Feeds:
Pos
Komentar

Screenshot_2016-03-29-16-00-40-1“Wherefore my counsel is, that we hold fast ever to the heavenly way and follow after justice and virtue always, considering that the soul is immortal and able to endure every sort of good and every sort of evil”, The Republic.

Majalah Basis No. 1-2 2016

The Republic, Book VIII, oleh Plato

Setelah puluhan tahun tak membacanya, Majalah Basis terbaru mulai di tangan lagi. Satu artikel yang ‘menggairahkan’ langsung jadi perhatian utama, ‘Siklus Kejatuhan Rezim Politik‘, karya Ito Prajna-Nugroho. Tulisan tentang buku The Republic, buku VIII. Berikut ini adalah sedikit kutipan penting dari tulisan tersebut

The Republic adalah karya filsafat yang menguraikan secara sistematis keterkaitan antara tatanan politik dengan tiga hal penting yg menopangnya, yaitu Keadilan (justice), Keutamaan (virtue) dan Gerak Jiwa (soul).

Perubahan rezim politik bergerak bagaikan siklus, dimulai dari rezim filsuf-negarawan yang baik (aristokrasi), kemudian berturut-turut berubah menjadi rezim militeristik (timokrasi), rezim pemburu rente (oligarki), rezim anarkis (demokrasi) dan berujung pada rezim tangan besi (tirani).

Siklus kejatuhan rezim-rezim politik perlu dipahami dlm 3 kerangka utama.

  1. Sebagai analisis psiko-plitik, yang bertumpu pada kesejajaran antara tatanan politik dan tatanan jiwa. Tegak atau runtuhnya setiap bangunan sosial-politik selalu bertumpu pada kualitas kejiwaan manusia yg menghidupinya.
  2. Sebagai alat bantu untuk mengontraskan perbedaan dasar antara tatanan yang adil dan yang tidak adil.
  3. Sebagai analisis forensik thd kecenderungan tatanan, baik jiwa maupun politik, yg cenderung bergerak tak terkontrol melewati batas utk menemui ajalnya sendiri.

Kekuatan yang dimiliki rezim demokrasi, yaitu Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi, juga menjadi kelemahannya, bahkan penyebab kejatuhannya.

Nilai Keutamaan (virtue) merupakan syarat yg harus dimiliki warga dalam rezim demokrasi, supaya dapat membatasi Kebebasan diri demi kebaikan bersama. Menurut skema psiko-politik Plato, sang penulis buku, anarki yang muncul dalam tatanan demokrasi merupakan cerminan anarki di dalam tatanan jiwa. Hasrat kebebasan yang kebablasan. Akhirnya, anarki selalu menjadi awal dari datangnya rezim kediktatoran atau tirani.

Bukan hal mudah bagi saya untuk dapat mengerti dengan cepat isi buku The Republic ini. Tebal bukunya melelahkan dan banyak asesori cerita di dalamnya, sehingga tak pernah selesai membacanya. Sering harus baca berulang untuk mengerti, atau bahkan tetap tidak mengerti :). Untuk itu saya berterimakasih pada penulisnya, Ito Prajna-Nugroho, yang sudah mempermudah pengertian dari bab yang sangat penting, The Republic, Book VIII.

Saya membaca The Republic dari buku digital Play Books, hanya Rp. 13.392 saja.

Iklan

Batman vs Superman

Screenshot_2016-03-27-13-41-52-1Jumat yll sempatkan diri nonton Batman vs Superman, penasaran saja, karena iklan di medsos cukup gencar dan anak di Yogya begitu semangat berangkat nonton sendirian.

Cinema 21, theater 1 penuh, bahkan sampai baris terdepanpun terisi penonton. Dari kakek-nenek yang nemenin cucu, sampai cucu yang masih belajar jalan pun ikut nonton. Tepuk-tangan dan isak sedih kadang terdengar ketika sang jagoan menang atau terkapar pingsan… sebegitu totalnya mereka menikmati film ini.

Saya sendiri tertidur di awal film, rasanya lamban dan banyak asesori gambar bergerak cepat dan suara bising kehancuran. Melelahkan. Sampai tengah waktu, baru muncul konflik batman vs superman. Batman yang penuh dengan peralatan berteknologi maju dan Superman dengan kekuatan dan kesaktiannya yang luar biasa hingga bisa tiba-tiba meluncur cepat ..  wuzzz.. Lalu muncul Wonder Woman, yang saya pikir Xena Worrior Princess hahaha (jagoan serial tv 90an?) … gak jelas benar apa pentingnya tokoh ini muncul..

Penyajian dalam komik mungkin lebih mampu memompa imajinasi. Memang sudah bukan era saya untuk menikmatinya.  Jadi terasa uzur sudah … 🙂

Terus menyangkal

images

Selesai sekolah di kota, Paimin pulang kampung
Paijo kawan masa kecil Paimin, sangat mengaguminya
Bangga berbinar Paijo, Paimin nyalon Lurah
“Mas Paimin pemimpin kita”, dalam benaknya

Modal Paimin mengucur deras, Paijo bekerja keras
Badan tegap, dagu diangkat, Paijo melangkah
Kusak-kusuklah Paijo berbisik malu, cari dukungan
Tak cukup gaungnya, provokasi disebar
Poster dipasang, pamflet disebar, akun medsospun bertebaran
“Ganteng gagah, sugih pinter, pasti menang”, teriaknya
Di darat maupun di angkasa

Bejo, pengantar paket, didukung warga nantang Paimin
Berangkat pagi, pulang petang, keliling kota
Pekerjaannya, membuatnya banyak dikenal warga
“Rendah hati, luhur budi dan ringan tangan”, slogan pendukungnya. Klasik

Deg-degan jantung Paimin sangat terasa
Harga dirinya tersenggol “edian, sarjana ditantang”, kesal
Hati meradang, lelah pikir, mulai fitnah Bejo
“Bejo dibayari cukong”, teriak kencang menantang langit

Kearifan budaya membuktikan dirinya
“Becik ketitik, ala ketara”
Kalah pemilihan, Paijo mulai sulap sana-sini
Tak bisa terima, dendam menguasai diri

Waktu berjalan,
Tambak bandeng, sawah, ternak, produktif semua
Jalan diperbaiki, sungai dikeruk, pasar dibangun
Lurah Bejo jadi panutan warga, sukses

Nyinyir Paijo dkk. mulai beredar
Kritik katanya, tapi fitnah isinya
Foto-foto pembangunan menghantam Paijo
“Seperti jaman Soeparto, berita pembangunan terus!!”, keluhnya di angkasa
Tangan terkepal, mata melotot, marah
“Janganlah jumawa setelah menang”, lanjutnya lembut
Paijo belindung di bawah kata, mencoba bijak di angkasa
“Loh … nyinyir dijawab fakta kok jumawa”, kawan Bejo terus bersabar

Kasihan Paijo,
Kening terus berkerut, siasat terus diatur
Komat-kamit sepanjang jalan
Suara lirih terucap keluh
“Aku harus menang …” penyangkalan akut.

Yang muda di Metrotv

IMG-20160317-WA0010-1

DR. Ir. Firdaus Ali, MSc. di panggung Kick Andy

Sambil menunggu kawan, Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc. sebagai narasumber pada acara Kick Andy berjudul ‘Krisis Air dan Pejuang Air’, dan bintang tamu lainnya, mbah Sadiman, pemenang Pejuang Lingkungan Kick Andy Heroes Award, mulai ‘tapping’ di studio Metrotv, yang rencananya dimulai jam 7 malam, saya mampir di Michel’s Patisserie, beli es cappucino dan duduk di ruang makannya jam 5 sore itu.

Ruang makan besar, dengan meja panjang dan sepasang bangku panjang tanpa sandaran di kedua sisinya, terasa bersih, rapi dan nyaman. Banyak televisi menempel pada kolom-kolom ruang, yang semuanya menayangkan siaran metrotv. Sejauh mata memandang, tampak gerak para pekerja berseragam baju kerja biru tua, yang semuanya masih muda, mungkin 25 tahunan usia mereka, berlalu-lalang dalam kantin dan cafe di sebelahnya. Meja panjang yang didesain mampu untuk duduk berenam itu membuat terlihat seperti ada beberapa kelompok diskusi, canda atau hanya sibuk menikmati makanan sambil memainkan gadgetnya. Mungkin mereka sedang istirahat setelah bekerja, atau bisa jadi justru bersiap diri untuk mulai kerja pada giliran berikutnya. Yang menarik, rasanya semua terlihat seusia, ceria dan enjoy dengan pekerjaannya. Apakah ini yang dimaksud ‘Y Generation’?

Di gedung utama Metrotv, sudah berjubel para penonton berdiri di lobi utama lantai satu, suara keras musik hidup dilantunkan group band anak-anak muda di pojok ruang, menghibur penonton Kick Andy yang belum diijinkan memasuki studio di lantai dua. Di lantai dua, berderet makanan tersaji di atas meja panjang, terhidang untuk para nara-sumber dan kerabatnya, serta pemusik tamu yang biasa mengisi acara di sesi penutup. Acara talk show Kick Andy ini memang termasuk tayangan Metrotv yang saya sukai, inspiratif, dengan panduan bung Andy F. Noya yang bertutur-kata halus  kadang ‘ngenyek’, namun tak menggurui. Beruntung saya mendapat kesempatan menikmati langsung proses rekamannya, tengyu om Firdaus Ali.

Masuk dalam studio Kick Andy, lagi-lagi simpang-siur para pekerja muda energik bergerak lincah cekatan naik-turun panggung, menata acara ‘tapping’ Kick Andy ini, yang kebetulan, akan mulai menggunakan setting barunya. Ha ha ha .. terlihat lompatan usia dalam kesibukan kerja ini, antara sang senior pemilik panggung Andy F. Noya, yang berjiwa muda dan selalu dengan tampilan trade mark nya, kemeja panjang berdasi dan lengan tergulung, dengan para pendukung yuniornya. Berbeda dengan para anchor Metrotv yang sudah ‘matang’ dan familiar tayang di layar televisi dari pagi hingga larut malam, para pendukung di belakang layar dan reporter lapangan, memang terlihat rerata para muda usia. Selesai acara tapping hampir jam 10 malam, penonton pulang dan pekerja muda masih tinggal membereskan pekerjaannya.

Bioritme para pekerja muda energik ini mungkin berbeda dengan para pekerja kantoran yg umumnya hanya satu shift saja. Makan jam 5 sore, aktif kerja hingga larut malam, bahkan banyak pula yang hingga menjelang pagi. Senang melihat keceriaan dan semangat mereka dalam bekerja. Salut untuk pekerja muda Metrotv. Dan saya yakin, demikian juga kultur para pekerja-muda di televisi lainnya. Terus semangat kawan muda !!!

A Copy of My Mind

Screenshot_2016-03-08-09-02-19-1Sabtu 14:25 dua minggu yang lalu saya nonton film yang disutradarai Joko Anwar ini di Kemang Village, ternyata tak lebih dari 10 penonton saja, mungkin karena sudah satu minggu lebih film ini tayang.

Tanpa bermaksud menjadi kritikus film, ada ‘sesuatu’ yang berkesan saat dan setelah menontonnya. Muram, getir, keras, gerah, sesak, tertekan, nyata, mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan film ini, bahkan posternyapun berwarna muram. Teringat film Slumdog Millionaire, berlatarbelakang masyarakat bawah di India.

Dialog ringan para pekerja berseragam  salon facial saat melayani tamunya, berjajar rapat, sesak, membuka adegan film ini. Ruang istirahat yang sempit, locker kayu penyimpan barang pekerja dan hamparan papan (dipan?) tempat istirahat tanpa kursi, mampu menggambarkan kelas sosial komunitas di dalamnya.

Kamera terus bergerak goyang di belakang pemain, bahkan sering blur, dlm bus kota, pasar, daerah kumuh .. getir dan tidak terpancing mencoba memberi pemanis atau solusi, krn fenomena sosial yg ada memang banyak tak tertangani atau tak dihadiri oleh negara.

Salah rasanya, kalau nonton film ini dengan harapan mendapatkan hiburan tawa lepas sambil mengunyah popcorn. Sebaliknya, justru melelahkan, bahkan mendapatkan tambahan beban pikiran karena semakin mengerti adanya masalah negeri yang belum tertangani.

Beberapa hal baru yang saya dapat, diantaranya adalah proses ‘kontrak’ pembuatan ‘subtitle’ dvd. Sangat sederhana, pembayaran cash di lorong sempit tanpa masuk ke dalam rumah, mungkin dimaksudkan sebagai tempat penggandaan dvd ‘bajakan’. Hal lainnya yang cukup mengejutkan adalah aktifitas seksual ditampilkan cukup ‘gamblang’. Ternyata BSF cukup longgar dalam hal ini. Yang sedikit agak ‘hollywood’ adalah aksi penculikan dengan cara mengkerudungi korban, lalu menyiksanya hingga jatuh dari kursi. Berlebihan rasanya, dalam menyajikan detail penculikan. Senang lihat acting Tara Basro.

Sangat direkomendasikan untuk ditonton, bagi yang berharap mendapatkan potret sosial tanpa pemanis solutif, getir, namun menarik.

Animal Farm

Screenshot_2016-03-05-22-29-25-1Banyak kritikus sastra menganggap novel klasik ‘Animal Farm‘ ini sebagai satire terhadap ideologi komunis Rusia di era Stalin.

Bercerita tentang pemberontakan para binatang di suatu peternakan di Inggris terhadap pemilik peternakan. Ada 7 peraturan penting yang harus ditaati oleh masyarakat binatang ini setelah kemenangannya, yaitu:

1. Siapapun yang berkaki dua adalah musuh
2. Siapapun yang berkaki empat atau bersayap, adalah kawan
3. Tidak ada binatang yang berpakaian
4. Tidak ada binatang yang tidur di kasur
5. Tidak ada binatang yang minum alkohol
6. Tidak ada binatang yang membunuh sesamanya
7. Semua binatang adalah setara

Demikian jargon mereka yang memang memenangkan pemberontakan sehingga pemilik peternakan harus tersingkir dari peternakannya. Namun, diantara yang ‘setara”, masih ada binatang yang mendapatkan kelebihan ke’setara’an, yaitu para elite binatang. Janji 7 Peraturan tidak ditepati oleh para elit politik.

Para aktor masyarakat binatang ini diindikasikan sebagai reprentasi dari para pemeran revolusi Soviet, misalnya :

Jones, pemilik peternakan mewakili simbol kapitalisme Czar Nicholas II, pemimpin Rusia sebelum Stalin

Old Major, yang dituakan oleh para binatang karena kepandaian dan senioritasnya, merupakan representasi Karl Marx, yang mengajarkan pemikiran bahwa “Man is the only creature that consumes without producing. He does not give milk, he does not lay eggs, he is too weak to pull the plough, he cannot run fast enough to catch rabbits. Yet he is lord of all the animals. He sets them to work, he gives back to them the bare minimum that will prevent them from starving and the rest he keeps for himself.”

Napoleon, adalah seekor babi sebagai pimpinan tertinggi yang kejam dan lapar kuasa, mewakili karakter Stalin

Snowball, pemimpin pemberani yang memenangkan pemberontakan di peternakan, mewakili karakter Trotsky, selanjutnya disingkirkan oleh Napoleon melalui intrik politik dan fitnah kejam.

Squealer mewakili karakter sang ahli intrik politik dari pemerintahan Napoleon, yang dimasa Soviet dilakukan oleh harian Pravda. Dinarasikan oleh Orwell sebagai ahli pemutar-balikkan fakta, “He could turn black into white“.

Novel karya George Orwell, yang masih terpajang di rak buku toko buku Aksara, mall Pacific Place, Jakarta, ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1945, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bakdi Soemanto melalui penerbit Bentang Pustaka di tahun 2015. Saya sendiri membaca dari Play Books, edisi bahasa Indonesia, kurang dari Rp. 50.000 (lupa pastinya), sedangkan yang berbahasa Inggris masih diatas Rp. 100.000. Sangat direkomendasikan.

Licik

imagesBenderang sudah mata batinku,
bahwa kesombongan, kelicikan, fitnah,
dan segala persekongkolan jahat lainnya,
ternyata memang berada pada para pengabdi kuasa,
yang ujungnya adalah pengais recehan belaka,
yang juga tak ragu menggigit tangan yang menyuapinya.

Lucunya, karakter licin bak belut seperti ini,
ada yang menganggapnya sebagai suatu keahlian ‘berpolitik’,
untuk menyiasati suatu sistem hingga dapat menguasainya,
sehingga mempunyai nilai, yang layak diperjualbelikan.
Sialnya, memang ada penggunanya.

Alhamdulillah,
masyarakat, apapun strata sosialnya,
yang sudah kerap tertipu dengan topengnya,
mulai lelah melihatnya dan mampu kembali jernih berpihak
pada nilai-nilai luhur, kejujuran, kerendahan hati, gotongroyong, kerjakeras dan kerjacerdas.

%d blogger menyukai ini: