Feeds:
Pos
Komentar

Bebal Kuasa

Bebal Kuasa

Benderang jalan di ujung sana
Damai tampak di cakrawala
Sungguh jelas arah dipilih
Tapi mengapa tak gerak juga?

Paruh jalan penuh tawa
Riuh ceria raga belaka
Bila bekal tak cukup cerna
Maka gemerlap sesat semata

Wajah menunduk maksud merendah
Suara datar unjuk didengar
Saat tiba harus mengungkap
Kelu lidah kata tergagap

Segala gerak mencari nyata
Rasa tentunya, lebih bermakna
Namun bila bebal kuasa
Sepi arti kosong belaka

(Jagorawi, 30 Juni 2015)

CapitalJudul: Capital In The Twenty-First Century Penulis: Thomas Piketty Tebal Buku: 694 halaman Penerbit: The Belknap Press of Harvard University Press Tahun: 2014

Pembagian kekayaan yang tak berkeadilan antara kekayaan dari hasil kerja dan hasil kapital, selalu merupakan isu sentral dalam masalah distribusi kekayaan. Revolusi Industri telah memperburuk masalah ini, mungkin karena dua hal:

  1. Produksi semakin menjadi padat modal dibanding masa lalu,
  2. Adanya tuntutan kesetaraan distribusi pendapatan dan masyarakat yang lebih demokratis

Berikut ini adalah pertanyaan pembuka Piketty pada bab Pendahuluan, yang akan dijawab dalam bukunya, yang oleh banyak pemikir ekonomi-politik sebagai karya fenomenal, apalagi didukung oleh data historis selama tiga abad dan meliputi lebih dari 20 negara serta belum pernah dilakukan oleh peneliti lainnya:

  • Apakah memang sudah tak terhindarkan lagi bahwa akumulasi kapital  akan berujung pada penumpukan kekayaan pada segelintir orang saja seperti yang diperkirakan oleh Karl Marx pada abad 19?
  • Ataukah, gaya-gaya penyeimbang dari pertumbuhan, kompetisi dan kemajuan teknologi mampu menurunkan kesenjangan dan meningkatkan harmoni antar kelas, seperti pemikiran Kuznets pada abad 20?

Ketika Rate of Return on Capital lebih besar daripada tingkat pertumbuhan produksi dan pendapatan (growth rate) atau r > g, seperti pernah terjadi pada abad 19 dan tampaknya terjadi lagi pada abd 21 ini, kapitalisme dengan sendirinya akan menyebabkan kesenjangan sosial yang secara radikal melemahkan nilai-nilai masyarakat demokratis.

Isu tentang kesenjangan distribusi kekayaan ini dimulai dengan terbitnya tulisan Arthur Young (1792), ahli agronomi Inggris, dari hasil perjalanan di Perancis tahun1787-1788, tentang kemiskinan di Perancis, yang pada saat itu merupakan negara Eropa yang paling padat penduduknya, 20 juta orang pada tahun 1700 (Inggris Raya 8 Juta, termasuk 5 juta di Inggris). Young merasa khawatir bahwa kemiskinan tersebut akan berujung pada krisis politik, chaos. Penelitian Young ini sangat mempengaruhi kekhawatiran Thomas Malthus, hingga munculnya ‘Essay on the Principle of Population’  pada tahun 1798 yang intinya adalah Inggris Raya perlu menghentikan bantuan kesejahteraan di kalangan masyarakat miskin dan segera mewaspadai tingkat reproduksinya untuk mencegah terjadinya populasi berlebihan (overpopulation), yang akan berujung pada pergolakan politik dan penderitaan.

Sejarah menceritakan bahwa transformasi ekonomi dan sosial pada akhir abad 18 dan 19 memang mencekam dan traumatik. Setelah Young dan Malthus, ekonom handal abad 19, David Ricardo dengan karyanya ‘Principles of Political Economy and Taxation’ 1817 dan Karl Marx dengan ‘Capital’ 1867, keduanya meyakini bahwa kelompok kecil sosial akan tak terhindarkan memiliki kekayaan yang semakin besar dalam proporsi produksi dan pendapatan nasional.

Kekhawatiran Ricardo didasari dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan harga tanah semakin tinggi, sesuai dengan ‘scarcity principle’, untuk itu perlu juga dinaikkan pajak terhadap sewa tanah. Analogi kasus yang sama di abad 21 ini adalah semakin tingginya harga properti.

Setelah hampir setengah abad terbitnya pemikiran Ricardo, Marx menerbitkan Capital volume 1 disaat realitas sosial ekonomi sudah berubah jauh, tidak lagi mempertanyakan ketahanan pangan seperti yang dikhawatirkan Malthus, atau persoalan semakin tingginya harga tanah yang menjadi perhatian Ricardo, tetapi lebih pada keperluan mendesak untuk memahami dan menyikapi dinamika kapitalisme industri yang menyebabkan penderitaan kaum proletar.

Tahun 1848, Marx menerbitkan buku tipis, yang bisa diunduh gratis dari internet, ‘The Communist Manifesto’, dimana di dalamnya terdapat jargon yang terkenal “what the bourgeoisie therefore produces, above all, are its own gravediggers”. Kapitalis menggali kuburnya sendiri dan kaum proletar menjadi setara. Dilanjutkan dengan analisis ilmiah tehadap kapitalisme, yang ditulis Marx di tahun 1867, dalam dua buku yang tidak selesai, Capital. Volume 1 dan 2. Seperti halnya Ricardo, analisis Marx didasarkan pada kontradiksi logika internal  dari sistem kapitalis. Ia berusaha untuk membedakan dirinya dengan ekonom borjuis yang melihat pasar sebagai sistem yang bisa mengatur dirinya sendiri atau sistem yang mampu mencapai keseimbangan sendiri tanpa adanya penyimpangan, yang menurut Adam Smith sebagai ‘the invisible hand’; juga dengan sosialis utopia dan kelompok Proudhonian yang menurut Marx hanya mengecam terjadinya penderitaan kelas pekerja tanpa dukungan analisis secara ilmiah terhadap proses ekonomi yang melatarbelakanginya. Marx menggunakan model Ricardo tentang semakin tingginya harga kapital dan ‘the principle of scarcity’ sebagai basis analisis dinamika kapitalisme di dunia untuk menjelaskan menumpuknya kapital industrial (permesinan, pabrik, dll.), bukan pertanahan seperti basis analisis Ricardo. Konklusi Marx biasa dikenal sebagai ‘principle of infinite accumulation’, yaitu kecenderungan tak terhindarkan terjadinya akumulasi kapital tanpa batas dan terkonsentrasi pada hanya segelintir tangan saja. Basis prediksi Marx tentang kiamat kapitalisme adalah:

  • rate of return on capital akan terus menurun sehingga mematikan mesin akumulasi dan berujung pada konflik antar kapitalis, atau
  • proporsi pendapatan nasional dari kepemilikan kapital akan terus meningkat tanpa batas (upah = 0) hingga pada akhirnya menyebabkan revolusi. Dengan kata lain, tidak mungkin ada kestabilan sosioekonomi atau keseimbangan politik.

Akhir abad 19 menunjukkan kenaikan upah, daya beli pekerja meningkat dimana-mana dan ini merubah situasi secara radikal walaupun kesenjangan tetap terjadi hingga PD1. Marx menolak keras adanya kemungkinan kemajuan teknologi dan pertumbuhan produktifitas sebagai agen penyeimbang dari proses akumulasi dan konsentrasi kapital. Piketty menyayangkan bahwa Marx tidak cukup memiliki data untuk memperbaiki prediksinya. Meskipun ada kekurangan, Capital masih cukup relevan untuk dua hal:

  1. Marx mempertanyakan masalah konsentrasi kekayaan di era Revolusi Industri, yang belum pernah dilakukan oleh ekonom lain. Hal ini menginspirasi para ekonom saat ini untuk melakukan hal yang sama dengan lebih baik
  2. The principle of infinite accumulation masih bisa dijadikan rujukan untuk mengkritisi kesenjangan ekonomi. Bila pertumbuhan populasi dan produktifitas  rendah, maka penumpukan kekayaan akan menjadi masalah penting, khususnya bila mencapai pertumbuhan yang ekstrim akan berujung pada destabilisasi sosial.

Simon Kuznet, ekonom abad 20, punya pandangan berbeda dengan Marx dan Ricardo, bahkan cenderung diametral. Menurut Kuznet, 1955, kesenjangan pendapatan akan dengan sendirinya menurun di fase puncak perkembangan kapitalis, terlepas dari pilihan kebijakan ekonomi yang berbeda dari masing-masing negara, hingga akhirnya stabil pada tingkat yang yang bisa diterima. Kesenjangan meningkat di awal fase industrialisasi karena hanya sekelompok minoritas yang telah mempersiapkan diri untuk memperoleh keuntungan darinya sebagai kelompok kaya baru. Perlu kesabaran, sebelum pertumbuhan pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak, “pertumbuhan bagaikan gelombang tinggi yang mengangkat semua perahu”, menurutnya.

Sumber data

Buku ini didasarkan pada dua hal, yaitu yang berkenaan dengan kesenjangan dan distribusi pendapatan, serta yang berhubungan dengan distribusi kekayaan dan relasi antara kekayaan dan pendapatan. The World Top Incomes Database (WTID) merupakan hasil kerja 30 peneliti dari berbagai negara, adalah database historis terlengkap saat ini yang tersedia berkenaan dengan evolusi kesenjangan pendapatan, yang digunakan Piketty sebagai sumber data utama untuk menulis buku ini. Dalam buku ini, Piketty tidak hanya fokus pada tingkat kesenjangan ekonomi saja, namun juga menyangkut pada struktur dari kesenjangan itu sendiri, yaitu penyebab asal kesenjangan pendapatan dan kekayaan diantara kelompok-kelompok sosial dari berbagai sistem ekonomi, sosial, moral dan politik yang berbeda. Hasil utama studi Piketty dari data sejarah di atas adalah:

  • Pertama, gejala ekonomi menyangkut kesenjangan antara kekayaan dan pendapatan perlu menjadi perhatian penting. Sejarah distribusi kekayaan selalu menunjukkan adanya kaitan politik yang sangat dalam, dan tidak bisa direduksi hanya murni masalah ekonomi saja.
  • Kedua, dinamika distribusi kekayaan menghasilkan mekanisme yang kuat untuk mendorong terjadinya konvergensi (setara) dan divergensi (kesenjangan).

Optimisme tumbuhnya produktifitas dan penurunan kesenjangan dalam negeri, juga antar negara, akan terjadi karena dipicu oleh

  1. Tumbuhnya kekuatan pengetahuan dan keahlian, atau tumbuhnya ‘human capital’. China dan beberapa negara sedang berkembang telah menunjukkan gejala ini. Jelas bahwa kurangnya investasi yang masif dalam pendidikan dan pelatihan akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi hanya akan dinikmati sebagian kelompok sosial saja. Upaya keras negara untuk terlibat dalam meningkatkan pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan.
  2. Perubahan dari ‘class warfare’ (perang antar kelas) ke ‘generational warfare’ (perang antar generasi). Tidak lagi perselisihan yang terjadi karena perbedaan kepemilikan modal, tetapi antara dinasti pemilik modal vs profesional (human capital).

Kedua optimisme tersebut memang mungkin terjadi, namun tidak mudah merealisasikannya dan masih berupa hipotesis yang belum didukung oleh data ada.

Gaya Fundamental terjadinya Divergensi, r > g Piketty I_1

Bila RORC (Rate Of Return on Capital, r) masih lebih tinggi secara signifikan daripada Pertumbuhan ekonomi (pendapatan dan produksi, g) dalam kurun waktu yang lama, maka resiko terjadinya divergensi (kesenjangan) dalam distribusi kekayaan akan semakin tinggi. Artinya, seperti halnya pada abad 19 yang cenderung akan terjadi lagi pada abad ini, kekayaan yang diperoleh dari warisan akan tumbuh lebih cepat daripada pendapatan dan produksi. Dalam situasi seperti ini, hampir tak terelakkan bahwa warisan kekayaan akan jauh melebihi total pendapatan yang telah dikumpulkan oleh kaum pekerja selama hidupnya, dan konsentrasi capital  akan semakin jauh melejit hingga Piketty I_2pada posisi yang secara potensial tidak akan dapat dicapai dengan prestasi kerja sebaik apapun walaupun dibarengi dengan nilai-nilai meritokratik dan prinsip-prinsip fundamental masyarakat berkeadilan sosial dan demokratis. Bila terjadi konflik sosial yang tinggi akibat pembagian yang tidak adil antara pemilik kapital dan pekerja, maka ini seringkali dipicu oleh adanya konsentrasi kepemilikan kapital yang berlebihan. Kesenjangan akibat tingginya kekayaan, sebagai konsekwensi pendapatan hasil dari kapital, jelas selalu lebih besar daripada kesenjangan yang disebabkan oleh pendapatan pekerja (r>g) Piketty tidaklah sepesimis Marx yang menganggap akan terjadi kiamat sosial dengan pemikirannya ‘principle of infinite accumulation’ dan ‘perpetual divergence’ yang didasarkan pada asumsi mandegnya pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu yang lama. Divergensi tidaklah abadi, melainkan hanyalah bagian dari berbagai kemungkinan arah distribusi kekayaan di masa depan. Perlu juga diperhatikan bahwa kesenjangan fundamental r > g, sebagai faktor utama penyebab divergensi, tidaklah berkaitan dengan tidak sempurnanya pasar. Bahkan bila pasar semakin sempurna, maka ‘r’ semakin besar dibanding ‘g’.

Penyajian permasalahan dalam buku ini, Piketty membaginya menjadi 4 bab dengan 16 sub-bab di dalamnya. Pada Bab 1 yang berjudul Income and Capital menjelaskan ide-ide dasar yang akan terus ditemui hingga akhir buku, khususnya konsep-konsep national income, capital, dan capital/income ratio. Bab 2, The Dynamics of the Capital/Income Ratio menjelaskan pengkajian prospek masa depan dari capital/income ratio dan pembagian pandapatan nasional antara kerja (labor) dan capital dalam proses evolusi yang berlangsung lama pada abad 21. Bab 3, The Structure of Inequality membahas besarnya kesenjangan antara distribusi pendapatan yang diperoleh pekerja di satu sisi dengan pendapatan dari hasil capital di sisi lainnya. Bab 4, Regulating Capital in the 21st Century merupakan proposal kebijakan normatif untuk mengurangi kesenjangan ekonomi berdasar kajian tiga bab sebelumnya.

Bab 1 Income and Capital

Untuk memahami dinamika kesenjangan ekonomi perlu memperhatikan pertumbuhan populasi dan pertumbuhan pendapatan per capita. Pertumbuhan ekonomi global 2013-2014 mungkin melebihi 3%, namun pertumbuhan penduduk per tahun mencapai 1%, sehingga total realitas pendapatan per capita tidak mencapai 3%. Piketty 2_2Piketty berpandangan bahwa perbedaan kecil antara Return on Capital dengan Rate of Growth dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan destabilisasi sosial. Dengan rendahnya pertumbuhan penduduk yang berakibat pada rendahnya produksi, maka Rate of Return on Capital akan semakin lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan, yang berujung pada meningkatnya kesenjangan distribusi kekayaan.

Definisi

Capital adalah jumlah total asset yang bisa dimiliki dan dapat diperjual-belikan di pasar secara permanen, termasuk di dalamnya adalah segala bentuk properti (perumahan), juga finansial dan capital profesional (perkebunan, infeastruktur, permesinan, hak paten, dll.) yang dipergunakan oleh perusahaan dan pemerintahan.

Human Capital tidak dianggap Piketty sebagai Capital karena tidak dapat dimiliki oleh pihak lain atau diperjual-belikan secara permanen.

Capital juga dimaksudkan Piketty sebagai bentuk akumulasi kekayaan (wealth)

National wealth atau national capital adalah total net nilai pasar yang dimiliki penduduk (private capital) dan pemerintah (public capital) suatu negara dalam suatu waktu, yang dapat diperjual-belikan.

National wealth = private wealth + public wealth National wealth = national capital = domestic capital + net foreign capital

National Income didefinisikan sebagai jumlah seluruh pendapatan penduduk dari suatu negara  dalam satu tahun. Bila GDP – Depresiasi = net domestic product atau domestic output atau domestic production, maka Piketty memaknai National Income Domestic Output Net Income Abroad

National capital = farmland + housing + other domestic capital + net foreign capital

Other domestic capital: kapital dari perusahaan dan organisasi pemerintah (bangunan, tanah, mesin, paten, peralatan kantor, dsb.)

Hukum Fundamental Kapitalisme 1, dipergunakan Piketty untuk menjelaskan konsep Rate of Return on Capital: A = r x B A: the share of income from capital in national income  r : the rate of return on capital B: the capital/income ratio Rate of return on capital adalah inti dari konsep ekonomi Piketty, untuk menghitung besarnya hasil penggunaan kapital atau investasi (keuntungan, sewa, deviden, bunga, royalti, capital gain, dll.) dalam kurun waktu tertentu.

BAB 2 The Dynamics of the Capital/Income Ratio Piketty 3_1

Pada bab ini Piketty mengulas tentang evolusi kapital dengan cara menghitung capital/income ratio dan berbagai komponen assetnya yang secara radikal mengalami perubahan sejak abad 18, misalnya tanah, bangunan, mesin, perusahaan, saham, paten, emas,  sumberdaya alam, dsb. Juga mengkaji perkembangannya seiring berjalannya waktu khususnya di Inggris dan Perancis.

Perubahan radikal di Perancis, Inggris dan Jerman terjadi pada nilai total sektor tanah perkebunan, yang pada abad 18 mencapai 4 atau 5 tahun pendapatan nasional atau 2/3 dari total kapital nasional mengalami penurunan signifikan hingga tinggal kurang dari 10% dari Piketty 3_2pendapatan nasional, atau kurang dari 2% dari total kekayaan.

Runtuhnya nilai perkebunan digantikan dengan tumbuhnya sektor perumahan, yang pada abad 18 hanya satu tahun pendapatan  nasional, sekarang tumbuh menjadi 3 kali pendapatan nasional. Angka pertumbuhan yang sama juga terjadi  pada sektor other domestic capital.

Di sektor foreign capital, grafik menunjukkan bahwa pada tahun 1950 hingga 2010, Inggris dan Perancis hanya mempunyai sedikit aset, cenderung mendekati 0. Hal ini dipicu oleh terjadinya dua kali Perang Dunia, Great Depression dan dekolonisasi.

Pasca Perang Dunia II, nasionalisasi industri banyak dilakukan di Inggris dan Perancis (1945 industri mobil Renault dikuasai pemerintah Perancis) sehingga meningkatkan Public Capital hingga 50% dari National Wealth hingga disebut Capitalism without Capitalist atau State Capitalism dimana kepemilikan pribadi tidak lagi menguasai perusahaan-perusahaan besar.

Berbeda dengan Eropa yang lebih tua (the Old World), struktur kapital Amerika (The New World) relatif lebih stabil sejak era kolonial hingga sekarang yaitu sekitar 4,5 tahun pendapatan nasional. Kapital Nasional Amerika lebih dari 3 tahun (Eropa 7 tahun) pendapatan nasional saat merdeka, 1770, dan tanah perkebunan hanya 1,5 tahun (Eropa 4 tahun) dari Pendapatan Nasional.

Perbedaan kedua antara Amerika dengan Eropa adalah bahwa Foreign Capital di Amerika sangat rendah di abad 18 karena Amerika bukanlah negara kolonial seperti halnya Eropa yang banyak mempunyai negara jajahan. Piketty 4_10

Perbedaan ketiga yang sangat penting adalah perbudakan. Tahun 1800, jumlah total budak di Amerika mencapai 20% dari total penduduknya, terbanyak ada di daerah selatan yang mencapai 40%. Tahun 1770 – 1865 nilai kapital dari perbudakan di Amerika hampir sama dengan sektor perkebunan, yaitu 1 tahun pendapatan nasional.

Hukum Fundamental Kapitalisme 2, dipergunakan Piketty untuk menjelaskan konsep Capital/income ratio: B = s/g B: the capital/income ratio s: saving rate g: growth rate Piketty 4_11Piketty memaknai growth rate sebagai Pendapatan nasional per capita (g) dan pertumbuhan populasi (n), sehingga rumus seharusnya adalah B = s/(g + n). Namun utk mempermudah, hanya disebut ‘g’ saja atau B = s/g. Bila suatu negara melakukan saving 12% (s) dari pendapatan nasional setiap tahun, dan pertumbuhan pendapatan nasional (g) adalah 2% per tahun, maka diperoleh capital/income ratio sebesar 600%; atau negara akan mempunyai kapital sebesar 6 tahun pendapatan nasional. Rumus matematika sederhana ini memberikan penjelasan penting bahwa bila suatu negara melakukan banyak saving dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat maka pada kurun waktu yang lama akan mendapatkan akumulasi kapital yang signifikan (relatif terhadap pendapatan), yang berakibat pada struktur sosial dan kesenjangan distribusi kekayaan yang semakin tinggi.

Bab 3 The Structure of Inequality

Pada bab ini Piketty menjelaskan kesenjangan sosial ditinjau dari tataran individu. Juga dijelaskan bahwa turunnya kesenjangan bukanlah terjadi secara natural seperti konsep Kuznet, melainkan ada keterlibatan institusi dan kemauan politik pemerintah atau kebijakan publik seperti ditunjukkan oleh data statistik setelah PD II. Pada bab ini juga, Piketty menganalisis tentang kekayaan hasil warisan dan pendapatan hasil kerja.

Seperti dijelaskan pada bab I bahwa Pendapatan (income) dinyatakan sebagai jumlah penghasilan dari hasil kerja (labor) dan hasil kapital, sehingga Kesenjangan Pendapatan (income inequality) adalah jumlah dari kedua komponen tersebut, yaitu kesenjangan dari hasil kerja dan kesenjangan dari hasil kapital.

Gaji (wage) adalah salah satu bentuk penghasilan dari kerja. Kesenjangan gaji (wage inequality) dimaksudkan Piketty sebagai kesenjangan penghasilan yang diperoleh dari kerja. Kekurangan pengukuran kesenjangan pendapatan secara statistik seperti Index Gini atau Palma adalah tidak membedakan antara pendapatan dari hasil kerja atau dari hasil kapital tetapi justru menggabungkannya, dan Piketty mencoba memisahkannya.

Dari sisi pendapatan hasil kerja, di negara-negara yang egaliter, 50% berpendapatan terbawah, menerima hampir 2 kali dari jumlah yang diterima oleh 10% teratas, meskipun banyak pihak masih menganggap tidak adil karena 50% terbawah berarti 5 kali lebih banyak daripada 10% teratas. Sementara di negara-negara inegaliter, 50% penduduk berpendapatan terendah hanya menerina 1/3 dari 10% teratas. Bahkan bila pertumbuhan konsentrasi kekayaan di AS terus berlangsung, maka 50% terbawah mungkin hanya akan menerima pendapatan 1/2 dari bagian 10% teratas pada tahun 2030.

Sementara data kesenjangan yang disebabkan oleh kepemilikan kapital menunjukkan bahwa di negara-negara Scandinavia  pada tahun 1970 dan 1980an menunjukkan relatif kesetaraan atas kepemilikan kekayaan nasional atau 10% terkaya memiliki 50%-60%, dan saat ini (2010an) di Eropa (Perancis, Jerman, Inggris dan Itali) pada umumnya 10% terkaya memiliki 60% kekayaan nasional. Sementara itu 50% terbawah hanya memiliki kontrol atas kekayaan nasional sebesar 10% saja, bahkan data 2010-2011 di Perancis menunjukkan bahwa 50% terbawah hanya memiliki 4% kekayaan nasional. Lebih buruk lagi adalah data hasil survey di AS yang menunjukkan bahwa 10% berpendapatan teratas memiliki kekayaan sebesar 72% kekayaan nasional, sementara 59% terbawa hanya memiliki 2% saja.

Kesenjangan Pendapatan Hasil Kerja

Ada dua hipotesa tentang perhitungan besarnya Gaji (income from labor), yaitu bergantung pada:

  1. jumlah produksi
  2. supply/demand tenaga kerja berdasar Keahlian

Kedua hipotesa tersebut sangat bergantung pada pihak-pihak yang punya otoritas. Faktor jumlah produksi cukup sulit diterapkan terhadap individu karena sangat berhubungan dengan kelompok lain dalam rantai industri. Demikian juga dengan faktor keahlian yang sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terhadap pendidikan dan kemajuan teknologi serta penerapannya.

Penelitian AS menunjukkan bahwa terjadi penurunan kesenjangan penghasilan berdasarkan tingkat pendidikan di 1970an dan kemudian meningkat lagi sejak 1980an ketika lulusan universitas semakin berkurang. Golfin dan Katz yang melakukan penelitian tersebut berkesimpulan bahwa meningkatnya kesenjangan penghasilan di AS karena lemahnya kebijakan pemerintah untuk melakukan investasi pendidikan supaya banyak yang mampu mengikuti jenjang pendidikan tinggi. Kasus yang sama juga terjadi di Perancis dalam kurun waktu yang berbeda.

Pelajaran yang diperoleh dari kasus Perancis dan AS di atas adalah bahwa untuk mengurangi kesenjangan penghasilan dari hasil kerja dan sekaligus meningkatkan produktifitas pekerja serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan investasi pendidikan. Bila daya beli pekerja meningkat dalam satu abad sebesar 5 kali lipat, ini karena meningkatnya keahlian yang ditunjang denfan berkembangnya tekbologi hingga produktifitas individu juga meningkat 5 kali lipat. Dalam jangka panjang, pendidikan, keahlian dan teknologi adalah faktor utama untuk peningkatan penghasilan.

Kesenjangan penghasilan juga bisa terjadi dengan fenomena ‘super manager’ yang banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar dimana penghargaan berlebihan diberikan pada top management karena kinerja bagus managemen atau juga bisa karena penghargaan tersebut dilakukn oleh para yop manager itu sendiri. Kasus tingginya penghargaan yang diperoleh para top management sektor keuangan di AS setelah runtuhnya ekonomi 2008 telah membuktikan hal tersebut.

Kesenjangan pendapatan dari kapital Piketty 10_09

Hasil analisa Piketty terhadap data yang ada menunjukkan bahwa terjadinya hiperkonsentrasi kekayaan pada masyarakat agraris tradisional atau pada umumnya masyarakat hingga PD I, disebabkan oleh adanya rate of return on capital yang tinggi pada masyarakat dengan pertumbuhan pendapatan rendah, r > g.

Model pertumbuhan penduduk 1,5% per tahun, yang dimulai pada tahun 2050 akan menghasilkan penurunan pertumbuhan produktifitas global dari 4% menjadi 1,5% di tahun 2100, sehingga kesenjangan antara r (4,5%-5%) dan g kembali semakin tinggi, seperti terjadi pada masa Revolusi Industri. Piketty 10_10

The Moral Hierarchy of Wealth

Sepakat kiranya bahwa suatu masyarakat memerlukan penemuan, inovasi dan kewirausahaan. Namun kepiawaian sebagai wirausahawan tidaklah semestinya menjadi alasan untuk dapat membenarkan adanya kesenjangan seberapapun besarnya. Kombinasi kesenjangan r>g dengan kesenjangan karena returns on capital sebagai fungsi awal kekayaan, dapat memicu langgengnya konsentrasi kapital yang masif. Disinilah peran pajak progresif untuk mengkontrol kesenjangan secara demokratis, sementara tetap menjaga dinamika kewirausahaan dan keterbukaan ekonomi global.

Bab 4 Regulating Capital in the 21st Century

Piketty berpendapat bahwa kebijakan ideal untuk menghindari semakin tingginya kesenjangan serta untuk meningkatkan kontrol terhadap dinamika akumulasi, adalah pajak progresif terhadap kapital global. Inovasi besar abad 21 dalam hal perpajakan adalah pelaksanaan dan pengembangan pajak progresif pendapatan. Institusi yang pada abad 20 ini telah berhasil menurunkan kesenjangan kekayaan, kini mulai mengalami banyak tantangan. Di AS persoalan oajak pendapatan ini selalu menjadi isu yang terus dipertentangkan antara partai Republik dan Demokrat.

Democratic and Financial Transparancy

Perpajakan bukanlah tentang masalah teknis, namun lebih pada masalah kemauan politik. Tanpa adanya pajak, maka akan semakin tidak jelas nasib masyarakatnya. Perlu juga dipahami bahwa pajak bukanlah berarti hanya sekedar memungut sebagian dari pendapatan, namun lebih pada pemberlakuan norma hukum pada setiap aktifitas ekonomi. Maksud utama dari pajak kapital adalah bukan untuk membiayai kebutuhan sosial masyarakat, tetapi untuk mengatur kapitalisme dengan tujuan:

  1. untuk menghentikan peningkatan kesenjangan kekayaan tanpa batas
  2. untuk meningkatkan regulasi yang efektif terhadap sektor finansial dan sistem perbankan sehingga tidak lagi terjadi krisis finansial.

Untuk mencapai kedua tujuan tersebut, perlu dilakukan pajak kapital yang demokratis dan transparan serta adanya kejelasan kepemilikan asset di seluruh dunia. Transparansi ini hal penting mengingat pemilik kapital di suatu negara, bisa jadi tidak berdomisili di negara tersebut. Dengan demikian, pemerintahan, organisasi internasional dan institusi statistik di seluruh dunia perlu menyediakan data yang valid berkenaan dengan evolusi kekayaan dunia. Tanpa pajak kapital global atau kebijakan sejenisnya, dikhawatirkan bahwa kepemilikan top centile (1% tertinggi) kekayaan global akan terus semakin tinggi tanpa batas, dan jelas ini akan sangat mengkhawatirkan.

Pajak kapital akan mendesak pemerintah untuk memperluas  berbagai perjanjian internasional berkenaan dengan kerjasama otomatisasi jaringan data perbankan. Prinsipnya, pihak-pihak otoritas pajak nasional harus mempunyai informasi untuk dapat menghitung kekayaan bersih dari masing-masing warganya. Dengan demikian, untuk memperoleh hasil yang terpercaya, perlu adanya sangsi yang tidak hanya dikenakan terhadap bank, namun juga terhadap negara yang tidak mengijinkan institusi finansialnya untuk berbagi data yang benar dengan negara lain. Salah satu isu terpenting pada tahun-tahun mendatang adalah perkembangan berbagai bentuk baru kepemilikan dan kontrol kapital yang demokratis, dan ini pada umumnya bergantung pada ketersediaan informasi ekonomi. Tanpa transparansi akutansi dan finansial, tidak akan terjadi demokrasi ekonomi.

Perubahan Iklim

Piketty hanya menyinggung sedikit tentang Perubahan Iklim, yang intinya, kebutuhan mendesak saat ini adalah meningkatkan kapital pendidikan dan mencegah degradasi kapital sumberdaya alam. Ini merupakan hal serius dan tantangan yang penting, mengingat Perubahan Iklim tidak dapat diatasi dengan tindakan sekejap saja.

Kesimpulan Piketty

Dari analisa data yang terkumpul sejak lebih dari 300 tahun yang lalu, Piketty menyimpulkan bahwa ekonomi pasar yang didasarkan pada kepemilikan pribadi tanpa kontrol, akan mendorong kearah tumbuhnya pengetahuan dan keahlian; namun di sisi lain juga akan menjadi ancaman terhadap demokrasi dan keadilan sosial.

Prinsip daya destabilisasi ditunjukkan dengan kenyataan bahwa RORC (rate of return on capital), r, secara signifikan akan lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan dan produksi, g. Kesenjangan r>g berimplikasi pada semakin tumbuhnya penumpukan kekayaan sejak masa lalu, lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.

Kesenjangan ini menunjukkan akan adanya kontradiksi logis yang sangat fundamental. Tak terhindarkan bahwa pengusaha cenderung terus mengejar keuntungan yang lebih besar dan  semakin dominan dibanding para buruh yang hanya mengandalkan kemampuan kerjanya.

Namun bila dikenakan pajak kapital yang sangat berat untuk maksud mengurangi return in capital supaya menjadi lebih rendah daripada pertumbuhan pendapatan, maka akan beresiko mematikan mesin penggerak akumulasi yang berujung pada penurunan pendapatan juga. Solusi akhir adalah pajak progresif kapital tahunan, yang akan menghindarkan kenaikan kesenjangan tanpa akhir. Ini membutuhkan kerjasama internasional tingkat tinggi dan integrasi politik regional.

Kompetisi yang sempurna tidak dapat mengubah r>g, yang sebetulnya bukanlah akibat dari ketidak-sempurnaan pasar. Bila bermaksud untuk mengkontrol kapitalisme, kita harus yakin bahwa semuanya berada pada jalur yang demokratis, dan hanya dengan melakukan integrasi politik regional maka akan dapat dihasilkan regulasi yang efektif terhadap kapitalisme global abad 21.

Hal penting yang perlu digarisbawahi dari buku ini adalah:

  1. kesenjangan ekonomi, r>g, akan terus terjadi dan cenderung meningkat
  2. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi akan mengurangi tumbuhnya kekayaan dari hasil warisan. Hal ini tidak terjadi dengan sendirinya, namun perlu campur tangan pemerintah untuk mempercepatnya
  3. Pendidikan dan keahlian serta teknologi akan memperlambat kesenjangan dan meningkatkan mobilitas, namun tidak akan mengubah arah r>g
  4. Konflik sosial karena kesenjangan antara super manager vs lower level dibidang profesional akan meningkat, menggantikan konflik antar kelas di abad 19.

References:

What’s the future of inequality? By Jérémie Cohen-Setton

What’s caused the rise in income inequality in the US? By Olga Baranoff

Data dan Chart pada buku ini

What is capital?

Green economics versus growth economics

Output (economics)

Thomas Piketty’s “Capital”, summarised in four paragraphs

Thomas Piketty’s Literary Offenses

Palma dan Index Gini sbg Metode Pengukuran Kesenjangan

Palma index: Top 10% mendapatkan 32 kali lebih besar dari Bottom 40%

Blanco Cafe di Yogya

Blanco cafe


BlancoSore itu cerah kuning panas matahari mulai redup, meninggalkan terang putih biru kemerahan di sisi barat dengan sedikit tiupan angin di jalan Kranggan, Yogya. Bayang hitam atap rumah tampak memanjang lancip di atas jalan aspal dua lajur, yang tak cukup sibuk lalu-lalang kendaraan bermotor. Terlihat tak jauh berjalan di depanku, sepasang wisatawan asing,  dengan balita di pelukan sang ibu, menyeberang jalan dan memasuki sebuah bangunan rumah berdinding depan dominan kaca yang tampak bersih tertata rapi dengan banyak bola lampu kuning tergantung di atap ruang dalam dan lampu kuning bertudung di beranda. Cafe baru rupanya. Penasaran aku ikut masuk ke dalamnya bersama keluarga.


WisatawanSepasang wisatawan tadi terlihat bahagia bercanda dengan anaknya yang tampak terkekeh lucu di pangkuan ibunya, duduk di sofa, di sudut rumah depan bar tempat kue-kue tersaji dalam ruang kaca. Sang bapak kemvali membolak-balik menu hidangan sambil berbincang dengan pramusaji yang ramah, menawarkan pilihan minuman dan kue yang tersedia.

Sirup“Blanco cafe, pak”, jawab pramusaji lainnya dengan ramah ketika kutanya apa nama cafenya. “Belum seminggu kami buka, dan masih perlu perbaikan dan kelengkapan untuk kenyamanan tamu. Bahkan nama cafenya pun belum kami pasang. Silahkan duduk pak. Ini menu makanan dan minuman kami”, lanjutnya dengan mengodorkan buku menunya sambil tersenyum. Aku memesan minuman panas hazelnut latte dan kue andalan apple slipper. Tak lama kemudian dia kembali ke mejaku sembari tersenyum dan menyodorkan buku Life “silahkan dilihat-lihat pak, kami sedang siapkan pesanannya. Atau, boleh pilih sendiri bukunya di sana”, sambil menunjuk rak buku pemisah ruang dengan deretan buku dari bermacam kategori tersusun rapi, hampir semuanya dalam bahasa Inggris.

Meja kayuDalam ruangan yang sejuk berpendingin ini ada beberapa meja kayu persegi berdesain minimalis kasar kehijauan yang tersusun diametral dengan masing-masing empat kursi kayu mengelilinginya dan lampu kuning bertudung menggantung di atasnya. Lega indah fungsional.

Sirup“Silahkan pak”, ucap pramusaji sambil meletakkan secangkir hazelnut latte panas dengan buih cream dan taburan bubuk coklat di atasnya tersaji indah, beraroma harum kopi yang memancing selera, serta apple slipper berwujud croissant dengan selai apel di dalamnya, ke depanku. Lezat minumannya, lezat kuenya. Sempurna.

RombonganSudah seminggu ini Blanco menerima tamu setiap harinya sejak siang jam 2 hingga larut malam jam 12. Ketika aku masuk cafe, saat itu baru empat meja terisi tamu, masing-masing duduk dua dan tiga pengunjung, semuanya anak muda, mahasiswa sepertinya, selain wisatawan manca negara yang duduk di sofa sudut ruang dan aku sendiri di belakang rak buku bersama rombongan, anak, istri, de Nang, de Gen dan mas Andre. Dua meja terpisah yang berisi mahasiswa tersebut terlihat penuh dengan buku, laptop dan minuman cafe di atasnya. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Memang nyaman cafe ini untuk mereka yang sedang membutuhkan ruang belajar dan diskusi kecil yang tidak ramai. WIFI juga tersedia sehingga mudah untuk akses informasi dengan cepat. Televisi LED di sudut atas ruang tamu sedang menampilkan berita nasional dengan suara ‘lamat-lamat’, namun cukup jelas untuk didengar.

mas BimoMas Bimo, yang juga mahasiswa hukum UGM semester akhir dan salah satu pemilik cafe, menghampiri kami untuk sedikit beramahtamah. “Gini loh om, selain bisnis, cafe ini juga untuk nyediain tempat  belajar bersama yang nyaman, makanya kalo sudah settled semua, mungkin akan buka 24 jam”, jelasnya ketika kutanya tentang konsep cafenya. Ketika kutanya tentang jenis kopinya yang lezat, dia menjawab dengan senyum bangga, “thanks om, memang kami milih kopi papan atas untuk jaga kualitas dan kepercayaan para tamu”. Hehe formal but kerenn … ..

Tamu BlancoJam 6 sore dah mulai gelap, kami angkat kaki, ternyata di meja panjang beranda yang juga diterangi lampu gantung kuning bertudung, juga sudah mulai ada 10 tamu yang lagi ngopi.. memang enak duduk di beranda Blanco sore hari, tidak banyak debu karena lalulintas tidak ramai dan pandangan lebih lega.

Sobat, cobalah Blanco Cafe di jl. Kranggan 30, Yogya. Highly recommended. Sukses mas Bimo dkk. ..

Komentar lainnya tentang Blanco Cafe bisa dibaca di blog http://www.hungerranger.com/2015/06/blanco-coffee-book.html?m=1

durianSering kita mendengar “saya kan bermaksud baik, kenapa tidak diterima?”. Apa yang dimaksudkan sebetulnya? Pertanyaan philosofis menurutku.

Melihat kebaikan ibarat melihat durian berduri banyak di kulitnya. Kebaikan itu sendiri ada di tengahnya, sedangkan masing-masing duri adalah cara pandang terhadap kebaikan. Representasi cara pandang tersebut ditunjukkan dengan beragamnya ideologi atau mazhab pemikiran filosofis yang berbeda di dunia ini. Pemikiran dialektis, kajian holistik dan optimasi terhadap berbagai cara pandang inilah yang diharapkan bisa diterima semua pihak untuk disepakati.

Di dalam komunitas egaliter dimana setiap individu punya bobot suara yang sama, maka dalam era demokrasi diterapkan sistem perwakilan untuk merumuskan dan menyepakati suatu ‘kebaikan’. Sedangkan dalam suatu komunitas yang sudah disepakati jenjang otoritasnya (birokrasi pemerintah, perusahaan, organisasi lainnya, dll.), nilai ‘kebaikan’ diputuskan oleh pihak pengemban otoritas, meskipun selalu ada cara untuk melakukan perubahan yang biasanya juga telah diakomodir salam suatu sistem yang dianut bersama. Nah, kesepakatan-kesepakatan seperti ini harus diterima dan dijalankan sehingga tidak terjadi chaos. Artinya, memaksakan ‘kebaikan’ menurut cara pandang sendiri supaya diikuti banyak pihak dalam suatu komunitas, jelas tidak bisa diterima.

Refference di bawah ini banyak menunjukkan contoh bahwa dalam memandang suatu masalah, selalu ada berbagai ‘kebaikan’ dari berbagai sisi, yang tidak jarang justru bertentangan.

Ref.:

1. “Justice“, Michael Sandel

2. “What’s money can’t buy”, Michael Sandel

Permohonanku

Permohonanku

Ya Allah junjunganku,

Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang

_____

keserakahan dan kesombongan,

kekejaman juga kesewenang-wenangan,

begitu mengurung segala tindakan

_____

berikanlah hambamu kesabaran juga kekuatan,

serta keluhuran budi dan kerendahan hati,

untuk tetap bertahan,

dari godaan dan jebakan,

juga kesesatan,

yang mengancam segenap laku keutamaan,

dan kebenaran

_____

yakin Kau dengar, suara batinku,

sudilah kiranya, kumohon padaMu,

lindungilah hambamu

Amin

_____

Jakarta, 29 April 2015

-hambamu-

The Boom

The BoomBuku ini berisi informasi tentang fracking dan sejarahnya mulai dari akuisisi ‘mineral right’ dengan cara menyewa properti di permukaan tanah dari para pemilik lahan/rumah, metoda sederhana produksi minyak, teknologi fracking yang mengubah dunia, kebijakan energi hingga dampak lingkungan yang diakibatkannya. Perusahaan minyak Mitchell Energy, Chesapeake, Devon International dan George Mitchell, McLandon, Larry Nichols sebagai pengusaha minyak yang sukses dengan metode fracking ini, menjadi pusat cerita. Tahapan dan kelengkapan proses fracking juga dijelaskan cukup rinci dari kacamata seorang jounalis, Russel Gold ini.

Pada awal 2000an, target penelitian Russel adalah perusahaan migas kecil-menengah, tidak menjual bbm atau mengoperasikan kilang minyak, dan hanya beroperasi di AS, yang jauh dibawah kelas Chevron atau BP yang kaya dan mempunyai kemampuan teknis canggih dan bermain migas Timur Tengah, atau laut dalam di wilayah pantai Afrika. Namun demikian, perusahaan2 migas ini pada awal abad 21 justru mengejutkan dunia dengan suksesnya menggunakan metoda baru dalam menghasilkan gas yang berasal dari batuan padat berpermeabilitas kecil, shale, di kedalaman.

Tahun 1940an M. King Hubbert yg dikenal sebagai bapak teori ‘Peak Oil’ berpendapat bahwa karena cadangan minyak dunia terbatas, sehingga bila produksi terus meningkat maka akan smpai pada puncaknya dan setelahnya akan menurun lagi. Untuk menunda ‘Hubbert’s Peak’ ini perlu ada upaya rekayasa baru, dan fracking adalah jawabannya.

Revolusi shale gas/oil ini telah mengubah AS melalui teknik fracking yang menghasilkan begitu besar produksi minyak dan gas. Hal ini menyebabkan AS berkelimpahan energi yang membantu lahirnya kembali industrialisasi dan mempermudah lepasnya ketergantungan energi dari luar. Akses terhadap energi ini membutuhkan ribuan lubang bor baru yang masing-masing dilakukan fracking dengan membanjiri air yang cukup untuk mengisi beberapa kolam renang berskala olimpiade dan ratusan gallon larutan kimia. Ini juga berarti mengubah beberapa kota kecil menjadi area industri, lengkap dengan lalu-lalangnya truk-truk container besar, polusi udara, rusaknya lingkungan dan ketakutan atas kualitas air yang rentan terhadap pencemaran.

Berkat metoda fracking, AS telah menghasilkan gas jauh lebih banyak dari sebelumnya. Dengan metoda dan teknologi yang sama untuk menghasilkan gas, fracking juga digunakan untuk memproduksi minyak dari batuan shale. Pada musim semi 2013, AS sudah memproduksi minyak mentah 7.5 juta barrel per hari, jumlah yang tidak terlihat lagi sejak 1990. North Dakota, lokasi Bakken shale adalah lapangan minyak terbesar di AS yang baru ditemukan dalam beberapa dekade ini, dan telah menghasilkan 875.000 barrel per hari, yang lima tahun sebelumnya hanya menghasilkan 150.000 barrel per hari.

Puluhan tahun sebelumnya, AS selalu impor minyak jutaan barrel per hari, dan sekarang menurun tajam dan cenderung terbebas dari ketergantungan impor dari Timur Tengah dan Afrika, ‘energy independent’. Diperkirakan, pada tahun 2020 AS bisa menjadi penghasil minyak terbesar dunia, diperkirakan 11,1 juta barrel per hari, melampaui Arab Saudi.

Produksi Minyak Dunia

Produksi Minyak Dunia

Chesapeake Energy

Pada awalnya, Chesapeake Energy adalah perusahaan migas kecil yang bermaksud drilling dan memproduksi gas di bawah lahan seluas 102 acre di North Pennsylvania. Penawaran sewa lahan $400.000 bayar di depan merupakan hal menarik bagi penduduk setempat.

Pada masa jayanya, Chesapeake yang dipimpin oleh McLendon mampu melakukan drilling dalam jumlah besar, bahkan melampaui perusahaan migas manapun di dunia. Pada tahun 2004, Chesapeake termasuk dalam 8 besar perusahaan pemboran di AS, satu tahun kemudian masuk 4 besar. Dan satu tahun lagi sudah menjadi yang terbesar, dan ini berlangsung dalam beberapa tahun. Antara tahun 2004 hingga 2011, Chesapeake telah melakukan pemboran terbanyak dibanding perusahaan manapun di dunia. Hampir tiap hari 4 mata bor Chesapeake mulai menembus batuan di setiap lubang bor barunya.

Pada tahun 2012, anggaran Chesapeake mencapai $20 milyar, drilling lebih dari 1.000 lubang bor per tahun dan melakukan fracking pada setiap lubangnya. Minyak dan gas telah diproduksinya dari batuan shale (serpih) dengan metode fracking ini, yang menurut pemiliknya hanya perlu memasukkan banyak air bertekanan tinggi ke dalam lubang pemboran, meskipun kenyataannya cara fracking ini jauh lebih rumit.

McLendon sangat agresif dalam memimpin Chasepeake. Hanya dalam 8 tahun sejak sumur pertamanya, Chesapeake sudah menyewa 3.500 acre lahan di Northern Texas, yang melibatkan 260.000 transaksi, untuk mendapatkan asset (mineral rights) formasi Barnett di bawahnya.

Kwartal pertama 2012, Chesapeake telah mengalami cash-flow negatif sebesar $ 4,1 milyar. Selama 8 tahun beroperasi, telah membelanjakan lebih dari $30 milyar untuk keperluan sewa lahan dan pemboran.

Kekuatan utama McLendon pada akhirnya justru menjadi kelemahannya. Dia sangat bagus dalam hal mendapatkan modal untuk membentuk perusahaan besar yang sukses, hingga semakin sulit untuk merubah arah ketika krisis finansial 2008 terjadi di AS. Dan kemampuannya untuk memperoleh milyaran dollar (bukan untuk Chesapeake, tapi untuk keperluan sumur-sumur pribadinya) telah menjerumuskan dirinya bahkan hingga hengkangnya dari Chesapeake. Tanggal 1 April 2013, McLendon meninggalkan Chesapeake. Terminated.

Sukses Mitchell Energy dengan Fracking

Tahun 1951, di sumur DJ Hughes #1, Wise County, Mitchell berhasil menemukan gas, juga di sepuluh lubang bor lainnya, menggunakan metode fracking di batuan pasir yang dangkal, bukan formasi Barnett shale (jauh di bawahnya) yang ketat dengan cara menembakkan larutan gel hingga membentuk banyak rekahan yang terhubung ke rekahan-rekahan yang sudah ada. Mitchell Energy dianggap sukses besar (discovery) selama bertahun-tahun sejak mengalirkan gas dari cebakan batuan pasir ke permukaan tersebut. Namun sebetulnya, batuan sumber terdapatnya gas di batuan pasir di atas berada di paisan yang lebih dalam, yaitu di formasi Barnett shale yang saat itu masih belum ditemukan metode yang tepat untuk mampu mengekstraksinya.

Dengan rangsangan pemerintah AS pada tahun 1978 bahwa gas yang berasal dari reservoir ‘unconventional’ akan dibeli pemerintah dengan harga lebih tinggi, juga informasi cadangan gas yang sangat besar (mungkin mencapai trilyunan cubic feet), maka Mitchell gencar melakukan pemboran ke dalam formasi Barnett shale dengan metoda fracking yang berbeda-beda untuk mendapatkan cara produksi gas unconventional yang paling ekonomis.

Tahun 1980an, Mitchell Energy & Development, salah satu perusahaan migas besar di Houston, mempunyai ladang gas di sekitar Fort Worth. Para geologistnya sering kali menemukan keberadaan gas yang cukup signifikan yang ditunjukkan oleh data komputer setiap kali menembus batuan shale, ketika mencari cebakan migas. Tidak diragukan adanya bahan bakar fossil yang terjebak dalam batuan shale tersebut. Sumur-sumur dalam Mitchell dapat mencapai cebakan gas tersebut, namun para insinyurnya tak cukup mempunyai peralatan atau keahlian untuk dapat memproduksinya.

Tahun 1982, Mitchel Energy melakukan pemboran di sumur CW Slay#1 dengan sasaran cebakan gas yang terperangkap dalam formasi batuan shale Barnett, yang tebal dan meluas (5000 mill persegi) dari Dalas ke arah barat dan selatan. Meskipun Mitchell pernah melakukan fracking sebelumnya, namun baru saat itu dilakukan terhadap batuan shale. Cukup sukses, namun kurang memuaskan dan masih mahal. Menjanjikan.

Hingga 1990an, Mitchell (berusia 80 tahun) mencoba melakukan fracking beberapa sumur setiap tahunnya dengan sasaran Barnett shale menggunakan laruran gelatin pada awalnya, lalu diganti dengan air berlimpah dan bertekanan tinggi. Ini adalah awal mula revolusi produksi shale gas.

Berbagai jenis fluida telah dicoba, seperti campuran minyak mentah dengan air yang membentuk emulsi gel yang disebut ‘Super K-Frac’, atau 1,5 juta kubik feet nitrogen, atau air dengan buih CO2, dll. Lalu ukuran rekahanpun juga dicoba berbeda-beda. Namun tetap belum memuaskan walaupun 14 pemboran telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan campuran pasir dan air dalam jumlah yang sangat besar, 4-5 kali dari jumlah sebelumnya. Namun justru pasir menutup lubang perforasi, “screen out”.

Kisah sukses Mitchell, akhirnya ditentukan oleh Steinsberger sebagai ahli perminyakan pada tahun 1998, yang mendapat kesempatan melakukan 4 pemboran shale dengan berbagai cara fracking. Pada bor ke 5 di sumur SH Griffin #4, gas berhasil diproduksi dalam jumlah besar, 1,3 juta cubic feet per hari. Fluida yang digunakan adalah campuran 2 truk pasir, air 20 truk tangki, lebih dari 12 truk pompa bertenaga maksimal untuk mendorong fluida ke dalam batuan dan beberapa truk bahan kimia, termasuk di dalamnya adalah bahan pelicin sehingga air tidak memggerus pipa, juga biosid untuk membunuh organisme pengganggu fluida yang mungkin ada dalam perjalannya sejauh lebih dari 2 mile dari permukaan tanah hingga ujung lubang bor.

Setelah semua preparasi lengkap dan siap untuk melakukan fracking, maka lebih dari 1 juta gallon air disemburkan ke dalam lubang bor dengan tekanan tinggi. Rekahan mulai terbentuk dan air terus berusaha membobol setiap sekat pori batuan shale, tekanan turun dan kembali naik lagi. Setelah 1 jam, pasir mulai dimasukkan kedalam campuran fluida dan 5 jam kemudian tekanan akan naik dan turun lagi seiring masuknya fluida ke dalam rekahan batuan. Gas dalam sumur akan tertekan oleh kolom air setinggi 8.000 feet. Beberapa hari kemudian monitor komputer dalam kabin van menunjukkan tekanan terus turun seiring dengan keluarnya air yang dialirkan ke dalam banyak tangki. Air keluar mulai menunjukkan gelembung-gelembung gas. Akhirnya, 5 hari lewat dan setelah hampir semua air telah dikeluarkan, gas mulai mengalir keluar. Sumur telah terhubung dengan pipa dan dilakukan pengukuran. Sukses besar.

Gas dari hasil Fracking menggunakan gel pada umumnya akan mati setelah 1-2 minggu. Namun dengan metoda di atas ternyata mampu terus mengalirkan gas. Gel memang dapat membantu merekahkan batuan shale tapi justru menyebabkan tersumbatnya rekahan hingga mencegah mengalirnya molekul gas keluar dari pori-pori batuan pada akhirnya. Bila sebuah sumur mampu mengalirkan gas sebesar 70 juta – 80 juta cubic feet pada 90 hari pertama, maka sumur tersebut masuk dalam kategori sumur ‘A’. Sumur SH Griffin #4 di atas, menghasilkan 1,3 juta cubic feet di hari pertama dalam periode 90 jari pertamanya. Dan masih mengeluarkan gas hingga 14 tahun kemudian (saat buku ini ditulis), total 2,3 milyar cubic feet. Ini kesuksesan ahli perminyakan Michell Energy, Nick Steinsberger.

Sejak kesuksesan sumur SH Griffin, lebih dari 100.000 sumur dilakukan fracking di AS (halaman 122). Semuanya dilakukan dengan metoda yang sama dengan sumur SH Griffin. Saat ini bahkan tidak lagi menggunakan 1, 2 juta gallon air, melainkan 5 kali lebih banyak. Juga, berbeda dengan era Steinsberger, saat ini fracking tidak lagi dilakukan dengan hanya pemboran lurus vertikal, namun dilanjutkan dengan arah horizontal hingga lebih dari 2 mile menembus batuan sumber gas dan/atau minyak yang ketat.

Steinsberger telah membuktikan bahwa air bisa dipergunakan untuk membuat rekahan batuan shale, dan tidak hanya lebih murah daripada menggunakan gel, namun juga lebih baik.

Devon International

Krisis finansial telah menyeret harga minyak dunia merosot berakibat anjloknya harga saham Mitchell Energy dari $35 ke $10. Akhirnya, 14 Agustus 2001, Mitchell Energy dijual oleh pemiliknya, George Mitchell ke Devon Energy (Larry Nichols).

Devon mencoba pemboran horizontal menembus batuan shale dalam formasi Barnett yang berada di atas formasi Ellenberger, yang mengandung air asin (salty water). Sedikit berbeda dengan target fracking Mitchell Energy, walaupun formasi yang sama, yaitu Barnett shale, namun berada di atas lapisan batuan limestone. Sehingga kesalahan pemboran sedikit saja hingga menembus formasi Ellenberger, akan berakibat gagalnya proses fracking karena sumur akan dipenuhi dengan air asin. Namun bila Devon berhasil melakukannya di area ex Mitchell ini, maka akan menghasilkan gas 3 – 4 kali lipat besarnya.

Pada tahun 2002, masih sangat jarang dilakukan pemboran horizontal semacam ini. Hanya satu sumur horizontal dari empat belas sumur pemboran di AS dan Canada (saat ini sudah 1 dari 6 -10 sumur adalah horizontal).

Sumur pertama adalah Veale Ranch #1H. Menggunakan 1,2 juta gallon air dan menghasilkan gas tidak jauh beda dengan sumur vertical. Berikutnya Graham Shoop #6 menggunakan air dua kali lipat lebih banyak dari sumur Veale dan menghasilkan gas 7 kali lipat lebih banyak. Sukses besar.

Menurut Devon, telah dilakukan pemboran sebanyak 1.043 sumur di Barnett shale, namun masih cukup ruang untuk menambah 5.000 lagi pemboran.

Mitchell Energy, dengan ahli perminyakannya Nick Steinsberger, menemukan penggunaan bahan kimia sebagai campuran fluida untuk merekahkan batuan shale. Devon adalah yang pertama bersedia melakukan ratusan pemboran horizontal ke dalam batuan shale sehingga menghasilkan gas dalam jumlah yang sangat besar di sumur bornya. McLendon bersama Chesapeake memang bukanlah jawara dalam hal teknologi ekstraksi gas dan minyak dari batuan shale, namun sukses dalam hal pmbiayaan fracking melalui Wall Street untuk mendapatkan modal kerjanya.

Sejarah Singkat Geologi Amerika

Hampir semua benua di dunia ini selalu mempunyai pegunungan yang memanjang di tengahnya dengan dataran pantai yang luas di kedua sisinya, namun Amerika Utara berbeda. Enam puluh juta yang lalu, tabrakan lempeng tektonik telah membentuk Rocky Mountains di sebelah barat, dan Appalachian Mountains di timur, dan di antaranya adalah samudera dangkal yang disebut sebagai dataran laut mid-Cretaceous yang saat ini dikenal sebagai daerah Great Plains, Texas bahkan mencapai Pennsylvania.

Terbentuknya minyak dan gas

Zooplankton dan organisme laut kecil lainnya hidup di dalamnya, mendapatkan makanan dari sinar matahari dan nutrisi laut yang kaya. Ketika mati, biota laut tersebut akan mengendap di dasar laut. Di dalam lingkungan laut berjuta-juta lamanya, sisa-sisa kehidupan biota laut tersebut akan menumpuk sebagai lapisan tebal material organik. Akhirnya, beban endapan batuan sedimen yang tebal di atasnya akan menyebabkan peningkatan tekanan dan menghasilkan panas tinggi. Lapisan material organik secara perlahan akan terpanggang dan berubah menjadi gas dan minyak.

Batuan shale (serpih) banyak terbentuk di berbagai belahan dunia sebagai cebakan penghasil bahan bakar fossil, namun tidak semua shale mempunyai sifat atau sejarah pembentukan yang sama. Di China yang banyak sekali hutan dan sisa pepohonan sebagai bahan organik primer menyebabkan shale yang terbentuk akan diselingi batuan lanauan (silty). Di Amerika Utara kondisi geologinya memungkinkan terbentuknya lapisan shale yang luas sebagai batuan perangkap gas, sehingga menarik minat Chesapeake. Bisa dikatakan bahwa dari 100 lubang bor, akan ditemukan 99 cadangan gas yang terperangkap dalam batuan shale.

Di akhir perioda Cretaceous, air laut menyusut dan benua Amerika Utara mengering. Di bawah permukaan adalah lapisan sumber gas, batuan shale. Pada tahun 1980an para ahli perminyakan Mitchell Energy tertarik pada formasi batuan Barnett Shale di Texas. Pertengahan tahun 2012, sudah lebih dari 15.000 pemboran dengan target formasi Barnett Shale, hampir semuanya di daerah dekat Fort Worth.

Setelah berjuta-juta tahun batuan shale ini menerima tekanan dan temperatur tertentu, maka sisa-sisa organisme yang terperangkap di dalamnya akan berubah menjadi trilyunan kaki kubik gas alam. Chesapeake bermaksud mengekstraksi gas tersebut dan menjualnya untuk keperluan perumahan dan pembangkit listrik.

Proses fracking

Russell begitu fasih menceritakan kesibukan set up rig, yang dibawa oleh puluhan trailer. Mesin-mesin diletakkan rapi teratur sesuai proses penggunaannya, meskipun terlihat berdesak-desakan memenuhui ruang parkir. Trailer pembawa lebih dari satu juta gallon air, trailer ‘flat beds’ pembawa bahan kimia, juga trailer raksasa pembawa lebih dari 200 ton pasir termasuk juga truk pembawa berbagai pipa, pompa dan sambungan ban berjalan menuju ‘hopper’; terpasang teratur sesuai prosedur kerja.

Sebuah bola hitam yang berat berukuran diameter kurang dari 1 inch dimasukkan ke dalam lubang bor, meluncur menuju dasar lubang bersama larutan gel. Ketika mendekati dasar sumur, Bola kecil yang didorong oleh larutan bertekanan tersebut secara mekanis akan masuk ke dalam sekat dan membuka lubang-lubang kecil. Larutan air bertekan tinggi akan menembus dan mulai merekahkan batuan shale Bakken yang kaya akan minyak di dalamnya. Proses fracking ini umumnya dilakukan berurutan hingga 30 kali dalam 24 jam. Sumur akan dibuka dua hari kemudian dan air yang pertama-tama akan keluar, baru kemudian minyak bercampur air akan menyusul.

Yang terpenting dari proses fracking adalah jutaan gallon larutan yang dipompakan menggunakan kompressor ke dalam lubang bor dengan tekanan hingga 7000 – 8000 psi. Hampir semua komposisinya adalah air, seperti gelatine (gel). Air diubah menjadi larutan yang kental sehingga mampu membawa pasir masuk ke dalam rekahan-rekahan baru. Dengan kondisi bawah tanah yang bertemperatur tinggi, gelatine akan mencair dan mengendapkan pasir di dalam rongga rekahan dan berfungsi seperti ‘penyangga’ dalam terowongan sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam pipa dan naik kepermukaan tanah. Air akan keluar dari batuan shale dan kembali ke permukaan.

guar beansPada awalnya, tumbuhan kacang-kacangan ‘guar’, yang berasal dari India, digunakan sebagai bahan untuk membuat gel atau larutan kental untuk keperluan fracking. Lalu, Halliburton mulai membuat sintetis alternatif guar sehingga tidak terjadi kesulitan pasokan saat musim hujan di India. Komposisi larutan fracking terdiri dari 99,1% air dan guar, sisanya adalah bahan kimia yang beraroma menyengat manis sakarin. Bahan kimia tersebut termasuk di dalamnya adalah biosida, untuk membasmi mikroba sehingga tidak memakan gel itu sendiri. Juga, surfaktan untuk membuat larutan menjadi licin sehingga tidak menyebabkan gesekan yang tajam ketika dialirkan ke dasar sumur. Meskipun konsentrasi bahan kimia relatif kecil, namun mengingat jumlah larutan sangat banyak maka jumlah total bahan kimiapun menjadi besar juga. Pencampuran bahan-bahan pembentuk larutan fracking ini dilakukan di lokasi pemboran, sebelum dimasukkan kedalam sumur.

Bapak fracking dunia sebenarnya adalah Edward A.L. Roberts, yang datang di Titusville, Pensnsylvania 1860an dan wafat 1881. Dia orang terkaya saat itu karena mempunyai hak paten membuat peledakan untuk fracking batuan di dasar sumur bor. Saat itu memang tidqk diaebut sebagai fracking, namun intinya adalah sama yaitu merekahkan, meledakkan, melelehkan batuan cebakan minyak; sehingga tahun 1970an sangat familiar dikalangan para insinyur perminyakan bahwa bila terjadi kegagalan eksploitasi minyak maka langkah akhir adalah ‘frack it’.

Pada tahun 1866, hak paten Robert menyatakan bahwa dia bermaksud untuk merekahkan batuan berisi minyak di sekitar lubang bor, seperti membuat lapisan (seam) artifisial yang terhubung dengan lubang bor sehingga dapat mengalirkan minyak ke dalam lubang bor. Awal suksesnya dimulai di lubang bor berjarak setengah mile di sebelah utara dari lubang penemuan (discovery) Edwin L. Drake (1859), Oil Creek. Robert meletakkan bahan peledak di kedalaman 463 feet dan meledakkannya. Ledakan mengakibatkan minyak dan air menyembur dari mulut lubang bor hingga 39 feet ke udara dengan dentuman keras. Tak lama sesudahnya, minyak mengalir keluar dengan debit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melimpah.

Sukses Robert berlanjut di akhir 1866 ketika meledakkan di sekitar sumur Woodin. Ledakan pertama menghasilkan 20 barrel per hari (bph), dilanjutkan peledakan ulang kedua dan menghasilkan 80 bph. Dalam tiga tahun kemudian, ini merupakan cerita kesuksesan besar dalam meningkatkan produksi minyak dari ratusan sumur bor yang memperkaya para pemilik sumur dan belum pernah terjadi sebelumnya, kecuali oleh Roberts Torpedo.

Tahun 1948, Bob Fast dan Floyd Farris melakukan percobaan fracking menggunakan semen dan air bertekanan tinggi. Gagal, karena rekahan dalam batuan shale yang terbentuk segera menutup lagi ketika air kembali keluar. Ide menggunakan campuran pasir, minyak mentah dan sabun (aluminium soap) sebagai larutan fracking kemudian dicoba di lubang bor East Texas yang sebelumnya hanya menghasilkan kurang dari satu bph. Larutan dipompa ke dalam sumur bor dan didiamkan selama 48 jam. Sabun akan mengangkat minyak yang menempel pada pori-pori butir batuan dan terus mengalir keluar sumur sebesar 50 bph. Sukses, dan formula fracking ini dipatenkan Farris pada tahun 1948, untuk meningkatkan produksi migas dengan cara mengalirkan larutan bertekanan tinggi (3400 psi) tersebut melalui lubang bor horizontal ke dalam formasi cebakan minyak. Lisensi eksklusif dikeluarkan untuk HOWCO, Halliburton Oil Well Cementing Company. Tahun 1955, sudah lebih dari 100.000 sumur bor dilakukan fracking.

Tahun 1956, penelitian supaya fracking lebih ekonomis, menemukan formula larutan baru, yaitu mengganti minyak mentah sebagai salah satu komponen dengan air dalam jumlah yang lebih besar. Dengan pengungalangan proses fracking lebih sering dan tekanan yang besar akan membentuk rekahan lebih banyak. Belum lagi perkembangan teknologi pompa dengan daya (horsepower) yang semakin besar, akan semakin meningkatkan efisiensi fracking.

Pemboran shale gas/oil dilakukan lurus ke dalam batuan (-90°) hingga lebih dari 3000 feet, kemudian berbelok sejajar permukaan tanah menembus batuan sumber migas, shale, hingga lebih dari 2000 mile. Cebakan minyak ‘conventional’, batuan pasir (sandstone), mempunyai porositas tinggi yang berisi minyak dan permeabilitas tinggi yang memungkinkan mengalirnya minyak melalui rongga antar butir batuan; dan berperilaku seperti balon. Bila batuan pasir ini ditembus oleh mata bor maka akan mengalirlah minyak, yang bertekanan tinggi di dalamnya, menuju lubang bor. Shale (serpih) termasuk kategori cebakan migas ‘unconventional’ bersifat padat (solid) dengan permeabilitas rendah, artinya rongga antar butir batuan tidak saling terhubung sehingga sulit untuk mengalirkan minyak, walaupun telah tertembus mata bor. Dengan demikian, supaya fluida dalam batuan shale bisa mengalir, diperlukan ‘jalan’ dengan cara membuat banyak rekahan. Fracking. Luas total permukaan rekahan dalam batuan shale akibat fracking ini bisa mencapai 100 juta feet persegi atau sekitar 30 gedung ousat perbelanjaan.

Analogi terbukanya pintu pesawat terbang di ketinggian 30.000 feet maka semua yang ada dalam kabin akan tersedot keluar pesawat karena perbedaan tekanan. Demikian juga perbedaan tekanan antara rongga dalam batuan dan rekahan, akan menyebabkan minyak atau gas yang ada dalam rongga antar batuan shale akan mengalir cepat keluar menuju rekahan-rekahan baru yang bisa berjarak beberapa feet. Ada kemungkinan setelah beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, sumur yang telah membuat rekahan ini akan tetap bisa mengalirkan minyak atau gas walaupun semakin berkurang, karena semakin jauh jarak pergerakan fluida dari tempat asalnya menuju sumur bor.

Sebuah lubang bor hanya mampu menyedot gas dan minyak dari tempat asalnya yang berjarak beberapa ratus feet saja, sehingga perlu ditambahkan pemboran lebih banyak disekitarnya untuk menambah luas permukaan rekahan dan luas jangkauan area fracking. Penelitian masih terus dilakukan oleh para ahli perminyakan untuk dapat melakukan lebih banyak rekahan dan berjarak lebih jauh dari fracking yang dilakukan sebuah lubang bor.

Isu Lingkungan

Seperti pada umumnya penggunaan ‘fossil fuel’ maka shale oil pun tak lepas dari kritik Perubahan Iklim, namun yang lebih khusus berhubungan dengan teknologi fracking adalah ancaman tercemarnya aquifer air, bocornya gas alam, gangguan bentang alam, polusi suara, polusi udara, terusirnya penduduk asli, banyaknya masyarakat pendatang dan ‘ghost town’.

Dalam beberapa bab di bagian akhir bukunya, khususnya yang berjudul ‘Celestia’, Russel banyak bercerita tentang berbagai keluhan warga Sullivan County, tentang keberadaan Chesapeake sebagai perusahaan migas yang banyak mengganggu penduduk dengan gencarnya penawaran sewa lahan untuk keperluan fracking. Kesan yang diperoleh Russel dari kunjungannya ke Sullivan County adlah bahwa semakin lama penduduk tinggal di sana, ada kecenderungan untuk semakin mudah menyewakan tanahnya untuk keperluan pemboran gas. Namun, kecenderungan ini sekarang berubah, bahkan terkesan seperti adanya penyesalan bahwa telah menyewakan tanahnya, termasuk orangtua Russel sendiri yang tinggal di sana. Perubahan kota kecil itu begitu cepat dan mengkhawatirkan penduduknya, khususnya jumlah pendatang yang begitu besar dalam waktu yang relatif pendek dirasakan akan dapat menguasai dan mengubah budaya dan kenyamanan komunitas penduduk asli, atau terasing di tanah sendiri.

Sullivan County adalah kota terkecil kedua di Pennsylvania, yang berpenduduk 6.100 keluarga. Berada di tengah pegunungan Endless Mountains, sebagai bagian pegunungan Appalachian. Rusa banyak berkeliaran dan beruang masih mudah dijumpai. Banyak pepohonan (jutaan pohon cherry, maple, ash dan oak) yang ditebang untuk keperluan ekspor sebagai bahan untuk lantai, furnitur dll. Industri kayu lokal menganggap ini sebagai hutan berkelanjutan, bukan untuk ditebang habis. Namun dengan adanya ‘ledakan’ bisnis shale gas, hutan harus banyak ditebang dan habitat rusa dan beruang yerpaksa harus berpindah tempat.

Perselisihan antara penduduk dengan perusahaan pemboran gas dimulai sejak usaha transaksi sewa lahan, karena dalam perundangan AS, siapapun pemilik lahan permukaan tanah adalah juga pemilik ‘mineral right’ yang ada di dalam bumi. Kekayaan cadangan gas di dalam tanah (Barnett shale atau Marcellus shale) menyebabkan para pengusaha pemboran gas akan berusaha keras untuk bisa mendapatkan sewa lahan di atas cebakan atau sumber gas berada. Harga yang ditawarkan bisa bergerak cepat dari $25 per acre menjadi $85 per acre dalam 6 bulan. Pada akhirnya, sering kali pemilik lahan ‘harus’ menyerah karena berbagai alasan, misalnya: tidak cukup punya dana untuk membayar pengacara, keputusan penduduk yang terpecah-belah karena penawaran harga yang dianggap cukup menarik oleh beberapa pihak, pemerintah daerah yang lebih mendukung investor, polusi suara rig, gangguan alat berat dan truk yang mondar-mandir di sekitar rumah, dll.

Alasan pemerintah federal mendukung investor untuk memproduksi shale gas, pada umumnya adalah: kota yang lebih ‘hidup’ karena multi-efek peningkatan ekonomi daerah, kemandirian energi, gas akan menggantikan batubara karena lebih ramah lingkungan dan peningkatan lapangan kerja. Keuntungan lain bagi penduduk yang menyewakan tanahnya pada tahun 2008 dan 2009 untuk fracking adalah, pemilik tanah akan menerima beberapa ribu dollar per acre, ditambah royalti hingga 25% dari gas yang diproduksi di bawah lahannya.

Semua ‘keuntungan’ itu menjadi nihil bila terjadi kebocoran gas hingga masuk ke dalam aquifer, yang airnya sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari. Kebocoran gas tersebut bisa terjadi bila proses sementasi rongga antara casing dengan batuan sekitar tidak sempurna, hingga masih menyisakan ruang yang bisa ditembus oleh gas dari sumbernya (rekahan hasil fracking).

Kritik

Russel Gold sebagai journalis (bukan ahli perminyakan) cukup berimbang dalam mengemukakan fakta dan opininya. Kelebihan dan kekurangan fracking dari sisi lingkungan, disampaikan secara proporsional dan berimbang dengan dukungan bukti dari masing-masing pihak, pendukung maupun pembencinya. Ini sangat berbeda dengan buku ‘This Changes Everything’ karya Naomi Klein, yang banyak bias ketika menjelaskan tentang fracking karena tujuan bukunya lebih berkepentingan dengan propaganda anti bahan bakar fossil.

Dari sisi penyajian, The Boom cukup memberikan pengetahuan tentang teknik fracking secara rinci bagi pembaca yang awam tentang teknik perminyakan, juga penjelasan resiko sosial dan lingkungan yang cukup tinggi bila tidak dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang sangat teliti dan hati-hati. Mengingat The Boom lebih diperuntukkan untuk menjelaskan tentang teknik fracking, maka sepertinya sejarah geologi dan terbentuknya minyak dan gas bumi kurang mendapat perhatian lebih rinci.

Sangat direkomendasikan bagi siapapun yang tertarik dengan dunia industri migas.

Buku

Judul Buku: The Boom

Penulis: Russell Gold

Tebal buku: 366 halaman

Penerbit: Simon & Schuster

Tahun: 2014

lesuEffects of a Lack of Ethics on a Business Environment

Ini tautan artikel yang bagus untuk mengingatkan bahwa Etika dalam hal apapun tetap penting jadi pijakan beraktifitas.

Praktek bisnis  yang tidak mengikuti aturan2 dan kewajiban2 yang sudah menjadi ketentuan hukum positif pemerintah atau kelaziman bisnis yang berEtika, bisa berakibat tidak langgengnya bisnis itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh selain pelanggaran etika akan berhadapan dengan sangsi formal, didalam bisnis juga akan berakibat pada runtuhnya reputasi atau trust, baik secara eksternal maupun internal perusahaan.

Perilaku bisnis yang tidak berEtika ini secara eksternal akan menjatuhkan kredibilitas perusahaan, yang berakibat lanjut pada kekhawatiran rekanan bisnis terhadap kemungkinan akan terseret dalam kasus hukum atau dirugikan secara ekonomi; dan secara internal, akan terjadi hilangnya rasa hormat (respect) dari karyawan terhadap atasan (eksekutif) dan berakibat lanjut pada turunnya ethos kerja karyawan karena ketidak-hadiran panutan beretika dari pimpinannya.

Akan butuh waktu dan biaya besar untuk mengembalikan kepercayaan publik dan karyawan terhadap perbaikan kualitas etika bisnis perusahaan. Maka, sudah seharusnya hanya resiko keekonomianlah yang perlu menjadi tantangan dalam berbisnis, karena Etika dan hukum adalah bagian dari profesionalitas dan kepedulian sosial perusahaan, serta landasan yang tidak untuk ditawar, apalagi ditinggalkan, namun untuk dijalankan.

Tautan lain:
27 Alasan Psikologis Mengapa Orang Baik Melakukan Hal Tercela

Anti KORUPSI

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.066 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: