan, maka selesai sudah drama Penistaan Agama. Namun apa yang akan terjadi bila Realitas Hukum tak bisa diterima karena persepsi kolektif atas kebenaran sendiri yang begitu tinggi? Pengingkaran kebenaran informasi akan terjadi dan berujung pada frustrasi. Peran para pemimpin menjadi sangat penting untuk membantunya ‘menginjak bumi’, menerima kenyataan. Kecuali, rasa frustrasi massa memang sudah menjadi prasyarat yang direncanakan (by design) atas niat pemakjulan presiden seperti diteriakkan beberapa orator politik dalam demonstrasi ‘Damai’ 4 November yang lalu, maka sudah bisa diduga kekacauan traumatik bangsa ini akan terjadi lagi. Bila demikian adanya, maka menjadi jelas bahwa gembar-gembor “Hukum Ahok!!!” hanyalah sasaran antara saja dan sasaran akhirnya adalah pemakjulan Presiden terpilih, Jokowi. Kejam.

Read Full Post »

Hah … itu bener video Jokowi dan putranya ??? Setelah foto Boeng Karno yang berkaos dalam dan Gus Dur yang bercelana pendek, baru sekarang muncul lagi presiden yang dengan santai bersarung, tak perlu berjas dasi necis, seolah berpesan akan kerendahan hati. Sambil menggulung lengan kaos dalam putihnya, Presiden menunjukkan lengannya yang langsing kurang berotot, dibandingkan lengan putranya yang begitu gempal terlatih, lalu menepuknya dan berkomentar: ” belum tentu kaya gini ini kuat …” Tawaran adu panco pun (engkol, bahasa Jawa) dilayangkan sang anak ke bapaknya. Menyeruak tanya dalam benak “Apa maksud adegan video pendek ini?”. Pesan moral, sindiran politik, nasihat kesehatan atau teguran buat anak?

Screenshot_20160704-231614Buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell kembali mengingatkan kisah lama tentang si Lemah David melawan si Raksasa Goliath yang kasat mata seharusnya dengan mudah mampu melindasnya. Namun, kita semua sudah mengetahui hasil dari pertandingan ini. David dengan kesabaran, rendah hati dan kecerdikannya mampu mengalahkan Goliath sebagai representasi kesombongan dengan cara melempar batu hingga menjatuhkannya dan membunuhnya. Gladwell menulis dalam bukunya “Giants are not what we think they are. The same qualities that appear to give them strength are often the sources of great weakness”.
“Yang besar belum tentu kuat”, ungkap sang Presiden kepada putranya seolah memberi pesan moral pada kita semua bahwa kekuasaan, kekayaan ataupun kepandaian yang dilandasi kesewenang-wenangan, ketamakan dan kesombongan akan mampu mencelakakan dirinya sendiri. “Yang besar adalah kuat kesabarannya, yang besar adalah kuat keshalehannya“, pesan penutup Presiden dalam video pendek sang putra, Kaesang.
Ataukah ini dimaksudkan sebagai kelanjutan pesan politik Presiden untuk memperingatkan Tiongkok beberapa saat yang lalu saat kunjungan di laut Natuna? Entahlah.

Read Full Post »

Screenshot_2016-03-29-16-00-40-1“Wherefore my counsel is, that we hold fast ever to the heavenly way and follow after justice and virtue always, considering that the soul is immortal and able to endure every sort of good and every sort of evil”, The Republic.

Majalah Basis No. 1-2 2016

The Republic, Book VIII, oleh Plato

Setelah puluhan tahun tak membacanya, Majalah Basis terbaru mulai di tangan lagi. Satu artikel yang ‘menggairahkan’ langsung jadi perhatian utama, ‘Siklus Kejatuhan Rezim Politik‘, karya Ito Prajna-Nugroho. Tulisan tentang buku The Republic, buku VIII. Berikut ini adalah sedikit kutipan penting dari tulisan tersebut

The Republic adalah karya filsafat yang menguraikan secara sistematis keterkaitan antara tatanan politik dengan tiga hal penting yg menopangnya, yaitu Keadilan (justice), Keutamaan (virtue) dan Gerak Jiwa (soul).

Perubahan rezim politik bergerak bagaikan siklus, dimulai dari rezim filsuf-negarawan yang baik (aristokrasi), kemudian berturut-turut berubah menjadi rezim militeristik (timokrasi), rezim pemburu rente (oligarki), rezim anarkis (demokrasi) dan berujung pada rezim tangan besi (tirani).

Siklus kejatuhan rezim-rezim politik perlu dipahami dlm 3 kerangka utama.

  1. Sebagai analisis psiko-plitik, yang bertumpu pada kesejajaran antara tatanan politik dan tatanan jiwa. Tegak atau runtuhnya setiap bangunan sosial-politik selalu bertumpu pada kualitas kejiwaan manusia yg menghidupinya.
  2. Sebagai alat bantu untuk mengontraskan perbedaan dasar antara tatanan yang adil dan yang tidak adil.
  3. Sebagai analisis forensik thd kecenderungan tatanan, baik jiwa maupun politik, yg cenderung bergerak tak terkontrol melewati batas utk menemui ajalnya sendiri.

Kekuatan yang dimiliki rezim demokrasi, yaitu Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi, juga menjadi kelemahannya, bahkan penyebab kejatuhannya.

Nilai Keutamaan (virtue) merupakan syarat yg harus dimiliki warga dalam rezim demokrasi, supaya dapat membatasi Kebebasan diri demi kebaikan bersama. Menurut skema psiko-politik Plato, sang penulis buku, anarki yang muncul dalam tatanan demokrasi merupakan cerminan anarki di dalam tatanan jiwa. Hasrat kebebasan yang kebablasan. Akhirnya, anarki selalu menjadi awal dari datangnya rezim kediktatoran atau tirani.

Bukan hal mudah bagi saya untuk dapat mengerti dengan cepat isi buku The Republic ini. Tebal bukunya melelahkan dan banyak asesori cerita di dalamnya, sehingga tak pernah selesai membacanya. Sering harus baca berulang untuk mengerti, atau bahkan tetap tidak mengerti :). Untuk itu saya berterimakasih pada penulisnya, Ito Prajna-Nugroho, yang sudah mempermudah pengertian dari bab yang sangat penting, The Republic, Book VIII.

Saya membaca The Republic dari buku digital Play Books, hanya Rp. 13.392 saja.

Read Full Post »

Terus menyangkal

images

Selesai sekolah di kota, Paimin pulang kampung
Paijo kawan masa kecil Paimin, sangat mengaguminya
Bangga berbinar Paijo, Paimin nyalon Lurah
“Mas Paimin pemimpin kita”, dalam benaknya

Modal Paimin mengucur deras, Paijo bekerja keras
Badan tegap, dagu diangkat, Paijo melangkah
Kusak-kusuklah Paijo berbisik malu, cari dukungan
Tak cukup gaungnya, provokasi disebar
Poster dipasang, pamflet disebar, akun medsospun bertebaran
“Ganteng gagah, sugih pinter, pasti menang”, teriaknya
Di darat maupun di angkasa

Bejo, pengantar paket, didukung warga nantang Paimin
Berangkat pagi, pulang petang, keliling kota
Pekerjaannya, membuatnya banyak dikenal warga
“Rendah hati, luhur budi dan ringan tangan”, slogan pendukungnya. Klasik

Deg-degan jantung Paimin sangat terasa
Harga dirinya tersenggol “edian, sarjana ditantang”, kesal
Hati meradang, lelah pikir, mulai fitnah Bejo
“Bejo dibayari cukong”, teriak kencang menantang langit

Kearifan budaya membuktikan dirinya
“Becik ketitik, ala ketara”
Kalah pemilihan, Paijo mulai sulap sana-sini
Tak bisa terima, dendam menguasai diri

Waktu berjalan,
Tambak bandeng, sawah, ternak, produktif semua
Jalan diperbaiki, sungai dikeruk, pasar dibangun
Lurah Bejo jadi panutan warga, sukses

Nyinyir Paijo dkk. mulai beredar
Kritik katanya, tapi fitnah isinya
Foto-foto pembangunan menghantam Paijo
“Seperti jaman Soeparto, berita pembangunan terus!!”, keluhnya di angkasa
Tangan terkepal, mata melotot, marah
“Janganlah jumawa setelah menang”, lanjutnya lembut
Paijo belindung di bawah kata, mencoba bijak di angkasa
“Loh … nyinyir dijawab fakta kok jumawa”, kawan Bejo terus bersabar

Kasihan Paijo,
Kening terus berkerut, siasat terus diatur
Komat-kamit sepanjang jalan
Suara lirih terucap keluh
“Aku harus menang …” penyangkalan akut.

Read Full Post »

Licik

imagesBenderang sudah mata batinku,
bahwa kesombongan, kelicikan, fitnah,
dan segala persekongkolan jahat lainnya,
ternyata memang berada pada para pengabdi kuasa,
yang ujungnya adalah pengais recehan belaka,
yang juga tak ragu menggigit tangan yang menyuapinya.

Lucunya, karakter licin bak belut seperti ini,
ada yang menganggapnya sebagai suatu keahlian ‘berpolitik’,
untuk menyiasati suatu sistem hingga dapat menguasainya,
sehingga mempunyai nilai, yang layak diperjualbelikan.
Sialnya, memang ada penggunanya.

Alhamdulillah,
masyarakat, apapun strata sosialnya,
yang sudah kerap tertipu dengan topengnya,
mulai lelah melihatnya dan mampu kembali jernih berpihak
pada nilai-nilai luhur, kejujuran, kerendahan hati, gotongroyong, kerjakeras dan kerjacerdas.

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: