Feeds:
Pos
Komentar

Ramayana Ballet

Tepat hari pertama kalender baru 2014 mulai dipergunakan, kami bertiga sampai di Yogya. Tak banyak berbeda yang biasa kami lakukan di kota ini, tapi selalu ingin untuk kembali. Entah mantra apa yang ditiupkan kota ini hingga banyak orang percaya bahwa siapapun yang pernah tinggal untuk sekolah ataupun bekerja di sini, akan selalu merindukan untuk kembali walaupun hanya sebentar saja. Namun ada baiknya perjalanan singkat ini aku tuliskan sebagai pengingat kecil jalan-jalan santai keliling keraton dan menonton pagelaran sendratari Ramayana di Prambanan.

Keliling Keraton
Kali ini gak banyak yang bisa diceritakan, karena keraton yang sedianya menjadi minat utamaku liburan kali ini ternyata harus tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan karena sedang berduka atas wafatnya adik Sultan HB X.

Di sekitar keraton banyak mas becak yang menawarkan jasa mengantar tamu sekaligus menjadi pemandu wisata keliling keraton sambil mengunjungi cagar budaya serta bercerita tentang sejarahnya. Tarif murah ditawarkan sebesar Rp25 ribu saja dan membawaku keliling keraton. Menurut mas becak, yang menemaniku keliling keraton siang itu, almarhum adalah pejabat keraton yang mengurusi karyawan, kira-kira semacam pejabat HRD atau kepegawaian dalam perusahaan atau pemerintahan.

Penjaga Gerbang Keraton

Penjaga Gerbang Keraton

Pintu gerbang bagian dalam keraton berbahan kayu tebal hitam yang tinggi, dalam keadaan tertutup. Seorang pria sepuh bersahaja menjaga pintu gerbang, berbusana Jawa lengkap dengan kain batik, berkemeja surjan biru gelap bergaris hitam melekat di badan, dan belangkon tanpa beralaskan kaki, tak lupa keris terselip di punggungnya dalam stagen yang melingkar erat di badannya, terlihat duduk diam di atas dingklik panjang dengan senyum ramah di wajahnya, saat para wisatawan memintanya menjadi obyek fotonya. Sementara beberapa penjaga keraton lainnya tampak beristirahat dalam pondok kecil tak jauh dari pintu gerbang.

Bangsal Pancaniti

Bangsal Pancaniti

Di depan pintu gerbang, berdiri bangunan besar beratap joglo semacam pendopo, yang dinamai Bangsal Pancaniti. Terlihat lantai berukuran 5x5x1 m di bagian tengah yang lebih tinggi dari lantai sekitarnya tanpa meja  kursi di atasnya. Menurut sang pemandu, bangsal Pancaniti ini dulu digunakan sebagai ruang sidang pengadilan keraton, dan lantai yang tinggi berpagar besi itu adalah tempat duduk sang hakim. Bangsal ini sekarang dipergunakan sebagai tempat pentas seni karawitan, macapat (membaca puisi Jawa yang dinyanyikan) dan tari Jawa.

Tepat di luar pintu masuk area keraton sebelah timur adalah tempat becakku parkir dan di depannya adalah rumah milik keluarga Sultan. Menurut mas becak, setiap putra/putri keraton yang telah menikah, harus bertempat tinggal di luar keraton. Kebetulan mas becak ini berdomisili sekitar keraton, yang bapaknya bekerja sebagai penjaga keraton.

Becak berjalan ke selatan di luar dinding timur keraton, lalu berbelok ke arah barat menuju alun-alun Kidul, mampir sebentar di tempat tinggal Sultan HB VII. Rumah tembok yang tak terlihat besar dengan taman kecil di depannya ini sekarang dipergunakan untuk memproduksi batik sekaligus sebagi tempat menjualnya.

Kereta Kencana HB VII

Kereta Kencana HB VII

Kereta kebesaran terlihat parkir di samping rumah dan dua foto besar berdampingan, sultan HB VII beserta permaisurinya, terpampang di dinding teras rumah seolah menyapa para tamunya. Foto tua selalu berkesan magis, menurutku. Sebuah patung besar perempuan tua sedikit menutupi jalan masuk ke dalam rumah, tidak jelas merepresantikan siapa. Di bagian dalam rumah banyak dipenuhi kain batik dan lemari tua. Banyak wisatawan sedang bertransaksi kain batik dengan para ibu penjaga rumah. Di bagian samping luar rumah adalah tempat prosesi pembuatan kain batik.

HB VII dan Permaisuri

HB VII dan Permaisuri

Bangunan sebelah rumah sultan HB VII adalah masjid tua yang seharysnya menjadi satu bagian dengan rumah sultan HB VII. Menurut mas becak, setiap tiang masjid ini dibuat dari satu pohon tunggal.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, melewati alun-alun Kidul, yang terkenal dengan dua pohon beringin besar di tengahnya. Ada kepercayaan bahwa seseorang akan selalu gagal berjalan melewati tengah-tengah antara ke dua pohon tersebut dengan mata tertutup.

Rumah putra HB VII

Rumah putra HB VII

Becak mampir di kediaman putra HB VII. Rumah berpendopo besar dengan banyak tiang kayu ukir berwarna coklat dan atap yang juga berukir megah. Sebagian dari pendopo ini dipergunakan sebagai restoran. Sepi tanpa pengunjung. Prasasti hitam dari batu terpasang di depan pendopo dengan pahatan tulisan berwarna keemasan yang isinya menyatakan bahwa rumah ini pernah digunakan sebagai studio radio, cikal-bakal Radio Republik Indonesia, pada tahun 1928-1934. Berjalan ke belakang melewati samping barat rumah, terdapat musholla besar, redup kurang cahaya. Di bagian belakang rumah tampak berderet puluhan kamar dengan tempat tidur kecil berseprai putih tertata rapi. Masih menurut mas becak, kamar-kamar ini juga disewakan bila ada tamu yang berminat menginap. Terbayang sepi dan redup di sepanjang lorong saat malam hari. Wingit…

Tamansari

Tamansari

Becak kembali berjalan dan berhenti di Tamansari, pemandian sultan dan para selir keraton. Di antara kolam para selir dan kolam sang raja, terdapat bangunan berjendela tinggi. Menurut cerita, dari jendela ini sang raja memanggil selir pilihannya untuk bergabung dengannya berendam di kolam raja. Banyak sekali pengunjung di Tamansari, yang memerlukan tiket untuk memasukinya.
Perjalanan berbecak keliling keraton berhenti di pintu belakang sebelah barat, tepatnya di bangsal Kemagangan.

Ramayana Ballet, Prambanan

Pelakon Ramayana

Pelakon Ramayana

Anak-anakku

Anak-anakku

Ini adalah obyek wisata yang memang sudah masuk dalam prioritas kunjungan ke Yogya saat itu. Sendratari Ramayana diselenggarakan secara berkala di area sekitar candi Prambanan, Yogyakarta. Pada bulan Mei s/d Okt pentas malam hari di tempat terbuka berlatar-belakang candi Prambanan, sedangkan bulan-bulan lainnya, musim hujan, pentas di dalam ruang tertutup. Tiket VIP berharga Rp. 200 ribu. Pentas hari itu dilakukan dua kali, jam 16:00 dan 19:30 dalam ruangan. Ruang pentas tertata apik, lantai luas di bagian tengah dengan bangku penonton berundak mengelilingi bagian kiri-kanan dan depan. Gamelan dan pesinden berada di latar depan. Sorot lampu berwarna-warni dan sistem pengeras suara yang melantunkan bunyi keras-lemah gamelan dengan irama yang cepat-lambat mengiringi tarian, cukup memberikan nuansa dramatik dalam kisah Ramayana.Sendratari disajikan dalam empat babak dengan jeda di masing-masing babak memberikan cukup waktu untuk sedikit menikmati hidangan yang bisa dibeli di depan pintu ruang pentas.

Rahwana dan Shinta

Rahwana dan Shinta

Gerak gemulai Dewi Shinta dari semua lekuk tubuhnya mulai dari jentikan jemari lentiknya, lambaian selendang hingga kibasan kecil tumitnya untuk memindahkan ujung kain panjang yang terseret di belakangnya, juga gerakan patah bertenaga seperti yang disajikan Cakil serta langkah dan bentangan lengan gagah setinggi bahu Rahwana sangat indah untuk dicermati. Semua gerak lentur, halus kadang lembut,

Hanoman dan Shinta

Hanoman dan Shinta

kadang gagah menghentak para penari yang tak pernah henti, juga dengan mimik muka menyajikan emosi para tokohnya apalagi didukung para pemain gamelan tanpa cacat suara, juga sorot lampu yang mendukung cerita, pasti sangat menarik untuk terus dinikmati, apalagi bagi para pecinta budaya dan fotografi. Puas menikmati sajian sendratari Ramayana dan sangat direkomendasikan bagi para pecinta wisata budaya. Terimakasih bagi penyelenggara. Sayang, anak-anak kami belum bisa menikmatinya.

Tulisan ini telah dimuat di http://pedomannews.com/umum/26532-pma-selamat-anak-sendiri-sekarat

Kekhawatiran penulis atas ketidak-adilan dalam pemberlakuan UU Minerba No. 4/2009 seperti yang telat dimuat di media berita elektronik PedomanNews.com, 29 Desember 2013 http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan  memunculkan pertanyaan: Apa yang dipikirkan pemerintah saat membuat UU Minerba No. 4/2009?

Penulis meyakini bahwa pemerintah dalam hal ini kementerian ESDM, tentunya sudah sangat menyadari bahwa UU yang punya niat mulia untuk kepentingan bangsa ini akan berdampak serius terhadap semua aktifitas industri pertambangan yang terkait dengan UU ini, termasuk Kontrak Karya Freeport dan Newmont yang selama ini melakukan ekspor konsentrat tembaga, dengan emas dan perak yang terkandung di dalamnya. Berbagai ketentuan hukum diterbitkan pemerintah sejak diberlakukannya UU No. 4/2009 ini, dan juga telah dilakukannya berbagai negosiasi pemerintah dengan Freeport dan Newmont baik ditingkat eksekutif maupun legislatif; namun tetap kedua perusahaan tambang raksasa dunia ini tidak bergeming dan tanpa satupun dokumen rencana pembangunan smelter, yang berguna untuk memurnikan bijih hasil penambangannya, diserahkan ke pemerintah. Bahkan hingga akhir tahun 2013 pun masih simpang-siur tentang kesediaan mereka untuk mematuhi ketentuan hukum di Indonesia ini.

Ironisnya, justru pertambangan mineral nasional kecil-menengah yang bergerak digolongan mineral bernilai menengah, seperti nikel, bauksit, mangan dll justru sudah bergelimpangan, tutup dan melakukan phk ribuan karyawan karena tak tersedianya smelter atau tak mampu membangun smelter untuk mengolah dan memurnikan hasil produksinya. Sudah sedemikian rendahnyakah kewibawaan pemerintah di mata para pengusaha tambang AS ini?

Lima tahun Undang-Undang Minerba telah diundangkan hanya untuk dilecehkan perusahaan multi-nasional asing, sedangkan UU No. 4/2009 Pasal 107 telah menyatakan secara jelas bahwa pemegang Kontrak Karya yang sudah berproduksi WAJIB melakukan PEMURNIAN selambat-lambatnya 5 tahun sejak diberlakukannya UU ini. Alih-alih melaksanakan UU ini secara konsisten secara berkeadilan, pemerintah malahan menyelamatkan pengusaha asing untuk melakukan ekspor harta kekayaan bernilai mahal, yaitu emas, perak dan tembaga.

Dalam Lampiran Permen ESDM No. 7/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral, dinyatakan bahwa kadar minimum mineral yang boleh diekspor setelah melalui proses pengolahan dan pemurnian untuk emas, tembaga, perak adalah diatas 99%. Ternyata oleh pemerintah melalui Permen ESDM No. 1/2014, syarat ekspor untuk mineral tembaga diturunkan menjadi 15%, setelah melalui proses pengolahan, tanpa perlu proses pemurnian. Maka Freeport/Newmont, yang seharusnya gagal ekspor bila ketentuan kadar 99% diterapkan, menjadi lolos ekspor karena memang sudah melakukan pengolahan bijih tembaga hingga kadar Cu melewati batas kadar 15%. Lalu bagaimana dengan emas dan perak yang juga berada dalam konsentrat dan turut terangkut keluar dari negeri ini? Yah selamat jalan saja, karena yang menjadi pembatas ekspor untuk bijih Tembaga hanya kadar tembaga setelah pengolahan (bukan pemurnian seperti yang diamanatkan UU No. 4/2009), setidaknya hingga tahun 2017.
Produk akhir tambang Freeport dan Newmont di Indonesia adalah konsentrat, berupa bubuk batuan yang mengandung tembaga, emas dan perak. Menurut Laporan Tahunan FCX 2012 (bisa diunduh dari internet), total penjualan Freeport Indonesia di tahun 2012 untuk emas adalah 915.000 ounce (1 ounce = 31.1 gram) dengan harga $1.664/ounce Au atau senilai $ 1.522.560.000 dan tembaga sebesar 716 juta pound, seharga $3,58/pound Cu atau $2.563.280.000. Untuk total penjualan perak yang terdapat dalam ekspor konsentrat, tidak ditemukan dalam laporan tahunan 2012 ini. Prediksi penjualan di akhir tahun 2013 untuk emas adalah 1,2 juta ounce dan 1,1 milyar pound tembaga. Dengan lolosnya Freeport dan Newmont mengekspor bahan tambang yang belum dimurnikan maka masih lenyap jugalah trilyunan rupiah dari negeri ini hingga 2017 nanti tanpa penambahan nilai yang bisa dinikmati oleh bangsa kita. Yakinkah kita bahwa ketentuan hukum ini akan ditegakkan pada tahun 2017? Semoga saja perubahan politik setelah pemilu 2014 akan lebih berpihak pada bangsa kita tercinta.

Pukat harimau dilarang karena menjaring ikan besar dengan korban ikan kecil maka UU Minerba ini untuk menjaring ikan kecil demi menyelamatkan ikan besar. Sebagai penutup, menarik untuk mengutip ulang pernyataan Simon Sembiring tentang lolosnya Freeport dan Newmont, bekas dirjen Pertambangan Umum: “Tindakan kompromi ini tentu menghilangkan kedaulatan negara. SBY melanggar UU Minerba,” tuturnya seperti yang dilansir harian Kontan, Jakarta, Senin (30/12).

The New Korea

The New KoreaThe New Korea

Penulis: Myung Oak Kim dan Sam Jaffe

Edisi: Terjemahan

Tahun: 2013

Penerbit: Kompas Gramedia

Buku ini ditulis tahun 2009, cukup lengkap sebagai potret Korea (Korea Selatan) saat ini. Mulai dari sejarah budaya politik hingga pop, pembangunan infrastruktur, industri mobil, barang elektronik dan gadget, musik dan drama televisi berseri serta  obsesi kedepannya berada ditingkat ke-5 industri hiburan dunia (sekarang ke-9), dapat ditangkap dengan jelas dengan membaca buku ini.

Gaya bahasa bercerita yang mengalir ringan dan kompilasi informasi permukaan yang tidak rumit, namun cukup bisa memberi gambaran awal tentang pesatnya pertumbuhan ekonomi Korea yang didukung semangat kesatuan, budaya dan ethos kerja bangsanya. Sebagai bukti kesetia-kawanan sosial yang tinggi, saat krisis ekonomi tahun 1997, rakyat Korea menyumbangkan 225 ton emas, bernilai 1,8 trilyun dollar ke pemerintah yg sebagian besar dipergunakan utk membayar hutang negara.

Resesi 1997 sungguh memukul ekonomi Korea dengan korban industri mobil Daewoo, bangkrut. Samsung yang sedang memasuki industri otomotif, divisi Samsung Motor, dan menginvestasikan lebih dari $10 juta, terpaksa harus menjual usahanya ke Renault untuk mempertahankan perusahaan induknya. IMF memperburuk ekonomi Korea dengan anjuran suku bunga tinggi. Tahun 1999 ekonomi Korea mulai bangkit lagi dengan angka pertumbuhan mencapai 0,9% setelah Stiglitz merekomendasikan suku bunga rendah. Ekspor dibidang teknologi informasi pada tahun 1998 kurang dari $20 milyar, namun tahun 2008 telah mencapai $100 milyar. Revolusi induatri mobilpun mulai bangkit lagi dan terkenal sebgai produk berkualitas tinggi.

Teknologi

Teknologi adalah obsesi nasional, yang bahkan sudah menjadi kritik sebagian bangsanya karena hampir-hampir menjadi agama baru. Ledakan teknologi ini dimulai sejak Korea merdeka dari Jepang. Presiden Korea, Park Chung-hee telah memanfaatkan betul pinjaman $5 milyar dan kerjasama dengan Jepang untuk meningkatkan kemampuan dan teknologi perusahaan Korea. Pada tahun 1963, presiden Park mencanangkan bahwa Korea akan menjadi pembuat mobil dan menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Samsung dengan strategi bisnisnya “digital sashimi” dan LG dengan ‘Tear Down and Redesign’ (TDR), berhasil tampil sebagai industri elektronik kelas dunia. Masing-masing mendapat porsi satu bab tersendiri dari total 16 bab dalam buku ini. Kedua industri tersebut memang sedang menjadi andalan Korea saat ini khususnya dalam bidang elektronik, termasuk industri baja POSCO (Pahang Iron and Steel Cimpany) dan industri mobil Hyundai. Semuanya telah memiliki pabrik yang tersebar di dunia, kecuali satu yang gagal Daewoo.

Industri budaya pop seperti drama seri televisi dan musik mendapat perhatian khusus penulis dalam buku ini karena nilai ekspornya yang tinggi dan mendunia. Ekspor produk budaya Korea mencapai puncaknya pada tahu 2005, sebesar $2,2 milyar dan khusus untuk drama televisi mencapai $100 juta.

Industri Budaya

Lokasi shooting Winter Sonata

Lokasi shooting Winter Sonata

Drama seri televisi ‘Winter Sonata’ telah melambungkan budaya pop perfilman Korea ke tingkat dunia. Tayang ‘premium time’ di tv Korea pada tahun 2002 telah merenggut minat pecinta drama seri di negaranya. Setahun kemudian, pada 2003 telah merebut hati dan menjadi sensasi para penggemar drama tv di Jepang. Tak lama kemudian menjadi sihir di negara-negara produsen drama seri seperti China, Asia Tenggara, Amerika Latin dan beberapa negara Afrika. Bae Yong-joon, yang sangat dikenal sebagai mega bintang drama di dunia sebagai pemeran utama Winter Sonata, telah ditunjuk pemerintah Korea sebagai duta pariwisata negaranya pada tahun 2008. Bahkan pemujanya di Jepang telah memberinya panggilan khusus untuknya, ‘Yonsama’. ‘Yon’ adalah bagian dari namanya dan ‘Sama’ adalah gelar kehornatan yang biasa ditujukan untuk keluarga raja.

Begitu kuatnya sihir ‘winter sonata’ sehingga pemerintah Korea merasa perlu untuk mengabadikannya sebagai obyek wisata budaya dengan cara menjajakan lokasi-lokasi pengambilan gambarnya, yang ternyata sungguh laris menarik wisatawan. Tak jarang paket wisata ke Korea selalu mengikut-sertakan objek ‘winter sonata’ sebagai bagian tujuan wisatawan.

K-Pop sebagai bagian budaya pop musik telah memasuki industri budaya yang merambah dan menular ke negara-negara Asia Tenggara dan Jepang. Boa, penyanyi Korea berusia 13 tahun, yang banyak disetarakan dengan Britney Spears ini telah menduduki tangga teratas musik pop di Jepang tahun 2002 dan telah meluncurkan album pertamanya di AS pada tahun 2009. Album-album popnyapun mengalami sukses besar. Seperti halnya Boa, Rain, yang disejajarkan dengan Justin Timberlake, juga turut menangguk banjir rejeki di era K-Pop sebagai penyanyi pria ternama Korea.

Energi

GDP Korea sebesar $1,25 trilyun tahun 2009, dengan suku bunga dan inflasi rendah tidak mungkin tercapai tanpa tersedianya minyak bumi berharga rendah. Hingga saat ini Korea masih mengimpor 97% bahan bakarnya. Sangat berresiko terhadap fluktuasi harga komoditas. Penulis buku ini berpendapat bahwa kebijakan energi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil seperti angin, matahari dan mobil listrik akan sangat membantu dalam banyak hal.

Tantangan Kedepan

Hal yang perlu mendapat perhatian khusus untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi Korea adalah:

  1. Menyelesaikan masalah ketergantungan pada bahan baku minyak bumi
  2. Kurangnya penangan masalah lingkungan
  3. Perencanaan yang terlalu terpusat
  4. Keresahan sosial politik

Penutup

Korea perlu mempertahankan nilai-nilai dasar yang mereka miliki, disiplin, pengorbanan kelompok dan kerja keras. Kerja-keras dan semangat kesatuan memang telah menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi Korea sejak tahun 1960-an, dan telah menghasilkan pendapatan per kapita sebesar $20.000 tahun 2009, dan akan mencapai $30.000 pada tahun 2017 menurut perkiraan telivisi Arirang 2013 yang lalu.

Sebagai modal awal untuk mengenal Korea, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca.

Murka

Rahwana

Rahwana

Seolah penguasa betul-salah manusia,
Berbekal ilmu yang dipilihnya,  tak hendak terima yang berbeda
Berbuih kata terlontar di jagad maya
Tak cuma cerca, fasih juga caci fitnah disemburkannya
Memang ilmu mengharuskannya, katanya
Rupa murka dibanggakannya
“Singkirkan dia”, perintah di dada
Membelit sudah nafsu kuasa

Tahukan dia, seluas apa ilmu berada
Tak berujung alam semesta, hilang kita di dalamnya
Setetes saja mampu mencerna, apalagi menguasainya
Lapangkan hati dan Bersyukurlah

Harga Nickel LME

Harga Nickel LME

Tulisan yang tayang di media berita elektronik ini, http://pedomannews.com/umum/26171-refleksi-akhir-tahun-2013-tentang-pertambangan telah mengalami pembaruan di paragraf akhir.

Negara kita tidak lagi mengijinkan ekspor mineral dalam bentuk bijih (masih berupa batu/tanah) tanpa melalui pengkayaan mineral, atau lebih jelasnya, tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga kadar mineral relatif meningkat hingga mencapai persentase tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah, karena telah disisihkannya mineral ikutan lainnya. Ini pesan utama dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang kemudian dilanjutkan dengan terbitnya Permen Pertambangan No. 7/2012.

Tidak ada yang salah dalam UU ini, bahkan telah beberapa kali dimuat di media cetak bahwa asosiasi pengusaha pertambanganpun turut mendukung isi UU ini, yang terkandung maksud luhur di dalamnya, khususnya dalam klausul ‘menimbang’ yaitu: untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

Pertambangan mineral nikel, emas, tembaga, timah, besi mangan, timbal dan mineral lainnya (ada 14 mineral), adalah yang menjadi sasaran utama UU ini, tidak termasuk batubara berkalori tinggi yang dianggap tidak lagi perlu dikayakan kandungan kalorinya sehingga diijinkan untuk langsung ekspor.

Persoalan mulai muncul ketika langkah-langkah penetapan UU mulai dijalankan, mulai dengan program Clean and Clear, kemudian penerapan Kuota Ekspor yang pengurusannya melibatkan dua kementrian, yaitu Pertambangan dan Perdagangan, pajak ekspor mineral yang mencapai 20%, dan yang terakhir adalah tersedianya pabrik pengolahan dan pemurnian produk tambang (smelter).

Clean and Clear
Clean and Clear adalah program direktorat pertambangan untuk mengklarifikasi bahwa semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan oleh Bupati tidak bermasalah secara hukum. Hal utama yang menjadi perhatian adalah status hukum lahan, misalnya tumpang-tindih atau sengketa lahan. Dengan banyaknya IUP yang telah diterbitkan oleh Pemda, khusunya IUP batubara di Kalimantan dan nikel di Sulawesi, usaha dirjen Pertambangan dengan program ini patut didukung, untuk mencegah terjadinya sengketa lahan. Mengingat ketidak-siapan daerah dalam memgelola database status lahan secara terintegrasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, seperti pertambangan, kehutanan, pertanian, lingkungan hidup tata-kota dll., sehingga sudah seharusnyalah ada instansi pemerintah yang memgambil alih kebutuhan ini. Dirjen Pertambangan sudah memulainya dengan konsep GISnya sejak tahun 1990an dan cukup efektif dalam mengelola KK(Kontrak Karya) maupun PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara).

Kuota Produksi
Berdasar status Clean and Clear, Laporan Eksplorasi dan Feasibility Study yang telah dilakukan perusahaan tambang maka Direktorat Pertambangan memberikan rekomendasi kuota produksi sebagai bentuk pelaksanaan UU No. 4/ 2009 dan diserahkan ke departemen Perdagangan untuk memperoleh Ijin Ekspor Terbatas. Untuk proses ini bisa membutuhkan waktu hingga 3 bulan karena kekurangan tenaga-kerja du instansi terkait. Perhitungan keekonomian tambang jelas akan bermasalah karena perencanaan tambang harus dirubah sesuai dengan kuota produksi yang seringkali lebih kecil daripada perencanaan ‘cashflow’ yang dibuat oleh pengusaha saat mengajukan IUP.

Pajak ekspor mineral 20%
Dalam UU No. 7 telah ditetapkan bahwa pajak ekspor dikenakan terhadap mineral sebesar 20%. Ini menjadi persoalan pengusahaan tambang, khususnya nickel yang pernah mencapai harga $27.000 per ton di LME (London Metal Exxhange) pada bulan Februari 2011 dan terus menurun hingga tak lebih dari $15.000 per ton selama semester dua tahun ini, apalagi ditambah 20% pajak.

Smelter
Benar bahwa pemerintah memang tidak mewajibkan pemilik IUP harus membangun smelter, melainkan bisa bekerjasama dengan pemilik smelter dalam negeri lainnya. Namun, dimana smelter nikel, emas, aluminium di Indonesia saat ini? Kalaupun ada, itu milik perusahaan-perusahaan besar saja, seperti Inco, Aneka Tambang, Freeport. Bagaimana dengan perusahaan tambang skala kecil-menengah? Membangun smelter, termasuk pembangkit listrik di dalamnya, adalah entitas bisnis yang berbeda dengan usaha penambangan. Mengapa pemerintah tidak membangun smelter untuk menampung bijih produksi tambang-tambang yang telah diberinya ijin IUP selama ini untuk berproduksi?

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang smelter ini adalah:

  • Proyek hilir pertambangan padat modal dengan marjin keuntungan rendah sehingga dibutuhkan waktu pengembalian modal yang cukup lama, bahkan bisa melebihi umur tambang yang dimilikinya
  • Membutuhkan pembangkit listrik yang juga padat modal, bahkan bisa melebihi nilai IUP itu sendiri, apalagi dilingkungan pertambangan yang biasa berada di lokasi terpencil
  • untuk membangun smelter skala kecil seperti yang berbahan mentah nikel, dibutuhkan waktu 18 bulan, sementara untuk smelter skala menengah ke atas membutuhkan waktu 2-3 tahun
  • Dibutuhkan pasokan bahan tambang (bijih) yang cukup sehingga smelter bisa bekerja dalam kapasitas optimal, sesuai cash flow yang direncanakan.

Harian Kompas, 28 Desember 2013, memuat kesanggupan 253 perusahaan tambang untuk mematuhi Pakta Integritas, yang termasuk di dalamnya kesanggupan perusahaan tambang untuk memenuhi kewajiban menyediakan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Pada akhir tahun 2012, banyak dimuat media bahwa dirjen Pertambangan menyatakan 154 perusahaan telah menyerahkan proposal pembangunan smelter. Banyak pengusaha pertambangan hanya tersenyum sinis dengan ekspos pejabat pertambangan tentang hal di atas mengingat kompleksitas pembangunan smelter.

Betulkah angka-angka tersebut di atas? Cobalah data tersebut diperinci lebih lanjut untuk mengetahui status kelanjutan proposal tersebut. Berapa persen realisasi kemajuan pembangunannya? Mengapa pejabat pertambangan sudah cukup senang hanya dengan proposal saja?

Amanat UU No. 4 tahun 2009 patut dan harus kita dukung. Lalu bagaimana dengan pengangguran, yang menurut asosiasi pertambangan sudah mencapai puluhan ribu orang, akibat tutupnya industri pertambangan? Bagaimana komitmen pemerintah untuk melindungi usaha kecil-menengah? Freeport dan Newmont sudah menyatakan bahwa awal 2014 akan menutup usahanya bila tidak tersedia smelter di Indonesia.

Mengingat Menteri Pertambangan Jero Wacik pernah mengatakan bahwa prioritas utama sasaran UU No. 7/2009 adalah perusahaan kecil karena lebih mudah diatur, sedangkan perusahaan besar seperti Freeport atau Newmont adalah prioritas berikutnya, maka muncul praduga apakah ini berarti akan mengalahkan yang kecil dan membela yang besar? Bukti kecurigaan ini mulai tampak ketika wacana menurunkan batas ‘peningkatan nilai tambah’ (pengkayaan) mineral akan diturunkan. Seperti diketahui bahwa Freeport/Newmont telah melakukan pengolahan di lokasi tambangnya namun tidak mampu memenuhi target persentase pengkayaan mineral emas, perak dan tembaga sebesar 99% seperti yang ditetapkan dalam Permen ESDM No. 7/2012. Mari kita tunggu seberapa serius pemerintah menjalankan UU dan PerMennya di tahun politik 2014. Apakah akan melindungi MNC seperti Newmont dan Freeport, dan membunuh usaha kecil-menengah, yang anaknya sendiri, atau tegar menegakkan amanah UU untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara BERKEADILAN?

The Big Flatline

wpid-The-Big-Flatline-Cover.jpgPenulis: Jeff Rubin
Tebal Buku: 262 halaman
Penerbit: palgrave macmillan
Tahun: 2012

Setelah bukunya Your World Is About To Get A Whole Lot Smaller, laris terjual, Jeff Rubin, dalam buku barunya  mengemukakan bahwa era minyak murah telah usai dan akan berujung pada berakhirnya masa pertumbuhan ekonomi. Lalu, apa artinya kehidupan tanpa pertumbuhan ekonomi?

Sebagai pembuka bukunya, Rubin memulai dengan informasi tahun 1889, tentang robohnya petinju akibat pukulan lawan yang menggunakan gelang besi (bare-knuckle) di kepalan-tangannya. Sejak saat itu, penggunaan sarung tinju mulai diwajibkan dalam setiap pertandingan tinju. Namun, korbanpun sering tak terhindarkan akibat pukulan di kepala yang merusak otak atlit. Ilustrasi ini untuk menunjukkan bahwa usaha perbaikan suatu sistem bisa menyebabkan kerusakan dalam hal lainnya. Hal ini menurut Rubin juga terjadi saat AS mengambil kebijakan terus-menerus menggelontorkan uang ke dalam sistem ekonomi untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi negaranya, seperti bail-out, quantitative easing atau skema lainnya, yang justru bisa menyebabkan keterperosokan lebih dalam, karena tanpa mengkaitkannya pada faktor tingginya harga minyak dunia.

Perubahan kecepatan pertumbuhan ekonomi
Harga minyak saat ini sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Seperti halnya manusia yang membutuhkan makanan, maka demikian pula dengan ekonomi yang membutuhkan energi. Sehingga bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah fungsi konsumsi energi. Dan sumber energi yang sangat penting untuk ekonomi global adalah minyak.

Bank Sentral dan kementerian ekonomi selalu menghitung potensial pertumbuhan ekonomi supaya negara dapat berjalan dengan aman dan lancar. Ada dua hal yang biasa dipergunakan sebagai acuan potensial ekonomi, yaitu pertumbuhan produktifitas, yang biasa juga disebut sebagai perubahan keluaran per individu, dan yang kedua adalah pertumbuhan tenaga kerja.

Begitu pentingnya Pertumbuhan Ekonomi, bahkan pimpinan Federal Bank, Ben Bernanke, atau gubernur Bank of Canada seringkali menyebut sustainability untuk mengatakan kelanggengan pertumbuhan ekonominya. Para pimpinanan Bank Sentral ini meyakini bahwa bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari seharusnya maka dianggap telah terjadi gangguan sistem, slack of the system. Dari sisi produktifitas, ini berarti banyak pabrik telah berproduksi kurang dari kapasitas optimumnya, atau pabrik bekerja hanya dengan satu giliran (shift) saja, bukan dua giliran seperti seharusnya. Dalam hal tenaga kerja, ini juga berarti banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja atau dengan kata lain banyak perusahaan tidak membuka lowongan kerja. Kegagalan mencapai tingkat pertumbuhan potensial ekonomi berarti meningkatnya pengangguran, atau menurunnya indeks lowongan kerja.

Bila ekonomi berkembang melewati batas potensial pertumbuhannya maka tingkat pengangguran akan turun, yang biasanya dianggap sebagai hal yang positif. Namun, rendahnya pengangguran bisa berarti tingginya biaya belanja, yang berujung pada tingginya jumlah uang beredar hanya untuk mendapatkan sedikit barang dan jasa, atau tidak cukup banyak barang dan jasa tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi seperti di atas, para pekerja punya posisi tawar untuk menuntut gaji yang lebih tinggi terhadap perusahaan, yang berarti semakin meningkatnya inflasi.

Bagi para ahli ekonomi yang mengamati status kesehatan finansial suatu negara, mengetahui posisi tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengamanan, sehingga bila terjadi gangguan atau slack maka para pengambil kebijakan akan segera menggelontorkan stimulus, yang diyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanpa harus menanggung inflasi. Namun bila ekonomi sudah mendekati tingkat potensialnya, alih-alih menambah pertumbuhan, malahan hanya akan menyebabkan tingginya inflasi.

Semakin tinggi perbedaan antara portensial pertumbuhan ekonomi dengan aktual produksinya, biasa disebut output gap, akan memacu para pengambil kebijakan untuk segera mengambil tindakan untuk menutupnya. Tahun 2008, Bank Federal AS memperkirakan output gap ekonomi negaranya sebesar 6% dibawah tingkat potensial GDPnya sehingga Bernanke menyatakan bunga bank akan sangat rendah, bahkan mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014 (buku ini diterbitkan 2012), untuk menggairahkan berputarnya roda ekonomi.

Menurut Rubin, menetapkan bunga hutang rendah adalah strategi kebijakan ekonomi konvensional yang lazim diterapkan untuk mengamankan ekonominya. Dengan dalih potensial pertumbuhan ekonomi, kebijakan bank sentral AS ini ternyata juga terjadi di Eropa dan Amerika Utara untuk menutup output gap yang cukup besar. Signal itu ditunjukkan dengan semakin naiknya jumlah angka pengangguran yang hampir dua kali lipat dibanding dekade sebelumnya di sebagian negara-negara kaya seperti 34 negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Devolopment), yang berarti juga tingginya kapasitas tidak terpakai dalam rantai produksinya.

Satu hal yang terlupakan dalam pengambilan kebijakan stimulus untuk memacu mesin ekonomi ini, menurut Rubbin, adalah harga minyak satu dekade yang lalu adalah masih $20 per barrel, (sekarang lebih dari $100/barrel). Dan, harga minyak tidak dianggap sebagai variabel yang dapat dipergunakan untuk menentukan seberapa besar stimulus diperlukan untuk mengamankan pertumbuhan, kecuali komponen tingkat produktifitas dan tenaga kerja. Bila saja bank-bank sentral turut memperhitungkan faktor harga minyak, mungkin kebijakan moneter akan memutuskan lebih sedikit uang digelontorkan kedalam sistem ekonomi. Politisi mungkin juga akan kebih berhati-hati untuk turut menyetujui skema paket-paket stimulus yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Lalu, bagaimana bila pola permainan sistem ekonomi telah berubah? Bagaimana bila ternyata kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak berwenang ternyata salah?

Belum lama berselang ketika harga minyak dunia $20/barrel, AS adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Washington menikmati surplus anggaran, tingkat pengangguran rendah, harapan pensiun muda yang menarik karena nilai simpanan yang tinggi berdasar pengamatan bursa saham Dow Jones. Namun mimpi itu berantakan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi AS sedang dalam perjuangan dimana defisit anggaran mencapai lebih dari satu trilyun dollar, dan hampir 13 juta pengangguran, serta pada saat yang sama harga minyak dunia mencapai empat kali lipat. Bukan suatu hal yang kebetulan.

AS bukanlah satu-satunya negara maju yang menderita karena tingginya biaya energi. Dari Eropa hingga Jepang, semua pemerintahan sedang berjuang untuk mengamankan pertumbuhan GDPnya, namun alih-alih semua usaha perbaikan ekonomi membawa keberhasilan, justru malah menambah kesulitan. Defisit anggaran AS tidak pernah setinggi saat ini setelah perjuangan ekonomi yang keras pasca Perang Dunia II. Akhirnya, ekonomi tidak dapat tumbuh lebih tinggi karena kemampuan membeli bahan bakar sangat rendah. Realitas menunjukkan bahwa harga minyak sangat menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

Akhir pertumbuhan ekonomi berarti pemerintah membutuhkan perubahan radikal untuk mengelola ekonominya. Saat ini, Fiskal dan Kebijakan Moneter masih menjadi dua hal utama penentu langkah pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun dengan tiga digit harga minyak per barrel, kebijakan ekonomi seperti tersebut di atas sudah menjadi bagian masa lalu atau harus mencari terobosan kebijakan yang berbeda.

Kebijakan Quantitative Easing adalah cara bank sentral AS membanjiri uang ke dalam sistem ekonominya dengan tujuan memutar roda produksi. Penerbitan Surat Utang berjangka waktu lama (bond) dengan ROR rendah diharapkan dapat membantu mengamankan ekonominya disaat ketidaakpastian finansial yang tinggi sehingga dapat lebih menarik investasi. Investor biasanya lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk Surat Utang saat badai finansial mendera. Sebagai bagian dari program Quantitative Easing ini,  Fed Bank juga melakukan penetrasi pasar penjaminan kredit untuk dapat mengatur turunnya bunga punjaman secara efektif, sehingga dapat menekan biaya kredit perumahan. Suatu upaya Fed untuk mendamaikan kembali pasar perumahan.

Dengan rendahnya bunga pengembalian Bond, Fed berharap mendapatkan dollar lebih banyak dari para investor. Rendahnya permintaan dollar akan menyebabkan pelemahan nilai mata uang $, yang akan memperkuat sektor ekspor nasional dan merangsang tumbuhnya produk dalam negeri dibanding barang impor dan berujung pada berkurangnya pengangguran.

Bank Federal meyakini bahwa implementasi kebijakan ekspansi moneter akan mencegah ekonomi AS terperosok lebih dalam dari apa yang terjadi pada tahun 2008. Namun Quantitative Easing masih didasarkan pada pemikiran ekonomi konvensional yang menganggap Pertumbuhan Ekonomi sebagai tujuan akhir. Namun yang terjadi justru harga minyak tetap tinggi berapapun banyaknya uang beredar.

Minyak adalah bahan bakar pertumbuhan

Lebih dari dua pertiga bagian dari setiap barrel minyak adalah untuk keperluan transportasi. Untuk volume yang sama, minyak menghasilkan energi dua kali lipat lebih banyak daripada penggunaan batubara, atau empat kali lipat penggunaan gas alam. Itulah sebabnya, seberapapun banyaknya pemboran shale gas dilakukan di Amerika Utara, tetap tidak mampu menggantikan minyak sebagai bahan bakar transportasi. Kurang dari 1% total kendaraan di AS menggunakan propan, gas alam cair yang umumnya dipergunakan sebagai bahan bakar. AS sudah banyak melakukan usaha untuk mengembangkan energi altetnatif, namun tetap saja belum mampu menggantikan fungsi minyak bumi.

Harga minyak bumi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Harga minyak yang rendah akan memacu pertumbuhan, sebaliknya harga minyak yang tinggi tak terjangkau akan menghentikan mesin pertumbuhan.

Hubungan antara harga minyak dan GDP bersifat linear. Selama empat dekade, menurut Rubbin, rata-rata 1% kenaikan konsumsi minyak akan menaikkan 2% pertumbuhan GDP global. Ini berarti bila pertumbuhan GDP mencapai 4% seperti saat sebelum resesi 2008, konsumsi minyak naik 2% per tahun. Saat harga minyak $20/barrel, kenaikan konsumsi minyak 2%/tahun masih cukup masuk akal, namun saat mencapai harga $100/barrel (puncaknya $147%/barrel, 2008), bisa dibayangkan kebutuhan uang yang harus tersedia, bila pertumbuhan konsumsinya 2%/tahun, pasti cukup menyebabkan runtuhnya ekonomi AS.

Selama empat dekade, fakta menunjukkan bahwa setiap kali harga minyak naik tinggi, saat itu juga ekonomi global memgalami resesi. Tahun 1973, saat perang Yom Kippur, menuntut OPEC memutus ekspor ke AS dan negara-negara sahabat Israel lainnya sehingga tahun berikutnya GDP AS mengalami penurunan 2,5%. Kemudian berturut-turut saat Revolusi Iran dan Perang Irak.

Fatih Birol, ahli ekonomi di IEA (International Energy Agency), memperkirakan bahwa pendapatan pertahun 12 negara anggota OPEC mencapai tidak kurang dari satu trilyun dollar pada tahun 2011. Sementara itu AS mengalami defisit anggaran sebesar satu trilyun dollar untuk menyelamatkan ekonominya yang berbasis minyak. Ini berarti akan sama bila AS langsung membelanjakan stimulus ekonominya ke negara-negara pengekspor minyak.

Menurut IEA, produksi minyak konvensional telah mencapai puncaknya dan akan segera terus turun selama beberapa dekade kedepan, meskipun ini bukan berarti tidak lagi akan ditemukan cadangan minyak baru. Rubbin meyakini bahwa cadangan minyak baru akan terus ditemukan. Yang dimaksud penurunan produksi minyak konvensional disini adalah bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi akan disokong oleh minyak berharga mahal, dan berasal dari sumber minyak non-konvensional seperti tar sands, ladang minyak di laut-dalam atau oil shale, yang kurang ramah lingkungan dengan resiko mulai dari emisi karbon hingga potensi kontaminasi air tanah.

Ditemukannya berbagai cadangan minyak non-konvensional akan bermuara pada satu hal, yaitu harga minyak mahal. Seperti diketahui, bila harga minyak naik, ekonomi akan terkontraksi dan berakibat resesi. Kebutuhan minyak akan turun dan berlanjut dengan merosotnya harga minyak. Secara perlahan, ekonomi akan kembali pulih dan kebutuhan minyak kembali tinggi. Demikian siklus harga minyak dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

Terlihat disini bahwa bukan keberadaan cadangan fisik minyak yang menjadi isu utama dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, namun kebih pada persoalan biaya ekonominya. Dengan kata lain, sumberdaya minyak hanya akan berarti secara ekonomi bila memang tersedia uang untuk membelinya.

Tugas industri energi tidak hanya mencari cadangan minyak, namun juga mencari cara sehingga minyak tersebut secara ekonomi memang mampu untuk dipergunakan. Dan hal inilah, yang menurut Rubbin gagal dilakukan oleh para industrialis perminyakan dunia. Sumberdaya minyak mungkin saja ditemukan, namun biaya produksi yang tinggi menyebabkan ekonomi dunia tidak mampu menanggungnya.

Saat ini dunia membutuhkan 90 juta barrel minyak per hari (2012) untuk dibakar. Dengan kondisi pertumbuham ekonomi dunia yang sangat rendah, mungkin tidak perlu lagi dibutuhkan lebih banyak minyak untuk dibakar, atau malah lebih sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan lagi membongkar cadangan minyak tar sands atau mengangkat minyak yang berada di dasar Samudra Artik.

Puncak kejayaan minyak (oil peak) bisa juga berarti ‘akhir pertumbuhan ekonomi’.

Zerro-sum world

Zerro-sum world adalah permainan dimana negara pemenang memperoleh semua keuntungan dari kekalahan pihak lain. Pada tahun 1980an, China memgkonsumsi minyak tak lebih dari 2 juta barrel per hari, dan sekarang (2012) mencapai 9 juta barrel per hari. Saat itu produksi minyak dunia masih terasa lapang untuk memenuhi kebutuhan China, namun saat kebutuhan minyak dunia begitu cepat tumbuh seperti saat ini, maka negara lain yang tak cukup mampu dengan harga minyak tinggi terpaksa harus menyerahkan pasar minyak ke China.

Zero-sum game dalam hal memperebutkan pasokan minyak dunia, diperkirakan akan dimenangkan oleh China atas ‘kehilangan’ dipihak AS. AS mengkonsumsi minyak lebih dari 20% dari produksi dunia, sementara hanya mampu memproduksi kurang dari 10%, sehingga harus melakukan impor untuk menutup sisa 10% kebutuhan minyaknya. Namun bila pertumbuhan ekonomi China terus melewati AS maka China akan mempunyai keunggulan komparatif dalam kompetisi global untuk memperebutkan lebih banyak minyak.

Kebutuhan akan minyak di negara sedang berkembang semakin cepat tumbuh dibanding di negara maju. Konsumsi minyak di China dan India tumbuh sebesar 10% per tahun dan cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2010, China menambah konsumsinya hampir 1 juta barrel per hari. Sebaliknya, sebelum resesi ekonomi 2008, kebutuhan minyak negara-negara OECD mencapai 50 juta barrel per hari, namun pada tahu 2009 telah turun menjadi 45 juta barrel per hari. Artinya, harga minyak dunia sebesar $100 per barrel bukan masalah besar bagi negara-negara separti China atau India yang sedang haus akan minyak, namun menjadi masalah besar bagi pasar minyak tradisional seperti OECD. Lalu, mengapa China dan India mampu memghadapi harga minyak diatas $100 per barrel?

Banyak pihak beranggapan bahwa kemampuan daya beli minyak bangsa China atau India ini disebabkan oleh adanya subsidi yang besar dari pemerintahnya. Tidak sepenuhnya benar. India memberikan subsidi untuk harga bensin dan solar tidak lebih dari $10 milyar per tahun, lebih kecil dari pendapatan pajak yang dipergunakan AS untuk subsidi produksi ethanol berbahan dasar jagung. AS memang tidak memberi subsidi pada kilang minyak supaya dapat menjualnya dengan harga murah, tapi negara mengenakan pajak sangat rendah pada rakyatnya untuk belanja bahan bakar.
Konsumsi minyak di negara-negara sedang berkembang, yang sedang bagus pertumbuhan ekonominya seperti China dan India, lebih sensitif terhadap pertumbuhan pendapatan per capita, daripada tingginya harga minyak. Bila anda baru pertama kali memiliki mobil, maka kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal besar untuk dipikirkan. Di India dan China, pendapatan tumbuh lebih cepat daripada di Amerika Utara, Eropa atau Jepang sekalipun. Di China dan India, banyak mobil baru terjual bukan untuk menggantikan mobil tua, melainkan untuk menggantikan sepeda sehingga kebutuhan BBM jelas semakin tinggi. Selain itu, China dan India masih menggantungkan minyak sebagai alternatif utama untuk pembangkit listrik bila terjadi masalah dengan batubara. Energi gas dan air belum menjadi alternatif utama pembangkit listrik seperti di negara-negara OECD.

Negara-negara OECD telah menjadi pasar minyak yunior, yang sebelumnya pernah mencapai puncak saat harga minyak antara $70-$80 per barrel. Meskipun AS masih menjadi konsumen minyak tertinggi, namun telah mengalami penurunan sebesar 10%, atau 2 juta barrel per hari, sejak sebelum resesi dan cenderung terus semakin turun. Dalam dunia zero-sum, penurunan konsumsi minyak negara-negara OECD sebenarnya memang tak terhindarkan bila melihat keberlanjutan  pertumbuhan ekonomi China dan India.

Lingkungan

Tentang lingkungan, Rubbin mengakui bahwa ada kaitan langsung antara kenaikan temperatur global dengan emisi karbon karena ulah manusia, meskipun banyak pihak lain juga beranggapan bahwa itu hanyalah fenomena natural yang mungkin disebabkan oleh aktifitas pembakaran matahari. Namun, mengingat minyak adalah ‘bahan bakar’ pertumbuhan ekonomi, maka dengan adanya resesi ekonomi, secara langsung akan juga mengurangi emisi karbon.

Berbagai upaya penurunan emisi karbon telah diusahakan dengan melakukan serangkaian diskusi dan kerjasama antar negara di dunia yang intinya adalah penyebab emisi harus dikenakan biaya mahal, dengan harapan akan mengurangi emisinya. Namun ternyata hal inipun menjadi masalah karena negara-negara sedang berkembang menganggap bahwa jumlah kumulatif emisi karbonlah yang harus menjadi basis perhitungan penyebab perubahan iklim, bukan total emisi tahunan. Bila konsep ini diterima maka AS jelas menanggung biaya emisi terbesar, meskipun total emisi karbon terbanyak saat ini adalah China. Emisi karbon AS secara kumulatif sejak Revolusi Industri sebesar 27% dari total emisi dunia, sementara emisi China hanya 9,5%. Bila hal ini belum tuntas, maka akan sulit untuk menuntut negara lain mengatur kebijakan emisi terhadap industri domestiknya.

Mengingat masih rumitnya perhitungan kredit karbon, maka resesi ekonomi bisa menjadi jalan keluar sementara untuk mengurangi emisi karbon, bahkan tanpa perlu usaha keras perdebatan ditingkat legislatif sekalipun. Sebagai contoh adalah AS, pada saat resesi ekonomi tahun 2008, penurunan emisinya mencapai 3% dan pada 2009 sebesar 7%.

Penutup
Di akhir bukunya, Rubbin berpendapat bahwa, mulai dari kenyataan tentang semakin turunnya kecepatan pertumbuhan ekonomi AS, defisit anggaran dan potensi bencana lingkungan karena emisi karbon, maka bisa diambil kesimpulan bahwa ungkapan pertumbuhan ekonomi akan langgeng, adalah salah. Melainkan hanya sementara.

Pemerintah harus berhenti untuk terus berusaha melindungi ekonominya dari serbuan biaya energi tinggi dengan cara penghematan dan efisiensi penggunaan bahan bakar. “.. do with less is better than always wanting more”, ini penggalan kalimat terakhir dari Jeff Rubin, yang sebetulnya adalah inti sari dalam buku ini.

Kritik Buku
Buku ini enak dibaca dari awal hingga akhir, mudah dicerna dan cukup ‘ringan’ namun tetap memberikan informasi yang bagus tentang resesi 2008 dan dampaknya di Eropa serta hubungannya dengan harga bahan bakar fosil dunia.

GA240 yang nerangkat 14:25, mendarat di bandara Ahmad Yani, Semarangpada jam 16:00. Menggunakan taksi bandara, toyota limo putih, seharga Rp. 415.000, siap berangkat menuju Pekalongan yang berjarak 102 Km. Keluar bandara sedikit padat di jalan utama hingga kira-kira meter 500. Ramai kendaraan pribadi, juga truk penuh muatan di jalan tambal-sulam bergelombang, cukup berbahaya bila kecepatan tinggi. Jalan dua arah dg pembatas berm selebar 0,5-1 m beeriang listrik di tengahnya, masing-masing cukup dua lajur tanpa garis putih pembatas di antaranya. Masih ada tanah terbuka selebar kira-kira dua meter di pinggir jalan cukup untuk truk parkir. Pohon cukup rindang di pinggir jalan sehingga melindungi terik matahari menembus jendela mobil.

Perjalanan ke arah barat disore hari ternyata tidak nyaman, apalagi pada bulan Desember, saat matahari berada di lintang selatan 23•30′, sehingga sinarnya tepat masuk dari jendela kiri mobil. Persawahan terlihat di kanan-kiri jalan di sela-sela bangunan rumah di antara Mangkang-Kendal. Sepertinya sedang mulai ‘tandur’ atau masa tanam karena terlihat bongkahan tanah segar persawahan bekas dibajak. Plat nomor jendaraan yang lalu-lalang sangat bervariasi, H, G, AD, B, E, mungkin karena ini jalan utama pantai utara Jawa, Sby-Jkt sekaligus musim liburan akhir tahun.

Jam 17:15 Alas Roban masih cukup rindang walaupun lebih terbuka dibanding 25 tahun yang lalu, dengan banyak warung kecil jual kelapa hijau dan truk parkir di sepanjang jalan. Mungkin kalau diatur dengan serius, bersih, rapi dan aman, pasti akan menarik dan nyaman untuk istirahat dalam perjalanan jauh.

Setelah keluar dari hutan Alas Roban, kemudian melewati pasar Subah, maka kira-kira 10 menit berikutnya, akan tetlihat jelas dari jarak 100 m, di Km 24 ke Pkl, baliho besar berwarna kuning yang sangat menyolok disebelah kiri jalan, ‘Sate Kambing Subali’. Cocok bagi para penggemar sate kambing.

Tepat menjelang Magrib 17:45, taksi masuk hotel Sahid Mandarin di kawasan rekreasi Dupan, sebelum masuk kota Pekalongan, dan lebih dekat ke kota Batang. Lokasi hotel Sahid yang digambarkan oleh Google Map berada dalam kota Pekalongan, ternyata salah. Jadi bila anda menginginkan hotel yang berada dalam kota Pekalongan, sebaiknya pilih yang lain, salah satunya hotel Horison, yang berada dekat setasiun kereta api.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 959 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: