Feeds:
Pos
Komentar

Manado – Teluk Buyat

4 Mei 2016, 8:30 GA-602 mendarat di bandara Sam Ratulangi, Manado. Ini adalah kunjungan singkat ke Manado yang kedua kalinya setelah 2014 saat kampanye pilpres, dan tak sempat jalan-jalan kemanapun saat itu.

Panas terasa menyengat dan awan tebal mulai menggantung. Manado masih sering hujan. Bandara padat kedatangan penumpang sehingga mobil perlu antrian panjang untuk keluar bandara.

Dari bandara kami menuju Bitung untuk melihat pembangunan pelabuhan dan industri pengalengan ikan.

Pelabuhan Bitung

20160504_114741

Pelabuhan Bitung

Dermaga baru Pelindo IV dengan crane raksasa siap melayani bongkar muat peti kemas. Kesibukan dermaga kurang terasa, hanya terlihat satu kapal besar pengangkut ratusan peti kemas sedang sandar di dermaga lama. Pelabuhan Bitung mampu melayani kapal ukuran 10.000 TEUs dan juga sudah siap melayani bongkar muat dua kapal sekaligus.

Industri Pengalengan Ikan

Kunjungan selanjutnya adalah industri pengalengan ikan tuna PT. Sinar Pure Foods International di Bitung untuk konsumsi domestik dan ekspor. Industri ini memperoleh bahan mentah ikan cakalang dari nelayan dan impor hingga dari Amerika Latin. Pembuatan kaleng ikan tuna, cold storage, pengupasan tuna matang, pengisian daging tuna ke dalam kaleng hingga pelabelan kaleng, semua di lakukan dalam satu kawasan pabrik tersebut.

Tuna

Pengupasan daging tuna matang

Menurut si pemilik, kapasitas pabrik 120 ton per hari hanya berproduksi 20 % saja, karena ikan sedang susah didapat dan perlu kapal lebih banyak. Mungkin ini yang sedang jadi polemik di media massa beberapa hari yang lalu antara pak JK dan bu Susi. Pak JK berpendapat bahwa produksi pengalengan ikan menurun drastis berhubung  pasokan ikan susah karena regulasi penangkapan ikan yang menghambat. Sedangkan bu Susi berpendapat bahwa tingginya pasokan selama ini terjadi karena illegal fishing dan tidak terjadi penurunan produksi pengalengan ikan, melainkan memang sudah lama tidak berproduksi. Entah siapa yang benar.. tapi saya sepakat bahwa perlu adanya aturan yang adil dan legal implementasinya.

Jembatan Soekarno

IMG-20160504-WA0011

Jembatan Soekarno

Kota Bitung semakin berkembang dan ramai, jauh beda saat mengunjunginya di tahun 1995. Melewati jalan yang ramai di Bitung, di beberapa tempat justru cenderung padat, kami meluncur menuju Jembatan Soekarno; jembatan yang mulai dibangun 2003 saat presiden Megawati berkuasa dan baru diresmikan di masa presiden Jokowi setelah 12 tahun masa pembangunannya. Menurut info, akan lebih indah dilihat pada malam hari, meskipun di siang haripun sudah terlihat indah megah.

Ikatan Alumni ITB
20160505_213143
Dalam kesempatan ini, kami sempat bersilaturahmi dengan Pengurus Daerah IA-ITB Manado sambil makan malam bersama di Resto Wahaha, kawasan kuliner boulevard Manado. Pada umumnya, alumni ITB di sini adalah dosen universitas Sam Ratulangi, yang kuliah S2 di ITB.
Dua hal penting yang disampaikan Ketua IA-ITB adalah sosialisasi kuliah di ITB ke SMU-SMU sehingga mereka semangat untuk kuliah di ITB dan program IA-ITB untuk menyebarkan alumninya bekerja di daerah-daerah, seperti halnya penempatan dokter ke daerah. Ada lebih dari 100 alumni ITB dari Manado yang diantaranya bekerja sebagai dosen, dep. Pupera, pertambangan, pengusaha, dll. namun malam itu hanya sekitar 40 an orang yang hadir. Pertemuan sangat akrab kekeluargaan, sambil makan malam diiringi organ tunggal dengan penyanyi dari para alumni sendiri. Diakhiri dengan foto bersama.

Teluk Buyat

20160509_001523

Manado – Buyat

Berangkat dari Manado jam 7 pagi menuju teluk Buyat yang terletak di pantai selatan pulau Sulawesi, berseberangan dengan kota Manado yang berada di pantau utara, membutuhkan 3 jam perjalanan di siang hari.

Teluk Buyat ini dulu sempat menjadi wilayah konflik antara pertambangan emas PT. Newmont Minahasa Raya dengan masyarakat nelayan Ratatotok karena isu pencemaran tailing, yang berujung dengan ditahannya presdir. Newmont.

Perjalanan ke Buyat penuh jalan berkelok, melewati kota Tomohon di bawah gunung Lokon yang selalu berasap di sebelah kanan dalam jangkauan pandangan mata, juga sawah hijau di pinggir jalan, tetap sejuk asri sejak dulu (1997), dihiasi bunga di pinggir jalan dan kakilima yang tertata rapi. Pengemudi juga sempat melewatkan kami di kota kecil industri rumah panggung kayu Woloan. Menurutnya, kayu sebagai bahan mentah rumah tersebut sudah semakin susah mendapatkannya. Penduduk di wilayah Woloan ini memang  dikenal mempunyai keahlian pertukangan.

20160506_103424

Desa Basaan Satu

Jalan bagus walaupun sempit, terus turun berkelok-kelok hingga sampai pantai selatan di kota kecil Belang. Hindarilah bermain media sosial menggunakan handphone anda saat berkendaraan di jalur ini, karena pasti akan pusing dengan mobil yang terus pontang-panting belok kiri-kanan. Dan setengah jam kemudian sampailah kami di kecamatan Ratatotok, desa Basaan Satu untuk melihat jeti kecil, hasil bantuan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara, yang mengelola dana lingkungan penutupan tambang Newmont.

20160506_124724-1

Jeti Ratatotok yang rusak dan pencemaran air laut

Desa Buyat semakin ramai dan jalan beraspal halus. Masih juga terlihat beberapa mobil hardtop yang biasa dipergunakan para penambang emas rakyat berlalu-lalang.

20160506_141744_001-1Pantai Lakban yang sedikit berombak, di sebelah teluk Buyat yang tenang, adalah tempat wisata warga sekitar Ratatotok. Ramai dengan pendatang yang bermain air atau hanya duduk-duduk di warung sambil menikmati kopi atau es kelapa bergula merah aren dan pisang goreng yang dicolek ke dalam sambal, khas jajanan Sulawesi Utara. Nikmat.

Setelah menikmati ikan bobara bakar rica yang disediakan penduduk setempat, jam 4 sore kami kembali ke Manado. Makan malam di resto Big Fish, lagi-lagi ikan bakar rica besar. Enak dan tidak membosankan, diiringi live music lagu-lagu Manado. Nyaman.

Seperti lazimnya kota yang sedang berkembang, lalulintas Manado macet dimana-mana. Lingkungan wisata kuliner di boulevard pinggir pantai selalu ramai pengunjung. Sempat kami ngopi sambil menikmati pisang goreng sambal rica di sana.

Pulang

Jam 4:30 keesokan harinya, berangkat ke bandara Samratulangi untuk terbang menggunakan Garuda GA-607 tujuan Jakarta. Sampai jumpa Manado dan sekitarnya yang ramah bersahabat. Tunggu jo, kita mo balik ulang someday.

Catatan

1. Video sekitar jeti perahu nelayan desa Basaan Satu

2. Pengalengan ikan tuna 1

3. Pengalengan ikan tuns 2

4. Terimakasih bung Ridwan yang sudah mengajak saya ke teluk Buyat. Siap menemani ke Indonesia Timur 🙂

 

Iklan

Bandara Silangit Runway 2250 m x 30 m

20160427_093942-1

Prosesi Penerbangan Perdana Sriwijaya ke Silangit, Sumatera Utara 26 April 2016, didahului dengan beberapa sambutan dari Dirut Angkasa Pura 2, CEO Sriwijaya, Komisi 6 dan 11 DPR-RI, dan Plt. Gubernur Sumut, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.

IMG-20160426-WA0004

Ka-Ki: Pak Budi KS, Om Dimas W, om Firdaus Ali, Saya

Jam 7:30 Sriwijaya Air Boeing 737-500 terbang untuk pertama kalinya menuju bandara Silangit,  Kab. Tapanuli Utara dari bandara Sutta. Pesawat penuh penumpang, termasuk para undangan

20160426_110845

Om Sigit dan om Firdaus Ali

Inaugural Flight, Gub. Sumut tidak ikut,  dan penumpang umum lainnya. Nasi Hainan yang pulen dan ayamnya yang empuk, juga puding dan coklat menjadi hidangan utama pada penerbangan kali ini. Enak. Selain Sriwijaya, maskapai Garuda, Wings dan Susi Air juga singgah di Silangit.

Mendekati bandara Silangit, daratan bergelombang terlihat hijau di bawah. Sawah hijau berteras datar dan sekumpulan pohon pinus di perbukitan tersebar dimana-mana, indah.

20160426_115324

Ground Breaking oleh Dirut. Angkasa Pura II

Kira-kira setelah dua jam penerbangan, pesawat menyentuh landasan bandara Silangit. Para penyambut dan tenda penyambutan terlihat di halaman bandara. Acara adat dilakukan terhadap Dirut. Angkasa Pura 2, dipimpin tetua adat setempat dengan mengalungkan ulos, sarung, ikat kepala dan pedang dan diiringi musik tradisional. Ground Breaking dilakukan.

Mengunjungi Toba

20160426_122307-1

Silangit – Muara

Dari Silangit menuju hotel kecil Sentosa, pinggir danau Toba bagian ujung selatan, di kota kecil (kampung?) Muara. Dijamu makan siang oleh Bupati Tapanuli Utara sambil menikmati danau Toba diiringi suara merdu penyanyi kawakan yang berasal dari Tapanuli, Victor Hutabarat. Jalan raya ke Muara, menuruni bukit, sempit dan rusak, sedang dalam proses

perbaikan, seringkali harus berhenti bila berpapasan dengan kendaraan lain.

Pemandangan khas sepanjang perjalanan adalah seringnya dijumpai bangunan makam tunggal berbentuk rumah kecil dengan patung orang berdiri di atasnya. Lokasi, ukuran dan indahnya makam menunjukkan tingkat ekonomi keluarga. Terlihat juga makam di puncak bukit, besar berdinding keramik, bersih dsn megah. Tanda salib juga menyertainya.

Screenshot_20160426-201426-1

Silangit – Parapat

20160426_145955

Pasar Balige

Jam 3 sore saat panas terik, kami berangkat menuju Parapat yang berlokasi di sebelah timur danau Toba, kembali melalui bandara Silangit. Jalan bagus kelas 2 dari Silangit menuju Parapat melewati Balige, ditempuh kira-kira 2 jam. Jslan raya kota Balige cukup padat, khususnya depan pasar utama yang berdesain etnik Sumatera Utara, indah.

20160426_163506

Teluk Danau Toba dari Hotel Inna, Parapat

Jam 5 sore kami sampai di Parapat, adalah sebuah kelurahan di tepi teluk Danau Toba, kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, merupakan daerah wisata utama Danau Toba yang sejuk dan asri. Hotel Inna adalah tempat kami bermalam, yang menurut rekan sepetjalanan adalah bsngunan akhir tahun 60an. Betulkah? Hotel terdiri dari beberapa bangunan kanar terpisah menghadap danau, di lahan berkontur dengan jalan setapak yang rapi dan taman yang indah tertata. Serasa di Puncak, Bogor. Segar. Ingat, Danau Toba adalah kawah gunung berapi yang sudah mati di ketinggian. Banyak sekali speedboat di pinggir danau yang siap mengantar pengunjung berputar-putar sepanjang Parapat. Kami mampir

20160426_172808-1

Rumah Bung Karno

sebentar di depan rumah Bung Karno untuk mengambil gambar. Pulau Samosir terlihat samar di tengah danau dari hotel, dan karena sudah senja, kami tidak sempat berkunjung ke Samosir yang membutuhkan kira-kira 1 jam menggunakan speedboat. Sambil menunggu maghrib, kami ngopi di ‘saung’ pinggir danau yang masih di area belakang hotel. Salah satu menu makanan hotel yang kami pesan adalah martabak. Gak lama menunggu, akhirnya pesanan datang. Ternyata martabak indomie ha ha ha .. enak juga sih. Dan sebagai bonus pesanan minuman panas adalah 4 potong singkong goreng kecil.

Makan malam, kami memilih untuk makan di luar hotel sambil melihat-lihat Parapat. Jalan raya gelap tanpa penerangan dan kami makan di resto Raja Minang, restoran besar, terang dan nyaman. Makanan enak, kami biasa menyebutnya masakan Padang. Gulai ikan nila. Sepertinya pasokan listrik di daerah ini kurang karena suara generator listrik banyak terdengar.

Membayangkan Danah Toba yang sudah jadi tujuan wisata sejak lama, bahkan Bung Karno pun ada rumah peristirahatan di sana, mestinya sudah semakin bersih, terang, indah tertata dan hidup saat ini. Seandainya tersedia jalan mulus beraspal keliling danau, mungkin bisa menjadi tujuan wisata olahraga bersepeda internasional. Mengagumkan, terbayang-bayang.. Kawan seiring yang pernah berkunjung dan bermain musik ke Toba di akhir tahun 60an mengatakan “Toba tak ada perubahan yang lebih baik, sebagai tujuan wisata”. Hidup segan, mati tak mau. Lesu. Kenapa ya? Semoga dengan terbentuknya Badan Otorita Danau Toba, percepatan pembangunan kawasan wisata Danau Toba segera bisa dilaksanakan sehingga tercapailah angan-angan kehadiran ‘Monaco of Asia’.

Jam 7 pagi tepat, kami checkout setelah sarapan. Nanas yang kami santap sangat manis sekali. Menurut kawan, nanas di wilayah Sumut memang terkenal enak. Kurang dari jam 9, sampai di bandara Silangit, ngopi sebentar di kios dan boarding 10:30 menggunakan Sriwijaya menuju bandara Sutta. Sampai jumpa lagi Danau Toba.

Catatan

  1. Detik.com: Sriwijaya Air Resmi Terbang ke Bandara Silangit, Tapanuli Utara
  2. Youtube.com: Video Danau Toba, diambil gambar dari Hotel Inna
  3. Terimakasih om Firdaus Ali yang sudah mengajak saya dalam kunjungan ini. Semoga bersedia ngajak saya lagi berkunjung ke daerah. 🙂

Screenshot_2016-03-29-16-00-40-1“Wherefore my counsel is, that we hold fast ever to the heavenly way and follow after justice and virtue always, considering that the soul is immortal and able to endure every sort of good and every sort of evil”, The Republic.

Majalah Basis No. 1-2 2016

The Republic, Book VIII, oleh Plato

Setelah puluhan tahun tak membacanya, Majalah Basis terbaru mulai di tangan lagi. Satu artikel yang ‘menggairahkan’ langsung jadi perhatian utama, ‘Siklus Kejatuhan Rezim Politik‘, karya Ito Prajna-Nugroho. Tulisan tentang buku The Republic, buku VIII. Berikut ini adalah sedikit kutipan penting dari tulisan tersebut

The Republic adalah karya filsafat yang menguraikan secara sistematis keterkaitan antara tatanan politik dengan tiga hal penting yg menopangnya, yaitu Keadilan (justice), Keutamaan (virtue) dan Gerak Jiwa (soul).

Perubahan rezim politik bergerak bagaikan siklus, dimulai dari rezim filsuf-negarawan yang baik (aristokrasi), kemudian berturut-turut berubah menjadi rezim militeristik (timokrasi), rezim pemburu rente (oligarki), rezim anarkis (demokrasi) dan berujung pada rezim tangan besi (tirani).

Siklus kejatuhan rezim-rezim politik perlu dipahami dlm 3 kerangka utama.

  1. Sebagai analisis psiko-plitik, yang bertumpu pada kesejajaran antara tatanan politik dan tatanan jiwa. Tegak atau runtuhnya setiap bangunan sosial-politik selalu bertumpu pada kualitas kejiwaan manusia yg menghidupinya.
  2. Sebagai alat bantu untuk mengontraskan perbedaan dasar antara tatanan yang adil dan yang tidak adil.
  3. Sebagai analisis forensik thd kecenderungan tatanan, baik jiwa maupun politik, yg cenderung bergerak tak terkontrol melewati batas utk menemui ajalnya sendiri.

Kekuatan yang dimiliki rezim demokrasi, yaitu Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi, juga menjadi kelemahannya, bahkan penyebab kejatuhannya.

Nilai Keutamaan (virtue) merupakan syarat yg harus dimiliki warga dalam rezim demokrasi, supaya dapat membatasi Kebebasan diri demi kebaikan bersama. Menurut skema psiko-politik Plato, sang penulis buku, anarki yang muncul dalam tatanan demokrasi merupakan cerminan anarki di dalam tatanan jiwa. Hasrat kebebasan yang kebablasan. Akhirnya, anarki selalu menjadi awal dari datangnya rezim kediktatoran atau tirani.

Bukan hal mudah bagi saya untuk dapat mengerti dengan cepat isi buku The Republic ini. Tebal bukunya melelahkan dan banyak asesori cerita di dalamnya, sehingga tak pernah selesai membacanya. Sering harus baca berulang untuk mengerti, atau bahkan tetap tidak mengerti :). Untuk itu saya berterimakasih pada penulisnya, Ito Prajna-Nugroho, yang sudah mempermudah pengertian dari bab yang sangat penting, The Republic, Book VIII.

Saya membaca The Republic dari buku digital Play Books, hanya Rp. 13.392 saja.

Batman vs Superman

Screenshot_2016-03-27-13-41-52-1Jumat yll sempatkan diri nonton Batman vs Superman, penasaran saja, karena iklan di medsos cukup gencar dan anak di Yogya begitu semangat berangkat nonton sendirian.

Cinema 21, theater 1 penuh, bahkan sampai baris terdepanpun terisi penonton. Dari kakek-nenek yang nemenin cucu, sampai cucu yang masih belajar jalan pun ikut nonton. Tepuk-tangan dan isak sedih kadang terdengar ketika sang jagoan menang atau terkapar pingsan… sebegitu totalnya mereka menikmati film ini.

Saya sendiri tertidur di awal film, rasanya lamban dan banyak asesori gambar bergerak cepat dan suara bising kehancuran. Melelahkan. Sampai tengah waktu, baru muncul konflik batman vs superman. Batman yang penuh dengan peralatan berteknologi maju dan Superman dengan kekuatan dan kesaktiannya yang luar biasa hingga bisa tiba-tiba meluncur cepat ..  wuzzz.. Lalu muncul Wonder Woman, yang saya pikir Xena Worrior Princess hahaha (jagoan serial tv 90an?) … gak jelas benar apa pentingnya tokoh ini muncul..

Penyajian dalam komik mungkin lebih mampu memompa imajinasi. Memang sudah bukan era saya untuk menikmatinya.  Jadi terasa uzur sudah … 🙂

Terus menyangkal

images

Selesai sekolah di kota, Paimin pulang kampung
Paijo kawan masa kecil Paimin, sangat mengaguminya
Bangga berbinar Paijo, Paimin nyalon Lurah
“Mas Paimin pemimpin kita”, dalam benaknya

Modal Paimin mengucur deras, Paijo bekerja keras
Badan tegap, dagu diangkat, Paijo melangkah
Kusak-kusuklah Paijo berbisik malu, cari dukungan
Tak cukup gaungnya, provokasi disebar
Poster dipasang, pamflet disebar, akun medsospun bertebaran
“Ganteng gagah, sugih pinter, pasti menang”, teriaknya
Di darat maupun di angkasa

Bejo, pengantar paket, didukung warga nantang Paimin
Berangkat pagi, pulang petang, keliling kota
Pekerjaannya, membuatnya banyak dikenal warga
“Rendah hati, luhur budi dan ringan tangan”, slogan pendukungnya. Klasik

Deg-degan jantung Paimin sangat terasa
Harga dirinya tersenggol “edian, sarjana ditantang”, kesal
Hati meradang, lelah pikir, mulai fitnah Bejo
“Bejo dibayari cukong”, teriak kencang menantang langit

Kearifan budaya membuktikan dirinya
“Becik ketitik, ala ketara”
Kalah pemilihan, Paijo mulai sulap sana-sini
Tak bisa terima, dendam menguasai diri

Waktu berjalan,
Tambak bandeng, sawah, ternak, produktif semua
Jalan diperbaiki, sungai dikeruk, pasar dibangun
Lurah Bejo jadi panutan warga, sukses

Nyinyir Paijo dkk. mulai beredar
Kritik katanya, tapi fitnah isinya
Foto-foto pembangunan menghantam Paijo
“Seperti jaman Soeparto, berita pembangunan terus!!”, keluhnya di angkasa
Tangan terkepal, mata melotot, marah
“Janganlah jumawa setelah menang”, lanjutnya lembut
Paijo belindung di bawah kata, mencoba bijak di angkasa
“Loh … nyinyir dijawab fakta kok jumawa”, kawan Bejo terus bersabar

Kasihan Paijo,
Kening terus berkerut, siasat terus diatur
Komat-kamit sepanjang jalan
Suara lirih terucap keluh
“Aku harus menang …” penyangkalan akut.

Yang muda di Metrotv

IMG-20160317-WA0010-1

DR. Ir. Firdaus Ali, MSc. di panggung Kick Andy

Sambil menunggu kawan, Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc. sebagai narasumber pada acara Kick Andy berjudul ‘Krisis Air dan Pejuang Air’, dan bintang tamu lainnya, mbah Sadiman, pemenang Pejuang Lingkungan Kick Andy Heroes Award, mulai ‘tapping’ di studio Metrotv, yang rencananya dimulai jam 7 malam, saya mampir di Michel’s Patisserie, beli es cappucino dan duduk di ruang makannya jam 5 sore itu.

Ruang makan besar, dengan meja panjang dan sepasang bangku panjang tanpa sandaran di kedua sisinya, terasa bersih, rapi dan nyaman. Banyak televisi menempel pada kolom-kolom ruang, yang semuanya menayangkan siaran metrotv. Sejauh mata memandang, tampak gerak para pekerja berseragam baju kerja biru tua, yang semuanya masih muda, mungkin 25 tahunan usia mereka, berlalu-lalang dalam kantin dan cafe di sebelahnya. Meja panjang yang didesain mampu untuk duduk berenam itu membuat terlihat seperti ada beberapa kelompok diskusi, canda atau hanya sibuk menikmati makanan sambil memainkan gadgetnya. Mungkin mereka sedang istirahat setelah bekerja, atau bisa jadi justru bersiap diri untuk mulai kerja pada giliran berikutnya. Yang menarik, rasanya semua terlihat seusia, ceria dan enjoy dengan pekerjaannya. Apakah ini yang dimaksud ‘Y Generation’?

Di gedung utama Metrotv, sudah berjubel para penonton berdiri di lobi utama lantai satu, suara keras musik hidup dilantunkan group band anak-anak muda di pojok ruang, menghibur penonton Kick Andy yang belum diijinkan memasuki studio di lantai dua. Di lantai dua, berderet makanan tersaji di atas meja panjang, terhidang untuk para nara-sumber dan kerabatnya, serta pemusik tamu yang biasa mengisi acara di sesi penutup. Acara talk show Kick Andy ini memang termasuk tayangan Metrotv yang saya sukai, inspiratif, dengan panduan bung Andy F. Noya yang bertutur-kata halus  kadang ‘ngenyek’, namun tak menggurui. Beruntung saya mendapat kesempatan menikmati langsung proses rekamannya, tengyu om Firdaus Ali.

Masuk dalam studio Kick Andy, lagi-lagi simpang-siur para pekerja muda energik bergerak lincah cekatan naik-turun panggung, menata acara ‘tapping’ Kick Andy ini, yang kebetulan, akan mulai menggunakan setting barunya. Ha ha ha .. terlihat lompatan usia dalam kesibukan kerja ini, antara sang senior pemilik panggung Andy F. Noya, yang berjiwa muda dan selalu dengan tampilan trade mark nya, kemeja panjang berdasi dan lengan tergulung, dengan para pendukung yuniornya. Berbeda dengan para anchor Metrotv yang sudah ‘matang’ dan familiar tayang di layar televisi dari pagi hingga larut malam, para pendukung di belakang layar dan reporter lapangan, memang terlihat rerata para muda usia. Selesai acara tapping hampir jam 10 malam, penonton pulang dan pekerja muda masih tinggal membereskan pekerjaannya.

Bioritme para pekerja muda energik ini mungkin berbeda dengan para pekerja kantoran yg umumnya hanya satu shift saja. Makan jam 5 sore, aktif kerja hingga larut malam, bahkan banyak pula yang hingga menjelang pagi. Senang melihat keceriaan dan semangat mereka dalam bekerja. Salut untuk pekerja muda Metrotv. Dan saya yakin, demikian juga kultur para pekerja-muda di televisi lainnya. Terus semangat kawan muda !!!

A Copy of My Mind

Screenshot_2016-03-08-09-02-19-1Sabtu 14:25 dua minggu yang lalu saya nonton film yang disutradarai Joko Anwar ini di Kemang Village, ternyata tak lebih dari 10 penonton saja, mungkin karena sudah satu minggu lebih film ini tayang.

Tanpa bermaksud menjadi kritikus film, ada ‘sesuatu’ yang berkesan saat dan setelah menontonnya. Muram, getir, keras, gerah, sesak, tertekan, nyata, mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan film ini, bahkan posternyapun berwarna muram. Teringat film Slumdog Millionaire, berlatarbelakang masyarakat bawah di India.

Dialog ringan para pekerja berseragam  salon facial saat melayani tamunya, berjajar rapat, sesak, membuka adegan film ini. Ruang istirahat yang sempit, locker kayu penyimpan barang pekerja dan hamparan papan (dipan?) tempat istirahat tanpa kursi, mampu menggambarkan kelas sosial komunitas di dalamnya.

Kamera terus bergerak goyang di belakang pemain, bahkan sering blur, dlm bus kota, pasar, daerah kumuh .. getir dan tidak terpancing mencoba memberi pemanis atau solusi, krn fenomena sosial yg ada memang banyak tak tertangani atau tak dihadiri oleh negara.

Salah rasanya, kalau nonton film ini dengan harapan mendapatkan hiburan tawa lepas sambil mengunyah popcorn. Sebaliknya, justru melelahkan, bahkan mendapatkan tambahan beban pikiran karena semakin mengerti adanya masalah negeri yang belum tertangani.

Beberapa hal baru yang saya dapat, diantaranya adalah proses ‘kontrak’ pembuatan ‘subtitle’ dvd. Sangat sederhana, pembayaran cash di lorong sempit tanpa masuk ke dalam rumah, mungkin dimaksudkan sebagai tempat penggandaan dvd ‘bajakan’. Hal lainnya yang cukup mengejutkan adalah aktifitas seksual ditampilkan cukup ‘gamblang’. Ternyata BSF cukup longgar dalam hal ini. Yang sedikit agak ‘hollywood’ adalah aksi penculikan dengan cara mengkerudungi korban, lalu menyiksanya hingga jatuh dari kursi. Berlebihan rasanya, dalam menyajikan detail penculikan. Senang lihat acting Tara Basro.

Sangat direkomendasikan untuk ditonton, bagi yang berharap mendapatkan potret sosial tanpa pemanis solutif, getir, namun menarik.

%d blogger menyukai ini: