Feeds:
Pos
Komentar

Lebaran 2014

Tanggal 24 Jul 2014 GA… membawa kami berempat, mas adi dg bapak/ibunya dan mbak Dilla, menuju Surabaya tepat jam 6:30 dan satu jam kemudian mendarat di Juanda, Surabaya. Menggunakan toyota Inova yang dikemudikan pak Ivan, kami melanjutkan perjalanan menuju Kediri. Mampir sebentar di Depot Anda untuk membeli rawon dan pepes udang bakal buka puasa bersama nanti di rumah Putri. Kurang-lebih jam 11:30 mobil masuk ke carport rumah Putri di Kediri. Alhamdulillah.

Usai Sungkeman

Usai Sungkeman

Om Putut sudah ada di Kediri, juga De Bet sekeluarga. Petang harinya, De Wow sekeluarga sampai juga di rumah Putri. Menjelang sahur 27 Juli 1:00 om Peter datang dari Munchen, terlihat lelah.

Tepat hari lebaran pertama 28 Juli 2014 jam 6 pagi, lontong capgomeh dan telor petis sudah terhidang dalam panci besar di atas meja makan, siap disantap, namun masih perlu sedikit bersabar karena harus berangkat menuju masjid Budaya Cipta untuk sholat Ied lebih dahulu. Masjid masih cukup lengang dan kami siap sholat di barisan terdepan. Pulang sholat, kami berkerumun di pinggir meja makan, antri bergilir mengupas lontong dan mengambil sayur rebung pedas, opor ayam, sambal goreng kerecek dan telor petis … hueennaakk tenan. Selalu ditunggu dihari lebaran.

Berangkat 30 Juli 2014 tepat jam 6 pagi, menggunakan bus yang bersih nyaman dan sejuk, PO. Setiawan, menuju stasiun kereta api Nganjuk. Didahului mobil polisi patwal dengan sirine yang seringkali menjerit menarik perhatian supaya diberi jalan nguing nguing …, bus meliuk-liuk bergerak lancar di jalan 2 jalur yang ramai kendaraan. Maklum, lebaran. Tak sampai 1 jam, bus masuk pelataran parkir stasiun Nganjuk. Sepi, loket masih tutup. De Gen njumblak di depan papan jadwal kereta api: “Loh, kok Wilis gak mandeg?”.. Semburat ngadeg De Ren lari ke kantor kepala stasiun untuk konfirmasi kedatangan Argo Wilis. Betul, KA. Argo Wilis memang tidak berhenti di setasiun Nganjuk. Penumpang dari Kediri harus naik dari Jombang atau Madiun. Mobil patwal kembali dihubungi De Ren supaya kembali ke stasiun untuk mengawal bus menuju Madiun. Kembali kami masuk ke dalam bus menuju Madiun. Ngok … bus merambat dalam kota Nganjuk karena lalulintas

Bus ke Yogya

Bus ke Yogya

padat menuju Madiun. Patwal mngambil inisiatif mencari ‘jalan tikus’ masuk ke perkampungan berharap sukses menembus kemacetan. Sayàng, jalan terlalu kecil untuk dilalui bus sehingga perjalanan menjadi lambat, bahkan sempat menyenggol pagar jembatan dan ranting pohon membuat gaduh menampar atap bus.

Jam 8:30 bus masih berada dalam perkampungan dan belum juga dapat keluar kota Nganjuk. Mengingat jarak ke Madiun yg masih cukup jauh dan waktu yang dirasa tidak cukup untuk mengejar Argo Wilis, yang diperkirakan akan sampai Madiun 9:15, De Gen berusaha lobi pemilik bus via telepon untuk dapat kita pergunakan terus hingga Yogya. Dealed, penumpang merasa lega dan siap istirahat dalam bus menuju Yogya.

Mobil Patwal hanya bisa mengawal hingga Madiun karena untuk wilayah Jawa Tengah harus menggunakan Patwal setempat. Patwal Jawa Tengah bergerak dan

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

mbak Laras, mbak Dhila dan mbak Sita

membukakan jalan bus mulai dari Sragen menuju Yogya.Setelah 12,5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di hotel Tentrem Yogya pada jam 18:30. Bus yang bagus, nyaman dan suasana riang membuat lelah tak terasa … eh terasa juga sih, tapi senang .. semakin riang karena guyuran amplop utk kita semua dari pakde Anung. Alhamdulillah.

Setelah beberapa tahun seĺalu lebaran di hotel Shantika, sekarang ini untuk pertamakalinya kami tinggal di hotel Tentrem. Kamar Putri 809 adalah suite room dengan dua kamar besar yang nyaman di dalamnya dan menjadi tempat jagongan keluarga besar. Santaiii. Sayang sekali mas Dhito tidak bisa ikut bergabung karena sedang KKN di Lombok. Tamu baru yang turut bergabung dilebaran kali ini adalah Dipi, yang cempluk menggemaskan. Malam itu Dipi ditemani bapaknya namun tidur dengan mbak Dhila. Tidak banyak bicara dan cenderung diam tapi suka bergaya di di depan kamera.

De Ren dan TA

De Ren dan TA

Hari kedua, kami semua menuju peristirahatan Kakung untuk nyekar sebagai acara utama kunjungan ke Yogya. Nisan penuh melati dan mawar kami taburkan, setelah unjuk doa kepada Allah kami mohonkan, untuk kebahagian Kakung di sorga keabadian.

Tidak ada acara khusus yang menarik untuk diceritakan pada lebaran di Yogya kali ini. Acara jalan2 di Ambarukmo Plaza dan makan bakso Bethesda cukup jadi penyembuh kangen kuliner Yogya, selain bubur gudheg komplit dari bude Hani saat sarapan. Bakso Bethesda yang ada di dua tempat (sebelah barat RS. Bethesda dan Plaza Ambarukmo) ini, gak pernah terlewatkan kalau sedang di Yogya. Sangat-sangat perlu dicoba. Huenaakk dan Halal .. sertifikat dari MUI dan Dep. Perdagangan terpasang di gerobak dagangannya.

Setelah menginap dua malam, 1 Agustus 2014 selepas magrib, kami semua menuju stasiun Yogya untuk pulang Kediri menggunakan KA Malioboro tujuan Malang pada jam 20:00. Tidak termasuk pakde Anung sklg yg sudah pulang Jakarta siang itu, om Putut/om Peter yg sudah terbang menuju Labuan Bajo pagi itu juga dan bude Reni sekeluarga yg masih menginap di hotel menemani mbak Sita yg akan kembali ke Melbourne dua hari lagi.

Belum sampai jam 1 pagi, kereta sampai di Kediri dan selesailah perjalanan nyekar Kakung di Yogya pada masa lebaran tahun ini. Alhamdulillah. Semoga kita bisa kumpul lagi bersama Putri dalam keadaan semua sehat, sejahtera dan bahagia dengan peserta yg lebih lengkap di lebaran 2015. Amin

Video Lebaran:

JOKOWI - JKPenulis: Firdaus Ali*) Jumat 14 03 14 @ 14:45 PDIP secara resmi mengumumkan Jokowi untuk Calon Presiden RI dari PDIP yang diikuti oleh masyarakat dengan penuh harap. Penantian panjang yang sarat polemik serta dipenuhi dikotomi pro dan kontra majunya Jokowi sebagai Capres RI terbalas. Pengumuman tersebut pasti disambut dengan syukur dan suka‐cita pihak yang penuh harap bahwa perubahan kedepan akan lebih pasti jika dipimpin oleh seorang Jokowi. Di pihak lawan, tentunya menimbulkan kecewa amat sangat, karena seorang Jokowi tentunya menjadi saingan yang berat sesuai hasil dari berbegai survei.

 

Di wilayah bagian selatan Ibukota pengumuman pencalonan Jokowi dilakukan oleh DPP PDIP dilakukan dengan sangat sederhana seakan tanpa persiapan gempita sebagaimana lazimnya kandidat dari partai lain ketika mengumumkan balon presiden mereka. Terpaut jarak nun di utara Ibukota, tepatnya di Rumah Si Pitung di Kampung Marunda yang merupakan representatif dari daerah kumis (kumuh dan miskin) Jakarta, Jokowi dengan cara sangat sederhana dan bersahaja menyampaikan kepada publik tentang amanah yang baru saja dia terima dari Megawati Soekarnoputri. Dengan mengucapkan Bissmillahirohmanirrohim kemudian Jokowi mencium bendera Merah‐Putih dengan hikmat. Selanjutnya Jokowi lugas melangkah meneruskan rutinitas “blusukan” Jumat tersebut.

 

Sebagai negara demokrasi yang sedang terus berjuang untuk maju dengan menjunjung martabat dan keadilan, tentunya berbeda pandang dan pendapat adalah suatu hal yang wajar. Dari anugerah perbedaan plurarisme tersebut bangsa ini bisa menjadi bangsa yang hebat. Hari Minggu, 16 Maret 2014 kemaren adalah hari pertama kampanye untuk Pileg 9 April 2014. Lazimnya kesempatan pesta demokrasi 5‐tahunan ini diisi dengan saling puji atau hujat demi untuk meyakinkan calon pemilih agar memilih partainya. Namun, saling hujat dan berbagai bentuk kampanye negatif lainnya bukanlah cara yang baik untuk dapat memenangkan hati masyarakat pemilih, kiranya pemilih sekrang sudah cukup pintar untuk dapat menilai. Akankah dari suatu perbuatan yang dipenuhi emosi negatif yang dibungkus untuk tujuan mulia suatu “perubahan” akan mendapat restu sang Pencipta untuk mencapainya?

 

Pemilu Legislatif dan Presiden kali ini akan sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sosok fenomenal Jokowi akan menjadi fokus baik bagi banyak pihak Catatan perjalanannya (track‐record) yang sarat dengan pencapaian peningkatan kapasitas diri mulai dari bawah, yaitu dari seorang pedagang meubel yang menjadi walikota berprestasi di Solo melangkah menjadi Gubenur di wilayah sentral Indonesia yaitu DKI Jakarta. Jokowi memang baru 17 bulan memimpin ibukota dengan segala kompleksitas masalahnya, namun dia sudah memperlihatkan kinerjanya untuk rakyat, berproses dengan nyata menuju suatu perubahan. Namun, tentunya lumrah pula jika semua lawan politiknya kini kemudian mencoba menyerang Jokowi melalui berbagai media komunikasi yang ada dengan mengatakan dia gagal ini dan itu serta tidak punya pengalaman dan lain sebagainya. Termasuk menghujat bahwa Jokowi ingkar janji.   Waduk Pluit

 

Sesungguhnya mengatakan bahwa Jokowi tidak bertanggungjawab dan ingkar‐janji karena meninggalkan Jakarta dengan kompleksitas masalah perkotaannya, adalah kesalah‐ pahaman yang besar. Jokowi tidak akan penah meninggalkan Ibukota seandainya nanti terpilih menjadi Presiden NKRI. Jika Jokowi menjadi Presiden bahkan akan semakin memperkuat komitmennya untuk Ibukota, karena Jokowi sudah mengalami dan paham akan pentingnya peran dan komitmen Pemerintah Pusat untuk pembenahan Ibukota ini. Salah satu kunci utama membenahi ibukota ini dengan lebih cepat dan terintegrasi adalah sangat dibutuhkan adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah Pusat (yang dikomandoi oleh Presiden), tidak hanya komitmen anggaran tetapi yang lebih penting adalah otoritas koordinasi untuk kerja yang lebih terarah dan terintegrasi. Permasalahan kota Metropolitan Jakarta terkait erat dengan kota‐kota atau daerah penyangga disekitarnya. Diperlukan koordinasi lintas Propinsi dan Kota/kabupaten sehingga pembenahan ibukota dan wilayah sekitarnya dapat sinergi, harmoni dan konsisten. Untuk itu dibutuhkan bantuan dan komitmen serius dari Pemerintah Pusat.

 

Dalam sejarah penataan ibukota suatu negara, peran dan tanggungjawab Pemerintah Pusat sangat menentukan karena Capital City adalah simbol kehormatan (dignity) suatu bangsa. Masalah‐masalah perkotaan di DKI tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh siapapun gubernurnya jika tidak ada pemahaman yang utuh oleh yang memimpin negara ini tentang akar permasalahannya. Sebagai orang yang pernah menjadi Gubernur Jakarta, dengan posisinya sebagai Presiden kelak, Jokowi justru akan mempunyai keleluasan dalam otoritas koordinasinya. Jokowi justru dapat membantu Gubernur penerusnya untuk dengan cepat dan terarah menangani masalah ibukota, baik berupa kemacetan, banjir, krisis air, dan penataan ruang yang terus memperburuk daya tampung dan daya dukung lingkungan ibukota ini. Kiranya, tanpa campur tangan Pemerintah Pusat dan sikap konsisten dari Presidennya, ibukota sulit dan lambat dibebaskan dari masalah perkotaan yang terus membelitnya karena sebagian besar kewenangan lintas wilayah ada di Pemerintah Pusat.   Kampung Deret

Oleh karena itu, jika ada yang menuduh bahwa Jokowi tidak pantas maju sebagai Capres karena beliau belum berbuat dan bahkan gagal membenahi kemacetan dan banjir di ibukota, itu adalah bentuk rasa frustrasi dan bahkan mungkin saja keberpihakan kepada existing sistem yang korup yang dalam 17 bulan terakhir ini dirubah oleh Jokowi bersamaAhok. Bagaimana kemacetan Ibu Kota dapat diselesaikan oleh seorang Gubernur DKI Jakarta sepihak jika kendali pengadaan kendaraan bermotor dipegang oleh pusat sedangkan upaya membangun sistem transportasi cepat masal terlambat diwujudkan Pusat. Penyelesaian masalah banjir tidak akan mencapai proses kemajuan seperti kini, jika tanpa upaya gerak cepat yang dilakukan oleh Jokowi secara teknis sementara pengelolaan kawasan hulu tidak ada dalam kendali koordinasinya. Sehingga upaya teknis penanganan banjir ibukota hanya sebatas mencoba menghilangkan titik genangan dalam kota dan memastikan pengerukan kali dan situ‐situ dipercepat. Karena memang itulah sebatas kewenangan yang sesungguhnya dimiliki oleh Pemprov DKI.

 

Dari 13 sungai atau kali yang selalu mengancam ibukota, hanya 4 kali yang kewenangan pengelolaannya ada di Pemprov DKI. Bahkan kewenangan pengelolaan waduk dan situ ada di Kementerian Pekerjaan Umum. Apa kurangnya seorang Jokowi yang ingin mengimplementasikan infrastruktur multi fungsi untuk tujuan pengendalian banjir, genangan, dan air baku untuk ibukota serta sekaligus untuk penanganan kemacetan secepat mungkin dengan TIDAK meminta alokasi dana APBN dan APBD sama sekali? Dalam hal ini justru Pemerintah Pusat yang menghambat dengan berbagai alasan sehingga Jokowi belum bisa segera mewujudkan Terowongan Multi Fungsi (TMF) Jakarta atau dikenal dengan Multi‐ purpose Deep Tunnel (MPDT). Kita masih beruntung pada musim hujan ini tidak mengalamibencana banjir yang parah padahal hampir sebagian besar belahan bumi di utara katulistiwa mengalami bencana banjir paling buruk dalam 60‐80 tahun terakhir ini, seperti yang dialami UK, Perancis Selatan, Italia, Jerman, AS, China, Kanada, dan bahkan Brazil sekalipun.

 

Selama ini, hampir seluruh gubernur yang memimpin ibukota ini yang telah mencoba menangani ibukota hanya dengan kewenang (power) dari selatan (baca: Balaikota di Medan Merdeka Selatan) selalu gagal dan larut dalam buruknya birokrasi. Padahal Jakarta sudah dikukuhkan sebagai ibukota NKRI melalui Undang No. 29 tahun 2007 yang sampai hari ini belum ada satupun PP aturan peraturan turunannya yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Melalui Pemilu 2014 khususnya PiIpres 2014 inilah kesempatan untuk merubah cara penanganan ibukota yaitu dengan kewenangan yang didorong penuh dari utara (baca: Istana Presiden di Medan Merdeka Utara). Ketika kemaren Jokowi mendeklarasikan pencapres‐annya kawasan kumis ibukota, itu adalah simbol semangat Jokowi akan menata Indonesia dari daerah termarjinalkan dan termiskin demi Indonesia Baru yang lebih baik dan bermartabat.

 

Jika ada yang mempertanyakan kematangan dan pengalaman Jokowi untuk bisa memimpin bangsa ini, itu adalah sangat wajar sekali. Rakyat Amerika Serikat pada tahun 2009 juga punya ketakutan dan kekuatiran yang dalam ketika Obama yang berpenampilan tidak menarik dan terutama berasal dari keturunan ras Afro‐American (bahkan pernah dididik di negara ketiga yang bernama Indonesia) maju mencalonkan diri menjadi Presiden ke‐44 negara adi daya tersebut. Namun toh takdir membuktikan walaupun dalam situasi kondisi sosial AS yang masih dipenuhi bayang‐bayang diskriminasi terhadap kulit hitam dan dalam kondisi ekonomi AS yang tengah terpuruk oleh ulah kebijakan pendahulunya Bush Jr., Obama justru mendapat percayaan rakyat dan bangsa AS untuk memimpin negara tersebut, bahkan untuk periode ke‐dua kalinya.

 

Dari belahan bumi yang lain, adalah Lee Myung‐bak Presiden Korea Selatan yang telah dicatat sejarah membawa perubahan dan kemajuan signifikan bagi Korsel. Dia adalah bekas Walikota Seoul yang berhasil menata kembali Sungai Cheonggyecheon menjadi surga yang membentang di tengah kota Seoul. Diapun terkenal kerap melakukan “blusukan” setidaknya 2 kali seminggu. Sementara itu, Ma Ying‐jeou adalah bekas walikota Taipe (1998‐ 2006) yang sukses menata kemacetan dan krisis air di Taipe dan kemudian terpilih menjadi Presiden Taiwan pada 2008 dan terpilih kembali menjadi Presiden untuk kedua kalinya pada tahun 2012. Dia terkenal sebagai pemimpin kota Taipe yang sederhana dan mempercepat penanganan masalah kota Taipe dalam posisinya sebagai Presiden Taiwan.

 

Dalam rasionalitas inilah, apapun yang akan terjadi pada Pilpres 9 Juli 2014 nanti, Jokowi tidak akan meninggalkan Jakarta apalagi menelantarkan janji‐janjinya. Saat ini, beliau mendapat amanah bertarung untuk insyaAllah dapat hijrah dari Selatan ke Utara demi menjemput kapasitas (sumber daya) yang lebih, otoritas penuh, dan kewenangan yang lebih dari cukup untuk menuntaskan amanah yang lebih besar tidak hanya untuk membantu permasalahan di Ibukota NKRI saja tetapi juga untuk seluruh wilayah NKRI yang selama ini termarjinalkan oleh pemimpin pendahulunya.

 

*) Firdaus Ali, PhD.

  • Pengajar & Peneliti Teknik Lingkungan FTUI Pendiri dan
  • Pimpinan Indonesia Water Institute

 

Catatan:

Gambar-gambar di atas ditambahkan oleh admin blog, diperoleh dari media sosial Facebook.

PRESTASI JOKOWI

image

(copas dari broadcasted bbm. Silahkan dicermati)

Di Solo:

  • 900 PKL diajak negosiasi sambil makan biar pindah ke tempat yang disediakan dan berhasil
  • Membangun pasar tradisional Solo jadi bagus dan bergengsi
  • Bikin trotoar lebar 3 meter sepanjang 7km di jalan-jalan utama Surakarta
  • Revitalisasi taman Belakambang, Sriwedari dan bikin Solo Techno Park
  • Bikin regulasi ngga boleh nebang pohon sembarangan lagi di Solo
  • Rebranding kota Solo dengan tagline “The Spirit of Java” yang keren banget sampe di appraise internasional
  • Promosiin Solo jadi kota sentral di pulau Jawa
  • Mempopulerkan budaya inspeksi langsung ke lapangan atau blusukan di Solo
  • Ngelarang keluarga dan sodaranya bidding buat trayek kota Solo, biar ngga kolusi
  • Healthcare!
  • Transportasi publik di Solo kayak Railbus.
  • Menolak suap, as simple as that.
  • Ngga mau lagi ada mall di Solo, tapi pasar tradisional yang dibagusin.
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia

Spoiler foraward kota solo selama leadership Jokowi

  • Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009), untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan
  • Pengembangan Manajemen Pelayanan
  • Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009)
  • Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009)
  • Penghargaan Unicef untuk Program Perlindungan Anak (2006)
  • Indonesia Tourism Award 2009 dalam Kategori Indonesia Best Destination dariDepartemen Kebudayaan dan Pariwisata RIbekerjasama dengan majalah SWA.
  • Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI).
  • Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009)
  • 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha (2006-2011) – Penghargaan Tata Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Umum.
  • Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari DepKes (2009).
  • Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
  • Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik versi Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS SME’s Awards 2012.
  • Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
  • Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih.
  • Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).

Di Jakarta:

  • Ngelantik jadi gubernur ngga perlu gengsi, efisiensi biaya
  • Birokrasi protokoler diganti jadi blusukan-oriented
  • Membuka kantor balai kota untuk rakyat
  • Berani mecat pegawai-pegawai birokrat yang ribet kayak Anas Effendi
  • Mereformasi Satpol PP dan cara kerjanya
  • Digitalisasi layanan pemprov
  • KJS & KJP
  • Peremajaan bis-bis, dari kopaja sampe transjakarta
  • Berani copotin jabatan kepala sekolah ngawur
  • Lelang jabatan, biar yang mau dan berkompeten bersaing secara jujur
  • Relokasi pedagang dan penduduk bantaran tanpa konflik
  • Transparansi anggaran lewat website!
  • Revitalisasi taman-taman, danau, rusun sampe fasilitas publik.

Award pribadi

  • 10 Tokoh di Tahun 2008 oleh Majalah Tempo
  • He was awarded the Bintang Jasa Utama by President Susilo Bambang Yudhoyono
  • Juara 3 walikota terbaik di dunia
  • The Leading Global Thinkers 2013 Award dari majalah Foreign Policy
  • Walikota terbaik bulan februari 2013 dari The City Mayors Foundation dari London
  • Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award
  • Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
  • Charta Politica Award (2011)
  • Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011)
  • Jokowi was listed by Fortune (magazine) as one of the ‘The World’s 50 Greatest Leaders (2014).

Bersama Fadjroel Rachman (FR) dan Davy Sumolang (DS), kami bertiga mengunjungi Manado untuk agenda Diskusi Nasional yang diselanggarakan oleh Alumni Perguruan Tinggi dan Cendekiawan Sulut, serta pertemuan dengan Tim BaraJP Sulut.

Diskusi Nasional JKW-JK, Manado

Diskusi Nasional JKW-JK, Manado

Sebagai wakil dari Komunitas Alumni ITB, FR menjadi pembicara utama bersama panelis lain yang mempunyai keahlian diberbagai bidang, seperti Lingkungan, Pers, Politik, Pertanian dll. Berbekal konsep Nawacita pada lokakarya Visi-Misi JKW-JK, 23 Mei 2014 yang dihadiri JK (mewakili JKW), FR dengan sangat jelas dan fasih, mempresentasikan banyak hal yang berkaitan dengan alasan-alasan tentang perlunya untuk memenangkan JKW-JK sebagai RI1 dan RI2 sebagai kelanjutan dari cita-cita reformasi 1998, Trisakti. Berita harian Manado Post di bawah akan menjelaskan proses diskusi tersebut. DS, dalam closing statement nya, menyoroti perilaku pemerintah yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi UUD’45 tentang kewajibannya untuk melindungi segenap rakyatnya tanpa diskriminatif. Ajakan DS supaya menggunakan kesempatan pilpres 2014 untuk memilih JKW-JK disambut dengan teriakan bersemangat dari para hadirin “JKW-JK !!!”.

BaraJP Manado

BaraJP Manado

Selesai acara Diskusi Nasional, kami bertiga diundang oleh BaraJP Sulut (Jhon) untuk bersilaturahmi di Pasar Roda Manado, tempat masyarakat Manado bersantai minum kopi susu dengan makanan kecil pisang goreng dan nasi jaha. Para politikus Manado menjuluki tempat ini sebagai DPR-3, karena banyaknya pembicaraan politik di tempat ini dan banyaknya anggota DPR/DPRD yang ‘lahir’ dari tempat ini. Cukup mengharukan, melihat begitu antusiasnya mereka, yang terdiri dari mahasiswa, LSM, pedagang pasar dll., memberi dukungan untuk kemenangan JKW-JK sebagai RI1-RI2. Di lokasi yang panas, gaduh dan meja kursi sederhana ini, ide-ide program aksi pemenangan seringkali muncul dari tempat ini. Sangat militan.

Diskusi dengan pemrakasa Diskusi Nasional, Dr. Roy Mamengko, dr. Lili dan Dr. Fabian Manoppo kembali dilanjutkan di hotel Swiss-bel dan rumah makan pinggir pantai hingga larut malam.

Di bawah ini adalah hasil pemindaian koran Manado Post, 25 Mei 2014.

Jokowi-JK = Jokowi Jalan Kebenaran

Editor: Idham Malewa, Peliput: Didit Sjamsuri

Diskusi Nasional Manado

Diskusi Nasional Manado

DIALOG Nasional bertajuk ‘Indonesia Hebat’ yang digagas Alumni Perguruan Tinggi dan Cendekiawan Sulut sekaligus relawan Jokowi-Jusuf Kalla berlangsung dinamis. Beragam masalah kebangsaan terungkap di dialog yang digelar di Swiss bel-Hotel Maleosan Manado, Sabtu (24/5) siang. Dialog yang mengulas tantangan yang akan dihadapi Capres – Cawapres Jokowi-JK, lima tahun ke depan menampilkan pembicara Nasional dan Sulut.

Fadjroel Rachman SE MH, pegiat LSM nasional sekaligus simpatisan Jokowi-JK memaparkan Nawacita. Ia menyebut Nawacita menggambarkan visi misi duet yang diusung PDIP, PKB, NasDem dan Partai Hanura adalah cita-cita mahasiswa Trisakti pada reformasi 1998 lalu. Cita pertama kata Fadjrul menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh rakyat Indonesia. “Tanpa memandang ras, agama, dan warna kulitnya, dengan prinsip melindungi segenap bangsa,” papar Fadjrul yang mengenakan kemeja batik.

Yang kedua akan membuat pemerintah yang tidak absen, dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan berdaya saing. Tidak ada seorang pun dari 250 juta rakyat Indonesia yang akan ditinggalkan oleh Jokowi dan Jusuf Kalla,” ujarnya. Yang ketiga, kata aktivis yang konsisten dengan HAM dan demokrasi adalah membangun Indonesia dari pinggiran, sehingga memperkuat daerah-daerah dan desa di seluruh Indonesia. Tidak boleh ada desa yang tertinggal. Keempat, akan menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem, dan penegakan hukum yang bebas dari korupsi, bermartabat dan terpercaya.

Kelima, akan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Indonesia merupakan negara nomor 10 perekonomian terbesar di dunia, “Namun jika anda lihat ada 19 orang yang memiliki kekayaan Rp334 trilyun. APBN kita 1.865 triliun, jadi hanya ada 19 konglomerat yang menguasai sepertiga dari APBN. Makanya Jokowi berjanji akan meningkatkan dan memeratakan perekonomian tersebut,” jelasnya. Keenam, akan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Dalam lima tahun, Jokowi-JK akan menciptakan 15 juta lapangan kerja, “Jadi akan menciptakan tujuh setengah lebih besar lapangan kerja dari yang dijanjikan oleh lawan mereka”, terangnya.

Selain Fadjroel, moderator Dr Roy Mamengko mengenalkan para pembicara lokal, di antaranya Suhendro Boroma, akademisi Dr. Ir. Veronika Kumurur, Prof Ishak Pulukadang, Pdt Dr. Jhon Weol, Rektor UNPI Jan Drs Polii. Pdt Dr Jhon Weol yang hobi menulis ini mengawali dengan masalah diskriminasi agama yang terjadi di Bogor, Jawa Barat yang menimpa jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jasmin. “Saya sudah berkali-kali memohon kepada Presiden SBY untuk memperhatikan Gereja Kristen Indonesida (GKI) Jasmin. Saya pernah berkata kepada presiden, “Tolong perhatikan GM jasmin. Mereka adalah saudara-saudara saya di dalam nama Tuhan Yesus”, jelas Weol sambil memuji pasangan Jokowi-JK.

“Saya dan kita semua ingin majukan Indonesia tanpa diskriminasi, dan majukan Jokowi-JK yang memiliki cita-cita untuk menjadikan negeri ini menjadi lebih baik. Karena mereka berdualah jalan kebenaran yang akan membawa Indonesia ke arah yang Iebih baik,” tambahnya. Perkataan Weol mendapat apresiasi para peserta dan pembicara yang hadir. Seorang peserta dialog Taufiq Tumbelaka mempertanyakan etika politik para politikus saat ini. Menurutnya para elit politik dan anggota parlemen terlihat tidak bagitu serius dalam menanggapi sejumlah masalah di negeri ini. “Kehebatan dan UUD 1945 adalah bukan dari penyusunannya, tapi UUD 45 ini lebih tulus disusun. Tidak seperti saat ini. Daripada bersaing untuk memperebutkan RI satu lebih baik bersatu untuk membangun Indonesia menjadi Iebih baik, karena kebersamaan merupakan sebuah kemewahan bagi saya,” jelasnya.

Prof Ishak Pulukadang dengan lebih netral mengungkapkan bahwa orang bakal memilih karena figure seorang tokoh. Era sekarang tidak lagi melihat mesin partai. Karena dalam figur itu, akan menceminkan ketokohan dan kemampuan dirinya dalam memimpin negeri ini ke depan. “Figur atau ketokohan dari seorang calon sangat penting, karena pada dasarya, orang akan memilih berdasarkan figur tersebut,” tutur Pulukadang.

Pembicara satu-satu perempuan yg dikenal sebagai akademisi Fakultas Teknik di bidang lingkungan dan arsitektur Dr. Ir. Veronika Kumurur. Enci Vero mengulas figur yang fokus untuk memperhatikan lingkungan. Menurutnya, segala bentuk kerusakan lingkungan di seluruh Indonesia merupakan kesengajaan, dan bukan terjadi dengan tiba-tiba. Yang disebabkan tangan-tangan manusia. “Semua bencana merupakan sebuah tabungan yang dipupuk oleh manusia dari sebuah kesengajaan. Dan keadaan sudah seperti ini, siapa yang susah karena secara otomatis, laju perekonomian akan terhenti”, jelas Kumurur.

Kumurur berharap figur pemimpin ke depan harus pro lingkungan. “Saya sangat berharap akan perubahan yang terjadi di seluruh Indonesia, baik di bidang ekonomi, kemasyarakatan dan lingkungan terutama untuk Indonesia yang baik,”.tambahnya.

Enci Vero menjelaskan masyarakat harus memilih orang-orang yang paham dengan situasi saat ini, dan mengerti dengan pemerintahan. Karena selama ini banyak kebijakan yang tidak pro rakyat. “Indonesia merupakan negara terbesar secara luas dan ini harusnya dipahami oleh sejumlah politikus yang bakal mencalonkan diri. Tidak seenaknya mernbuat kebijakan, tanpa melakukan kajian terlebih dahulu,” pungkasnya.

Seorang tokoh masyarakat Minahasa Utara mengungkapkan sikap pemerintah yang tidak pro rakyat, hanya mementingkan pendapatan daerah semata. “Di daerah Minahasa Utara saat ini, ada investor yang ingin membangun tambang pasir besi di Pulau Bangka, dan ini merupakan keputusan dari pemerintah tanpa memikirkan dampak kerusakan lingkungan,” jelasnya. Johny Kalang, simpatisan PDIP dengan bersemangat mengungkapkan bahwa JK merupakan tokoh yang baik dan agamis, hanya saja ada beberapa kelompok orang yang memberi pandangan buruk terhadapnya. “JK merupakan orang yang sangat taat beribadah. Saya pernah bertemu dengannya sekali, dan dia hanya memberi pandangan bahwa apapun agamamu, yang penting taat dan patuhilah semua yang diwajibkan oleh Tuhan dalam beragama, seperti dirinya yang selalu taat beribadah menurut agama Islam. Saya pikir memang cocok JK berpasangan dengan Jokowi,” ungkapnya.

Drs. Jan WG Polii, Rektor UNPT mengatakan, harusnya ada pendidikan politik. Dengan demikian kita bisa tahu akan hak, dan demikian juga dengan pemerintah, yang tabu akan kewajibannya. “Siapapun yang menang, harus mendukung yang kalah, dan membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi dalam menghadapi kehiduppan berbangsa dan bernegara, tanpa harus saling bermusuhan”, jelas Polii.

anangsk:

Cerita yg hilang dari lepasnya Timor Timur.

Originally posted on Jurnal Toddoppuli:

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

Lihat yang asli 3.747 kata lagi

Ramayana Ballet

Tepat hari pertama kalender baru 2014 mulai dipergunakan, kami bertiga sampai di Yogya. Tak banyak berbeda yang biasa kami lakukan di kota ini, tapi selalu ingin untuk kembali. Entah mantra apa yang ditiupkan kota ini hingga banyak orang percaya bahwa siapapun yang pernah tinggal untuk sekolah ataupun bekerja di sini, akan selalu merindukan untuk kembali walaupun hanya sebentar saja. Namun ada baiknya perjalanan singkat ini aku tuliskan sebagai pengingat kecil jalan-jalan santai keliling keraton dan menonton pagelaran sendratari Ramayana di Prambanan.

Keliling Keraton
Kali ini gak banyak yang bisa diceritakan, karena keraton yang sedianya menjadi minat utamaku liburan kali ini ternyata harus tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan karena sedang berduka atas wafatnya adik Sultan HB X.

Di sekitar keraton banyak mas becak yang menawarkan jasa mengantar tamu sekaligus menjadi pemandu wisata keliling keraton sambil mengunjungi cagar budaya serta bercerita tentang sejarahnya. Tarif murah ditawarkan sebesar Rp25 ribu saja dan membawaku keliling keraton. Menurut mas becak, yang menemaniku keliling keraton siang itu, almarhum adalah pejabat keraton yang mengurusi karyawan, kira-kira semacam pejabat HRD atau kepegawaian dalam perusahaan atau pemerintahan.

Penjaga Gerbang Keraton

Penjaga Gerbang Keraton

Pintu gerbang bagian dalam keraton berbahan kayu tebal hitam yang tinggi, dalam keadaan tertutup. Seorang pria sepuh bersahaja menjaga pintu gerbang, berbusana Jawa lengkap dengan kain batik, berkemeja surjan biru gelap bergaris hitam melekat di badan, dan belangkon tanpa beralaskan kaki, tak lupa keris terselip di punggungnya dalam stagen yang melingkar erat di badannya, terlihat duduk diam di atas dingklik panjang dengan senyum ramah di wajahnya, saat para wisatawan memintanya menjadi obyek fotonya. Sementara beberapa penjaga keraton lainnya tampak beristirahat dalam pondok kecil tak jauh dari pintu gerbang.

Bangsal Pancaniti

Bangsal Pancaniti

Di depan pintu gerbang, berdiri bangunan besar beratap joglo semacam pendopo, yang dinamai Bangsal Pancaniti. Terlihat lantai berukuran 5x5x1 m di bagian tengah yang lebih tinggi dari lantai sekitarnya tanpa meja  kursi di atasnya. Menurut sang pemandu, bangsal Pancaniti ini dulu digunakan sebagai ruang sidang pengadilan keraton, dan lantai yang tinggi berpagar besi itu adalah tempat duduk sang hakim. Bangsal ini sekarang dipergunakan sebagai tempat pentas seni karawitan, macapat (membaca puisi Jawa yang dinyanyikan) dan tari Jawa.

Tepat di luar pintu masuk area keraton sebelah timur adalah tempat becakku parkir dan di depannya adalah rumah milik keluarga Sultan. Menurut mas becak, setiap putra/putri keraton yang telah menikah, harus bertempat tinggal di luar keraton. Kebetulan mas becak ini berdomisili sekitar keraton, yang bapaknya bekerja sebagai penjaga keraton.

Becak berjalan ke selatan di luar dinding timur keraton, lalu berbelok ke arah barat menuju alun-alun Kidul, mampir sebentar di tempat tinggal Sultan HB VII. Rumah tembok yang tak terlihat besar dengan taman kecil di depannya ini sekarang dipergunakan untuk memproduksi batik sekaligus sebagi tempat menjualnya.

Kereta Kencana HB VII

Kereta Kencana HB VII

Kereta kebesaran terlihat parkir di samping rumah dan dua foto besar berdampingan, sultan HB VII beserta permaisurinya, terpampang di dinding teras rumah seolah menyapa para tamunya. Foto tua selalu berkesan magis, menurutku. Sebuah patung besar perempuan tua sedikit menutupi jalan masuk ke dalam rumah, tidak jelas merepresantikan siapa. Di bagian dalam rumah banyak dipenuhi kain batik dan lemari tua. Banyak wisatawan sedang bertransaksi kain batik dengan para ibu penjaga rumah. Di bagian samping luar rumah adalah tempat prosesi pembuatan kain batik.

HB VII dan Permaisuri

HB VII dan Permaisuri

Bangunan sebelah rumah sultan HB VII adalah masjid tua yang seharysnya menjadi satu bagian dengan rumah sultan HB VII. Menurut mas becak, setiap tiang masjid ini dibuat dari satu pohon tunggal.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, melewati alun-alun Kidul, yang terkenal dengan dua pohon beringin besar di tengahnya. Ada kepercayaan bahwa seseorang akan selalu gagal berjalan melewati tengah-tengah antara ke dua pohon tersebut dengan mata tertutup.

Rumah putra HB VII

Rumah putra HB VII

Becak mampir di kediaman putra HB VII. Rumah berpendopo besar dengan banyak tiang kayu ukir berwarna coklat dan atap yang juga berukir megah. Sebagian dari pendopo ini dipergunakan sebagai restoran. Sepi tanpa pengunjung. Prasasti hitam dari batu terpasang di depan pendopo dengan pahatan tulisan berwarna keemasan yang isinya menyatakan bahwa rumah ini pernah digunakan sebagai studio radio, cikal-bakal Radio Republik Indonesia, pada tahun 1928-1934. Berjalan ke belakang melewati samping barat rumah, terdapat musholla besar, redup kurang cahaya. Di bagian belakang rumah tampak berderet puluhan kamar dengan tempat tidur kecil berseprai putih tertata rapi. Masih menurut mas becak, kamar-kamar ini juga disewakan bila ada tamu yang berminat menginap. Terbayang sepi dan redup di sepanjang lorong saat malam hari. Wingit…

Tamansari

Tamansari

Becak kembali berjalan dan berhenti di Tamansari, pemandian sultan dan para selir keraton. Di antara kolam para selir dan kolam sang raja, terdapat bangunan berjendela tinggi. Menurut cerita, dari jendela ini sang raja memanggil selir pilihannya untuk bergabung dengannya berendam di kolam raja. Banyak sekali pengunjung di Tamansari, yang memerlukan tiket untuk memasukinya.
Perjalanan berbecak keliling keraton berhenti di pintu belakang sebelah barat, tepatnya di bangsal Kemagangan.

Ramayana Ballet, Prambanan

Pelakon Ramayana

Pelakon Ramayana

Anak-anakku

Anak-anakku

Ini adalah obyek wisata yang memang sudah masuk dalam prioritas kunjungan ke Yogya saat itu. Sendratari Ramayana diselenggarakan secara berkala di area sekitar candi Prambanan, Yogyakarta. Pada bulan Mei s/d Okt pentas malam hari di tempat terbuka berlatar-belakang candi Prambanan, sedangkan bulan-bulan lainnya, musim hujan, pentas di dalam ruang tertutup. Tiket VIP berharga Rp. 200 ribu. Pentas hari itu dilakukan dua kali, jam 16:00 dan 19:30 dalam ruangan. Ruang pentas tertata apik, lantai luas di bagian tengah dengan bangku penonton berundak mengelilingi bagian kiri-kanan dan depan. Gamelan dan pesinden berada di latar depan. Sorot lampu berwarna-warni dan sistem pengeras suara yang melantunkan bunyi keras-lemah gamelan dengan irama yang cepat-lambat mengiringi tarian, cukup memberikan nuansa dramatik dalam kisah Ramayana.Sendratari disajikan dalam empat babak dengan jeda di masing-masing babak memberikan cukup waktu untuk sedikit menikmati hidangan yang bisa dibeli di depan pintu ruang pentas.

Rahwana dan Shinta

Rahwana dan Shinta

Gerak gemulai Dewi Shinta dari semua lekuk tubuhnya mulai dari jentikan jemari lentiknya, lambaian selendang hingga kibasan kecil tumitnya untuk memindahkan ujung kain panjang yang terseret di belakangnya, juga gerakan patah bertenaga seperti yang disajikan Cakil serta langkah dan bentangan lengan gagah setinggi bahu Rahwana sangat indah untuk dicermati. Semua gerak lentur, halus kadang lembut,

Hanoman dan Shinta

Hanoman dan Shinta

kadang gagah menghentak para penari yang tak pernah henti, juga dengan mimik muka menyajikan emosi para tokohnya apalagi didukung para pemain gamelan tanpa cacat suara, juga sorot lampu yang mendukung cerita, pasti sangat menarik untuk terus dinikmati, apalagi bagi para pecinta budaya dan fotografi. Puas menikmati sajian sendratari Ramayana dan sangat direkomendasikan bagi para pecinta wisata budaya. Terimakasih bagi penyelenggara. Sayang, anak-anak kami belum bisa menikmatinya.

Tulisan ini telah dimuat di http://pedomannews.com/umum/26532-pma-selamat-anak-sendiri-sekarat

Kekhawatiran penulis atas ketidak-adilan dalam pemberlakuan UU Minerba No. 4/2009 seperti yang telat dimuat di media berita elektronik PedomanNews.com, 29 Desember 2013 http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan  memunculkan pertanyaan: Apa yang dipikirkan pemerintah saat membuat UU Minerba No. 4/2009?

Penulis meyakini bahwa pemerintah dalam hal ini kementerian ESDM, tentunya sudah sangat menyadari bahwa UU yang punya niat mulia untuk kepentingan bangsa ini akan berdampak serius terhadap semua aktifitas industri pertambangan yang terkait dengan UU ini, termasuk Kontrak Karya Freeport dan Newmont yang selama ini melakukan ekspor konsentrat tembaga, dengan emas dan perak yang terkandung di dalamnya. Berbagai ketentuan hukum diterbitkan pemerintah sejak diberlakukannya UU No. 4/2009 ini, dan juga telah dilakukannya berbagai negosiasi pemerintah dengan Freeport dan Newmont baik ditingkat eksekutif maupun legislatif; namun tetap kedua perusahaan tambang raksasa dunia ini tidak bergeming dan tanpa satupun dokumen rencana pembangunan smelter, yang berguna untuk memurnikan bijih hasil penambangannya, diserahkan ke pemerintah. Bahkan hingga akhir tahun 2013 pun masih simpang-siur tentang kesediaan mereka untuk mematuhi ketentuan hukum di Indonesia ini.

Ironisnya, justru pertambangan mineral nasional kecil-menengah yang bergerak digolongan mineral bernilai menengah, seperti nikel, bauksit, mangan dll justru sudah bergelimpangan, tutup dan melakukan phk ribuan karyawan karena tak tersedianya smelter atau tak mampu membangun smelter untuk mengolah dan memurnikan hasil produksinya. Sudah sedemikian rendahnyakah kewibawaan pemerintah di mata para pengusaha tambang AS ini?

Lima tahun Undang-Undang Minerba telah diundangkan hanya untuk dilecehkan perusahaan multi-nasional asing, sedangkan UU No. 4/2009 Pasal 107 telah menyatakan secara jelas bahwa pemegang Kontrak Karya yang sudah berproduksi WAJIB melakukan PEMURNIAN selambat-lambatnya 5 tahun sejak diberlakukannya UU ini. Alih-alih melaksanakan UU ini secara konsisten secara berkeadilan, pemerintah malahan menyelamatkan pengusaha asing untuk melakukan ekspor harta kekayaan bernilai mahal, yaitu emas, perak dan tembaga.

Dalam Lampiran Permen ESDM No. 7/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral, dinyatakan bahwa kadar minimum mineral yang boleh diekspor setelah melalui proses pengolahan dan pemurnian untuk emas, tembaga, perak adalah diatas 99%. Ternyata oleh pemerintah melalui Permen ESDM No. 1/2014, syarat ekspor untuk mineral tembaga diturunkan menjadi 15%, setelah melalui proses pengolahan, tanpa perlu proses pemurnian. Maka Freeport/Newmont, yang seharusnya gagal ekspor bila ketentuan kadar 99% diterapkan, menjadi lolos ekspor karena memang sudah melakukan pengolahan bijih tembaga hingga kadar Cu melewati batas kadar 15%. Lalu bagaimana dengan emas dan perak yang juga berada dalam konsentrat dan turut terangkut keluar dari negeri ini? Yah selamat jalan saja, karena yang menjadi pembatas ekspor untuk bijih Tembaga hanya kadar tembaga setelah pengolahan (bukan pemurnian seperti yang diamanatkan UU No. 4/2009), setidaknya hingga tahun 2017.
Produk akhir tambang Freeport dan Newmont di Indonesia adalah konsentrat, berupa bubuk batuan yang mengandung tembaga, emas dan perak. Menurut Laporan Tahunan FCX 2012 (bisa diunduh dari internet), total penjualan Freeport Indonesia di tahun 2012 untuk emas adalah 915.000 ounce (1 ounce = 31.1 gram) dengan harga $1.664/ounce Au atau senilai $ 1.522.560.000 dan tembaga sebesar 716 juta pound, seharga $3,58/pound Cu atau $2.563.280.000. Untuk total penjualan perak yang terdapat dalam ekspor konsentrat, tidak ditemukan dalam laporan tahunan 2012 ini. Prediksi penjualan di akhir tahun 2013 untuk emas adalah 1,2 juta ounce dan 1,1 milyar pound tembaga. Dengan lolosnya Freeport dan Newmont mengekspor bahan tambang yang belum dimurnikan maka masih lenyap jugalah trilyunan rupiah dari negeri ini hingga 2017 nanti tanpa penambahan nilai yang bisa dinikmati oleh bangsa kita. Yakinkah kita bahwa ketentuan hukum ini akan ditegakkan pada tahun 2017? Semoga saja perubahan politik setelah pemilu 2014 akan lebih berpihak pada bangsa kita tercinta.

Pukat harimau dilarang karena menjaring ikan besar dengan korban ikan kecil maka UU Minerba ini untuk menjaring ikan kecil demi menyelamatkan ikan besar. Sebagai penutup, menarik untuk mengutip ulang pernyataan Simon Sembiring tentang lolosnya Freeport dan Newmont, bekas dirjen Pertambangan Umum: “Tindakan kompromi ini tentu menghilangkan kedaulatan negara. SBY melanggar UU Minerba,” tuturnya seperti yang dilansir harian Kontan, Jakarta, Senin (30/12).

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 968 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: