Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sambil Lalu’ Category

Preman

imagesPada mulanya adalah kekaguman
“Hebat !!!” ungkapnya
Tegas, anti korupsi, bangun sana-sini
Menggelinding cepat, penuh tenaga
Sebagian terlindas, yang lain tiarap
Banyak juga berbalik sikap
Ketakutan merambat, pelan …
Tidur tak nyenyak, duduk tak tegak
Menggeliat penat, lambat merayap
Sadar tergugah, panik menyerbu
Goncangan terasa, kenyamanan terganggu
Kusak-kusuk, tiup-tiup, beranjak gerak
DIA PENJAHAT !!!! Lantang teriak, berburu selamat
Tangan terkepal mata melotot … merah marah
Fitnah menyerbak …
Hancur … kotor lagi, korupsi lagi, preman lagi
Duduk tenang, tunggu setoran
“Enak begini”, pikirnya
Kasihan ….

Read Full Post »

Getir

poster_sinet-23Sambil nunggu siaran langsung badminton, olimpiade Rio 2016 di stasiun tv swasta, coba-coba lihat saluran-saluran tetangga. Ehh … ikutan nonton sinetron produksi lokal. Gak apa-apa, sekaligus pengin tahu berhubung sudah lama gak menontonnya.

Aktrisnya cantik-cantik, aktornya ganteng-ganteng, baik yang muda maupun yang tua. Cerita tentang eksekutif muda. Pria muda gagah berdasi keluar dari ruang kantornya, tak lupa memberikan perintah ini-itu ke sekretarisnya. Memberi kesan sebagai pejabat tinggi di perusahaan tersebut. Masuk ke ruang dirut pershn yang ternyata bapaknya sendiri, chitchat sebentar lalu anak muda itu pamit keluar kantor, bermobil sport, menjemput perempuan muda cantik di rumah mewahnya, untuk makan siang di sebuah resto. Cerita berikutnya ya cuma hahahihi saja dan berujung keperkawinan mewah dengan warisan sebuah perusahaan besar karena sang bapak mau menikmati pensiun. Hadeuh … ini cerita apa sebetulnya ?? Raam Punjabi pernah berujar bahwa thema seperti ini adalah “memberi harapan”, bukan mimpi.

Jadi ingat obrolan ringan 30 tahun yang lalu dengan kawan di Bandung tentang persinetronan kita yang secara thematik tidak ada perubahan hingga sekkarang. Umumnya cerita dimulai dengan kisah kecil dimanja, muda kaya-raya, tua bahagia, mungkin mati juga masuk surga. Nikmat apalagi yang kau nantikan? Kalaupun ada sedikit modifikasi cerita, biasanya diawali dengan kisah duka dan berakhir kaya raya. Nikmat juga.. Itu perbincangan ringan kami saat itu, lalu berkembang dengan obrolan kisah nyata di ibu-kota. Sering terlihat di perempatan, anak-anak usia sekolah dasar minta-minta di sebelah mobil, yang dewasa maksa bersihin kaca depan, yang tua bersimpuh di pembatas jakan dengan kaki dikerubuti lalat dan tangan menadah. Juga tersebar di medsos, kisa pak tua yang sakit dan tergeletak di gerobak pinggir jalan. Kecil susah, hingga mati tua pun sengsara … nyata. Siapa yang akan membuatkan filmya??? Ironis ..

Read Full Post »

052130100_1424450379-dubes_Azerbaijan_17215__1_

 

Asik juga ketemu orang-orang dari kebangsaan yang berbeda-beda malam itu, di acara perayaan sederhana ulangtahun Kemerdekaan Azerbaijan yang ke-98 atas undangan pak Dubes. Tamerlan Garayev, yang diadakan 23 Mei 2016 yang lalu. Obrolan ringan penuh persahabatan dengan masing-masing staf kedutaan Mozambiq, Sudan, Slovakia, Bosnia, Iran, Russia dan AS; cukup menyenangkan. Berbagai cerita budaya, industri dan hubungan kerja-sama dengan Indonesia banyak terungkap sambil makan malam ‘standing party’ dengan sajian makanan aneka rupa, namun ada yang khas yaitu semacam kebab ayam dan kambing guling bersaos khas Azerbaijan. Lezat.

Slovakia bercerita tentang kesibukan negaranya membangun Bratislava, yang kebetulan saya pernah berkunjung kesana, sehingga obrolan lebih mengasyikkan. Industri daging sapi, ayam dan kambing, cukup maju di sana. Menurutnya, Bratislava layak menjadi ibukota Uni Eropa. Mozambiq dan Sudan bercerita tentang industri migas dan bermaksud utk ekspor ke Indonesia. Juga, pertambangan mineral dan impor tekstil ke negerinya. Dubes Bosnia ‘menjual’ keindahan negerinya dan berkeinginan bekerjasama dengan negeri kita untuk memasukkan Bosnia sebagai rangkaian destinasi wisata pada paket Umroh jemaah Indonesia. Industri militer Bosnia juga cukup maju. Iran coba menawarkan industri militernya. Paling santai ngobrol dengan atase militer Russia yang ceria bercanda, mungkin karena mereka sudah dan akan investasi besar di Indonesia. Pembangunan jalan kereta api di Kalimantan, smelter dan pertambangan nikel di Sulawesi dan yang terbesar adalah pembangunan kilang di Tuban. Atau, bisa jadi karena sosok presidennya yang sudah saya baca di beberapa buku, sehingga serasa mengenalnya, dan juga karena masih hangatnya berita kunjungan Presiden Jokowi ke Russia minggu yll. AS, entah kenapa kok malam itu saya kurang tertarik  ngobrol ya hehe .. mungkin karena ada label di kartu namanya ‘political section’, berkesan serius ..

Informasi dari buletin Ĺegacy yang dibagikan untuk para tamu, Azerbaijan memproklamasikan dirinya sebagai Republik Demokrasi Azerbaijan pada tanggal 28 Mei 1918, setelah revolusi Rusia. Masalah politik yang masih rumit hingga saat ini adalah masih dikuasainya sebagian wilayah Azerbaijan oleh negara tetangga, Armenia, yang didukung oleh Russia. Gangguan politik bahkan sampai terjadi perang fisik hingga pem’bumi-hangus’an wilayah Azerbaijan sudah terjadi sejak era kemerdekaannya, oleh aliansi Turki-Rusia.

Saat ini Azerbaijan dipimpin oleh presiden Ilham Heydar oglu Aliyev dan Persana Menteri Artur Rasizadə, yang keduanya menjabat sejak 2003.

Catatan

1. Azerbaijan – Bloody memories

2. Dubes Azerbaijan harap Armenia tarik pasukan militer

Read Full Post »

IMG-20160317-WA0010-1

DR. Ir. Firdaus Ali, MSc. di panggung Kick Andy

Sambil menunggu kawan, Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc. sebagai narasumber pada acara Kick Andy berjudul ‘Krisis Air dan Pejuang Air’, dan bintang tamu lainnya, mbah Sadiman, pemenang Pejuang Lingkungan Kick Andy Heroes Award, mulai ‘tapping’ di studio Metrotv, yang rencananya dimulai jam 7 malam, saya mampir di Michel’s Patisserie, beli es cappucino dan duduk di ruang makannya jam 5 sore itu.

Ruang makan besar, dengan meja panjang dan sepasang bangku panjang tanpa sandaran di kedua sisinya, terasa bersih, rapi dan nyaman. Banyak televisi menempel pada kolom-kolom ruang, yang semuanya menayangkan siaran metrotv. Sejauh mata memandang, tampak gerak para pekerja berseragam baju kerja biru tua, yang semuanya masih muda, mungkin 25 tahunan usia mereka, berlalu-lalang dalam kantin dan cafe di sebelahnya. Meja panjang yang didesain mampu untuk duduk berenam itu membuat terlihat seperti ada beberapa kelompok diskusi, canda atau hanya sibuk menikmati makanan sambil memainkan gadgetnya. Mungkin mereka sedang istirahat setelah bekerja, atau bisa jadi justru bersiap diri untuk mulai kerja pada giliran berikutnya. Yang menarik, rasanya semua terlihat seusia, ceria dan enjoy dengan pekerjaannya. Apakah ini yang dimaksud ‘Y Generation’?

Di gedung utama Metrotv, sudah berjubel para penonton berdiri di lobi utama lantai satu, suara keras musik hidup dilantunkan group band anak-anak muda di pojok ruang, menghibur penonton Kick Andy yang belum diijinkan memasuki studio di lantai dua. Di lantai dua, berderet makanan tersaji di atas meja panjang, terhidang untuk para nara-sumber dan kerabatnya, serta pemusik tamu yang biasa mengisi acara di sesi penutup. Acara talk show Kick Andy ini memang termasuk tayangan Metrotv yang saya sukai, inspiratif, dengan panduan bung Andy F. Noya yang bertutur-kata halus  kadang ‘ngenyek’, namun tak menggurui. Beruntung saya mendapat kesempatan menikmati langsung proses rekamannya, tengyu om Firdaus Ali.

Masuk dalam studio Kick Andy, lagi-lagi simpang-siur para pekerja muda energik bergerak lincah cekatan naik-turun panggung, menata acara ‘tapping’ Kick Andy ini, yang kebetulan, akan mulai menggunakan setting barunya. Ha ha ha .. terlihat lompatan usia dalam kesibukan kerja ini, antara sang senior pemilik panggung Andy F. Noya, yang berjiwa muda dan selalu dengan tampilan trade mark nya, kemeja panjang berdasi dan lengan tergulung, dengan para pendukung yuniornya. Berbeda dengan para anchor Metrotv yang sudah ‘matang’ dan familiar tayang di layar televisi dari pagi hingga larut malam, para pendukung di belakang layar dan reporter lapangan, memang terlihat rerata para muda usia. Selesai acara tapping hampir jam 10 malam, penonton pulang dan pekerja muda masih tinggal membereskan pekerjaannya.

Bioritme para pekerja muda energik ini mungkin berbeda dengan para pekerja kantoran yg umumnya hanya satu shift saja. Makan jam 5 sore, aktif kerja hingga larut malam, bahkan banyak pula yang hingga menjelang pagi. Senang melihat keceriaan dan semangat mereka dalam bekerja. Salut untuk pekerja muda Metrotv. Dan saya yakin, demikian juga kultur para pekerja-muda di televisi lainnya. Terus semangat kawan muda !!!

Read Full Post »

Rumah Suram

Rumah TuaPagi sore lewat rumah suram itu
Tak hendak juga mata memandang
Bukan tak suka, apalagi benci
Tapi memang tanpa kesan,
Dingin tak mengundang
Kusam kumuh tak terurus
Hening, kokoh dalam diam

Bila Siapa hendak mengurusnya
Mulai muncul cerca padanya
Sumpah serapah nyinyir adanya
“Ok, robohkan saja”, usul Siapa
Tak gerak juga mereka rupanya
Baik tak hendak, kumuh tak mau
Cela dan intrik terus upaya,
Pendengki akut mereka ternyata

(Selamat buat bung MFR dgn penugasan barunya)

Read Full Post »

Bebal Kuasa

Bebal Kuasa

Benderang jalan di ujung sana
Damai tampak di cakrawala
Sungguh jelas arah dipilih
Tapi mengapa tak gerak juga?

Paruh jalan penuh tawa
Riuh ceria raga belaka
Bila bekal tak cukup cerna
Maka gemerlap sesat semata

Wajah menunduk maksud merendah
Suara datar unjuk didengar
Saat tiba harus mengungkap
Kelu lidah kata tergagap

Segala gerak mencari nyata
Rasa tentunya, lebih bermakna
Namun bila bebal kuasa
Sepi arti kosong belaka

(Jagorawi, 30 Juni 2015)

Read Full Post »

durianSering kita mendengar “saya kan bermaksud baik, kenapa tidak diterima?”. Apa yang dimaksudkan sebetulnya? Pertanyaan philosofis menurutku.

Melihat kebaikan ibarat melihat durian berduri banyak di kulitnya. Kebaikan itu sendiri ada di tengahnya, sedangkan masing-masing duri adalah cara pandang terhadap kebaikan. Representasi cara pandang tersebut ditunjukkan dengan beragamnya ideologi atau mazhab pemikiran filosofis yang berbeda di dunia ini. Pemikiran dialektis, kajian holistik dan optimasi terhadap berbagai cara pandang inilah yang diharapkan bisa diterima semua pihak untuk disepakati.

Di dalam komunitas egaliter dimana setiap individu punya bobot suara yang sama, maka dalam era demokrasi diterapkan sistem perwakilan untuk merumuskan dan menyepakati suatu ‘kebaikan’. Sedangkan dalam suatu komunitas yang sudah disepakati jenjang otoritasnya (birokrasi pemerintah, perusahaan, organisasi lainnya, dll.), nilai ‘kebaikan’ diputuskan oleh pihak pengemban otoritas, meskipun selalu ada cara untuk melakukan perubahan yang biasanya juga telah diakomodir salam suatu sistem yang dianut bersama. Nah, kesepakatan-kesepakatan seperti ini harus diterima dan dijalankan sehingga tidak terjadi chaos. Artinya, memaksakan ‘kebaikan’ menurut cara pandang sendiri supaya diikuti banyak pihak dalam suatu komunitas, jelas tidak bisa diterima.

Refference di bawah ini banyak menunjukkan contoh bahwa dalam memandang suatu masalah, selalu ada berbagai ‘kebaikan’ dari berbagai sisi, yang tidak jarang justru bertentangan.

Ref.:

1. “Justice“, Michael Sandel

2. “What’s money can’t buy”, Michael Sandel

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: