Feeds:
Pos
Komentar

Murka

Rahwana

Rahwana

Seolah penguasa betul-salah manusia,
Berbekal ilmu yang dipilihnya,  tak hendak terima yang berbeda
Berbuih kata terlontar di jagad maya
Tak cuma cerca, fasih juga caci fitnah disemburkannya
Memang ilmu mengharuskannya, katanya
Rupa murka dibanggakannya
“Singkirkan dia”, perintah di dada
Membelit sudah nafsu kuasa

Tahukan dia, seluas apa ilmu berada
Tak berujung alam semesta, hilang kita di dalamnya
Setetes saja mampu mencerna, apalagi menguasainya
Lapangkan hati dan Bersyukurlah

Harga Nickel LME

Harga Nickel LME

Tulisan yang tayang di media berita elektronik ini, http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan telah mengalami pembaruan di paragraf akhir.

Negara kita tidak lagi mengijinkan ekspor mineral dalam bentuk bijih (masih berupa batu/tanah) tanpa melalui pengkayaan mineral, atau lebih jelasnya, tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga kadar mineral relatif meningkat hingga mencapai persentase tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah, karena telah disisihkannya mineral ikutan lainnya. Ini pesan utama dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang kemudian dilanjutkan dengan terbitnya Permen Pertambangan No. 7/2012.

Tidak ada yang salah dalam UU ini, bahkan telah beberapa kali dimuat di media cetak bahwa asosiasi pengusaha pertambanganpun turut mendukung isi UU ini, yang terkandung maksud luhur di dalamnya, khususnya dalam klausul ‘menimbang’ yaitu: untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

Pertambangan mineral nikel, emas, tembaga, timah, besi mangan, timbal dan mineral lainnya (ada 14 mineral), adalah yang menjadi sasaran utama UU ini, tidak termasuk batubara berkalori tinggi yang dianggap tidak lagi perlu dikayakan kandungan kalorinya sehingga diijinkan untuk langsung ekspor.

Persoalan mulai muncul ketika langkah-langkah penetapan UU mulai dijalankan, mulai dengan program Clean and Clear, kemudian penerapan Kuota Ekspor yang pengurusannya melibatkan dua kementrian, yaitu Pertambangan dan Perdagangan, pajak ekspor mineral yang mencapai 20%, dan yang terakhir adalah tersedianya pabrik pengolahan dan pemurnian produk tambang (smelter).

Clean and Clear
Clean and Clear adalah program direktorat pertambangan untuk mengklarifikasi bahwa semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan oleh Bupati tidak bermasalah secara hukum. Hal utama yang menjadi perhatian adalah status hukum lahan, misalnya tumpang-tindih atau sengketa lahan. Dengan banyaknya IUP yang telah diterbitkan oleh Pemda, khusunya IUP batubara di Kalimantan dan nikel di Sulawesi, usaha dirjen Pertambangan dengan program ini patut didukung, untuk mencegah terjadinya sengketa lahan. Mengingat ketidak-siapan daerah dalam memgelola database status lahan secara terintegrasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, seperti pertambangan, kehutanan, pertanian, lingkungan hidup tata-kota dll., sehingga sudah seharusnyalah ada instansi pemerintah yang memgambil alih kebutuhan ini. Dirjen Pertambangan sudah memulainya dengan konsep GISnya sejak tahun 1990an dan cukup efektif dalam mengelola KK(Kontrak Karya) maupun PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara).

Kuota Produksi
Berdasar status Clean and Clear, Laporan Eksplorasi dan Feasibility Study yang telah dilakukan perusahaan tambang maka Direktorat Pertambangan memberikan rekomendasi kuota produksi sebagai bentuk pelaksanaan UU No. 4/ 2009 dan diserahkan ke departemen Perdagangan untuk memperoleh Ijin Ekspor Terbatas. Untuk proses ini bisa membutuhkan waktu hingga 3 bulan karena kekurangan tenaga-kerja du instansi terkait. Perhitungan keekonomian tambang jelas akan bermasalah karena perencanaan tambang harus dirubah sesuai dengan kuota produksi yang seringkali lebih kecil daripada perencanaan ‘cashflow’ yang dibuat oleh pengusaha saat mengajukan IUP.

Pajak ekspor mineral 20%
Dalam UU No. 7 telah ditetapkan bahwa pajak ekspor dikenakan terhadap mineral sebesar 20%. Ini menjadi persoalan pengusahaan tambang, khususnya nickel yang pernah mencapai harga $27.000 per ton di LME (London Metal Exxhange) pada bulan Februari 2011 dan terus menurun hingga tak lebih dari $15.000 per ton selama semester dua tahun ini, apalagi ditambah 20% pajak.

Smelter
Benar bahwa pemerintah memang tidak mewajibkan pemilik IUP harus membangun smelter, melainkan bisa bekerjasama dengan pemilik smelter dalam negeri lainnya. Namun, dimana smelter nikel, emas, aluminium di Indonesia saat ini? Kalaupun ada, itu milik perusahaan-perusahaan besar saja, seperti Inco, Aneka Tambang, Freeport. Bagaimana dengan perusahaan tambang skala kecil-menengah? Membangun smelter, termasuk pembangkit listrik di dalamnya, adalah entitas bisnis yang berbeda dengan usaha penambangan. Mengapa pemerintah tidak membangun smelter untuk menampung bijih produksi tambang-tambang yang telah diberinya ijin IUP selama ini untuk berproduksi?

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang smelter ini adalah:

  • Proyek hilir pertambangan padat modal dengan marjin keuntungan rendah sehingga dibutuhkan waktu pengembalian modal yang cukup lama, bahkan bisa melebihi umur tambang yang dimilikinya
  • Membutuhkan pembangkit listrik yang juga padat modal, bahkan bisa melebihi nilai IUP itu sendiri, apalagi dilingkungan pertambangan yang biasa berada di lokasi terpencil
  • untuk membangun smelter skala kecil seperti yang berbahan mentah nikel, dibutuhkan waktu 18 bulan, sementara untuk smelter skala menengah ke atas membutuhkan waktu 2-3 tahun
  • Dibutuhkan pasokan bahan tambang (bijih) yang cukup sehingga smelter bisa bekerja dalam kapasitas optimal, sesuai cash flow yang direncanakan.

Harian Kompas, 28 Desember 2013, memuat kesanggupan 253 perusahaan tambang untuk mematuhi Pakta Integritas, yang termasuk di dalamnya kesanggupan perusahaan tambang untuk memenuhi kewajiban menyediakan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Pada akhir tahun 2012, banyak dimuat media bahwa dirjen Pertambangan menyatakan 154 perusahaan telah menyerahkan proposal pembangunan smelter. Banyak pengusaha pertambangan hanya tersenyum sinis dengan ekspos pejabat pertambangan tentang hal di atas mengingat kompleksitas pembangunan smelter.

Betulkah angka-angka tersebut di atas? Cobalah data tersebut diperinci lebih lanjut untuk mengetahui status kelanjutan proposal tersebut. Berapa persen realisasi kemajuan pembangunannya? Mengapa pejabat pertambangan sudah cukup senang hanya dengan proposal saja?

Amanat UU No. 4 tahun 2009 patut dan harus kita dukung. Lalu bagaimana dengan pengangguran, yang menurut asosiasi pertambangan sudah mencapai puluhan ribu orang, akibat tutupnya industri pertambangan? Bagaimana komitmen pemerintah untuk melindungi usaha kecil-menengah? Freeport dan Newmont sudah menyatakan bahwa awal 2014 akan menutup usahanya bila tidak tersedia smelter di Indonesia.

Mengingat Menteri Pertambangan Jero Wacik pernah mengatakan bahwa prioritas utama sasaran UU No. 7/2009 adalah perusahaan kecil karena lebih mudah diatur, sedangkan perusahaan besar seperti Freeport atau Newmont adalah prioritas berikutnya, maka muncul praduga apakah ini berarti akan mengalahkan yang kecil dan membela yang besar? Bukti kecurigaan ini mulai tampak ketika wacana menurunkan batas ‘peningkatan nilai tambah’ (pengkayaan) mineral akan diturunkan. Seperti diketahui bahwa Freeport/Newmont telah melakukan pengolahan di lokasi tambangnya namun tidak mampu memenuhi target persentase pengkayaan mineral emas, perak dan tembaga sebesar 99% seperti yang ditetapkan dalam Permen ESDM No. 7/2012. Mari kita tunggu seberapa serius pemerintah menjalankan UU dan PerMennya di tahun politik 2014. Apakah akan melindungi MNC seperti Newmont dan Freeport, dan membunuh usaha kecil-menengah, yang anaknya sendiri, atau tegar menegakkan amanah UU untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara BERKEADILAN?

The Big Flatline

wpid-The-Big-Flatline-Cover.jpgPenulis: Jeff Rubin
Tebal Buku: 262 halaman
Penerbit: palgrave macmillan
Tahun: 2012

Setelah bukunya Your World Is About To Get A Whole Lot Smaller, laris terjual, Jeff Rubin, dalam buku barunya  mengemukakan bahwa era minyak murah telah usai dan akan berujung pada berakhirnya masa pertumbuhan ekonomi. Lalu, apa artinya kehidupan tanpa pertumbuhan ekonomi?

Sebagai pembuka bukunya, Rubin memulai dengan informasi tahun 1889, tentang robohnya petinju akibat pukulan lawan yang menggunakan gelang besi (bare-knuckle) di kepalan-tangannya. Sejak saat itu, penggunaan sarung tinju mulai diwajibkan dalam setiap pertandingan tinju. Namun, korbanpun sering tak terhindarkan akibat pukulan di kepala yang merusak otak atlit. Ilustrasi ini untuk menunjukkan bahwa usaha perbaikan suatu sistem bisa menyebabkan kerusakan dalam hal lainnya. Hal ini menurut Rubin juga terjadi saat AS mengambil kebijakan terus-menerus menggelontorkan uang ke dalam sistem ekonomi untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi negaranya, seperti bail-out, quantitative easing atau skema lainnya, yang justru bisa menyebabkan keterperosokan lebih dalam, karena tanpa mengkaitkannya pada faktor tingginya harga minyak dunia.

Perubahan kecepatan pertumbuhan ekonomi
Harga minyak saat ini sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Seperti halnya manusia yang membutuhkan makanan, maka demikian pula dengan ekonomi yang membutuhkan energi. Sehingga bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah fungsi konsumsi energi. Dan sumber energi yang sangat penting untuk ekonomi global adalah minyak.

Bank Sentral dan kementerian ekonomi selalu menghitung potensial pertumbuhan ekonomi supaya negara dapat berjalan dengan aman dan lancar. Ada dua hal yang biasa dipergunakan sebagai acuan potensial ekonomi, yaitu pertumbuhan produktifitas, yang biasa juga disebut sebagai perubahan keluaran per individu, dan yang kedua adalah pertumbuhan tenaga kerja.

Begitu pentingnya Pertumbuhan Ekonomi, bahkan pimpinan Federal Bank, Ben Bernanke, atau gubernur Bank of Canada seringkali menyebut sustainability untuk mengatakan kelanggengan pertumbuhan ekonominya. Para pimpinanan Bank Sentral ini meyakini bahwa bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari seharusnya maka dianggap telah terjadi gangguan sistem, slack of the system. Dari sisi produktifitas, ini berarti banyak pabrik telah berproduksi kurang dari kapasitas optimumnya, atau pabrik bekerja hanya dengan satu giliran (shift) saja, bukan dua giliran seperti seharusnya. Dalam hal tenaga kerja, ini juga berarti banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja atau dengan kata lain banyak perusahaan tidak membuka lowongan kerja. Kegagalan mencapai tingkat pertumbuhan potensial ekonomi berarti meningkatnya pengangguran, atau menurunnya indeks lowongan kerja.

Bila ekonomi berkembang melewati batas potensial pertumbuhannya maka tingkat pengangguran akan turun, yang biasanya dianggap sebagai hal yang positif. Namun, rendahnya pengangguran bisa berarti tingginya biaya belanja, yang berujung pada tingginya jumlah uang beredar hanya untuk mendapatkan sedikit barang dan jasa, atau tidak cukup banyak barang dan jasa tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi seperti di atas, para pekerja punya posisi tawar untuk menuntut gaji yang lebih tinggi terhadap perusahaan, yang berarti semakin meningkatnya inflasi.

Bagi para ahli ekonomi yang mengamati status kesehatan finansial suatu negara, mengetahui posisi tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengamanan, sehingga bila terjadi gangguan atau slack maka para pengambil kebijakan akan segera menggelontorkan stimulus, yang diyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanpa harus menanggung inflasi. Namun bila ekonomi sudah mendekati tingkat potensialnya, alih-alih menambah pertumbuhan, malahan hanya akan menyebabkan tingginya inflasi.

Semakin tinggi perbedaan antara portensial pertumbuhan ekonomi dengan aktual produksinya, biasa disebut output gap, akan memacu para pengambil kebijakan untuk segera mengambil tindakan untuk menutupnya. Tahun 2008, Bank Federal AS memperkirakan output gap ekonomi negaranya sebesar 6% dibawah tingkat potensial GDPnya sehingga Bernanke menyatakan bunga bank akan sangat rendah, bahkan mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014 (buku ini diterbitkan 2012), untuk menggairahkan berputarnya roda ekonomi.

Menurut Rubin, menetapkan bunga hutang rendah adalah strategi kebijakan ekonomi konvensional yang lazim diterapkan untuk mengamankan ekonominya. Dengan dalih potensial pertumbuhan ekonomi, kebijakan bank sentral AS ini ternyata juga terjadi di Eropa dan Amerika Utara untuk menutup output gap yang cukup besar. Signal itu ditunjukkan dengan semakin naiknya jumlah angka pengangguran yang hampir dua kali lipat dibanding dekade sebelumnya di sebagian negara-negara kaya seperti 34 negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devolopment), yang berarti juga tingginya kapasitas tidak terpakai dalam rantai produksinya.

Satu hal yang terlupakan dalam pengambilan kebijakan stimulus untuk memacu mesin ekonomi ini, menurut Rubbin, adalah harga minyak satu dekade yang lalu adalah masih $20 per barrel, (sekarang lebih dari $100/barrel). Dan, harga minyak tidak dianggap sebagai variabel yang dapat dipergunakan untuk menentukan seberapa besar stimulus diperlukan untuk mengamankan pertumbuhan, kecuali komponen tingkat produktifitas dan tenaga kerja. Bila saja bank-bank sentral turut memperhitungkan faktor harga minyak, mungkin kebijakan moneter akan memutuskan lebih sedikit uang digelontorkan kedalam sistem ekonomi. Politisi mungkin juga akan kebih berhati-hati untuk turut menyetujui skema paket-paket stimulus yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Lalu, bagaimana bila pola permainan sistem ekonomi telah berubah? Bagaimana bila ternyata kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak berwenang ternyata salah?

Belum lama berselang ketika harga minyak dunia $20/barrel, AS adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Washington menikmati surplus anggaran, tingkat pengangguran rendah, harapan pensiun muda yang menarik karena nilai simpanan yang tinggi berdasar pengamatan bursa saham Dow Jones. Namun mimpi itu berantakan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi AS sedang dalam perjuangan dimana defisit anggaran mencapai lebih dari satu trilyun dollar, dan hampir 13 juta pengangguran, serta pada saat yang sama harga minyak dunia mencapai empat kali lipat. Bukan suatu hal yang kebetulan.

AS bukanlah satu-satunya negara maju yang menderita karena tingginya biaya energi. Dari Eropa hingga Jepang, semua pemerintahan sedang berjuang untuk mengamankan pertumbuhan GDPnya, namun alih-alih semua usaha perbaikan ekonomi membawa keberhasilan, justru malah menambah kesulitan. Defisit anggaran AS tidak pernah setinggi saat ini setelah perjuangan ekonomi yang keras pasca Perang Dunia II. Akhirnya, ekonomi tidak dapat tumbuh lebih tinggi karena kemampuan membeli bahan bakar sangat rendah. Realitas menunjukkan bahwa harga minyak sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

Akhir pertumbuhan ekonomi berarti pemerintah membutuhkan perubahan radikal untuk mengelola ekonominya. Saat ini, Fiskal dan Kebijakan Moneter masih menjadi dua hal utama penentu langkah pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun dengan tiga digit harga minyak per barrel, kebijakan ekonomi seperti tersebut di atas sudah menjadi bagian masa lalu atau harus mencari terobosan kebijakan yang berbeda.

Kebijakan Quantitative Easing adalah cara bank sentral AS membanjiri uang ke dalam sistem ekonominya dengan tujuan memutar roda produksi. Penerbitan Surat Utang berjangka waktu lama (bond) dengan ROR rendah diharapkan dapat membantu mengamankan ekonominya disaat ketidaakpastian finansial yang tinggi sehingga dapat lebih menarik investasi. Investor biasanya lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk Surat Utang saat badai finansial mendera. Sebagai bagian dari program Quantitative Easing ini,  Fed Bank juga melakukan penetrasi pasar penjaminan kredit untuk dapat mengatur turunnya bunga punjaman secara efektif, sehingga dapat menekan biaya kredit perumahan. Suatu upaya Fed untuk mendamaikan kembali pasar perumahan.

Dengan rendahnya bunga pengembalian Bond, Fed berharap mendapatkan dollar lebih banyak dari para investor. Rendahnya permintaan dollar akan menyebabkan pelemahan nilai mata uang $, yang akan memperkuat sektor ekspor nasional dan merangsang tumbuhnya produk dalam negeri dibanding barang impor dan berujung pada berkurangnya pengangguran.

Bank Federal meyakini bahwa implementasi kebijakan ekspansi moneter akan mencegah ekonomi AS terperosok lebih dalam dari apa yang terjadi pada tahun 2008. Namun Quantitative Easing masih didasarkan pada pemikiran ekonomi konvensional yang menganggap Pertumbuhan Ekonomi sebagai tujuan akhir. Namun yang terjadi justru harga minyak tetap tinggi berapapun banyaknya uang beredar.

Minyak adalah bahan bakar pertumbuhan

Lebih dari dua pertiga bagian dari setiap barrel minyak adalah untuk keperluan transportasi. Untuk volume yang sama, minyak menghasilkan energi dua kali lipat lebih banyak daripada penggunaan batubara, atau empat kali lipat penggunaan gas alam. Itulah sebabnya, seberapapun banyaknya pemboran shale gas dilakukan di Amerika Utara, tetap tidak mampu menggantikan minyak sebagai bahan bakar transportasi. Kurang dari 1% total kendaraan di AS menggunakan propan, gas alam cair yang umumnya dipergunakan sebagai bahan bakar. AS sudah banyak melakukan usaha untuk mengembangkan energi altetnatif, namun tetap saja belum mampu menggantikan fungsi minyak bumi.

Harga minyak bumi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Harga minyak yang rendah akan memacu pertumbuhan, sebaliknya harga minyak yang tinggi tak terjangkau akan menghentikan mesin pertumbuhan.

Hubungan antara harga minyak dan GDP bersifat linear. Selama empat dekade, menurut Rubbin, rata-rata 1% kenaikan konsumsi minyak akan menaikkan 2% pertumbuhan GDP global. Ini berarti bila pertumbuhan GDP mencapai 4% seperti saat sebelum resesi 2008, konsumsi minyak naik 2% per tahun. Saat harga minyak $20/barrel, kenaikan konsumsi minyak 2%/tahun masih cukup masuk akal, namun saat mencapai harga $100/barrel (puncaknya $147%/barrel, 2008), bisa dibayangkan kebutuhan uang yang harus tersedia, bila pertumbuhan konsumsinya 2%/tahun, pasti cukup menyebabkan runtuhnya ekonomi AS.

Selama empat dekade, fakta menunjukkan bahwa setiap kali harga minyak naik tinggi, saat itu juga ekonomi global memgalami resesi. Tahun 1973, saat perang Yom Kippur, menuntut OPEC memutus ekspor ke AS dan negara-negara sahabat Israel lainnya sehingga tahun berikutnya GDP AS mengalami penurunan 2,5%. Kemudian berturut-turut saat Revolusi Iran dan Perang Irak.

Fatih Birol, ahli ekonomi di IEA (International Energy Agency), memperkirakan bahwa pendapatan pertahun 12 negara anggota OPEC mencapai tidak kurang dari satu trilyun dollar pada tahun 2011. Sementara itu AS mengalami defisit anggaran sebesar satu trilyun dollar untuk menyelamatkan ekonominya yang berbasis minyak. Ini berarti akan sama bila AS langsung membelanjakan stimulus ekonominya ke negara-negara pengekspor minyak.

Menurut IEA, produksi minyak konvensional telah mencapai puncaknya dan akan segera terus turun selama beberapa dekade kedepan, meskipun ini bukan berarti tidak lagi akan ditemukan cadangan minyak baru. Rubbin meyakini bahwa cadangan minyak baru akan terus ditemukan. Yang dimaksud penurunan produksi minyak konvensional disini adalah bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi akan disokong oleh minyak berharga mahal, dan berasal dari sumber minyak non-konvensional seperti tar sands, ladang minyak di laut-dalam atau oil shale, yang kurang ramah lingkungan dengan resiko mulai dari emisi karbon hingga potensi kontaminasi air tanah.

Ditemukannya berbagai cadangan minyak non-konvensional akan bermuara pada satu hal, yaitu harga minyak mahal. Seperti diketahui, bila harga minyak naik, ekonomi akan terkontraksi dan berakibat resesi. Kebutuhan minyak akan turun dan berlanjut dengan merosotnya harga minyak. Secara perlahan, ekonomi akan kembali pulih dan kebutuhan minyak kembali tinggi. Demikian siklus harga minyak dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

Terlihat disini bahwa bukan keberadaan cadangan fisik minyak yang menjadi isu utama dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, namun kebih pada persoalan biaya ekonominya. Dengan kata lain, sumberdaya minyak hanya akan berarti secara ekonomi bila memang tersedia uang untuk membelinya.

Tugas industri energi tidak hanya mencari cadangan minyak, namun juga mencari cara sehingga minyak tersebut secara ekonomi memang mampu untuk dipergunakan. Dan hal inilah, yang menurut Rubbin gagal dilakukan oleh para industrialis perminyakan dunia. Sumberdaya minyak mungkin saja ditemukan, namun biaya produksi yang tinggi menyebabkan ekonomi dunia tidak mampu menanggungnya.

Saat ini dunia membutuhkan 90 juta barrel minyak per hari (2012) untuk dibakar. Dengan kondisi pertumbuham ekonomi dunia yang sangat rendah, mungkin tidak perlu lagi dibutuhkan lebih banyak minyak untuk dibakar, atau malah lebih sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan lagi membongkar cadangan minyak tar sands atau mengangkat minyak yang berada di dasar Samudra Artik.

Puncak kejayaan minyak (oil peak) bisa juga berarti ‘akhir pertumbuhan ekonomi’.

Zerro-sum world

Zerro-sum world adalah permainan dimana negara pemenang memperoleh semua keuntungan dari kekalahan pihak lain. Pada tahun 1980an, China memgkonsumsi minyak tak lebih dari 2 juta barrel per hari, dan sekarang (2012) mencapai 9 juta barrel per hari. Saat itu produksi minyak dunia masih terasa lapang untuk memenuhi kebutuhan China, namun saat kebutuhan minyak dunia begitu cepat tumbuh seperti saat ini, maka negara lain yang tak cukup mampu dengan harga minyak tinggi terpaksa harus menyerahkan pasar minyak ke China.

Zero-sum game dalam hal memperebutkan pasokan minyak dunia, diperkirakan akan dimenangkan oleh China atas ‘kehilangan’ dipihak AS. AS mengkonsumsi minyak lebih dari 20% dari produksi dunia, sementara hanya mampu memproduksi kurang dari 10%, sehingga harus melakukan impor untuk menutup sisa 10% kebutuhan minyaknya. Namun bila pertumbuhan ekonomi China terus melewati AS maka China akan mempunyai keunggulan komparatif dalam kompetisi global untuk memperebutkan lebih banyak minyak.

Kebutuhan akan minyak di negara sedang berkembang semakin cepat tumbuh dibanding di negara maju. Konsumsi minyak di China dan India tumbuh sebesar 10% per tahun dan cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2010, China menambah konsumsinya hampir 1 juta barrel per hari. Sebaliknya, sebelum resesi ekonomi 2008, kebutuhan minyak negara-negara OECD mencapai 50 juta barrel per hari, namun pada tahu 2009 telah turun menjadi 45 juta barrel per hari. Artinya, harga minyak dunia sebesar $100 per barrel bukan masalah besar bagi negara-negara separti China atau India yang sedang haus akan minyak, namun menjadi masalah besar bagi pasar minyak tradisional seperti OECD. Lalu, mengapa China dan India mampu memghadapi harga minyak diatas $100 per barrel?

Banyak pihak beranggapan bahwa kemampuan daya beli minyak bangsa China atau India ini disebabkan oleh adanya subsidi yang besar dari pemerintahnya. Tidak sepenuhnya benar. India memberikan subsidi untuk harga bensin dan solar tidak lebih dari $10 milyar per tahun, lebih kecil dari pendapatan pajak yang dipergunakan AS untuk subsidi produksi ethanol berbahan dasar jagung. AS memang tidak memberi subsidi pada kilang minyak supaya dapat menjualnya dengan harga murah, tapi negara mengenakan pajak sangat rendah pada rakyatnya untuk belanja bahan bakar.
Konsumsi minyak di negara-negara sedang berkembang, yang sedang bagus pertumbuhan ekonominya seperti China dan India, lebih sensitif terhadap pertumbuhan pendapatan per capita, daripada tingginya harga minyak. Bila anda baru pertama kali memiliki mobil, maka kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal besar untuk dipikirkan. Di India dan China, pendapatan tumbuh lebih cepat daripada di Amerika Utara, Eropa atau Jepang sekalipun. Di China dan India, banyak mobil baru terjual bukan untuk menggantikan mobil tua, melainkan untuk menggantikan sepeda sehingga kebutuhan BBM jelas semakin tinggi. Selain itu, China dan India masih menggantungkan minyak sebagai alternatif utama untuk pembangkit listrik bila terjadi masalah dengan batubara. Energi gas dan air belum menjadi alternatif utama pembangkit listrik seperti di negara-negara OECD.

Negara-negara OECD telah menjadi pasar minyak yunior, yang sebelumnya pernah mencapai puncak saat harga minyak antara $70-$80 per barrel. Meskipun AS masih menjadi konsumen minyak tertinggi, namun telah mengalami penurunan sebesar 10%, atau 2 juta barrel per hari, sejak sebelum resesi dan cenderung terus semakin turun. Dalam dunia zero-sum, penurunan konsumsi minyak negara-negara OECD sebenarnya memang tak terhindarkan bila melihat keberlanjutan  pertumbuhan ekonomi China dan India.

Lingkungan

Tentang lingkungan, Rubbin mengakui bahwa ada kaitan langsung antara kenaikan temperatur global dengan emisi karbon karena ulah manusia, meskipun banyak pihak lain juga beranggapan bahwa itu hanyalah fenomena natural yang mungkin disebabkan oleh aktifitas pembakaran matahari. Namun, mengingat minyak adalah ‘bahan bakar’ pertumbuhan ekonomi, maka dengan adanya resesi ekonomi, secara langsung akan juga mengurangi emisi karbon.

Berbagai upaya penurunan emisi karbon telah diusahakan dengan melakukan serangkaian diskusi dan kerjasama antar negara di dunia yang intinya adalah penyebab emisi harus dikenakan biaya mahal, dengan harapan akan mengurangi emisinya. Namun ternyata hal inipun menjadi masalah karena negara-negara sedang berkembang menganggap bahwa jumlah kumulatif emisi karbonlah yang harus menjadi basis perhitungan penyebab perubahan iklim, bukan total emisi tahunan. Bila konsep ini diterima maka AS jelas menanggung biaya emisi terbesar, meskipun total emisi karbon terbanyak saat ini adalah China. Emisi karbon AS secara kumulatif sejak Revolusi Industri sebesar 27% dari total emisi dunia, sementara emisi China hanya 9,5%. Bila hal ini belum tuntas, maka akan sulit untuk menuntut negara lain mengatur kebijakan emisi terhadap industri domestiknya.

Mengingat masih rumitnya perhitungan kredit karbon, maka resesi ekonomi bisa menjadi jalan keluar sementara untuk mengurangi emisi karbon, bahkan tanpa perlu usaha keras perdebatan ditingkat legislatif sekalipun. Sebagai contoh adalah AS, pada saat resesi ekonomi tahun 2008, penurunan emisinya mencapai 3% dan pada 2009 sebesar 7%.

Penutup
Di akhir bukunya, Rubbin berpendapat bahwa, mulai dari kenyataan tentang semakin turunnya kecepatan pertumbuhan ekonomi AS, defisit anggaran dan potensi bencana lingkungan karena emisi karbon, maka bisa diambil kesimpulan bahwa ungkapan pertumbuhan ekonomi akan langgeng, adalah salah. Melainkan hanya sementara.

Pemerintah harus berhenti untuk terus berusaha melindungi ekonominya dari serbuan biaya energi tinggi dengan cara penghematan dan efisiensi penggunaan bahan bakar. “.. do with less is better than always wanting more”, ini penggalan kalimat terakhir dari Jeff Rubin, yang sebetulnya adalah inti sari dalam buku ini.

Kritik Buku
Buku ini enak dibaca dari awal hingga akhir, mudah dicerna dan cukup ‘ringan’ namun tetap memberikan informasi yang bagus tentang resesi 2008 dan dampaknya di Eropa serta hubungannya dengan harga bahan bakar fosil dunia.

GA240 yang nerangkat 14:25, mendarat di bandara Ahmad Yani, Semarangpada jam 16:00. Menggunakan taksi bandara, toyota limo putih, seharga Rp. 415.000, siap berangkat menuju Pekalongan yang berjarak 102 Km. Keluar bandara sedikit padat di jalan utama hingga kira-kira meter 500. Ramai kendaraan pribadi, juga truk penuh muatan di jalan tambal-sulam bergelombang, cukup berbahaya bila kecepatan tinggi. Jalan dua arah dg pembatas berm selebar 0,5-1 m beeriang listrik di tengahnya, masing-masing cukup dua lajur tanpa garis putih pembatas di antaranya. Masih ada tanah terbuka selebar kira-kira dua meter di pinggir jalan cukup untuk truk parkir. Pohon cukup rindang di pinggir jalan sehingga melindungi terik matahari menembus jendela mobil.

Perjalanan ke arah barat disore hari ternyata tidak nyaman, apalagi pada bulan Desember, saat matahari berada di lintang selatan 23•30′, sehingga sinarnya tepat masuk dari jendela kiri mobil. Persawahan terlihat di kanan-kiri jalan di sela-sela bangunan rumah di antara Mangkang-Kendal. Sepertinya sedang mulai ‘tandur’ atau masa tanam karena terlihat bongkahan tanah segar persawahan bekas dibajak. Plat nomor jendaraan yang lalu-lalang sangat bervariasi, H, G, AD, B, E, mungkin karena ini jalan utama pantai utara Jawa, Sby-Jkt sekaligus musim liburan akhir tahun.

Jam 17:15 Alas Roban masih cukup rindang walaupun lebih terbuka dibanding 25 tahun yang lalu, dengan banyak warung kecil jual kelapa hijau dan truk parkir di sepanjang jalan. Mungkin kalau diatur dengan serius, bersih, rapi dan aman, pasti akan menarik dan nyaman untuk istirahat dalam perjalanan jauh.

Setelah keluar dari hutan Alas Roban, kemudian melewati pasar Subah, maka kira-kira 10 menit berikutnya, akan tetlihat jelas dari jarak 100 m, di Km 24 ke Pkl, baliho besar berwarna kuning yang sangat menyolok disebelah kiri jalan, ‘Sate Kambing Subali’. Cocok bagi para penggemar sate kambing.

Tepat menjelang Magrib 17:45, taksi masuk hotel Sahid Mandarin di kawasan rekreasi Dupan, sebelum masuk kota Pekalongan, dan lebih dekat ke kota Batang. Lokasi hotel Sahid yang digambarkan oleh Google Map berada dalam kota Pekalongan, ternyata salah. Jadi bila anda menginginkan hotel yang berada dalam kota Pekalongan, sebaiknya pilih yang lain, salah satunya hotel Horison, yang berada dekat setasiun kereta api.

Manusia Normal

Normal sering juga disamakan dengan ‘kebanyakan’, artinya hanya masalah distribusi sample, atau bukan soal baik/buruk apalagi betul/salah. Mengingat kodrat manusia itu berbeda, unik, atau tidak ada kembar identik 100%, maka pasti ada manusia yang berada diatas/dibawah garis normal, bahkan tanpa batas varian. Jadi, mengapa harus memaksakan diri menjadi normal?

Bengis

Uuuhh … begitu semangatnya kalian menuduh memaki menghina mengutuk dia yang terhukum, bahkan seolah ingin membasmi dan meluluh-lantakkan keluarga dan kelompoknya. Tak pernahkah terlintas atau terpikir bahwa tautan politik atau ketidak-cerdikan manusia mgk saja terlibat didalamnya?

Lalu, kenapa sekarang menista para hakim ketika junjunganmu mendapat vonis berat karena kejahatan yang sama,  korupsi? ‘Pengadilan tidak adil, dholim, politik uang..’ teriakmu, dengan mata melotot dan tangan terkepal. Bengis.

Kejahatan jelas harus dihukum, apalagi dilakukan oleh pejabat pemerintah, sebagai pimpinan rakyat yang semestinya tahu norma hukum. Namun, tak perlulah sampai mencaci-maki hanya karena beda kelompok, keyakinan atau ideologi.

image

Makan malam di resto Chef Chan yang berada di dalam sayap kanan gedung Museum Nasional Singapura, santai dan mengesankan.

Bangunan tua museum berwarna putih kokoh dikelilingi lapangan rumput luas itu tampak bersih rapi dan penuh sinar kuning terang, tercurah dari lampu sorot ribuan watt di taman, juga dari lampu gantung kristal dalam gedung yang menerobos jendela besar tertata rapi, memanjakan mata bagi yang suka bangunan tua. Mengingatkan Pintu Seribu di Semarang dan Kota Tua Jakarta. Sayang, keindahan cahaya kuning gedung sedikit terganggu dengan cahaya putih neonsign board berlogo Chan’s Chef di depan tangga masuk resto.

Menurut kawan yang menemani, museum ini dulu penuh dengan benda-benda bersejarah dari berbagai negeri tetangga, sekarang benda berharga tersebut telah banyak dikembalikan ke negara masing-masing sehingga terasa lengang, ruang tersisa. Bagian depan gedung utama juga ditempati sebuah restoran, terlihat rak di dinding penuh wine terlihat dari taman luar jendala, rapi. Nuansa klasik sangat terasa dalam gedung tua ini. Nyaman.

Malam itu kami dijamu berbagai makanan Kanton yang lezat, yang dihidangkan secara berurutan oleh para pelayan resto berkostum China. Terhidang di atas alas putih meja kotak berkursi delapan, masing-masing enam mangkok kecil berisi beberapa sambal, saos, cabai merah kecil, cabai merah besar, abon teri, kecap asin, juga cangkir kecil berisi teh tawar panas siap menyambut hidangan.

Pertama muncul satu mangkok sup bening panas bermacam jamur, disusul dengan menu kedua, sup ikan Cod segar putih tebal dengan kuah bening dan potongan daun bawang kecoklatan yang makin nikmat dengan tambahan kecap asin dan potongan cabe merah kecil. Tak lupa teh hangat melarutkan rasa di lidah. Dengan sigap pelayan resto menarik mangkok kosong dan meninggalkan sendok di meja serta menggantinya dengan hidangan ketiga berupa piring kecil berisi Sauteed Beef bersaus black pepper. Daging manis empuk tanpa lemak dan mudah dipotong, jadi menu andalan resto ini. Super lezat. Begitu habis, langsung digantikan menu keempat dengan mangkok kecil berisi satu daging gempal kepiting Srilanka, berkuah kuning dengan serpihan lembut daging kepiting. Uhh nikmat… Sambil ngobrol disela resapan teh tawar hangat isi-ulang, muncul santapan kelima, yaitu piring kecil berisi daging ayam empuk berkulit kering mudah lepas dan berkecap manis gurih, Crispy Roasted Chicken. Menu andalan kedua yang hampir mirip menu bebek panggang di resto Duck King Jakarta. Super lezat lagi.. Piring ditarik, muncul menu keenam, hidangan berat dalam mangkok kecil berisi nasi goreng Singapore, kuning pucat lepas (tidak pulen).. gurih enak tapi perut mulai full.. dan terakhir adalah penghibur lidah ketujuh berupa mangkok kecil berisi puding manis bertabur potongan kecil strawberry dan mangga mengkal asam. Wuihhh… full…

Karya seni penggores lidah.. sambil mengangkan tangan kanan dan menutupkan telunjuk ke jempol serta mengangkat tiga jari sisanya di depan bibir… Lazisss…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 958 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: