Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Rhenald Kasali’

20170403_131935Membaca koran Tempo 25 Maret 2017 dengan judul “Sepulang dari Sillicon valley” dan “Start-Up yang bikin takjub”, betul membuat rasa wow untuk pertumbuhan perusahaan start-up yang sungguh pesat, baik dari sisi jumlah maupun jenis jasa layanan yang ditawarkan. Ratusan start-up muncul setelah Go-Jek lahir 2010, bahkan di Sillicon Valley banyak perusahaan berskala rumahan namun berpenghasilan milliaran dollar.
Terkait dengan buku ini, Geoffrey G. Parker juga menulis dalam bukunya, “Platform Revolution”, bahwa Uber “By the end of 2014, the five-year-old company was valued by investors at $540 billion (up from the $17 billion valuation of just six months earlier)“. Berapa kali lipatkah itu ? Hanya di era disruption peningkatan pendapatan bisa terjadi sedemikan besar. Tentang Alibaba.com, ditulisnya mampu meraup dana $25 milyar dari IPO di tahun 2014. IPO terbesar dalam sejarah.
Incumbent terperangah dengan fenomena 3S (surprise, sudden shift, dan speed) yang disebabkan munculnya para pemain baru, yang menggergaji kaki-kaki mereka. Rhenald Kasali menjelaskan fenomena tersebut dengat sangat bagus melalui buku terbarunya “Disruption“.
Di bagian awal bukunya, Kasali mengamati bahwa dunia telah sangat berubah di berbagai bidang, meliputi perkembangan teknologi komunikasi, munculnya generasi millenials, kebutuhan pola pikir eksponensial, corporate mindset, model bisnis disruptif, dan era internet of things; “kita menghadapi suatu era baru, era disruption atau ‘peradaban Uber’, yang membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing”, ujarnya. Berbagai contoh bisnis disruptif dibidang pemerintahan, transportasi, hospitality, marketing dll.yang fenomenal, juga menjadi pokok bahasan Kasali. Dilanjutkan pada bab-bab berikutnya mengenai berbagai teori disrupsi, perubahan mindset dan akibat-akibat disrupsi.
Menurutnya Peradaban Uber ini dicirikan oleh adanya:
  1. Teknologi pengubah peradaban dari time series menjadi real time
  2. Sumberdaya sendiri sebagai modal kerja, berubah menjadi saling-berbagi
  3. Teknologi Big Data memungkinkan percepatan produk dan layanan
  4. Kurva tunggal supply-demand yang tergantikan dengan kerja jaringan
  5. Kompetitor yang tak terlihat dan langsung masuk ke konsumen
Seiring waktu, lompatan-lompatan peningkatan pendapatan telah banyak terjadi, berhubungan dengan munculnya berbagai terobosan teori manajemen, mulai dari manajemen Jepang yang marak sejak 1980 melalui total quality control, just in time, dan budaya perusahaan; lalu memasuki era re-enginering (1990-an), change (2000), dan transformasi. Kini manajemen pada awal abad ke 21 menuntut kita menghadapi disruption dengan agile management (ketangkasan).
Cragun & Sweetman (2016) mengidentifikasi lima pemicu gelombang disruption yang terjadi sejak 1980. Tercatat hingga 2015, telah melewati sekitar 20 episode kejutan yang dibagi dalam lima kategori penyebab, yaitu:
  1. Teknologi (khususnya IT),
  2. Teori Manajemen (metode baru pengelolaan SDM, kepemimpinan, produksi dan bisnis),
  3. Peristiwa Ekonomi (peran negara, bank sentral, fluktuasi penawaran-permintaan),
  4. Daya Saing Global, dan
  5. Geopolitik (ketegangan antar wilayah).
Lalu, apa yang dimaksud dengan Disruption oleh penulis?
Menurut Kasali, disruption adalah sebuah inovasi, yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologl digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.
Disruption pada akhirnya menciptakan suatu dunia baru: digital marketplace. Pasar virtual, konsep yang serasa asing bagi para pelaku usaha lama maupun regulator senior. Kini kaum muda hidup di dunia yang berbeda, dunia virtual yang tak kelihatan sehingga para regulator perlu siap adaptif terhadap perubahan ini.
Pada era ini, perdagangan melalui dunia maya akan semakin intens, membuat para pendatang baru menantang korporasi-korporasi besar dan para incumbent. Disruption menjadi sesuatu yang tak terhindarkan atau sudah menjadi keniscayaan.
Selain menghancurkan Kodak, Western Union, Nokkia, Blackberry dan menggergaji taksi Express, Bluebird dan banyak lagi lainnya, Disruption juga melahirkan platform-platform baru seperti MOOC (Massive Open Online Course), ekonomi berbagi (sharing economy), online economy, peer to peer Iending, smart home, fleet management, smart cities/kampong, surveilIance, dan lain-lain.
Owning economy vs sharing economy
Cukup mencengangkan bahwa dalam era kapitalistik, muncul fenomena ekonomi berbagi  (sharing economy). Tidak sepenuhnya salah sepertinya, karena hulu konsep sharing economy ini tetap lah keuntungan semata. Hanya, di era internet of things sekarang ini memang mensyaratkan budaya jaringan, baik dalam hal cara berbisnis maupun cara mendapatkan perolehannya. Idle capacity karena konsekuensi budaya lama penumpukan kapital (owning economy), akan menjadi beban pemilik, sehingga perlu utilisasi optimal untuk menghasilkan perolehan.
“Buat apa membeli yang baru, kalau barang-barang yang lama saja masih bisa dipakai orang lain?” Jadi, jutaan barang bekas yang ada di garasi dan gudang rumah dijual kembali via e-Bay, OLX atau Kaskus. Gila, piringan hitam zaman dulu hidup lagi. Velg-velg mobil yang sudah langka kini bisa ditemui. Prinsipnya, lebih baik jadi uang daripada rusak tak terawat; lebih baik murah tapi terpakai penuh ketimbang underutilized.
Ketika sharing economy menjadi gejala ekonomi yang marak, gelombang ini akan terjadi: Deflasi karena harga-harga akan turun, ledakan pariwisata dalam jumlah yang tak terduga karena banyak pilihan menginap yang murah, aset-aset milik masyarakat yang menganggur menjadi produktif, dan kerusakan alam lebih terjaga.
Sebaliknya, seperti halnya modernisasi, ia juga menimbulkan dampak-dampak negatif: Pengangguran bagi yang tak lolos dalam seleksi alam (persaingan) dengan business model baru ini, kerugian-kerugian besar dari sektor-sektor usaha konvensional yang konsumennya shifting (berpindah), dan kriminalisasi oleh para penegak hukum atau pembuat kebijakan yang terlambat mengatur.
Transportasi on-line vs konvensional
Tentang trasportasi on-line yang sedang marak di negeri ini, bahkan hingga memancing konflik horizontal antara pemain transportasi konvensional dengan Gojek, Grab, Uber, yang berbasis internet. Kasali berpendapat bahwa ada beberapa alasan mengapa disruption dalam industri ini berkembang begitu cepat, mematikan dan membuat kehebohan:
  1. Para regulator tidak mampu menyediakan aturan baru yang spesifik untuk memisahkan kedua jenis industri ini.
  2. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 yang mengatur lalu lintas dan angkutan jalan terlihat begitu banyak ketentuan yang membuat usaha taksi konvensional harus bergerak dalam suasana yang kaku dan berbiaya tinggi.
  3. Minimnya pemahaman tentang disruption dan model bisnis di kalangan pemain lama (incumbent) menyebabkan para pelaku usaha melihat ‘persaingan’ dalam kacamata lama.
  4. Ketiadaan atau belum adanya aturan baru telah membuat pemain lama dan pemain baru berjalan menurut cara mereka sendiri-sendiri.
Ekspansi dalam regulasi yang seakan-akan sama, membuat incumbent berpikir bahwa serangan disruption adalah perubahan biasa. Mereka banyak merespons dengan ekspansi biasa, yaitu meng-online-kan bisnis tradisional. Hal ini, selain tetap beroperasi dengan struktur biaya tinggi (dan sulit menaklukkan pelaku ekonomi berbagi), mereka juga mengalami pertarungan internal yang rumit. Incumbent selalu beranggapan digital disruption adalah menurunkan harga melalui layanan online.
MODEL BISNIS
Model Bisnis menjadi sorotan penting bagi Kasali untuk menjelaskan perbedaan yang mematikan antara bisnis konvensional dengan bisnis disruptif. Dalam hal peristiwa politik pun, telah terjadi perubahan yang tak pernah terjadi sebelumnya di negeri ini, yaitu terjadinya fenomena Pilkada, jalur independen vs jalur partai, dan suara rakyat pun terdisrupsi. Beberapa contoh lainnya, adalah:
Era disruptif juga telah mengganggu peta perbankan. Ketika semua bank menerapkan bunga dan fee based, dalam skala global muncul model bisnis disruptif, fintech (financial technology), yang mempereteli elemen penghasil uang bank satu per satu dengan pendekatan fee based. KickStarter.com, yang berdiri tahun 2009 misalnya, dikenal sebagai pionir dalam bidang crowdfunding. Contoh lain adalah Cravar misalnya, produsen produk kerajinan kulit Indonesia, sebagai pendatang baru ia berhasil mendapatkan dukungan sebesar 30.000 dolar AS, plus sejumlah pelanggan baru dan feedback. Barangnya tembus pasar Amerika Serikat sejalan dengan ketersediaan modal. Bukan dari pinjaman bank.
Menurutnya, masih banyak model bisnis yang perlu kita pelajari pada abad ke-21 ini, tetapi intinya adalah:
  1. Persaingan abad ini ditandai bukan lagi antara produk dalam industri yang sejenis, melainkan antara model bisnis dalam industri yang batas-batasnya semakin kabur
  2. Model bisnis merevolusi industri, membuat cara yang ditempuh incumbent menjadi semakin rumit, tetapi inti dari model bisnis adalah bagaimana pelaku usaha mendapatkan uang dari kegiatan usahanya dengan cara-cara baru.
  3. Pengusaha yang cerdik bukanlah pengusaha yang bersikeras dengan model bisnis lamanya. Seorang pengusaha perlu mempertanyakan kembali fundamental usahanya: what business are we in? Apakah kita masih harus menjual apa yang semata-mata kita hasilkan saja, ataukah kita juga bisa memperluasnya?
  4. Model bisnis juga mencerminkan siapa yang memegang kendali perusahaan: apakah generasi tua yang merupakan imigran dalam dunia teknologi (hanya menjadi pemakai/ pengguna) atau generasi millennials (mereka yang berusia 18-32 tahun)? Model bisnis yang kreatif terkesan memenuhi syarat SDM 30 Under 30, yang artinya terdapat 30% SDM dari generasi milIennials yang paham tentang generasi mereka (di bawah usia 30 tahun).
Sepuluh model bisnis hiper-disruptif (hyper disruptive business model) berjangkauan model bisnis yang mendunia, selain teknologinya baru atau memanfaatkan terbentuknya peradaban baru, mereka pun menggunakan cara-cara baru yang tak terpikirkan generasi yang dibesarkan peradaban manufakturing (Peter F. Drucker,
“The greatest danger in times of turbulence; it is to act with yesterday’s logic”), adalah sbb.:
  • Subscription Model
  • Free Model
  • Freemium Model
  • Marketplace Model
  • Hypermarket
  • Acees over ownership Model
  • On Demand Model
  • Experience Model
  • Pyramid
  • Ecosystem
KONSEKUENSI
Disruption menyandang sejumlah konsekuensi akibat teknologi infomasi dari kehadiran para wirausaha muda yang beroperasi lintas-batas di dunia global bersama kaum millennials. Hal ini berdampak luas pada tiga hal berikut ini.
  1. Disruption menyerang hampir semua incumbent (pelaku lama, para pemimpin pasar), baik itu produk-produk atau perusahaan-perusahaan ternama, sekolah atau universitas terkemuka, organisasi-organisasi sosial, partai politik, maupun jasa-jasa yang sudah kita kenal.
  2. Disruption menciptakan pasar baru yang selama ini diabaikan incumbent, yaitu kalangan yang menduduki dasar piramida. Klini mereka yang dulu kurang beruntung sebagai konsumen karena daya beli yang rendah, telah menjadi kekuatan pasar. Secara keseluruhan, partisipasi pasar pun meningkat. Sekuat apa pun brand loyalty yang telah dibangun incumbent melalui strategi pemasaran konvensional, posisi incumbent tetap terancam.
  3. Disruption menimbulkan dampak deflasi (penurunan harga) karena biaya mencari (searching cost) dan biaya transaksi (transaction cost) praktis menjadi nol rupiah. Kedua jenis biaya ini umumnya hanya dikenal oleh generasi millennials berkat teknologi infokom. Selain itu timbul gerakan berbagi (sharing resources) yang mampu memobilisasi pemakaian barang-barang konsumsi ke dalam kegiatan ekonomi produktif.
Demikianlah disruption bekerja secara cepat pada awal abad ke-21. Peranan dominan televisi perlahan-lahan dilengkapi oleh internet. Media-media konvensional beralih ke dunia maya. Cara beriklan berubah. Banyak cara baru yang masih berada di tahap awal penggerusan yang akan mengubah masa depan perusahaan atau industri yang gagal melakukan self-disruption.
Disruption mengantarkan kehidupan baru pada abad ke-21 yang kerap tak terdeteksi dan teratasi incumbent. Perbedaan generasi telah mengantarkan kehancuran yang besar pada perusahaan-perusahaan yang amat kita kagumi di masa lalu. Perusahaan-perusahaan multi-nasional yang dulu dikenal seperti lBM, Exxon, Walmart, P&G, dan Lehman Brothers kini digantikan Google, Apple, Facebook, Samsung, dan pendatang-pendatang baru dari China, Korea, dan Rusia.
Kehancuran perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti Pan Am, Kodak, Enron, Arthur Andersen, Lehman Brothers, Nokia, dan seterusnya juga mengakibatkan industri-industri keuangan terguncang.
Para pelaku usaha start-up itu kemudian mendisrupsi industri, menyerang incumbent dengan teknologi-teknologi baru sambil menciptakan pasar baru pada kategori low-end. Mereka bisa saja dikecam pasar dan incumbent karena pada tahap awal itu terjadi banyak ketidaksempurnaan, baik dalam hal produk maupun manajemen.
Apalagi setelah itu muncul metode-metode baru yang membuat biaya transaksi dan biaya mencari menjadi serendah mungkin. Aplikasi-aplikasi digital yang mempertemukan permintaan dengan penawaran, membuat pengelolaan usaha berubah sama sekali. Ini sekaligus menjadi ancaman bagi para incumbent yang terbelenggu aturan-aturan lama, manajemen birokrasi, fixed cost yang tinggi, biaya transaksi yang mahal, serta metode-metode yang hanya cocok dipakai sebelum dunia mengenal smartphone, aplikasi teknologi, statistic analytic, big

data, dan uang digital. Terjadilah persaingan tak berimbang antara mereka yang sudah hidup dalam era (dan memegang data) real time dan mereka yang masih hidup dalam era time series – antara yang menggunakan Google Maps dan yang masih berpatokan pada argometer.

Aset-aset pribadi yang semula digunakan hanya untuk konsumsi, kini pun bisa digunakan untuk kegiatan usaha, menjadi lebih produktif. Siapapun bisa membuka warung dari rumah, menaruh taksi di garasi dengan mobil pribadi. ltulah barang-barang konsumsi yang kini bisa dipakai untuk kegiatan ekonomi produktif. Jadi, inilah saatnya dunia membentuk aturan-aturan baru. Bukan semata-mata kapitalisme, melainkan kekuatan gotong-royong, dengan partisipasi yang luas dan lebih sejahtera. Kekuatan gotong-royong dunia baru itu dikenal sebagaI ekonomi berbagi (sharing economy).
Maraknya pengembangan model bisnis dalam strategi bisnis mengakibatkan perusahaan-perusahaan memilih bersaing di bidang model bisnis ketimbang bersaing di bidang produk semata.
Perubahan revolusioner
Banyak pihak yang kurang mengerti bahwa sebuah revolusi tengah terjadi, terutama pada aspek-aspek tertentu, yaitu:
  • Teknologi lnformasi – menghubungkan semua orang, baik yang membutuhkan (demand side) maupun yang menawarkan (supply side).
  • Deflasi – disruptive innovation dilakukan dengan upaya-upaya serius untuk memberikan “value” yang lebih besar bagi konsumen dan penyedia jasa melalui ekonomi biaya rendah. Akibatnya, hadirlah jasa atau produk dengan harga yang relatif lebih menarik.
  • Ekonomi Berbagi – inovasi tak hanya pada produk, melainkan pada model bisnis, yaitu cara mencari “daging” usaha. Bentuk yang dipilih antara lain adalah ekonomi berbagi, yaitu ekonomi gotong-royong, sharing resources, atau terkadang disebut ekonomi kolaborasi.
  • TeknoIogi Statistik – menggunakan big data analytics, yaitu statistik big data bukan time series lagi, melainkan real time sehingga pasokan dapat dikerahkan saat permintaan bergerak. Ini membuat biaya mencari dan biaya transaksi yang menjadi beban pelanggan dapat turun.
  • Partisipasi Aset-Aset Telantar – ekonomi berbagi diusahakan untuk mengaktifkan aset-aset masyarakat yang tak sepenuhnya terpakai saat konsumsi sedang berlangsung.
SUSTAINING VS. DISRUPTIVE INNOVATION
Dengan menggunakan contoh runtuhnya perusahaan es balok, yang telah banyak melakukan inovasi, yang tergantikan oleh munculnya kulkas (temuan atas keperluan rumah-tangga), bab ini menjadi menarik karena mampu menjelaskan fenomena runtuhnya suatu perusahaan, meskipun telah melakukan berbagai upaya inovasi. Pada umumnya, incumbent hanya tertarik mengembangkan strategi sustaining innovation, yaitu inovasi-inovasi yang ditujukan untuk mempertahankan existing market seperti yang diajarkan para guru marketing, yaitu branding, strategi pelayanan, menurunkan biaya, memperbaiki kinerja mesin atau orang, dan melakukan perubahan-perubahan kecil. Sementara itu, para pendatang baru menyerang kelompok pasar di luar teritori incumbent yang berakibat runtuhnya bangunan usaha tanpa diduga. Dalam hal perusahaan es balok di atas, supermarket yang harusnya membeli es balok memilih membeli kulkas sendiri berukuran sedang untuk mengawetkan ikan-ikan basah yang diperdagangkannya.
Perubahan yang dilakukan para pendatang baru ini terkesan revolusioner karena amat radikal, mengubah peta pasar, bahkan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru pada pelanggan. Awalnya memang mereka menciptakan pasar baru, tetapi pelan-pelan konsumen lama pun punya potensi ikut berpindah. Itulah yang dlsebut sebagai sudden shift.
 …
Penjelasan lebih lanjut tentang Disruption,
  • Adalah suatu proses. la tidak terjadi seketika. Dimulai dari ide, riset atau eksperimen, lalu proses pembuatan, pengembangan business model. Ketika berhasil, pendatang akan mengembangkan usahanya pada titik pasar terbawah yang diabaikan incumbent, lalu perlahan-lahan menggerus ke atas, ke segmen yang sudah dikuasai incumbent.
  • Memasuki pasar dengan business model baru, yang berbeda dengan yang sudah dilakukan pemain-pemain lama. Karena itu, inovasi business model menjadi penting.
  • Tidak semua disruption sukses menjadi pelaku disruption atau menghancurkan posisi incumbent.
  • lncumbent tak harus selalu berubah menjadi disruptor. Ada banyak strategi yang bisa ditempuh incumbent, temasuk meneruskan sustainable innovation dan membentuk unit lain yang melayani disruptor.
  • Teknologi bukan disruptor, tapi enabler. Selain TI, alat-alat baru lain dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan.
  • Disruption dapat menyebabkan deflasi, harga turun, karena disruptor memulai low cost strategy.
 …
DISRUPTIVE MINDSET
Ini hal yang menarik buat saya karena persoalan mindset ini menjadi sangat penting, mengingat surprise, sudden shift, dan speed adalah ancaman serius di disruption ini.
… 
Mindset
Mindset adalah bagaimana manusia berpikir, yang ditentukan oleh setting awal, yang kita buat sebelum berpikir dan bertindak.
Seperti diketahui bahwa disruption menghancurkan masa depan para incumbent, sedangkan incumbent selalu melihat dengan “pengalamannya”. Kalau incumbent memiliki disruptive mindset, ia bisa menjadi kreatif dan tak takut melihat perubahan yang seperti dilakukan anak-anak muda tanpa beban masa lalu (entrant). Sebaliknya, kalau ia memiliki steady (fixed) mindset, ia menjadi sangat takut dan tak menghasilkan perubahan. Ia hanya terkurung oleh pengalaman masa lalunya dengan menyangkal realitas baru. Karakter disruptive mindset bisa digambarkan sbb.:
  1. Respons cepat: tidak terhambat.
  2. Real-time: begitu diterima, seketika diolah.
  3. Follow-up: langsung ditindaklanjuti. Tidak ditunda.
  4. Mencari jalan, bukan mati langkah.
  5. Mengendus informasi dan kebenaran, bukan menerima tanpa menguji.
  6. Penyelesaian paralel, bukan serial.
  7. Dukungan teknologi informasi, bukan manual.
  8. 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu), bukan eight to five (dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore).
  9. Connected (terhubung), bukan terisolasi.
Mental disruptive ini tidak terikat oleh pengalaman atau aturan baku yang kaku pada masa lalu, melainkan sikap terbuka terhadap masa depan. Terhadap sesuatu yang baru, manusia harus berupaya lagi dan berpikiran terbuka.
Akibat lebih lanjut dari disruptive mindset ini adalah terjadinya pertentangan dengan pihak berkarakter steady mindset, yaitu pertempuran internal antara pemilik fixed mindset yang merasa hebat serta terikat tradisi, merasa lebih pandai serta akan selalu paling pandai, dan pemilik growth mindset yang selalu terbuka dan mampu “melihat” kesempatan-kesempatan baru dalam setiap perubahan. Akan terjadi pertarungan antara mereka yang merasa terancam atau akan terlihat kurang pandai kalau menjalani perubahan melawan mereka yang tak peduli dengan penilaian orang lain; antara mereka yang ingin mempertahankan status quo dengan yang ingin berubah, membangun kompetensi baru pada masa depan. Jadi, akan ada yang memanipulasi kebenaran, membesarkan kesalahan-kesalahan kecil, menakut-nakuti, dan menciptakan batu-batu sandungan untuk menghambat self-disruption.
Mindset tetap (fixed mindset) berbeda dengan mindset yang tumbuh (growth mindset). Karena berusaha terus, mereka sangat percaya bahwa suatu saat masa depan baru itu ada bersama mereka yang hari ini belum tampak hebat. Umumnya orang-orang ini amat suka tantangan-tantangan baru, dan kalau menghadapi kesulitan, mereka tak mudah menyerah. Mereka juga pantang mempersoalkan kritik orang lain. Mindset bukan hanya harus dipahami, melainkan juga harus dilatih.
 …
Generasi Millenials
Kasali memberikan perhatian khusus terhadap tumbuhnya Generasi Millenials yang menjadi ujung tombak disruption, yang berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya dalam banyak hal, yaitu:
  • Merasa jauh lebih merdeka, baik secara batiniah maupun lahiriah. Merdeka dalam berpendapat, memilih karier, bepergian, konsumsi, dan menjalin kehidupan.
  • Amat ekstrover, kurang hati-hati dalam bertindak, terlalu emosional, mudah berpindah-pindah, ingin cepat “naik kelas”, dan lebih materialistis.
  • Lebih berpendidikan dan memiliki akses yang besar pada segala sumber daya dan informasi sehingga memudahkan mereka berkolaborasi.
  • Masa mukim mereka terhadap segala hal menjadi lebih pendek. Entah itu terhadap tempat tinggal, keluarga, sekolah, pekerjaan, atau kegiatan-kegiatan yang serius (semisal ideologi atau hal-hal terkait).
  • Lebih mengutamakan kebebasan dan kebahagiaan ketimbang aturan-aturan yang membelenggu.
 …
Karena sifat-sifat baru yang seperti itu belum banyak dipahami, kebanyakan perusahaan milik incumbent pun terganggu. Banyak yang tak menyadari Shifting (Pergeseran atau perpindahan) dan banyak produsen yang gagal menyediakan area transit bagi pasar kaum muda ini. Kehadiran generasi millennials mempercepat perubahan tren.
 …
Rekomendasi
Buku Disruption ini merupakan buku terbagus dan tidak membosankan untuk dibaca berulang-kali, karya Rhenald Kasali, yang pernah saya baca. Buku yang berhubungan dengan bisnis start-up dan platform berbahasa Indonesia dengan contoh-contoh dan analisis yang lengkap dan rinci. Sangat direkomendasikan. Terimakasih pak Rhenald Kasali.
Iklan

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: