Feeds:
Pos
Komentar

durianSering kita mendengar “saya kan bermaksud baik, kenapa tidak diterima?”. Apa yang dimaksudkan sebetulnya? Pertanyaan philosofis menurutku.

Melihat kebaikan ibarat melihat durian berduri banyak di kulitnya. Kebaikan itu sendiri ada di tengahnya, sedangkan masing-masing duri adalah cara pandang terhadap kebaikan. Representasi cara pandang tersebut ditunjukkan dengan beragamnya ideologi atau mazhab pemikiran filosofis yang berbeda di dunia ini. Pemikiran dialektis, kajian holistik dan optimasi terhadap berbagai cara pandang inilah yang diharapkan bisa diterima semua pihak untuk disepakati.

Di dalam komunitas egaliter dimana setiap individu punya bobot suara yang sama, maka dalam era demokrasi diterapkan sistem perwakilan untuk merumuskan dan menyepakati suatu ‘kebaikan’. Sedangkan dalam suatu komunitas yang sudah disepakati jenjang otoritasnya (birokrasi pemerintah, perusahaan, organisasi lainnya, dll.), nilai ‘kebaikan’ diputuskan oleh pihak pengemban otoritas, meskipun selalu ada cara untuk melakukan perubahan yang biasanya juga telah diakomodir salam suatu sistem yang dianut bersama. Nah, kesepakatan-kesepakatan seperti ini harus diterima dan dijalankan sehingga tidak terjadi chaos. Artinya, memaksakan ‘kebaikan’ menurut cara pandang sendiri supaya diikuti banyak pihak dalam suatu komunitas, jelas tidak bisa diterima.

Refference di bawah ini banyak menunjukkan contoh bahwa dalam memandang suatu masalah, selalu ada berbagai ‘kebaikan’ dari berbagai sisi, yang tidak jarang justru bertentangan.

Ref.:

1. “Justice“, Michael Sandel

2. “What’s money can’t buy”, Michael Sandel

Permohonanku

Permohonanku

Ya Allah junjunganku,

Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang

_____

keserakahan dan kesombongan,

kekejaman juga kesewenang-wenangan,

begitu mengurung segala tindakan

_____

berikanlah hambamu kesabaran juga kekuatan,

serta keluhuran budi dan kerendahan hati,

untuk tetap bertahan,

dari godaan dan jebakan,

juga kesesatan,

yang mengancam segenap laku keutamaan,

dan kebenaran

_____

yakin Kau dengar, suara batinku,

sudilah kiranya, kumohon padaMu,

lindungilah hambamu

Amin

_____

Jakarta, 29 April 2015

-hambamu-

The Boom

The BoomBuku ini berisi informasi tentang fracking dan sejarahnya mulai dari akuisisi ‘mineral right’ dengan cara menyewa properti di permukaan tanah dari para pemilik lahan/rumah, metoda sederhana produksi minyak, teknologi fracking yang mengubah dunia, kebijakan energi hingga dampak lingkungan yang diakibatkannya. Perusahaan minyak Mitchell Energy, Chesapeake, Devon International dan George Mitchell, McLandon, Larry Nichols sebagai pengusaha minyak yang sukses dengan metode fracking ini, menjadi pusat cerita. Tahapan dan kelengkapan proses fracking juga dijelaskan cukup rinci dari kacamata seorang jounalis, Russel Gold ini.

Pada awal 2000an, target penelitian Russel adalah perusahaan migas kecil-menengah, tidak menjual bbm atau mengoperasikan kilang minyak, dan hanya beroperasi di AS, yang jauh dibawah kelas Chevron atau BP yang kaya dan mempunyai kemampuan teknis canggih dan bermain migas Timur Tengah, atau laut dalam di wilayah pantai Afrika. Namun demikian, perusahaan2 migas ini pada awal abad 21 justru mengejutkan dunia dengan suksesnya menggunakan metoda baru dalam menghasilkan gas yang berasal dari batuan padat berpermeabilitas kecil, shale, di kedalaman.

Tahun 1940an M. King Hubbert yg dikenal sebagai bapak teori ‘Peak Oil’ berpendapat bahwa karena cadangan minyak dunia terbatas, sehingga bila produksi terus meningkat maka akan smpai pada puncaknya dan setelahnya akan menurun lagi. Untuk menunda ‘Hubbert’s Peak’ ini perlu ada upaya rekayasa baru, dan fracking adalah jawabannya.

Revolusi shale gas/oil ini telah mengubah AS melalui teknik fracking yang menghasilkan begitu besar produksi minyak dan gas. Hal ini menyebabkan AS berkelimpahan energi yang membantu lahirnya kembali industrialisasi dan mempermudah lepasnya ketergantungan energi dari luar. Akses terhadap energi ini membutuhkan ribuan lubang bor baru yang masing-masing dilakukan fracking dengan membanjiri air yang cukup untuk mengisi beberapa kolam renang berskala olimpiade dan ratusan gallon larutan kimia. Ini juga berarti mengubah beberapa kota kecil menjadi area industri, lengkap dengan lalu-lalangnya truk-truk container besar, polusi udara, rusaknya lingkungan dan ketakutan atas kualitas air yang rentan terhadap pencemaran.

Berkat metoda fracking, AS telah menghasilkan gas jauh lebih banyak dari sebelumnya. Dengan metoda dan teknologi yang sama untuk menghasilkan gas, fracking juga digunakan untuk memproduksi minyak dari batuan shale. Pada musim semi 2013, AS sudah memproduksi minyak mentah 7.5 juta barrel per hari, jumlah yang tidak terlihat lagi sejak 1990. North Dakota, lokasi Bakken shale adalah lapangan minyak terbesar di AS yang baru ditemukan dalam beberapa dekade ini, dan telah menghasilkan 875.000 barrel per hari, yang lima tahun sebelumnya hanya menghasilkan 150.000 barrel per hari.

Puluhan tahun sebelumnya, AS selalu impor minyak jutaan barrel per hari, dan sekarang menurun tajam dan cenderung terbebas dari ketergantungan impor dari Timur Tengah dan Afrika, ‘energy independent’. Diperkirakan, pada tahun 2020 AS bisa menjadi penghasil minyak terbesar dunia, diperkirakan 11,1 juta barrel per hari, melampaui Arab Saudi.

Produksi Minyak Dunia

Produksi Minyak Dunia

Chesapeake Energy

Pada awalnya, Chesapeake Energy adalah perusahaan migas kecil yang bermaksud drilling dan memproduksi gas di bawah lahan seluas 102 acre di North Pennsylvania. Penawaran sewa lahan $400.000 bayar di depan merupakan hal menarik bagi penduduk setempat.

Pada masa jayanya, Chesapeake yang dipimpin oleh McLendon mampu melakukan drilling dalam jumlah besar, bahkan melampaui perusahaan migas manapun di dunia. Pada tahun 2004, Chesapeake termasuk dalam 8 besar perusahaan pemboran di AS, satu tahun kemudian masuk 4 besar. Dan satu tahun lagi sudah menjadi yang terbesar, dan ini berlangsung dalam beberapa tahun. Antara tahun 2004 hingga 2011, Chesapeake telah melakukan pemboran terbanyak dibanding perusahaan manapun di dunia. Hampir tiap hari 4 mata bor Chesapeake mulai menembus batuan di setiap lubang bor barunya.

Pada tahun 2012, anggaran Chesapeake mencapai $20 milyar, drilling lebih dari 1.000 lubang bor per tahun dan melakukan fracking pada setiap lubangnya. Minyak dan gas telah diproduksinya dari batuan shale (serpih) dengan metode fracking ini, yang menurut pemiliknya hanya perlu memasukkan banyak air bertekanan tinggi ke dalam lubang pemboran, meskipun kenyataannya cara fracking ini jauh lebih rumit.

McLendon sangat agresif dalam memimpin Chasepeake. Hanya dalam 8 tahun sejak sumur pertamanya, Chesapeake sudah menyewa 3.500 acre lahan di Northern Texas, yang melibatkan 260.000 transaksi, untuk mendapatkan asset (mineral rights) formasi Barnett di bawahnya.

Kwartal pertama 2012, Chesapeake telah mengalami cash-flow negatif sebesar $ 4,1 milyar. Selama 8 tahun beroperasi, telah membelanjakan lebih dari $30 milyar untuk keperluan sewa lahan dan pemboran.

Kekuatan utama McLendon pada akhirnya justru menjadi kelemahannya. Dia sangat bagus dalam hal mendapatkan modal untuk membentuk perusahaan besar yang sukses, hingga semakin sulit untuk merubah arah ketika krisis finansial 2008 terjadi di AS. Dan kemampuannya untuk memperoleh milyaran dollar (bukan untuk Chesapeake, tapi untuk keperluan sumur-sumur pribadinya) telah menjerumuskan dirinya bahkan hingga hengkangnya dari Chesapeake. Tanggal 1 April 2013, McLendon meninggalkan Chesapeake. Terminated.

Sukses Mitchell Energy dengan Fracking

Tahun 1951, di sumur DJ Hughes #1, Wise County, Mitchell berhasil menemukan gas, juga di sepuluh lubang bor lainnya, menggunakan metode fracking di batuan pasir yang dangkal, bukan formasi Barnett shale (jauh di bawahnya) yang ketat dengan cara menembakkan larutan gel hingga membentuk banyak rekahan yang terhubung ke rekahan-rekahan yang sudah ada. Mitchell Energy dianggap sukses besar (discovery) selama bertahun-tahun sejak mengalirkan gas dari cebakan batuan pasir ke permukaan tersebut. Namun sebetulnya, batuan sumber terdapatnya gas di batuan pasir di atas berada di paisan yang lebih dalam, yaitu di formasi Barnett shale yang saat itu masih belum ditemukan metode yang tepat untuk mampu mengekstraksinya.

Dengan rangsangan pemerintah AS pada tahun 1978 bahwa gas yang berasal dari reservoir ‘unconventional’ akan dibeli pemerintah dengan harga lebih tinggi, juga informasi cadangan gas yang sangat besar (mungkin mencapai trilyunan cubic feet), maka Mitchell gencar melakukan pemboran ke dalam formasi Barnett shale dengan metoda fracking yang berbeda-beda untuk mendapatkan cara produksi gas unconventional yang paling ekonomis.

Tahun 1980an, Mitchell Energy & Development, salah satu perusahaan migas besar di Houston, mempunyai ladang gas di sekitar Fort Worth. Para geologistnya sering kali menemukan keberadaan gas yang cukup signifikan yang ditunjukkan oleh data komputer setiap kali menembus batuan shale, ketika mencari cebakan migas. Tidak diragukan adanya bahan bakar fossil yang terjebak dalam batuan shale tersebut. Sumur-sumur dalam Mitchell dapat mencapai cebakan gas tersebut, namun para insinyurnya tak cukup mempunyai peralatan atau keahlian untuk dapat memproduksinya.

Tahun 1982, Mitchel Energy melakukan pemboran di sumur CW Slay#1 dengan sasaran cebakan gas yang terperangkap dalam formasi batuan shale Barnett, yang tebal dan meluas (5000 mill persegi) dari Dalas ke arah barat dan selatan. Meskipun Mitchell pernah melakukan fracking sebelumnya, namun baru saat itu dilakukan terhadap batuan shale. Cukup sukses, namun kurang memuaskan dan masih mahal. Menjanjikan.

Hingga 1990an, Mitchell (berusia 80 tahun) mencoba melakukan fracking beberapa sumur setiap tahunnya dengan sasaran Barnett shale menggunakan laruran gelatin pada awalnya, lalu diganti dengan air berlimpah dan bertekanan tinggi. Ini adalah awal mula revolusi produksi shale gas.

Berbagai jenis fluida telah dicoba, seperti campuran minyak mentah dengan air yang membentuk emulsi gel yang disebut ‘Super K-Frac’, atau 1,5 juta kubik feet nitrogen, atau air dengan buih CO2, dll. Lalu ukuran rekahanpun juga dicoba berbeda-beda. Namun tetap belum memuaskan walaupun 14 pemboran telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan campuran pasir dan air dalam jumlah yang sangat besar, 4-5 kali dari jumlah sebelumnya. Namun justru pasir menutup lubang perforasi, “screen out”.

Kisah sukses Mitchell, akhirnya ditentukan oleh Steinsberger sebagai ahli perminyakan pada tahun 1998, yang mendapat kesempatan melakukan 4 pemboran shale dengan berbagai cara fracking. Pada bor ke 5 di sumur SH Griffin #4, gas berhasil diproduksi dalam jumlah besar, 1,3 juta cubic feet per hari. Fluida yang digunakan adalah campuran 2 truk pasir, air 20 truk tangki, lebih dari 12 truk pompa bertenaga maksimal untuk mendorong fluida ke dalam batuan dan beberapa truk bahan kimia, termasuk di dalamnya adalah bahan pelicin sehingga air tidak memggerus pipa, juga biosid untuk membunuh organisme pengganggu fluida yang mungkin ada dalam perjalannya sejauh lebih dari 2 mile dari permukaan tanah hingga ujung lubang bor.

Setelah semua preparasi lengkap dan siap untuk melakukan fracking, maka lebih dari 1 juta gallon air disemburkan ke dalam lubang bor dengan tekanan tinggi. Rekahan mulai terbentuk dan air terus berusaha membobol setiap sekat pori batuan shale, tekanan turun dan kembali naik lagi. Setelah 1 jam, pasir mulai dimasukkan kedalam campuran fluida dan 5 jam kemudian tekanan akan naik dan turun lagi seiring masuknya fluida ke dalam rekahan batuan. Gas dalam sumur akan tertekan oleh kolom air setinggi 8.000 feet. Beberapa hari kemudian monitor komputer dalam kabin van menunjukkan tekanan terus turun seiring dengan keluarnya air yang dialirkan ke dalam banyak tangki. Air keluar mulai menunjukkan gelembung-gelembung gas. Akhirnya, 5 hari lewat dan setelah hampir semua air telah dikeluarkan, gas mulai mengalir keluar. Sumur telah terhubung dengan pipa dan dilakukan pengukuran. Sukses besar.

Gas dari hasil Fracking menggunakan gel pada umumnya akan mati setelah 1-2 minggu. Namun dengan metoda di atas ternyata mampu terus mengalirkan gas. Gel memang dapat membantu merekahkan batuan shale tapi justru menyebabkan tersumbatnya rekahan hingga mencegah mengalirnya molekul gas keluar dari pori-pori batuan pada akhirnya. Bila sebuah sumur mampu mengalirkan gas sebesar 70 juta – 80 juta cubic feet pada 90 hari pertama, maka sumur tersebut masuk dalam kategori sumur ‘A’. Sumur SH Griffin #4 di atas, menghasilkan 1,3 juta cubic feet di hari pertama dalam periode 90 jari pertamanya. Dan masih mengeluarkan gas hingga 14 tahun kemudian (saat buku ini ditulis), total 2,3 milyar cubic feet. Ini kesuksesan ahli perminyakan Michell Energy, Nick Steinsberger.

Sejak kesuksesan sumur SH Griffin, lebih dari 100.000 sumur dilakukan fracking di AS (halaman 122). Semuanya dilakukan dengan metoda yang sama dengan sumur SH Griffin. Saat ini bahkan tidak lagi menggunakan 1, 2 juta gallon air, melainkan 5 kali lebih banyak. Juga, berbeda dengan era Steinsberger, saat ini fracking tidak lagi dilakukan dengan hanya pemboran lurus vertikal, namun dilanjutkan dengan arah horizontal hingga lebih dari 2 mile menembus batuan sumber gas dan/atau minyak yang ketat.

Steinsberger telah membuktikan bahwa air bisa dipergunakan untuk membuat rekahan batuan shale, dan tidak hanya lebih murah daripada menggunakan gel, namun juga lebih baik.

Devon International

Krisis finansial telah menyeret harga minyak dunia merosot berakibat anjloknya harga saham Mitchell Energy dari $35 ke $10. Akhirnya, 14 Agustus 2001, Mitchell Energy dijual oleh pemiliknya, George Mitchell ke Devon Energy (Larry Nichols).

Devon mencoba pemboran horizontal menembus batuan shale dalam formasi Barnett yang berada di atas formasi Ellenberger, yang mengandung air asin (salty water). Sedikit berbeda dengan target fracking Mitchell Energy, walaupun formasi yang sama, yaitu Barnett shale, namun berada di atas lapisan batuan limestone. Sehingga kesalahan pemboran sedikit saja hingga menembus formasi Ellenberger, akan berakibat gagalnya proses fracking karena sumur akan dipenuhi dengan air asin. Namun bila Devon berhasil melakukannya di area ex Mitchell ini, maka akan menghasilkan gas 3 – 4 kali lipat besarnya.

Pada tahun 2002, masih sangat jarang dilakukan pemboran horizontal semacam ini. Hanya satu sumur horizontal dari empat belas sumur pemboran di AS dan Canada (saat ini sudah 1 dari 6 -10 sumur adalah horizontal).

Sumur pertama adalah Veale Ranch #1H. Menggunakan 1,2 juta gallon air dan menghasilkan gas tidak jauh beda dengan sumur vertical. Berikutnya Graham Shoop #6 menggunakan air dua kali lipat lebih banyak dari sumur Veale dan menghasilkan gas 7 kali lipat lebih banyak. Sukses besar.

Menurut Devon, telah dilakukan pemboran sebanyak 1.043 sumur di Barnett shale, namun masih cukup ruang untuk menambah 5.000 lagi pemboran.

Mitchell Energy, dengan ahli perminyakannya Nick Steinsberger, menemukan penggunaan bahan kimia sebagai campuran fluida untuk merekahkan batuan shale. Devon adalah yang pertama bersedia melakukan ratusan pemboran horizontal ke dalam batuan shale sehingga menghasilkan gas dalam jumlah yang sangat besar di sumur bornya. McLendon bersama Chesapeake memang bukanlah jawara dalam hal teknologi ekstraksi gas dan minyak dari batuan shale, namun sukses dalam hal pmbiayaan fracking melalui Wall Street untuk mendapatkan modal kerjanya.

Sejarah Singkat Geologi Amerika

Hampir semua benua di dunia ini selalu mempunyai pegunungan yang memanjang di tengahnya dengan dataran pantai yang luas di kedua sisinya, namun Amerika Utara berbeda. Enam puluh juta yang lalu, tabrakan lempeng tektonik telah membentuk Rocky Mountains di sebelah barat, dan Appalachian Mountains di timur, dan di antaranya adalah samudera dangkal yang disebut sebagai dataran laut mid-Cretaceous yang saat ini dikenal sebagai daerah Great Plains, Texas bahkan mencapai Pennsylvania.

Terbentuknya minyak dan gas

Zooplankton dan organisme laut kecil lainnya hidup di dalamnya, mendapatkan makanan dari sinar matahari dan nutrisi laut yang kaya. Ketika mati, biota laut tersebut akan mengendap di dasar laut. Di dalam lingkungan laut berjuta-juta lamanya, sisa-sisa kehidupan biota laut tersebut akan menumpuk sebagai lapisan tebal material organik. Akhirnya, beban endapan batuan sedimen yang tebal di atasnya akan menyebabkan peningkatan tekanan dan menghasilkan panas tinggi. Lapisan material organik secara perlahan akan terpanggang dan berubah menjadi gas dan minyak.

Batuan shale (serpih) banyak terbentuk di berbagai belahan dunia sebagai cebakan penghasil bahan bakar fossil, namun tidak semua shale mempunyai sifat atau sejarah pembentukan yang sama. Di China yang banyak sekali hutan dan sisa pepohonan sebagai bahan organik primer menyebabkan shale yang terbentuk akan diselingi batuan lanauan (silty). Di Amerika Utara kondisi geologinya memungkinkan terbentuknya lapisan shale yang luas sebagai batuan perangkap gas, sehingga menarik minat Chesapeake. Bisa dikatakan bahwa dari 100 lubang bor, akan ditemukan 99 cadangan gas yang terperangkap dalam batuan shale.

Di akhir perioda Cretaceous, air laut menyusut dan benua Amerika Utara mengering. Di bawah permukaan adalah lapisan sumber gas, batuan shale. Pada tahun 1980an para ahli perminyakan Mitchell Energy tertarik pada formasi batuan Barnett Shale di Texas. Pertengahan tahun 2012, sudah lebih dari 15.000 pemboran dengan target formasi Barnett Shale, hampir semuanya di daerah dekat Fort Worth.

Setelah berjuta-juta tahun batuan shale ini menerima tekanan dan temperatur tertentu, maka sisa-sisa organisme yang terperangkap di dalamnya akan berubah menjadi trilyunan kaki kubik gas alam. Chesapeake bermaksud mengekstraksi gas tersebut dan menjualnya untuk keperluan perumahan dan pembangkit listrik.

Proses fracking

Russell begitu fasih menceritakan kesibukan set up rig, yang dibawa oleh puluhan trailer. Mesin-mesin diletakkan rapi teratur sesuai proses penggunaannya, meskipun terlihat berdesak-desakan memenuhui ruang parkir. Trailer pembawa lebih dari satu juta gallon air, trailer ‘flat beds’ pembawa bahan kimia, juga trailer raksasa pembawa lebih dari 200 ton pasir termasuk juga truk pembawa berbagai pipa, pompa dan sambungan ban berjalan menuju ‘hopper’; terpasang teratur sesuai prosedur kerja.

Sebuah bola hitam yang berat berukuran diameter kurang dari 1 inch dimasukkan ke dalam lubang bor, meluncur menuju dasar lubang bersama larutan gel. Ketika mendekati dasar sumur, Bola kecil yang didorong oleh larutan bertekanan tersebut secara mekanis akan masuk ke dalam sekat dan membuka lubang-lubang kecil. Larutan air bertekan tinggi akan menembus dan mulai merekahkan batuan shale Bakken yang kaya akan minyak di dalamnya. Proses fracking ini umumnya dilakukan berurutan hingga 30 kali dalam 24 jam. Sumur akan dibuka dua hari kemudian dan air yang pertama-tama akan keluar, baru kemudian minyak bercampur air akan menyusul.

Yang terpenting dari proses fracking adalah jutaan gallon larutan yang dipompakan menggunakan kompressor ke dalam lubang bor dengan tekanan hingga 7000 – 8000 psi. Hampir semua komposisinya adalah air, seperti gelatine (gel). Air diubah menjadi larutan yang kental sehingga mampu membawa pasir masuk ke dalam rekahan-rekahan baru. Dengan kondisi bawah tanah yang bertemperatur tinggi, gelatine akan mencair dan mengendapkan pasir di dalam rongga rekahan dan berfungsi seperti ‘penyangga’ dalam terowongan sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam pipa dan naik kepermukaan tanah. Air akan keluar dari batuan shale dan kembali ke permukaan.

guar beansPada awalnya, tumbuhan kacang-kacangan ‘guar’, yang berasal dari India, digunakan sebagai bahan untuk membuat gel atau larutan kental untuk keperluan fracking. Lalu, Halliburton mulai membuat sintetis alternatif guar sehingga tidak terjadi kesulitan pasokan saat musim hujan di India. Komposisi larutan fracking terdiri dari 99,1% air dan guar, sisanya adalah bahan kimia yang beraroma menyengat manis sakarin. Bahan kimia tersebut termasuk di dalamnya adalah biosida, untuk membasmi mikroba sehingga tidak memakan gel itu sendiri. Juga, surfaktan untuk membuat larutan menjadi licin sehingga tidak menyebabkan gesekan yang tajam ketika dialirkan ke dasar sumur. Meskipun konsentrasi bahan kimia relatif kecil, namun mengingat jumlah larutan sangat banyak maka jumlah total bahan kimiapun menjadi besar juga. Pencampuran bahan-bahan pembentuk larutan fracking ini dilakukan di lokasi pemboran, sebelum dimasukkan kedalam sumur.

Bapak fracking dunia sebenarnya adalah Edward A.L. Roberts, yang datang di Titusville, Pensnsylvania 1860an dan wafat 1881. Dia orang terkaya saat itu karena mempunyai hak paten membuat peledakan untuk fracking batuan di dasar sumur bor. Saat itu memang tidqk diaebut sebagai fracking, namun intinya adalah sama yaitu merekahkan, meledakkan, melelehkan batuan cebakan minyak; sehingga tahun 1970an sangat familiar dikalangan para insinyur perminyakan bahwa bila terjadi kegagalan eksploitasi minyak maka langkah akhir adalah ‘frack it’.

Pada tahun 1866, hak paten Robert menyatakan bahwa dia bermaksud untuk merekahkan batuan berisi minyak di sekitar lubang bor, seperti membuat lapisan (seam) artifisial yang terhubung dengan lubang bor sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam lubang bor. Awal suksesnya dimulai di lubang bor berjarak setengah mile di sebelah utara dari lubang penemuan (discovery) Edwin L. Drake (1859), Oil Creek. Robert meletakkan bahan peledak di kedalaman 463 feet dan meledakkannya. Ledakan mengakibatkan minyak dan air menyembur dari mulut lubang bor hingga 39 feet ke udara dengan dentuman keras. Tak lama sesudahnya, minyak mengalir keluar dengan debit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melimpah.

Sukses Robert berlanjut di akhir 1866 ketika meledakkan di sekitar sumur Woodin. Ledakan pertama menghasilkan 20 barrel per hari (bph), dilanjutkan peledakan ulang kedua dan menghasilkan 80 bph. Dalam tiga tahun kemudian, ini merupakan cerita kesuksesan besar dalam meningkatkan produksi minyak dari ratusan sumur bor yang memperkaya para pemilik sumur dan belum pernah terjadi sebelumnya, kecuali oleh Roberts Torpedo.

Tahun 1948, Bob Fast dan Floyd Farris melakukan percobaan fracking menggunakan semen dan air bertekanan tinggi. Gagal, karena rekahan dalam batuan shale yang terbentuk segera menutup lagi ketika air kembali keluar. Ide menggunakan campuran pasir, minyak mentah dan sabun (aluminium soap) sebagai larutan fracking kemudian dicoba di lubang bor East Texas yang sebelumnya hanya menghasilkan kurang dari satu bph. Larutan dipompa ke dalam sumur bor dan didiamkan selama 48 jam. Sabun akan mengangkat minyak yang menempel pada pori-pori butir batuan dan terus mengalir keluar sumur sebesar 50 bph. Sukses, dan formula fracking ini dipatenkan Farris pada tahun 1948, untuk meningkatkan produksi migas dengan cara mengalirkan larutan bertekanan tinggi (3400 psi) tersebut melalui lubang bor horizontal ke dalam formasi cebakan minyak. Lisensi eksklusif dikeluarkan untuk HOWCO, Halliburton Oil Well Cementing Company. Tahun 1955, sudah lebih dari 100.000 sumur bor dilakukan fracking.

Tahun 1956, penelitian supaya fracking lebih ekonomis, menemukan formula larutan baru, yaitu mengganti minyak mentah sebagai salah satu komponen dengan air dalam jumlah yang lebih besar. Dengan pengungalangan proses fracking lebih sering dan tekanan yang besar akan membentuk rekahan lebih banyak. Belum lagi perkembangan teknologi pompa dengan daya (horsepower) yang semakin besar, akan semakin meningkatkan efisiensi fracking.

Pemboran shale gas/oil dilakukan lurus ke dalam batuan (-90°) hingga lebih dari 3000 feet, kemudian berbelok sejajar permukaan tanah menembus batuan sumber migas, shale, hingga lebih dari 2000 mile. Cebakan minyak ‘conventional’, batuan pasir (sandstone), mempunyai porositas tinggi yang berisi minyak dan permeabilitas tinggi yang memungkinkan mengalirnya minyak melalui rongga antar butir batuan; dan berperilaku seperti balon. Bila batuan pasir ini ditembus oleh mata bor maka akan mengalirlah minyak, yang bertekanan tinggi di dalamnya, menuju lubang bor. Shale (serpih) termasuk kategori cebakan migas ‘unconventional’ bersifat padat (solid) dengan permeabilitas rendah, artinya rongga antar butir batuan tidak saling terhubung sehingga sulit untuk mengalirkan minyak, walaupun telah tertembus mata bor. Dengan demikian, supaya fluida dalam batuan shale bisa mengalir, diperlukan ‘jalan’ dengan cara membuat banyak rekahan. Fracking. Luas total permukaan rekahan dalam batuan shale akibat fracking ini bisa mencapai 100 juta feet persegi atau sekitar 30 gedung ousat perbelanjaan.

Analogi terbukanya pintu pesawat terbang di ketinggian 30.000 feet maka semua yang ada dalam kabin akan tersedot keluar pesawat karena perbedaan tekanan. Demikian juga perbedaan tekanan antara rongga dalam batuan dan rekahan, akan menyebabkan minyak atau gas yang ada dalam rongga antar batuan shale akan mengalir cepat keluar menuju rekahan-rekahan baru yang bisa berjarak beberapa feet. Ada kemungkinan setelah beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, sumur yang telah membuat rekahan ini akan tetap bisa mengalirkan minyak atau gas walaupun semakin berkurang, karena semakin jauh jarak pergerakan fluida dari tempat asalnya menuju sumur bor.

Sebuah lubang bor hanya mampu menyedot gas dan minyak dari tempat asalnya yang berjarak beberapa ratus feet saja, sehingga perlu ditambahkan pemboran lebih banyak disekitarnya untuk menambah luas permukaan rekahan dan luas jangkauan area fracking. Penelitian masih terus dilakukan oleh para ahli perminyakan untuk dapat melakukan lebih banyak rekahan dan berjarak lebih jauh dari fracking yang dilakukan sebuah lubang bor.

Isu Lingkungan

Seperti pada umumnya penggunaan ‘fossil fuel’ maka shale oil pun tak lepas dari kritik Perubahan Iklim, namun yang lebih khusus berhubungan dengan teknologi fracking adalah ancaman tercemarnya aquifer air, bocornya gas alam, gangguan bentang alam, polusi suara, polusi udara, terusirnya penduduk asli, banyaknya masyarakat pendatang dan ‘ghost town’.

Dalam beberapa bab di bagian akhir bukunya, khususnya yang berjudul ‘Celestia’, Russel banyak bercerita tentang berbagai keluhan warga Sullivan County, tentang keberadaan Chesapeake sebagai perusahaan migas yang banyak mengganggu penduduk dengan gencarnya penawaran sewa lahan untuk keperluan fracking. Kesan yang diperoleh Russel dari kunjungannya ke Sullivan County adlah bahwa semakin lama penduduk tinggal di sana, ada kecenderungan untuk semakin mudah menyewakan tanahnya untuk keperluan pemboran gas. Namun, kecenderungan ini sekarang berubah, bahkan terkesan seperti adanya penyesalan bahwa telah menyewakan tanahnya, termasuk orangtua Russel sendiri yang tinggal di sana. Perubahan kota kecil itu begitu cepat dan mengkhawatirkan penduduknya, khususnya jumlah pendatang yang begitu besar dalam waktu yang relatif pendek dirasakan akan dapat menguasai dan mengubah budaya dan kenyamanan komunitas penduduk asli, atau terasing di tanah sendiri.

Sullivan County adalah kota terkecil kedua di Pennsylvania, yang berpenduduk 6.100 keluarga. Berada di tengah pegunungan Endless Mountains, sebagai bagian pegunungan Appalachian. Rusa banyak berkeliaran dan beruang masih mudah dijumpai. Banyak pepohonan (jutaan pohon cherry, maple, ash dan oak) yang ditebang untuk keperluan ekspor sebagai bahan untuk lantai, furnitur dll. Industri kayu lokal menganggap ini sebagai hutan berkelanjutan, bukan untuk ditebang habis. Namun dengan adanya ‘ledakan’ bisnis shale gas, hutan harus banyak ditebang dan habitat rusa dan beruang yerpaksa harus berpindah tempat.

Perselisihan antara penduduk dengan perusahaan pemboran gas dimulai sejak usaha transaksi sewa lahan, karena dalam perundangan AS, siapapun pemilik lahan permukaan tanah adalah juga pemilik ‘mineral right’ yang ada di dalam bumi. Kekayaan cadangan gas di dalam tanah (Barnett shale atau Marcellus shale) menyebabkan para pengusaha pemboran gas akan berusaha keras untuk bisa mendapatkan sewa lahan di atas cebakan atau sumber gas berada. Harga yang ditawarkan bisa bergerak cepat dari $25 per acre menjadi $85 per acre dalam 6 bulan. Pada akhirnya, sering kali pemilik lahan ‘harus’ menyerah karena berbagai alasan, misalnya: tidak cukup punya dana untuk membayar pengacara, keputusan penduduk yang terpecah-belah karena penawaran harga yang dianggap cukup menarik oleh beberapa pihak, pemerintah daerah yang lebih mendukung investor, polusi suara rig, gangguan alat berat dan truk yang mondar-mandir di sekitar rumah, dll.

Alasan pemerintah federal mendukung investor untuk memproduksi shale gas, pada umumnya adalah: kota yang lebih ‘hidup’ karena multi-efek peningkatan ekonomi daerah, kemandirian energi, gas akan menggantikan batubara karena lebih ramah lingkungan dan peningkatan lapangan kerja. Keuntungan lain bagi penduduk yang menyewakan tanahnya pada tahun 2008 dan 2009 untuk fracking adalah, pemilik tanah akan menerima beberapa ribu dollar per acre, ditambah royalti hingga 25% dari gas yang diproduksi di bawah lahannya.

Semua ‘keuntungan’ itu menjadi nihil bila terjadi kebocoran gas hingga masuk ke dalam aquifer, yang airnya sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari. Kebocoran gas tersebut bisa terjadi bila proses sementasi rongga antara casing dengan batuan sekitar tidak sempurna, hingga masih menyisakan ruang yang bisa ditembus oleh gas dari sumbernya (rekahan hasil fracking).

Kritik

Russel Gold sebagai journalis (bukan ahli perminyakan) cukup berimbang dalam mengemukakan fakta dan opininya. Kelebihan dan kekurangan fracking dari sisi lingkungan, disampaikan secara proporsional dan berimbang dengan dukungan bukti dari masing-masing pihak, pendukung maupun pembencinya. Ini sangat berbeda dengan buku ‘This Changes Everything’ karya Naomi Klein, yang banyak bias ketika menjelaskan tentang fracking karena tujuan bukunya lebih berkepentingan dengan propaganda anti bahan bakar fossil.

Dari sisi penyajian, The Boom cukup memberikan pengetahuan tentang teknik fracking secara rinci bagi pembaca yang awam tentang teknik perminyakan, juga penjelasan resiko sosial dan lingkungan yang cukup tinggi bila tidak dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang sangat teliti dan hati-hati. Mengingat The Boom lebih diperuntukkan untuk menjelaskan tentang teknik fracking, maka sepertinya sejarah geologi dan terbentuknya minyak dan gas bumi kurang mendapat perhatian lebih rinci.

Sangat direkomendasikan bagi siapapun yang tertarik dengan dunia industri migas.

Buku

Judul Buku: The Boom

Penulis: Russell Gold

Tebal buku: 366 halaman

Penerbit: Simon & Schuster

Tahun: 2014

lesuEffects of a Lack of Ethics on a Business Environment

Ini tautan artikel yang bagus untuk mengingatkan bahwa Etika dalam hal apapun tetap penting jadi pijakan beraktifitas.

Praktek bisnis  yang tidak mengikuti aturan2 dan kewajiban2 yang sudah menjadi ketentuan hukum positif pemerintah atau kelaziman bisnis yang berEtika, bisa berakibat tidak langgengnya bisnis itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh selain pelanggaran etika akan berhadapan dengan sangsi formal, didalam bisnis juga akan berakibat pada runtuhnya reputasi atau trust, baik secara eksternal maupun internal perusahaan.

Perilaku bisnis yang tidak berEtika ini secara eksternal akan menjatuhkan kredibilitas perusahaan, yang berakibat lanjut pada kekhawatiran rekanan bisnis terhadap kemungkinan akan terseret dalam kasus hukum atau dirugikan secara ekonomi; dan secara internal, akan terjadi hilangnya rasa hormat (respect) dari karyawan terhadap atasan (eksekutif) dan berakibat lanjut pada turunnya ethos kerja karyawan karena ketidak-hadiran panutan beretika dari pimpinannya.

Akan butuh waktu dan biaya besar untuk mengembalikan kepercayaan publik dan karyawan terhadap perbaikan kualitas etika bisnis perusahaan. Maka, sudah seharusnya hanya resiko keekonomianlah yang perlu menjadi tantangan dalam berbisnis, karena Etika dan hukum adalah bagian dari profesionalitas dan kepedulian sosial perusahaan, serta landasan yang tidak untuk ditawar, apalagi ditinggalkan, namun untuk dijalankan.

Tautan lain:
27 Alasan Psikologis Mengapa Orang Baik Melakukan Hal Tercela

Anti KORUPSI

Anti KORUPSI

Anti KorupsiMenurutku, prinsip dasar korupsi adalah MENGAMBIL yang bukan haknya. Eh, ada yang protes, menurutnya korupsi adalah MENERIMA yang bukan haknya. Wah, lebih keras lagi rupanya, MENERIMA saja sudah korupsi, apalagi MENGAMBIL yang bukan haknya, pasti super korupsi .. hahaha.. tapi aku sepakat. Apapun kategorinya, apakah suap, gratifikasi, sumbangan sukarela, tanda terimakasih ataupun yang lainnya, sejauh yang dilakukan “menerima yang bukan haknya”, dalam arti yang lebih luas, kita anggap saja dulu perilaku semuanya ini sebagai ‘korupsi’.

Penyederhanaan arti korupsi ini perlu kita  lakukan supaya dapat melihat lebih luas bahwa tindak korupsi ini bukanlah muncul secara tiba-tiba ketika seseorang menjadi pejabat tinggi atau ketika melihat tawaran suap bernilai milyaran rupiah atau hanya bila berhubungan dengan kerugian negara saja seperti disebutkan dalam ayat-ayat hukum tentang korupsi, atau masih banyak lagi.

Pernyataan ‘menerima yang bukan haknya’ itu secara tidak langsung menunjuk pada adanya kerugian bagi yang berhak, selain ada pihak yg diuntungkan tentunya. Nah, fenomena seperti ini jelas banyak terjadi di lingkungan kita, atau bahkan kita sendiri yang melakukannya. Contohnya banyak sekali, misalnya: korupsi jam kerja, menyerobot antrian, mengendarai sepeda motor di atas kaki-lima dan jembatan penyeberangan, mengendarai mobil/motor di jalur busway, mengendarai motor melawan arus, dan masih buanyaakk lagi. Jelas perilaku tersebut mengambil keuntungan diri sendiri dengan merugikan pihak lain yang berhak.

Dari contoh tersebut terlihat benang merah yang menghubungkan sikap koruptif dengan kekuasaan, kemauan dan kesempatan. Ancaman tertabrak motor adalah kekuatan (kekuasaan) yang dipergunakan para pengendara motor untuk mengusir para pejalan kaki di kakilima. Menerobos masuk/keluar jalur busway jelas karena asumsi kesempatan dan niat yang mengganggu/menghalangi antrian (hak) kendaraan lain di jalur umum dan menghalangi/memperlambat laju busway untuk kelancaran sendiri.

Melihat sedikit contoh di atas, bisa disimpulkan bahwa perilaku koruptif ini sebenarnya ada disemua tingkatan sosial, hanya nilai material dan tingkat sosial lelakunya sajalah yang membedakannya. Jadi, teriakan ‘anti korupsi’ tidak cukup dialamatkan terhadap pejabat pemerintah belaka, namun juga kepada seluruh lapisan masyarakat.

Mari teriakkan ‘anti korupsi’ dengan keyakinan bahwa kitapun sudah bebas dari perilaku koruptif.

This Changes Everything

This changes everythingTahun 1992 berbagai negara menghadiri United Nations Earth Summit di Rio, Brazil, untuk menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah dokumen yang akan menjadi dasar bagi semua perundingan tingkat dunia tentang perubahan iklim. Pada tahun yang sama, North American Free Trade Aggrement juga ditandatangani, dilanjutkan dengan perundingan WTO yang semakin mantap posisinya sebagai institusi perdagangan dunia yang wajib dipatuhi para anggotanya. Tahun 1997, Kyoto Protocol, sebagai kesepakatan bersama negara-negara di dunia untuk mengurangi emissi, mulai diadopsi. Dua hal besar inilah yang saat ini sedang terus berjalan secara paralel, perdagangan antar negara yang semakin tak ‘berbatas’ dengan produksi emissi yang melewati batas-batas geografi dan komitmen pengurangan emissi oleh negara-negara di dunia. Prioritas pilihan yang lebih mengutamakan tidakan pada pada Pengurangan Emissi (Perubahan Iklim) adalah tujuan dari buku ini. Kompilasi informasi dari penelitian, fakta di lapangan, opini para penggiat Perubahan Iklim, hasil perundingan tingkat dunia dalam hal perubahan iklim dan Perdagangan Dunia serta opini Klein sendiri yang mengarah pada perlunya tindakan pengurangan emissi sehingga tidak menyebabkan temperatur udara melebihi 2°C, memenuhi buku ini.

Keadilan Global tentang perubahan iklim ini masih menjadi isu besar di berbagai forum perundingan pembiayaan pengurangan emisi CO2. Negara-negara industrialis yang sudah menikmati hasil dari penggunaan bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri sudah seharusnya menanggung beban kewajiban jauh lebih besar daripada negara-negara sedang berkembang atau miskin.

‘Buy Local’ dan ‘Hire Local’ adalah slogan Ontario, Canada yang sangat ampuh ditahun 2012 ketika sukses mengurangi pembangkit listrik bertenaga batubara (sisa satu powerplant) dan beralih ke solar cell, untuk mendukung Green Energy. Sayangnya, regulasi WTO berdasarkan konsep ‘national treatment’ menganggap Canada melakukan ‘proteksi’ sehingga ‘buy local’ terpaksa harus kalah dengan produk import dari China. Dari sisi penggiat Perubahan Iklim, aturan-aturan WTO jelas mengalahkan usaha PI untuk membatasi kenaikan temperatur udara tidak meningkat lebih dari 2°C.

Regulasi kerjasama perdagangan dunia ataupun bilateral masih banyak dipermainkan oleh negara2 maju. AS melakukan protes terhadap India dan China karena barang2 produksinya tidak bisa masuk ke negara2 tersebut berhubung adanya proteksi. ‘Tar sand’ Canada yang dianggap tidak ramah lingkungan oleh para pecinta lingkungan dan tidak layak ekspor ternyata bisa ‘diatur’ kerjasama perdagangannya antara Uni Eropa dan Canada. Demikian juga dengan ‘shale oil’ AS yang diproduksi dengan cara ‘fracking’ dan dianggap tidak ramah lingkungan inipun lolos untuk keperluan ekspor ke Uni Eropa. Belum lagi, upaya industri migas AS untuk melindungi kepentingannya melalui lobi-lobi politik di DPS/Senat.

Sistem akutansi emissi saat ini dibangun sebelum era perdagangan bebas, sehingga masih belum banyak menunjukkan keadilan global, dengan tidak memperhitungkan sama sekali banyaknya perubahan berkenaan dengan bagaimana dan dimana barang-barang itu diproduksi. Lalu, siapakah yang bertanggungjawab terhadap emissi yang diakibatkannya, lokasi fabrikasi ataukah negara tempat pemilik berada; kemudian bagaimana produk yang sudah beralih tempat melalui transportasi darat dan laut yang juga banyak menyumbang emissi karbon akibat bahan bakar fosil yang dipergunakannya? Masih banyak hal yang belum selesai.

Industri ekstraktif bukanlah satu-satunya target penyebab polusi yang harus membayar (polluter pays principle). Militer AS ternyata pengkonsumsi bahan bakar fosil terbesar di dunia. Pada tahun 2011, Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa paling sedikit 5,6 juta metrik ton CO2 ekivalen ke atmosfer, lebih banyak dari total emissi Exxon dan Shell di AS.

Walaupun beberapa penghasil minyak terbesar dunia sudah rebranding dengan slogan renewable energy (BP, Chevron, Shell, Exxon) namun kenyataannya hanya mengeluarkan biaya sangat minimum untuk keperluan produksi energi bersih, bahkan Shell dan Chevron hanya investasi 2,5% dari total biaya untuk itu.

Menurut Klein, dari hasil studi menunjukkan bahwa emisi methan yang dihasilkan oleh proses fracking sedikitnya 30% lebih tinggi daripada emisi methan yang dihasilkan oleh gas konvensional. Ini karena proses fracking bisa menyebabkan kebocoran di tahap produksi, pengilangan, penyimpanan dan distribusi. Methan adalah gas rumah kaca yang sangat berbahaya karena 34 kali lebih efektif dalam menjebak panas (rumah kaca) dibanding CO2.

Tahun 2013, industri migas AS menghabiskan hampir $400.000 per hari untuk keperluan lobby Congress dan pejabat pemerintah. Juga membelanjakan $73 Juta dalam kampanye Federal dan donasi politik selama pemilihan umum 2012.

Perdagangan Polusi
Ketika berbagai negara sedang melakukan perundingan tentang kesepakatan iklim internasional, yang kemudian menjadi Kyoto Protocol, ada banyak konsensus tentang persetujuan yang harus dicapai. Yang kaya, atau negara-negara industri harus bertanggungjawab atas emissi yang telah dilakukannya selama ini dengan cara membatasi jumlah emissinya dalam jumlah angka yang pasti dan kemudian secara sistematik mulai menguranginya. Uni Eropa dan negara-negara sedang berkembang berasumsi bahwa mereka harus segera mempersiapkan diri untuk membuat regulasi yang ketat di negara masing-masing, misalnya dengan membuat pajak karbon dan mulai antisipasi terhadap energi terbarukan.

Pemerintahan Clinton justru memberikan proposal alternatif, yaitu membuat model sistem perdagangan karbon internasional yang dapat membatasi dan memperdagangkan karbon untuk mengatasi hujan asam. Artinya, alih-alih secara langsung mewajibkan semua negara industri untuk mengurangi emissi gas rumah kaca dalam jumlah yang pasti, justru memungkinkan untuk melakukan polusi lebih banyak dengan cara membeli ‘perangkap’ emissi dari negara-negara yang tidak membutuhkannya. Jelas, AS sangat berkepentingan dan antusias dengan proposal ini.

Sikap AS ini sangat mengecewakan Uni Eropa, khususnya Perancis dimana Dominique Voynet selaku Men LH menyebut proposal AS ini ‘radically antagonistic’, yang menghalangi upaya penanggulangan krisis perubahan iklim. Demikian juga dengan sikap Angela Merkel, yang kemudian menjadi Men LH Jerman, menganggap proposal AS ini hanya akan menguntungkan negara-negara industri.

Konsekwensi dari regulasi global tentang Perdagangan Karbon, bahwa walaupun sebuah pabrik yang dianggap sebagai sumber polusi udara yang tinggi sekalipun, bila telah menggunakan suatu peralatan atau rekayasa teknik sehingga mampu mencegah emissi ke atmosfer maka dapat diklasifikasikan sebagai ‘green development’ dalam regulasi badan PBB.

Beberapa bukti di India dan Tiongkok menunjukkan bahwa industri coolant memproduksi produk sampingan secara sengaja, berupa gas yang tidak ramah lingkungan, HFC-23. Dengan menambahkan beberapa peralatan murah maka HFC-23 dapat ditangkap sehingga tidak mencemari udara. Mereka telah menghasilkan puluhan juta dollar dari kredit emisi setiap tahun.

Konsekwensi lain dari adanya Perdagangan Karbon adalah munculnya pelanggaran HAM terhadap para petani tradisional atau masyarakat adat yang tidak lagi bisa mencari kehidupan di hutan seperti sebelumnya, dengan alasan hutan telah dicadangkan sebagai perangkap karbon dalam sistem Perdagangan Karbon global. Ini banyak terjadi di Brazil, bahkan isunya sudah mulai juga terjadi di beberapa perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Korban pembunuhanpun sudah terjadi di Honduras pada tahun 2013 karena adanya larangan berkebun di wilayah adatnya berhubung sudah dicadangkan untuk mendapatkan Kredit Karbon.

Dalam upayanya untuk melindungi hak para perusahaan multi nasional untuk dapat melakukan polusi ke atmosfer, berakibat pada hilangnya kesempatan para petani untuk dapat hidup dalam damai.

‘It’s easier to pick the fruit, than dig up the roots’ adalah ungkapan yg tetap untuk menyatakan bahwa daripada menghentikan upaya para pengusaha multi nasional melakukan polusi udara melalui para politisi negara industri, lebih mudah melakukan larangan terhadap masyarakat adat dan lemah di negara sedang berkembang atau miskin untuk mencari penghidupan di wilayahnya (low-hanging fruit).

Kesimpulan Klein
Kapitalisme Global telah menyebabkan pengurasan (deplesi) sumberdaya alam . Berbagai protes dari kelompok aktifis lingkungan, masyarakat adat dan gerakan masyarakat sipil lainnya, menjadi hambatan mesin ekonomi yang cenderung tumbuh cepat tak terkontrol.

Hanya gerakan massa yang dapat menyelamatkan kita, karena kita tahu kemana arah sistem yang ada sekarang ini menuju. Kita juga tahu bagaimana sistem saat ini akan menyebabkan bencana, dengan gejala pengambilan keuntungan besar-besaran, peningkatan barbarisme yang signifikan dan pemisahan antara yang kalah dengan pemenangnya. Harus ada suatu kekuatan penyeimbang, yaitu kekuatan massa yang terus membanjiri dan mampu menutup jalan ke arah bencana global dan mengalihkannya ke arah yang jauh lebih aman. Bila hal ini terjadi maka ‘this changes everything’.

Mengingat emisi terus bertambah, setiap tahun gas rumah kaca masih terus kita produksi lebih banyak dari tahun sebelumnya sehingga akan mempertinggi suhu permukaan bumi bagi generasi mendatang…

Kritik
Ada dua hal utama yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini yaitu:

  1. Ketidakadilan global yang lebih dikuasai oleh negara maju dengan menggunakan alat regulasi perdagangan dunia (WTO dan sejenisnya) dan perdagangan antar negara (B2B).
  2. Perubahan Iklim yang disebabkan oleh industri ekstraktif.

Dari dua hal tersebut di atas, Klein berpendapat bahwa negara maju sangat terlibat sebagai penyebab kedua hal tersebut terjadi; sedangkan negara sedang berkembang yang telah dirugikan dalam hal sistem pembayaran Kredit Karbon ternyata juga terlibat dalam menyumbang emissi CO2 melalui industri ekstraktifnya. Dengan sistem Kredit Karbon, negara miskin dan sedang berkembang yang kaya hutan tropis, hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah emissi yang diproduksi negara maju.

Klein tidak konsisten dalam menulis judul dengan isi bukunya. Dalam suatu video diskusi di Vancouver Institute, Canada tentang buku ini, ada suatu pertanyaan muncul dari peserta diskusi: “kalau bukan kapitalis, lalu apa pilihannya?”. Klein tertawa dan menjawab bahwa sosialispun bukan pilihan karena banyak negara di Amerika Latin dan Russia juga masih didominasi industri ekstraktif. Dan jawaban ini juga tertulis dalam bukunya. Ini menimbulkan dugaan bahwa yang dibidik oleh Klein sebenarnya adalah Kapitalisme, sedangkan alatnya adalah Ekstraktifisme berslogan Climate Change. Mengingat industri ekstraktif sudah melewati batas ideologi, maka menjadi absurd bila kecaman hanya diarahkan pada kapitalisme. China dan India yang bukan berideologi kapitalisme bahkan diramalkan oleh Geoff Hiskock, dalam bukunya ‘Earth Wars’, sebagai ‘pemenang’ kepemilikan sumberdaya alam mineral dan batubara dunia di tahun 2050. Buku Klein sebelumnya ‘Shock Doctrine’ juga memusuhi kapitalisme, maka tidak heran bila buku inipun punya agenda yang sama. Climate Change dalam buku ini memang berhubungan dengan industri ekstraktif, tapi tidak secara khusus menunjukkan adanya korelasi dengan hanya negara kapitalis. Atau, negara-negara yang dominan dengan industri ekstraktif memang selama ini sudah bersifat kapitalistik?

‘This changes everything’ bukanlah buku sains melainkan kompilasi informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan Climate Changes, baik dari sumber penelitian sains, bisnis, sosial maupun opini penulisnya. Alih-alih menuliskan tentang informasi sains yang akurat tentang proses atau fakta geologi dari fracking/shale gas yang dianggap sebagai penyumbang besar emissi CO2, atau formula perhitungan perdagangan karbon antar negara yang potensial menyebabkan ketidakadilan global; Klein malah banyak menuliskan ajakan dengan kalimat yang tegas untuk melakukan aksi anti industri ekstraktif, yang dinyatakan dengan jelas di bagian Kesimpulan dalam bukunya.

Untuk menambah pengetahuan tentang isu Perubahan Iklim dari sisi aktifis, buku ini layak baca. Namun, untuk mengetahui secara teknis tentang Perubahan Iklim dan berbagai aspek turunannya, seperti REDD+, Kredit Karbon, sangat kurang membantu. Apalagi tentang fracking oil, tar sands dan industri ekstraktif, sangat kurang informasinya bahkan cenderung tertutup atau tidak digali lebih dalam.

Judul buku: This Changes Everything

Penulis: Naomi Klein

Tebal buku: 566 halaman

Penerbit: Pengui Group

Tahun: 2014

Dalam konteks bisnis, yang lebih menyedihkan dari 27 hal tersebut, dan banyak terjadi, adalah bila bisnis dibangun hanya untuk melancarkan niatan awal menjalankan Bad Things, dengan maksud untung besar secara cepat tanpa etika bisnis semestinya.

http://www.businessinsider.com/27-psychological-reasons-why-good-people-do-bad-things-2012-8?IR=T&#comments

  1. Tunnel vision
    Single-minded focus on setting and achieving the goals can blind people to ethical concerns.
  2. The power of names
    The use of euphemisms for questionable practices can free them of their moral connotations, making them seem more acceptable.
  3. Social bond theory
    Employees can begin to feel more like numbers or cogs in a machine than individuals
  4. The Galatea effect
    Self image determines behavior. People who have a strong sense of themselves as individuals are less likely to do unethical things. Alternatively, employees who see themselves as determined by their environment are more likely to bend the rules,as they feel less individually responsible.
  5. Time pressure
    When encouraged to go as fast as possible, 90 percent ignored the man.
  6. Acceptance of small theft
    Small thefts are ignored
  7. Self-serving bias
    Most think they’re smarter and more ethical than those around them
  8. Conspicuous consumption
    The mere presence of money makes people more selfish
  9. The Pygmalion effect
    The way that people are seen and treated influences the way they act.
  10. Environmental influence
    Employees reflect their environment
  11. Reactance theory
    People resent threats to their freedom, and they often manifest that resistance by flouting certain rules.
  12. Obedience to authority
    when people see themselves as an instrument of another’s wishes, they feel less responsible
  13. The blinding effect of power
    The blinding effect of power
  14. Broken window theory
    When people see disorder or disorganization, they assume there is no real authority. In that environment, their threshold to overstepping legal and moral boundaries is lower.
  15. The free-rider problem
    If total damage is limited, people feel as though they can take more liberties.
  16. The foot in the door
    When a figure in authority asks someone to skirt the rules, they want to seem like a team player. In that frame of mind, they may be willing to do increasingly unethical things.
  17. Winner take-all competition
    In situations where there is a clearly-defined winner and loser, people are more likely to cheat. They desperately want to avoid the financial and reputational costs of losing.
  18. Cognitive dissonance and rationalization
    The bigger the dissonance, the larger the rationalization, and the longer it lasts, the less immoral it seems.
  19. Problematic punishments
    Rather than being about whether something is right or wrong, it becomes an economic calculation about the likelihood of getting caught versus the potential fine.
  20. Lack of sleep and hypoglycemia
    People who are hungry or tired have less self control
  21. Escalating commitment
    The feeling that there’s no way out.
  22. The induction mechanism
    As the unethical becomes routine, the extremely unethical, once unthinkable, enters the realm of possibility.
  23. Market and shareholder pressure
    “As long as the music is playing, you’ve got to get up and dance.”
  24. The compensation effect
    Sometimes people, having been moral and forthright in their dealings for a long time, feel as if they have banked up some kind of “ethical credit,” which they may use to justify immoral behavior in the future.
  25. Negative consequences of transparency
    Experiments examining the publication of conflicts of interest have found a perverse effect.
  26. Bad communication
    Rather than sounding out ideas that border on unethical, people push and test their limits.
  27. The pressure to conform
    In order to fit in with a group, people do things they might not otherwise.
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.066 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: